News Komoditi & Global ( Jumat, 1 Mei 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Jum’at,   1 Mei  2026  )

Harga Emas Global Naik di Tengah Aliran Safe-Haven

 

 

 

Harga emas (XAU/USD) naik tipis mendekati $4.630 selama awal sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini melanjutkan rally karena ketegangan yang diperbarui di Timur Tengah telah mendorong para pedagang kembali ke aset safe-haven.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran di tengah kekhawatiran bahwa Selat Hormuz yang vital tidak akan dibuka kembali dalam waktu dekat, menurut Bloomberg. "Ekonomi mereka sedang runtuh, blokade ini luar biasa," kata Trump. "Ekonomi mereka adalah bencana. Jadi kita lihat berapa lama mereka bertahan."

Sebelumnya pada hari Kamis, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa dia menganggap blokade angkatan laut AS sebagai "perpanjangan operasi militer" dan itu "tidak dapat ditoleransi."

Namun, ketegangan yang berkelanjutan antara AS dan Iran serta penutupan Selat Hormuz dapat memicu kekhawatiran inflasi dan menaikkan ambang batas untuk pemotongan suku bunga. Hal ini, pada gilirannya, dapat membebani logam kuning tersebut. Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Federal Reserve AS (The Fed) pada hari Rabu mempertahankan suku bunga kebijakan utamanya tetap stabil, sesuai dengan yang diperkirakan secara luas. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan prospek ekonomi tetap sangat tidak pasti dan konflik di Timur Tengah telah berkontribusi pada ketidakpastian tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Menguat: S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar

 

Wall Street kembali ditutup menguat dengan indeks S&P 500 serta Nasdaq mencatatkan kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa tahun sebagai kinerja yang solid. Laporan laba perusahaan mengimbangi guncangan pasokan minyak terkait perang yang telah mengguncang pasar dan mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi empat tahun.

Kamis (30/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 790,33 poin atau 1,62% menjadi 49.652,14, indeks S&P 500 menguat 73,05 poin atau 1,02% ke 7.209,00 dan indeks Nasdaq Composite menguat 219,07 poin atau 0,89% ke 24.892,31.

Dari 11 sektor utama di indeks S&P 500, hanya sektor teknologi yang berakhir dengan penurunan, sementara sektor jasa komunikasi dan industri memimpin kenaikan.

Pada sesi ini, harga minyak mereda dan data ekonomi menunjukkan ekonomi AS terus tumbuh dengan kecepatan yang sehat, membantu investor mengabaikan ketegangan geopolitik dan menutup bulan dengan kenaikan yang solid.

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan persentase bulanan terbesar sejak November 2020, sementara kenaikan bulanan Nasdaq adalah yang terbesar sejak April 2020. Penguatan bulanan pada indeks Dow juga jadi yang terbesar sejak November 2024.

Reli tersebut mendapatkan momentum sepanjang sesi, mendorong ketiga indeks saham utama AS naik tajam.

"Banyak data ekonomi yang meredakan kekhawatiran investor," kata Paul Nolte, penasihat kekayaan senior & ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest di Elmhurst, Illinois. "Selain itu, ada beberapa pendapatan yang cukup bagus dari banyak perusahaan berbeda, dan kita melihat hal itu meluas hari ini."

"Sampai kita melihat beberapa perubahan pada dinamika pasar, serta ekonomi, momentumnya berada di sisi bullish," tambah Nolte.

Sektor industri, yang didorong oleh saham Caterpillar, menempatkan Dow di depan. Sementara, sektor teknologi membatasi kenaikan Nasdaq setelah serangkaian hasil kuartalan penting yang dirilis Rabu malam.

Empat anggota kelompok Magnificent Seven yang terdiri dari perusahaan-perusahaan raksasa terkait kecerdasan buatan melaporkan hasil keuangan mereka pada Rabu malam: Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft.

Alphabet melonjak 10,0% setelah melaporkan kuartal rekor untuk unit cloud-nya, dan Amazon naik 0,8%. Sedangkan saham Meta dan Microsoft masing-masing merosot 8,7% dan 3,9%, karena kekhawatiran atas pengeluaran terkait kecerdasan buatan.

"Pengeluaran terus berjalan dengan cepat," kata Nolte. "Mereka masih melihat pertumbuhan yang sangat kuat dan beberapa mulai melaporkan pengembalian investasi, yang merupakan hal baru."

Apple, anggota Magnificent Seven lainnya, dijadwalkan akan segera melaporkan hasilnya.

Sejumlah data ekonomi menunjukkan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,0% dalam tiga bulan pertama tahun 2026, dengan klaim pengangguran awal turun ke level terendah sejak 1969 dan harga energi yang melonjak membuat inflasi tahunan tetap di atas 3%, menggagalkan harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat dari Federal Reserve seiring berakhirnya masa jabatan delapan tahun Jerome Powell sebagai ketua.

Pada hari Rabu, dalam pemungutan suara yang paling terpecah sejak 1992, bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya, sambil mengakui ketidakpastian terkait kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.

Konflik tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan Iran memperingatkan pembalasan jika Amerika Serikat meninggalkan gencatan senjata dan memperbarui serangannya, menunjukkan bahwa upaya untuk menegosiasikan kesepakatan perdamaian telah menemui jalan buntu.

Para pemimpin militer AS diperkirakan akan memberi pengarahan kepada Presiden Donald Trump tentang potensi aksi militer di Iran, kata seorang pejabat AS kepada Reuters.

