News Komoditi & Global ( Senin, 29 Desember 2025 )
News Komoditi & Global
( Senin, 29 Desember 2025 )
Harga Emas Global Mencapai Rekor Tertinggi Baru di tengah Meningkatnya Ketegangan Geopolitik, Pelemahan dolar, dan Likuiditas Pasar yang Tipis
Harga emas kembali melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa dan memperpanjang reli akhir tahun yang bersejarah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta tipisnya likuiditas pasar menjelang tutup tahun. Dilansir Bloomberg, Sabtu (27/12/2025), harga spot emas sempat naik hingga 1,6% dan menembus puncak baru di atas US$4.540 per ons pada perdagangan Jumat. Penguatan ini melanjutkan tren reli emas sepanjang 2025, dengan harga telah naik sekitar 70% secara tahunan dan berada di jalur mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Daya tarik emas sebagai aset safe haven menguat seiring eskalasi geopolitik global. Ketegangan meningkat di Venezuela setelah Amerika Serikat memblokade kapal-kapal tanker minyak dan menambah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro. Washington juga melancarkan serangan militer terhadap kelompok Islamic State di Nigeria bekerja sama dengan pemerintah setempat. “Meningkatnya ketegangan geopolitik terus menopang permintaan terhadap aset lindung nilai, termasuk emas dan perak,” ujar Daniel Takieddine, CEO Sky Links Capital Group. Selain itu, dia menilai likuiditas pasar yang tipis pada akhir tahun turut memperbesar pergerakan harga. Dari sisi makro, pelemahan dolar AS menjadi katalis tambahan. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,7% sepanjang pekan ini atau menjadi penurunan terbesar sejak Juni 2025. Dalam kondisi pelemahan dolar, umumnya harga emas terkerek. Reli emas juga ditopang oleh pembelian bank sentral yang tinggi, arus dana masuk ke produk exchange-traded fund (ETF), serta tiga kali pemangkasan suku bunga berturut-turut oleh Federal Reserve atau The Fed. Kepemilikan di SPDR Gold Trust milik State Street Corp., ETF emas terbesar dunia, telah meningkat lebih dari seperlima sepanjang tahun ini. Adapun pada pukul 13.50 waktu New York, harga emas tercatat naik 1,1% ke level US$4.530,02 per ons.
Wall Street Bidik Akhir Tahun Positif, S&P 500 Tinggal Selangkah Menuju Level 7.000
Investor berharap pasar saham Amerika Serikat (AS) menutup tahun 2025 dengan catatan positif. Indeks-indeks utama Wall Street saat ini berada di level tertinggi sepanjang masa dan kian mendekati tonggak psikologis baru.
Indeks S&P 500 mencatat penutupan rekor pada Rabu, jelang libur Natal, dan kini hanya sekitar 1% dari level 7.000 untuk pertama kalinya.
Sepanjang Desember, pasar saham AS cenderung menguat setelah mampu melewati gejolak awal bulan yang dipicu kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor teknologi.
Jika bertahan hingga akhir bulan, S&P 500 berpeluang mencatatkan delapan bulan beruntun kenaikan, rekor terpanjang sejak periode 2017–2018.
“Momentum jelas masih berpihak pada kubu bullish,” kata Paul Nolte, Senior Wealth Adviser dan Market Strategist di Murphy & Sylvest Wealth Management dilansir dari Reuters, Minggu (28/12/2025).
“Tanpa adanya kejadian eksternal besar, arah pergerakan saham tampaknya masih ke atas.”
Pekan perdagangan yang dipersingkat libur ini akan diwarnai rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) terbaru.
Selain itu, penyesuaian portofolio akhir tahun berpotensi memicu volatilitas, terutama di tengah volume transaksi yang relatif tipis.
Memasuki 2026, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan suku bunga The Fed.
Bank sentral AS telah memangkas suku bunga acuan total 75 basis poin dalam tiga rapat terakhir 2025, sehingga berada di kisaran 3,50%–3,75%.
Namun, keputusan pemangkasan 25 basis poin pada rapat 9–10 Desember lalu berlangsung dengan suara yang terbelah.
