News Komoditi & Global ( Jumat, 24 April 2026 )
News Komoditi & Global ( Jumat, 24 April 2026 )
Harga Emas Global Melemah Terseret Gejolak Timur Tengah, Sentuh Level Terendah Sepekan
Harga emas global melemah dan jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Kamis (23/4/2026), seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi berkepanjangan.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot turun 0,9% ke level US$ 4.697,06 per ons pada pukul 15.05 EDT, setelah sempat menyentuh titik terendah sejak 13 April di US$4.663,69 per ons.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,6% ke posisi US$ 4.724 per ons.
Tekanan terhadap emas datang dari eskalasi konflik yang melibatkan Iran, yang mendorong harga minyak melonjak. Minyak mentah Brent bahkan diperdagangkan di atas US$ 100 per barel, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai gejolak geopolitik menjadi pemicu utama pelemahan emas.
“Kenaikan tajam harga minyak menyeret aset lain, termasuk emas, karena kekhawatiran inflasi meningkat dan prospek suku bunga tinggi bertahan lebih lama,” ujarnya.
Lonjakan harga energi dinilai berpotensi mendorong inflasi, yang pada akhirnya membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve AS, menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Padahal, meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menekan daya tariknya karena tidak memberikan imbal hasil.
Hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan The Fed kemungkinan baru akan memangkas suku bunga setidaknya dalam enam bulan ke depan, memperkuat tekanan terhadap harga emas.
Selain itu, penguatan dolar AS turut membebani emas karena membuat harga logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan juga meningkatkan biaya peluang memegang emas.
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS) meningkat lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan mulai terjadinya pelonggaran di pasar tenaga kerja.
Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan.
Harga perak spot turun 2,7% menjadi US$75,55 per ons, platinum melemah 3,2% ke US$2.008,22 per ons, dan palladium anjlok 5% ke US$1.465,23 per ons, dengan ketiganya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.
Gejolak Iran dan Ancaman di Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Dunia Melonjak
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Iran dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Lonjakan ini dipicu laporan serangan udara di Teheran serta memanasnya konflik internal yang melibatkan kelompok garis keras dan moderat di dalam pemerintahan Iran.
Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), harga minyak Brent naik 3,1% ke level US$105,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,11% ke US$95,85 per barel.
Kenaikan sempat lebih tinggi sebelum terkoreksi seiring perubahan sentimen pasar yang sangat cepat.
Situasi di Iran kian tidak menentu setelah laporan pengunduran diri negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim perunding dengan Amerika Serikat (AS).
Mundurnya Qalibaf dinilai memperkuat posisi kelompok garis keras dan memperkecil peluang tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.
Di saat yang sama, media Iran melaporkan sistem pertahanan udara di Teheran aktif menanggapi target di atas ibu kota.
Ketegangan meningkat setelah serangan drone dilaporkan menyasar kelompok Kurdi yang berseberangan dengan pemerintah Iran di wilayah Irak.
Konflik ini juga merambah ke Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global. Iran menunjukkan pengaruhnya di kawasan tersebut, sementara AS meningkatkan tekanan militer.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras. “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal mana pun yang memasang ranjau di Selat Hormuz,” tegasnya.
Meski demikian, Trump juga memperpanjang gencatan senjata setelah dorongan mediator Pakistan. Namun hingga kini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih dibatasi, mencerminkan ketidakpastian tinggi di kawasan tersebut.
Analis pasar melihat pergerakan harga minyak saat ini sangat dipengaruhi dinamika berita yang berubah cepat.
“Pasar seperti roulette (rodal kecil) berita utama. Ada kekhawatiran kita bisa tiba-tiba berada dalam kondisi pasokan yang jauh lebih ketat,” ujar John Kilduff dari Again Capital.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih berharap krisis ini dapat diredam. “Pasar tetap percaya akan ada jalan keluar dari situasi ini,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
Data dari Federal Reserve Dallas menunjukkan ekspektasi beragam dari pelaku industri. Sekitar 39% eksekutif memperkirakan lalu lintas di Selat Hormuz kembali normal pada Agustus, sementara 26% memprediksi pemulihan terjadi pada November.