Kemungkinan perang yang berkepanjangan, gangguan lalu lintas jangka panjang di Selat Hormuz, dan tekanan yang berkepanjangan pada harga energi telah meredam harapan akan pelonggaran kebijakan jangka pendek dari para pembuat kebijakan moneter.

Pada sesi ini, saham Eli Lilly naik 9,8% setelah perusahaan farmasi tersebut menaikkan perkiraan laba tahunannya karena permintaan obat penurun berat badan yang berkelanjutan.

Saham Caterpillar juga melonjak 9,9%, mencapai rekor tertinggi setelah perusahaan melaporkan kenaikan laba kuartal pertama karena permintaan yang kuat untuk pembangkit listrik dan peralatan konstruksinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bank of Japan Memperkirakan Inflasi di Kisaran 3%, Terdorong Kenaikan Harga Minyak


 

Bank Sentral Jepang memperkirakan inflasi inti akan berada di sekitar 3%, jauh di atas target 2%, selama dua tahun berturut-turut dalam skenario risiko yang dirilis pada hari Kamis (30/4/2026). Inflasi ini dihitung dengan asumsi harga minyak yang tinggi dan yen yang melemah.

Mengutip Reuters, berdasarkan skenario dasar yang dirilis oleh dewan pada hari Selasa, BOJ menyatakan bahwa mereka memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) inti akan naik 2,8% pada tahun fiskal berjalan yang berakhir pada Maret 2027 dan sebesar 2,3% pada tahun berikutnya.

Bank sentral merilis skenario risiko pada hari Kamis berdasarkan asumsi bahwa harga minyak mentah tetap berada di sekitar US$ 105 per barel hingga akhir tahun, yen melemah 10% dari level saat ini, dan harga saham turun 20%.

Dalam skenario risiko, inflasi inti akan mencapai 3,1% pada tahun fiskal 2026 dan 3,0% pada tahun 2027 sebelum melambat menjadi 2,3% pada tahun 2028, kata BOJ dalam versi lengkap laporan prospek triwulanan.

"Yang perlu diperhatikan adalah kenaikan sekitar 3% diperkirakan terjadi selama dua tahun berturut-turut pada tahun fiskal 2026 dan 2027," kata laporan tersebut.

"Penyimpangan ke atas dalam CPI ini dapat menjadi faktor yang mendorong ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang," katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Dilaporkan Kaji Opsi Serangan Besar-besaran, Kuasai Selat Hormuz, dan Curi Uranium Iran

 

 

Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan menerima penjelasan pada Kamis (30/4/2026) tentang rencana baru terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Mengutip sejumlah sumber, Axios melaporkan bahwa paparan dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper itu menunjukkan Trump tengah mempertimbangkan secara serius untuk kembali melancarkan operasi tempur besar-besaran.

Langkah itu disebut sebagai upaya memecah kebuntuan negosiasi atau memberikan tekanan terakhir kepada Iran sebelum mengakhiri konflik.

Menurut laporan tersebut, CENTCOM telah menyusun rencana serangan "singkat tetapi intens" dengan kemungkinan menargetkan infrastruktur Iran guna mendorong negara itu kembali ke meja perundingan dengan sikap lebih fleksibel, khususnya terkait isu nuklir.

Opsi lain yang akan dipresentasikan mencakup kemungkinan menguasai sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran komersial, meski langkah tersebut berpotensi melibatkan pasukan darat. Selain itu, rencana lain yang sebelumnya pernah dibahas adalah operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.

Dalam wawancara dengan Axios pada Rabu, Trump menyatakan bahwa blokade laut terhadap Iran "sedikit lebih efektif dibandingkan pengeboman" dan dianggap sebagai alat penekan yang utama. Namun, laporan itu menyebutkan Trump tetap membuka kemungkinan aksi militer jika Iran tidak menunjukkan sikap kompromi.

Para perencana militer AS juga mengantisipasi kemungkinan aksi balasan dari Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah sebagai respons atas blokade tersebut. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dilaporkan akan ikut menghadiri paparan tersebut.

Penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran mengatakan pada Kamis (30/4/2026) bahwa blokade pelabuhan Iran oleh AS “akan gagal,” seraya memperingatkan Teheran dapat memilih konfrontasi jika langkah itu terus berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis dini hari, Mohsen Rezaei menyebut Iran memiliki berbagai cara untuk menembus blokade tersebut, dan menegaskan upaya penerapan blokade itu tidak akan berhasil.

Ia menambahkan, jika blokade berlanjut, Iran mungkin akan menggunakan konfrontasi untuk mematahkannya. Rezaei juga menguraikan kemungkinan skenario jika terjadi perang lain, menurutnya akan berfokus pada wilayah pesisir selatan, meluas hingga ke arah Isfahan, serta mencakup beberapa aktivitas di wilayah barat negara itu.

Ia memperingatkan konflik semacam itu dapat mencakup pengeboman dan pembunuhan di Teheran.

AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan serangan ke Israel dan negara-negara lain di kawasan yang menampung aset AS. Serangan udara AS-Israel menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan.

Meski awalnya dijadwalkan berakhir pada 22 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas pada 21 April atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

 

Tak Terima Dikritik Kanselir Merz, Trump Tarik Pasukan AS di Jerman

 

 

Presiden AS mengatakan pemerintahannya sedang .mempelajari dan meninjau kemungkinan pengurangan pasukan di Jerman. Pernyataan itu muncul ketika ketegangan meningkat dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai perang terhadap Iran.

