News Komoditi& Global ( Rabu, 13 Mei 2026 )
News Komoditi& Global
( Rabu, 13 Mei 2026 )
Harga Emas Global Naik Tipis Meskipun Inflasi AS Lebih Panas, Fokus pada KTT Donald Trump – XiJinping
Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan dengan kenaikan ringan di dekat $4.720 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Namun, potensi kenaikan logam mulia ini mungkin terbatas karena inflasi AS yang lebih panas dari prakiraan dan ketegangan geopolitik yang bergeser. Para pedagang akan mengambil lebih banyak isyarat dari laporan Indeks Harga Produsen (IHP) AS untuk bulan April, yang akan dirilis pada hari Rabu.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja pada hari Selasa menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 3,8% YoY di bulan April, dibandingkan dengan 3,3% di bulan Maret. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi 3,7% dan mencatat level tertinggi sejak Mei 2023.
Pada basis bulanan, IHK umum naik 0,6% di bulan April dibandingkan 0,9% sebelumnya, sesuai dengan estimasi para analis. Sementara itu, IHK inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang volatil, naik 0,4% dan 2,8% masing-masing pada basis bulanan dan tahunan.
Setelah data inflasi AS yang panas, para pedagang meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada akhir tahun menjadi sekitar 30%, menurut CME FedWatch tool. Hal ini, pada gilirannya, dapat membebani logam kuning tersebut. Perlu dicatat bahwa Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan bunga, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Para pedagang akan mengamati pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Beijing pada hari Kamis dan Jumat. Ini akan menjadi kunjungan pertama Trump ke Tiongkok sejak 2017. Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa dia akan memprioritaskan diskusi perdagangan selama pertemuannya dengan rekan sejawatnya dari Tiongkok, Xi Jinping, dan meremehkan perhatian yang akan mereka berikan pada perang di Iran.
Harga Minyak Dunia Menguat Ditopang Harapan Perdamaian di Timur Tengah Memudar
Harga minyak ditutup naik untuk sesi ketiga berturut-turut karena perbedaan tajam antara Ameriika Serikat (AS) dan Iran mengenai proposal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang mengacaukan pasar minyak global kemungkinan akan berkepanjangan.
Selasa (12/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup naik US$ 3,56 atau 3,42% menjadi US$ 107,77 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup naik US$ 4,11 atau 4,19% ke US$ 102,18. Kedua patokan tersebut telah naik hampir 3% pada hari Senin (11/5/2026).
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam "kondisi kritis," merujuk pada ketidaksepakatan mengenai tuntutan Teheran untuk penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, dan kompensasi atas kerusakan perang.
Iran juga menekankan kedaulatannya atas Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global.
"Pasar meragukan bahwa 'kesepakatan damai' dapat dicapai," kata analis StoneX, Alex Hodes.
Selasa (12/5/2026), Badan Informasi Energi (EIA) mengatakan bahwa mereka sekarang berasumsi selat tersebut akan secara efektif tertutup hingga akhir Mei, yang menyebabkan kerugian pasokan minyak dan gas Timur Tengah yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Badan tersebut sebelumnya memperkirakan jalur air tersebut akan ditutup hingga akhir April.
Bahkan setelah aliran kembali normal melalui Selat Hormuz, dibutuhkan setidaknya hingga akhir 2026 atau awal 2027 agar produksi minyak dan pola perdagangan kembali ke tingkat sebelum konflik, kata EIA.
Gangguan yang terkait dengan hampir tertutupnya selat tersebut telah mendorong produsen untuk mengurangi ekspor, dengan survei Reuters pada hari Senin menunjukkan produksi minyak OPEC pada bulan April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
EIA memperkirakan 10,5 juta barel per hari produksi hilang selama bulan April di seluruh Timur Tengah karena penutupan selat, yang membatasi ekspor.
Sumber lain memperkirakan kerugian pasokan jauh lebih tinggi. J.P. Hanson, kepala global minyak dan gas di Houlihan Lokey, mengatakan konflik tersebut telah menciptakan kesenjangan pasokan sebesar 14 juta barel per hari.
"Pasar sekarang menghadapi defisit agregat miliaran barel, diperparah oleh cadangan strategis yang terkuras dan kapasitas terbatas untuk mengganti volume yang hilang," kata Hanson dalam sebuah email.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan pada hari Senin bahwa gangguan terhadap ekspor minyak melalui selat dapat menunda kembalinya stabilitas pasar hingga tahun 2027, dengan kehilangan sekitar 100 juta barel minyak per minggu.
Kehilangan pasokan dari Timur Tengah yang berkepanjangan memaksa negara-negara di seluruh dunia untuk menghabiskan persediaan minyak dan gas mereka. EIA sekarang memperkirakan persediaan minyak global akan turun sekitar 2,6 juta barel per hari tahun ini, jauh lebih banyak daripada perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penurunan 300.000 barel per hari.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah diperkirakan telah turun sekitar 2,1 juta barel minggu lalu, menurut jajak pendapat Reuters yang lebih luas terhadap para analis. Persediaan bahan bakar AS juga diperkirakan telah menurun minggu lalu, menurut jajak pendapat tersebut.
"Neraca minyak global terus menyempit setiap hari dengan hilangnya pasokan yang dengan mudah melebihi pengurangan permintaan yang disebabkan oleh harga," kata penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.
"Hal ini membuat kita tetap optimis, di mana harga minyak mentah berjangka terdekat tampaknya masih memiliki potensi kenaikan $10-12 per barel sebelum harga yang tinggi tersebut memaksa AS, Iran, atau keduanya untuk memberikan konsesi yang signifikan."
