News Komoditi & Global ( Rabu, 22 Juli 2026 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 22 Juli 2026 )
Harga Emas Global Naik , Investor Mencermati Risiko Kenaikan Inflasi
. Harga emas naik pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pagi. Pukul 07.43 WIB, harga emas untuk pengiriman Agustus 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 4.097,60 per ons troi, naik 0,52% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 4.076,40 per ons troi. Harga emas naik karena para pedagang memantau ancaman terhadap jalur pasokan energi yang berisiko memicu inflasi dan memberi tekanan kepada Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Mengutip Bloomberg, Presiden AS Donald Trump meremehkan prospek pembicaraan dengan Iran. Sementara Houthi di Yaman mengancam pelayaran di Laut Merah. Baca Juga: Harga Minyak Lanjut Menguat pada Rabu (22/7) Pagi, Risiko Pasokan Meluas Para pedagang emas mempertimbangkan kenaikan harga energi dibanding dengan data ekonomi AS yang lemah, sambil mencari petunjuk tentang arah suku bunga The Fed. "Harga emas sedang kesulitan menentukan arah. Pembelaian emas oleh bank sentral mendukung kenaikan harga, sementara ETF melepas emas karena kkhawatiran kenaikan suku bunga," kata analis Morgan Stanley, termasuk Amy Gower dalam sebuah catatan yang dikutip Bloomberg. Para analis memperkirakan harga emas mencapai US$ 4.450 per ons troi pada kuartal keempat.
Harga Minyak Dunia Lanjut Menguat, Risiko Pasokan Meluas
Harga minyak lanjut menguat pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pagi. Pukul 07.26 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 84,73 per barel, naik 0,46% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 84,34 per barel. Mengutip Bloomberg, harga minyak naik setelah Presiden AS Donald Trump meremehkan prospek pembicaraan jangka pendek dengan Iran, sambil mengancam serangan yang lebh luas. Risiko pasokan minyak global juga menyebar dari Timur Tengah ke Laut Hitam setelah Trump mengatakan akan menanggapi jika Houthi mengganggu pengiriman minyak lewat jalur Laut Merah. Baca Juga: Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat pada Rabu (22/7/2026), Ini Sentimen Pendorongnya Pada Selasa (21/7), Trump mengatakan Iran sangat ingin melakukan pertemuan, namun AS tidak tertarik. Tapi, Teheran menolak klaim bahwa mereka sedang berupaya melakukan pembicaraan dengan AS. "Menurut kami, harga minyak akan berada di kisaran US$ 80-US$ 90, tergantung pada perkembangan berita," ujar Jay Hatfield, kepala eksekutif Infrastructure Capital Management LLC. "Jika Laut Merah benar-benar ditutup, itu adalah ancaman. Kita belum pernah melihatnya. Itu bisa membuat harga naik melewati US$ 100." Ancaman Houthi terhadap lalu lintas maritim Arab Saudi mulai berdampak. Beberapa kapal tanker tampak berhenti sebentar saat mendekati perairan Yaman, sementara kapal-kapal lain yang membawa minyak dari Arab Saudi berbalik arah dan menuju Terusan Suez.