Proyeksi suku bunga ke depan di kalangan pembuat kebijakan pun masih beragam.
“Menarik untuk melihat perdebatan yang terjadi di meja rapat The Fed,” ujar Michael Reynolds, Vice President of Investment Strategy di Glenmede.
“Pasar saat ini sangat fokus menghitung berapa kali pemangkasan suku bunga yang akan terjadi tahun depan.”
Investor juga mencermati rencana Presiden Donald Trump untuk menunjuk Ketua The Fed pengganti Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
Setiap sinyal terkait keputusan tersebut berpotensi menggerakkan pasar.
Dengan hanya beberapa sesi perdagangan tersisa di 2025, S&P 500 telah naik hampir 18% sepanjang tahun, sementara Nasdaq Composite melonjak sekitar 22%.
Meski demikian, sektor teknologi motor utama reli pasar selama lebih dari tiga tahun terakhir mulai kehilangan momentum.
Sejak awal November, indeks teknologi S&P 500 turun lebih dari 3%, meski sempat rebound pekan ini.
Sebaliknya, sektor lain seperti keuangan, transportasi, kesehatan, dan saham berkapitalisasi kecil justru mencatatkan kinerja solid. Pergeseran ini mengindikasikan adanya rotasi ke sektor dengan valuasi yang dinilai lebih moderat.
“Ada semakin banyak investor yang percaya bahwa fundamental ekonomi AS masih cukup solid,” kata Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise Financial.
“Ekonomi telah melewati banyak potensi hambatan tahun ini, yang mungkin tidak lagi menjadi ganjalan besar tahun depan.”
Kim Jong Un Perintahkan Pabrik Memproduksi Rudal Lebih Banyak pada 2026
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah memerintahkan para pejabat untuk meningkatkan produksi rudal dan membangun lebih banyak pabrik untuk memenuhi kebutuhan militernya yang terus meningkat akan proyektil tersebut, kata media pemerintah pada hari Jumat (26/12/2025).
Pyongyang telah secara signifikan meningkatkan uji coba rudal dalam beberapa tahun terakhir - yang menurut para analis, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang Amerika Serikat serta Korea Selatan, dan menguji senjata sebelum mengekspornya ke sekutu utama Rusia.
Dalam kunjungan ke pabrik-pabrik amunisi yang didampingi oleh para pejabat tinggi, Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) yang dikelola pemerintah mengatakan Kim telah memerintahkan pabrik-pabrik tersebut untuk bersiap menghadapi tahun yang sibuk di depan.
Pemimpin Korea Utara itu mengatakan mereka perlu untuk lebih memperluas kapasitas produksi secara keseluruhan untuk mengimbangi permintaan dari angkatan bersenjata Pyongyang dan memerintahkan pembangunan pabrik-pabrik amunisi baru, lapor KCNA.
"Sektor produksi rudal dan peluru sangat penting dalam memperkuat daya jerat perang," kata Kim.
Korea Utara dan Rusia semakin dekat sejak Moskow melancarkan invasi ke Ukraina hampir empat tahun lalu, dan Pyongyang telah mengirim pasukan untuk berperang bagi Rusia, bersama dengan peluru artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh.
Sebagai imbalannya, Rusia mengirimkan bantuan keuangan, teknologi militer, serta pasokan makanan dan energi ke Korea Utara, kata para analis.
Washington juga menunjukkan bukti bahwa Rusia meningkatkan dukungan untuk Korea Utara, termasuk memberikan bantuan dalam teknologi ruang angkasa dan satelit canggih, sebagai imbalan atas bantuannya dalam memerangi Ukraina.
Para analis mengatakan peluncur satelit dan rudal balistik antarbenua (ICBM) memiliki banyak teknologi dasar yang sama.
"Dengan program ICBM-nya yang sudah berada pada tahap yang secara luas dianggap telah mencapai tujuan inti, Pyongyang kemungkinan akan semakin mempercepat pengembangan tahun depan," kata Ahn Chan-il, seorang peneliti yang berasal dari Korea Utara.
Negara itu kemungkinan akan mengalihkan "fokus ke pengujian dan produksi sistem yang terkait dengan potensi ekspor ke Rusia - termasuk rudal jarak menengah dan jarak jauh," tambahnya.
