News Komoditi & Global ( Kamis, 5 Februari 2026 )
News Komoditi & Global ( Kamis, 5 Februari 2026 )
Harga Emas Global Naik, Dipicu Ketegangan AS-Iran
Harga emas kembali naik mendekati level US$ 5.100 pada hari Rabu (4/2/2026), didukung oleh permintaan aset safe-haven karena ketegangan geopolitik AS-Iran yang kembali meningkat menambah daya tarik emas batangan sehari setelah mencatatkan hari terbaiknya dalam lebih dari 17 tahun.
Rabu (4/2/2026) pukul 15.15 WIB, harga emas spot naik 2,9% menjadi US$ 5.082,94 per ons troi, setelah melonjak hampir 6% pada hari Selasa (3/2/2026), kenaikan harian terbesar sejak November 2008.
Di mana, harga emas batangan mencapai rekor tertinggi di posisi US$ 5.594,82 per ons troi pada Kamis (29/1/2026).
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April 2026 naik 3,4% menjadi US$ 5.103,50 per ons.
Militer AS pada hari Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang "secara agresif" mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab, kata militer AS.
Harga emas kembali pulih dari titik terendah $4.403,24 yang dicapai pada hari Senin setelah aksi jual dua hari terbesar dalam beberapa dekade.
"Setelah reli yang begitu tajam, koreksi diperkirakan akan terjadi, itu tidak mengejutkan — dan dengan harga emas yang kembali naik, fundamentalnya tidak banyak berubah," kata analis ANZ, Soni Kumari, menambahkan bahwa latar belakang geopolitik dan ekonomi sebagian besar tetap tidak berubah.
Goldman Sachs mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka melihat risiko kenaikan yang signifikan terhadap perkiraan akhir tahun mereka sebesar $5.400 untuk emas karena bank sentral mempertahankan laju akumulasi mereka baru-baru ini bersamaan dengan investor swasta yang meningkatkan pembelian ETF emas.
"Ke depannya... kami memperkirakan level $5.600 yang sama (untuk emas) pada akhir paruh pertama atau akhir April, sementara harga akan terus naik setelah itu dan target akhir tahun kami adalah US$ 6.000 per ons," kata Jigar Trivedi, analis riset senior di IndusInd Securities.
Harga perak spot melesat 6,1% menjadi US$ 90,34 per ons troi. Harga perak menyentuh rekor tertinggi US$ 121,64 pada hari Kamis tetapi jatuh ke level terendah bulan ini di US$ 71,33 pada hari Senin setelah mencatat penurunan harga sesi tunggal terbesar sebesar 27% pada hari Jumat.
Pasar sekarang menunggu data penggajian swasta ADP untuk petunjuk lebih lanjut tentang jalur kebijakan Federal Reserve meskipun penutupan sebagian pemerintah AS telah menunda laporan ketenagakerjaan yang sangat dinantikan untuk bulan Januari.
Spot platinum juga naik 5,6% menjadi US$ 2,334.25 per ons troi, sementara paladium menanjak 5,4% menjadi US$ 1,826.21 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Melonjak Jelang Ketidakpastian Perundingan AS–Iran
Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada Rabu (4/2/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap rencana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi gagal.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.
Harga minyak Brent ditutup naik US$ 2,13 atau 3,16% ke level US$ 69,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,93 atau 3,05% ke US$ 65,14 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah laporan media menyebutkan bahwa pembicaraan AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung Jumat ini terancam batal.
Pemerintah AS menolak permintaan Iran untuk memindahkan lokasi perundingan, menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS.
Sepanjang pekan ini, harga minyak bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan isu de-eskalasi hubungan AS–Iran dan kekhawatiran terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Jalur ini menjadi urat nadi perdagangan energi global karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewatinya.
“Jika konflik terbuka terjadi di Iran, sekitar 3,4 juta barel per hari pasokan minyak berisiko terganggu. Namun yang lebih krusial adalah kontrol Iran atas Selat Hormuz,” kata Direktur Energi dan Kilang ICIS, Ajay Parmar.
Menurutnya, premi risiko geopolitik masih tertanam kuat di pasar sehingga harga bertahan lebih tinggi dibandingkan kondisi fundamental.
Ketegangan kian meningkat setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab.
Di sisi lain, sejumlah kapal cepat Iran juga dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman. Rencananya, perundingan AS dan Iran akan digelar di Oman.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur utama ekspor minyak negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, terutama menuju pasar Asia.
Di saat bersamaan, impor minyak Rusia oleh India tercatat menurun pada Januari, melanjutkan tren penurunan sejak Desember. Penurunan ini dipicu tekanan sanksi Barat serta negosiasi dagang yang tengah berlangsung antara AS dan India.
Dari sisi pasokan, data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun.
Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah turun 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel pada pekan lalu, di tengah badai musim dingin yang melanda sejumlah wilayah AS. Produksi minyak AS juga turun ke level terendah sejak November 2024.
Penurunan ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan stok sekitar 489.000 barel.
Meski demikian, analis Price Futures Group Phil Flynn menilai dampak positif dari penurunan stok ini terbatas karena tidak sebesar estimasi American Petroleum Institute (API) yang sebelumnya memperkirakan penurunan lebih dari 11 juta barel.
Wall Street Ditutup Turun karena Kekhawatiran tentang AI Hantam Saham Teknologi
Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (4/2/2026).
Tekanan datang terutama dari saham-saham teknologi, seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa reli saham kecerdasan buatan (AI) mulai mendekati titik jenuh.
Melansir Reuters, indeks S&P 500 turun 35,59 poin atau 0,51% ke level 6.882,22. Nasdaq Composite anjlok 350,61 poin atau 1,51% ke 22.903,13. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru naik 246,56 poin atau 0,51% ke 49.487,55.
Sejumlah saham teknologi besar terkoreksi tajam. Advanced Micro Devices (AMD) anjlok setelah proyeksi pendapatan kuartalannya meleset dari ekspektasi pasar.
AMD juga memberi sinyal tengah menghadapi persaingan berat dengan raksasa chip AI, Nvidia. Saham Nvidia ikut turun, mendorong indeks semikonduktor PHLX berakhir di zona merah.
