News Komoditi & Global ( Senin, 12 Januari 2026 )
News Komoditi & Global ( Senin, 12 Januari 2026 )
Harga Emas Global Melonjak didorong oleh Ketidakpastian Geopolitik dan Ekonomi
Harga emas menembus US$4.600 per ons troi untuk pertama kalinya pada Senin (12/1) pagi.
Sementara perak juga melonjak ke rekor tertinggi, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS.
Melansir Reuters, harga emas spot naik 1,5% menjadi US$4.478,79 per ons troi pada pukul 01:27 GMT. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh rekor US$4.600,33 per ons troi.
Kontrak emas AS untuk pengiriman Februari menguat 2% menjadi US$4.591,10.
Kerusuhan di Iran telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut kelompok hak asasi, sementara pemerintah Tehran mengancam akan menyerang pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump menindak Iran atas nama para pengunjuk rasa.
Ketidakstabilan di Iran terjadi bersamaan dengan langkah Trump memperluas pengaruh AS di panggung internasional, termasuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membahas kemungkinan membeli atau mengambil alih Greenland.
Data pekerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat dari perkiraan pada Desember, dengan penurunan pekerjaan di sektor konstruksi, ritel, dan manufaktur.
Namun, tingkat pengangguran yang menurun menunjukkan pasar tenaga kerja belum memburuk secara drastis.
Investor kini memperkirakan minimal dua pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini. Pasar tenaga kerja yang melunak membuat kemungkinan pemangkasan lebih besar.
Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump mengancamnya dengan tuntutan pidana terkait kesaksiannya di Kongres soal proyek renovasi gedung Fed, yang menurut Powell merupakan “dalih” untuk memberi tekanan agar suku bunga diturunkan lebih lanjut.
Aset non-yielding seperti emas cenderung menguat di tengah lingkungan suku bunga rendah dan ketidakpastian geopolitik maupun ekonomi.
HSBC memperkirakan harga emas bisa mencapai US$5.000 per ounce pada paruh pertama 2026 jika risiko geopolitik dan utang global meningkat.
Harga perak spot naik 4,4% menjadi US$83,50 per ons troi setelah sempat menyentuh rekor US$83,96.
Platinum spot naik 2,9% menjadi US$2.338,54 per ons troi setelah mencatat rekor tertinggi US$2.478,50 pada 29 Desember 2025.
Palladium naik 4,2% menjadi US$1.892,18 per ons troi.
Lonjakan harga emas dan perak menandakan minat investor pada aset aman di tengah ketidakpastian global yang meningkat, baik dari sisi politik maupun ekonomi.
Harga Minyak Dunia Menguat karena Sentimen Geopolitik dan Ketidakpastian Pasokan
Harga minyak dunia bergerak stabil pada Senin (12/1), karena investor terus mencermati potensi gangguan pasokan dari Iran di tengah gejolak protes yang intens, meski upaya mempercepat kembalinya ekspor minyak dari Venezuela membatasi kenaikan harga.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent sedikit turun 5 sen menjadi US$ 63,29 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 6 sen ke US$ 59,06 per barel pada awal perdagangan AS.
Kedua acuan ini terangkat lebih dari 3 % pekan lalu kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober didorong oleh intensifikasi penindakan terhadap protes besar di Iran.
Protes di Iran, yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 500 orang, memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari produsen OPEC itu.
Analis menilai pasar belum sepenuhnya menghitung risiko geopolitik jika konflik di Iran melebar dan memengaruhi jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu rute minyak paling vital di dunia.
Analis ANZ mencatat adanya dorongan seruan agar pekerja di sektor minyak berhenti bekerja karena protes, yang bisa menempatkan pasokan sekitar 1,9 juta barel per hari berisiko terganggu.
Di sisi lain, kebijakan untuk segera memulihkan ekspor minyak Venezuela turut menjadi faktor penahan harga.
Setelah pemerintahan Trump mengumumkan rencana untuk mengalihkan hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang sebelumnya diblokir ke pasar AS, perusahaan-perusahaan energi mulai bersiap mengatur tangki dan logistik untuk mengirimkan minyak tersebut secara aman dari pelabuhan–pelabuhan Venezuela yang rusak.