Kunjungan Kim dilaporkan sehari setelah media pemerintah mengatakan dia telah mengunjungi pabrik kapal selam nuklir dan berjanji untuk melawan ancaman Korea Selatan yang memproduksi kapal selam sendiri dengan dukungan Washington.
“Pemimpin Korea Utara itu juga mempelajari tentang penelitian senjata rahasia bawah air baru," kata KCNA.
“Korea Utara diperkirakan akan mencari teknologi militer canggih dari Rusia, termasuk kemampuan kapal selam bertenaga nuklir dan jet tempur, karena berupaya mengatasi kelemahan relatif angkatan udaranya," kata analis Ahn kepada AFP.
Kim dilaporkan pada hari Kamis telah mengawasi uji peluncuran rudal anti-pesawat jarak jauh ketinggian tinggi tipe baru di atas Laut Jepang.
Dan dia mengatakan bahwa rencana modernisasi dan produksi baru akan diumumkan pada kongres pertama Partai Buruh Korea yang berkuasa dalam setengah dekade terakhir, yang diperkirakan akan berlangsung pada awal tahun 2026.
China Akan Mengerem Ekspansi Kapasitas Tembaga dan Alumina Dalam 5 Tahun ke Depan
China akan memperketat pengawasan terhadap proyek-proyek tembaga dan alumina baru untuk mengekang investasi yang tidak rasional dan ekspansi yang tidak teratur mulai tahun 2026 hingga 2030, kata perencana ekonomi tertinggi negara itu.
Mengutip Reuters, Jumat (26/12/2025), dalam sebuah artikel di situs webnya, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) mengatakan pemerintah daerah harus memperkuat studi kelayakan untuk proyek-proyek besar dan menyelaraskan persetujuan mereka dengan kebijakan industri nasional.
Pedoman tersebut menargetkan tembaga dan alumina, industri yang menurut komisi tersebut merupakan kunci pembangunan ekonomi dan militer.
"Tetapi pengembangannya harus mempertimbangkan perbedaan basis industri regional, kekayaan sumber daya, dan kapasitas lingkungan."
China juga akan mendorong penggabungan dan restrukturisasi di antara perusahaan-perusahaan besar untuk meningkatkan konsentrasi industri dan daya saing, kata NDRC.
Selain itu, Beijing akan terus mendukung investasi pertambangan luar negeri dalam rencana lima tahun berikutnya.
China adalah produsen dan konsumen tembaga dan alumina terbesar di dunia dan telah berulang kali memperingatkan risiko kelebihan kapasitas dan investasi yang tidak terkendali di industri tersebut.
China menangguhkan rencana untuk kapasitas peleburan tembaga sekitar 2 juta metrik ton, menurut Asosiasi Industri Logam Nonferrous China bulan lalu.
Sepanjang Januari hingga November 2025, China memproduksi 13,3 juta metrik ton tembaga olahan, naik 9,8% dari tahun sebelumnya, dan berada di jalur untuk mencapai rekor produksi tembaga olahan pada tahun 2025.
Produksi alumina di China mencapai 84,7 juta ton pada periode yang sama, dan kemungkinan juga akan mencetak rekor pada tahun 2025.
Kabinet Jepang Setujui Anggaran US$ 785 Miliar, Janji Akan Kendalikan Utang
Kabinet Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyetujui anggaran sebesar US$ 785 miliar untuk tahun fiskal berikutnya yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara kebijakan fiskal proaktifnya dan kekhawatiran akan pembengkakan utang dengan membatasi penerbitan obligasi baru.
Mengutip Reuters, Jumat (26/12/2025), Permintahan Takaichi yang dihadapkan pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan yen yang lemah, telah meningkatkan upaya untuk meyakinkan investor bahwa pemerintah tidak akan melakukan penerbitan utang yang tidak bertanggung jawab atau pemotongan pajak.
Anggaran untuk tahun yang dimulai pada bulan April 2026, yang akan diajukan ke parlemen awal tahun depan, akan mencapai rekor 122,3 triliun yen (US$ 784,63 miliar), melebihi anggaran awal tahun ini sebesar 115,2 triliun yen.