“Sebuah tekad” akan “dibuat dalam waktu singkat ke depan”, kata Trump dalam sebuah postingan di platform Truth Social miliknya.

Trump juga berulang kali mengkritik Jerman dan sekutu NATO lainnya karena tidak berbuat lebih banyak untuk mendukung perang AS-Israel terhadap Iran, termasuk karena gagal mengerahkan angkatan laut mereka untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

Jerman adalah salah satu stasiun luar negeri terbesar bagi tentara AS, dengan sekitar 33.900 tentara ditempatkan di sana.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan pada Senin bahwa kepemimpinan Iran mempermalukan Amerika Serikat. Iran membuat para pejabat AS melakukan perjalanan ke Pakistan dan kemudian pergi tanpa hasil.  Merz juga tidak melihat strategi keluar apa yang dikejar AS dalam perang Iran.

"Jelas sekali Iran sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun," katanya saat berbicara kepada mahasiswa di kota Marsberg seperti dilansir NDTV, Senin.

"Seluruh bangsa dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusioner ini. Dan karena itu saya berharap ini berakhir secepat mungkin," tambahnya di tempat tersebut di negara bagian Rhine Utara-Westphalia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penasihat Mojtaba Ingatkan AS, Iran Bisa Memilih Jalan Perang Jika Blokade Terus Berlanjut

 

 

Penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran mengatakan pada Kamis (30/4/2026) bahwa blokade pelabuhan Iran oleh AS “akan gagal,” seraya memperingatkan Teheran dapat memilih konfrontasi jika langkah itu terus berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis dini hari, Mohsen Rezaei menyebut Iran memiliki berbagai cara untuk menembus blokade tersebut, dan menegaskan upaya penerapan blokade itu tidak akan berhasil.

Ia menambahkan, jika blokade berlanjut, Iran mungkin akan menggunakan konfrontasi untuk mematahkannya. Rezaei juga menguraikan kemungkinan skenario jika terjadi perang lain, menurutnya akan berfokus pada wilayah pesisir selatan, meluas hingga ke arah Isfahan, serta mencakup beberapa aktivitas di wilayah barat negara itu.

Ia memperingatkan konflik semacam itu dapat mencakup pengeboman dan pembunuhan di Teheran.

AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan serangan ke Israel dan negara-negara lain di kawasan yang menampung aset AS. Serangan udara AS-Israel menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan.

Meski awalnya dijadwalkan berakhir pada 22 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas pada 21 April atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan berupaya membangun koalisi internasional baru untuk memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz. Di mana, lalu lintas di perairan tersebut terhenti di tengah kebuntuan perundingan yang sedang berlangsung dengan Iran.

Seperti dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip dokumen diplomatik internal milik Departemen Luar Negeri (Deplu) AS yang dikirimkan ke seluruh kedutaan besar (kedubes) AS, Washington meminta para diplomatnya untuk mendesak pemerintah negara tempat mereka ditugaskan agar bersedia bergabung dengan aliansi baru, yang disebut Maritime Freedom Construct atau Konstruksi Kebebasan Maritim. Koalisi tersebut akan mengoordinasikan pertukaran informasi, mengupayakan langkah diplomatik, serta memberlakukan sanksi untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Partisipasi Anda akan memperkuat kemampuan kolektif kami untuk memulihkan kebebasan navigasi dan melindungi ekonomi global," demikian bunyi dokumen tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS telah mengkonfirmasi proposal tersebut, yang dinyatakan sebagai salah satu dari banyak sumber diplomatik dan kebijakan yang dimiliki presiden, tambah laporan itu. Inisiatif itu muncul beberapa pekan setelah Presiden Donald Trump menyatakan Selat Hormuz telah buka sepenuhnya dan siap untuk perdagangan, tetapi sebagian besar lalu lintas kapal tetap terhenti.

Selain itu, Iran dilaporkan telah berupaya memasang ranjau dan menyerang kapal tanker yang melintasi jalur air tersebut tanpa persetujuan Teheran, sementara AS memblokade semua kapal yang menuju atau berangkat dari pelabuhan Iran.

 

AS Kembali Bersiap Serang Iran

 

 

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan mengenai rencana baru mengenai potensi aksi militer di Iran pada hari Kamis dari pemimpin Komando Pusat AS, Laksamana Bradley Cooper, lapor Axios, juga pada Kamis.

Tiga sumber yang tidak disebutkan namanya yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada outlet tersebut bahwa CENTCOM telah menyusun rencana untuk serangkaian serangan “pendek dan kuat

Gedung Putih dan Komando Pusat AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Israel dan Amerika melancarkan kampanye mereka melawan Iran pada 28 Februari dalam upaya untuk menggoyahkan rezim tersebut dan menghancurkan kapasitas nuklir dan rudal balistiknya. Iran membalasnya dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS.

Gencatan senjata yang rapuh telah dicapai tiga minggu lalu, namun kedua belah pihak masih berbeda pendapat, dan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik terhenti.

Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran. Pakar hukum internasional mengatakan serangan semacam itu mungkin merupakan kejahatan perang. Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang perilaku kemanusiaan dalam perang melarang serangan terhadap lokasi yang dianggap penting bagi warga sipil.

Salah satu sumber mengatakan opsi lain yang disiapkan termasuk pengambilalihan sebagian Selat Hormuz untuk dibuka kembali bagi pelayaran komersial, dalam operasi yang mungkin melibatkan pasukan darat.