Kekhawatiran atas gangguan pasokan juga tercermin dalam pasar: harga Brent dan WTI sempat mencatat kenaikan selama beberapa sesi sebelumnya, dipicu oleh kekhawatiran pasokan yang meningkat baik dari Iran maupun dari kondisi ekspor Venezuela yang belum sepenuhnya pulih.
Namun, ketidakpastian geopolitik yang lebih luas, termasuk aksi militer atau keterlibatan AS dalam konflik Iran, serta langkah–langkah untuk membuka kembali aliran minyak Venezuela, membuat harga minyak bergerak hati hati dan stabil dalam rentang sempit.
Presiden Jerman: AS Sedang Menghancurkan Tatanan Dunia!
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melontarkan kritik sangat keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang menurutnya berisiko menghancurkan tatanan dunia yang dibangun pascaperang dunia kedua.
Melansir Reuters, berbicara dalam sebuah simposium, Steinmeier memperingatkan bahwa dunia tidak boleh berubah menjadi “sarang perampok” di mana yang tak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan. Pernyataan ini dipandang merujuk pada tindakan AS belakangan ini, termasuk penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang telah memperburuk ketegangan global.
Steinmeier menilai perilaku AS merupakan pemutusan nilai-nilai oleh mitra Jerman yang paling penting, AS, yang ikut membangun tatanan dunia ini. Ini merupakan sebuah kritik keras terhadap pergeseran kebijakan luar negeri yang selama ini dipandang sebagai pilar stabilitas global.
Ia juga menyebut aneksasi Rusia atas Crimea dan invasi besar-besaran ke Ukraina sebagai momen penting, yang kini diikuti oleh apa yang ia sebut “kerusakan nilai” oleh AS sendiri, memperkuat kekhawatiran bahwa demokrasi global tengah diserang dari berbagai sisi.
Survei terbaru menunjukkan bahwa 76% warga Jerman kini merasa AS bukan mitra yang dapat diandalkan, sementara hanya 15% yang masih percaya pada Amerika, angka terendah dalam sejarah survei sikap publik Jerman.
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melempar kritik luar biasa keras kepada Amerika Serikat, menilai kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump berpotensi mengikis tatanan dunia berbasis aturan dan demokrasi yang telah bertahan sejak perang dunia kedua. Sikap ini mencerminkan kekhawatiran luas di Eropa tentang arah kebijakan global AS, terutama setelah tindakan unilateral terbaru seperti di Venezuela, dan menunjukkan semakin melemahnya kepercayaan sekutu tradisional terhadap Washington di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Minneapolis Amerika Serikat Memanas, Penembakan Agen ICE Tuai Kecaman
Ketegangan antara otoritas negara bagian Minnesota dan pemerintah federal Amerika Serikat (AS) meningkat tajam menyusul penembakan fatal oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) terhadap seorang perempuan warga negara AS di Minneapolis.
Insiden ini memicu kecaman luas dari pejabat lokal serta gelombang demonstrasi di Minnesota dan sejumlah kota lain.
Perempuan yang tewas diketahui bernama Renee Nicole Good (37), seorang ibu dari tiga anak, yang ditembak oleh agen ICE di kawasan permukiman. Hingga kini, identitas agen penembak belum diungkap ke publik.
Pejabat negara bagian dan federal memberikan versi kejadian yang saling bertolak belakang. Menurut Michelle Gross, Presiden organisasi Community United Against Police Brutality yang berbasis di Minnesota, Good saat itu tengah mengikuti patroli lingkungan yang digagas aktivis lokal untuk memantau, mengamati, dan merekam aktivitas ICE.
Biro Penyelidikan Kriminal Minnesota (Bureau of Criminal Apprehension/BCA) menyatakan semula sepakat dengan FBI untuk melakukan investigasi bersama.
Namun, FBI kemudian mengambil alih sepenuhnya penyelidikan tersebut, sehingga BCA tidak lagi memiliki akses terhadap barang bukti, materi perkara, maupun proses wawancara saksi.