Meskipun demikian, penerbitan obligasi pemerintah baru hanya akan meningkat sedikit dari 28,6 triliun yen tahun ini menjadi 29,6 triliun yen, dengan rasio ketergantungan utang turun menjadi 24,2%, terendah sejak 1998.
Pendapatan pajak yang lebih tinggi, yang diproyeksikan naik 7,6% menjadi rekor 83,7 triliun yen, akan membantu mendanai peningkatan pengeluaran, meskipun tidak akan sepenuhnya mengimbangi lonjakan biaya pembayaran utang, bersamaan dengan pengeluaran kesejahteraan sosial dan pertahanan yang lebih tinggi.
Biaya pembayaran bunga dan pelunasan utang akan melonjak 10,8% menjadi 31,3 triliun yen, dengan suku bunga yang diasumsikan ditetapkan pada 3,0%, level tertinggi dalam 29 tahun, seiring dengan keluarnya Bank Sentral Jepang dari kebijakan moneter ultra-longgar.
Jepang sudah memiliki beban utang tertinggi di dunia maju—lebih dari dua kali lipat ukuran ekonominya—sehingga sangat sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman dan mempersulit rencana Takaichi untuk mengejar langkah-langkah stimulus fiskal yang agresif.
Takaichi bermaksud untuk meninggalkan gagasan menggunakan saldo anggaran primer tahunan sebagai tujuan konsolidasi fiskal Jepang dan menetapkan tujuan baru yang berlangsung selama beberapa tahun untuk memungkinkan pengeluaran yang lebih fleksibel. ($1 = 155,8700 yen)
Kuota Ekspor BBM China untuk Gelombang Pertama 2026 Tetap Stabil
China telah merilis kuota ekspor sebesar 19 juta ton untuk bahan bakar olahan termasuk bensin, solar, dan bahan bakar pesawat dalam gelombang pertama kuota tersebut untuk tahun 2026, menurut tiga sumber perdagangan yang mengetahui masalah tersebut pada Rabu malam.
Mengutip Reuters, Jumat (26/12/2025), konsumen minyak terbesar kedua di dunia ini juga memberikan kuota ekspor bahan bakar laut rendah sulfur sebesar 8 juta ton dalam "batch ini," menurut sumber tersebut.
Volume untuk keduanya stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
China mengelola ekspor bahan bakar olahannya melalui sistem kuota untuk menyeimbangkan fundamental penawaran dan permintaan di pasar lokalnya.
Kementerian perdagangan tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters melalui faks.
Entitas minyak milik negara Sinopec dan CNPC, penerima utama kuota tersebut, diberikan jatah 13,76 juta ton untuk ekspor bensin, bahan bakar jet, dan diesel - lebih dari 70% dari total volume.
Perusahaan penyulingan swasta besar Zhejiang Petrochemical mendapatkan kuota ekspor sebesar 1,56 juta ton untuk pengiriman pertama ini.
Dari total kuota ekspor sebesar 19 juta ton untuk bensin, solar, dan bahan bakar pesawat, 6,6 juta ton dialokasikan untuk perdagangan pengolahan - biasanya untuk keperluan pengisian bahan bakar pesawat terbang.
Sementara itu, dari alokasi 8 juta ton untuk bahan bakar kapal laut rendah sulfur, hampir 85% dialokasikan untuk Sinopec dan CNPC.
Dalam 11 bulan pertama tahun 2025, ekspor produk minyak olahan China - termasuk bensin, solar, bahan bakar pesawat terbang, dan bahan bakar kapal laut - mencapai total 52,65 juta ton, turun 3,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Industri Berlian Buatan Laboratorium India Bersinar Seiring Meningkatnya Permintaan
India sedang memoles permata baru dalam mahkota ekonominya – berlian buatan laboratorium.
Meskipun masih tertinggal dari kilauan perdagangan berlian alami, industri ini berkembang pesat – tumbuh hampir 15 persen per tahun, menurut para analis.
Hal ini terjadi seiring India berupaya meningkatkan posisinya sebagai pusat berlian terintegrasi terkemuka di dunia.
