News Komoditi & Global ( Kamis, 30 April 2026 )

News  Komoditi & Global  ( Kamis,   30 April 2026  )
Harga Emas Global Menguat,  didorong oleh Pelemahan Dolar AS

Harga emas dunia kembali menguat pada Kamis (30/4/2026), bangkit dari level terendah dalam satu bulan yang tercapai pada sesi sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar AS, meskipun tekanan dari tingginya harga minyak masih membayangi prospek inflasi dan suku bunga.
Melansir Reuters, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$4.566,73 per ons pada pukul 01.05 GMT, setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak 31 Maret.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni naik 0,4% menjadi US$4.578,50 per ons.
Pelemahan dolar AS membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$119 per barel.
Kondisi ini dipicu kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Tingginya harga energi memperkuat kekhawatiran inflasi, yang berpotensi membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama (higher for longer).
Sebelumnya, bank sentral AS menahan suku bunga acuan dalam keputusan terbaru, namun dengan perpecahan internal terbesar sejak 1992 dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Selain itu, proses transisi kepemimpinan bank sentral AS juga menjadi perhatian pasar, setelah kandidat Ketua The Fed berikutnya mulai melewati tahapan penting di Senat.
Dari sisi fundamental, permintaan emas global pada kuartal I-2026 meningkat 2% secara tahunan menjadi 1.230,9 metrik ton, menurut World Gold Council.
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan pembelian emas batangan dan koin, serta peningkatan pembelian oleh bank sentral sebesar 3%.
Kenaikan tersebut berhasil mengimbangi penurunan permintaan perhiasan yang turun 23%.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga menguat: perak naik 1% menjadi US$72,18 per ons, platinum menguat 1,7% ke US$1.911, dan palladium naik 0,9% menjadi US$1.470,40.
Dengan kombinasi pelemahan dolar, ketidakpastian geopolitik, dan kekhawatiran inflasi, harga emas diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat.


Harga Minyak Dunia Naik, Terdorong Potensi Berlanjutnya Perang Iran

 Harga minyak naik pada perdagangan Kamis (30/4/2026) pagi. Pukul 07.33 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 106,98 per barel, naik 0,07% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 106,88 per barel.
Harga minyak naik terdorong oleh tanda-tanda berlanjutnya perang Iran dan memperpanjang penutupan Selat Hormuz yang mengguncang pasar minyak global.
Mengutip Bloomberg, Pesiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dia tidak akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran sampai dia mengamankan kesepakatan nuklir dengan Teheran.
Sementara para pejabat Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.
Selat Hormuz praktis tertutup sejak perang dimulai akhir Februari, sehingga menghambat pergerakan barang dan jasa.
"Semakin lama selat ditutup, harga (komoditas) semakin tinggi kenaikannya," kata Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc seperti dikutip Bloomberg.
"Permainan menunggu dalam jangka panjang merupakan katalis bullish jangka pendek untuk minyak mentah, namun hal itu justru menjadi resep yang dibutuhkan untuk membawa konflik ini ke tahap akhir."


Wall Street Beragam Menjelang Pengumuman Laporan Pendapatan Perusahaan Teknologi Besa

 Indeks utama Wall Street ditutup beragam pada akhir perdagangan Rabu (29/4/2026) karena investor mempertimbangkan lonjakan harga minyak mentah, keputusan suku bunga Federal Reserve AS, dan empat pengumuman pendapatan perusahaan ternama yang dirilis setelah penutupan pasar.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,12 poin, atau 0,57% ke level 48.861,81, S&P 500 kehilangan 2,82 poin, atau 0,04% ke level 7.135,98 dan Nasdaq Composite naik 9,44 poin, atau 0,04% ke level 24.673,24.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, saham energi, yang diuntungkan dari lonjakan harga minyak mentah, memimpin kenaikan. Sektor utilitas dan material mencatat pelemahan terdalam.
Saham Robinhood Markets turun 13,2% setelah perusahaan pialang online tersebut gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal pertama.
Saham perusahaan penyimpanan data naik menyusul perkiraan kuartal keempat yang optimis dari Seagate Technology. Saham Seagate melonjak 11,1%, sementara pesaingnya, SanDisk dan Western Digital, masing-masing naik 6,2% dan 5,6%.
Saham Starbucks naik 8,5% setelah menaikkan perkiraan laba tahunannya.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 16,37 miliar saham, dengan rata-rata 17,81 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Tiga indeks saham utama AS bergejolak setelah pernyataan kebijakan Fed mengungkapkan bahwa keputusan untuk mempertahankan suku bunga adalah keputusan yang paling kontroversial sejak tahun 1992, bersamaan dengan ketidakpastian mengenai kenaikan harga energi akibat gejolak di Timur Tengah.
Kemungkinan besar ini adalah pertemuan kebijakan terakhir Fed di bawah kepemimpinan Powell.
Harga minyak mentah melonjak setelah Gedung Putih mengkonfirmasi laporan bahwa Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan para pejabat untuk bersiap menghadapi blokade berkepanjangan terhadap pelabuhan Iran, yang menunjukkan adanya tekanan pasokan yang berkelanjutan akibat pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz.
“Semakin lama konflik di Iran berlangsung dan harga energi tetap tinggi, serta ketidakpastian global tetap ada, akan ada ekspektasi bahwa hal itu akan berdampak pada kebiasaan pengeluaran, yang pada suatu titik dan tingkat tertentu akan terlihat pada putaran pendapatan perusahaan berikutnya,” kata Matthew Keator, mitra pengelola di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump telah bertemu dengan para pejabat tinggi dari Chevron dan perusahaan energi lainnya untuk membicarakan kemungkinan langkah-langkah untuk menenangkan pasar minyak jika blokade berkepanjangan terhadap pelabuhan Iran berlanjut selama berbulan-bulan.
Kenaikan harga energi telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi yang lebih luas, bahkan ketika Federal Reserve menyimpulkan apa yang mungkin merupakan pertemuan kebijakan terakhirnya di era Powell dengan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah, seperti yang diharapkan.
Empat perusahaan yang termasuk dalam kelompok tujuh besar perusahaan megacap terkait kecerdasan buatan, Amazon, Alphabet, Meta Platforms, dan Microsoft, merilis hasil kuartalan setelah penutupan pasar.
Dalam perdagangan lanjutan, saham Alphabet naik lebih dari 3%, Amazon dan Microsoft turun lebih dari 3%, dan Meta turun lebih dari 6%.
Indeks Semikonduktor SE Philadelphia naik 2,4%, setelah naik 45,0% sepanjang tahun ini.
"Tentu saja, angka-angka itu penting," tambah Keator.
"Tetapi ini bukan tentang apa yang mereka lakukan pada kuartal lalu, tetapi tentang apa yang mereka lihat ke depan dalam hal pengeluaran modal dan bagaimana AI dapat mempengaruhi model bisnis mereka."
Di bidang ekonomi, pesanan baru untuk barang modal inti, yang dianggap sebagai barometer rencana belanja modal perusahaan, melonjak 3,3% pada bulan Maret, peningkatan bulanan terbesar sejak Juni 2020.


