News Komoditi & Global ( Rabu, 4 Februari 2026 )

News  Komoditi & Global  (  Rabu,   4 Februari  2026  )

 

Harga Emas Global Menguat  saat Ketegangan AS-Iran Meningkatkan Permintaan Safe-Haven

 

Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan di wilayah positif di dekat $4.985 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini melanjutkan rebound setelah sell-off yang bersejarah dan volatil minggu lalu. Para pedagang menimbang babak berikutnya sinyal ekonomi AS dan permintaan yang lebih luas pada aset-aset safe-haven.

CNBC melaporkan pada hari Selasa bahwa militer AS menembak drone Iran yang "secara agresif" mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden ini terjadi saat ketegangan di Timur Tengah sedang tinggi, dengan Presiden AS, Donald Trump, mempertimbangkan kemungkinan serangan militer terhadap Republik Islam.

Iran menuntut agar perundingan dengan AS minggu ini dilakukan di Oman daripada di Türkiye, dan agar ruang lingkupnya dibatasi hanya pada percakapan dua arah mengenai isu nuklir, yang memperumit upaya diplomatik yang sudah rumit. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar negosiasi AS-Iran. Setiap tanda peningkatan ketegangan antara AS dan Iran dapat mendorong aset-aset safe-haven tradisional seperti Emas dalam waktu dekat.

Di sisi lain, penunjukan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve (The Fed) mungkin membatasi kenaikan logam kuning ini. Pasar melihat Warsh sebagai pilihan yang "hawkish" untuk Ketua The Fed dan kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tetap tinggi.

Para pedagang mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed setelah jeda The Fed pada bulan Januari dan penunjukan Warsh. Pasar keuangan saat ini memprakirakan kemungkinan hampir 66% penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan Juni, menurut CME FedWatch tool.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Pasca AS Menembak Drone Iran, Kekhawatiran Geopolitik Meningkat

 

Harga minyak naik sekitar 2% pada Selasa (3/2/2026) setelah AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk AS dan kapal-kapal bersenjata mendekati kapal berbendera AS di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran bahwa pembicaraan untuk meredakan ketegangan AS-Iran dapat terganggu.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 1,03, atau 1,6%, menjadi US$ 67,33 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik US$ 1,07, atau 1,7%, menjadi US$ 63,21.

Pada hari Senin, kedua patokan minyak mentah tersebut turun lebih dari 4% setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran serius berbicara dengan Washington.

Namun pada hari Selasa, militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang secara agresif mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab. Di Selat Hormuz antara Teluk Persia dan Teluk Oman, sekelompok kapal perang Iran mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman, menurut sumber maritim dan konsultan keamanan pada hari Selasa.

Anggota OPEC, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.

"Upaya diplomatik untuk menghindari serangan militer AS di Iran sedang gagal... tampaknya (elemen-elemen di Iran) sedang berusaha sebaik mungkin untuk menyabotase proses tersebut saat ini," kata Bob Yawger, direktur futures energi di Mizuho, ...dalam sebuah catatan.

Menurut data Administrasi Informasi Energi AS, Iran adalah produsen minyak mentah OPEC terbesar ketiga pada tahun 2025.

"Signifikansi Iran di pasar minyak jauh melampaui profil produksinya sendiri. Bobot geopolitik negara ini berakar pada lokasi strategisnya, pengaruhnya terhadap dinamika keamanan regional, dan kemampuannya untuk mengganggu infrastruktur energi dan jalur transit yang penting," kata Jorge Leon, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik di perusahaan konsultan Rystad Energy.

Uni Emirat Arab, pada hari Selasa mendesak Iran dan AS untuk memanfaatkan dimulainya kembali pembicaraan nuklir minggu ini untuk menyelesaikan kebuntuan yang telah menyebabkan ancaman serangan udara bersama.

Sementara itu, Iran menuntut agar pembicaraan dengan AS minggu ini diadakan di Oman, bukan di Turki, dan agar ruang lingkupnya dipersempit menjadi pembicaraan dua arah hanya tentang isu-isu nuklir, sehingga menimbulkan keraguan apakah pertemuan tersebut akan berjalan sesuai rencana.

