News Komoditi & Global ( Jumat, 29 Agustus 2025 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 29 Agustus 2025 )
Market Waswas Independensi The Fed, Harga Emas Global Melesat
Harga emas naik ke level tertinggi lima pekan karena kekhawatiran independensi The Fed dan pelemahan dolar AS. Investor menunggu data inflasi PCE.
Harga emas menguat ke level tertinggi dalam lima pekan terakhir di tengah kekhawatiran atas independensi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve dan pelemahan dolar AS serta aliran investasi ke aset aman. Melansir Reuters pada Jumat (29/8/2025), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US$3.416,14 per troy ounce, level tertinggi sejak 23 Juli. Adapun harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember bergerak di level US$3.466,10 per troy ounce. Indeks dolar AS melemah 0,5%, membuat emas yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih terjangkau bagi pembeli di luar negeri. “Emas terus mendaki secara perlahan selama lebih dari sepekan, sebagian karena meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi The Fed. Tekanan Trump menimbulkan keresahan bahwa FOMC bisa memangkas suku bunga lebih cepat dan mempertahankannya lebih rendah lebih lama, yang pada akhirnya menguntungkan emas,” ujar pedagang logam independen Tai Wong. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan lebih dari 87% peluang adanya pemangkasan suku bunga seperempat poin pada pertemuan The Fed bulan September. Investor kini menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Jumat, yang menjadi indikator utama inflasi bagi bank sentral AS.
Harga Emas Menguat Jelang Rilis Data Inflasi AS Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung bersinar dalam lingkungan suku bunga rendah maupun saat ketidakpastian ekonomi meningkat. Di sisi lain, Gubernur The Fed Lisa Cook mengajukan gugatan hukum dengan alasan Presiden AS Donald Trump tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya, membuka potensi pertarungan hukum yang dapat mengubah norma lama terkait independensi bank sentral AS. “Dalam jangka pendek, prospek emas cenderung bullish. Saya memperkirakan harga bisa menyentuh sekitar US$3.700 pada akhir tahun ini,” kata Daniel Pavilonis, analis senior di RJO Futures. Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,2% menjadi US$39,09 per ounce, level tertinggi sejak 25 Juli. “Perak mencatat kinerja kuat pada kuartal ini, tetapi momentumnya sempat melemah di Agustus dan kini menunggu pemicu baru. Banyak yang percaya perak akan melejit ke atas US$40, seiring emas mencetak rekor baru,” tambah Wong. Sementara itu, platina naik hampir 1% ke US$1.359,70 per ounce, sedangkan paladium menguat 0,8% ke US$1.100,53 per ounce.
Harga Minyak Dunia Menguat, Pasar Menanti Pernyataan Trump tentang Rusia-Ukraina
Harga minyak menguat pada Kamis (28/9/2025), bangkit dari koreksi di awal perdagangan setelah Gedung Putih mengatakan Presiden AS Donald Trump tidak senang ketika mengetahui bahwa Rusia menyerang Ukraina dengan rudal dan drone.
Kamis (28/8/2025), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2025 ditutup naik 57 sen atau 0,8% ke US$ 68,62 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2025 ditutup menguat 45 sen atau 0,7% menjadi US$ 64,60 per barel.
Rusia menyerang Ukraina dengan rudal dan serangan pesawat tak berawak yang mematikan pada Kamis pagi, menewaskan sedikitnya 21 orang di Kyiv, kata pejabat kota.
Sementara itu, militer Ukraina mengatakan, telah menggunakan pesawat tak berawak untuk menyerang dua kilang minyak Rusia semalam.
Trump akan memberikan pernyataan mengenai situasi ini pada Kamis malam, kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada para wartawan. Kedua harga acuan minyak tersebut turun sekitar 1% di awal sesi perdagangan, tetapi berbalik positif setelah komentarnya.
Para pedagang juga mencermati respons India terhadap tekanan dari AS untuk berhenti membeli minyak Rusia, setelah Trump menggandakan tarif impor dari India hingga 50% pada hari Rabu.
Ekspor minyak Rusia ke India diperkirakan akan meningkat pada bulan September, menurut para pedagang, mengabaikan tekanan AS.
Harga minyak tertekan di awal sesi perdagangan karena para pedagang bersiap menghadapi penurunan permintaan bahan bakar setelah libur panjang Hari Buruh AS.
Pasokan minyak mentah juga diperkirakan akan meningkat karena rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi bulan September sebesar 547.000 barel per hari.
Permintaan yang melemah dan pasokan yang lebih tinggi akan menyebabkan peningkatan persediaan minyak, ungkap Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.
"Hal itu akan membebani harga minyak berjangka di seluruh spektrum seiring musim panas berganti menjadi musim gugur, dan seiring permintaan bensin menurun dan kilang beralih ke produk musim dingin dengan harga lebih rendah," kata mereka.
Yang semakin menekan harga minyak, pasokan minyak mentah Rusia ke Hongaria dan Slovakia melalui pipa Druzhba telah kembali normal setelah gangguan yang disebabkan oleh serangan Ukraina di Rusia pekan lalu, ungkap perusahaan minyak Hongaria MOL dan menteri ekonomi Slovakia pada hari Kamis.
Wall Street Reli: S&P 500 dan Dow Ditutup ke Rekor Tertinggi, Ditopang Kinerja Nvidia
Wall Street tampil perkasa setelah indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencatat rekor tertinggi walau laporan kuartalan Nvidia tidak memenuhi ekspektasi tinggi investor tetapi menegaskan bahwa pengeluaran terkait infrastruktur kecerdasan buatan tetap kuat.
Kamis (28/8/2025), indeks S&P 500 ditutup menguat 0,32% ke 6.501,86, indeks Nasdaq Composite naik 0,53% menjadi 21.705,16 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,16% ke 45.636,90. , melampaui rekor penutupan tertinggi sebelumnya pada 22 Agustus.
Dengan posisi itu, indeks S&P 500 kembali mencapai rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua secara berturut-turut. Sedangkan bagi indeks Dow Jones, ini adalah rekor penutupan tertinggi baru yang sebelumnya berhasil dicetak pada 22 Agustus 2025 lalu.
Tujuh dari 11 indeks sektoral pada S&P 500 menguat, dipimpin oleh layanan komunikasi, yang naik 0,94%. Diikuti oleh kenaikan 0,68% pada sektor energi.
Di sisi ini, saham Nvidia merosot 0,8% setelah ketidakpastian perdagangan China-AS mendorong perancang cip AI terkemuka tersebut untuk mengecualikan potensi penjualan di China dari proyeksi kuartalannya pada Rabu malam.
Investor memandang laporan Nvidia, termasuk lonjakan pendapatan kuartalan sebesar 56%, sebagai konfirmasi bahwa permintaan terkait teknologi AI tetap kuat, mendukung reli saham-saham terkait AI yang telah mendorong Wall Street ke rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Saham-saham AI terkemuka lainnya menguat, dengan Alphabet naik 2%, Amazon naik 1%, dan produsen cip Broadcom naik hampir 3%.