Pernyataan Hasil FOMC The Fed (29 April 2026)


Pernyataan FOMC The Federal Reserve
Indikator-indikator terkini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi telah berkembang pada laju yang solid. Pertambahan lapangan kerja secara rata-rata masih terbatas, dan tingkat pengangguran tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi masih berada pada level yang tinggi, yang sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global belakangan ini.
Komite berupaya mencapai lapangan kerja maksimum dan inflasi pada tingkat 2 persen dalam jangka panjang. Perkembangan situasi di Timur Tengah berkontribusi pada tingginya ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. Komite memperhatikan risiko-risiko pada kedua sisi mandat gandanya.
Dalam rangka mendukung tujuan-tujuan tersebut, Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 3½ hingga 3¾ persen. Dalam mempertimbangkan sejauh mana dan kapan penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal akan dilakukan, Komite akan mengevaluasi secara cermat data-data yang masuk, perkembangan prospek ekonomi, serta keseimbangan risiko yang ada. Komite berkomitmen kuat untuk mendukung tercapainya lapangan kerja maksimum dan kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen.
Dalam menilai stance kebijakan moneter yang tepat, Komite akan terus memantau implikasi informasi yang masuk terhadap prospek ekonomi. Komite siap untuk menyesuaikan stance kebijakan moneter sebagaimana diperlukan apabila muncul risiko-risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan-tujuan Komite. Penilaian Komite akan mempertimbangkan berbagai informasi, termasuk data kondisi pasar tenaga kerja, tekanan inflasi dan ekspektasi inflasi, serta perkembangan keuangan dan internasional.
Yang memberikan suara mendukung tindakan kebijakan moneter ini adalah Jerome H. Powell, Ketua; John C. Williams, Wakil Ketua; Michael S. Barr; Michelle W. Bowman; Lisa D. Cook; Philip N. Jefferson; Anna Paulson; dan Christopher J. Waller. Yang memberikan suara menentang adalah Stephen I. Miran, yang lebih memilih untuk menurunkan kisaran target suku bunga dana federal sebesar ¼ poin persentase dalam pertemuan ini; serta Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan, yang mendukung untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal namun tidak mendukung pencantuman bias pelonggaran dalam pernyataan ini pada saat ini.
======
In english:

April 29, 2026
Federal Reserve issues FOMC statement
Recent indicators suggest that economic activity has been expanding at a solid pace. Job gains have remained low, on average, and the unemployment rate has been little changed in recent months. Inflation is elevated, in part reflecting the recent increase in global energy prices.
The Committee seeks to achieve maximum employment and inflation at the rate of 2 percent over the longer run. Developments in the Middle East are contributing to a high level of uncertainty about the economic outlook. The Committee is attentive to the risks to both sides of its dual mandate.
In support of its goals, the Committee decided to maintain the target range for the federal funds rate at 3 1/2 to 3 3/4 percent. In considering the extent and timing of additional adjustments to the target range for the federal funds rate, the Committee will carefully assess incoming data, the evolving outlook, and the balance of risks. The Committee is strongly committed to supporting maximum employment and returning inflation to its 2 percent objective.
In assessing the appropriate stance of monetary policy, the Committee will continue to monitor the implications of incoming information for the economic outlook. The Committee would be prepared to adjust the stance of monetary policy as appropriate if risks emerge that could impede the attainment of the Committee's goals. The Committee's assessments will take into account a wide range of information, including readings on labor market conditions, inflation pressures and inflation expectations, and financial and international developments.
Voting for the monetary policy action were Jerome H. Powell, Chair; John C. Williams, Vice Chair; Michael S. Barr; Michelle W. Bowman; Lisa D. Cook; Philip N. Jefferson; Anna Paulson; and Christopher J. Waller. Voting against this action were Stephen I. Miran, who preferred to lower the target range for the federal funds rate by 1/4 percentage point at this meeting; and Beth M. Hammack, Neel Kashkari, and Lorie K. Logan, who supported maintaining the target range for the federal funds rate but did not support inclusion of an easing bias in the statement at this time.