Palantir turut tertekan, membalikkan lonjakan tajam sehari sebelumnya yang dipicu kinerja penjualan kuartalan yang kuat.
Alphabet juga melemah menjelang rilis laporan keuangan, di tengah perhatian investor terhadap seberapa besar investasi masif Google di AI berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan.
Manajer portofolio Argent Capital, Jed Ellerbroek, menilai pasar masih kesulitan menilai valuasi saham-saham AI.
“Skala pembangunan infrastruktur dan kecepatan adopsi AI belum pernah terjadi sebelumnya. Pasar tiba-tiba menjadi skeptis dan khawatir soal ke mana arah valuasi saham ke depan,” ujarnya.
Tekanan juga melanda saham perangkat lunak. Snowflake dan Datadog melemah di tengah kekhawatiran bahwa perkembangan AI yang sangat cepat dapat mengganggu pemain lama.
“Perangkat lunak lama yang kaku menjadi sasaran empuk AI. Kami cenderung bearish terhadap sektor software secara umum,” kata Josh Chastant dari GuideStone Funds.
Di tengah pelemahan saham pertumbuhan, investor mulai beralih ke saham-saham berharga lebih murah yang tertinggal dari reli teknologi. Indeks S&P 500 Value naik untuk hari kelima berturut-turut, sementara indeks S&P 500 Growth justru turun.
Di luar tekanan sektor teknologi, saham Super Micro Computer melonjak setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan tahunan, didorong permintaan kuat server yang dioptimalkan untuk AI.
Saham Eli Lilly juga menguat dan menahan penurunan S&P 500, setelah perusahaan farmasi itu memproyeksikan laba 2026 di atas ekspektasi Wall Street.
Dari sisi data ekonomi, rilis laporan ketenagakerjaan pemerintah AS untuk Januari ditunda akibat penutupan sebagian pemerintah selama empat hari yang baru berakhir Selasa.
Sementara itu, laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja swasta AS pada Januari lebih rendah dari perkiraan, dengan penurunan terjadi di sektor jasa profesional, bisnis, dan manufaktur.
AS dan Iran Akan Gelar Perundingan Nuklir di Oman di Tengah Ketegangan yang Meningkat
Amerika Serikat (AS) dan Iran diperkirakan akan menggelar perundingan nuklir di Oman pada Jumat (6/2/2026, kata seorang diplomat regional, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump memperkuat kehadiran militer di Timur Tengah dan memperingatkan potensi konfrontasi jika kesepakatan gagal dicapai.
Trump mengatakan bahwa “hal-hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
Pernyataan tersebut meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam Iran dalam kebuntuan yang telah diwarnai ancaman saling serang udara serta memicu kekhawatiran eskalasi menuju konflik yang lebih luas.
Iran menegaskan tidak akan memberikan konsesi terkait program rudal balistiknya, yang disebut sebagai garis merah dalam negosiasi.
Pemerintahan Trump menyetujui permintaan Iran untuk memindahkan lokasi perundingan dari Turki ke Oman.
Namun, pembahasan masih berlangsung mengenai apakah negara-negara Arab dan Muslim di kawasan akan ikut serta dalam perundingan tersebut, lapor jurnalis Axios Barak Ravid pada Selasa (3/2/2026), mengutip sumber Arab.
Militer AS pada Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut “berperilaku agresif” saat mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, menurut pernyataan militer AS dalam insiden yang pertama kali dilaporkan Reuters.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, “Kami sedang bernegosiasi dengan mereka sekarang,” namun tidak memberikan rincian lebih lanjut dan menolak menyebutkan lokasi perundingan.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa Jared Kushner, menantu Trump, dijadwalkan ikut ambil bagian dalam perundingan, bersama Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Sejumlah menteri dari negara kawasan seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Uni Emirat Arab sebelumnya juga diperkirakan hadir.
Namun, sumber regional mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran kini menginginkan perundingan bilateral langsung dengan AS.
Peningkatan kehadiran angkatan laut AS terjadi setelah Iran melakukan penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu, yang disebut sebagai kerusuhan domestik paling mematikan sejak Revolusi Iran 1979.
Trump, yang akhirnya tidak merealisasikan ancaman intervensi langsung, kemudian menuntut konsesi nuklir dari Iran dan mengirim armada militer ke perairan dekat negara tersebut.
Seorang pejabat regional sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa prioritas upaya diplomatik ini adalah mencegah konflik dan meredakan ketegangan.
Para pemimpin Iran disebut semakin khawatir bahwa serangan AS dapat menggoyahkan cengkeraman mereka terhadap kekuasaan dengan memicu kembali kemarahan publik, menurut enam pejabat Iran, baik yang masih aktif maupun mantan pejabat.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, militer AS menyatakan sebuah drone Shahed-139 Iran yang terbang menuju kapal induk Abraham Lincoln “dengan tujuan yang tidak jelas” ditembak jatuh oleh jet tempur F-35 pada Selasa.
Kantor berita Tasnim milik Iran melaporkan bahwa koneksi dengan sebuah drone di perairan internasional telah terputus, namun penyebabnya tidak diketahui.
Dalam insiden terpisah di Selat Hormuz, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengganggu sebuah kapal tanker berbendera AS.
“Dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati kapal M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menaiki dan menyita kapal tersebut,” kata Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM.
Kelompok manajemen risiko maritim Vanguard menyatakan kapal-kapal Iran memerintahkan tanker tersebut untuk mematikan mesin dan bersiap untuk dinaiki. Namun, kapal tanker justru meningkatkan kecepatan dan melanjutkan pelayaran.
Pada Juni lalu, Amerika Serikat (AS) menyerang target nuklir Iran, bergabung di fase akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari.
Sejak itu, Teheran menyatakan kegiatan pengayaan uraniumnya yang diklaim untuk tujuan damai telah dihentikan.
Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa Trump mengajukan tiga syarat untuk melanjutkan perundingan: nol pengayaan uranium di Iran, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan.
Iran sejak lama menyebut ketiga tuntutan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatannya.
Namun, dua pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa para pemimpin ulama Iran justru memandang program rudal balistik, bukan pengayaan uranium, sebagai hambatan terbesar dalam perundingan.