Perang Iran, yang masih tidak populer di AS, telah mengguncang pasar dan menaikkan harga minyak. Iran telah memblokade Selat Hormuz, yang merupakan titik penghubung (chokepoint) bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global, sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Sebagai tanggapan, AS mencoba menekan ekspor minyak Iran dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Washington berniat membuat Iran lebih fleksibel di meja perundingan mengenai masalah nuklir, Axios melaporkan. Opsi lain yang mungkin muncul dalam pengarahan tersebut adalah operasi pasukan khusus untuk mengambil persediaan uranium Iran yang telah diperkaya, kata Axios.

Mayoritas uranium Iran yang telah diperkaya kemungkinan besar masih terkubur di kompleks nuklir Isfahan, yang dibombardir oleh serangan udara tahun lalu dan menghadapi serangan lebih lanjut namun tidak terlalu intens dalam perang tahun ini, kata kepala badan nuklir PBB kepada The Associated Press pada hari Rabu.

Trump menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman yang akan segera terjadi. Teheran, menyangkal berusaha membuat senjata nuklir, namun mengatakan bahwa mereka mempunyai hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pengayaan, sebagai pihak dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga diperkirakan akan menghadiri pengarahan pada hari Kamis, Axios melaporkan.

Dua sumber mengatakan bahwa Trump memandang blokade AS terhadap pelabuhan Iran sebagai metode utama untuk menekan Iran dalam negosiasi, namun akan menggunakan kekuatan militer jika Teheran tidak menyerah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada hari Kamis bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan memperdalam gangguan di Teluk dan gagal mencapai targetnya.

“Setiap upaya untuk menerapkan blokade atau pembatasan maritim bertentangan dengan hukum internasional… dan pasti akan gagal,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan bahwa tindakan seperti itu “tidak hanya akan gagal meningkatkan keamanan regional, namun pada kenyataannya akan menjadi sumber ketegangan dan gangguan terhadap stabilitas abadi di Teluk Persia.”

Sementara itu, pemerintahan Trump sedang mencari partisipasi negara-negara lain untuk membentuk koalisi internasional guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, menurut kabel Departemen Luar Negeri yang dilihat oleh Reuters.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyetujui pembentukan Maritime Freedom Construct (MFC), menurut kabel tertanggal 28 April, yang digambarkan sebagai inisiatif bersama antara Departemen Luar Negeri dan Pentagon.

"MFC merupakan langkah pertama yang penting dalam pembentukan arsitektur keamanan maritim pasca-konflik di Timur Tengah. Kerangka kerja ini penting untuk memastikan keamanan energi jangka panjang, melindungi infrastruktur maritim yang penting, dan menjaga hak dan kebebasan navigasi di jalur laut yang penting," kata kabel tersebut.

Komponen dari inisiatif yang dipimpin oleh Departemen Luar Negeri ini akan berfungsi sebagai pusat diplomatik antara negara-negara mitra dan industri pelayaran, sementara komponen Pentagon yang beroperasi di kantor pusat CENTCOM di Florida akan mengoordinasikan lalu lintas maritim secara real-time dan berkomunikasi langsung dengan kapal-kapal yang transit di selat tersebut, kata kabel tersebut. Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal pada Rabu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Kuasai 74,9 Persen Pasar Kendaraan Listrik di Israel

 

 

Kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China mendominasi pasar Israel. Hingga akhir 2025, kendaraan asal China tercatat menyumbang sekitar 74,9 persen dari seluruh EV yang beroperasi di jalan raya negara tersebut.

Data ini terungkap dalam laporan tahunan “Kendaraan Bermotor di Israel 2025” yang dirilis oleh Biro Statistik Pusat Israel pada Rabu. Dalam laporan itu, China unggul jauh dibandingkan negara lain, diikuti Jerman dengan pangsa 9,5 persen dan Korea Selatan sebesar 7,5 persen.

Dominasi tersebut juga tercermin dalam tren keseluruhan kendaraan. Pangsa kendaraan buatan China dari semua jenis, baik berbahan bakar, hibrida, maupun listrik, melonjak signifikan dari 4,1 persen pada 2024 menjadi 6,2 persen pada 2025. Bahkan, pada 2021, kontribusi kendaraan China di Israel masih berada di level 0,8 persen.

Kenaikan pesat ini menunjukkan meningkatnya daya tarik kendaraan asal China di pasar Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek otomotif China bahkan memimpin penjualan kendaraan baru di negara tersebut, sebagaimana dicatat oleh Asosiasi Importir Kendaraan Israel.

Secara keseluruhan, jumlah kendaraan bermotor di Israel mencapai hampir 4,35 juta unit pada akhir 2025, meningkat sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, jumlah kendaraan listrik tumbuh lebih cepat, dengan total lebih dari 216.000 unit atau naik 32,9 persen secara tahunan.

Tren ini memperlihatkan pergeseran signifikan dalam industri otomotif Israel, di mana kendaraan listrik, khususnya dari China, semakin mengambil peran dominan dalam transisi menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Di balik dominasi kendaraan listrik (EV) China di Israel, terdapat kombinasi faktor yang membuat produk-produk tersebut semakin diminati pasar. Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari strategi industri yang terencana dan responsif terhadap kebutuhan konsumen global.

Salah satu faktor utama adalah harga yang lebih kompetitif. Produsen China mampu menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pesaing dari Eropa maupun Korea Selatan. Skala produksi yang besar serta efisiensi rantai pasok memungkinkan biaya ditekan tanpa mengorbankan fitur utama, sehingga menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik.Selain harga, keunggulan teknologi baterai juga menjadi daya tarik penting. China dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan dan produksi baterai lithium-ion, yang menjadi komponen inti kendaraan listrik. Kemajuan ini berdampak pada peningkatan jarak tempuh, efisiensi energi, serta keandalan kendaraan, faktor-faktor yang sangat dipertimbangkan oleh konsumen.