Sebelumnya pada hari Selasa, harga minyak mendapat dukungan karena kesepakatan perdagangan antara AS dan India meningkatkan harapan bahwa permintaan energi global dapat meningkat, sementara serangan Rusia yang berkelanjutan terhadap Ukraina meningkatkan kekhawatiran bahwa minyak Moskow akan tetap dikenai sanksi lebih lama.

Langkah Trump untuk memangkas tarif impor India meningkatkan sentimen di antara eksportir dan pembuat kebijakan meskipun detail kesepakatan tersebut masih minim.

Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan India pada hari Senin untuk memangkas tarif menjadi 18% dari 50% sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh New Delhi dan penurunan hambatan perdagangan. India adalah salah satu ekonomi terbesar di dunia dan pengimpor minyak.

Meskipun kesepakatan tersebut mungkin tampak menguntungkan bagi minyak, "dampak jangka pendek kemungkinan akan berupa diskon lebih lanjut pada harga minyak mentah Rusia yang tidak mungkin mempengaruhi keluarnya kargo bayangan ke pasar dunia," kata perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates.

Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskiy menuduh Rusia mengeksploitasi gencatan senjata energi yang didukung AS untuk menimbun amunisi, dan menggunakannya untuk menyerang Ukraina sehari sebelum perundingan perdamaian.

Serangan semalam melumpuhkan sistem pemanas di kota-kota termasuk ibu kota Kyiv saat para negosiator Ukraina menuju Abu Dhabi untuk putaran kedua pembicaraan trilateral yang dimediasi AS yang dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis.

Penundaan untuk mengakhiri perang di Ukraina kemungkinan akan mempertahankan harga minyak tetap tinggi dengan membiarkan sanksi yang membatasi ekspor minyak Rusia tetap berlaku setelah invasi Moskow tahun 2022.

Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada tahun 2025, menurut data EIA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Anjlok, Persaingan AI Menghantam Saham Raksasa Teknologi

 

Indeks utama Wall Street ditutup turun tajam pada akhir perdagangan Selasa (3/2/2026) karena investor khawatir tentang AI yang menciptakan lebih banyak persaingan bagi pembuat perangkat lunak, membuat mereka waspada menjelang laporan kuartalan dari Alphabet dan Amazon akhir pekan ini.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 0,84% ke level 6.917,81. Nasdaq turun 1,43% ke level 23.255,19, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,34% ke level 49.240,99.

Enam dari 11 indeks sektoral di S&P 500 turun, dipimpin oleh sektor teknologi informasi yang turun 2,17%.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 23,5 miliar saham dengan rata-rata 19,6 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Saham raksasa AI Nvidia dan Microsoft masing-masing turun hampir 3%. Saham Alphabet turun 1,2% menjelang laporan keuangannya pada hari Rabu, sementara saham Amazon turun 1,8% menjelang laporan keuangannya pada hari Kamis.

Investor dalam beberapa bulan terakhir menjadi lebih selektif terhadap saham-saham terkait AI, mencari perusahaan yang menghasilkan pengembalian terukur dari investasi besar mereka dalam teknologi baru ini.

Perhatian Wall Street pada hari Selasa beralih ke perusahaan teknologi yang mungkin menghadapi persaingan yang lebih ketat dan margin yang lebih rendah sebagai akibat dari AI. Salah satu katalis yang mendorong kekhawatiran tersebut adalah peluncuran alat hukum oleh Anthropic untuk chatbot AI Claude-nya.

“Kami melihat banyak nama perusahaan perangkat lunak yang dianggap sebagai perusahaan yang mungkin akan terganggu ketika kita mulai melihat kemajuan kecerdasan buatan.” “Kita melihat banyak perusahaan perangkat lunak di berbagai sektor mengalami penurunan,” kata Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth.

Saham Salesforce, Datadog, dan Adobe kehilangan sekitar 7%, saham Synopsys dan Atlassian turun sekitar 8%, dan saham Intuit merosot 11%.

Perusahaan data AI Palantir melawan tren tersebut, sahamnya melonjak hampir 7% setelah hasil kuartalan yang kuat pada Senin malam. Indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 turun 3,8%, turun untuk hari kelima berturut-turut.