Para pelaku pasar juga mengamati dengan saksama pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Kamis dan Jumat setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok.
Tarif yang diberlakukan selama perang dagang AS-Tiongkok telah menghentikan sebagian besar impor minyak dan LNG AS oleh Tiongkok, yang bernilai $8,4 miliar pada tahun 2024, tahun sebelum Trump memulai masa jabatan keduanya.
Wall Street: S&P 500, Nasdaq Ditutup Melemah Terseret Data Inflasi & Ketegangan Iran
Wall Street ditutup bervariasi dengan dua indeks utama melemah. Di mana, indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup turun dari rekor tertinggi karena inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan gencatan senjata AS-Iran yang semakin rapuh mendorong investor untuk mengesampingkan kemungkinan penurunan pasar saham dan fokus pada laporan pendapatan kuartal pertama.
Selasa (12/5/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 56,09 atau 0,11% menjadi 49.760,56, indeks S&P 500 turun 11,88 atau 0,16% ke 7.400,96 dan indeks Nasdaq Composite melemah 185,92 atau 0,71% ke 26.088,20.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor barang konsumsi non-esensial dan teknologi mengalami penurunan persentase terbesar. Sementara sektor kesehatan dan barang konsumsi esensial memimpin kenaikan.
Pelemahan saham teknologi paling menyeret Nasdaq turun, sementara saham sektor kesehatan, yang didukung oleh lonjakan saham Humana, membantu menjaga Dow tetap berada di wilayah positif.
Meskipun terjadi aksi jual, indeks S&P 500 dan Nasdaq tetap mendekati level tertinggi sepanjang masa.
Saat musim pelaporan berakhir, investor semakin fokus pada valuasi, makroekonomi, dan perkembangan geopolitik.
Meskipun indeks PHLX Semiconductor turun 3%, indeks tersebut telah melonjak 65,4% sepanjang tahun ini, diuntungkan dari antusiasme terhadap kecerdasan buatan.
"Prediksi kami adalah agar pasar stabil karena keserakahan terjadi selama musim laporan keuangan dan ketakutan setelahnya," kata Jay Hatfield, CEO dan manajer portofolio di InfraCap di New York.
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan harga konsumen naik lebih cepat bulan lalu daripada yang diantisipasi analis karena penutupan Selat Hormuz akibat perang dengan Iran terus mengganggu pasokan minyak mentah.
"Inflasi tidak akan membaik kecuali harga minyak turun," tambah Hatfield. "Itulah sejarah yang bisa Anda jadikan patokan."
Perang Iran, yang memasuki minggu ke-11, tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian dalam waktu dekat.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata "dalam kondisi kritis" setelah Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri konflik, tetap berpegang pada daftar tuntutan yang disebut Trump sebagai "sampah."
Gagasan tentang konflik yang berkepanjangan meningkatkan kemungkinan bahwa kenaikan harga energi dapat menyebar menjadi inflasi yang lebih luas dan lebih mengakar. Hal itu hampir memadamkan harapan untuk penurunan suku bunga dari The Fed tahun ini di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang dikonfirmasi oleh Senat AS sebagai anggota dewan The Fed pada hari Selasa.
"Warsh tidak akan mampu menurunkan suku bunga bahkan jika dia mau, dan saya rasa dia tidak akan mau," kata Hatfield, menambahkan bahwa dia optimis tentang rencana reformasi The Fed Warsh.
Peluang kenaikan suku bunga semakin meningkat. Pasar keuangan memperkirakan kemungkinan 30,5% bahwa bank sentral akan menerapkan kenaikan 25 basis poin pada suku bunga target dana Fed pada bulan Desember, naik dari 21,5% pada hari Senin (11/5/2026), menurut alat FedWatch CME.
Trump dijadwalkan melakukan perjalanan ke Beijing pada pekan ini untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping guna membahas berbagai isu, termasuk tarif, bantuan militer AS ke Taiwan, peran potensial China dalam menengahi kesepakatan perdamaian dengan Iran, dan perpanjangan perjanjian perdagangan logam kritis dan logam tanah jarang.
Pada sesi ini, saham Humana naik 7,7% setelah Bernstein menaikkan target harga sebesar 36%. Saham GameStop turun 3,5% setelah eBay menolak tawaran pengambilalihan senilai US$ 56 miliar dari pelopor saham meme tersebut.
Sedangkan saham Zebra Technologies melonjak 11,4% setelah pembuat pemindai kode batang tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan penjualan tahunannya, dengan bertaruh pada permintaan yang kuat untuk produk-produknya yang membantu mengotomatisasi alur kerja manufaktur.
Saham Hims & Hers Health anjlok 14,1% setelah perusahaan telemedis tersebut gagal memenuhi perkiraan Wall Street untuk pendapatan kuartal pertama dan mencatat kerugian yang mengejutkan.
Berikutnya, saham Venture Global melonjak 14,2% setelah eksportir LNG tersebut menaikkan perkiraan laba inti tahunan yang disesuaikan.
Inflasi AS Naik Tajam Dua Bulan Berturut-turut di 3,8%, Tekan Popularitas Trump
Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat tajam pada April, didorong lonjakan harga energi dan pangan akibat konflik dengan Iran. Kenaikan harga konsumen selama dua bulan berturut-turut ini memperbesar tekanan ekonomi terhadap rumah tangga Amerika sekaligus meningkatkan risiko politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela November mendatang.
Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Selasa menunjukkan indeks harga konsumen alias Consumer Price Index (CPI) naik 0,6% pada April, setelah melonjak 0,9% pada Maret. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,8%, tertinggi sejak Mei 2023.
Kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran mendorong harga minyak dunia menembus US$100 per barel pada Maret lalu.
Harga energi naik 3,8% pada April dan menyumbang lebih dari 40% kenaikan inflasi bulanan. Sebelumnya, harga energi melonjak 10,9% pada Maret.
Harga bensin meningkat 5,4%, sementara bahan bakar minyak naik 5,8%. Konsumen juga menghadapi kenaikan tarif listrik.
Di sektor pangan, harga makanan naik 0,5% setelah stagnan pada bulan sebelumnya. Inflasi bahan makanan di toko grosir melonjak 0,7%, dipimpin kenaikan harga daging sapi sebesar 2,7%.
Harga buah dan sayur naik 1,8%, minuman nonalkohol meningkat 1,1%, sementara produk susu dan telur juga mencatat kenaikan signifikan.
Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, mengatakan masyarakat mulai merasakan tekanan keuangan yang nyata.
“Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, inflasi menghapus seluruh kenaikan upah. Ini menjadi kemunduran bagi rumah tangga kelas menengah dan berpendapatan rendah,” ujarnya.
Data inflasi yang kuat, ditambah laporan ketenagakerjaan AS yang masih solid pekan lalu, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga 2027.
Saat ini, bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%.
Pasar keuangan langsung bereaksi negatif terhadap data tersebut. Bursa saham AS dibuka melemah, imbal hasil obligasi pemerintah naik, dan dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Ekonom RSM, Joseph Brusuelas, memperingatkan bahwa tekanan inflasi masih bisa memburuk apabila konflik geopolitik terus berlangsung.
“Energi, minyak, bensin, transportasi, dan pangan semuanya berpotensi naik lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang karena pasokan global makin ketat dan tekanan rantai pasok meningkat,” katanya.
Selain energi dan pangan, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4% pada April, tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan ini antara lain dipicu lonjakan biaya sewa rumah. Biaya tempat tinggal naik 0,6%, sedangkan tarif penerbangan meningkat 2,8% akibat mahalnya bahan bakar jet.
Harga pakaian, alas kaki, serta perlengkapan rumah tangga juga mengalami kenaikan cukup kuat.
Kenaikan inflasi menjadi tantangan serius bagi Trump, yang memenangkan pemilu 2024 sebagian besar dengan janji menurunkan biaya hidup masyarakat.
Namun, meningkatnya harga bahan bakar dan kebutuhan pokok membuat banyak warga AS mulai kecewa terhadap penanganan ekonomi pemerintahannya. Tingginya inflasi juga berpotensi menjadi isu utama dalam pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Israel Kirim Sistem Pertahanan Udara Iron Dome ke UEA untuk Hadapi Ancaman Iran
Israel dilaporkan mengirim baterai sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personel pengoperasinya ke Uni Emirat Arab untuk membantu menghadapi ancaman serangan dari Iran.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah acara di Tel Aviv pada Selasa (12/5). Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, sistem pertahanan yang dikirim mencakup radar dan peluncur rudal guna memperkuat perlindungan udara UEA dari serangan Iran.
Iran disebut menjadi negara yang paling sering menyerang UEA selama konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu, setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Meski saat ini terdapat gencatan senjata, Iran dilaporkan masih melancarkan serangan ke wilayah UEA.
"Israel baru saja mengirim baterai Iron Dome dan personel kepada mereka (UEA) untuk membantu pengoperasiannya. Mengapa? Karena ada hubungan yang luar biasa antara UEA dan Israel yang didasarkan pada Abraham Accords," kata Huckabee.
Hubungan erat kedua negara merujuk pada Abraham Accords, kesepakatan tahun 2020 yang membuka hubungan diplomatik antara Israel dan UEA.
Israel sebelumnya juga diketahui pernah memasok sistem pertahanan udara kepada UEA. Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, pada 17 Maret lalu menyatakan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara Arab justru akan mempererat hubungan Israel dengan negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengannya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi “on life support” atau sangat rapuh.
Dalam kesempatan yang sama, Huckabee juga menanggapi pertanyaan mengenai serangan kekerasan yang dilakukan warga Israel terhadap komunitas Kristen di Kota Tua Yerusalem serta aksi pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Huckabee menegaskan bahwa aksi terorisme tidak dapat dibenarkan siapa pun pelakunya.
"Terorisme adalah terorisme. Tidak peduli siapa yang melakukannya, tindakan itulah yang merupakan kejahatan," ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa sebagian pelaku kekerasan di Tepi Barat kemungkinan berasal dari luar wilayah tersebut, termasuk dari Tel Aviv. Namun Huckabee menegaskan, tindakan kekerasan dan teror merupakan bentuk penghinaan terhadap negara Israel dan masyarakat Yahudi.
"Namun di mana pun mereka tinggal, ketika mereka melakukan tindakan teror atau kejahatan, maka apa yang mereka lakukan, menurut saya, merupakan penghinaan terhadap Negara Israel dan masyarakat Yahudi, dan hal itu harus dikecam," kata Huckabee yang disambut tepuk tangan hadirin.
Perang Drone Hezbollah-Israel di Lebanon Memanas, Ancam Upaya Perdamaian Timur Tengah
Konflik antara kelompok bersenjata Hezbollah dan Israel memasuki babak baru dengan meningkatnya penggunaan drone bunuh diri FPV (First Person View) di wilayah Lebanon selatan.