“Akibat keputusan itu, BCA dengan berat hati menarik diri dari penyelidikan,” ujar Kepala BCA Drew Evans dilansir Reuters, Kamis (8/1/2026).
Jaksa Agung Minnesota Keith Ellison menyebut langkah FBI tersebut “sangat mengkhawatirkan”.
Ia menegaskan negara bagian tetap dapat melakukan penyelidikan, dengan atau tanpa kerja sama pemerintah federal.
Ellison juga menyatakan bukti yang telah ia lihat membuka kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan hukum negara bagian.
Sementara itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengatakan BCA tidak disingkirkan, tetapi memang tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus tersebut.
Gubernur Minnesota Tim Walz memperingatkan bahwa penyelidikan federal tanpa keterlibatan negara bagian berisiko dipandang publik sebagai upaya “cuci bersih”.
“Hal ini diperparah karena para pejabat berkuasa, dari presiden hingga wakil presiden, sudah lebih dulu menyampaikan penilaian yang terbukti tidak akurat,” ujar Walz.
FBI menolak memberikan komentar atas pernyataan BCA tersebut.
Agen ICE yang menembak Good merupakan bagian dari sekitar 2.000 personel federal yang dikerahkan pemerintahan Presiden Donald Trump ke wilayah Minneapolis. Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebut operasi ini sebagai operasi DHS terbesar sepanjang sejarah.
Pejabat DHS membela tindakan agen tersebut sebagai pembelaan diri dan menuduh Good mencoba menabrak petugas dalam aksi yang mereka sebut sebagai “terorisme domestik”.
Namun, Wali Kota Minneapolis Jacob Frey menyebut klaim tersebut “omong kosong” dan “sampah”, dengan merujuk pada video saksi mata yang beredar dan dinilai bertentangan dengan versi pemerintah.
Baik Frey maupun Walz mendesak Trump untuk menarik pasukan federal dari Minneapolis, dengan alasan kehadiran mereka justru memicu kekacauan.
Meski demikian, laporan media AS menyebut pemerintah justru mengirim tambahan lebih dari 100 personel Patroli Perbatasan ke wilayah tersebut.
Wakil Presiden JD Vance kembali menegaskan narasi pemerintah dalam konferensi pers di Gedung Putih, menyebut tindakan Good sebagai “serangan terhadap penegak hukum” dan menyatakan agen ICE tersebut layak mendapat “ucapan terima kasih”.
Ia juga menepis kemungkinan aparat federal diadili berdasarkan hukum negara bagian.
Video saksi mata menunjukkan dua petugas bertopeng mendekati mobil Good yang berhenti di jalan. Saat salah satu petugas memerintahkan Good keluar dan mencoba membuka pintu mobil, kendaraan tersebut sempat mundur lalu bergerak maju untuk meninggalkan lokasi.
Seorang petugas lain kemudian menembakkan tiga peluru ke arah mobil, termasuk tembakan melalui jendela pengemudi.
Belum jelas apakah mobil Good sempat menyentuh petugas tersebut. Menteri Noem mengatakan petugas itu sempat dibawa ke rumah sakit dan dipulangkan pada hari yang sama. Namun Trump menyatakan di media sosial bahwa Good “menabrak petugas ICE”.
Gross menegaskan tidak ada pembenaran atas penggunaan kekuatan mematikan. “Mereka hanya menjalankan hak Amandemen Pertama untuk merekam aparat,” ujarnya.
Penembakan ini memicu demonstrasi besar-besaran. Ribuan orang turun ke jalan di Minneapolis, sementara aksi protes juga digelar atau direncanakan di New York, Chicago, Seattle, Los Angeles, dan Philadelphia.
Garda Nasional Minnesota disiagakan, dan sekolah umum Minneapolis ditutup sebagai langkah pencegahan.
Renee Nicole Good diketahui berasal dari Colorado dan meninggalkan seorang putri berusia 15 tahun serta dua putra berusia 12 dan 6 tahun.