"Nvidia merupakan anomali sehingga mengatakan bahwa hasil penjualannya mengecewakan hanya bertentangan dengan standar ekspektasi yang hampir mustahil," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird. "Jelas bahwa pendorong struktural utama pasar ini, yaitu AI, tidak akan ke mana-mana atau mereda."
Saham Nike turun 0,2% setelah perusahaan penjual pakaian olahraga tersebut mengatakan akan memangkas kurang dari 1% tenaga kerja korporatnya karena kesulitan merebut kembali pangsa pasar yang direbut para pesaing.
Mengurangi kekhawatiran akan perlambatan ekonomi, klaim pengangguran mingguan lebih rendah dari perkiraan, sementara laporan terpisah menunjukkan laba perusahaan pulih pada kuartal kedua.
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi telah berkontribusi pada penguatan Wall Street baru-baru ini.
Investor pada hari Jumat akan fokus pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi. Tanda-tanda peningkatan inflasi dapat meredam ekspektasi luas terhadap pelonggaran kebijakan pada pertemuan kebijakan The Fed di bulan September.
Para pedagang memperkirakan peluang penurunan suku bunga bulan depan lebih dari 80%, menurut FedWatch dari CME Group. Pada hari Kamis, Gubernur The Fed Lisa Cook mengajukan gugatan hukum yang menentang upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencopotnya dari jabatannya awal pekan ini.
Perusahaan analisis data Snowflake melonjak 20% setelah menaikkan proyeksi pendapatan produk tahun fiskal 2026, dengan alasan permintaan AI. HP Inc naik 4,6% setelah mengalahkan estimasi pendapatan kuartalan karena meningkatnya permintaan untuk komputer pribadi bertenaga AI.
Perusahaan makanan kemasan Hormel Foods anjlok 13% setelah mengeluarkan proyeksi laba kuartalan yang suram.
Krisis Tarif Memanas, PM India Modi Pilih Tak Angkat Telepon Trump
Perdana Menteri India telah mengabaikan panggilan telepon Presiden AS Donald Trump. Hal ini terjadi setelah AS mengumumkan akan melanjutkan penerapan tarif yang merugikan terhadap produk-produk India.
Melansir The Daily Beast yang mengutip laporan The Telegraph, Trump telah berulang kali mencoba menghubungi Perdana Menteri Narendra Modi melalui telepon menjelang pemberlakuan pajak impor sebesar 50% yang mulai berlaku pada Rabu (27/8/2025) atas produk-produk India.
Sementara, Financial Times mengonfirmasi bahwa Modi tidak berkomunikasi dengan Trump menjelang batas waktu tarif karena ia khawatir presiden AS akan menuntut konsesi di menit-menit terakhir.
The Daily Beast telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta komentar, namun belum mendapatkan tanggapan.
Trump telah mengenakan bea masuk sebesar 25% atas produk-produk dari India. Pajak tersebut dibayarkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika, dan biayanya biasanya dibebankan kepada konsumen.
Setelah kedua negara gagal mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif, Trump mengumumkan awal bulan ini bahwa ia akan menggandakan tarif menjadi 50% untuk menghukum India karena membeli minyak Rusia.
“India tidak hanya membeli minyak Rusia dalam jumlah besar, mereka kemudian, untuk sebagian besar minyak yang dibeli, menjualnya di pasar terbuka untuk mendapatkan keuntungan besar,” tulis Trump di Truth Social pada hari Senin.
Trump menambahkan, "Mereka tidak peduli berapa banyak orang di Ukraina yang dibunuh oleh Mesin Perang Rusia. Karena itu, saya akan menaikkan tarif yang dibayarkan India kepada AS secara substansial. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!!!"
Setelah itu, ia mengatakan kepada CNBC, "Mereka sedang mengobarkan mesin perang, dan jika mereka akan melakukan itu, maka saya tidak senang."
Hanya beberapa minggu kemudian, Trump mengundang Vladimir Putin ke pertemuan puncak perdamaian di Alaska, di mana ia menjilat presiden Rusia dan membatalkan tuntutannya untuk gencatan senjata di Ukraina.
Namun demikian, menurut Financial Times, ia tetap bersikap keras terhadap India, yang terus membeli minyak mentah Rusia, meskipun ada tarif. Negosiator perdagangan AS telah merencanakan untuk mengunjungi New Delhi minggu ini, tetapi perjalanan itu dibatalkan.
Trump dan Modi sebelumnya menikmati hubungan yang hangat, dengan Modi mengumumkan dimulainya MIGA—singkatan dari Make India Great Again—saat kunjungan ke Gedung Putih pada bulan Februari.
“Ketika Amerika dan India bekerja sama, itulah saatnya MAGA plus MIGA, menjadi MEGA, sebuah kemitraan besar untuk kemakmuran,” ujarnya.
Namun sejak itu, Trump telah mengancam Apple atas rencananya untuk mengalihkan sebagian manufaktur ke India, mengejek “ekonomi mati” negara itu, dan membuat pendekatan kepada negara tetangga Pakistan, yang dengannya India memiliki hubungan yang kompleks dan terkadang bermusuhan.
Modi mengecam Trump pada bulan Juni karena menganggap dirinya berjasa atas gencatan senjata antara India dan Pakistan, dengan mengklarifikasi bahwa perundingan damai terjadi secara langsung antara kedua negara yang bermusuhan tersebut, dan bukan melalui mediasi Amerika seperti yang diklaim Trump.
India pada gilirannya muncul sebagai salah satu negara yang paling terdampak dalam perang dagang Trump. Perundingan terhenti sebagian karena New Delhi menolak untuk membuka sektor pertanian dan susu negara tersebut yang sangat besar, menurut Financial Times.
Sementara itu, pemerintahan Modi telah bergerak untuk memperkuat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok. Modi melakukan perjalanan ke Tiongkok akhir pekan ini untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Negosiator Perdagangan Jepang Batal Berkunjung ke AS untuk Selesaikan Pakta Investasi
Negosiator perdagangan Jepang Ryosei Akazawa membatalkan kujungan ke Amerika Serikat pekan ini, menurut sumber pemerintah.
Sementara itu, media melaporkan bahwa pembicaraan yang dirancang untuk menyelesaikan detail pakta investasi ditunda karena kendala administrasi.
Mengutip Reuters, Kamis (28/8/2025), Akazawa berencana mengunjungi AS pada Kamis ini untuk menyusun konfirmasi tertulis mengenai detail keuangan paket investasi senilai US$ 550 miliar yang ditawarkan Tokyo sebagai imbalan atas penurunan tarif impor dari ekonomi terbesar keempat di dunia oleh Washington.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga mengatakan akan ada pengumuman mengenai investasi Jepang minggu ini.