Wall Street Menguat Didukung Rebound Saham Chip, Investor Menanti Laporan Pendapatan
Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (21/7/2026). Reli tajam saham semikonduktor membantu mengalihkan fokus dari perang tarif terbaru di Timur Tengah. Sementara investor menantikan laporan pendapatan teknologi utama untuk mencari petunjuk tentang masa depan perdagangan AI. Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 385,38 poin, atau 0,74% ke level 52.224,64, S&P 500 naik 65,92 poin, atau 0,89% ke level 7.509,20 dan Nasdaq Composite naik 329,13 poin, atau 1,29% ke level 25.837,21. Di antara 11 sektor industri utama dalam indeks acuan, sembilan sektor naik, dipimpin kenaikan sektor teknologi informasi sebesar 2,35%. Indeks barang konsumsi pokok mencatat penurunan terdalam yakni 1%, diikuti oleh jasa komunikasi yang turun 0,85%. Sektor S&P 500 yang paling menonjol adalah saham Sandisk, naik 14,3%, Western Digital, naik 12,5%, dan Micron Technology, dengan kenaikan 12,2%. Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Rebound Saham Chip, Menantikan Laba Alphabet dan Intel Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 16,4 miliar saham, dengan rata-rata 19,56 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Rebound saham semikonduktor yang baru-baru ini terpukul memberikan dukungan besar bagi indeks saham utama AS dan Indeks Semikonduktor Philadelphia SE, yang ditutup naik 5,2% dalam kenaikan kedua berturut-turut setelah berakhir Jumat lebih dari 20% di bawah rekor tertinggi akhir Juni. "Investor benar-benar membeli kembali saham semikonduktor menjelang pengumuman pendapatan karena mereka takut ketinggalan (FOMO), bahwa perusahaan-perusahaan ini dapat melaporkan pendapatan yang jauh melampaui ekspektasi dan meningkatkan prospek mereka, dan mereka tidak memiliki saham sebanyak yang mereka miliki sebelum penurunan terakhir," kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di 248 Ventures di Charlotte, North Carolina. Namun Bell memperingatkan bahwa ketika saham melonjak tajam menjelang pengumuman pendapatan, "itu membuat lebih sulit bagi mereka untuk naik sebagai respons terhadap pendapatan." "Angka-angkanya akan sangat bagus, tetapi saham-saham tersebut juga dihargai terlalu tinggi," katanya. Indeks chip turun minggu lalu karena investor khawatir tentang valuasi yang tinggi dan investasi besar pada kecerdasan buatan. Tetapi bahkan setelah penurunan itu, indeks tersebut masih naik hampir 75% sejak awal tahun. Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Reli Saham Chip, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah Investor ekuitas tampaknya mengabaikan pengumuman Presiden Donald Trump tentang tarif 50% untuk berbagai impor dari Kanada pada hari Senin. Mereka juga mengabaikan geopolitik meskipun harga minyak naik 2% setelah mencapai level tertinggi dalam lima minggu. Hal ini terjadi setelah dua kapal tanker minyak yang membawa minyak mentah Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah setelah Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengancam akan memberlakukan blokade terhadap pengiriman komersial di sana. Trump mengatakan Amerika Serikat akan merespons jika Houthi benar-benar melakukannya. “Investor melihat (perang) ini sebagai sesuatu yang sementara karena kita tahu dua hal — bahwa harga minyak $100 adalah titik tekanan bagi Trump, dan kita juga tahu bahwa pemilihan paruh waktu akan segera datang,” kata Bell. Sementara itu, fokus mereka minggu ini akan beralih ke hasil dari Alphabet dan produsen chip Intel dan Texas Instruments. Di antara saham-saham individual, saham 3M melonjak 7,3% setelah raksasa industri tersebut menaikkan perkiraan laba setahun penuhnya. Saham Hasbro melonjak 8,8% setelah menaikkan perkiraan pendapatan dan laba tahunan, dengan bertaruh pada permintaan untuk produk game digital dan "Magic: The Gathering" mereka. Saham Danaher anjlok 11% dan menjadi yang paling merugi di S&P 500, setelah perusahaan ilmu hayati tersebut memangkas prospek pertumbuhan pendapatan intinya dan melaporkan pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan di bisnis bioteknologinya. Saham MSCI, yang merupakan saham dengan penurunan terbesar kedua dalam indeks acuan, anjlok 10% setelah penyedia indeks tersebut menaikkan perkiraan biaya operasional setahun penuh meskipun pendapatan kuartalannya lebih baik dari perkiraan.
Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp672 Triliun, Pentagon Minta Dana Darurat
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Selasa (21/7) menyampaikan bahwa biaya perang dengan Iran sudah menyentuh angka US$ 37,5 miliar atau setara Rp671,92 triliun. Angka tersebut disampaikan Hegseth saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS. Menurut Hegseth, nilai US$ 37,5 miliar mencakup biaya operasi militer yang telah berlangsung sekaligus proyeksi pengeluaran hingga 30 September 2026. Sebelumnya, seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa enam hari pertama perang saja diperkirakan telah menelan biaya sedikitnya US$ 11,3 miliar atau sekitar Rp202,47 triliun. Baca Juga: Trump Kenakan Tarif 50% untuk Produk Kanada, Picu Babak Baru Perang Dagang Trump Minta Tambahan Dana Presiden Donald Trump sebelumnya mengajukan permintaan kepada Kongres untuk menyetujui tambahan anggaran hampir US$ 90 miliar, atau sekitar Rp1.612,62 triliun. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk membiayai operasi militer di Iran. Sejak AS bersama Israel mulai melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, anggota Kongres dari Partai Republik maupun Demokrat sama-sama mengeluhkan minimnya informasi yang diberikan Gedung Putih mengenai perkembangan perang dan strategi berikutnya. Senator Patty Murray dari Partai Demokrat menilai pernyataan Presiden Trump justru meningkatkan risiko eskalasi konflik. "Presiden mengancam eskalasi dan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. Ia juga memberi kesan konflik ini dapat berubah menjadi perang tanpa akhir," kata Murray, dikutip Reuters. Baca Juga: AS Mulai Serangan Tarif Baru, Kenakan Bea Masuk 25% untuk Mayoritas Impor dari Brasil Pentagon Peringatkan Dampak ke Anggaran Militer Hegseth memperingatkan bahwa tanpa tambahan anggaran, Pentagon terpaksa memangkas sejumlah program latihan militer. Ia mengatakan perang yang berkepanjangan telah memberi tekanan besar terhadap anggaran pertahanan AS yang mendekati US$ 1 triliun. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, juga mengakui konflik tersebut berpotensi mengganggu anggaran pemeliharaan alutsista serta investasi kemampuan militer pada masa depan. Dalam sidang yang sama, Hegseth kembali meminta Kongres menyetujui usulan anggaran pertahanan sebesar US$ 1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. "Menurut saya, tidak mendanai Departemen Pertahanan sebesar US$ 1,5 triliun merupakan ancaman terbesar yang dihadapi negara kita," ujarnya. Baca Juga: Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel Gencatan Senjata Gagal Gencatan senjata antara AS dan Iran yang sempat tercapai pada awal Juli kembali runtuh. Sejak saat itu, kedua negara terus saling melancarkan serangan setiap hari. Pentagon mencatat jumlah tentara AS yang tewas telah mencapai 18 orang, sementara sekitar 430 personel mengalami luka-luka. Sebanyak 100 prajurit dilaporkan terluka sejak 7 Juli, tetapi Pentagon menyebut sekitar 96% dari mereka sudah kembali bertugas. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Trump juga mengancam akan memperluas sasaran serangan ke Iran, termasuk fasilitas energi, jembatan, Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran, hingga kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain yang diduga berkaitan dengan program nuklir.
Militer AS Rampungkan Gelombang Serangan ke-11 ke Iran, Sasar Infrastruktur Militer
Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan hari ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Dalam pernyataannya pada Selasa (21/7/2026), Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengatakan, serangan terbaru menyasar sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk pusat operasi militer, kemampuan maritim, hanggar pesawat, gudang penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer. Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Rabu (22/7) Pagi, Brent ke US$ 91,51 & WTI ke US$ 84,64 Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. CENTCOM juga mengklaim Iran telah menyerang lebih dari 30 kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz selama konflik berlangsung. "Serangan-serangan yang tidak beralasan tersebut telah membahayakan ratusan pelaut yang tidak bersalah dan merusak kebebasan bernavigasi," demikian pernyataan CENTCOM. Serangan terbaru ini menjadi bagian dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional serta pasokan energi global. Baca Juga: Yen Tembus 163 per Dolar AS, Pasar Waspadai Intervensi Bank Sentral Jepang Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak global dan mendorong kenaikan harga energi.