The Fed Tahan Suku Bunga, Inflasi Tinggi dan Perpecahan Internal Makin Dalam

Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu (29/4/2026), namun keputusan kali ini menjadi salah satu yang paling terbelah sejak 1992, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan.
Dalam pernyataan kebijakan terbarunya yang dikutip Reuters, The Fed mencatat meningkatnya tekanan inflasi yang sebagian dipicu kenaikan harga energi global.
Bank sentral juga menghapus bahasa sebelumnya yang menyebut inflasi hanya “sedikit tinggi”, dan menggantinya dengan penegasan bahwa inflasi kini “tinggi”.
 “Inflasi berada pada level tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global terbaru,” demikian pernyataan The Fed.
Bank sentral juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.
Keputusan suku bunga kali ini menghasilkan voting 8-4, menjadi yang paling terbelah sejak Oktober 1992.
Tiga pejabat menolak karena tidak setuju dengan masih digunakannya sinyal easing bias atau kecenderungan pelonggaran kebijakan.
Empat penentang tersebut terdiri dari Cleveland Fed President Beth Hammack, Minneapolis Fed President Neel Kashkari, Dallas Fed President Lorie Logan, serta satu pejabat lainnya yang justru mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ketiganya sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi menolak bahasa kebijakan yang mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga ke depan.
Dengan harga minyak global bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik Iran yang didukung AS, The Fed menghadapi dilema antara risiko perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi yang semakin kuat.
Dalam pernyataannya, The Fed juga menyebut tingkat pengangguran relatif stabil dan ekonomi AS masih tumbuh dengan laju solid.
Namun, ketidakpastian terkait dampak konflik terhadap harga energi membuat arah kebijakan moneter semakin sulit diprediksi.
Pernyataan kebijakan kali ini diperkirakan menjadi yang terakhir di bawah kepemimpinan Jerome Powell.
Di sisi lain, proses transisi menuju calon Ketua The Fed berikutnya, Kevin Warsh, semakin mendekati tahap akhir setelah Senat AS menyetujui pencalonannya di Komite Perbankan dengan suara 13-11.
Senat diperkirakan akan melakukan voting penuh pada bulan depan, dengan Warsh berpotensi menggantikan Powell setelah masa jabatannya berakhir pada 15 Mei.
Powell dijadwalkan memberikan konferensi pers untuk menjelaskan arah kebijakan lebih lanjut serta kemungkinan langkah suku bunga ke depan.
Ia juga diperkirakan akan mengklarifikasi apakah akan tetap bertahan sebagai gubernur The Fed hingga masa jabatannya berakhir pada 2028.
Risalah rapat The Fed Maret sebelumnya menunjukkan semakin banyak pejabat membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Hal ini memperkuat spekulasi bahwa arah kebijakan The Fed tidak lagi condong pada pelonggaran.
Sejak pertemuan Maret, inflasi menunjukkan tanda-tanda meningkat, terutama akibat harga energi global yang tinggi, yang dikhawatirkan dapat berubah dari guncangan sementara menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten.
Gubernur The Fed Stephen Miran kembali menjadi satu-satunya pihak yang mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.