Israel Lakukan Pelecahan dan Intimidasi di Penyeberangan Rafah
Warga Palestina yang kembali ke Jalur Gaza menceritakan rincian pelecehan yang mereka hadapi di tangan tentara pendudukan Israel di penyeberangan Rafah. Selain itu, mereka juga sempat dipaksa menjadi mata-mata Zionis.
Pada Selasa pagi, gelombang pertama pengungsi yang kembali tiba di Jalur Gaza melalui penyeberangan darat Rafah setelah dibuka di kedua arah dengan cara yang sangat terbatas dan terbatas, untuk pertama kalinya sejak pendudukannya pada Mei 2014.
Aljazirah melaporkan bahwa sebuah bus yang membawa 12 warga Palestina (9 wanita dan tiga anak) tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, datang dari penyeberangan Rafah.
Seorang wanita Palestina yang enggan disebutkan namanya mengatakan dalam beberapa video yang beredar di media sosial bahwa pasukan Israel menginterogasi dia, ibunya, dan wanita lain dengan kejam.
Dia menambahkan bahwa tentara menutup mata mereka dan mengikat tangan mereka selama berjam-jam sebelum menginterogasi mereka tentang topik yang menurutnya “tidak dia ketahui sama sekali”.
Dia menyatakan bahwa salah satu penyelidik mengancam akan mengambil anak-anaknya dan mencoba memaksanya untuk bekerja sama dan bekerja untuk Israel.
"Mereka berbicara kepada kami tentang masalah imigrasi. Mereka menekan kami untuk tidak kembali. Mereka ingin mengosongkan Gaza dari penduduknya. Mereka bertanya kepada kami tentang Hamas dan apa yang terjadi pada 7 Oktober 2023."
Wanita Palestina tersebut menyatakan bahwa tentara melarang mereka membawa apapun ke Gaza, kecuali pakaian dalam satu tas per orang.
Dia menyatakan bahwa tentara tersebut menyita makanan, parfum, barang-barang pribadi, dan mainan anak-anak, dalam tindakan yang dia gambarkan sebagai penghinaan yang disengaja.
Namun, momen yang paling memilukan, menurut pengakuannya, adalah ketika tentara menolak mengizinkan anaknya membawa mainannya dan merampas mainan tersebut, dalam sebuah adegan yang digambarkan oleh sang ibu sebagai hal yang menghancurkan hati semua orang.
Wanita Palestina tersebut menegaskan bahwa pesan yang disampaikan tentara tersebut jelas: “Mereka tidak ingin kami kembali, dan mereka ingin mengosongkan Gaza dari penduduknya,” sebelum dia berteriak sekeras-kerasnya, memperingatkan, “Tidak seorang pun boleh beremigrasi… Tidak seorang pun boleh meninggalkan Gaza.”
Wanita itu mengakhiri kesaksiannya, pingsan karena kelelahan dan kesedihan, berulang kali berteriak: "Tidak untuk pengungsian!" Dia menggambarkan apa yang dia lalui sebagai "kematian", mengingat siksaan, kelelahan, dan penghinaan yang mereka alami selama penyeberangan.
Seorang wanita lanjut usia Palestina yang menerima perawatan di Mesir menceritakan bahwa dia dipermalukan oleh pasukan pendudukan saat melewati penyeberangan Rafah. Pendudukan menginterogasi dan menanyainya selama berjam-jam.
"Kami mendapat perlakuan buruk. Tentara Israel mengepung bus dengan kendaraan militer dari depan dan belakang, kemudian membawa kami ke daerah lain, setelah itu kami diinterogasi yang berlangsung berjam-jam."
Perempuan lain yang kembali ke Gaza juga berbicara tentang penganiayaan yang mereka alami di pos pemeriksaan pendudukan Israel, dan diinterogasi setelah mata mereka ditutup dan tangan mereka diikat selama berjam-jam, meskipun beberapa dari mereka sakit dan dalam kondisi kesehatan kritis.
Pada hari Senin, perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza mulai beroperasi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, namun dalam skala terbatas dan dengan pembatasan yang ketat.
Lima puluh warga Palestina diperkirakan akan menyeberang ke Jalur Gaza, menurut laporan media Israel dan Mesir pada hari Senin, namun hanya 12 warga Palestina yang mencapai Jalur Gaza.
Sedangkan Sabah al-Raqab dan lima putrinya termasuk di antara 12 warga Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza oleh otoritas Israel ketika perbatasan Rafah dengan Mesir akhirnya dibuka kembali. Al-Raqab mengatakan kepada Aljazirah Arabia bahwa dia berangkat dari kota Arish di Mesir sekitar pukul 02.00 pada hari Senin dan tiba di penyeberangan Rafah satu jam kemudian.
Mereka menunggu di sana sampai sekitar pukul 07:30, ketika pihak berwenang Mesir mengizinkan mereka masuk. Mereka kemudian ditemui oleh sekitar 20 anggota staf dari misi Uni Eropa dan Otoritas Palestina, yang menanyai dan memeriksa barang-barang mereka.
Mereka diberi lampu hijau untuk menyeberang sekitar 12 jam kemudian. Sesampainya di Gaza, mereka dihadang oleh tentara Israel di dekat apa yang disebut Koridor Morag, yang memisahkan kota Rafah dari seluruh Gaza. Dua interogator Israel, yang fasih berbahasa Arab, menawarinya pilihan antara meninggalkan Gaza lagi atau memberikan informasi intelijen kepada tentara.
“Kami membutuhkan Anda untuk menjadi mata dan telinga kami,” kata mereka. Al-Raqab mengatakan bahwa keluarganya dilepaskan ketika delegasi Eropa turun tangan untuk mengizinkan mereka yang kembali melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.
Sebanyak 27 warga Palestina melintasi penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir pada hari pertama pembukaannya, kemarin. Jumlah itu jauh dari yang dijanjikan Israel dan Mesir boleh melintas tiap harinya.
Reuters melaporkan, sekitar 150 orang dijadwalkan meninggalkan wilayah tersebut pada hari Senin, dan 50 orang akan memasukinya, menurut para pejabat Mesir, lebih dari 20 bulan setelah pasukan Israel menutup penyeberangan tersebut.