Trump Buka Opsi Mengizinkan Maskapai Penerbangan AS Terbang ke Lebanon
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia mengarahkan pemerintahannya untuk mengizinkan semua maskapai penerbangan AS terbang langsung ke Lebanon, setelah pertemuan dengan presiden negara itu, Joseph Aoun. Mengutip Reuters, Rabu (22/7/2026), Penerbangan AS ditangguhkan pada tahun 1985 setelah pembajakan Penerbangan TWA 847 dari Athena, Yunani, dalam perjalanan ke Roma, Italia, yang terpaksa mendarat di Beirut. Selama 17 hari kejadian tersebut, seorang penyelam Angkatan Laut AS dibunuh secara brutal. Baca Juga: Houthi Peringatkan Perusahaan Pelayaran untuk Hindari Pelabuhan Arab Saudi Trump memerintahkan Departemen Transportasi untuk mencabut larangan layanan penerbangan penumpang AS ke Venezuela pada bulan Januari setelah AS menangkap presiden negara itu, Nicolas Maduro, dalam operasi militer awal bulan itu. Layanan dilanjutkan pada akhir April setelah tujuh tahun, dengan penerbangan American Airlines dari Miami ke Caracas. Administrasi Penerbangan Federal dan Departemen Transportasi tidak segera memberikan komentar.
Pengadilan Kasus Nicolas Maduro di AS Diusulkan Digelar Mulai Juni 2027
Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan jaksa dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengusulkan agar persidangan pidana terhadap Maduro atas dakwaan perdagangan narkotika dimulai pada Juni 2027. Usulan bersama tersebut disampaikan melalui dokumen pengadilan yang diajukan pada Selasa (21/7/2026), menjelang sidang penjadwalan perkara yang akan digelar pada Rabu di Pengadilan Distrik Federal Manhattan, New York. Baca Juga: Yen Tembus 163 per Dolar AS, Menteri Keuangan Jepang Tegaskan Siap Bertindak Jadwal persidangan nantinya akan ditetapkan oleh Hakim Distrik AS Alvin Hellerstein, yang memimpin perkara tersebut. Dalam dokumen itu, kedua belah pihak juga menyatakan masih memungkinkan untuk mengajukan perubahan terhadap jadwal yang diusulkan. Kasus ini menjadi salah satu perkara pidana paling menyita perhatian dalam sejarah Amerika Serikat. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh Pasukan Khusus AS dalam operasi malam hari di Caracas pada Januari lalu dan kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkotika. Keduanya telah menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan. Baca Juga: Militer AS Rampungkan Gelombang Serangan ke-11 ke Iran, Sasar Infrastruktur Militer Berdasarkan usulan jadwal tersebut, tim kuasa hukum Maduro akan mengajukan rangkaian pertama permohonan hukum untuk meminta agar perkara dihentikan paling lambat 2 September 2026. Salah satu argumen yang diperkirakan akan diajukan adalah bahwa Maduro seharusnya memperoleh kekebalan hukum sebagai kepala negara berdaulat sehingga tidak dapat dituntut di pengadilan AS. Setelah jaksa menyerahkan bukti-bukti yang bersifat rahasia kepada tim pembela untuk dipelajari, Maduro dijadwalkan mengajukan rangkaian kedua permohonan hukum paling lambat 11 Januari 2027. Maduro, seorang politikus sosialis yang memimpin Venezuela sejak 2013 hingga penangkapannya pada Januari tahun ini, memiliki hubungan yang tegang dengan Washington selama masa pemerintahannya. Dalam sidang perdana pada 5 Januari, Maduro menyebut dirinya sebagai "tawanan perang". Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Rabu (22/7) Pagi, Brent ke US$ 91,51 & WTI ke US$ 84,64 Selama bertahun-tahun, ia menuduh Amerika Serikat berupaya menggulingkannya demi memperoleh kendali yang lebih besar atas cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Sebaliknya, pemerintah AS menilai Maduro sebagai pemimpin yang korup dan otoriter. Washington menuduh kebijakan ekonominya menyebabkan kehancuran ekonomi Venezuela, serta menuding Maduro melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden tahun 2018 dan 2024. Amerika Serikat juga telah berhenti mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela sejak 2019. Sejak dibawa ke Amerika Serikat pada Januari lalu, Maduro dan Flores ditahan di sebuah penjara federal di Brooklyn sambil menunggu proses hukum berlangsung.