Trump Bicara Lewat Telepon dengan Putin Selama 1,5 Jam, Ini yang Dibahas

 Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Rabu (29/4/2026) bahwa ia membahas kemungkinan gencatan senjata dalam perang Ukraina yang sudah berlangsung empat tahun, dalam percakapan via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Mengutip Reuters, Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah Kremlin melaporkan kedua pemimpin membahas rencana gencatan senjata sementara di Ukraina untuk memperingati ulang tahun berakhirnya Perang Dunia II bulan depan.
“Kami melakukan pembicaraan yang bagus, saya sudah mengenalnya sejak lama,” kata Trump.
Percakapan telepon terakhir yang dilaporkan secara terbuka antara keduanya terjadi pada 9 Maret, meski Trump mengindikasikan mereka sering berbicara secara rutin.
Trump, berbicara kepada wartawan saat bertemu para astronot misi Artemis II di Ruang Oval, mengatakan bahwa ia mengusulkan “gencatan senjata kecil” dalam perang Ukraina saat berbicara dengan Putin.
“Dan saya pikir dia mungkin akan melakukan itu,” kata Trump, sebelum menanyakan kepada wartawan apakah Putin sudah mengumumkan gencatan senjata tersebut.
Putin tahun lalu pernah mengumumkan gencatan senjata serupa yang berlangsung selama tiga hari, namun tidak disepakati oleh Kyiv.
Trump diketahui memiliki riwayat memberi komentar positif tentang Putin dan kerap mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy karena tidak menyetujui kesepakatan dengan Rusia untuk mengakhiri perang.
Trump juga mengatakan Putin menawarkan bantuan terkait isu uranium Iran yang diperkaya, yang menjadi hambatan utama dalam kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran.
Namun Trump mengatakan ia lebih memilih Putin terlibat dalam upaya mengakhiri perang Ukraina.
“Saya bilang, saya jauh lebih suka Anda terlibat untuk mengakhiri perang Ukraina,” ujar Trump.
“Saya bilang, sebelum Anda membantu saya, saya ingin mengakhiri perang Anda,” tambah Trump.
Ajudan Kremlin Yuri Ushakov tidak menyampaikan secara rinci proposal Putin mengenai Iran. Namun Rusia sebelumnya pernah menawarkan untuk membawa uranium yang diperkaya keluar dari Iran.
Ushakov mengatakan Putin mengusulkan gencatan senjata sementara di Ukraina selama perayaan 9 Mei untuk memperingati peran Uni Soviet dalam kekalahan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Ia menambahkan Trump merespons positif.
Ushakov juga mengatakan bahwa dalam pembicaraan yang disebut bersahabat dan bernuansa bisnis, yang berlangsung lebih dari 1,5 jam, Trump menyampaikan keyakinannya bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang Ukraina sudah dekat.


Taiwan Jadi “Taruhan Utama” di KTT Trump-Xi, Dunia Tahan Napas!

Bagi 23 juta warga Taiwan, pertemuan diplomatik paling menentukan pada 2026 bisa jadi justru pertemuan yang tidak melibatkan mereka.
Saat Presiden AS Donald Trump berkunjung ke Beijing bulan depan, Presiden China Xi Jinping telah menegaskan bahwa isu Taiwan akan menjadi agenda teratas dalam pembicaraan. Ini merupakan perubahan mencolok dibanding pertemuan Trump-Xi di Korea Selatan tahun lalu, ketika Xi sengaja mengesampingkan isu tersebut.
Reuters melaporkan, Taipei akan mencermati setiap sinyal apakah Trump, yang selama ini membuat sejumlah mitra AS resah karena pendekatan transaksional terhadap aliansi, berpotensi melunakkan atau mengubah framing kebijakan AS terkait Taiwan. Hal itu bisa terjadi jika China bersedia membeli pesawat AS atau produk pertanian, sekaligus meredakan tekanan ekonomi.
“Untuk Taiwan, logikanya sederhana: jika AS tidak ingin perang besar dengan China terkait Taiwan, maka AS seharusnya tidak mendukung kemerdekaan Taiwan,” kata Wu Xinbo, dekan Institute of International Studies Universitas Fudan, yang juga menjadi anggota dewan penasihat kebijakan Kementerian Luar Negeri China.
Wu mengatakan Trump tidak punya kepentingan untuk berperang dengan China. Karena itu, untuk menghindari konflik besar yang melibatkan AS, Trump seharusnya memperjelas bahwa ia tidak mendukung kemerdekaan Taiwan atau tindakan yang mendorong agenda separatis.
Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataannya menyebut Taiwan sebagai “inti dari inti kepentingan” China serta “dasar dari dasar politik hubungan China-AS”.
“‘Kemerdekaan Taiwan’ dan perdamaian di Selat Taiwan sama tidak mungkinnya seperti api dan air,” tambah pernyataan tersebut. China juga menyatakan pihaknya dan AS tetap berkomunikasi mengenai rencana kunjungan Trump.
Departemen Luar Negeri AS tidak merespons permintaan komentar.
AS menganut kebijakan “satu China” (one China policy), di mana Washington secara resmi tidak mengambil posisi terkait kedaulatan Taiwan dan hanya mengakui, namun tidak menerima, klaim China yang menyatakan Taiwan adalah bagian dari wilayahnya.
AS menyatakan “tidak mendukung” kemerdekaan Taiwan, namun akan membantu Taiwan mempertahankan kemampuan pertahanan diri.
Taiwan yang menjadi pusat industri semikonduktor dunia juga berada di titik kunci keseimbangan militer di Pasifik Barat. Karena itu, bahkan perubahan kecil dalam pernyataan resmi AS dapat memengaruhi penilaian Beijing mengenai keseriusan dukungan Washington terhadap Taiwan, kata para pakar.
Perubahan tersebut juga dapat mengguncang Taipei dan menimbulkan pertanyaan baru tentang komitmen keamanan AS di Asia.
Pejabat pemerintahan Trump berulang kali mengatakan tidak ada perubahan kebijakan terkait Taiwan, dan secara rutin mengecam tekanan China terhadap pulau tersebut.
Namun secara tertutup, mereka menekankan bahwa Trump telah menyetujui penjualan senjata ke Taiwan jauh lebih besar hanya dalam sedikit lebih dari satu tahun masa jabatan keduanya dibandingkan total penjualan yang dilakukan Presiden Joe Biden selama masa kepemimpinannya.
Pada pertemuan puncak dengan Biden pada 2024, Xi meminta agar AS mengubah bahasa kebijakan soal Taiwan menjadi “kami menentang kemerdekaan Taiwan”, dari versi saat ini.
AS menolak melakukan perubahan tersebut.
Orang-orang yang terlibat dalam persiapan kunjungan Trump mengatakan secara pribadi bahwa China terus mengirim sinyal serupa dalam pembahasan tingkat teknis menjelang KTT, namun menolak membahas detail karena sifatnya rahasia.
Pejabat Taiwan, yang pemerintahnya menolak klaim kedaulatan Beijing, kini dalam kondisi siaga tinggi.
“Kami akan mengamati apakah AS akan melakukan perubahan posisi terkait isu Selat Taiwan akibat pertemuan tersebut,” kata Shen Yu-chung, wakil menteri di Mainland Affairs Council Taiwan.
“Kami akan menggunakan sisa waktu yang ada untuk meningkatkan komunikasi kebijakan dengan AS,” tambahnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Hsiao Kuang-wei mengatakan pekan ini bahwa sejak Trump menjabat, pemerintahannya terus menegaskan kembali dukungannya untuk Taiwan.
China tidak pernah mencabut opsi penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan. Latihan perang terakhir dilakukan pada akhir Desember, menyusul pengumuman paket penjualan senjata AS senilai US$ 11 miliar untuk Taiwan, yang merupakan paket terbesar sepanjang sejarah.
China Pakai Strategi Wortel dan Tongkat
China menggunakan pendekatan kombinasi menjelang pertemuan itu: menawarkan “manfaat” perdagangan dan pariwisata untuk Taiwan, namun juga melakukan tekanan.
Pekan lalu, Taipei menuduh China menekan tiga negara Afrika untuk memblokir izin penerbangan lintas udara bagi Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam perjalanannya ke Eswatini, sehingga kunjungan itu batal. AS mengecam tindakan China tersebut.
Lai mengatakan Taiwan sudah merupakan negara merdeka bernama Republik China (nama resmi Taiwan). Namun Beijing memandang Lai sebagai pemimpin “separatis” dan tidak sah, yang mendorong Selat Taiwan ke ambang perang.
Diplomat tertinggi AS di Taiwan, Raymond Greene, memberikan jaminan publik bahwa komitmen AS, termasuk di bawah Taiwan Relations Act yang mewajibkan penjualan senjata, tetap “kokoh seperti batu”.
Mantan penasihat Trump, Robert O’Brien, mengatakan Trump tidak akan menjadi “presiden AS pertama yang kehilangan Taiwan”, karena itu bukan warisan yang diinginkan Trump.
Taruhannya bagi AS juga tinggi karena posisi strategis Taiwan. Washington disebut memanfaatkan secara diam-diam radar canggih dan pos penyadapan di pegunungan Taiwan untuk memantau China, menurut sumber keamanan.
“Apakah Amerika Serikat benar-benar ingin kehilangan salah satu lokasi terbaiknya untuk mengumpulkan intelijen tentang China?” kata seorang sumber keamanan Barat, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena isu sensitif.