Namun, saat malam tiba, Israel hanya mengizinkan 12 warga Palestina untuk memasuki kembali wilayah tersebut, menurut sumber-sumber Palestina dan Mesir. Sebanyak 38 orang lainnya belum melewati pemeriksaan keamanan dan akan menunggu di sisi penyeberangan Mesir semalaman.
Terkait keluarnya pasien, Israel mengizinkan lima pasien yang dikawal oleh dua kerabatnya masing-masing untuk menyeberang ke wilayah Mesir, kata sumber tersebut. Hal ini menjadikan jumlah total yang masuk dan keluar menjadi 27 orang. Para pejabat Palestina menyalahkan keterlambatan pemeriksaan keamanan Israel.
Militer Israel belum memberikan komentar mengenai hal ini. Ambulans menunggu berjam-jam di perbatasan sebelum mengangkut pasien menyeberang setelah matahari terbenam, menurut tayangan televisi pemerintah Mesir.
Penyeberangan tersebut telah ditutup sejak pasukan Israel merebutnya pada Mei 2024, dan hanya dibuka sebentar selama gencatan senjata pada awal tahun 2025 untuk evakuasi pasien medis.
Sekitar 20.000 anak-anak dan orang dewasa Palestina yang membutuhkan perawatan medis berharap dapat meninggalkan wilayah yang hancur tersebut melalui penyeberangan, menurut pejabat kesehatan Gaza. Ribuan warga Palestina lainnya di luar wilayah tersebut berharap bisa masuk dan kembali ke rumah mereka.
AS Disebut 'Bunuh Diri Politik', Pakar Inggris Ungkap Rahasia Ketangguhan Militer Iran
Dunia kembali menahan napas saat Amerika Serikat dan Israel terus melontarkan ancaman aksi militer baru terhadap Iran. Namun, di balik retorika panas tersebut, bayang-bayang kegagalan perang 12 hari pada Juni 2025 masih menghantui Washington dan Tel Aviv.
Pengalaman perang singkat tersebut telah mengubah peta kekuatan di Asia Barat, membuktikan bahwa Iran bukan sekadar lawan yang bisa ditekan, melainkan raksasa militer yang memiliki daya tahan luar biasa dan kemampuan membalas dengan dampak yang menghancurkan.
Ketegangan ini bermula pada 13 Juni 2025, ketika Israel memicu konflik dengan membunuh ilmuwan nuklir dan pejabat senior militer Iran, serta membombardir wilayah pemukiman di Teheran. Amerika Serikat di bawah Donald Trump kemudian bergabung dengan mengebom tiga fasilitas nuklir utama di Natanz, Isfahan, dan Fordow.
Namun, yang terjadi selanjutnya adalah kejutan besar bagi intelijen Barat: alih-alih lumpuh, Iran justru menunjukkan daya lenting militer yang mengerikan. Dengan cepat, Teheran mengatur ulang pasukannya dan meluncurkan serangan balasan presisi menggunakan rudal dan drone yang menembus jantung pertahanan udara Israel serta pangkalan utama AS di Qatar.
Peneliti Inggris dari Koalisi Stop the War, Steve Bell, menegaskan bahwa serangan balasan Iran tahun lalu telah menghancurkan mitos "kekebalan" Israel. "Kemampuan Iran untuk bangkit dari serangan awal yang tidak beralasan dan menimbulkan kerusakan parah pada instalasi musuh telah memberi AS alasan kuat untuk sangat berhati-hati," ujarnya, sebagaimana diberitakan IRNA.
Bell menekankan bahwa jika pertahanan udara Israel saja bisa ditembus, maka seluruh instalasi militer AS di kawasan itu kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Setiap tindakan petualangan militer baru kini dianggap sebagai keputusan berisiko tinggi dengan biaya yang tak terhitung.
Senada dengan itu, mantan anggota parlemen Inggris, Chris Williamson, memperingatkan bahwa Iran bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Pasca-perang Juni 2025, Iran diyakini telah memperkuat sistem pertahanan udara dan meningkatkan akurasi rudal balistik mereka berkali-kali lipat.
Williamson mencatat bahwa meski kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke Asia Barat, kapal raksasa tersebut justru menjadi target empuk bagi rudal-rudal Iran. "Kali berikutnya, tanggapan Iran hampir pasti akan jauh lebih menghancurkan," tegasnya.
Daya tahan Iran ini tidak hanya bersumber dari perangkat keras militernya, tetapi juga dari kematangan strategi perang asimetrisnya. Iran telah membuktikan bahwa mereka mampu menyerap pukulan pertama dan membalas dengan serangan yang menyasar titik paling lemah musuh.
Hal ini memaksa para pengambil kebijakan di Washington untuk berpikir dua kali. Apalagi, masyarakat AS kini semakin antipati terhadap perang; jajak pendapat Universitas Quinnipiac menunjukkan 70% warga AS menolak aksi militer terhadap Iran, sebuah angka yang sangat krusial di tahun pemilihan paruh waktu.
Lebih jauh lagi, Alastair Warren Crooke, mantan diplomat senior MI6, menggambarkan serangan baru ke Iran sebagai sebuah "bunuh diri politik" bagi administrasi Trump. Pukulan telak yang diterima Israel pada perang Juni 2025, yang bahkan memaksa Tel Aviv meminta gencatan senjata melalui Trump, menunjukkan bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan merugikan kepentingan Barat.
Perang baru tidak hanya akan menghancurkan stabilitas ekonomi di kawasan lewat potensi penutupan Selat Hormuz, tetapi juga akan menyeret sekutu-sekutu AS ke dalam bencana militer yang berlarut-larut.
Pada akhirnya, Iran telah mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada dunia: mereka memiliki stamina militer untuk bertahan dan keberanian untuk membalas siapa pun yang menyerang dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan. Di tengah tekanan domestik dan risiko regional yang "apokaliptik", Amerika Serikat dan Israel kini terjebak dalam dilema antara gengsi politik dan kenyataan pahit bahwa Iran telah menjadi kekuatan yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Rahasia ketangguhan militer Iran yang membuat mereka mampu bertahan dan membalas serangan Amerika Serikat serta Israel bukan terletak pada kemewahan alutsista, melainkan pada doktrin perang asimetris yang sangat matang. Iran menyadari tidak bisa menandingi teknologi siluman AS secara simetris, sehingga mereka membangun pertahanan yang dirancang untuk menyerap pukulan pertama dan membalas di titik yang paling tidak terduga.