Siaran publik Jepang NHK dan kantor berita Kyodo mengatakan bahwa beberapa masalah masih harus diselesaikan dalam pembicaraan tingkat kerja sebelum para menteri dapat bertemu.
Sebuah sumber pemerintah yang mengetahui negosiasi tersebut, yang berbicara secara anonim, mengatakan bahwa Akazawa dapat berangkat ke Washington paling cepat minggu depan setelah masalah-masalah yang masih ada diselesaikan.
Pada Juli lalu, Washington dan Tokyo sepakat menetapkan tarif impor dari Jepang yang dikurangi sebesar 15% sebagai imbalan atas paket investasi yang akan masuk ke AS melalui pinjaman dan jaminan yang didukung pemerintah, tetapi detail isinya masih belum jelas.
Meskipun Trump telah menggembar-gemborkan paket tersebut sebagai "uang kita untuk diinvestasikan" dan mengatakan AS akan mempertahankan 90% dari keuntungan yang diperoleh, para pejabat Jepang telah menekankan bahwa investasi akan ditentukan berdasarkan apakah investasi tersebut juga akan menguntungkan Jepang.
Para pejabat Jepang telah berulang kali mengatakan bahwa mereka lebih suka perintah eksekutif presiden yang diamandemen terlebih dahulu untuk menghapus tarif yang tumpang tindih pada barang-barang Jepang sebelum merilis dokumen bersama tentang detail investasi.
Amerika Serikat telah sepakat untuk mengubah perintah presiden 31 Juli guna memastikan bahwa pungutan 15% yang disepakati bulan lalu atas impor Jepang tidak dibebankan pada barang-barang, seperti daging sapi, yang dikenakan tarif lebih tinggi.
Para pejabat AS juga mengatakan Trump akan mengeluarkan perintah lain untuk menurunkan tarif mobil Jepang menjadi 15% dari 27,5%, tetapi tidak menyebutkan kapan.
Tarif Impor Trump Naik Dua Kali Lipat, India Terseret Dampak Besar
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan kenaikan tarif impor terhadap India hingga 50% pada Rabu (27/8/2025).
Sebuah kebijakan yang memberi pukulan serius bagi hubungan dua negara demokrasi besar yang selama beberapa dekade terakhir semakin erat sebagai mitra strategis.
Tarif tambahan sebesar 25%, yang dikenakan akibat pembelian minyak Rusia oleh India, ditumpuk di atas tarif 25% yang sudah lebih dulu diberlakukan pada berbagai produk impor dari negara Asia Selatan itu.
Total tarif kini mencapai 50% untuk barang-barang mulai dari pakaian, perhiasan, alas kaki, perlengkapan olahraga, furnitur hingga bahan kimia, salah satu tarif tertinggi yang pernah diberlakukan AS, sebanding dengan yang dikenakan terhadap Brasil dan China.
Kebijakan ini mengancam ribuan eksportir kecil dan lapangan kerja di India, termasuk di negara bagian Gujarat, kampung halaman Perdana Menteri Narendra Modi, serta diperkirakan memperlambat pertumbuhan ekonomi India yang selama ini menjadi ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Lima putaran negosiasi dagang antara Washington dan New Delhi sebelumnya gagal mencapai kesepakatan untuk memangkas tarif AS hingga sekitar 15%, sebagaimana perjanjian dengan Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa.
Kedua belah pihak mengakui adanya salah perhitungan dan miskomunikasi dalam prosesnya.
Kementerian Perdagangan India belum memberikan komentar resmi, namun seorang pejabat pemerintah menyebut New Delhi berharap AS akan meninjau kembali tambahan tarif 25% tersebut.
Pemerintah India dikabarkan sedang menyiapkan langkah-langkah untuk meredam dampaknya.
Pasar India tutup pada hari Rabu karena libur festival Hindu, tetapi sehari sebelumnya bursa saham mencatat penurunan terburuk dalam tiga bulan terakhir setelah pemberitahuan tarif baru dikonfirmasi Washington.
Rupee India juga melanjutkan pelemahan untuk hari kelima berturut-turut, mencapai posisi terendah dalam tiga minggu.
Meski berat, sebagian analis menilai krisis ini dapat menjadi momentum bagi India untuk melakukan reformasi ekonomi lebih lanjut dan meninggalkan kebijakan proteksionisme jika ingin menyelesaikan ketegangan dagang dengan AS.
Ketegangan Energi dan Diplomasi
Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan, India bisa segera mendapat pengurangan tarif 25% jika menghentikan pembelian minyak dari Rusia.
“Sederhana saja, India bisa langsung mendapat potongan tarif besok jika berhenti membeli minyak Rusia dan membantu mendanai mesin perang Moskow,” kata Navarro kepada Bloomberg Television.
Washington menuding pembelian minyak Rusia oleh India memperkuat pembiayaan perang Ukraina. Namun, New Delhi menolak tuduhan itu dengan menyebut AS dan Eropa juga masih memiliki hubungan dagang dengan Rusia.
Menteri Luar Negeri Muda India, Kirti Vardhan Singh, menegaskan: “Kami mengambil langkah yang tepat agar kebijakan ini tidak merusak ekonomi kami. Kekuatan ekonomi India akan membawa kami melewati masa sulit ini. Energi adalah prioritas kami, dan kami akan membeli dari mana pun yang paling menguntungkan India.”
Dampak ke Ekspor dan Tenaga Kerja
Perdagangan barang AS-India pada 2024 mencapai $129 miliar, dengan defisit perdagangan AS sebesar $45,8 miliar (data Biro Sensus AS).
Asosiasi eksportir memperkirakan tarif baru bisa memengaruhi hampir 55% dari $87 miliar ekspor barang India ke AS, sekaligus memberi keuntungan kompetitif bagi pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan China.
Rajeswari Sengupta, profesor ekonomi di Indira Gandhi Institute of Development Research, Mumbai menyarankan, agar pemerintah membiarkan rupee melemah sebagai bentuk dukungan tidak langsung bagi eksportir.
Sementara itu, Sujan Hajra, kepala ekonom Anand Rathi Group, memperingatkan bahwa hingga 2 juta pekerjaan bisa terancam dalam jangka pendek.
Namun, ia optimistis permintaan domestik yang kuat serta basis ekspor India yang beragam akan membantu menahan dampak negatifnya.
Ketegangan dagang ini menimbulkan pertanyaan lebih luas mengenai masa depan hubungan AS-India, terutama ketika kedua negara juga merupakan mitra keamanan penting dengan kekhawatiran bersama terhadap kebangkitan China.
Meski demikian, kedua negara pada Selasa mengeluarkan pernyataan bersama bahwa pejabat senior bidang luar negeri dan pertahanan telah bertemu secara virtual dan menyatakan “keinginan untuk terus memperdalam hubungan bilateral.”