Eskalasi ini dinilai memperumit upaya diplomasi yang tengah berlangsung untuk meredakan ketegangan kawasan dan menghentikan perang yang lebih luas antara Iran dan Israel.
Dalam laporan Reuters, Hezbollah disebut semakin intensif menggunakan drone FPV murah yang mudah dirakit untuk menyerang posisi pasukan Israel di Lebanon selatan. Drone tersebut dikendalikan menggunakan kabel serat optik sehingga mampu menghindari teknologi pengacau sinyal milik Israel.
Kelompok yang didukung Iran itu mulai menggunakan taktik baru sejak mereka menembakkan serangan ke Israel pada 2 Maret, beberapa hari setelah pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada 16 April, Hezbollah telah mempublikasikan lebih dari 45 video serangan drone FPV. Sebanyak 28 di antaranya dilakukan setelah gencatan senjata berlaku. Serangan-serangan itu terutama menyasar pasukan Israel yang masih menempati zona penyangga hingga 10 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Sebelum gencatan senjata, video-video Hezbollah menunjukkan drone menyerang kendaraan militer dan posisi statis seperti tank serta alat berat. Namun setelah gencatan senjata, sasaran mulai bergeser ke kelompok tentara Israel secara langsung.
Menurut laporan Israel, sedikitnya tiga tentara dan satu kontraktor tewas akibat serangan drone Hezbollah pascagencatan senjata. Sebaliknya, Israel juga melancarkan serangan balasan menggunakan drone FPV terhadap anggota Hezbollah.
Penggunaan drone FPV dalam perang modern semakin berkembang sejak konflik Rusia-Ukrainian, terutama di medan perang Ukraina. Teknologi ini kini mulai diadaptasi Hezbollah untuk menghadapi keunggulan militer Israel.
Pakar perang drone dari Ukraina, Dmytro Putiata, menilai kemampuan operator drone Hezbollah masih berkembang.
"Mereka masih amatir, tetapi mereka terus belajar," ujarnya.
Menurut sumber Hezbollah dan pejabat keamanan asing, satu unit drone dasar dapat dirakit dengan biaya kurang dari US$ 400. Drone tersebut bahkan dapat dipasangi hulu ledak anti-tank Rusia tipe PG-7L sehingga berubah menjadi senjata presisi jarak jauh.
Komponen drone disebut berasal dari produk komersial yang diproduksi perusahaan-perusahaan China dan dijual bebas di marketplace daring global.
Meningkatnya perang drone ini menjadi tantangan baru bagi proses negosiasi damai di kawasan. Iran dan Pakistan menilai setiap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran harus mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon agar konflik regional tidak kembali meluas.
Di sisi lain, pembicaraan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan kembali berlangsung pekan ini. Namun progres negosiasi dinilai lambat karena Israel tetap menuntut pelucutan senjata Hezbollah.
Kepala hubungan media Hezbollah, Youssef el-Zein, mengatakan kelompoknya meyakini serangan drone yang terus menimbulkan korban di pihak Israel dapat memaksa penarikan pasukan Israel dari Lebanon lebih efektif dibanding negosiasi diplomatik.
"Kami mengetahui keunggulan musuh, tetapi kami juga mengetahui titik-titik kelemahan mereka," kata Zein.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengakui ancaman drone Hezbollah menjadi persoalan serius bagi keamanan Israel.
Ia mengatakan pemerintah Israel telah memerintahkan pembentukan proyek khusus untuk menghadapi ancaman drone tersebut, meski pengembangannya membutuhkan waktu.
Militer Israel melaporkan hampir setiap hari terjadi peluncuran drone peledak ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Radio Angkatan Darat Israel bahkan menyebut serangan itu telah melukai sekitar 40 tentara.
Menurut pejabat pertahanan Israel, drone FPV Hezbollah sulit dideteksi karena ukurannya kecil dan diterbangkan rendah mengikuti kontur wilayah Lebanon selatan yang dikuasai dengan baik oleh Hezbollah.
Israel kini mengembangkan berbagai sistem pertahanan baru, termasuk peningkatan radar, penggunaan sistem pertahanan rudal Iron Dome, hingga pengujian sistem pencegat drone terbaru.
Selain solusi teknologi tinggi, Israel juga mulai menerapkan langkah sederhana seperti pemasangan jaring pelindung dan modifikasi senjata infanteri untuk menjatuhkan drone.
Meski demikian, sejumlah analis menilai serangan drone Hezbollah sejauh ini lebih efektif sebagai alat propaganda psikologis dibanding menghasilkan dampak militer besar di lapangan.
Ekspor Minyak Saudi ke China Anjlok! Harga Minyak Dunia Berisiko Volatil
Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan turun tajam pada pengapalan Juni 2026. Kondisi ini menandakan gangguan pasokan energi global masih berlanjut di tengah konflik kawasan Timur Tengah dan terganggunya jalur pelayaran utama.
Berdasarkan informasi para pedagang yang dikutip Bloomberg (12/5), volume ekspor Arab Saudi ke China pada Juni hanya berkisar 13 juta hingga 14 juta barel. Angka tersebut merosot dibandingkan pengapalan Mei yang mencapai sekitar 20 juta barel.
Padahal, sebelum konflik Iran pecah, Arab Saudi umumnya menyalurkan sekitar 40 juta hingga 50 juta barel per bulan ke China, yang merupakan importir minyak mentah terbesar dunia.
Gangguan utama berasal dari tertutupnya sebagian besar jalur Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia. Situasi itu memaksa Arab Saudi memangkas total ekspor, meski sebagian pasokan dialihkan melalui terminal Yanbu di Laut Merah.