Ia meraih gelar sarjana sastra Inggris pada 2020 dan pernah memenangkan penghargaan puisi tingkat sarjana.
Operasi federal di Minnesota merupakan bagian dari kebijakan pengetatan imigrasi nasional pemerintahan Trump, yang juga dipicu penyelidikan dugaan penipuan terhadap sejumlah organisasi nirlaba di komunitas Somalia di Minnesota.
Trump sebelumnya melontarkan pernyataan kontroversial terhadap komunitas Somalia-Amerika di negara bagian tersebut.
Pegawai Federal AS Turun Drastis, Terendah dalam Satu Dekade Terakhir
Jumlah pegawai federal AS turun ke level terendah dalam setidaknya satu dekade, menurut data pemerintah yang diterbitkan pada hari Kamis (8/1/2026).
Penurunan jumlah pegawai ini dipicu oleh langkah pemerintahan Trump memaksa puluhan ribu pekerja keluar atau diberhentikan dengan paksa.
Mengutip Reuters, Pemerintah AS mempekerjakan 2,1 juta pekerja, menurut statistik dari Kantor Manajemen Personalia.
Sekitar 2,3 juta orang bekerja untuk pemerintah AS pada akhir pemerintahan Presiden Joe Biden.
Setelah menjabat pada Januari 2025, Presiden Donald Trump meluncurkan kampanye untuk mengurangi jumlah pegawai negeri sipil federal, yang menurutnya terlalu banyak dan tidak efisien.
Kampanye tersebut tampaknya berhasil, menurut statistik.
Pimpinan Partai Republik Tolak Opsi Militer Trump untuk Ambil Alih Greenland
Sejumlah pimpinan Partai Republik di Kongres AS menolak wacana Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland.
Mereka menilai langkah tersebut tidak pantas dan berisiko merusak hubungan Amerika Serikat dengan sekutu dekatnya.
Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan penggunaan militer untuk menguasai Greenland, wilayah semi-otonom di bawah Denmark yang juga anggota pendiri NATO, bukan pilihan yang tepat.
Ia menegaskan tidak ada pihak yang benar-benar serius mempertimbangkan opsi tersebut. Pernyataan senada disampaikan Pemimpin Mayoritas Senat John Thune yang menilai aksi militer bukanlah opsi dalam isu Greenland.
Namun, Gedung Putih menegaskan sikap Trump berbeda. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa akuisisi Greenland dipandang Trump sebagai prioritas keamanan nasional.
Menurutnya, penggunaan militer “selalu menjadi opsi” yang berada di tangan Presiden sebagai Panglima Tertinggi.
Pernyataan Trump soal Greenland mendapat sorotan luas, terutama setelah ia memerintahkan serangan militer ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada akhir pekan lalu.
Trump kembali menegaskan minatnya terhadap Greenland, yang dinilai strategis secara militer dan kaya sumber daya mineral. Kepada NBC News, Trump menyebut dirinya sangat serius ingin mengakuisisi wilayah tersebut.
Pemerintah Greenland dan Denmark secara tegas menolak gagasan itu. Sejumlah negara Eropa sekutu AS juga menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Greenland.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan akan bertemu pejabat Denmark pekan depan, setelah pemerintah Denmark meminta pertemuan resmi.
Rubio menyebut niat membeli Greenland sudah ada sejak awal masa jabatan Trump.
Meski sebagian tokoh Republik tetap mendukung Trump, seperti Ketua Komite Hubungan Luar Negeri DPR Brian Mast yang menyebut militer selalu menjadi opsi, banyak politisi Republik lain menyuarakan keprihatinan.
Ketua Komite Anggaran Senat Susan Collins menolak keras pengambilalihan Greenland, baik melalui kekuatan militer maupun insentif finansial. Senator Lisa Murkowski bahkan menyebut retorika tersebut sangat mengganggu dan mengkhawatirkan.
Kritik juga datang dari Senator Mitch McConnell yang menilai ancaman dan intimidasi terkait kepemilikan Greenland tidak pantas dan kontraproduktif.