“Kita berada di pasar yang mahal dan ekspektasi sangat tinggi. Banyak area, terutama di sekitar AI, dihargai dengan asumsi kesempurnaan. Itu membuat kita berada dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian,” kata John Campbell, manajer portofolio senior, Allspring Global Investments.

Saham-saham sektor kesehatan berada di bawah tekanan setelah Novo Nordisk, produsen Wegovy, memperingatkan bahwa mereka memperkirakan penurunan tajam dalam penjualan tahunan. Saham perusahaan yang terdaftar di AS anjlok hampir 15%.

Seperempat dari konstituen S&P 500 yang akan melaporkan hasil kuartalan minggu ini. Analis memperkirakan perusahaan akan meningkatkan pendapatan mereka hampir 11% pada kuartal Desember, naik dari perkiraan sekitar 9% pada awal Januari, menurut data LSEG.

Sementara itu, undang-undang untuk mengakhiri penutupan pemerintah AS nyaris lolos dari rintangan prosedural di Dewan Perwakilan Rakyat, sehingga pemungutan suara untuk pengesahan akhir akan dilakukan pada hari itu juga.

Penutupan sebagian wilayah telah menunda rilis data pekerjaan penting pada hari Jumat bersamaan dengan laporan JOLTS, yang awalnya diharapkan pada hari Selasa.

 

 

 

 

Trump Naikkan Tekanan ke Harvard, Tuntut Ganti Rugi US$1 Miliar

 

Konflik antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Harvard University kian memanas. Trump menyatakan pemerintahannya kini menuntut ganti rugi sebesar US$ 1 miliar dari universitas ternama tersebut, jauh melampaui isu sebelumnya soal pembayaran US$ 200 juta untuk penyelesaian sengketa.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social pada Senin (2/2/2026) waktu setempat. Ia sekaligus membantah laporan New York Times yang menyebut Gedung Putih telah menarik tuntutan awal terhadap Harvard.

“Sekarang kami menuntut ganti rugi satu miliar dolar AS dan tidak ingin lagi berurusan dengan Harvard University di masa depan,” tulis Trump.

Ia menuding Harvard menyebarkan “banyak omong kosong” kepada media dan melabeli kampus tersebut sebagai “sangat antisemit”.

Trump tidak merinci kerugian apa yang disebut menjadi dasar tuntutan tersebut. Namun, ia menegaskan laporan New York Times “sepenuhnya keliru” dan menuntut media itu segera melakukan koreksi.

Hingga berita ini diturunkan, Harvard belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters.

Sebelumnya, New York Times melaporkan bahwa Gedung Putih melunak dalam sengketa dengan Harvard di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump.

Presiden AS itu tengah menghadapi kritik luas terkait kebijakan penegakan imigrasi serta kemarahan publik atas tewasnya dua warga AS dalam penembakan oleh agen federal di Minnesota.

Perseteruan dengan Harvard merupakan bagian dari strategi lebih luas pemerintahan Trump untuk menekan universitas-universitas elite melalui pendanaan federal. Trump menilai kampus-kampus tersebut gagal menangani antisemitisme dan terlalu dipengaruhi ideologi “kiri radikal”.

Pemerintah AS bahkan telah membatalkan ratusan hibah penelitian untuk peneliti Harvard dengan alasan kampus tersebut tidak cukup melindungi mahasiswa Yahudi dari pelecehan. Langkah itu mendorong Harvard menggugat pemerintah federal.

Sementara itu, sejumlah universitas Ivy League lainnya, seperti Columbia University dan Brown University, memilih jalan damai dengan mencapai kesepakatan dan menerima sebagian tuntutan pemerintah.

Namun, Harvard tampaknya mengambil jalur konfrontasi, yang kini berujung pada ancaman tuntutan fantastis senilai US$ 1 miliar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ancaman Rusia: Balasan Militer Jika AS Pasang Senjata di Greenland

 

Rusia menyatakan siap mengambil langkah balasan jika Amerika Serikat menempatkan sistem senjata di Greenland.

Al Jazeera melaporkan, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov mengatakan Moskow akan mengambil langkah militer jika Washington merealisasikan rencana untuk mengerahkan sistem pertahanan rudal Golden Dome di wilayah Arktik tersebut.