Nvidia Tetap Tumbuh, Tapi Ketidakpastian di China Bayangi Prospek
Saham Nvidia melemah pada Rabu (27/8/202%) setelah prospek bisnisnya di China masih penuh ketidakpastian, terjebak dalam tensi perang dagang antara Washington dan Beijing.
CEO Jensen Huang berharap mendapat izin kembali menjual chip Nvidia ke China setelah mencapai kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump untuk membayar komisi ke pemerintah AS.
Namun, dengan belum adanya aturan resmi dari AS dan potensi hambatan dari regulator China, Nvidia tidak memasukkan potensi penjualan ke China dalam proyeksi kuartal berjalan.
Hal ini membuat prospek ke depan terlihat "hangat-hangat kuku".
Meski angka proyeksi tetap besar dalam hitungan dolar dan sedikit di atas estimasi analis, hasil tersebut mengecewakan investor yang terbiasa dengan laporan keuangan spektakuler Nvidia.
Saham perusahaan turun 3,2% dalam perdagangan setelah jam bursa, memangkas sekitar US$110 miliar dari kapitalisasi pasar sebesar US$4,4 triliun.
"Bottleneck terbesar Nvidia bukan silikon, tapi diplomasi," kata Michael Ashley Schulman, Chief Investment Officer Running Point Capital.
"Kurva pertumbuhan mereka masih impresif, hanya saja tidak lagi se-eksponensial sebelumnya."
Untuk kuartal ketiga, Nvidia memperkirakan pendapatan $54 miliar ±2%, dibandingkan estimasi analis rata-rata $53,14 miliar (data LSEG).
Namun, pendapatan kuartal kedua di segmen pusat data – lini bisnis terpenting Nvidia – sedikit meleset dari ekspektasi, memicu spekulasi bahwa penyedia layanan cloud mulai berhati-hati dalam belanja.
Nvidia menegaskan tidak memasukkan pengiriman chip H20 ke China dalam proyeksi, meski awal bulan ini memperoleh lisensi terbatas untuk menjualnya.
Jika situasi geopolitik membaik, Nvidia berpotensi menambah $2–5 miliar pendapatan tambahan di kuartal ketiga.
CFO Colette Kress menyebut strategi "sovereign AI" menjual chip dan software AI ke berbagai pemerintah diproyeksikan menghasilkan $20 miliar tahun ini.
Ia juga memperkirakan belanja AI global bisa mencapai $600 miliar tahun ini dan melonjak hingga $3–4 triliun menjelang akhir dekade.
Setengah dari total pendapatan pusat data Nvidia sebesar $41 miliar di kuartal terbaru berasal dari raksasa penyedia cloud.
Angka ini sedikit di bawah konsensus pasar $41,42 miliar (Visible Alpha). Nvidia juga memperkirakan margin kotor kuartal berjalan di 73,5%, hanya sedikit di atas ekspektasi analis 73,3%.
Menurut Jacob Bourne, analis eMarketer, hasil tersebut menunjukkan tanda-tanda bahwa belanja hyperscaler bisa lebih selektif jika manfaat jangka pendek aplikasi AI masih sulit dihitung.
Saham AMD, pesaing Nvidia yang sedang mengembangkan server AI – juga terkoreksi 1,4% menyusul laporan Nvidia.
Meski demikian, antusiasme investor terhadap saham AI, dengan Nvidia sebagai "pemasok utama alat dan mesin", masih menjadi motor utama reli S&P 500 dua tahun terakhir.
“Ini reaksi terkecil pasar terhadap laporan keuangan Nvidia sejak mereka jadi ikon AI,” ujar Jake Behan, Kepala Pasar Modal di Direxion, New York.
“Bukan hasil luar biasa, tapi juga bukan kegagalan.”
Pada kuartal kedua, Nvidia mencatat pendapatan US$46,74 miliar, melampaui estimasi US$46,06 miliar, meski sebelumnya memperkirakan pembatasan ekspor bisa memangkas US$8 miliar penjualan.
Menariknya, satu pelanggan di luar China dilaporkan membeli chip H20 senilai $650 juta.
Sebagai tambahan, Nvidia juga mengumumkan program pembelian kembali saham senilai US$60 miliar.
Trump Naikkan Tarif, India Berpotensi Kehilangan Cuan Besar dari Minyak Rusia
India menghemat miliaran dolar lewat kebijakan peningkatan impor minyak Rusia yang harganya didiskon setelah perang di Ukraina.
Namun sayangnya, tarif hukuman yang dikenakan oleh AS dan berlaku efektif pada Rabu (27/8/2025), bakal menghapus keuntungan tersebut.
Reuters memberitakan, para analis memperkirakan India telah menghemat setidaknya US$ 17 miliar dengan meningkatkan impor minyak dari Rusia sejak awal 2022.
Menurut lembaga riset Global Trade Research Initiative (GTRI) New Delhi, keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan hingga 50% pada impor India dapat memangkas ekspor lebih dari 40%, atau hampir US$ 37 miliar, pada tahun fiskal April-Maret ini saja.
Dampak tarif akan berkepanjangan, dan dapat melemahkan Perdana Menteri Narendra Modi secara politis, dengan ribuan pekerjaan terancam di sektor padat karya seperti tekstil, permata, dan perhiasan.
Analis menilai, respons India dalam beberapa minggu mendatang dapat membentuk kembali kemitraannya yang telah terjalin selama puluhan tahun dengan Rusia dan mengkalibrasi ulang hubungannya yang semakin kompleks dengan AS. Washington menilai hubungan ini cukup vital untuk melawan pengaruh Tiongkok yang semakin besar di Indo-Pasifik.
"India membutuhkan Rusia untuk alutsista selama beberapa tahun ke depan, minyak murah jika tersedia, dukungan geopolitik di kawasan benua, dan dukungan politik dalam isu-isu sensitive. Hal itu menjadikan Rusia mitra yang sangat berharga bagi India," kata Happymon Jacob, pendiri Dewan Riset Strategis dan Pertahanan Delhi.
Dia menambahkan, "Terlepas dari kesulitan antara Delhi dan Washington di bawah Trump, Amerika Serikat tetap menjadi mitra strategis terpenting India. India tidak memiliki kemewahan untuk memilih salah satu, setidaknya belum."
India ingin memperbaiki hubungan dengan AS
Dua sumber pemerintah India mengatakan New Delhi ingin memperbaiki hubungan dengan Washington dan terbuka untuk meningkatkan pembelian energi AS, tetapi enggan menghentikan sepenuhnya impor minyak Rusia.
Diskusi dengan AS masih berlangsung, ujar Menteri Luar Negeri India kepada wartawan pada hari Selasa (26/8/2025). Para pejabat dari kedua negara mengadakan pembicaraan virtual mengenai perdagangan, keamanan energi termasuk kerja sama nuklir, dan eksplorasi mineral penting.