Hanya 20% yang optimistis kondisi normal dapat tercapai pada Mei.
Ketidakpastian ini membuat pasar minyak tetap rentan terhadap lonjakan harga, terutama jika gangguan pasokan global semakin memburuk akibat konflik yang berkepanjangan.
Wall Street Ditutup Melemah, Ketegangan Iran & Tekanan Saham Teknologi Picu Aksi Jual
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah dalam perdagangan yang bergejolak pada Kamis (23/4/2026), seiring memudarnya harapan penyelesaian cepat konflik Iran serta beragamnya kinerja laporan keuangan emiten.
Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI) di sektor teknologi turut menekan sentimen investor.
Melansir Reuters, Indeks utama Wall Street kompak berakhir di zona merah.
Dow Jones Industrial Average turun 0,36% ke level 49.310,32, S&P 500 terkoreksi 0,41% ke 7.108,40, dan Nasdaq Composite melemah paling dalam, yakni 0,89% ke 24.438,50.
Tekanan pasar meningkat setelah muncul laporan bahwa Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mundur dari tim negosiasi.
Di saat yang sama, Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz dan merilis rekaman penyitaan kapal kargo, sembari menuntut AS mencabut blokade laut di pelabuhan Iran.
Situasi ini memicu lonjakan harga minyak menyusul kabar serangan udara di wilayah Iran.
Kantor berita Fars juga melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Iran diaktifkan akibat kemunculan drone di sejumlah lokasi, menambah kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
CEO dan CIO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai pasar saat ini dihadapkan pada kombinasi sentimen negatif dari geopolitik dan musim laporan keuangan.
"Pasar seperti bermain kursi musik, di antara musim laporan keuangan dan berita perang yang kemungkinan tidak akan berdampak positif," ujarnya.
Menurut dia, reli pasar dalam beberapa waktu terakhir juga mendorong sebagian investor untuk merealisasikan keuntungan. “Ada pihak yang ingin mengurangi eksposur, dan perang menjadi alasan yang cukup masuk akal,” tambahnya.
Sebelumnya, pasar sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir didorong optimisme penyelesaian konflik Iran dan ekspektasi kinerja perusahaan yang solid.
Namun, sejak awal pekan ini, sentimen tersebut mulai memudar. Nasdaq bahkan mengakhiri reli panjangnya pada awal pekan, dan secara mingguan ketiga indeks utama cenderung melemah.
Lonjakan harga minyak yang bertahan di kisaran US$100 per barel kembali memicu kekhawatiran inflasi. Meski data klaim pengangguran mingguan hanya naik tipis, risiko tekanan harga akibat konflik dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.
Data S&P Global menunjukkan indeks PMI komposit AS meningkat pada April, namun kenaikan ini lebih didorong oleh penumpukan stok akibat kekhawatiran gangguan pasokan dan kenaikan harga.
Dari sisi fundamental, musim laporan keuangan sebenarnya masih menunjukkan kinerja solid. Sekitar 82,1% dari 123 perusahaan yang telah merilis laporan hingga Kamis melampaui ekspektasi analis, dengan pertumbuhan laba mencapai 15,6%.
Meski demikian, sektor teknologi menjadi pemberat utama pasar. Indeks sektor teknologi S&P 500 turun 1,47%, dipicu penurunan tajam saham IBM sebesar 8,25% akibat melambatnya pertumbuhan bisnis perangkat lunak.
Tekanan juga datang dari anjloknya saham ServiceNow sebesar 17,75% setelah melaporkan perlambatan pertumbuhan pendapatan akibat tertundanya kontrak pemerintah di Timur Tengah.
Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa model bisnis perangkat lunak konvensional mulai terganggu oleh perkembangan AI. Indeks perangkat lunak dan layanan S&P 500 bahkan merosot 5,09%, penurunan harian terbesar sejak akhir Januari.
Saham Tesla turut melemah 3,56% setelah perusahaan menaikkan rencana belanja modal menjadi lebih dari US$ 25 miliar tahun ini.