Ryabkov menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Kedutaan Besar Rusia di China pada Selasa, seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Rusia, TASS. Pernyataan tersebut muncul dua hari sebelum berakhirnya perjanjian New START, satu-satunya perjanjian pengendalian senjata nuklir yang masih berlaku antara AS dan Rusia.

“Jika pihak Amerika memilih untuk mengirimkan sejumlah sistem persenjataan ke kawasan tersebut atau menempatkan elemen tertentu dari konsep Golden Dome di Greenland, maka situasi itu akan menuntut langkah-langkah kompensasi militer dan teknis, dan para spesialis kami siap melaksanakannya,” ujar Ryabkov.

“Tidak ada keraguan soal itu,” tambahnya.

Pernyataan ini menyusul komentar Presiden AS Donald Trump bulan lalu yang menyebut adanya pembahasan terkait Golden Dome, program pertahanan rudal berlapis yang ditargetkan rampung pada akhir masa jabatannya pada 2029, “sehubungan dengan Greenland”.

Trump menyampaikan hal tersebut saat mengklaim telah mencapai kesepakatan mengenai “kerangka kerja kesepakatan di masa depan” terkait pulau Arktik itu, yang merupakan wilayah otonom Denmark, bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi Greenland dengan alasan kepentingan strategis dan keamanan nasional, meski mendapat penolakan keras dari Denmark, Greenland, dan sejumlah sekutu Eropa lainnya.

Bulan lalu, Trump juga sempat mengancam akan mengenakan tarif yang semakin tinggi terhadap negara-negara yang menentang rencananya. Ancaman tersebut sempat memicu ketegangan hubungan transatlantik, sebelum kemudian ia menarik kembali pernyataan itu dan mengklaim telah tercapai “kerangka kerja” kesepakatan dalam pembicaraan dengan pimpinan NATO.

Ryabkov juga menyinggung soal akan berakhirnya perjanjian New START, yang dijadwalkan kedaluwarsa pada Kamis (5/2/2026) kecuali ada kesepakatan di menit-menit terakhir.

Moskow menyatakan telah mengajukan proposal untuk tetap mematuhi batasan perjanjian tersebut selama satu tahun tambahan. Namun hingga kini, menurut Rusia, Amerika Serikat belum memberikan tanggapan.

Ryabkov menegaskan Moskow tidak akan mengirimkan komunikasi lanjutan kepada Washington.

“Kami telah menyelesaikan semua yang diperlukan tepat waktu, dan mereka punya cukup waktu untuk mempertimbangkannya. Tidak adanya respons juga merupakan sebuah respons,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk menghidupkan kembali dialog keamanan strategis, AS perlu melakukan perubahan signifikan dalam pendekatan kebijakan luar negerinya terhadap Rusia.

“Diperlukan reformasi besar, perbaikan dalam pendekatan keseluruhan AS terhadap hubungan dengan kami,” kata Ryabkov.

Meski demikian, ia menegaskan Rusia tidak berniat memulai perlombaan senjata baru setelah perjanjian nuklir tersebut berakhir.

Secara terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan dunia akan memasuki fase yang “berbahaya” seiring berakhirnya perjanjian tersebut.

“Dalam beberapa hari ke depan, dunia akan berada dalam posisi yang lebih berbahaya dibanding sebelumnya,” kata Peskov. Ia menambahkan, dua kekuatan nuklir terbesar dunia akan kehilangan dokumen utama yang selama ini membatasi dan mengontrol persenjataan strategis mereka.

Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh mantan Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh AS dan Rusia.

Perjanjian tersebut mulai berlaku pada Februari 2011 dan diperpanjang pada 2021 selama lima tahun setelah Presiden AS saat itu, Joe Biden, menjabat.

Dalam kesepakatan ini, Moskow dan Washington berkomitmen untuk mengerahkan tidak lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis serta maksimal 700 rudal jarak jauh dan pesawat pengebom.

Perjanjian ini juga membatasi total 800 peluncur, termasuk rudal balistik antarbenua, serta mengizinkan masing-masing pihak melakukan hingga 18 inspeksi tahunan ke lokasi senjata nuklir strategis untuk memastikan kepatuhan terhadap batasan perjanjian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pejabat The Fed Dorong Pemangkasan Suku Bunga Secara Agresif Tahun Ini

 

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Stephen Miran kembali mendorong perlunya pemangkasan suku bunga acuan secara agresif sepanjang tahun ini.