Harga minyak dunia bisa melambung
Minyak mentah Rusia kini menyumbang hampir 40% dari total pembelian minyak India, dari hampir nol sebelum perang.
Pembelian minyak mentah India dipimpin oleh Reliance Industries milik miliarder Mukesh Ambani, yang mengoperasikan kompleks penyulingan minyak terbesar di dunia di negara bagian asal Modi, Gujarat.
Menurut perkiraan internal pemerintah India yang ditinjau oleh Reuters, harga minyak mentah global bisa naik lebih dari tiga kali lipat menjadi sekitar US$ 200 per barel jika India, konsumen dan importir minyak terbesar ketiga di dunia, berhenti membeli minyak dari Rusia.
India juga akan kehilangan diskon hingga 7% yang ditawarkan minyak Rusia dibandingkan dengan harga acuan global.
Dalam pernyataan yang sangat tajam bulan ini, India menuduh AS menerapkan standar ganda dengan memilih negaranya terkait impor minyak Rusia sementara India sendiri terus membeli uranium heksafluorida, paladium, dan pupuk Rusia.
New Delhi mengatakan negara-negara lain yang telah meningkatkan pembelian minyak Rusia, seperti Tiongkok, belum dikenakan hukuman.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuduh India mengambil untung dari peningkatan tajam pembelian minyak Rusia dan menyebut tindakan tersebut tidak dapat diterima.
Dalam sebuah wawancara pekan lalu, ia mengatakan kepada CNBC bahwa tidak seperti lonjakan impor minyak Rusia di India setelah pecahnya perang di Ukraina, pembelian minyak mentah Tiongkok meningkat dari 13% menjadi 16%.
Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa impor minyak mentahnya dari Rusia dimaksudkan untuk memastikan biaya energi yang dapat diprediksi dan terjangkau bagi konsumen India.
"Impor minyak mentah merupakan kebutuhan yang didorong oleh situasi pasar global," jelas Kemenlu India.
New Delhi memperingatkan bahwa penghentian impor minyak Rusia, yang saat ini mencapai sekitar 2 juta barel per hari, akan mengganggu seluruh rantai pasokannya dan menyebabkan harga bahan bakar domestik melonjak.
New Delhi menyatakan bahwa pemerintahan AS sebelumnya di bawah Joe Biden telah mendukung pembelian minyak Rusia untuk menjaga stabilitas harga global.
Rusia menyatakan bahwa mereka berharap India akan terus membeli minyak darinya.
Hubungan AS-India memburuk
Para pakar hubungan internasional mengatakan langkah-langkah Trump baru-baru ini telah menjerumuskan hubungan AS-India kembali ke fase terburuknya, mungkin sejak AS menjatuhkan sanksi terhadap India atas uji coba senjata nuklir pada tahun 1998.
Selain perdagangan, perselisihan ini dapat memengaruhi bidang-bidang lain seperti visa kerja bagi tenaga profesional teknologi India dan alih daya jasa ke luar negeri.
Dan bahkan jika India pada akhirnya berhasil membalikkan sebagian tarif, beberapa konsekuensinya akan tetap ada, terutama dalam perdagangan.
"Pesaing seperti Tiongkok, Vietnam, Meksiko, Turki, dan bahkan Pakistan, Nepal, Guatemala, dan Kenya berpotensi mendapatkan keuntungan, yang berpotensi mengunci India dari pasar-pasar utama bahkan setelah tarif dicabut," kata pendiri GTRI, Ajay Srivastava, mantan pejabat perdagangan India.
Korean Air Teken Kesepakatan Rp 818 Triliun untuk Beli Lebih dari 100 Pesawat Boeing
Maskapai penerbangan terbesar Korea Selatan, Korean Air, resmi menandatangani kesepakatan bernilai US$50 miliar (sekitar £37 miliar/Rp 818 triliun) dengan Boeing dan sejumlah mitra mesin pesawat.
Kesepakatan ini mencakup pembelian lebih dari 100 pesawat generasi terbaru, 19 mesin cadangan, serta kontrak perawatan mesin selama 20 tahun.
Rincian Kontrak Pembelian Pesawat
Berdasarkan keterangan resmi Korean Air, kontrak tersebut terdiri atas:
US$36,2 miliar (£26,9 miliar) untuk 103 pesawat Boeing generasi terbaru,
US$690 juta (£513 juta) untuk 19 mesin cadangan dari GE Aerospace dan CFM International,
US$13 miliar (£9,6 miliar) untuk kontrak layanan perawatan mesin selama 20 tahun bersama GE Aerospace.
Dalam pesanan pesawat baru ini, Korean Air akan memperoleh:
20 unit Boeing 777-9,
25 unit Boeing 787-10,
50 unit Boeing 737-10,
8 unit Boeing 777-8F freighter.
Pengiriman pesawat akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun 2030.
Penguatan Kemitraan Korea–AS
Penandatanganan kesepakatan ini dilakukan di Washington pada Senin (tanggal sesuai peristiwa), bertepatan dengan pertemuan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dengan Presiden AS Donald Trump.
“Kemitraan ini merupakan pilihan strategis untuk memperkuat hubungan Korean Air dengan industri penerbangan Amerika Serikat,” kata Korean Air dalam pernyataannya.
Maskapai menambahkan, “Investasi strategis di pasar AS ini akan semakin memperkuat kemampuan operasional, daya saing global, sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.”
Tokoh-Tokoh yang Hadir
Acara penandatanganan turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain:
Walter Cho, Chairman dan CEO Korean Air,
Stephanie Pope, Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes,
Russell Stokes, Presiden dan CEO Commercial Engines & Services GE Aerospace.
Implikasi Ekonomi dan Industri
Kesepakatan besar ini dipandang sebagai tonggak penting dalam hubungan dagang Korea Selatan–Amerika Serikat, sekaligus memperkuat posisi Korean Air di pasar penerbangan global.
Dengan pesanan pesawat jarak jauh dan kargo, maskapai ini diprediksi dapat memperluas jaringan internasional, meningkatkan kapasitas logistik, serta memperkuat konektivitas udara antara Asia dan Amerika.
AI Mulai Kuasai Sektor Perbankan, Peran Manusia Terancam
Salah satu hal yang ditakutkan dari kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) adalah kemampuannya mengalahkan manusia. Di beberapa sektor industri, ancaman tersebut terlihat semakin nyata.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh bank digital Zopa dan Juniper Research, menemukan bahwa AI sedang mengubah industri perbankan. Manfaat utamanya adalah penghematan biaya tenaga kerja.
Peter Donlon, Chief Technology Officer (CTO) di Zopa, mengatakan bahwa pengaruh AI terhadap produktivitas, pembuatan perangkat lunak, dan sistem pengambilan keputusan dapat menyaingi kemunculan internet atau komputasi awan.