Ketersediaan produk yang beragam juga turut memperkuat posisi EV China di pasar Israel. Produsen China menghadirkan berbagai pilihan model, mulai dari kendaraan kompak hingga SUV, dengan fitur yang disesuaikan dengan preferensi pasar. Fleksibilitas ini memberi konsumen lebih banyak opsi dibandingkan produk dari beberapa pesaing yang masih terbatas dalam lini kendaraan listriknya.

Di sisi lain, strategi ekspor yang agresif menjadi kunci penetrasi pasar global. Produsen China tidak hanya fokus pada pasar domestik, tetapi secara aktif memperluas jangkauan ke berbagai negara, termasuk Israel. Dukungan pemerintah dalam bentuk insentif dan kebijakan industri juga mempercepat ekspansi ini.

Faktor-faktor tersebut saling melengkapi dan membentuk keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi dalam waktu singkat. Bagi konsumen, kombinasi antara harga, teknologi, dan ketersediaan produk menjadi alasan rasional dalam memilih kendaraan listrik buatan China.

Dengan demikian, tingginya penetrasi EV China di Israel mencerminkan bukan hanya keberhasilan pemasaran, tetapi juga perubahan preferensi konsumen global yang semakin pragmatis, mengutamakan nilai dan teknologi di atas asal negara produsen.

Dominasi kendaraan listrik (EV) China di pasar Israel tidak sekadar mencerminkan tren lokal, tetapi juga menjadi indikator perubahan yang lebih luas dalam industri otomotif global. Pangsa hingga 74,9 persen menunjukkan bahwa produk China tidak hanya kompetitif, tetapi mulai menggeser dominasi pemain tradisional dari Barat dan Asia Timur.

Dalam beberapa tahun terakhir, China secara konsisten memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam ekosistem EV dunia. Dukungan kebijakan pemerintah, skala produksi yang besar, serta penguasaan rantai pasok baterai menjadi faktor kunci di balik keunggulan tersebut. China tidak hanya memproduksi kendaraan, tetapi juga menguasai komponen penting seperti baterai lithium-ion yang menjadi inti teknologi kendaraan listrik.

Keberhasilan di Israel memperlihatkan bagaimana strategi ekspansi global China mulai membuahkan hasil. Pasar ini menjadi contoh bagaimana produsen China mampu masuk dan mendominasi di luar pasar domestik, bahkan di tengah persaingan dengan merek-merek mapan dari Eropa dan Korea Selatan.

Di sisi lain, produsen otomotif dari Eropa dan Korea Selatan menghadapi tekanan yang semakin besar. Pangsa pasar yang lebih kecil di Israel mencerminkan tantangan dalam bersaing, baik dari sisi harga maupun kecepatan inovasi. Biaya produksi yang lebih tinggi dan transisi yang belum sepenuhnya matang ke kendaraan listrik membuat sebagian produsen Barat tertinggal dalam perlombaan ini.

Perubahan ini menandai pergeseran peta industri otomotif global. Jika sebelumnya dominasi berada di tangan produsen dari Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, kini China muncul sebagai kekuatan baru yang mampu mendefinisikan arah industri. Pergeseran ini tidak hanya berdampak pada pasar kendaraan, tetapi juga pada rantai pasok global, investasi teknologi, dan kebijakan industri di berbagai negara.

Lebih jauh, dominasi China di sektor EV juga memiliki implikasi geopolitik. Penguasaan teknologi dan pasar memberi China leverage yang lebih besar dalam hubungan ekonomi internasional. Negara-negara lain, termasuk di Eropa dan Timur Tengah, kini dihadapkan pada pilihan antara memanfaatkan keunggulan teknologi China atau mengembangkan kapasitas domestik untuk mengurangi ketergantungan.

Dengan demikian, apa yang terjadi di Israel dapat dibaca sebagai gambaran awal dari perubahan yang lebih besar. Industri otomotif global tengah memasuki fase baru, di mana kekuatan lama diuji dan pemain baru tampil sebagai penentu arah masa depan mobilitas dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Culik Ratusan Aktivis Sumud Flotilla, Dua Relawan Indonesia Lolos

 

 

 

Tidak ada warga negara Indonesia (WNI) dalam armada Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 yang dibajak tentara laut Zionis Israel di perairan dekat Yunani, Rabu (29/4/2026) malam tadi. Para relawan dan aktivis Global Peace Convoy (GPCI) yang sebelumnya berlayar mengikuti misi kemanusian menembus blokade Gaza, Palestina yakni Maimon Herawati dan Chiki Fawzi saat berada di Istanbul, Turki.

Maimon merupakan koordinator dewan pengarah GPCI. Bersama Chiki, yang menjadi relawan, keduanya berlayar bersama armada Global Sumud melalui pelabuhan di Barcelona, Spanyol sejak 12 April lalu. Keduanya mengarungi pelayaran menuju Gaza melintasi Laut Mediterania sampai ke Italia. Namun keduanya melanjutkan aksi ke Turki melalui penerbangan.

Di Turki, Maimon dan Chiki sebetulnya mempersiapkan partisipasi tambahan Indonesia dalam pelayaran lanjutan. Sebab sekitar enam relawan Indonesia yang tergabung dalam GPCI yang sudah menunggu di Istanbul, akan menyusul pelayaran Global Sumud melalui salah satu pelabuhan di Turki. Para relawan GPCI yang akan ikut bergabung dalam pelayaran susulan termasuk di antaranya adalah tim Republika.