Senat AS Setujui Proses Awal Calon Bos The Fed, Warsh Makin Dekat ke Kursi Powell

Kevin Warsh, calon pilihan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memimpin Federal Reserve (The Fed), berhasil melewati tahapan penting di Senat pada Rabu (29/4/2026).
Capaian ini membuka jalan bagi kemungkinan pergantian Jerome Powell dalam beberapa pekan ke depan, di tengah upaya Gedung Putih yang dinilai semakin agresif untuk memengaruhi kebijakan bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.
Komite Perbankan Senat menyetujui pencalonan Warsh untuk dibawa ke pleno Senat yang dikuasai Partai Republik.
Seluruh 13 anggota Partai Republik di komite mendukung pencalonan tersebut, setelah Senator Thom Tillis dari Carolina Utara mencabut penolakannya menyusul keputusan Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan kriminal terhadap Powell yang sebelumnya dinilai dapat mengancam independensi The Fed.
Sementara itu, 11 senator Demokrat menolak pencalonan Warsh. Mereka meragukan komitmennya untuk menjaga kebijakan moneter tetap independen dari tekanan politik Gedung Putih.
Pemungutan suara tersebut berlangsung saat Jerome Powell memimpin rapat kebijakan moneter yang diperkirakan menjadi yang terakhir baginya sebagai Ketua The Fed.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, di tengah inflasi yang masih tinggi serta tekanan harga akibat gangguan pasokan minyak global yang dipicu konflik Iran.
Tidak banyak keraguan bahwa Senat akan mengonfirmasi Warsh, seorang pengacara, investor, dan mantan gubernur The Fed berusia 56 tahun.
Ia dikenal telah menjanjikan “perubahan besar” di bank sentral dan disebut Trump sebagai sosok yang akan mendorong penurunan suku bunga sesuai keinginan presiden.
Pemungutan suara di tingkat Senat penuh diperkirakan paling cepat berlangsung pada pekan 11 Mei. Jika disetujui, Warsh dapat dilantik sekitar 15 Mei, bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan kepemimpinan Powell.
Namun, masih belum jelas apakah kenaikan Warsh akan otomatis mengakhiri posisi Powell di The Fed, atau apakah ia akan tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur.
Jika Powell memilih tetap bertahan, belum pasti apakah Presiden Trump akan melanjutkan ancaman untuk memecatnya, langkah yang kemungkinan besar akan memicu gugatan hukum.
Masa jabatan Powell sebagai anggota dewan sendiri masih berlangsung hingga Januari 2028. Secara tradisi, Ketua The Fed biasanya mengundurkan diri saat penggantinya sudah ditetapkan, namun Powell dikenal sangat menjunjung prosedur dan independensi institusi.
Powell sebelumnya menyatakan tidak akan meninggalkan The Fed sebelum penyelidikan kriminal terhadap dirinya diselesaikan secara tuntas, yang ia anggap sebagai bentuk tekanan politik dari pemerintahan Trump terkait kebijakan suku bunga.
Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Pirro pada Jumat lalu menyatakan pihaknya tidak akan ragu melanjutkan penyelidikan jika ditemukan fakta baru yang relevan.
Sementara itu, Senator Demokrat Elizabeth Warren dan Dick Durbin menilai pernyataan tersebut sebagai ancaman terhadap Powell maupun pejabat The Fed lainnya, yang berpotensi membuka ruang bagi penyelidikan tanpa dasar di masa depan.