Di sisi lain, saham Texas Instruments justru melonjak 19,43% setelah memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal kedua melampaui ekspektasi pasar.
Pergerakan ekstrem juga terjadi pada saham Avis Budget yang anjlok 48,38%, memperpanjang penurunan tajam setelah sebelumnya sempat reli signifikan layaknya fenomena “saham meme”.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung negatif. Volume perdagangan tercatat 17,41 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, dan kekhawatiran disrupsi teknologi, pelaku pasar kini cenderung lebih berhati-hati menunggu arah baru sentimen global.
Iran Pamer Kendali Selat Hormuz, Israel Ancam Serangan Baru yang Lebih Mematikan
Iran menunjukkan kembali pengaruh militernya di Selat Hormuz dengan merilis video operasi pasukan elite yang disebut berhasil menguasai sebuah kapal kargo besar.
Hal itu terjadi di tengah runtuhnya upaya perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis dunia tersebut.
Dalam video yang disiarkan televisi pemerintah Iran, tampak pasukan bertopeng menaiki kapal kargo menggunakan speedboat, memanjat tangga tali, lalu memasuki lambung kapal sambil membawa senjata.
Rekaman tersebut juga menampilkan dua kapal lain yang disebut telah disita Iran karena diduga melintas tanpa izin di wilayah perairan strategis itu.
Iran mengklaim aksi tersebut merupakan penegakan aturan pelayaran di kawasan Selat Hormuz, jalur yang selama ini menjadi titik vital distribusi energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati wilayah tersebut sebelum konflik terbaru pecah.
“Operasi ini adalah bentuk penegakan kedaulatan maritim Iran di wilayah strategis,” demikian penjelasan yang disampaikan media pemerintah Iran terkait penyitaan kapal tersebut.
Namun aksi itu kembali memicu kekhawatiran global atas stabilitas jalur energi dunia, terutama karena kemampuan Iran mengganggu lalu lintas kapal tetap dianggap signifikan meski menghadapi tekanan militer dari AS.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meremehkan ancaman kapal-kapal kecil Iran yang disebutnya tidak terlalu berbahaya. Ia menyatakan tetap terbuka pada kesepakatan damai, namun juga memberi peringatan keras jika negosiasi gagal.
“Saya tidak terburu-buru. Saya ingin kesepakatan terbaik. Jika tidak ada kesepakatan, saya akan menyelesaikannya secara militer,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump juga mengklaim militer AS masih memegang kendali penuh atas situasi di Selat Hormuz, bahkan menyebut wilayah itu tertutup rapat sampai Iran bersedia mencapai kesepakatan.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan aktivitas udara tak dikenal di sejumlah wilayah Iran. Media pemerintah Iran menyebut sistem pertahanan udara di Teheran dan beberapa kota lain telah merespons kemunculan drone kecil.
Namun tidak ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Sementara itu, Israel memperingatkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran, meski gencatan senjata yang dimulai 8 April masih berlaku secara tidak resmi.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan negaranya siap menunggu lampu hijau dari AS untuk melanjutkan serangan.
“Serangan kali ini akan berbeda dan jauh lebih mematikan,” kata Katz, seraya menambahkan bahwa target dapat mencakup pemimpin tertinggi Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, pasar global bereaksi negatif. Harga minyak berfluktuasi tajam, sementara saham di AS melemah dalam perdagangan yang tidak stabil. Investor juga mencermati risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Iran sendiri menegaskan bahwa pembukaan kembali perundingan tidak akan dilakukan sebelum AS mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran. Tehran menilai kebijakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Meski demikian, Washington mengklaim tetap melanjutkan operasi pengawasan di jalur laut internasional, termasuk tindakan terhadap kapal tanker yang diduga membawa minyak Iran.
Situasi ini menambah ketidakpastian global, di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekonomi dunia akibat lonjakan harga energi dan perlambatan aktivitas industri di berbagai negara.
Gencatan Senjata Lebanon–Israel Diperpanjang 3 Pekan Usai Perundingan di Gedung Putih
Gencatan senjata antara Lebanon dan Israel resmi diperpanjang selama tiga minggu setelah pertemuan tingkat tinggi yang difasilitasi Amerika Serikat (AS) di Gedung Putih.
Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan tersebut dicapai usai pembicaraan di Ruang Oval yang melibatkan perwakilan kedua negara.
Trump menjamu Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Moawad dalam putaran kedua dialog yang difasilitasi Washington.
Pertemuan itu digelar sehari setelah serangan Israel di Lebanon menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk seorang jurnalis.
“Pertemuan berjalan sangat baik! Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” ujar Trump melalui unggahan di Truth Social.
Ia juga menyatakan harapan untuk segera menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam waktu dekat.
Perpanjangan gencatan senjata ini dilakukan menjelang batas akhir kesepakatan awal yang jatuh pada hari Minggu.
Kesepakatan sebelumnya berhasil menurunkan intensitas kekerasan secara signifikan, meski bentrokan sporadis masih terjadi di Lebanon selatan, wilayah yang menjadi titik ketegangan utama.
Di sisi lain, militer Israel menyebut telah menewaskan dua orang bersenjata di wilayah selatan Lebanon setelah mereka dianggap mendekati posisi pasukan Israel dan dinilai sebagai ancaman langsung.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan serangan udara Israel yang menewaskan tiga orang serta tembakan artileri yang melukai dua orang, termasuk seorang anak.
Rabu lalu menjadi hari paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan pada 16 April. Salah satu korban tewas dilaporkan adalah jurnalis Lebanon Amal Khalil, menurut media tempatnya bekerja serta seorang pejabat militer Lebanon.
Kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan tetap mendukung keberlanjutan gencatan senjata, namun menegaskan Israel harus mematuhi seluruh ketentuan.
"Gencatan senjata harus dijalankan berdasarkan kepatuhan penuh pihak musuh Israel," kata perwakilan Hizbullah Hassan Fadlallah.
Ia juga menolak perundingan tatap muka dengan Israel dan mendesak pemerintah Lebanon untuk menghentikan seluruh bentuk kontak langsung.
Sementara itu, Israel menyatakan tujuan dalam pembicaraan adalah memastikan pelucutan senjata Hizbullah serta menciptakan kondisi bagi kemungkinan kesepakatan damai.
Israel juga masih mempertahankan kehadiran militernya di zona penyangga sepanjang 5–10 kilometer di wilayah selatan Lebanon dengan alasan perlindungan keamanan.
Ketegangan antara kedua pihak kembali meningkat sejak awal Maret, ketika Hizbullah melancarkan serangan sebagai bagian dari eskalasi konflik regional.
Sejak saat itu, otoritas Lebanon mencatat hampir 2.500 korban jiwa di wilayahnya akibat rangkaian konflik dengan Israel.
Washington menyebut perundingan ini sebagai bagian dari upaya de-eskalasi terpisah dari negosiasi lain di kawasan, meski Iran sebelumnya mendorong agar Lebanon turut dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas.
Dolar Bersiap Catat Kenaikan Mingguan, Negosiasi AS-Iran Mandek
Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur penguatan mingguan pertamanya dalam tiga pekan terakhir pada Jumat (24/4/026), seiring mandeknya negosiasi damai antara AS dan Iran yang meredupkan harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Di saat yang sama, Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga pekan menjelang masa berakhirnya pada Minggu.
Namun, Iran menunjukkan kendalinya atas Selat Hormuz dengan merilis rekaman pasukannya yang menyergap sebuah kapal kargo besar. Hal ini membuat waktu pembukaan kembali jalur pelayaran penting dunia tersebut menjadi tidak pasti.
Melansir Reuters, analis senior di Mitsubishi UFJ Bank Akihiko Yokoo mengatakan, harga minyak mentah yang tetap tinggi di tengah buntu pembicaraan AS-Iran turut menopang penguatan dolar.
“Di tengah laporan bahwa pembicaraan AS dan Iran tidak menunjukkan kemajuan, harga minyak mentah tetap kuat dan mendukung lingkungan yang kondusif bagi penguatan dolar,” ujarnya dalam catatan riset.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang utama seperti yen dan euro, tercatat relatif stabil di level 98,81. Meski demikian, indeks ini tetap berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 0,59%.