Ia memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan terhadap wilayah berdaulat sekutu AS akan menjadi kesalahan strategis besar yang merusak pengaruh global Amerika.
Dari Partai Demokrat, Senator Tim Kaine mengatakan banyak sekutu NATO kecewa dan mempertanyakan komitmen AS terhadap aliansi. Ia menyebut Senat berpeluang mengajukan resolusi kewenangan perang untuk melarang Trump melakukan aksi militer sepihak terhadap Denmark atau Greenland.
Di DPR, sebagian anggota mendorong pendekatan diplomatik. Anggota DPR Mike Flood mengatakan AS, Denmark, dan Greenland siap melanjutkan kerja sama di kawasan Arktik menghadapi ancaman Rusia dan China.
Sementara itu, anggota DPR Joe Wilson menilai retorika Trump lebih merupakan taktik negosiasi untuk memperkuat kehadiran militer AS di Greenland, bukan rencana aksi militer nyata.
Namun, kekhawatiran tetap tinggi di kalangan sekutu NATO. Anggota DPR dari Demokrat, Brendan Boyle, mengatakan mitra NATO sangat terganggu dengan situasi ini.
Ia memperingatkan bahwa serangan AS ke Greenland akan menjadi akhir NATO dan tatanan dunia pasca-Perang Dunia II. Meski demikian, Boyle pesimistis Kongres saat ini mampu membendung langkah Trump tanpa perubahan komposisi politik di DPR pada masa mendatang.
Trump Berbalik Arah, Kini Undang Presiden Kolombia ke Gedung Putih
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengundang Presiden Kolombia Gustavo Petro untuk berkunjung ke Gedung Putih, hanya beberapa hari setelah sebelumnya melontarkan ancaman aksi militer terhadap Kolombia.
Trump mengatakan pengaturan pertemuan dengan Petro sedang disiapkan, menyusul pembicaraan telepon pertama antara kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.
Dalam percakapan tersebut, keduanya membahas hubungan bilateral serta sejumlah perbedaan pandangan yang selama ini memicu ketegangan.
“Itu suatu kehormatan besar bisa berbicara dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang menelepon untuk menjelaskan situasi soal narkoba dan perbedaan lain yang pernah kami alami. Saya menghargai nada bicaranya dan menantikan pertemuan dengannya dalam waktu dekat,” tulis Trump di media sosial.
Namun, Trump belum menyebutkan tanggal pasti pertemuan di Washington.
Petro membenarkan adanya pembicaraan tersebut. Di hadapan para pendukungnya dalam sebuah rapat umum di Bogota, ia mengatakan telah berbicara langsung dengan Trump dan meminta agar dialog antara Kolombia dan Amerika Serikat kembali dibuka.
Seorang sumber di kantor kepresidenan Kolombia menyebut percakapan itu berlangsung “akrab” dan “saling menghormati.”
Undangan ini muncul setelah Trump pada Minggu lalu menyatakan bahwa kemungkinan operasi militer AS yang menargetkan pemerintah Kolombia “terdengar bagus” baginya.
Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah AS menculik presiden Venezuela, negara tetangga Kolombia, yang kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan narkoba dan senjata.
Hubungan Trump dan Petro memang memburuk sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Trump berulang kali menuduh pemerintahan Petro, tanpa menyertakan bukti, membiarkan aliran kokain masuk ke Amerika Serikat. Pada Oktober lalu, Washington bahkan menjatuhkan sanksi terhadap Petro.
Trump juga melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Petro sebagai “orang sakit” yang gemar memproduksi dan menjual kokain ke AS.
Pada September, pemerintah AS mencabut visa Petro setelah ia ikut dalam demonstrasi pro-Palestina di New York dan menyerukan tentara AS agar “tidak mematuhi perintah Trump.”
Di sisi lain, Petro yang dikenal sebagai pengkritik keras perang Israel di Gaza, menuduh Trump bersekongkol dalam genosida dan menyerukan proses hukum atas serangan rudal AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di perairan Karibia.