"Saya sudah dua hari di Istanbul untuk tetap mempersiapkan misi pelayaran menembus blokade Gaza ini," kata Maimon saat bertemu Republika di Istanbul, Turki. Namun ketika para relawan yang sudah berangkat menuju ke pelabuhan pelayaran lanjutan, pada Rabu (28/4/2026) tengah malam, GSF melaporkan terjadinya penyerangan oleh angkatan laut tentara penjajahan Zionis Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla di dekat perairan Yunani.

Dikabarkan semula, 11 dari 56 kapal Global Sumud dibajak. Termasuk diantaranya Kapal Saf Saf yang merupakan kapal induk Global Sumud dalam misi pelayaran kali ini. Pada Kamis (30/4/2026) pagi, Maimon yang juga merupakan anggota Steering Committee (SC) Global Sumud Flotilla menyampaikan, sebanyak 22 kapal yang mengalami pembajakan dan penyerangan. "Kabar terbaru, saat ini confirm (dipastikan) ada 22 kapal kami yang dibajak oleh tentara penjajahan (Israel)," kata Maimon.

Pembajakan terjadi di perairan internasional Laut Mediterania di dekat perairan Yunani. Atau sekitar 600 mil dari bibir pantai Gaza. Kata Maimon, ratusan aktivis dari puluhan negara yang berada dalam 22 kapal yang dibajak zionis itu juga mengalami penculikan. "22 kapal itu, berarti dikali sepuluh. Setiap kapal berisi sekitar sepuluh aktivis dari banyak negara. Berarti ada sekitar 200-an aktivis yang saat ini hilang kontak," ujar Maimon.

Menurut data pelacakan, Global Sumud Flotilla – yang mencakup 58 kapal – berlokasi di dekat Pulau Kreta Yunani, ratusan mil laut (lebih dari 1.000 kilometer) dari Israel, ketika dihadang oleh pasukan Israel.

Pada Kamis pagi, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan Angkatan Laut telah menahan sekitar 175 aktivis. Secara total, Angkatan Laut mencegat 21 dari 58 kapal Global Sumud Flotilla, kata sumber keamanan.

Dalam upaya untuk menantang blokade laut di masa lalu, Angkatan Laut telah mencegat kapal-kapal yang lebih dekat ke pantai Gaza, yang diperkirakan akan dicapai oleh armada tersebut pada akhir pekan.

Dalam rekaman yang dipublikasikan oleh penyelenggara armada, seorang perwira Angkatan Laut Israel terdengar menyerukan para aktivis untuk mengubah arah.

Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh tentara Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam.

"Jika Anda ingin mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, Anda dapat melakukannya melalui jalur yang sudah ada dan diakui. Silakan mengubah arah dan kembali ke pelabuhan asal. Jika Anda membawa bantuan kemanusiaan, Anda diundang untuk melanjutkan ke pelabuhan Ashdod," kata petugas tersebut.

Angkatan Laut telah meminta para aktivis yang tersisa untuk kembali atau berlayar ke Ashdod jika mereka memiliki bantuan kemanusiaan, di mana bantuan tersebut akan diperiksa sebelum memasuki Gaza. Jika mereka melanjutkan perjalanannya, Angkatan Laut mengatakan mereka juga akan dihentikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Spanyol-Turki Bersama Serukan Dunia Bersatu Selamatkan Global Sumud Flotilla

 

 

Menteri luar negeri Turki dan Spanyol berbicara melalui telepon pada Kamis pagi, menekankan “perlunya sikap internasional yang bersatu” terhadap intervensi ilegal Israel terhadap armada bantuan Gaza. Sebanyak 20 warga Turki diculik Israel dalam upaya pencegatan tersebut.

“Dalam telepon tersebut, ditekankan bahwa intervensi ilegal oleh pasukan Israel terhadap Armada Sumud Global, yang berlayar di perairan internasional di lepas pantai Kreta, membahayakan nyawa banyak warga sipil dari berbagai negara dan melanggar hukum internasional,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Oncu Keceli di X setelah panggilan telepon antara Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares.

Keduanya juga “menekankan perlunya komunitas internasional untuk mengambil sikap bersatu melawan intervensi yang melanggar hukum,” tambah Keceli.

Angkatan Laut Israel mencegat kapal-kapal dari armada tersebut pada Rabu malam ketika mereka menuju Gaza untuk mematahkan blokade yang telah lama ada di daerah kantong tersebut.

Kelompok itu mengatakan pasukan Israel mengepung konvoi tersebut di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, mengganggu komunikasi dan menyita beberapa kapal. Armada tersebut, yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, bertujuan untuk mematahkan blokade Israel dan membuka koridor kemanusiaan melalui laut.

Langkah ini dilakukan beberapa jam setelah media Ibrani melaporkan bahwa Israel sedang bersiap untuk mencegat armada tersebut, yang mencakup sekitar 100 kapal yang membawa hampir 1.000 aktivis dari beberapa negara.

Israel telah memberlakukan blokade di Jalur Gaza sejak tahun 2007, menyebabkan sekitar 1,5 juta warga Palestina dari sekitar 2,4 juta orang kehilangan tempat tinggal setelah rumah mereka dihancurkan selama perang.