Powell Mau Tak Angkat Kaki! The Fed Bersiap Hadapi Tekanan Trump


Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan pada Rabu (29/4/2026) bahwa ia akan tetap menjabat sebagai anggota dewan gubernur bank sentral AS untuk waktu yang belum ditentukan setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir bulan depan. Langkah ini dilakukan di tengah harapan bahwa serangan politik terhadap institusi tersebut akan mulai mereda.
“Setelah masa jabatan saya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei, saya akan tetap melanjutkan tugas sebagai dewan gubernur untuk periode yang akan ditentukan,” kata Powell dalam konferensi pers setelah rapat kebijakan terakhirnya sebagai ketua seperti yang dilansir Reuters.
Powell mengatakan ia tidak berniat menjadi tokoh oposisi yang menonjol di internal The Fed.
“Saya tidak ingin menjadi ... pembangkang berprofil tinggi atau semacamnya,” ujar Powell.
Namun ia menegaskan ingin memastikan situasi politik yang memicu serangan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap bank sentral telah “mereda”, sehingga The Fed dapat kembali fokus pada misi utamanya.
Powell pada dasarnya mengulang komitmen yang pernah ia sampaikan setelah rapat kebijakan 17-18 Maret lalu, saat bank sentral masih berada dalam pusaran berbagai tantangan hukum dari pemerintahan Trump.
“Saya khawatir serangan-serangan ini sedang menghantam institusi dan mempertaruhkan hal yang benar-benar penting bagi publik, yaitu kemampuan menjalankan kebijakan moneter tanpa mempertimbangkan faktor politik,” kata Powell kepada wartawan.
Sejak rapat tersebut, sebagian ketidakpastian hukum mulai mereda. Perubahan terbesar datang dari Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Pirro, yang pada Jumat tampaknya mengakhiri penyelidikan pidana Departemen Kehakiman AS terkait pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed di Washington.
Powell sempat melawan penyelidikan itu pada Januari dan menyebut investigasi tersebut sebagai bentuk “hukuman” karena ia tidak menuruti tuntutan Presiden Donald Trump yang menginginkan pemangkasan suku bunga besar-besaran.
Dalam menutup penyelidikan, Pirro menyerahkan kasus tersebut pada investigasi yang masih berjalan oleh Inspektur Jenderal The Fed, lembaga pengawas internal bank sentral.
Langkah itu membuka jalan bagi Komite Perbankan Senat untuk melanjutkan proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed yang akan menggantikan Powell pada 15 Mei. Komite tersebut diperkirakan akan meloloskan nominasi Warsh pada Rabu untuk kemudian dibawa ke pemungutan suara penuh di Senat.
Powell mengatakan Departemen Kehakiman telah memberikan “jaminan” bahwa penyelidikan itu pada dasarnya sudah selesai. Namun ia juga mencatat Pirro menyatakan ia “tidak akan ragu untuk memulai kembali penyelidikan”.
Meski demikian, Powell mengatakan ia terdorong oleh perkembangan terbaru dan akan memantau proses selanjutnya dengan cermat.
Masa jabatan Powell sebagai dewan gubernur The Fed sendiri berlaku hingga Januari 2028. Dengan tetap berada di Dewan Gubernur, Powell berpotensi membangun koalisi dengan pembuat kebijakan lain untuk menahan tekanan lanjutan dari Trump dan para pendukungnya.
Warsh, yang dinominasikan oleh Trump, selama ini dikenal sebagai pengkritik keras The Fed. Ia juga disebut telah menarik kembali sikap hawkish (cenderung pro-suku bunga tinggi) yang selama ini melekat padanya, dan kini lebih mendukung pemangkasan suku bunga seperti yang diinginkan Trump.
Perubahan sikap tersebut memunculkan pertanyaan tentang kesediaannya mempertahankan independensi bank sentral di masa depan.
“Keputusan Powell tetap bertahan sebagai gubernur meningkatkan peluang independensi bank sentral bisa bertahan di era populisme ekonomi dan politik,” kata Joseph Brusuelas, ekonom utama di konsultan RSM US LP.
Ekonom Capital Economics untuk Amerika Utara Thomas Ryan menilai keberadaan Powell juga bisa memengaruhi arah kebijakan moneter. Ia menyebut Gubernur Stephen Miran, yang selama ini sangat mendukung pemangkasan suku bunga, kemungkinan harus keluar.
Ryan mengatakan Powell dapat membuat komposisi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menjadi lebih hawkish dan memperumit tugas Warsh yang sudah sulit untuk memberikan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam wawancara di Fox Business Network, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan keberatan atas keputusan Powell.
“Ini pelanggaran terhadap semua norma Federal Reserve,” kata Bessent.
Ia juga menyebut langkah Powell sebagai penghinaan bagi Warsh serta pejabat lain seperti Michelle Bowman dan Christopher Waller.
Menurut Bessent, pernyataan bahwa Powell seorang diri bisa menjaga integritas The Fed menunjukkan seolah-olah pejabat lain tidak peduli pada institusi tersebut.
Para Demokrat teratas di Komite Perbankan Senat memperingatkan bahwa The Fed belum sepenuhnya aman dari ancaman hukum karena sikap Pirro masih “membuka pintu lebar” untuk penyelidikan pidana kembali dilanjutkan. Mereka juga menilai tidak ada jaminan investigasi tanpa dasar serupa tidak akan terjadi lagi di masa depan demi kepentingan politik.
Selain itu, upaya Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook juga belum selesai dan kini berada di tangan Mahkamah Agung AS. Jika Trump menang, hal itu dapat membahayakan pejabat-pejabat The Fed lain yang menjadi target presiden.
Belum jelas kapan Inspektur Jenderal The Fed akan menyampaikan hasil penyelidikannya, yang diminta Powell sejak musim panas tahun lalu. Senator Republik Tim Scott, ketua komite perbankan, telah mengundang inspektur jenderal untuk menyampaikan temuan dalam waktu tiga bulan.
Trump dikenal sebagai pengkritik keras The Fed selama dua periode pemerintahannya, namun aksinya sejak kembali menjabat tahun lalu dinilai jauh lebih agresif.
Trump, yang menunjuk Powell menjadi ketua The Fed pada akhir 2017, berulang kali mengancam akan memecat Powell karena menolak menurunkan suku bunga sesuai permintaannya.
Powell menegaskan bahwa The Fed telah “dihantam” oleh serangan hukum.
“Kami sejauh ini berhasil,” kata Powell, tetapi ia menekankan bahwa semua ini “belum selesai.”