Euro naik tipis 0,02% ke level US$1,1685, sementara poundsterling melemah 0,01% ke US$1,3466.
Dolar kembali diminati sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Mata uang ini sempat menguat pada Maret ketika kekhawatiran konflik meningkat, namun sempat terkoreksi pada bulan ini seiring munculnya optimisme penyelesaian konflik.
Di sisi lain, yen Jepang melemah untuk hari kelima berturut-turut terhadap dolar, turun 0,01% ke level 159,75 per dolar AS.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, kembali mengingatkan kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.
Ia menegaskan pemerintah siap mengambil langkah “tegas” terhadap pergerakan spekulatif.
Menurut Yokoo, upaya otoritas Jepang menahan pelemahan yen membuat mata uang tersebut sulit menembus level 160 per dolar dalam waktu dekat.
Dari sisi fundamental, inflasi inti Jepang tercatat berada di bawah target 2% bank sentral untuk dua bulan berturut-turut pada Maret.
Namun, analis memperkirakan inflasi akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan, seiring kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah.
Bank of Japan dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter selama dua hari yang berakhir Selasa pekan depan.
Bank sentral diperkirakan menahan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun tetap memberi sinyal potensi kenaikan guna meredam tekanan inflasi.
Sementara itu, European Central Bank diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada akhir April dan mulai menaikkannya pada Juni, guna merespons lonjakan harga energi akibat konflik.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia menguat 0,04% ke US$0,7131, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,07% ke US$0,5856.
Pada aset kripto, Bitcoin naik 0,71% ke US$78.474,55, sementara Ethereum menguat 0,41% ke US$2.335,99.
AS Bakal Gunakan Senjata Nuklir dalam Perang Iran? Ini Jawaban Blak-blakan Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa ia tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam perang melawan Iran.
“Untuk apa saya memakai senjata nuklir? Kami sudah benar-benar, dengan cara yang sangat konvensional, menghancurkan mereka tanpa itu,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih ketika ditanya apakah ia akan menggunakan senjata tersebut.
“Tidak, saya tidak akan menggunakannya. Senjata nuklir seharusnya tidak pernah boleh digunakan oleh siapa pun,” tambahnya.
Ketika ditanya berapa lama ia bersedia menunggu untuk mencapai kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran, Trump menjawab, “Jangan buru-buru saya.”
Trump juga mengatakan Iran mungkin sempat menambah persenjataan mereka “sedikit” selama gencatan senjata dua minggu. Namun ia menambahkan bahwa militer AS bisa melumpuhkan hal itu hanya dalam waktu sekitar satu hari.
“Angkatan laut mereka sudah hilang. Angkatan udara mereka sudah hilang, pertahanan udara mereka juga sudah hilang... mungkin mereka menambah sedikit selama jeda dua minggu, tapi kami akan menghancurkan itu dalam sekitar satu hari, kalau memang mereka melakukannya,” kata Trump.
“Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya bisa membuat kesepakatan sekarang juga... tapi saya tidak ingin begitu. Saya ingin kesepakatan yang bersifat abadi,” ujar Trump.
Dampak Perang Iran Makin Dalam, Ekonomi Global Mulai Tertekan
Dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kian terasa di perekonomian global. Guncangan harga energi mulai menekan aktivitas bisnis, meningkatkan inflasi, dan memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Melansir Reuters, survei terbaru dari S&P Global menunjukkan tekanan semakin meluas, tidak hanya di sektor manufaktur tetapi juga merambah sektor jasa.
Kenaikan tajam biaya produksi akibat lonjakan harga energi menjadi faktor utama pelemahan aktivitas ekonomi.
Kawasan euro mencatat kontraksi aktivitas bisnis. Indeks PMI gabungan turun dari 50,7 pada Maret menjadi 48,6 di April, di bawah ambang batas 50 yang menandakan kontraksi.
Lonjakan biaya input juga signifikan, dengan indeks harga produksi naik tajam. Sektor jasa yang menjadi tulang punggung ekonomi Eropa ikut melemah, mencerminkan tekanan yang semakin luas.