Yen Tembus 163 per Dolar AS, Menteri Keuangan Jepang Tegaskan Siap Bertindak
Pemerintah Jepang menegaskan siap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing apabila diperlukan, setelah nilai tukar yen melemah hingga menembus level 163 per dolar Amerika Serikat (AS), level terendah dalam hampir 40 tahun. Melansir Reuters, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Rabu (22/7/2026) mengatakan, sikap pemerintah tidak berubah terkait upaya menjaga stabilitas nilai tukar. Baca Juga: Militer AS Rampungkan Gelombang Serangan ke-11 ke Iran, Sasar Infrastruktur Militer "Sikap kami sama sekali tidak berubah. Jika diperlukan, kami akan mengambil tindakan tegas secara tepat dan kapan saja," ujar Katayama kepada wartawan di Kementerian Keuangan Jepang. Meski demikian, Katayama menolak memberikan komentar mengenai level nilai tukar tertentu. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kurs dolar AS terhadap yen menembus 163 yen per dolar, level tertinggi sejak 1986. Sementara itu, diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, tidak memberikan komentar saat ditemui wartawan di Kementerian Keuangan pada hari yang sama. Pelemahan yen terjadi seiring penguatan dolar AS secara luas di pasar global. Dolar mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah gelombang terbaru serangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran bahwa inflasi global kembali meningkat. Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Rabu (22/7) Pagi, Brent ke US$ 91,51 & WTI ke US$ 84,64 Pelaku pasar kini mencermati kemungkinan pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang yen. Sebelumnya, Tokyo telah melakukan intervensi pada April dan Mei ketika nilai tukar yen melemah hingga melampaui 160 yen per dolar AS. Langkah tersebut sempat memberikan dukungan sementara terhadap mata uang Jepang, meski dampaknya kemudian memudar seiring berlanjutnya penguatan dolar AS.
AS dan China Dijadwalkan Gelar Dialog AI pada September
Amerika Serikat (AS) dan China dijadwalkan menggelar dialog resmi mengenai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada September mendatang. Pertemuan ini menjadi langkah penting di tengah meningkatnya persaingan kedua negara dalam pengembangan teknologi AI. Baca Juga: Euforia Juara Dunia, Timnas Spanyol Disambut Meriah di Madrid Mengutip Reuters, Selasa (21/7), lima sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan pembicaraan kemungkinan berlangsung sebelum kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 24 September. Meski demikian, tanggal pelaksanaan dialog masih belum ditetapkan. Pertemuan tersebut merupakan salah satu hasil penting dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping pada Mei lalu. Di pihak AS, dialog diperkirakan akan dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, menurut empat sumber Reuters. Sementara itu, lokasi pertemuan, agenda pembahasan, serta daftar peserta dari kedua negara masih terus dimatangkan karena persiapan masih berada pada tahap awal. Baik Gedung Putih, Departemen Luar Negeri AS, maupun Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Pemerintah China, termasuk Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), regulator dunia maya, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negeri, serta Dewan Negara juga belum memberikan komentar. Baca Juga: Fabio Quartararo Tinggalkan Yamaha, Gabung Honda Mulai MotoGP 2027 Bahas AI untuk militer hingga keamanan siber Sebagai dua kekuatan ekonomi dan militer terbesar dunia, AS dan China semakin mencermati perkembangan AI masing-masing di tengah perlombaan global mengembangkan model AI paling canggih. Kedua negara tengah mempertimbangkan bagaimana mengatur penggunaan model AI mutakhir yang berpotensi meningkatkan kemampuan militer, memfasilitasi serangan siber terhadap infrastruktur penting, hingga mengganggu pasar tenaga kerja. Dialog September nanti akan menjadi pembicaraan