Delegasi Turki di Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza pada hari Kamis mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan Israel telah menahan 20 warga negara Turki setelah mencegat armada tersebut di perairan internasional lebih dari 600 mil laut dari Gaza, beberapa mil dari perairan teritorial Yunani.

Pasukan Israel mengepung kapal-kapal tersebut di lepas pantai pulau Kreta Yunani pada Rabu malam dan melakukan serangan, menahan lebih dari 170 aktivis di dalamnya, kata delegasi Turki kepada Anadolu.

Warga negara Turki yang ditahan adalah sebagai berikut: Mustafa Enes Topal, Muhammad Ozdem, Ali Deniz, Yunus Kava, Sahin Yaslik, Mustafa Arslan, Abdulselam Demir, Nevzat Oylek, Nevzat Guzel, Halil Erdogmus, Abdullatif Fasli, Huseyin Suayb Ordu, Mahmut Akay, Gorkem Duru, Mehmet Atli, Mukremin Kose, Ramazan Tekdemir, Mahmut Cagatay Yavuz, Huseyin Oral, dan Omer Osman Tastan.

Angkatan Laut Israel mencegat kapal-kapal dari armada tersebut pada Rabu malam ketika mereka menuju Gaza untuk mematahkan blokade yang telah lama ada di daerah kantong tersebut.

Kelompok tersebut mengatakan pasukan Israel mengepung konvoi di perairan internasional dekat pulau Kreta Yunani, mengganggu komunikasi, dan menyita 21 kapal, menambahkan bahwa 17 kapal berhasil melarikan diri dan memasuki perairan Yunani setelah insiden tersebut.

Armada tersebut, yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, bertujuan untuk mematahkan blokade Israel dan membuka koridor kemanusiaan melalui laut.

Langkah ini dilakukan beberapa jam setelah media Ibrani melaporkan bahwa Israel sedang bersiap untuk mencegat armada tersebut, yang mencakup sekitar 100 kapal yang membawa hampir 1.000 aktivis dari beberapa negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Ancam Terus Blokade Hormuz, Harga Minyak Meroket

 

 

Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan melanjutkan blokade laut terhadap Iran sampai kesepakatan nuklir tercapai dengan Teheran. Pernyataan ini memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.

Presiden AS mengatakan kepada Axios pada Rabu bahwa ia tidak ingin mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan tampaknya menolak pembukaan kembali Selat Hormuz sehingga pembicaraan AS-Iran dapat dilanjutkan.

"Blokade ini lebih efektif dibandingkan pengeboman. Mereka tercekik seperti boneka babi," kata Trump tentang Iran. "Dan ini akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir."

Iran telah menetapkan pencabutan blokade Hormuz oleh AS sebagai prasyarat untuk kembali ke perundingan. Menurut beberapa laporan media, Iran menawarkan kesepakatan terbatas pada minggu ini yang akan mengakhiri blokadenya terhadap Hormuz dengan imbalan diakhirinya pengepungan terhadap pelabuhan-pelabuhannya.

Komentar Trump pada hari Rabu menunjukkan bahwa dia menolak usulan Iran. Presiden AS telah menekankan bahwa ia merasa nyaman dengan status quo dengan Iran, dan menunjukkan bahwa ia tidak terburu-buru untuk mendorong perjanjian komprehensif atau kembali berperang.

Setidaknya dua kapal komersial yang terkait dengan Iran telah dibajak oleh AS sebagai bagian dari pengepungan tersebut. Militer AS mengatakan pada hari Senin bahwa mereka juga telah mengarahkan 39 kapal di perairan regional selama beberapa minggu terakhir.

Iran menanggapinya dengan menyita kapal-kapal yang dituduh melanggar peraturan maritim.

Kebuntuan ini telah membuat harga minyak melonjak, sehingga memicu inflasi energi di AS, di mana harga satu galon bensin telah melampaui 4,22 dolar AS atau 1,11 dolar AS per liter. Angka ini naik dari kurang dari 3 dolar AS alias 0,79 dolar AS per liter sebelum agresi AS.

Patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent melonjak menjadi lebih dari $119 per barel pada hari Rabu karena Washington dan Teheran meningkatkan retorika mereka.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada hari Rabu bahwa AS sedang mencoba untuk “mengaktifkan tekanan ekonomi dan perpecahan internal” di negara tersebut “untuk melemahkan atau bahkan menghancurkan kita dari dalam”.

Dia berjanji bahwa Iran “akan mengalahkan rencana musuh yang menipu ini” dan “meraih kemenangan gemilang” dalam perang tersebut.

Secara terpisah, sumber keamanan senior yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Press TV milik negara Iran bahwa blokade tersebut akan segera ditanggapi dengan “tindakan praktis dan belum pernah terjadi sebelumnya”.

Pada hari Rabu, Trump menegaskan kembali klaimnya bahwa AS telah sangat menurunkan kemampuan militer Iran. "Mereka hanya punya sedikit rudal yang tersisa. Mereka punya beberapa rudal, persentasenya kecil," katanya.

Di luar duel blokade di Teluk, AS dan Iran tampaknya menemui jalan buntu dalam masalah nuklir. Teheran membantah berupaya membuat senjata nuklir, namun bersikeras pada haknya untuk memperkaya uranium di dalam negeri. Namun, Trump ingin program nuklir negaranya dibongkar sepenuhnya.

Iran juga mengesampingkan pembatasan produksi rudal dan drone atau mengakhiri dukungan untuk sekutu regional seperti Hizbullah dan Hamas – dua tuntutan utama Israel dan AS.