“Zona euro menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam akibat perang di Timur Tengah,” ujar Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global.
Di AS, aktivitas ekonomi masih menunjukkan ekspansi. PMI manufaktur naik ke 54,0 tertinggi dalam hampir empat tahun. Sementara sektor jasa kembali tumbuh ke 51,3.
Namun, peningkatan ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi, melainkan didorong oleh aksi “panic buying” dan percepatan produksi untuk mengantisipasi gangguan pasokan.
Tekanan harga juga meningkat, dengan biaya input dan harga output naik ke level tertinggi sejak gangguan rantai pasok pascapandemi.
Dampak konflik juga tercermin dalam kinerja korporasi global. Sejumlah perusahaan besar mulai memperingatkan gangguan operasional dan tekanan keuangan.
Dari sekitar 166 perusahaan yang ditinjau, sebanyak 26 perusahaan memangkas atau menarik proyeksi kinerja, 38 mengisyaratkan kenaikan harga, dan 32 memperingatkan dampak finansial akibat perang.
Perusahaan seperti Danone dan Otis Worldwide melaporkan gangguan pengiriman akibat disrupsi rantai pasok.
Di sejumlah negara seperti Jepang, India, dan Inggris, aktivitas manufaktur justru meningkat karena perusahaan mempercepat produksi untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut fenomena yang dikenal sebagai “front-loading”.
Namun, strategi ini berpotensi diikuti perlambatan tajam di periode berikutnya ketika permintaan mulai melemah.
Di tengah tekanan global, sektor teknologi khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penopang.
Lonjakan investasi AI mendorong permintaan chip dan menopang pertumbuhan di negara seperti Korea Selatan.
Sektor keuangan juga diuntungkan dari volatilitas pasar yang tinggi, meningkatkan aktivitas perdagangan.
Ketidakpastian terbesar tetap berasal dari gangguan pasokan energi, terutama jika konflik terus menghambat jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz.
International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1% tahun ini, dan memperingatkan risiko skenario yang lebih buruk, termasuk potensi resesi jika gangguan berlanjut.
Pengalaman dari krisis energi sebelumnya mulai dari Perang Yom Kippur hingga invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan dampak bisa bertahan bertahun-tahun, memengaruhi inflasi, investasi, dan produksi energi.
Secara keseluruhan, ekonomi global kini berada dalam fase rapuh: masih bertahan, tetapi semakin tertekan oleh kombinasi lonjakan harga energi, gangguan pasokan, dan ketidakpastian geopolitik.
AS Kenakan Bea Anti-Dumping Awal Panel Surya dari Indonesia, India, dan Laos
Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui U.S. Department of Commerce menetapkan bea anti-dumping sementara terhadap impor sel dan panel surya dari Indonesia, India, dan Laos.
Kebijakan ini menjadi bagian dari rangkaian tarif yang telah diberlakukan Washington terhadap produk energi surya asal Asia selama lebih dari satu dekade.
Dalam keputusan awal tersebut, otoritas perdagangan AS menyimpulkan bahwa produsen dari ketiga negara menjual produk mereka di pasar AS dengan harga yang dianggap terlalu rendah (dumping), sehingga merugikan industri domestik.
Berdasarkan dokumen resmi, besaran margin dumping ditetapkan sebesar 123,04% untuk India, 35,17% untuk Indonesia, dan 22,46% untuk Laos.
Nilai impor produk surya dari ketiga negara itu mencapai sekitar US$ 4,5 miliar pada tahun lalu, atau setara dua pertiga dari total impor panel surya AS.
Angka ini menunjukkan besarnya ketergantungan pasar AS terhadap pasokan dari kawasan tersebut.
Keputusan ini menjadi pukulan bagi produsen di Indonesia, India, dan Laos yang selama ini memasok kebutuhan energi surya ke pasar AS yang tengah tumbuh pesat.
Sebaliknya, langkah ini memperkuat posisi produsen dalam negeri AS yang sebelumnya mengajukan petisi melalui Alliance for American Solar Manufacturing and Trade.