Salah satu kekuatan utama Iran adalah penguasaan wilayah yang luas dan bergunung-gunung. Mereka telah membangun jaringan fasilitas militer bawah tanah yang dikenal sebagai "Kota Rudal" di sepanjang Pegunungan Zagros. Terowongan-terowongan beton ini berada jauh di bawah lapisan batu yang sangat tebal, sehingga hampir mustahil dihancurkan bahkan oleh bom penghancur bunker (bunker buster) tercanggih milik Amerika sekalipun. Hal inilah yang memungkinkan Iran tetap bisa meluncurkan rudal balistik meski wilayah permukaan mereka telah dibombardir.
Berpuluh-puluh tahun hidup di bawah sanksi internasional memaksa Iran untuk tidak bergantung pada suku cadang Barat. Teheran berhasil membangun kemandirian industri pertahanan yang luar biasa, mulai dari memproduksi rudal balistik presisi tinggi seperti keluarga Fateh hingga drone bunuh diri Shahed. Karena diproduksi secara mandiri dan murah, Iran mampu membanjiri medan tempur dengan ribuan unit senjata yang dapat menguras sistem pertahanan udara musuh yang harganya jauh lebih mahal.
Iran memegang rekor sebagai pemilik gudang senjata rudal terbesar dan paling beragam di kawasan. Rahasia ketangguhan mereka terletak pada mobilitas; rudal-rudal ini ditempatkan pada kendaraan peluncur yang selalu bergerak (Mobile Launcher). Hal ini membuat intelijen satelit Amerika kesulitan menentukan koordinat pasti lokasi peluncuran, sehingga Iran selalu memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan cepat sesaat setelah mereka diserang.
Di laut, Iran tidak menggunakan kapal induk besar yang mudah menjadi sasaran. Mereka mengandalkan ribuan perahu cepat (speedboats) yang lincah dan sulit dideteksi radar. Dalam skenario pertempuran, perahu-perahu ini akan menyerang dalam jumlah besar secara serentak dari berbagai arah (swarming), menggunakan rudal anti-kapal dan torpedo. Taktik ini dirancang khusus untuk melumpuhkan kapal perang raksasa Amerika di perairan sempit Selat Hormuz.
Tanpa jet tempur generasi kelima, Iran mengubah drone menjadi angkatan udara mereka. Drone Iran dikenal sangat efektif karena ukurannya yang kecil dan kemampuan terbang rendahnya yang dapat mengecoh radar musuh. Kesuksesan mereka menembus pertahanan udara Israel dan pangkalan AS di Qatar pada perang Juni 2025 membuktikan bahwa teknologi drone Iran sanggup memberikan dampak strategis dengan biaya yang sangat minim dibandingkan dengan risiko kehilangan pilot manusia.
Ketangguhan Iran juga terletak pada proksi atau sekutu regional mereka. Dari Hizbullah di Lebanon hingga milisi di Irak dan Yaman, Iran memiliki jaringan tempur yang siap bergerak secara serentak jika Teheran diserang. Hal ini memaksa Amerika dan Israel memecah konsentrasi pertahanan mereka karena ancaman tidak hanya datang dari arah Iran, melainkan dari seluruh penjuru mata angin di Timur Tengah.
Iran telah berinvestasi besar-besaran dalam kemampuan siber dan intelijen manusia. Mereka sering kali berhasil meretas sistem navigasi atau komunikasi militer lawan, yang membuat serangan musuh menjadi tidak akurat. Selain itu, kemampuan intelijen IRGC dalam memetakan posisi pangkalan-pangkalan AS di kawasan memungkinkan Iran untuk memilih target balasan yang memiliki nilai politik dan militer paling menyakitkan bagi Washington.
Rahasia terakhir yang tak kalah penting adalah faktor ideologi. Personel IRGC bukan sekadar tentara reguler; mereka adalah pasukan ideologis yang memiliki tingkat loyalitas dan kesediaan berkorban yang sangat tinggi. Kombinasi antara kefanatikan terhadap tugas dan pelatihan tempur yang keras menciptakan mentalitas pantang menyerah yang membuat mereka tetap mampu mengatur ulang komando di tengah kekacauan perang untuk segera melancarkan serangan balasan.
Penasihat Khamenei Tegaskan Posisi Iran Soal Program Nuklir dan Pembicaraan dengan AS
Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.
Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara eksklusif dengan saluran satelit Al Mayadeen pada Senin malam. Shamkhani, yang juga merupakan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan mantan panglima angkatan laut Iran, tampil mengenakan seragam dinas saat menyampaikan penjelasannya.
Lebih lanjut, Shamkhani menyoroti kemungkinan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai isu nuklir. Ia menyatakan bahwa jika dialog dilakukan, tahap awalnya kemungkinan akan bersifat tidak langsung. Pembicaraan langsung baru akan dipertimbangkan jika terdapat indikasi kuat bahwa kesepakatan dapat tercapai.
Opsi pembicaraan langsung dengan AS merupakan isu yang sangat sensitif di dalam politik Iran, dengan kelompok reformis seperti Presiden Masoud Pezeshkian cenderung mendorongnya, sementara faksi garis keras menentangnya.
Shamkhani menekankan bahwa setiap pembicaraan dengan AS harus sepenuhnya berfokus pada persoalan nuklir. Ia juga menyatakan bahwa Amerika "harus menawarkan sesuatu sebagai imbalan" jika Iran diminta untuk mengurangi tingkat pengayaan uraniumnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Rusia mengambil alih stok uranium yang diperkaya Iran, seperti yang pernah diusulkan dalam perjanjian nuklir 2015, Shamkhani dengan tegas menolak, dengan alasan "tidak ada dasar" untuk langkah tersebut. Penolakan ini disampaikan meski juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Rusia telah lama menawarkan layanan serupa sebagai salah satu opsi solusi.
"Iran tidak mencari, tidak akan mencari, dan tidak akan pernah menimbun senjata nuklir," tegas Shamkhani. "Namun, pihak lain harus membayar harga yang setimpal sebagai imbalannya."