Pemerintahan Trump sejak September telah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat penyelundupan narkoba. Kampanye tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 110 orang
AS Sita Kapal Tanker Rusia, Moskow Murka dan Peringatkan Eskalasi Konflik
Hubungan Rusia dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemerintah Rusia dengan keras mengecam penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia oleh militer AS, menyebut langkah itu sebagai pemicu eskalasi baru yang berpotensi meningkatkan ketegangan militer dan politik di kawasan Euro-Atlantik.
AP melaporkan, Kementerian Luar Negeri Rusia menilai penyitaan kapal tanker di Samudra Atlantik Utara pada Rabu lalu hanya akan mendorong eskalasi lebih lanjut dan menurunkan ambang batas penggunaan kekuatan terhadap pelayaran sipil. Insiden ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump mendorong Rusia mengakhiri perang di Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Presiden Rusia Vladimir Putin sejauh ini belum memberikan komentar langsung terkait penyitaan kapal tersebut. Ia juga tetap bungkam soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS, yang sebelumnya dikecam diplomat Rusia sebagai tindakan agresi terbuka. Meski demikian, penyitaan kapal tanker ini dinilai sebagai tantangan baru bagi Kremlin, terutama karena dilakukan secara langsung oleh militer AS.
Di Moskow, para pengamat garis keras mengkritik pemerintah Rusia karena dianggap lamban merespons. Mereka mendesak Rusia mengawal kapal-kapal “shadow fleet”, yakni armada tanker yang digunakan Rusia untuk mengangkut minyak di tengah sanksi Barat, dengan kekuatan laut.
Selama ini, sekutu Barat Ukraina memang berjanji akan memperketat sanksi terhadap armada bayangan Rusia. Banyak analis di Moskow khawatir tindakan AS ini bisa menjadi preseden, membuka jalan bagi negara lain untuk ikut menyita kapal tanker Rusia.
Menurut Daniel Fried, mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS, opsi Rusia untuk merespons sebenarnya sangat terbatas.
“Orang Rusia biasanya berteriak dan marah ketika mereka dipermalukan, dan dalam kasus ini mereka memang dipermalukan,” kata Fried. “Mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kapal ini.”
Komando Eropa AS menyatakan kapal niaga Bella 1 disita karena melanggar sanksi AS. Kapal tersebut sebelumnya mencoba menghindari blokade terhadap pengiriman minyak Venezuela, lalu berganti nama menjadi Marinera dan menggunakan bendera Rusia. Pemerintahan Trump sendiri memberlakukan embargo minyak ketat terhadap Venezuela, dengan menegaskan bahwa ekspor-impor minyak negara tersebut hanya boleh dilakukan melalui jalur yang disetujui AS.
Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh AS menggunakan penyitaan kapal sebagai dalih untuk menguasai sumber daya minyak Venezuela, menyebutnya sebagai cerminan ambisi neo-kolonial. Moskow menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat hukum maritim internasional, dan menegaskan kapal itu memiliki izin sah untuk berlayar di bawah bendera Rusia sejak Desember.
Ancaman AS untuk menuntut awak kapal disebut Rusia “tidak dapat diterima secara kategoris”, sementara sanksi sepihak Barat dianggap tidak sah dan tidak bisa dijadikan dasar penyitaan kapal di laut lepas.
Di media sosial Rusia, kemarahan meluap. Sejumlah blogger militer menuding Kremlin gagal menunjukkan ketegasan. Bahkan ada usulan agar kontraktor militer swasta ditempatkan di kapal-kapal tanker guna mencegah penyitaan di masa depan.
Namun Fried menilai Rusia berada dalam posisi lemah. Selain invasi ke Ukraina, klaim hukum Rusia atas kapal tersebut juga rapuh karena izin bendera Rusia bersifat sementara.
“Secara strategis, Rusia sedang terlalu terbebani dan rentan,” ujarnya. “Mereka bertahan dalam perang Ukraina yang tidak mereka menangkan, sementara ekonomi mereka terpukul.”
Fried menambahkan, Putin kemungkinan enggan memprovokasi Trump secara langsung.