"GenAI (AI generatif) bukanlah sekadar fitur tambahan, melainkan kemampuan dasar. Bagi para teknolog Zopa, ini merupakan kesempatan langka untuk membangun lapisan kecerdasan yang benar-benar baru, pada tingkat yang akan mendefinisikan ulang industri ini," ungkapnya, seperti dikutip AI News (27/8/2025).
Revolusi AI di Sektor Perbankan
Laporan Zopa dan Juniper Research mengungkapkan bahwa dampak AI yang paling dramatis terjadi di balik layar. Ada 82% dari seluruh waktu yang dihemat melalui teknologi ini, yang berjumlah 154 juta jam pada tahun 2030, akan berasal dari operasi back-office.
AI diharapkan dapat mengotomatiskan sebagian besar pekerjaan keuangan penting, membantu berbagai hal mulai dari pemeriksaan Know Your Customer (KYC) hingga pemantauan anti pencucian uang (AML).
Dengan kehadiran AI, proyeksi penghematan biaya di area tersebut diprediksi mencapai £923 juta atau sekitar US$1,25 miliar per tahun pada akhir dekade ini, mewakili lebih dari separuh total penghematan di seluruh sektor.
Kemampuan AI untuk mendeteksi pola penipuan baru secara real-time dan mengurangi kesalahan manusia menjadi kebutuhan kompetitif dan finansial.
Dampak AI Pada Pekerjaan Perbankan
Penelitian ini juga memproyeksikan bahwa 27.000 peran dapat tergantikan oleh AI pada tahun 2030. Posisi layanan pelanggan dan back-office diperkirakan akan menanggung beban perubahan ini, dengan masing-masing hampir 14.000 dan 10.000 pekerjaan terancam.
Secara khusus, para peneliti menjelaskan bahwa tergesernya peran manusia di bidang keuangan akan terjadi pada tugas-tugas manual yang berulang.
Bersamaan dengan itu, akan terbuka juga kesempatan bagi tenaga kerja perbankan untuk posisi-posisi baru yang berfokus pada tata kelola AI, strategi data, dan pengawasan sistem otomatis yang kompleks.
"Investasi (di bidang AI) membuka peluang sekali seumur hidup untuk meningkatkan keterampilan dan menata kembali tenaga kerja yang menggerakkan sistem keuangan kita," Katan Donlon.
Pada akhirnya, Donlon bertujuan untuk membekali bank, perusahaan fintech, regulator, dan pembuat kebijakan dengan wawasan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan AI, bukan menaruh reaksi negatif terhadapnya.
Kata Pejabat ECB: Serangan Trump terhadap Independensi The Fed Picu Risiko Global
Presiden Donald Trump yang semakin gencar menyerang The Fed AS dapat menimbulkan efek domino signifikan di pasar keuangan dan ekonomi riil global, kata anggota pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) Olli Rehn dalam pidatonya pada Kamis (28/8/2025).
Ketidakpastian terhadap bank sentral paling penting di dunia itu meningkat tahun ini setelah Trump berulang kali mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell dan pada Senin lalu mengumumkan pemecatan salah satu gubernurnya, Lisa Cook.
Independensi The Fed tetap menjadi prinsip tak tergoyahkan sejak 1980-an, kata gubernur bank sentral Finlandia itu.
“Namun sekarang, prinsip ini goyah dengan sangat buruk. Hal ini bisa menimbulkan efek domino yang substansial dan global, baik di pasar keuangan maupun ekonomi riil,” ujar Rehn.
Rehn menekankan bahwa Eropa sebaiknya mengambil langkah untuk meningkatkan kepercayaan global terhadap euro sebagai mata uang aman, guna mencegah erosi independensi bank sentral serupa terjadi di kawasan Eropa.
“Bukan kebetulan inflasi kawasan euro kini berada di target 2%, ini memang terkait dengan keputusan independen bank sentral,” tambahnya.
Meskipun pertumbuhan ekonomi kawasan euro terbukti lebih tangguh dari perkiraan, Rehn memprediksi inflasi jangka pendek akan melambat di bawah target 2%, akibat harga energi yang lebih murah, penguatan euro, dan perlambatan inflasi jasa.
“Di Dewan Gubernur ECB, kami memantau situasi ekonomi dengan cermat dan siap bertindak jika diperlukan,” tutup Rehn.
BoJ Pantau Ekonomi Jepang: Suku Bunga Bakal Naik?
Bank of Japan (BoJ) akan terus menaikkan suku bunga jika prospek aktivitas ekonomi dan harga terwujud.
Anggota dewan Junko Nakagawa mengatakan dalam sebuah pidato, pentingnya survei indeks manufaktur Jepang pada September mendatang, yang akan membantu menilai dampak negosiasi perdagangan global.
Seperti dikutip Tradingeconomics, Kamis (28/8), Nakagawa mencatat ketidakpastian yang tinggi tetap ada atas arah kebijakan perdagangan di masa depan dan dampaknya. Ia memperingatkan bahwa hal ini dapat meredam sentimen bisnis dan rumah tangga baik di Jepang maupun di luar negeri.
Sementara ekonomi Jepang telah pulih secara moderat, meskipun di beberapa area masih lemah. BoJ akan terus menilai data dengan cermat sebelum membuat keputusan kebijakan moneternya.
Nakagawa juga menandai potensi tekanan ke atas pada upah dan harga jual, tetapi memperingatkan bahwa jika perusahaan memprioritaskan pemotongan biaya daripada meneruskan kenaikan biaya yang didorong oleh tarif, momentum pertumbuhan upah dapat melemah. Pergeseran perilaku perusahaan menuju kenaikan upah dan harga akan diawasi dengan ketat.
Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga semakin menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengambil langkah yang tidak biasa dengan menegaskan bahwa BOJ tertinggal dalam upayanya melawan inflasi.
Tanda-tanda aktivitas ekonomi yang stabil dan pertumbuhan harga yang stabil memperkuat ekspektasi, membantu mendorong imbal hasil obligasi acuan Jepang bertenor 10 tahun ke level tertinggi dalam 17 tahun pada awal pekan ini.
Pada perdagangan Kamis (28/8), pasangan USD/JPY melemah 0,27% secara harian ke level 147,70.
Penjualan Mobil Baru di Eropa Naik 5,9% pada Juli 2025: Dominasi Tesla Tergeser BYD
Penjualan mobil baru di Eropa meningkat 5,9% pada Juli 2025, didorong oleh lonjakan penjualan di Jerman yang mampu menutupi penurunan di Inggris,
Prancis, dan Italia. Data ini dirilis oleh European Automobile Manufacturers Association (ACEA) pada Kamis (28/8).
Tesla Kehilangan Pangsa Pasar ke BYD
Meskipun penjualan kendaraan listrik (EV) secara keseluruhan naik tajam, Tesla kembali kehilangan pangsa pasar untuk bulan ketujuh berturut-turut. Penjualan Tesla anjlok 40,2%, membuat pangsa pasarnya menyusut menjadi 0,8% dari sebelumnya 1,4% pada Juli 2024.