Ini Dampak Besar Hengkangnya UEA dari OPEC Menurut Goldman Sachs

Goldman Sachs pada Rabu (29/4/2026) menyatakan bahwa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari OPEC menimbulkan risiko kenaikan pasokan minyak yang lebih besar dalam jangka menengah, dibandingkan dampaknya dalam jangka pendek.
Reuters melaporkan, UEA menyatakan pada Selasa bahwa mereka akan keluar dari OPEC dan aliansi lebih luas OPEC+ mulai 1 Mei.
Langkah ini melemahkan kendali kelompok produsen tersebut atas pasokan minyak global, dan pada akhirnya bisa memberi Abu Dhabi ruang lebih besar untuk meningkatkan produksi setelah jalur ekspor dari Teluk kembali dibuka.
Goldman menyebut, keluarnya UEA terjadi setelah bertahun-tahun pembahasan mengenai kuota produksi UEA, serta dipicu oleh konteks geopolitik dan pasar minyak saat ini, termasuk situasi di mana UEA menghadapi serangan signifikan dari Iran, yang juga merupakan anggota OPEC namun dikecualikan dari kuota produksi.
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Rabu, seiring kebuntuan negosiasi AS-Iran membuat investor khawatir akan gangguan pasokan minyak Timur Tengah yang berkepanjangan.
Goldman menyatakan, penutupan efektif Selat Hormuz saat ini masih membatasi output UEA. Namun, keluarnya UEA dari OPEC menimbulkan risiko kenaikan terhadap skenario dasar Goldman, yang memproyeksikan produksi minyak mentah UEA pulih menjadi 3,8 juta barel per hari pada Oktober 2026, dibandingkan sekitar 3,6 juta barel per hari sebelum perang.
Goldman memperkirakan potensi produksi minyak mentah UEA dapat mencapai sedikit di atas 4,5 juta barel per hari pada Februari 2026.
Bank tersebut juga menyebut skenario dasarnya memperkirakan total kerugian produksi minyak mentah di kawasan Teluk mencapai 1,83 miliar barel hingga Desember 2026, sementara persediaan minyak global perlu kembali diisi setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
Selain itu, ADNOC selaku perusahaan minyak nasional UEA menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi 5 juta barel per hari pada 2027, tambah Goldman.