Saat ini, Iran diketahui telah mengembangkan kemampuan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%, yang hanya selangkah lagi dari tingkat yang diperlukan untuk keperluan senjata. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat bahwa Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang mengembangkan uranium hingga tingkat tersebut.
Di sisi lain, Shamkhani mengakui bahwa Iran belum dapat memenuhi permintaan IAEA untuk menginspeksi lokasi-lokasi yang dibom dalam konflik bulan Juni lalu. "Jumlah uranium yang diperkaya di lokasi tersebut masih belum dapat dipastikan, karena sebagian terkubur di bawah reruntuhan. Belum ada inisiatif untuk mengekstraksinya mengingat kondisi yang sangat berbahaya," jelasnya.
Pemerintah Republik Islam Iran secara konsisten menegaskan bahwa program pengembangan nuklir mereka, termasuk pengayaan uranium, ditujukan sepenuhnya untuk tujuan damai dan sipil. Berdasarkan fatwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Iran secara resmi melarang kepemilikan dan penggunaan senjata nuklir karena dianggap bertentangan dengan prinsip agama. Bagi Teheran, nuklir adalah teknologi masa depan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, kemajuan medis, serta penelitian ilmiah yang menjadi hak setiap negara berdaulat.
Salah satu komitmen utama Iran adalah penggunaan nuklir untuk diversifikasi sumber energi guna mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan gas alam. Dengan populasi yang terus tumbuh dan industrialisasi yang masif, Iran memerlukan pasokan listrik yang stabil dan bersih dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) seperti yang ada di Bushehr. Iran berargumen bahwa membakar sumber daya hidrokarbon hanya untuk listrik adalah pemborosan ekonomi, sehingga nuklir menjadi solusi strategis untuk menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Selain energi, pengembangan uranium tingkat rendah sangat krusial bagi sektor medis Iran, khususnya dalam produksi radioisotop untuk pengobatan kanker dan alat diagnosa rumah sakit. Selama bertahun-tahun, sanksi Barat seringkali menghambat impor obat-obatan dan teknologi medis, sehingga kemandirian nuklir menjadi jalan keluar bagi Teheran untuk menyelamatkan nyawa jutaan warganya. Komitmen ini sering ditunjukkan Iran dengan mengundang pengawas internasional, meski dalam beberapa tahun terakhir akses tersebut mengalami dinamika politik akibat ketegangan militer.
Namun, Amerika Serikat selalu memandang komitmen damai Iran dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Washington berargumen bahwa kemampuan Iran untuk memperkaya uranium hingga tingkat 60%, seperti yang dilaporkan IAEA baru-baru ini, sudah sangat dekat dengan ambang batas militer (90%) yang dibutuhkan untuk membuat bom. Bagi AS, memiliki teknologi nuklir yang canggih berarti Iran memiliki "kemampuan teknis" untuk menciptakan senjata kapan saja jika mereka memutuskan untuk melakukan itu (breakout capability).
AS juga mengkhawatirkan bahwa program nuklir sipil Iran hanyalah kedok untuk menutupi ambisi hegemoni regional. Washington percaya bahwa jika Iran memiliki kekuatan nuklir, hal itu akan memicu perlombaan senjata di Timur Tengah, di mana negara-negara seperti Arab Saudi mungkin akan merasa perlu untuk menyeimbangkan kekuatan tersebut. Oleh karena itu, AS lebih memilih kebijakan sanksi maksimum dan tekanan diplomatik untuk memastikan Iran tidak pernah mencapai titik mandiri secara nuklir.
Di sisi lain, Israel memandang program nuklir Iran bukan sekadar isu keamanan, melainkan "ancaman eksistensial" yang tidak bisa ditawar. Pemimpin Israel secara konsisten menyatakan bahwa Iran yang memiliki nuklir, baik sipil maupun militer, adalah bahaya bagi keberlangsungan negara Israel. Hal ini didasarkan pada retorika keras para pejabat Teheran di masa lalu. Israel tidak percaya pada janji atau fatwa apa pun, dan berkeyakinan bahwa pengayaan uranium dalam jumlah besar di bawah kendali Iran adalah persiapan menuju senjata pemusnah massal.
Ketidakpercayaan Israel ini diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari operasi intelijen sabotase, serangan siber melalui virus seperti Stuxnet, hingga aksi militer langsung seperti yang terjadi pada "Perang 12 Hari" di tahun 2025. Israel selalu menekan Amerika Serikat untuk tidak kembali ke perjanjian nuklir lama yang dianggap terlalu lunak.
Bagi Tel Aviv, satu-satunya cara menghentikan Iran adalah dengan melumpuhkan infrastruktur nuklirnya secara fisik, sebuah posisi yang sering kali membuat kawasan berada di ambang perang terbuka.
Pertentangan ini akhirnya menciptakan kebuntuan yang berbahaya. Iran terus melaju dengan pengayaan uraniumnya sebagai bentuk perlawanan terhadap sanksi, sementara AS dan Israel memperketat blokade dan ancaman militer. Di tengah klaim damai Iran dan kecurigaan keras Barat, isu uranium ini tetap menjadi sumbu ledak paling sensitif di Asia Barat, di mana garis batas antara energi masa depan dan alat pemusnah massal menjadi sangat tipis dalam kacamata politik internasional.
Diancam Serangan Kapal Induk Amerika, Iran Tanda Tangan Kerja Sama Rp23 Triliun
Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, Iran menunjukkan keteguhan dan ketahanannya dengan terus melanjutkan agenda pembangunan nasional. Meskipun berada dalam bayang-bayang ancaman militer, termasuk keberadaan Kapal Induk USS Abraham Lincoln beserta armada tempurnya di perairan regional, negara ini justru merespons dengan langkah-langkah strategis di bidang ekonomi dan diplomasi.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa ancaman eksternal tidak akan menghentikan komitmen mereka untuk meningkatkan kemandirian nasional, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat, seraya menekankan bahwa keamanan kawasan adalah tanggung jawab bersama negara-negara di wilayah tersebut.