Bagi perhiasan Shaurya Taneja, masa depan sudah terlihat di ruang pamerannya.
Hampir setengah dari perhiasan yang ia jual bukan terbuat dari batu tambang, tetapi dari berlian yang ditumbuhkan di laboratorium yang berkilau sama terangnya tetapi jauh lebih terjangkau.
Berlian sintetis dapat dijual dengan harga 50 hingga 90 persen lebih rendah daripada berlian alami.
Berlian tambang satu karat yang harganya sekitar US$1.000 sedangkan berlian buatan laboratorium yang harganya hanya beberapa ratus dolar.
Perbedaan harga tersebut menarik minat pembeli yang lebih muda dan lebih memperhatikan biaya.
“Anda tidak akan terlalu sedih jika berliannya lepas atau jika Anda kehilangan berlian, karena Anda dapat dengan mudah menggantinya dengan harga yang lebih murah,” jelas Taneja.
Selain keterjangkauan harga, berlian hasil lab juga tidak membawa beban etika yang telah lama dikaitkan dengan industri pertambangan, seperti pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan.
Data industri menunjukkan bahwa pasar berlian hasil lab India, yang saat ini bernilai sekitar US$400 juta, dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi lebih dari US$1,5 miliar dalam dekade berikutnya.
Meskipun India kemungkinan tidak akan menyaingi China – yang masih mendominasi produksi berlian sintetis global – para analis percaya bahwa negara Asia Selatan ini memiliki keunggulan yang berbeda.
India sudah memotong dan memoles 90 persen berlian dunia, baik alami maupun sintetis.
Sebagian besar pekerjaan itu terjadi di Surat, negara bagian Gujarat di bagian barat – ibu kota berlian negara itu – di mana batu berlian hasil laboratorium kini dipotong dan dipoles bersama dengan berlian hasil tambang.
Untuk meningkatkan nilai tambah, India bertaruh besar pada teknologi Chemical Vapour Deposition (CVD), yang merupakan proses berteknologi tinggi dan lebih bersih yang digunakan untuk menumbuhkan berlian lapis demi lapis dalam kondisi laboratorium yang terkontrol.
Dengan dukungan pemerintah, peningkatan penelitian dan pengembangan, dan bea impor berlian yang lebih rendah, India berharap menjadi pusat penjualan berlian hasil laboratorium.
Kekuatan India terletak pada integrasi, kata Olya Linde, seorang mitra di perusahaan konsultan manajemen global Bain & Company.
Ia menambahkan bahwa ini tentang menguasai seluruh rantai nilai – mulai dari menumbuhkan batu dan memotongnya hingga menjual perhiasan jadi di pasar seperti Eropa dan Amerika Serikat.
Namun di dalam negeri, teknologi masih berbenturan dengan tradisi, kata para pengamat.
Untuk pernikahan dan pusaka keluarga, banyak orang India terus melihat berlian alami sebagai satu-satunya penyimpan nilai sejati, tambah mereka.
“Berlian adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita,” kata Rakesh Bacchawat, warga New Delhi.
“Saya menganggap berlian buatan laboratorium sebagai berlian tiruan, jadi saya rasa nilainya tidak akan meningkat banyak di masa depan.”
Warga Delhi lainnya, Nitesh Jain, mengatakan: “Berlian asli tidak dapat dibandingkan dengan berlian buatan laboratorium. Jika Anda tidak mampu membelinya, belilah berlian terkecil yang Anda mampu, tetapi belilah berlian asli.”