resmi pertama mengenai AI antara AS dan China pada pemerintahan Donald Trump. Sebelumnya, pada masa Presiden Joe Biden, kedua negara sempat menyepakati bahwa keputusan terkait penggunaan senjata nuklir harus tetap berada di tangan manusia, bukan AI, setelah pembicaraan tingkat teknis di Jenewa pada 2024. Baca Juga: FIFA Investigasi Bentrokan Pemain Usai Final Dramatis Spanyol vs Argentina Pembatasan AI jadi agenda utama Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah membatasi ekspor chip AI paling canggih ke China. Media Axios juga melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan pembatasan penggunaan model AI open-weight asal China oleh perusahaan-perusahaan AS, menyusul pesatnya perkembangan teknologi AI China. Di sisi lain, pemerintah China juga dikabarkan tengah mengkaji pembatasan akses luar negeri terhadap model AI paling canggih buatan negaranya. Menurut para analis, Beijing diperkirakan akan membawa sejumlah isu utama dalam dialog nanti, termasuk membahas model AI Mythos milik perusahaan AI AS Anthropic, mekanisme pengendalian peluncuran model AI generasi berikutnya oleh AS, serta kemungkinan pembatasan terhadap model AI open-weight asal China. Sementara itu, pemerintahan Trump juga sedang berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan AI di AS mengenai penyusunan standar keselamatan sukarela untuk peluncuran model AI baru, meskipun hingga kini belum mengumumkan regulasi resmi. Baca Juga: Wacana Piala Dunia 64 Tim Berpotensi Ubah Peta Ekonomi Sepak Bola Dunia Salah satu sumber Reuters mengatakan China lebih menginginkan dialog yang bersifat teknis dan substantif mengenai AI, bukan pembicaraan yang bernuansa politik. Paul Triolo, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group, menilai pertemuan pertama tersebut kemungkinan belum menghasilkan terobosan besar. "Saya kira mereka akan mencoba menyepakati beberapa definisi dasar, misalnya mengenai apa yang dimaksud dengan model AI frontier," ujarnya.
Krisis Timur Tengah Bayangi Pertemuan ASEAN, Ketegangan Laut China Selatan Memanas
Krisis di Timur Tengah membayangi rangkaian pertemuan diplomatik negara-negara Asia Tenggara di Manila, Filipina, pada Selasa (21/7/2026). Para menteri luar negeri menyampaikan kekhawatiran serius atas kembali memanasnya konflik yang dinilai menambah ketidakpastian di kawasan yang juga tengah berupaya mengelola berbagai ketegangan dan konflik domestik. Menteri luar negeri dari 11 negara anggota ASEAN beserta mitra strategis mereka berkumpul di Manila pekan ini di tengah situasi geopolitik yang semakin tidak stabil. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat konflik terbuka, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global yang melintasi Selat Hormuz, sekaligus menimbulkan risiko terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam beberapa hari terakhir, risiko geopolitik semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut membuka potensi front baru dalam konflik dan memperbesar ancaman terhadap pasokan energi serta perdagangan global di luar kawasan Teluk. Dalam pernyataan bersama usai pertemuan tertutup, para menteri luar negeri ASEAN menegaskan kekhawatiran mereka atas eskalasi yang terjadi. Baca Juga: AS dan China Dijadwalkan Gelar Dialog AI pada September "Kami sangat prihatin bahwa perkembangan ini secara serius merusak upaya yang sedang berlangsung dari para mediator utama dan mengurangi prospek tercapainya penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi," demikian bunyi pernyataan para menteri. ASEAN Percepat Mekanisme Berbagi Minyak Asia Tenggara, yang merupakan kawasan pengimpor minyak utama dengan produk domestik bruto (PDB) gabungan mencapai US$ 3,8 triliun, dinilai sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi global. Untuk mengantisipasi dampak krisis, negara-negara ASEAN berupaya mempercepat pembentukan mekanisme berbagi cadangan minyak