Keteguhan ini tercermin dalam peluncuran besar-besaran 120 proyek investasi strategis, tepat pada momentum peringatan Revolusi Islam. Langkah ini bukan hanya simbolis, melainkan bukti nyata bahwa Iran mampu menggerakkan sumber daya dalam negeri, melibatkan sektor swasta dan publik, serta menarik investasi domestik untuk mendorong pertumbuhan di tengah tekanan internasional.
Fokus pada sektor-sektor kritis seperti energi, pangan, perumahan, dan pertahanan menunjukkan prioritas pemerintah dalam membangun fondasi ekonomi yang tangguh dan tidak bergantung pada faktor eksternal.
Peringatan Revolusi Islam 1979 tahun ini dirayakan dengan semangat kebanggaan yang luar biasa di kalangan warga Iran. Perayaan "Puluh Fajr" tidak hanya menjadi momen refleksi historis, tetapi juga transformasi menjadi panggung untuk menunjukkan prestasi dan kemandirian bangsa di hadapan dunia, sebagaimana diberitakan IRNA.
Antusiasme masyarakat yang membanjiri jalan-jalan, mengibarkan bendera, dan menyuarakan slogan-slogan persatuan, mencerminkan keyakinan yang mendalam terhadap jalan yang dipilih negara mereka. Semarak perayaan ini memperkuat narasi bahwa revolusi bukanlah peristiwa masa lalu belaka, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang hidup dalam setiap pencapaian dan ketahanan Iran di tengah segala tantangan.
Iran meresmikan 120 proyek investasi patungan yang mencakup sektor pertahanan, energi, perumahan, dan ketahanan pangan, bertepatan dengan peringatan revolusi Islam 1979.
Peringatan Revolusi Islam 1979 di Iran, biasa disebut "Puluh Fajr" (Sepuluh Fajar), adalah serangkaian acara selama sepuluh hari yang memperingati peristiwa-peristiwa kunci revolusi yang menggulingkan monarki Pahlevi dan mendirikan Republik Islam di bawah pimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Perayaan ini dimulai setiap tahun pada tanggal 1 Februari, yang merupakan tanggal kembalinya Khomeini dari pengasingan ke Iran pada tahun 1979, dan mencapai puncaknya pada tanggal 11 Februari, yang dikenal sebagai "Hari Kemenangan Revolusi". Perayaan ini diselenggarakan untuk memperkuat narasi revolusi, mengingatkan masyarakat akan perjuangan melawan rezim Shah, menegaskan legitimasi sistem pemerintahan saat ini, serta menyebarkan nilai-nilai perlawanan terhadap hegemoni asing dan kemandirian nasional.
Perayaan ini digelar dengan sangat semarak dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Selama sepuluh hari, jalan-jalan utama di kota-kota besar, terutama Teheran, dihiasi dengan spanduk, bendera, lampu hias, serta mural raksasa para pendiri revolusi. Berbagai acara digelar, seperti pawai massal, pameran pencapaian nasional (termasuk militer dan teknologi), pembacaan puisi, pertunjukan seni, dan kembang api.
Puncak acara pada 11 Februari ditandai dengan pawai raksasa yang diikuti jutaan orang dari berbagai usia dan profesi, yang berjalan menyusuri jalan sambil meneriakkan slogan-slogan revolusi dan membawa poster pemimpin revolusi. Upacara ini juga sering dimanfaatkan untuk meluncurkan proyek-proyek strategis atau mengumumkan pencapaian baru, sebagai simbol keberhasilan revolusi dalam membangun kemandirian dan ketahanan negara.
Proyek-proyek tersebut diresmikan dalam upacara yang dihadiri Presiden Masoud Pezeshkian pada Selasa (11/2), melibatkan Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata serta mitra swasta. Rinciannya meliputi 55 proyek pertahanan dan militer senilai lebih dari 2.220 triliun rial, dengan partisipasi sekitar 9.000 perusahaan swasta dan berbasis pengetahuan.
Proyek non-pertahanan mencakup 10 proyek air dan listrik, tujuh di minyak dan gas, empat di pertambangan dan industri, 32 di produksi pangan dan farmasi, serta proyek perumahan yang terdiri dari 600 unit untuk personel angkatan bersenjata dan lebih dari 10.000 unit hunian tambahan. Nilai gabungan proyek non-pertahanan melebihi 4.000 triliun rial.
Sebagian besar pendanaan diperoleh melalui investasi publik lewat pasar modal, pinjaman bank, dan investasi personel militer, dengan penekanan pada desentralisasi dan pemanfaatan keunggulan spesifik daerah.
Para pejabat menyatakan proyek-proyek ini diprediksi menghasilkan sekitar 1,2 miliar euro (Rp23,7 triliun) devisa tahunan, yang akan mendukung pasokan valuta asing dan meningkatkan ekspor non-migas.
Di sisi diplomasi, Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian mengadakan konsultasi tingkat tinggi dengan rekan-rekannya dari Turki, Qatar, dan Oman. Dalam serangkaian panggilan telepon pada Selasa, Amir-Abdollahian menekankan bahwa keamanan regional harus dikelola oleh negara-negara di kawasan itu sendiri.
Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Amir-Abdollahian memuji "upaya baik" dan "jasa baik" Ankara yang bertujuan meredakan ketegangan. Kedua menteri menekankan pentingnya koordinasi erat antar negara tetangga untuk melindungi kepentingan bersama dan menjaga stabilitas kawasan.
Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Amir-Abdollahian mengapresiasi inisiatif diplomatik Doha. Kedua pejabat menyoroti "kesungguhan kolektif" negara-negara regional dalam mengejar perdamaian dan stabilitas.
Amir-Abdollahian juga berbicara dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi, yang selama ini berperan sebagai mediator kunci di kawasan. Dia berterima kasih atas peran konsisten Kesultanan Oman dalam menjaga keamanan, dengan menyatakan kerja sama antara "negara-negara bersahabat" sangat penting untuk kesejahteraan kolektif masyarakat di kawasan.
Iran Gertak Amerika, Negosiasi Geser Jangan di Turki
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak layaknya bara yang tersulut angin. Di tengah upaya menghidupkan kembali diplomasi nuklir, Iran secara mengejutkan mengajukan tuntutan baru yang mengubah peta negosiasi.