AS dan Iran Bertengkar Sengit di PBB Soal Perundingan Nuklir
Amerika Serikat (AS) dan Iran bertengkar sengit di PBB mengenai syarat-syarat untuk melanjutkan pembicaraan nuklir. Teheran menyebut tuntutan Washington untuk kebijakan nol pengayaan uranium sebagai hal yang tidak mungkin. Wakil utusan AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa bahwa Washington “tetap terbuka untuk pembicaraan formal dengan Iran, tetapi hanya jika Teheran siap untuk dialog langsung dan bermakna.” “Namun, kami telah menjelaskan beberapa harapan untuk setiap kesepakatan. Yang terpenting, tidak boleh ada pengayaan di dalam Iran, dan itu tetap menjadi prinsip kami,” katanya. Ortagus mengklaim Presiden AS Donald Trump, yang secara sepihak menarik Washington dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dengan Iran pada tahun 2018, telah “mengulurkan tangan diplomasi” kepada Teheran selama kedua masa jabatannya. “Namun, alih-alih menerima uluran tangan diplomasi, Anda terus memasukkan tangan Anda ke dalam api. Mundurlah dari api, Tuan, dan terimalah uluran tangan diplomasi Presiden Trump,” ujar dia, ditujukan kepada Utusan Iran di PBB, Amir Saeid Iravani. Iravani menjawab dengan mengatakan, “Pihak berwenang di Teheran menghargai setiap negosiasi yang adil dan bermakna, tetapi bersikeras pada kebijakan pengayaan nol, itu bertentangan dengan hak-hak kami sebagai anggota NPT (perjanjian tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir).” Tuntutan dari Washington berarti bahwa “mereka tidak mengejar negosiasi yang adil,” katanya. “Mereka ingin mendiktekan niat mereka yang telah ditentukan sebelumnya kepada Iran. Iran tidak akan tunduk pada tekanan dan intimidasi apa pun.” Negosiasi antara kedua pihak untuk menghidupkan kembali JCPOA 2015, yang membuat Teheran melepaskan ambisi nuklir militernya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi internasional, tetap terhenti sejak Juni ketika AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan milik Iran. Mereka menggambarkannya sebagai serangan pendahuluan untuk menghentikan kemajuan Teheran dalam mengembangkan bom. Otoritas Iran bersikeras program nuklir mereka sepenuhnya bersifat damai. Bulan lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran akan membangun kembali situs nuklir yang rusak dengan "kekuatan besar." Menteri Luar Negeri negara itu, Abbas Araghchi, juga bersikeras bahwa Iran "tidak dapat menghentikan pengayaan uranium." Trump sebelumnya memperingatkan AS dapat melancarkan serangan baru jika Iran mengaktifkan kembali situs nuklirnya.
14 Negara Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman Yahudi di Tepi Barat
Empat belas negara, termasuk Prancis, Inggris, Kanada, Jerman, dan Jepang, mengutuk keputusan Israel baru-baru ini untuk menyetujui permukiman Yahudi baru di Tepi Barat yang diduduki. Baca Juga : Trump Sebut Libur Natalnya Terganggu Konflik Ukraina Mereka menyerukan kepada pemerintah Israel untuk membatalkan keputusan tersebut dan menghentikan perluasan permukiman. Dalam pernyataan bersama yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Prancis, negara-negara tersebut mengatakan, “Kami, Negara Belgia, Kanada, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Islandia, Irlandia, Jepang, Malta, Belanda, Norwegia, Spanyol, dan Inggris mengutuk persetujuan oleh kabinet keamanan Israel atas 19 permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki.” Pernyataan itu menambahkan, “Kami mengingatkan kembali penentangan kami yang jelas terhadap segala bentuk aneksasi dan perluasan kebijakan permukiman.” Sebelumnya, kabinet keamanan pemerintah Israel menyetujui pendirian 19 permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki. Ini menjadikan jumlah total permukiman yang disetujui selama tiga tahun terakhir menjadi 69.