Dalam wawancara dengan Fox Business Network pada Selasa (3/2/2026), Miran menyatakan bahwa kebijakan moneter saat ini dinilai terlalu ketat bagi kondisi perekonomian.

“Saya mungkin melihat kebutuhan pemangkasan suku bunga sedikit lebih dari satu poin persentase sepanjang tahun ini,” ujar Miran.

Menurut dia, meskipun inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%, tekanan harga yang mendasari (underlying inflation) sebenarnya sudah lebih terkendali dibandingkan yang terlihat di angka utama (headline).

Miran menilai, kombinasi inflasi inti yang relatif jinak serta pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, didukung oleh berkurangnya beban regulasi memberi ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga tanpa memicu kembali lonjakan tekanan harga.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut memungkinkan bank sentral melonggarkan kebijakan moneternya tanpa harus khawatir terhadap risiko inflasi yang kembali memanas.

Masa jabatan Miran sebagai gubernur The Fed secara resmi telah berakhir pada akhir Januari. Namun, ia masih tetap menjabat hingga pejabat baru dikonfirmasi untuk mengisi posisinya.

Pada Jumat pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan mantan bankir sentral Kevin Warsh sebagai kandidat pilihannya untuk memimpin bank sentral AS.

Pernyataan Miran ini menambah dinamika perdebatan di kalangan pejabat moneter AS terkait arah kebijakan suku bunga pada 2026, di tengah kondisi inflasi yang mulai mereda namun pertumbuhan ekonomi tetap kuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Spanyol Larang Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun, Wajib Verifikasi Usia

 

 Pemerintah Spanyol akan melarang anak di bawah usia 16 tahun mengakses media sosial. Selain itu, seluruh platform digital diwajibkan menerapkan sistem verifikasi usia yang ketat.

Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Pedro Sanchez sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi generasi muda.

Dalam pidatonya di World Government Summit di Dubai pada Selasa (3/2), Sanchez menegaskan bahwa pemerintah koalisi sayap kiri yang dipimpinnya telah lama mengkhawatirkan maraknya ujaran kebencian, konten pornografi, serta penyebaran disinformasi di media sosial yang dinilai berdampak negatif terhadap anak-anak dan remaja.

 “Anak-anak kita terpapar pada ruang yang seharusnya tidak mereka jelajahi sendirian. Kami tidak akan lagi menerima kondisi ini,” ujar Sanchez.

“Kami akan melindungi mereka dari ‘Wild West’ digital,” tambahnya.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, pemerintah Spanyol akan mewajibkan seluruh platform media sosial untuk menerapkan mekanisme verifikasi usia pengguna secara efektif.

Langkah ini ditujukan untuk memastikan bahwa anak di bawah 16 tahun tidak dapat mengakses layanan yang berpotensi membahayakan perkembangan psikologis dan sosial mereka.

Kebijakan ini menempatkan Spanyol di barisan negara yang semakin serius mengatur perlindungan anak di ruang digital.

Pada Desember lalu, Australia menjadi negara pertama di dunia yang resmi melarang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial. Kebijakan tersebut kini menjadi perhatian banyak negara lain, termasuk Inggris dan Prancis, yang tengah mempertimbangkan penerapan aturan serupa berbasis usia.

Langkah Spanyol diperkirakan akan memperkuat tren regulasi media sosial di Eropa yang semakin ketat, terutama dalam konteks perlindungan anak dan pengendalian konten berbahaya.

Sanchez juga mengumumkan bahwa pemerintahannya akan mengajukan rancangan undang-undang baru pekan depan. RUU ini bertujuan untuk:

Meminta pertanggungjawaban langsung para eksekutif media sosial atas konten ilegal dan ujaran kebencian di platform mereka.

Mengkriminalisasi praktik manipulasi algoritma.

Menghentikan amplifikasi atau penyebaran konten ilegal oleh sistem algoritmik platform.

Langkah ini menandai pendekatan yang lebih agresif dari pemerintah Spanyol dalam mengatur perusahaan teknologi global, dengan fokus pada akuntabilitas pimpinan perusahaan.