Aliansi tersebut menyambut keputusan awal ini dan menegaskan bahwa praktik dumping telah merusak persaingan.
“Penetapan awal ini menegaskan bahwa produsen dari negara-negara tersebut menjual produk dengan harga tidak wajar, menekan produk buatan AS dan mendistorsi persaingan pasar pada momen krusial bagi industri manufaktur domestik,” demikian pernyataan aliansi.
Kelompok ini sebelumnya juga berhasil mendorong penerapan tarif terhadap impor panel surya dari sejumlah negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
Ke depan, Departemen Perdagangan AS dijadwalkan mengumumkan keputusan final untuk impor dari India dan Indonesia pada sekitar 13 Juli, sementara keputusan untuk Laos akan menyusul sekitar 9 September.
Selain itu, pemerintah AS juga telah lebih dulu menetapkan bea imbalan (countervailing duties) sementara terhadap ketiga negara tersebut pada Februari lalu.
OECD Nilai Risiko Stagflasi Akibat Konflik Iran Masih Terbatas
Organisation Economic Cooperation and Development (OECD) menilai, risiko terjadinya stagflasi global akibat konflik Iran belum menjadi skenario utama.
Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menyatakan, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis stagflasi yang terjadi pada 1970-an.
“Kami tidak melihat risiko stagflasi sebagai skenario dasar,” ujar Cormann dalam forum ekonomi di Delphi, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipicu oleh guncangan pasokan energi, bukan oleh permintaan yang meluas di seluruh sektor ekonomi.
Menurutnya, meski konflik geopolitik mendorong kenaikan harga energi, ekonomi global masih memiliki sejumlah fondasi yang cukup kuat untuk menahan dampak tersebut.
Sebagai informasi, stagflasi merupakan kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat atau stagnan, sementara inflasi dan tingkat pengangguran tetap tinggi secara bersamaan.
Nike Alami Pendarahan, PHK 1.400 Karyawan untuk Selamatkan Bisnis
Nike mengatakan pada Kamis (23/4/2026) bahwa perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.400 karyawan operasional global sebagai upaya merampingkan alur kerja, di tengah upaya raksasa apparel olahraga itu keluar dari penurunan penjualan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Mengutip Reuters, dalam memo kepada karyawan pada Kamis, Chief Operating Officer Nike Venkatesh Alagirisamy mengatakan pengurangan jumlah karyawan akan terjadi terutama di Amerika Utara dan Eropa, dan sebagian besar menyasar tim teknologi. PHK ini mencakup sedikit kurang dari 2% dari total tenaga kerja global Nike.
Saham Nike telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam tiga tahun terakhir, karena pesaing yang lebih gesit seperti On, Hoka, dan Anta berhasil merebut lebih banyak ruang penjualan.
CEO Nike Elliott Hill, yang menjabat sejak 2024, berjanji akan mengembalikan fokus merek Nike pada olahraga inti seperti lari dan sepak bola, serta mempercepat peluncuran sepatu baru yang inovatif ke pasar. Namun hasilnya berjalan lambat.
Nike memperkirakan penjualan akan turun 2% hingga 4% pada kuartal berjalan. China, yang menjadi titik masalah utama Nike, diperkirakan mengalami penurunan penjualan hingga 20% dalam kuartal ini, menurut pernyataan Nike.
Menurut memo Alagirisamy, PHK ini akan membantu Nike mengintegrasikan rantai pasokan bahan baku, sepatu, dan pakaian dengan lebih baik. Nike juga akan memusatkan operasional teknologi pada dua hub utama, yakni kantor pusat di Beaverton, Oregon, serta Nike India Technology Center.
Nike juga akan memindahkan sebagian operasi manufaktur untuk merek Converse yang sedang kesulitan agar lebih dekat dengan mitra pabrik Nike, demi “lebih mendukung kebutuhan merek tersebut ke depan,” kata Alagirisamy.
Nike telah melakukan beberapa gelombang PHK dalam beberapa tahun terakhir, termasuk yang terbaru memangkas 775 pekerjaan untuk mempercepat otomatisasi.