antaranggota. Namun, tantangan ASEAN tidak hanya datang dari luar kawasan. Pada Selasa, blok regional tersebut juga dijadwalkan menggelar konsultasi terkait konflik Myanmar. Upaya perdamaian ASEAN di negara tersebut dinilai berjalan lambat, lima tahun setelah kudeta militer yang memicu perang saudara dan menewaskan sekitar 100.000 orang. Laut China Selatan Kembali Jadi Sorotan Selain membahas konflik Timur Tengah dan Myanmar, para pejabat diplomatik ASEAN diperkirakan akan menyoroti meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. ASEAN dan China hingga kini masih berupaya menyelesaikan kode etik bersama untuk mencegah sengketa kawasan berubah menjadi konflik terbuka, meski proses perundingan telah berlangsung hampir satu dekade. Baca Juga: Euforia Juara Dunia, Timnas Spanyol Disambut Meriah di Madrid Ketegangan antara Manila dan Beijing semakin meningkat menjelang pertemuan yang diperkirakan akan berlangsung antara Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela agenda ASEAN pada Rabu (22/7/2026). Perselisihan terbaru mencuat setelah militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China melakukan tindakan agresif dengan memukul kepala salah satu anggota angkatan laut Filipina menggunakan tongkat di dekat Second Thomas Shoal, wilayah sengketa di Laut China Selatan, pada Senin (20/7/2026). Insiden tersebut memicu saling tuding antara kedua negara terkait provokasi dan manuver berbahaya di kawasan perairan sengketa. Kantor Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyatakan bahwa pemerintah akan memanggil Duta Besar China di Manila. Langkah itu diambil hanya beberapa jam setelah diplomat Filipina di Beijing dipanggil oleh pemerintah China. China Minta Filipina Utamakan Stabilitas Kawasan Di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa ASEAN bukanlah forum yang tepat untuk membahas sengketa maritim bilateral. "Filipina seharusnya sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawabnya sebagai ketua bergilir ASEAN, mendorong dialog dan kerja sama, alih-alih menempatkan kepentingan politiknya sendiri di atas perdamaian dan stabilitas kawasan," kata kementerian tersebut. Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengecam tindakan China yang disebutnya sebagai aksi "berbahaya dan agresif". Washington menilai insiden terbaru tersebut merupakan bagian dari "pola provokasi China yang mengkhawatirkan terhadap operasi maritim Filipina yang sah." Baca Juga: Fabio Quartararo Tinggalkan Yamaha, Gabung Honda Mulai MotoGP 2027 Rubio Singgung Pengaruh China Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wang Yi dijadwalkan menghadiri forum yang dipimpin ASEAN dalam beberapa hari ke depan dan berpeluang menggelar pertemuan bilateral di sela-sela agenda tersebut. Selain kedua negara, pertemuan juga akan dihadiri India, Jepang, Australia, Korea Selatan, Rusia, Inggris, serta Uni Eropa. Tanpa menyebut China secara langsung, Rubio mengkritik Beijing melalui artikel opini yang diterbitkan media Filipina saat tiba di Manila pada Selasa. Ia menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat terhadap kebebasan navigasi, namun mengingatkan bahwa kebebasan tersebut "sama sekali tidak terjamin." "Jika perairan tersebut berada di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, baik Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru yang serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," tulis Rubio. Rubio juga kembali menegaskan bahwa putusan arbitrase tahun 2016 yang membatalkan klaim kedaulatan luas China di Laut China Selatan bersifat final dan mengikat. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memenuhi komitmennya kepada Filipina dan sekutu lainnya "saat mereka menghadapi ancaman baru dan tindakan koersif terhadap kepentingan bersama kita." Namun, China tetap menolak mengakui putusan arbitrase tersebut, meskipun keputusan itu memenangkan Filipina dalam sengketa Laut China Selatan.