Lebih lanjut, Sanchez menyatakan bahwa jaksa penuntut umum akan mengeksplorasi kemungkinan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sejumlah platform, termasuk Grok milik Elon Musk, TikTok, serta Instagram milik Meta.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Spanyol tidak hanya berhenti pada regulasi, tetapi juga membuka ruang penegakan hukum terhadap perusahaan teknologi yang dinilai lalai dalam mengendalikan konten di platform mereka.

 

 

 

 

 

Kesepakatan Dagang India-AS Pangkas Tarif, Dorong Ekspor dan Angkat Pasar

 

Amerika Serikat dan India mencapai kesepakatan dagang baru yang memangkas tarif impor AS atas produk India secara signifikan.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan, tarif barang India ke AS diturunkan menjadi 18% dari sebelumnya 50%, sebagai imbalan atas komitmen India menghentikan pembelian minyak Rusia dan melonggarkan hambatan perdagangan.

Trump menyebut kesepakatan ini sebagai tahap awal dari perjanjian yang lebih luas. Dalam fase pertama, India akan meningkatkan pembelian produk energi, batubara, teknologi, alat pertahanan, hingga produk pertanian asal Amerika Serikat.

Langkah ini langsung memberi angin segar bagi hubungan dagang kedua negara dan mengangkat sentimen pasar.

Dari sisi Amerika Serikat, kesepakatan ini membuka peluang peningkatan ekspor energi, peralatan militer, elektronik, farmasi, produk telekomunikasi, pesawat terbang, serta akses terbatas ke pasar pertanian India. Komitmen pembelian tersebut akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Meski Trump menyatakan tarif India akan dipangkas hingga nol, pemerintah India belum merinci produk apa saja yang akan mendapatkan pembebasan bea masuk atau penurunan tarif bertahap, seperti yang dilakukan India dalam perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan Inggris.

Pada 2024, AS tercatat mengalami defisit perdagangan pertanian dengan India sebesar US$ 1,3 miliar.

Bagi India, pemangkasan tarif AS menjadi 18% dinilai akan mendongkrak ekspor secara signifikan. Sejumlah sektor diperkirakan menikmati manfaat besar, mulai dari tekstil dan pakaian jadi, farmasi, kimia, alas kaki, perhiasan, hingga produk makanan seperti udang.

Dengan tarif yang lebih rendah, produk India kini bisa bersaing sejajar dengan negara Asia lain seperti Vietnam dan Bangladesh.

Terkait komitmen menghentikan pembelian minyak Rusia, kilang minyak India disebut telah mengurangi pasokan dari Rusia dan mulai mendiversifikasi sumber impor ke Amerika Serikat, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan. Namun, pelaku industri menilai India masih memerlukan masa transisi untuk menyelesaikan kontrak minyak Rusia yang sudah berjalan, dan hingga kini belum ada perintah resmi untuk penghentian total.

Dalam perdagangan bilateral, hubungan dagang kedua negara tetap menunjukkan pertumbuhan. Meski sejumlah sektor seperti tekstil, perhiasan, dan udang sempat tertekan akibat kenaikan tarif AS pada Agustus lalu, diskon harga membantu eksportir mempertahankan pasar. Sepanjang Januari–November, ekspor India ke AS tumbuh 15,9% secara tahunan menjadi US$ 85,5 miliar, sementara impor dari AS mencapai US$ 46,1 miliar.

Total perdagangan barang dan jasa India-AS pada 2024 tercatat sebesar US$ 212,3 miliar. AS mencatat defisit perdagangan barang sebesar US$ 45,8 miliar, sementara surplus kecil berasal dari sektor jasa.

Meski demikian, analis menilai sejumlah tarif AS masih akan bertahan. Bea masuk berdasarkan Pasal 232 AS untuk baja, aluminium, tembaga, otomotif, dan suku cadang diperkirakan tidak dicabut. Akibatnya, sebagian ekspor India ke AS masih akan menghadapi tarif tinggi, meski ada kesepakatan dagang baru.

Pengumuman kesepakatan ini langsung disambut positif oleh pasar keuangan. Nilai tukar rupee menguat lebih dari 1% terhadap dolar AS, indeks saham utama Nifty 50 melonjak sekitar 3% setelah sempat naik hingga 5%, dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun sekitar 5 basis poin.