Sebaliknya, BYD, produsen mobil listrik asal Tiongkok, untuk pertama kalinya masuk dalam data bulanan ACEA. Penjualannya melonjak 225,3%, sehingga mampu meraih 1,2% pangsa pasar, melampaui Tesla.
Tekanan bagi Produsen Eropa
Kondisi ini menambah tekanan bagi produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen dan Renault yang tengah berupaya meluncurkan model baru agar tetap kompetitif menghadapi serbuan merek Tiongkok di pasar EV.
Selain itu, para produsen harus tetap memenuhi regulasi ketat Uni Eropa terkait pengurangan emisi CO2, termasuk target netral karbon pada 2035. Namun, CEO ACEA, Ola Kaellenius, bersama beberapa eksekutif otomotif lain, menilai target tersebut sudah tidak realistis.
Dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, mereka menekankan risiko kerugian miliaran euro jika aturan tidak disesuaikan.
Sejumlah perusahaan otomotif besar di Eropa bahkan telah mencatatkan kerugian miliaran euro serta mengeluarkan peringatan laba, dengan beberapa di antaranya juga terdampak oleh tarif impor AS.
Data Penjualan Juli 2025
Menurut ACEA, total penjualan di Uni Eropa, Inggris, dan European Free Trade Association (EFTA) naik menjadi 1,09 juta unit pada Juli. Berikut detailnya:
Volkswagen: naik 11,6% (year-on-year)
Renault: naik 8,8%
Stellantis: turun 1,1%
Tesla: turun 40,2%, pangsa pasar 0,8%
BYD: naik 225,3%, pangsa pasar 1,2%
Sementara itu, total penjualan mobil di Uni Eropa meningkat 7,4%. Registrasi kendaraan berbasis listrik menunjukkan pertumbuhan pesat:
Battery Electric Vehicle (BEV): naik 39,1%
Hybrid Electric Vehicle (HEV): naik 56,9%
Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV): naik 14,3%
Ketiganya kini menyumbang 59,8% dari total registrasi mobil baru di UE, meningkat dari 51,1% pada Juli 2024.
Jerman Pimpin Pertumbuhan, Inggris dan Prancis Melemah
Secara negara, Jerman menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan 11,1%, sementara Inggris, Prancis, dan Italia mengalami penurunan masing-masing 5%, 7,7%, dan 5,1%.
Sebaliknya, beberapa negara lain mencatat pertumbuhan positif yang signifikan:
Spanyol: naik 17,1%
Polandia: naik 16,5%
Austria: naik 31,6%
Presiden Trump Ingin Miliarder Yahudi George Soros Dituntut Pidana
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyerukan agar miliarder Yahudi George Soros dan putranya yang beraliran "radikal kiri" dituntut secara pidana. Alasannya, menurut Trump, mereka memberikan dukungan terhadap protes kekerasan di seluruh Amerika Serikat. Soros, seorang penyintas Holocaust berusia 95 tahun, telah lama dianggap sebagai penjahat oleh Trump dan basis konservatifnya. Organisasi filantropisnya, Open Society Foundations, adalah salah satu penyandang dana terbesar di dunia untuk berbagai isu, termasuk hak asasi manusia, transparansi pemerintah, kesehatan masyarakat, dan pendidikan. Dalam sebuah unggahan di akun Truth Social miliknya pada hari Rabu, Trump mengeklaim bahwa George Soros dan putranya, Alexander Soros, harus dituntut berdasarkan Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act (RICO), sebuah undang-undang federal AS yang biasanya digunakan untuk mendakwa anggota kelompok kriminal. Baca Juga: Mengapa George Soros Lebih Berbahaya Dibandingkan Elon Musk? Menurut Trump, dukungan keluarga Soros terhadap protes kekerasan dan berbagai aksi lainnya di seluruh AS menjadi dasar untuk tuduhan tersebut. Dia menyatakan bahwa miliarder Yahudi tersebut tidak akan lagi diizinkan untuk "memecah belah Amerika". "George Soros, dan putranya yang berhaluan kiri radikal yang hebat, harus didakwa dengan RICO karena dukungan mereka terhadap protes kekerasan, dan banyak lagi, di seluruh Amerika Serikat," tulis Trump, yang dikutip Reuters, Kamis (28/8/2025). "Itu termasuk teman-teman gila-nya di Pantai Barat. Hati-hati, kami mengawasimu!" lanjut Trump. Meskipun Trump tidak merinci protes kekerasan mana yang dia maksud, pernyataannya muncul setelah demonstrasi besar-besaran musim panas ini. Pada bulan Juni, protes terhadap penggerebekan imigrasi federal di Los Angeles meningkat menjadi kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran, disertai bentrokan dengan polisi, yang menyebabkan ratusan penangkapan dan pengerahan ribuan pasukan Garda Nasional. Sementara itu, pihak Open Society Foundations (OSF) mengecam komentar Trump. "Tuduhan-tuduhan ini keterlaluan dan salah. Open Society Foundations tidak mendukung atau mendanai protes kekerasan," kata yayasan tersebut melalui juru bicaranya. "Misi kami adalah memajukan hak asasi manusia, keadilan, dan prinsip-prinsip demokrasi di dalam negeri dan di seluruh dunia," imbuhnya. Nama Soros baru-baru juga ini muncul kembali sehubungan dengan kampanye hitam "Russiagate" tahun 2016. Awal bulan ini, Komite Kehakiman Senat AS merilis laporan yang menuduh OSF terkait dengan upaya tim kampanye Hillary Clinton untuk mempromosikan klaim kolusi antara Trump dan Rusia yang telah dibantah
Profil Lisa Cook, Gubernur The Fed yang Tuntut Donald Trump karena Dipecat dari Jabatannya
Sebelum menjadi incaran Presiden Donald Trump , Gubernur Dewan Federal Reserve, Lisa Cook, menerbitkan penelitian yang berfokus pada ras dan ketidaksetaraan serta mengadvokasi perempuan kulit hitam lainnya di bidang ekonomi. Trump pada hari Senin mengatakan ia bermaksud memecat Cook, yang pada tahun 2022 dikukuhkan sebagai perempuan kulit hitam pertama yang menjabat di Dewan Federal Reserve independen, yang menetapkan kebijakan moneter AS dan mengatur pasar keuangan. Profil Lisa Cook, Gubernur The Fed yang Tuntut Donald Trump karena Dipecat dari Jabatannya 1. Berani Melawan Trump Melansir 19thnews, lebih dari 100 orang telah menjabat sebagai gubernur di Dewan Federal Reserve yang beranggotakan tujuh orang sejak didirikan pada tahun 1913. Pengacara Cook, Abbe Lowell, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan mengajukan gugatan yang menentang upaya Trump untuk memecatnya. Langkah Trump ini merupakan eskalasi terbaru dan paling drastis dalam