Ancaman Houthi Paksa Dua Kapal Tanker Minyak Saudi Ubah Rute Pelayaran
Ancaman blokade laut yang diumumkan kelompok Houthi mulai memengaruhi jalur pengiriman minyak dari Arab Saudi. Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Saudi untuk China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah pada Selasa (21/7/2026), setelah kelompok Houthi memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak melakukan aktivitas di pelabuhan Arab Saudi. Baca Juga: Ranking FIFA Terbaru: Spanyol Nomor 1, Norwegia Melesat 12 Peringkat Berdasarkan data pelacakan kapal dari LSEG, kedua kapal tanker tersebut mengubah rute pelayarannya menuju Terusan Suez. Pada Senin (20/7), kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut membuka potensi front baru dalam konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi global serta perdagangan internasional di luar kawasan Teluk. Melalui surat elektronik yang dikirim kepada sejumlah perusahaan pelayaran, Houthi memperingatkan agar kapal tidak melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan Arab Saudi. Kelompok itu menyatakan kapal yang melanggar peringatan tersebut dapat menjadi sasaran serangan "di lokasi mana pun". Baca Juga: Krisis Timur Tengah Bayangi Pertemuan ASEAN, Ketegangan Laut China Selatan Memanas Houthi menguasai wilayah utara Yaman, termasuk pesisir Selat Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk Laut Merah. Sementara itu, Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah selama ini menjadi jalur utama ekspor jutaan barel minyak Timur Tengah untuk menghindari Selat Hormuz yang terdampak konflik. Kapal tanker berukuran Very Large Crude Carrier (VLCC) Xin Long Yang, yang selesai memuat sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi di Pelabuhan Yanbu pada Senin, semula dijadwalkan berlayar menuju China melalui pintu keluar Laut Merah. Namun, kapal tersebut kemudian berputar arah dan bergerak menuju Terusan Suez. Hal serupa dilakukan kapal tanker jenis Aframax Rodos, yang mengangkut sekitar 700.000 barel minyak mentah Saudi untuk India. Kapal tersebut juga berbalik arah menuju Terusan Suez pada Selasa. Hingga berita ini ditulis, Dynacom Tankers Management selaku pengelola kapal Rodos maupun Cosco Shipping yang mengelola Xin Long Yang belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Baca Juga: AS dan China Dijadwalkan Gelar Dialog AI pada September Selain itu, kapal tanker VLCC New Prime, yang dijadwalkan tiba di Yanbu pekan ini untuk memuat minyak mentah, juga dilaporkan berbalik arah saat berada di lepas pantai Oman. Pengelola kapal, Associated Maritime Co HK, juga belum memberikan komentar. Perubahan rute ini berpotensi memperpanjang waktu pengiriman minyak menuju Asia. Apabila kapal tanker harus melewati Terusan Suez, alih-alih keluar melalui Selat Bab el-Mandeb, perjalanan menuju Asia dapat bertambah hingga beberapa pekan karena kapal harus melintasi Laut Mediterania dan mengitari Benua Afrika. Kapal tanker berukuran Aframax dapat melintasi Terusan Suez dalam kondisi bermuatan penuh. Sementara itu, kapal VLCC yang berukuran lebih besar juga dapat menggunakan Terusan Suez, tetapi harus mengurangi sebagian muatannya terlebih dahulu. Minyak tersebut kemudian dapat dialirkan melalui jaringan pipa SUMED menuju Laut Mediterania sebelum kembali dimuat ke kapal untuk melanjutkan perjalanan.