Jet Tempur Negara NATO Cegat Pesawat Mata-mata Rusia pada Hari Natal
Militer Polandia mengumumkan bahwa jet-jet tempur Angkatan Udara mereka telah mencegat sebuah pesawat mata-mata Rusia pada Hari Natal. Menurut militer negara NATO tersebut, pencegatan dilakukan karena pesawat Moskow itu terbang mendekati wilayah udara Polandia. Itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer Warsawa melacak balon-balon yang diduga datang dari arah negara tetangga; Belarusia. Gara-gara balon misterius itulah, Polandia menutup sementara wilayah udara sipil di wilayah timur laut. “Pagi ini, di atas perairan internasional Laut Baltik, jet tempur Polandia mencegat, mengidentifikasi secara visual, dan mengawal pesawat pengintai Rusia yang terbang di dekat perbatasan wilayah udara Polandia dari area tanggung jawab mereka,” kata Komando Operasional Angkatan Bersenjata Polandia dalam sebuah unggahan di X pada Kamis, yang dikutip Reuters, Jumat (26/12/2025). Baca Juga: Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Muncul di Atas Laut Norwegia, Langsung Didekati Jet-jet Tempur Asing Komando itu merinci balon-balon misterius yang menyusup ke wilayah Polandia. "Setelah analisis terperinci, dipastikan bahwa ini kemungkinan besar adalah balon penyelundupan, yang bergerak searah dan dengan kecepatan angin. Penerbangan mereka terus dipantau oleh sistem radar kami,” kata Komando Operasional. Unggahan komando itu tidak mengungkapkan detail lebih lanjut tentang jumlah atau pun ukuran balon. Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz mengatakan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan Polandia. "Terima kasih kepada hampir 20.000 tentara kami yang, selama liburan, menjaga keamanan kami,” katanya. “Semua provokasi di Laut Baltik dan di dekat perbatasan dengan Belarusia berada di bawah kendali penuh Angkatan Darat Polandia,” katanya. Kedutaan Besar Belarusia dan Rusia di Warsawa belum bersedia berkomentar. Sebelumnya, balon-balon penyelundup dari Belarusia telah berulang kali mengganggu lalu lintas udara di negara tetangga; Lithuania, memaksa penutupan bandara. Lithuania mengatakan balon-balon tersebut dikirim oleh penyelundup yang mengangkut rokok dan merupakan "serangan hibrida" oleh Belarusia, sekutu dekat Rusia. Belarusia membantah bertanggung jawab atas balon-balon tersebut. Pegumuman dari Polandia muncul tiga bulan setelah pasukan Warsawa dan sekutu NATO-nya menembak jatuh lebih dari selusin drone Rusia saat mereka terbang di atas wilayah udara Polandia antara tanggal 9 hingga 10 September. Peristiwa itu merupakan pelanggaran terbesar sejenisnya di wilayah udara Polandia sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Setelah insiden tersebut, Polandia mengadakan sesi darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengatakan pada saat itu bahwa Rusia sedang menguji seberapa cepat negara-negara NATO dapat menanggapi ancaman.
Perilaku Militer China Berisiko Picu Insiden Tak Disengaja dengan Jepang
Latihan udara berbasis kapal induk yang dilakukan militer China di perairan sekitar Prefektur Okinawa hampir memicu krisis keamanan serius dengan Jepang. Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan bilateral, menyusul serangkaian manuver militer China yang dinilai tidak terkoordinasi dan berisiko tinggi terhadap stabilitas kawasan Asia Timur. Pendiri Parley Policy Initiative, Michael MacArthur Bosack, menilai China kemungkinan tidak berniat memicu krisis saat memulai latihan tersebut, namun perilaku pasukannya justru membawa kedua negara ke ambang konfrontasi. “China kemungkinan tidak bermaksud memicu krisis ketika memulai latihan berbasis kapal induk di perairan lepas Okinawa, tetapi hampir saja krisis terjadi akibat perilaku sembrono pasukannya,” tulis Bosack, sebagaimana dikutip dari The Japan Times, Jumat (26/12/2025). Baca Juga: Jet Tempur J-15 China Bidik F-15 Jepang, PM Takaichi Janji Merespons Tegas Dia menegaskan bahwa eskalasi ini terjadi pada saat pemerintah China sebelumnya telah secara sepihak meningkatkan ketegangan, diperparah oleh minimnya koordinasi yang bertanggung jawab serta tindakan tidak profesional personel militernya. Insiden Radar Kendali Ketegangan antara Beijing dan Tokyo meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Parlemen terkait potensi dampak blokade maritim terhadap Taiwan bagi keamanan Jepang. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras China. Menurut Bosack, Beijing merespons dengan pola eskalasi bertahap. “Pengakuan Takaichi memicu respons yang kikuk dan terus meningkat dari Beijing, dimulai dari retorika eskalatif dan tuntutan pencabutan pernyataan, lalu berlanjut ke langkah diplomatik dan ekonomi balasan,” tulisnya. Baca Juga: Insiden Radar Okinawa: Sinyal Eskalasi Baru dalam Dinamika Keamanan Jepang-China Situasi memburuk ketika China meningkatkan manuver militernya di sekitar Jepang, termasuk penerbangan pesawat tanpa awak di dekat Pulau Yonaguni serta pelayaran kapal perang melalui sejumlah selat Jepang. China juga melakukan penerbangan gabungan pesawat pengebom mengelilingi Pulau Honshu dan Kyushu bersama pesawat Rusia. Puncaknya terjadi saat jet tempur China yang beroperasi dari kapal induk Liaoning memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Jepang. Angkatan Udara Bela Diri Jepang mengerahkan jet tempurnya sesuai prosedur standar untuk melakukan pencegatan dan pengawalan. Namun, insiden berbahaya terjadi ketika pesawat tempur China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke arah jet Jepang. “Ketika jet tempur China mulai beroperasi di dalam ADIZ Jepang, Angkatan Udara Bela Diri mengikuti prosedur standar, tetapi pesawat China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke pesawat Jepang—langkah yang diperlukan sebelum penggunaan senjata terhadap target,” tutur Bosack. Risiko Kesalahan Fatal Insiden tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Jepang. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengeluarkan sejumlah pernyataan resmi, sementara pemerintah China berupaya mengalihkan tanggung jawab kepada pihak Jepang. Meski armada kapal induk Liaoning akhirnya kembali ke China dan krisis akut berhasil dihindari, Bosack memperingatkan bahwa insiden ini mencerminkan masalah yang lebih besar. “Insiden latihan udara Liaoning hanyalah gejala dari penyakit yang lebih serius, yaitu normalisasi perilaku militer China yang ceroboh dan bersifat intimidatif,” ujarnya. Bosack menegaskan bahwa meningkatnya frekuensi insiden, dikombinasikan dengan kemampuan militer China yang semakin besar, memperbesar risiko kesalahan fatal di masa depan. “Tanpa koreksi arah, normalisasi perilaku militer China yang sembrono akan membuat krisis di masa depan bukan hanya mungkin terjadi, tetapi semakin besar kemungkinannya,” ujarnya. Dia menekankan bahwa pencegahan hanya dapat dilakukan jika Jepang dan mitra-mitranya secara konsisten menegakkan hukum dan norma internasional serta menolak mengakomodasi tindakankoersif.
Mengomentari video tersebut, Peskov mengatakan, “Video itu tampak tidak beradab, penuh kebencian, dan berasal dari seseorang yang tampaknya tidak waras." "Orang bertanya-tanya apakah dia mampu membuat keputusan rasional apa pun menuju penyelesaian politik dan diplomatik," tambah juru bicara Kremlin, merujuk pada upaya Rusia-AS yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik Ukraina. Moskow telah menuduh Kiev dan pendukung Eropanya berulang kali merusak pembicaraan perdamaian dengan mengajukan tuntutan yang tidak dapat diterima. Awal pekan ini, Zelensky mengungkap versi 20 poin dari rencana perdamaian Kiev yang awalnya diusulkan oleh AS. Di dalamnya, ia sebagian besar mengabaikan kekhawatiran Rusia, menuntut konsesi teritorial dari Moskow meskipun Moskow terus meraih kemajuan militer. Ia juga bersikeras mempertahankan tentara yang berjumlah 800.000 orang, jaminan keamanan ala NATO, percepatan keanggotaan Uni Eropa, dan ratusan miliar investasi Barat. Rencana tersebut juga menghapus ketentuan yang terkait dengan hak bahasa Rusia dan Gereja Ortodoks Ukraina, menggantinya dengan komitmen yang dirumuskan secara longgar untuk mengembangkan program pendidikan guna mempromosikan toleransi dan anti-rasisme. Moskow menolak berkomentar tentang proposal tersebut, tetapi mencatat proposal tersebut sedang dianalisis. Putin telah berulang kali menyatakan Rusia terbuka untuk negosiasi tetapi bersikeras setiap penyelesaian harus mengatasi akar penyebab konflik dan mencerminkan realitas teritorial di lapangan.