“Putin justru sering mendapatkan hasil lebih baik ketika ia merayu Trump,” katanya.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Senator AS Lindsey Graham mengungkapkan bahwa Trump telah memberi lampu hijau untuk rancangan undang-undang sanksi baru terhadap Rusia, yang ditujukan untuk melumpuhkan ekonomi Moskow.
Penyitaan kapal tanker Rusia oleh Amerika Serikat menjadi titik nyala baru dalam hubungan Moskow–Washington, mempertegas kerasnya konfrontasi geopolitik di tengah perang Ukraina dan konflik energi global. Meski Rusia melontarkan kecaman tajam, ruang geraknya terbatas, sementara AS tampak semakin percaya diri menegakkan sanksi. Insiden ini berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi keamanan pelayaran internasional sekaligus memperdalam jurang ketegangan antara dua kekuatan besar dunia.
Trump Rencanakan Pertemuan dengan Pemimpin Oposisi Venezuela Pekan Depan
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado akan datang ke Washington minggu depan.
Mengutip Reuters, Jumat (9/1/2026), selama wawancara di program Hannity Fox News, Trump ditanya apakah ia berencana untuk bertemu dengan Machado setelah serangan AS di Venezuela yang mengakibatkan penangkapan presidennya Nicolas Maduro.
"Yah, saya mengerti dia akan datang minggu depan, dan saya berharap dapat menyapanya," jawab Trump.
Gedung Putih tidak segera menanggapi ketika dihubungi untuk rincian tambahan mengenai pertemuan tersebut.
Ini akan menjadi pertemuan pertama Trump dengan Machado, yang mengatakan awal pekan ini bahwa ia belum berbicara dengan pemimpin AS tersebut sejak memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada bulan Oktober.
Masa depan pemerintahan negara Amerika Selatan itu masih diragukan. Trump pada akhir pekan lalu menolak gagasan untuk bekerja sama dengan Machado, dengan mengatakan dia tidak memiliki dukungan atau simpati di dalam negeri.
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa akan "membutuhkan waktu bagi negara Amerika Selatan itu, yang saat ini dipimpin oleh Presiden sementara
Delcy Rodriguez, untuk mencapai titik di mana mereka dapat mengadakan pemilihan umum."
"Kita harus membangun kembali negara itu. Mereka tidak bisa mengadakan pemilihan umum," katanya. "Mereka bahkan tidak tahu bagaimana cara mengadakan pemilihan umum saat ini."
Venezuela, anggota OPEC, adalah salah satu produsen minyak terbesar. Industri minyaknya telah menjadi fokus perhatian pemerintahan Trump, dengan seorang pejabat senior mengatakan kepada Reuters bahwa penjualan minyak ke Amerika Serikat akan segera dimulai dengan pengiriman awal sekitar 30 juta barel hingga 50 juta barel dan akan berlanjut tanpa batas waktu.
Trump mengatakan dia akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada hari Jumat. Perusahaan-perusahaan minyak tersebut, menurut presiden, akan memainkan peran kunci dalam membangun kembali industri minyak Venezuela.
"Mereka akan membangun kembali seluruh infrastruktur minyak. Mereka akan menghabiskan setidaknya US$ 100 miliar dan mereka memiliki minyak yang luar biasa, dan kualitas serta jumlah minyak yang luar biasa," katanya.
Menkeu Jepang Akan Nyatakan Sikap Atas Kontrol Ekspor China Pekan Depan
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan rekan-rekannya di Amerika Serikat minggu depan untuk membahas pasokan logam tanah jarang, dan mengulangi kecaman Tokyo terhadap China atas kontrol ekspor terbarunya.
Mengutip Reuters, Jumat (9/1/2026), Katayama mengatakan bahwa ia sangat prihatin tentang tindakan Beijing dan bahwa ia akan menyampaikan sikap Jepang pada pertemuan minggu depan.
Beijing pada hari Selasa mengumumkan larangan ekspor barang-barang dwiguna ke militer Jepang.
Pada Kamis (8/1/2026), Wall Street Journal melaporkan bahwa China juga telah mulai membatasi ekspor logam tanah jarang dan magnet kuat yang mengandungnya ke perusahaan-perusahaan Jepang.