Analis menilai kesepakatan ini berpotensi menopang ekspor, arus modal masuk, serta stabilitas rupee. Namun, implementasi penuh—terutama penghentian impor minyak Rusia—diperkirakan masih membutuhkan waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konglomerasi Hong Kong CK Hutchison Gugat Panama ke Arbitrase Internasional, Ada Apa?

 

Konglomerasi asal Hong Kong CK Hutchison mengumumkan bahwa unit usahanya Panama Ports Company telah memulai proses arbitrase internasional terhadap pemerintah Panama.

Langkah ini diambil setelah pengadilan di Panama membatalkan izin perusahaan untuk mengoperasikan dua pelabuhan utama di Terusan Panama.

Mahkamah Agung Panama pekan lalu memutuskan bahwa kontrak pengelolaan pelabuhan tersebut melanggar konstitusi negara karena dinilai memberikan hak istimewa eksklusif dan pembebasan pajak kepada perusahaan.

Putusan tersebut menimbulkan ketidakpastian atas masa depan kepemilikan dua pelabuhan strategis itu, sekaligus membayangi rencana CK Hutchison untuk menjual bisnis pelabuhannya dengan nilai sekitar US$23 miliar.

“Dewan direksi sangat tidak sependapat dengan putusan dan langkah-langkah yang diambil di Panama,” ujar CK Hutchison dalam pernyataan resmi kepada Bursa Efek Hong Kong dilansir dari Reuters Rabu (4/2/2026).

Perusahaan menegaskan akan terus berkonsultasi dengan penasihat hukum dan mencadangkan seluruh hak hukum, termasuk kemungkinan menempuh jalur hukum tambahan baik di tingkat nasional maupun internasional.

CK Hutchison diketahui telah mengoperasikan kedua pelabuhan tersebut hampir tiga dekade.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Panama belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS Mengklaim Sekitar 30 Negara Ingin Bergabung Dalam Klub Mineral Penting

 

Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengungkapkan, sekitar 30 negara ingin bergabung dengan klub sekutu dan mitra dalam perdagangan mineral penting untuk mengurangi ketergantungan pada China.

Dalam sebuah konferensi pada Selasa (3/2/2026), Burgum, yang juga memimpin Dewan Dominasi Energi Nasional AS, mengatakan negara-negara termasuk Jepang, Australia, dan Korea Selatan telah bergabung dengan klub tersebut.

“Kami berencana untuk mengumumkan sebanyak 11 perjanjian lagi minggu ini,” kata Burgum pada konferensi Pusat Studi Strategis dan Internasional seperti dilansir dari Reuters.

Selain itu, hingga 20 negara lagi memiliki minat kuat untuk bergabung dengan klub tersebut, yang akan memiliki perdagangan dan pertukaran bebas tarif serta harga minimum untuk mineral, kata Burgum.

“Biasanya Amerika Serikat adalah pendukung pasar bebas, kami tidak suka mencampuri pasar. Tetapi jika ada seseorang yang dominan, yang dapat membanjiri pasar dengan material tertentu, mereka memiliki kemampuan untuk menghancurkan nilai ekonomi suatu perusahaan atau produksi suatu negara,” kata Burgum.

Washington telah berupaya untuk mengimbangi manipulasi Harga oleh China untuk lithium, nikel, logam tanah jarang, dan mineral penting lainnya—yang vital untuk pembuatan kendaraan listrik, persenjataan berteknologi tinggi, dan elektronik.

Presiden Donald Trump pada hari Senin meluncurkan cadangan mineral strategis yang dikenal sebagai Proyek Vault yang didukung oleh pinjaman US$ 10 miliar dari Bank Ekspor-Impor AS dan hampir US$ 2 miliar modal swasta yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan swasta. Departemen Pertahanan AS memiliki cadangan sendiri.

Burgum mengatakan harga dasar yang didukung oleh klub mineral akan menarik modal jangka panjang. "Sektor swasta dapat terlibat dan melakukan investasi di bidang pertambangan dan pengolahan, karena mengetahui akan ada pasar dan mereka tidak perlu khawatir akan terjadi penurunan drastis," kata Burgum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Australia Putar Arah Kebijakan, RBA Kerek Suku Bunga ke 3,85%

 

Bank sentral Australia menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi yang dinilai lebih kuat dari perkiraan dan inflasi yang diperkirakan akan bertahan di atas target dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam keputusan kebijakan yang diumumkan Selasa (3/2/2026), Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,85%.

Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh dewan RBA dan menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak dua tahun terakhir, sekaligus terjadi hanya enam bulan setelah pemangkasan suku bunga terakhir pada Agustus lalu.

Dengan langkah ini, RBA bergabung dengan Bank of Japan sebagai dua bank sentral negara maju yang saat ini masih menempuh jalur pengetatan kebijakan moneter.

Sementara itu, pasar keuangan masih memperkirakan pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada, sedangkan Bank Sentral Eropa diperkirakan akan tetap menahan suku bunga dalam waktu cukup lama.

“Dengan RBA yang kini memperkirakan penurunan inflasi akan berjalan lebih lambat, risikonya jelas condong ke arah serangkaian kenaikan suku bunga, bukan sekadar langkah satu kali, terutama mengingat keputusan hari ini diambil secara bulat,” ujar Harry Murphy Cruise, Kepala Riset Ekonomi Oxford Economics Australia.

Pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 78%, setelah inflasi kuartal IV-2025 tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan tingkat pengangguran turun ke level terendah dalam tujuh bulan pada Desember.

Dalam pernyataan resminya, dewan RBA menilai bahwa meskipun sebagian kenaikan inflasi dipicu faktor sementara, permintaan domestik tumbuh lebih cepat dari perkiraan, tekanan kapasitas ekonomi meningkat, dan kondisi pasar tenaga kerja semakin ketat.

“Dewan menilai inflasi kemungkinan akan tetap berada di atas target untuk beberapa waktu, sehingga peningkatan suku bunga dianggap tepat,” tulis RBA.

Merespons keputusan tersebut, dolar Australia menguat hampir 1,2% ke level US$0,7027. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun turun 10 tick ke 95,64.

Pelaku pasar kini meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga lanjutan pada Mei mendatang, dengan probabilitas hampir 80%.

Secara keseluruhan, pasar memperkirakan tambahan pengetatan sekitar 40 basis poin sepanjang tahun ini.

RBA sebelumnya tidak menaikkan suku bunga seagresif bank sentral negara maju lainnya ketika inflasi melonjak, karena ingin menjaga pemulihan pasar tenaga kerja. Namun, strategi tersebut kini mulai diuji.

Tiga kali pemangkasan suku bunga yang dilakukan RBA sepanjang tahun lalu justru memicu kebangkitan kembali tekanan inflasi, sehingga bank sentral beralih ke sikap lebih hawkish pada akhir 2025 dan memicu ekspektasi percepatan siklus pengetatan.

Inflasi konsumen tercatat lebih tinggi dari perkiraan selama dua kuartal berturut-turut dan masih berada jauh di atas target RBA sebesar 2%–3%.

Inflasi inti, yang menjadi indikator utama RBA, tumbuh 0,9% secara kuartalan pada kuartal IV-2025, mendorong laju tahunan ke 3,4%—tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Data terbaru semakin memperkuat kebutuhan perubahan kebijakan moneter, termasuk penurunan tak terduga tingkat pengangguran ke level 4,1%, terendah dalam tujuh bulan, yang menandakan pasar tenaga kerja kembali mengetat.

Belanja konsumen yang kuat, harga properti di level tertinggi, serta kemudahan akses kredit bagi rumah tangga dan pelaku usaha turut memperkuat pandangan bahwa kondisi keuangan belum cukup ketat.

Dalam pembaruan ekonomi terpisah, RBA menyatakan belum yakin bahwa kondisi keuangan saat ini bersifat restriktif. Bahkan, beberapa indikator menunjukkan kondisi masih cukup longgar.

“Secara keseluruhan, jelas bahwa RBA memandang jalan menuju penurunan inflasi akan panjang dan berliku,” kata Abhijit Surya, Ekonom Senior Asia Pasifik Capital Economics.

Ia memperkirakan hanya akan ada satu kenaikan suku bunga lagi pada Mei. Namun, Surya menilai RBA masih berpotensi menaikkan suku bunga lebih tinggi, mengingat inflasi inti diperkirakan belum kembali ke titik tengah target 2%–3% hingga awal 2028.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post