Perang AS di Iran Telan Biaya US$25 Miliar, Tekan Politik hingga Harga Energi

Perang Amerika Serikat (AS) di Iran telah menelan biaya sekitar US$25 miliar sejauh ini, menurut seorang pejabat senior Pentagon yang memberikan estimasi resmi pertama atas ongkos militer konflik tersebut pada Rabu (29/4/2026).
Melansir Reuters, Jules Hurst, yang saat ini menjalankan tugas sebagai comptroller, menyampaikan di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS bahwa sebagian besar biaya tersebut berasal dari pembelian amunisi.
Namun, ia tidak merinci komponen lain dalam estimasi tersebut, termasuk biaya perbaikan infrastruktur militer di kawasan Timur Tengah yang terdampak konflik.
Anggota DPR dari Partai Demokrat Adam Smith menyambut pernyataan tersebut dengan menyoroti kurangnya transparansi sebelumnya.
“Saya senang Anda menjawab pertanyaan itu, karena kami sudah lama menanyakan dan tidak ada yang memberikan angka,” ujarnya.
AS mulai melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Sejak itu, kedua pihak berada dalam kondisi gencatan senjata yang rapuh.
Pentagon juga mengerahkan puluhan ribu tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah, termasuk mempertahankan tiga kapal induk di wilayah tersebut.
Dalam konflik ini, 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka.
Gangguan pada rantai pasok minyak dan gas akibat perang turut mendorong kenaikan harga energi global, termasuk harga bensin di AS serta sejumlah komoditas pertanian seperti pupuk.
Kenaikan biaya hidup tersebut menjadi isu politik menjelang pemilu sela AS. Partai Demokrat memanfaatkan kondisi ini untuk mengkritik pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dinilai ikut terdampak penurunan popularitas akibat perang tersebut.
Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 34% warga Amerika yang menyetujui keterlibatan AS dalam konflik Iran, turun dari 36% pada pertengahan April dan 38% pada pertengahan Maret.
Dengan pemilu sela yang semakin dekat, perang Iran kini menjadi salah satu isu yang paling sensitif secara politik di Washington, sekaligus menambah tekanan terhadap pemerintah di tengah meningkatnya harga dan ketidakpastian ekonomi.

Trump Tekan Iran Segera Teken Kesepakatan, AS Siap Perpanjang Blokade Pelabuhan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Seruan ini muncul di tengah kebuntuan diplomatik serta laporan bahwa Washington berencana memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Rabu (29/4/2026), Trump menyatakan Iran perlu “bertindak lebih cerdas” dan segera menandatangani kesepakatan. Ia juga menegaskan kembali sikapnya bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS. Laporan itu menyebutkan bahwa Trump telah menginstruksikan timnya untuk menyiapkan perpanjangan blokade pelabuhan Iran sebagai upaya menekan pemerintah Teheran agar menyerah dalam negosiasi.
Menurut para pejabat, opsi memperketat tekanan ekonomi dan ekspor minyak melalui blokade dinilai lebih minim risiko dibandingkan melanjutkan serangan militer atau menarik diri sepenuhnya dari konflik.
"Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera bertindak lebih cerdas!" tulis Trump dalam unggahannya, tanpa merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud.
Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh menginginkan pengakuan dari AS atas haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan sipil. Saat ini, Iran dilaporkan memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60%, yang berpotensi digunakan untuk beberapa senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.
Pejabat Iran menyatakan negara tersebut mampu bertahan dari blokade dengan memanfaatkan jalur perdagangan alternatif. Selain itu, Teheran juga menegaskan konflik belum berakhir.
Ketegangan ini telah menewaskan ribuan orang, mengguncang pasar energi global, dan mengganggu jalur perdagangan internasional, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Iran mengajukan proposal terbaru untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung dua bulan, dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda hingga perang resmi berakhir dan masalah pelayaran terselesaikan. Namun, usulan ini tidak memenuhi tuntutan Trump yang ingin isu nuklir dibahas sejak awal.
Sementara itu, badan intelijen AS tengah mengkaji kemungkinan respons Iran jika Trump mendeklarasikan kemenangan sepihak dalam konflik yang kini menjadi beban politik domestik bagi Gedung Putih.
Situasi internal Iran turut berubah drastis setelah tewasnya Ali Khamenei pada hari pertama perang. Posisi pemimpin tertinggi kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang disebut memperkuat peran kelompok garis keras, khususnya Islamic Revolutionary Guard Corps.
Kondisi ini dinilai memperkeras posisi Iran dalam negosiasi, sekaligus mempersulit tercapainya solusi damai dalam waktu dekat.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya turun menjadi 34%, seiring meningkatnya ketidakpuasan terhadap biaya hidup dan konflik yang tidak populer.
Di pasar global, harga minyak melonjak hampir 3% dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Kekhawatiran atas perpanjangan blokade pelabuhan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi yang lebih lama.
Bahkan, World Bank memperkirakan harga energi global dapat melonjak hingga 24% pada 2026, mencapai level tertinggi sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, jika gangguan akibat konflik Iran terus berlanjut.
Harapan penyelesaian cepat semakin memudar setelah Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, ke Pakistan sebagai mediator.

Share this Post