Para pedagang menyebut seluruh pengiriman minyak Arab Saudi ke China untuk muatan Juni akan dilakukan melalui terminal Yanbu. Langkah ini menunjukkan upaya kerajaan menjaga suplai ke pasar Asia di tengah hambatan logistik.
Selain kendala distribusi, tingginya harga jual resmi atau official selling price (OSP) juga menjadi faktor penurunan permintaan. Saudi Aramco menetapkan harga jual Juni di level yang dinilai lebih mahal dibanding harga spot minyak mentah Timur Tengah lainnya, seperti Murban crude dan Oman crude.
Dua kilang di Eropa bahkan dilaporkan tidak mengajukan permintaan pasokan kontrak dari Arab Saudi untuk Juni, sebagian karena tingginya harga tersebut.
Penurunan ekspor Arab Saudi ke China berpotensi menjadi sentimen baru bagi pasar energi global. Jika gangguan pasokan berlanjut, harga minyak dunia berisiko tetap volatil dalam beberapa waktu ke depan.
China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging
China dan Amerika Serikat berpeluang mencapai kesepakatan baru di sektor pertanian dalam pertemuan tingkat tinggi pekan ini. Namun, pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada lonjakan besar pembelian kedelai oleh Beijing di luar komitmen yang telah disepakati sebelumnya pada Oktober tahun lalu.
Sumber Reuters menyebutkan, kesepakatan tersebut kemungkinan akan memperluas pembelian China terhadap produk pertanian Amerika Serikat seperti biji-bijian dan daging. Meski demikian, arah akhir dari hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping masih belum pasti.
Sektor pertanian dinilai menjadi salah satu area hubungan bilateral yang relatif kurang sensitif dibanding isu teknologi maupun keamanan. Pemerintah AS disebut mendorong Beijing agar meningkatkan komitmen pembelian kedelai dan produk pertanian lainnya.
"Mereka tahu itu adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka tahu itu adalah sesuatu yang ingin kami jual. Jadi, apakah itu akan terjadi saat kunjungan ini atau tidak lama setelahnya, masih harus dilihat," ujar seorang pejabat senior AS kepada wartawan tanpa merinci produk yang dimaksud.
Dalam kunjungan tersebut, lebih dari selusin CEO dan eksekutif perusahaan besar AS dijadwalkan ikut mendampingi Trump. Salah satunya adalah Brian Sikes, Chairman perusahaan perdagangan gandum asal AS, Cargill.
Namun, para analis menilai ruang peningkatan impor kedelai AS oleh China cukup terbatas. Hal ini disebabkan lemahnya permintaan domestik China dan harga kedelai Brasil yang lebih kompetitif.
Sebagai gantinya, pasar menaruh harapan pada potensi kesepakatan baru untuk produk lain seperti jagung, sorgum, gandum giling, daging sapi, dan unggas. Pembahasan terkait produk-produk tersebut sebelumnya sempat muncul dalam pertemuan tingkat tinggi pada Maret lalu.
"Masih ada ruang untuk mencapai kesepakatan pembelian bagi ekspor utama AS lainnya. Bentuknya bisa berupa kesepakatan pembelian dalam volume tertentu untuk produk-produk utama seperti jagung dan sorgum," kata Direktur Konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing, Even Rogers Pay.
Pada 2024, sebelum Trump kembali menjabat sebagai presiden, China membeli produk jagung, sorgum, dan gandum dari AS senilai sekitar US$ 4,5 miliar. Nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibanding impor kedelai yang mencapai US$ 12 miliar.
Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti implementasi komitmen China untuk membeli 25 juta metrik ton kedelai AS per tahun hingga 2028. Volume tersebut akan menjadi yang terbesar sejak 2022.
"China belum pernah secara resmi mengonfirmasi rincian kesepakatan tersebut. Selain itu, juga belum jelas apakah target tersebut berlaku untuk tahun kalender atau tahun panen," ujar Pay.
China sendiri telah mengurangi ketergantungannya terhadap produk pertanian AS sejak perang dagang pada masa jabatan pertama Trump. Pada 2016, sekitar 41% impor kedelai China berasal dari AS. Namun pada 2024 porsinya turun menjadi sekitar 20%, dan tahun lalu hanya mencapai 15%.
Pelaku pasar kini menunggu kepastian hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping. Jika China kembali meningkatkan pembelian kedelai dari AS, harga kedelai di bursa Chicago berpotensi menguat lebih lanjut setelah saat ini berada di level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
"Ketika Presiden Trump dan Xi bertemu, kami akan sangat senang melihat adanya tambahan pembelian dari China yang dapat membawa kami lebih dekat ke tingkat ekspor normal dalam satu tahun biasa," ujar Direktur Government Affairs American Soybean Association, Virginia Houston.
Trump Dukung Pemangkasan Pajak BBM AS di Tengah Lonjakan Harga Akibat Perang Iran
Presiden Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap rencana pengurangan pajak federal bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat setelah harga energi melonjak tajam akibat konflik perang dengan Iran.
Dalam keterangannya pada Senin (11/5/2026), Trump mengatakan dirinya mendukung pemangkasan pajak bensin federal sebesar 18,4 sen per galon guna meringankan beban masyarakat Amerika yang terdampak kenaikan harga BBM.
“Ya, saya akan menurunkannya,” ujar Trump kepada wartawan saat ditanya mengenai kemungkinan penghentian sementara pajak tersebut.
Ketika ditanya berapa lama kebijakan itu akan berlaku, Trump menjawab di Oval Office, “sampai waktunya dirasa tepat.”