upayanya untuk menekan Federal Reserve agar menurunkan suku bunga. Trump juga secara agresif menargetkan Ketua Dewan Federal Reserve, Jerome Powell, yang pekan lalu mengindikasikan bahwa dewan dapat memangkas suku bunga pada rapat mendatang pada 16 September. Dalam suratnya yang memberhentikan Cook, Trump mengutip tuduhan bahwa Cook terlibat dalam "tindakan curang dan berpotensi kriminal" berupa penipuan hipotek dengan mencantumkan dua tempat tinggal sebagai tempat tinggal utamanya pada aplikasi pinjaman. Cook belum didakwa atau dihukum atas kesalahan apa pun terkait tuduhan tersebut, yang berkaitan dengan aplikasi yang ia ajukan sebelum bertugas di Federal Reserve. Sekutu Trump telah melontarkan tuduhan serupa terhadap lawan politik lainnya, termasuk Jaksa Agung New York Letitia James dan Senator Adam Schiff dari California. Seorang presiden hanya dapat memecat anggota Dewan Gubernur karena "alasan", yang telah ditafsirkan merujuk pada pelanggaran berat selama menjabat. Dalam pernyataan Senin yang dikeluarkan melalui Lowell, Cook mengatakan ia tidak akan mundur dan "tidak ada alasan" bagi Trump untuk mencoba memecatnya. "Saya tidak akan mengundurkan diri," katanya. "Saya akan terus menjalankan tugas saya untuk membantu perekonomian Amerika seperti yang telah saya lakukan sejak 2022." Baca Juga: AS Dukung Pasukan NATO Dikirim ke Ukraina 2. Fokus Ekonomi Internasional Melansir 19thnews, sebagian besar penelitian ekonomi Cook berfokus pada ekonomi internasional, khususnya ekonomi Rusia dan Nigeria pasca-Soviet, dan pada isu ras di Amerika, termasuk dampak hukuman gantung massal dan segregasi serta sejarah inovasi warga kulit hitam. Salah satu makalahnya yang paling terkenal menemukan bahwa hukuman gantung massal yang kejam terhadap warga kulit hitam Amerika antara tahun 1870 dan 1940 mengurangi jumlah paten yang diberikan kepada penemu kulit hitam. Cook telah menulis dan ikut menulis makalah penelitian dan artikel lainnya tentang hubungan antara segregasi dan hukuman gantung massal, konsekuensi kematian dari nama-nama yang khas kulit hitam, serta penyebab dan konsekuensi dari disparitas gender dan ras saat ini dalam inovasi dan pengajuan paten. 3. Seorang Profesor Ekonomi Sebelum Presiden Joe Biden saat itu mengangkatnya ke Federal Reserve, Cook adalah seorang profesor ekonomi dan hubungan internasional di Michigan State University. Ia bertugas di Dewan Penasihat Ekonomi pada masa pemerintahan Obama dan di Kantor Urusan Internasional Departemen Keuangan dari tahun 2000 hingga 2001. Ia kuliah di Spelman College, sebuah perguruan tinggi perempuan kulit hitam yang bersejarah, dan Universitas Oxford sebagai penerima beasiswa Marshall, kemudian meraih gelar Ph.D. di bidang ekonomi dari Universitas California, Berkeley. 3. Terinspirasi Martin Luther King “Saya menghabiskan masa kecil saya di Milledgeville, Georgia, di tengah pedesaan di Selatan yang sedang mengalami desegregasi,” ujarnya dalam sidang pencalonan kongres tahun 2023 untuk masa jabatan penuh di Dewan Gubernur. “Dedikasi saya terhadap pelayanan publik diperkuat dengan mengamati keberanian dan tekad almarhum orang tua saya dan anggota keluarga saya lainnya. Kami berdiri bersama teman-teman dan tetangga yang namanya tidak pernah tercatat, dan yang lainnya, seperti Pendeta Dr. Martin Luther King, Jr., yang kenangannya terukir dalam sejarah bangsa kita.” 4. Mengadvokasi Perempuan Kulit Hitam Cook juga mengadvokasi perempuan dan warga kulit berwarna di bidang ekonomi, termasuk dalam perannya sebagai pengarah Program Pelatihan Musim Panas Asosiasi Ekonomi Amerika dari tahun 2018 hingga 2021. Perempuan kulit hitam sangat kurang terwakili dalam profesi ekonomi yang didominasi kulit putih dan laki-laki, yang pada gilirannya menyebabkan kurangnya representasi di badan-badan pengambil keputusan seperti Federal Reserve. Pada tahun 2019, Cook, yang saat itu masih mahasiswa pra-doktoral, menerbitkan opini di New York Times yang menyoroti hambatan yang dihadapi perempuan kulit hitam di bidang ekonomi, termasuk diskriminasi, pelecehan, dan ketidaksetaraan dalam sitasi publikasi. Opoku-Agyeman, seorang mahasiswa doktoral di Harvard Kennedy School, kemudian ikut mendirikan Sadie Collective, sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan jalur karier bagi perempuan kulit hitam di bidang ekonomi dan bidang terkait. Organisasi ini dinamai Dr. Sadie T.M. Alexander, yang pada tahun 1921 menjadi perempuan kulit hitam pertama yang meraih gelar Ph.D. di bidang ekonomi. Alexander, tulis mereka dalam opini tersebut, "beralih ke hukum karena rasisme dan seksisme yang dihadapinya. Seabad kemudian, pengalaman para ekonom perempuan kulit hitam sangat mirip." Anggota Kongres dari Partai Demokrat dan para advokat dengan cepat mengutuk langkah Trump untuk memecat Cook, yang terbaru dari serangkaian perempuan kulit hitam terkemuka yang dikritik oleh pemerintah. 5. Perempuan Kulita Hitam Pertama yang Menjabat Gubernur The Fed "Lisa Cook adalah perempuan kulit hitam pertama yang pernah menjabat di Dewan Gubernur Federal Reserve," ujar Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries dalam sebuah pernyataan. "Donald Trump berusaha menyingkirkannya tanpa bukti kredibel sedikit pun bahwa ia telah melakukan kesalahan." Fatima Goss Graves, presiden dan CEO National Women's Law Center, mengatakan upaya Trump untuk memecat Cook merupakan "bukti lebih lanjut dari strateginya untuk secara ilegal membubarkan badan independen secara politik yang tidak dapat ia kendalikan." "Berkali-kali, presiden telah menargetkan para pemimpin perempuan kulit hitam dan mencoba menyingkirkan mereka dari posisi kekuasaan," katanya. "Ketika harga terus naik dan dukungan publik menurun, Trump mencoba mengalihkan perhatian bangsa dari kegagalannya dengan menyingkirkan para ahli dan menggantinya dengan loyalis politik yang akan secara membabi buta menjalankan agenda destruktifnya, berapa pun biayanya bagi bangsa kita dan bagi keluarga pekerja."