Ketika ditanya tentang laporan tersebut, Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa tidak berkomentar apakah China telah menghentikan peninjauan izin ekspor ke Jepang, dengan mengatakan Tokyo sedang menganalisis situasi tersebut.
"Yang dapat kami katakan adalah kami berkoordinasi erat dengan negara-negara terkait, termasuk AS, karena peraturan China terkait logam tanah jarang mempengaruhi ekonomi global," tambah Akazawa.
Menteri keuangan dari negara-negara G7 akan bertemu di Washington pada 12 Januari untuk membahas pasokan logam tanah jarang, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.
Ditanya tentang langkah China, Katayama mengatakan bahwa perkembangan terkini sedang ditangani dan didiskusikan oleh para menteri keuangan dari Kelompok Tujuh.
"Diskusi ini sedang berlangsung karena ada pengakuan bersama, setidaknya di antara G7, bahwa mengamankan posisi monopoli melalui cara non-pasar, dan kemudian menggunakan posisi itu sebagai senjata strategis, tidak dapat diterima," katanya.
"Praktik-praktik seperti itu dipandang, dalam arti tertentu, sebagai pemicu krisis bagi ekonomi global dan sangat bermasalah dari sudut pandang keamanan ekonomi," tambahnya.
Inflasi China Capai Level Tertinggi 3 Tahun, Tekanan Deflasi Mereda
Inflasi konsumen China mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Desember, sementara tekanan deflasi di tingkat produsen mulai mereda.
Hal ini berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) yang dirilis Jumat (9/1/2026).
Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) China secara tahunan naik 0,8% pada Desember 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 34 bulan terakhir dan sesuai dengan perkiraan para ekonom dalam survei Reuters. Pada November, inflasi konsumen tercatat sebesar 0,7%.
Secara bulanan, CPI meningkat 0,2% pada Desember, berbalik arah dari penurunan 0,1% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ini juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,1%.
Sementara itu, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) masih mencatat deflasi, namun dengan laju yang lebih ringan.
PPI tercatat turun 1,9% secara tahunan pada Desember, membaik dibandingkan penurunan 2,2% pada November dan sedikit lebih baik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 2%.
Data ini menunjukkan adanya perbaikan bertahap pada sisi harga di perekonomian China, meski tekanan deflasi di sektor manufaktur masih berlanjut.
Perkembangan inflasi tersebut menjadi perhatian utama pembuat kebijakan di tengah upaya mendorong pemulihan permintaan domestik dan menjaga stabilitas ekonomi.
China Tegaskan Dukungan untuk PBB Meski AS Mundur dari Organisasi Internasional
Juru Bicara Mao Ning menegaskan bahwa China akan terus berkomitmen pada multilateralisme dan mendukung peran sentral PBB dalam urusan internasional. "Tidak peduli bagaimana situasi berkembang, China akan bekerja sama dengan komunitas internasional lainnya untuk membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara," ujarnya.
Langkah AS ini didasarkan pada Memorandum Kepresidenan yang ditandatangani oleh Trump pada Rabu (7/1), yang memerintahkan lembaga-lembaga pemerintah AS untuk menarik diri dari 66 organisasi, termasuk 35 organisasi non-PBB dan 31 entitas PBB. Gedung Putih berpendapat bahwa penarikan ini bertujuan untuk mengakhiri pendanaan dan keterlibatan pembayar pajak Amerika dalam entitas yang dianggap tidak melayani kepentingan nasional AS.
Di antara organisasi yang terdampak adalah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan Dana Kependudukan PBB (UNFPA). Sebelumnya, pemerintahan Trump juga menarik AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dewan Hak Asasi Manusia Langkah ini dikritik oleh Mao Ning yang menekankan bahwa organisasi internasional seharusnya menjunjung tinggi kepentingan bersama semua negara dan tidak hanya melayani kepentingan egois negara tertentu. Sistem internasional yang berpusat pada PBB, menurutnya, telah berperan penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global selama lebih dari 80 tahun.