Namun demikian, penghentian sementara pajak BBM federal tetap memerlukan persetujuan Kongres AS yang saat ini dikuasai Partai Republik, partai yang juga menaungi Trump.
Senator Republik dari Missouri, Josh Hawley, pada hari yang sama mengatakan dirinya akan mengajukan rancangan undang-undang untuk menangguhkan pajak bensin dan pajak solar sebesar 24,4 sen per galon selama 90 hari.
Harga BBM di Amerika Serikat terus meningkat sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Situasi memburuk setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Menurut data AAA motor club, harga rata-rata bensin di AS mencapai US$ 4,52 per galon pada Senin, tertinggi sejak 2022 ketika harga sempat menyentuh US$ 5,01 per galon.
Meski demikian, Pemimpin Mayoritas Senat AS, John Thune, belum memberikan dukungan penuh terhadap wacana pembekuan pajak BBM. Ia menilai cara terbaik untuk menurunkan harga energi adalah dengan membuka kembali Selat Hormuz agar distribusi minyak global kembali lancar.
“Kita akan melihat bagaimana sikap anggota kami,” kata Thune.
Sebelumnya pada Maret lalu, sejumlah senator Partai Demokrat, termasuk Senator Arizona Mark Kelly, juga pernah mengusulkan penghentian sementara pajak BBM hingga Oktober. Pajak tersebut diketahui menghasilkan sekitar US$ 2,5 miliar per bulan untuk pendanaan perbaikan jalan di AS.
Sejak 2008, lebih dari US$ 275 miliar telah dialihkan dari dana umum pemerintah federal untuk mendukung perbaikan infrastruktur jalan, termasuk US$ 118 miliar dari undang-undang infrastruktur tahun 2021.
Selain membahas pajak BBM, Trump juga menyinggung kondisi industri penerbangan AS yang tengah tertekan akibat lonjakan harga bahan bakar jet. Kepada CBS, Trump mengatakan pemerintah belum benar-benar menerima proposal bailout maskapai.
Sebelumnya, maskapai berbiaya rendah di AS meminta bantuan senilai US$ 2,5 miliar. Bahkan, Spirit Airlines menghentikan operasionalnya pada 2 Mei lalu dengan alasan tingginya harga bahan bakar membuat rencana restrukturisasi perusahaan sulit dijalankan.
Sejumlah negara bagian di AS seperti Indiana, Kentucky, dan Georgia juga mulai memangkas pajak BBM lokal guna membantu konsumen menghadapi kenaikan harga di SPBU.
Lonjakan biaya energi kini menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS pada November mendatang. Kenaikan harga BBM juga diperkirakan mendorong inflasi barang kebutuhan lain seperti bahan pangan dan logistik.
Trump mengakui bahwa pajak BBM hanya menyumbang sebagian kecil dari total harga bensin yang dibayar konsumen. Meski begitu, menurutnya, pengurangan pajak tetap akan membantu masyarakat.
Pemerintahan Trump sebelumnya juga telah mengambil sejumlah langkah untuk menstabilkan harga energi, termasuk meminjamkan minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve serta melonggarkan aturan pengiriman domestik melalui kebijakan Jones Act agar distribusi minyak, bahan bakar, dan pupuk di AS lebih mudah dilakukan.
Presiden Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai penghentian pajak BBM kemungkinan tidak akan memberi dampak signifikan jika konflik di Timur Tengah terus menghambat distribusi energi global.
“Jika pajak bensin federal dihentikan sementara tetapi Selat Hormuz tetap ditutup, konsumen hampir tidak akan merasakan dampaknya karena harga BBM di SPBU akan terus meningkat,” ujar McNally.
Yuan China Dekati Level Tertinggi Tiga Tahun Jelang Pertemuan Donald Trump - XiJinping
Mata uang China, yuan, bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5), menjelang pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini.
Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan, teknologi, Taiwan, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Melansir Reuters, kunjungan tersebut juga menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam hampir satu dekade terakhir.
Pelaku pasar menilai sentimen terhadap yuan masih akan positif selama berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Hal itu terjadi setelah nilai tukar yuan di pasar domestik berhasil menembus level psikologis 6,80 per dolar AS dan mencapai posisi tertinggi dalam tiga tahun pada perdagangan sebelumnya.
Secara bulanan, yuan telah menguat sekitar 0,5% terhadap dolar AS. Sementara sejak awal tahun 2026, penguatan mata uang China tersebut telah mencapai sekitar 3%.
Pada perdagangan Selasa pagi, yuan domestik dibuka di level 6,7972 per dolar AS dan terakhir diperdagangkan di posisi 6,7932 per dolar AS.
Strategis UBS menilai ekspektasi pasar yang relatif rendah terhadap hasil pertemuan Trump-Xi justru membuka peluang munculnya kejutan positif apabila kedua negara menunjukkan komitmen membangun kerangka dialog yang lebih stabil dan berkelanjutan.
“Kami tetap konstruktif terhadap yuan offshore,” tulis UBS dalam catatannya.
Yuan offshore sendiri diperdagangkan di level 6,7918 per dolar AS pada perdagangan Asia, menguat tipis sekitar 0,01%.
Sementara itu, analis Goldman Sachs menilai penguatan yuan tidak hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek dari pertemuan Trump-Xi, tetapi juga ditopang faktor fundamental yang lebih kuat.
Menurut Goldman Sachs, surplus eksternal China kini mendekati level tertinggi sepanjang sejarah dibandingkan produk domestik bruto (PDB) global.
Kondisi tersebut mencerminkan daya saing ekspor China yang masih sangat kuat dan nilai tukar yuan yang dinilai masih undervalued.