Melanjutkan pidatonya di Ruang Oval, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah mencapai “perjalanan panjang” dalam negosiasi. “Pertanyaannya adalah apakah mereka akan melangkah cukup jauh atau tidak,” tambahnya. “Tidak akan pernah ada kesepakatan kecuali mereka setuju tidak akan ada senjata nuklir.”

Trump selanjutnya menyebut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai tindakan yang “jenius” dan “sangat mudah”. Iran "harus menangis menyerah, hanya itu yang harus mereka lakukan. Katakan saja, 'Kami menyerah'," tambah Trump.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IDF Hancurkan Mesin Kapal Global Sumud, Telantarkan Ratusan Orang di Laut

 

 

Pasukan Israel meninggalkan sejumlah aktivis peserta armada yang menuju Gaza terdampar di laut setelah “secara sistematis” melumpuhkan kapal mereka, kata kelompok tersebut, Kamis. Ini dilakukan setelah IDF mencegah sejumlah kapal Global Sumud Flotilla di perairan dekat Pulau Kreta, Yunani.

“Setelah menghancurkan mesin dan menghancurkan susunan navigasi, militer mundur – dengan sengaja meninggalkan ratusan warga sipil terdampar di kapal yang tidak berdaya dan rusak tepat di jalur badai besar yang mendekat,” tulis Global Sumud Flotilla di X.

 “Komunikasi dengan beberapa kapal telah terputus, memutus kemampuan mereka untuk berkoordinasi atau memberi sinyal bantuan,” tambah kelompok itu.

Israel sebelumnya mengonfirmasi pihaknya mencegat beberapa kapal di perairan internasional.

Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam, 11 dari 56 kapal GSF yang berlayar di perairan internasional Laut Mediterania di dekat Yunani mengalami hilang kontak setelah sempat didekati armada militer Zionis Israel.

“Baru saja, kurang dari setengah jam yang lalu, saya sebagai salah satu dari Steering Committee Global Sumud Flotilla mendapatkan informasi yang sudah clear untuk disampaikan kepada masyarakat luas bahwasannya flotilla kami, terdiri saat ini dengan 56 kapal, itu didatangi oleh satu kapal yang menjelaskan kalau dia adalah dari Israel,” ujar anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla Maimon Herawati, Kamis dini hari.

Ia mengatakan, sebagian kapal melaporkan didatangi satu kapal yang mengeklaim berasal dari pasukan penjajahan Israel. Mereka kemudian mengacungkan senjata semiotomatis ke para peserta armada menuju Gaza dan memaksa mereka berlutut.

“Jadi kita belum memastikan Israel apa bukan, tapi self-identified atau dia mengatakan dia dari Israel yang kemudian menyuruh teman-teman untuk berbalik arah,” ujar Maimon.

Dalam rekaman kontak radio yang dikirimkan pihak GSF, terdengar pencegat mengaku berasal dari Angkatan Laut Israel. Ia juga mengancam akan mengambil tindakan bila armada melanjutkan pelayaran ke Gaza.

“Setiap upaya lebih lanjut untuk berlayar menuju Gaza akan membahayakan keselamatan Anda dan membuat IDF tidak punya pilihan selain mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menegakkan blokade keamanan maritim yang sah,” bunyi rekaman itu.

Ia kemudian mendesak kapal berbalik arah dan kembali ke pelabuhan asal. “Jika Anda membawa bantuan kemanusiaan, Anda dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ashdod, di mana bantuan tersebut akan menjalani pemeriksaan keamanan dan selanjutnya akan ditransfer ke Jalur Gaza.”

“Berbahaya jika tetap berada pada jalur Anda saat ini. Jika Anda terus berupaya melanggar blokade maritim, kami akan menghentikan kapal Anda dan meminta penyitaannya melalui proses hukum di pengadilan. Anda memikul tanggung jawab penuh atas tindakan Anda.”

Selepas kejadian itu, 11 kapal kemudian hilang kontak dan tak bisa dihubungi. Maimon menduga ini karena sinyal radio diacak pihak pencegat kapal-kapal tersebut.

Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh tentara Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam.

Peneliti PBB Francesca Albanese mengecam penyitaan kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel di perairan internasional itu.

“Bagaimana mungkin Israel diizinkan menyerang dan menyita kapal-kapal di perairan internasional di lepas pantai Yunani/Eropa?” tulis Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina, pada X.

“Selain apa yang Anda pikirkan tentang Apartheid Israel dan para pemimpin genosidanya, hal ini seharusnya menimbulkan gelombang kejutan di seluruh Eropa. “Ini apartheid tanpa batas.”

Gur Tsabar, petugas pers Global Sumud Flotilla, mengatakan serangan Israel terhadap konvoi kemanusiaan menuju Gaza adalah ilegal menurut hukum internasional.

"Ini hanyalah serangan langsung terhadap warga sipil di perairan internasional. Kapal-kapal sipil tak bersenjata, ratusan mil dari Israel, dikepung dan diancam dengan todongan senjata," katanya kepada Al Jazeera.

"Israel tidak memiliki yurisdiksi di perairan ini. Mencegat atau menaiki kapal-kapal ini berarti penahanan ilegal, dan berpotensi melakukan penculikan di laut lepas," katanya.

Tsabar meminta pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan.

"Setiap pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi lebih dari 400 warga sipil di kapal dan menegakkan hukum internasional. Diam pada saat ini adalah keterlibatan mutlak," katanya.

“Perlu ada intervensi segera untuk menjamin keselamatan armada dan memastikan kita dapat terus membuka koridor kemanusiaan ke Gaza.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post