Sebelum pasar dibuka, bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah yuan di level 6,8426 per dolar AS, menjadi level terkuat sejak Maret 2023.
Di China, yuan diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% di atas atau di bawah kurs tengah harian yang ditetapkan bank sentral.
PBOC juga menegaskan akan tetap menjalankan kebijakan moneter yang longgar secara terukur guna mendukung permintaan domestik dan inovasi teknologi.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stabil di dekat level 98 pada perdagangan Asia pagi ini.
Trump Boyong Bos-Bos Perusahaan Raksasa AS ke China, Siapa Saja?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan membawa sejumlah petinggi perusahaan besar AS dalam kunjungan ke China pekan ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dagang dan investasi antara dua ekonomi terbesar dunia di tengah meredanya ketegangan perang dagang.
Berdasarkan laporan Reuters, rombongan pelaku usaha yang ikut dalam lawatan tersebut antara lain CEO Apple Tim Cook, CEO GE Aerospace Larry Culp, serta CEO Boeing Kelly Ortberg.
Selain itu, turut hadir sejumlah eksekutif perusahaan besar lainnya seperti Dina Powell McCormick dari Meta, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Michael Miebach dari Mastercard, Cristiano Amon dari Qualcomm, serta Ryan McInerney dari Visa.
CEO Cisco Chuck Robbins juga sempat diundang Gedung Putih, namun batal hadir karena perusahaan dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini.
Dalam kunjungan tersebut, AS dan China diperkirakan akan menyepakati pembentukan forum untuk mempermudah kerja sama perdagangan dan investasi bilateral. China juga disebut berpotensi mengumumkan pembelian produk-produk asal AS, termasuk pesawat Boeing, produk pertanian, dan energi.
Pengumuman kesepakatan bisnis berskala besar memang kerap dilakukan dalam pertemuan tingkat tinggi antara Washington dan Beijing sebagai simbol membaiknya hubungan ekonomi kedua negara.
Rombongan pebisnis lain yang ikut dalam perjalanan ini mencakup Brian Sikes dari Cargill, Jim Anderson dari Coherent, serta Jacob Thaysen dari Illumina.
Selain isu perdagangan, kedua negara juga akan membahas kemungkinan memperpanjang gencatan sementara perang dagang yang selama ini memungkinkan aliran mineral tanah jarang dari China ke AS tetap berjalan.
Pembahasan mengenai rare earth menjadi penting mengingat China merupakan pemasok utama mineral strategis tersebut yang dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan global.
CEO Boeing Kelly Ortberg sebelumnya mengatakan bahwa perusahaan berharap pemerintahan Trump dapat membantu membuka jalan bagi pesanan besar dari China yang telah lama tertunda.
Sumber industri menyebutkan, China dan Boeing tengah membahas potensi kesepakatan pembelian sekitar 500 unit pesawat 737 MAX serta puluhan pesawat berbadan lebar yang menggunakan mesin dari GE Aerospace.
Jika terealisasi, kesepakatan tersebut akan menjadi pesanan besar pertama China kepada Boeing sejak 2017 dan berpotensi menjadi salah satu transaksi pesawat terbesar dalam sejarah.
Sementara itu, CEO Nvidia Jensen Huang dipastikan tidak ikut dalam lawatan Trump ke Beijing. Sumber Reuters menyebut Huang tidak mendapat undangan karena fokus utama kunjungan saat ini lebih diarahkan pada sektor pertanian dan penerbangan komersial.
Meski demikian, hubungan Trump dengan Huang disebut cukup erat. Pemerintah AS bahkan telah menyetujui ekspor chip AI H200 Nvidia ke China. Namun, hingga kini penjualan chip tersebut masih terkendala proses perizinan dari pemerintah China.
Pertemuan terakhir Trump dengan Presiden China Xi Jinping berlangsung di Korea Selatan pada Oktober lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat menunda eskalasi perang dagang yang sebelumnya ditandai tarif tinggi AS terhadap barang China serta ancaman pembatasan ekspor rare earth oleh Beijing.
Ancaman Siber AI Makin Ganas, BaFin Peringatkan Bank!
Otoritas pengawas keuangan Jerman, BaFin, memperingatkan meningkatnya ancaman siber terhadap industri perbankan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Regulator menilai teknologi AI terbaru dapat memperbesar risiko serangan digital terhadap lembaga keuangan.
Dalam pernyataan pada Selasa (12/5) yang dilaporan Reuters, Presiden BaFin Mark Branson mengatakan, model AI generasi baru mampu menemukan celah keamanan pada sistem teknologi informasi lama maupun baru dengan sangat cepat. Kondisi ini dinilai berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyerang sektor keuangan.
“Model AI baru dapat mengidentifikasi banyak kerentanan pada sistem TI baru dan lama dengan kecepatan luar biasa,” ujar Branson, dikutip Reuters (12/5).
Ia menambahkan, celah keamanan yang ditemukan AI tersebut juga bisa dieksploitasi dalam waktu semakin singkat. Karena itu, industri keuangan dinilai perlu segera memperkuat sistem perlindungan digital.
BaFin menyebut, investasi pada keamanan siber kini menjadi kebutuhan mendesak dan tidak bisa ditunda. Menurut regulator, sektor keuangan memiliki kapasitas untuk meningkatkan perlindungan sistem di tengah ancaman yang terus berkembang.
Peringatan ini muncul setelah hadirnya Mythos, model AI buatan Anthropic, yang disebut memicu perlombaan di kalangan bank global untuk mengakses dan menguji teknologi tersebut. Regulator di berbagai negara juga mulai menelaah dampak AI baru terhadap keamanan sistem perbankan.
Sejumlah pakar keamanan siber menilai Mythos membawa tantangan besar bagi bank, terutama yang masih mengandalkan sistem teknologi lama atau legacy system.
Untuk memperkuat pengawasan, BaFin mengumumkan pembentukan divisi baru yang akan melakukan inspeksi terarah ke perusahaan jasa keuangan. Pemeriksaan ini difokuskan pada kesiapan teknologi informasi dan ketahanan siber.
Menurut Branson, model inspeksi baru itu akan berlangsung lebih singkat dibanding audit menyeluruh sehingga regulator dapat menjangkau lebih banyak institusi dan merespons insiden secara lebih cepat.
Pebisnis AS Temui Xi Jinping, dari Tesla hingga BlackRock Bawa Agenda Investasi
Sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat akan mendampingi Presiden Donald Trump dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini. Delegasi bisnis tersebut didominasi perusahaan yang ingin menyelesaikan berbagai hambatan usaha di ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Menurut pejabat Gedung Putih pada Senin (11/5/2026), lebih dari selusin CEO dan eksekutif senior akan ikut dalam kunjungan Trump ke China pada 14-15 Mei. Delegasi tersebut mencakup perusahaan seperti Tesla, BlackRock, Illumina, Mastercard, dan Visa.
Berbeda dengan kunjungan Trump ke China pada 2017 yang dipenuhi seremoni dan kesepakatan dagang besar, delegasi kali ini lebih difokuskan pada penyelesaian agenda bisnis jangka panjang perusahaan-perusahaan AS di China.
Reva Goujon, ahli strategi geopolitik dari Rhodium Group, mengatakan sebagian besar perusahaan hadir untuk menyampaikan tuntutan terkait pasokan bahan baku penting.
“Selain Boeing dan Cargill yang terkait dengan potensi kesepakatan pembelian, perusahaan lainnya terutama hadir untuk menyampaikan tuntutan terkait pasokan input strategis,” ujarnya.
Menurut sumber yang mengetahui persiapan pertemuan tersebut, perusahaan-perusahaan AS berharap pertemuan tingkat tinggi ini dapat membuka jalan bagi persetujuan regulasi, akses pasar, hingga peluang investasi baru di China.
Meta Platforms disebut tengah menghadapi tekanan setelah otoritas China bulan lalu memerintahkan pembatalan akuisisi startup kecerdasan buatan Manus senilai lebih dari US$ 2 miliar. Beijing kini memperketat pengawasan terhadap investasi AS di sektor teknologi maju domestik.
Sementara itu, Tesla menghadapi ancaman pembatasan ekspor peralatan manufaktur panel surya dari China ke Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dapat menghambat rencana Tesla membangun atau memperluas fasilitas produksi panel surya di AS.
Pada Maret lalu, Reuters melaporkan Tesla berencana membeli peralatan produksi panel surya senilai US$ 2,9 miliar dari pemasok China, termasuk Suzhou Maxwell Technologies, yang masih menunggu izin ekspor dari Kementerian Perdagangan China.
Selain itu, Tesla juga sedang mengupayakan persetujuan regulator China untuk memperluas penggunaan sistem bantuan mengemudi Full Self-Driving (FSD) di pasar otomotif terbesar dunia tersebut.
CEO Tesla, Elon Musk, sebelumnya mengakui adanya tantangan akibat pembatasan teknologi dari pemerintah AS maupun China. Namun, Musk optimistis persetujuan untuk FSD dapat diperoleh tahun ini.
CEO BlackRock, Larry Fink, juga hadir di Beijing di tengah sorotan terhadap rencana akuisisi pelabuhan senilai US$ 23 miliar yang dipimpin perusahaan tersebut. Akuisisi itu mencakup dua pelabuhan di dekat Terusan Panama milik konglomerasi Hong Kong CK Hutchison.
Beijing mengkritik transaksi tersebut di tengah dorongan Washington untuk mengurangi pengaruh China atas jalur pelayaran strategis itu.
Dari sektor keuangan, CEO Citigroup Jane Fraser dan CEO Goldman Sachs David Solomon juga ikut dalam rombongan. Perusahaan Wall Street terus berupaya memperluas akses mereka ke pasar modal China.
Citigroup saat ini masih menunggu persetujuan lisensi perusahaan sekuritas yang sepenuhnya dimiliki sendiri di China, setelah sebelumnya keluar dari usaha patungan lokal.
Mastercard dan Visa juga berharap pertemuan Trump-Xi dapat membantu memperkuat posisi mereka di pasar pembayaran China yang sangat ketat regulasinya.
Mastercard pada 2023 menjadi jaringan pembayaran asing pertama yang memperoleh izin memproses transaksi kartu domestik berdenominasi yuan melalui usaha patungan dengan perusahaan lokal NetsUnion.
Sementara Visa masih berupaya memperoleh izin bisnis pemrosesan kartu domestik di China, bahkan berharap dapat memiliki 100% kepemilikan dalam lisensi usaha patungan di masa depan.
Selain sektor teknologi dan keuangan, China dan AS juga berpotensi mencapai kesepakatan pertanian dalam pertemuan tersebut. Kesepakatan itu diperkirakan mencakup peningkatan pembelian gandum dan daging oleh Beijing.
Namun, pelaku pasar menilai kecil kemungkinan China akan melakukan pembelian besar baru untuk kedelai di luar kesepakatan yang telah dicapai pada Oktober tahun lalu.