Menurut dua sumber yang dikutip situs berita Axios, Teheran meminta agar lokasi pertemuan dialihkan dari Turki ke Kesultanan Oman, serta mengubah format pertemuan menjadi perundingan bilateral eksklusif tanpa kehadiran negara-negara Arab dan Muslim sebagai pengamat. Langkah ini diambil setelah Iran sebelumnya justru mengundang sejumlah negara lain untuk hadir, sebuah perubahan sikap yang memperlihatkan dinamika taktis yang berbelit, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Di pihak Amerika, respons datang dengan campuran kesiapan dan ketegasan. Juru bicara Gedung Putih, Carolyn Levitt, menegaskan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung sesuai jadwal akhir pekan ini. Namun, di balik meja perundingan, ancaman militer terus menggantung. Presiden Donald Trump telah memperingatkan konsekuensi serius jika kesepakatan tidak tercapai, disertai pengumuman pengerahan armada perang besar-besaran menuju kawasan Iran.
Sementara itu, menurut pengumuman sebelumnya, Utusan Khusus AS untuk Iran, Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Istanbul dalam upaya meredakan ketegangan seputar program nuklir Iran dan kekhawatiran konflik regional.
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Istanbul, Turki, pekan ini untuk membahas upaya pencegahan konflik dan pengurangan ketegangan regional. Seorang pejabat senior menyatakan bahwa pertemuan tingkat menteri luar negeri tersebut direncanakan sebagai upaya dialog awal guna mencegah eskalasi situasi yang lebih luas di kawasan.
Selain Iran dan AS, sejumlah kekuatan regional turut diundang dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (6/2). Negara-negara tersebut meliputi Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Oman, dan Uni Emirat Arab. Meskipun format pertemuan masih dimatangkan, dialog ini diharapkan menjadi langkah penting bagi stabilitas Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, pada Selasa (3/2) membenarkan adanya upaya berkelanjutan untuk de-eskalasi hubungan dengan Iran. Sebelumnya, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah bertemu dengan penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Larijani, di Teheran pada Sabtu pekan lalu sebagai bagian dari misi diplomatik tersebut.
Oman layak menjadi tempat negosiasi karena rekam jejak diplomasi diamnya yang konsisten dan netral. Berbeda dengan negara Teluk lainnya, Oman mempertahankan hubungan pragmatis dan non-intervensionis dengan Iran sekaligus menjaga kemitraan militer dan ekonomi yang kuat dengan Barat. Kelayakan ini terbukti sejak negosiasi awal perjanjian nuklir 2015 yang dimulai melalui saluran rahasia di Muscat.
Keuntungan utama Oman terletak pada "Diplomasi Tanpa Syarat". Oman tidak memiliki ambisi hegemonik regional yang dapat mengganggu imparsialitasnya, sedangkan Turki sering kali memiliki agenda politik luar negeri yang lebih ekspansif di kawasan. Oman menawarkan ruang yang tenang dan jauh dari sorotan publik, yang sangat krusial bagi keberhasilan pembicaraan tahap awal yang bersifat rahasia.
Meskipun sebelumnya direncanakan di Istanbul, pergeseran lokasi ke Oman sering kali dipicu oleh ketegangan diplomatik mendadak. Pada awal Februari 2026, dilaporkan adanya dinamika yang membuat lokasi perundingan bergeser kembali ke Muscat atau tempat netral lainnya karena pertimbangan keamanan dan kenyamanan kedua delegasi. Iran cenderung lebih memercayai Oman sebagai mediator tunggal yang tidak memiliki kepentingan politik langsung dalam persaingan kekuasaan regional.
Bagi Turki, kegagalan menjadi tuan rumah negosiasi berarti hilangnya peluang untuk memperkuat profil sebagai "Broker Perdamaian Global". Secara diplomatik, Turki kehilangan kesempatan untuk menyeimbangkan hubungannya antara NATO (Amerika Serikat) dan mitra regionalnya (Iran) melalui panggung mediasi formal. Hal ini juga berdampak pada penurunan pengaruh Turki dalam menentukan arah kebijakan keamanan di Timur Tengah.
Oman memegang kendali strategis atas Semenanjung Musandam, yang mengawasi pintu masuk Selat Hormuz—jalur energi paling kritis di dunia. Di tengah ketegangan militer, posisi geografis ini membuat Oman menjadi "penjaga gerbang" yang kepentingannya adalah menjaga jalur tersebut tetap terbuka. Hal ini memberi Oman pengaruh besar baik terhadap Washington maupun Teheran agar tidak melampaui batas yang dapat memicu perang terbuka.
Oman telah bertindak sebagai saluran komunikasi sejak era Shah Iran hingga Republik Islam, membuktikan bahwa kepercayaan yang mereka bangun bersifat lintas rezim. Keuntungan Oman adalah kemampuannya berbicara dengan "bahasa" kedua pihak tanpa terlihat memihak, sebuah aset langka di wilayah yang terpolarisasi.
Bagi Amerika Serikat, Oman menyediakan lingkungan yang stabil di tengah negara-negara GCC yang sering kali bermusuhan dengan Iran. Muscat menjadi jembatan yang memungkinkan AS menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada Teheran tanpa harus melakukan normalisasi hubungan diplomatik secara formal di depan publik.
Iran melihat Oman sebagai mitra yang menghormati kedaulatannya dan tidak pernah ikut serta dalam skema sanksi yang berlebihan atau serangan militer regional. Muscat memberikan jaminan bahwa perundingan akan berfokus pada solusi praktis tanpa tekanan politik tambahan dari negara-negara tetangga yang rival.
Menjadi tuan rumah bagi negosiasi global meningkatkan status investasi dan stabilitas ekonomi negara tersebut. Bagi Oman, ini memperkuat narasi bahwa negaranya aman untuk bisnis internasional, sementara bagi Turki, pembatalan dapat menciptakan persepsi adanya instabilitas koordinasi diplomatik di tingkat tinggi.
Oman tetap menjadi pilihan yang lebih stabil karena konsistensi kebijakan luar negerinya yang disebut "Friends to all, enemies to none". Kehadiran Oman di tengah perseteruan Iran-AS bukan hanya sebagai penyedia gedung, melainkan sebagai penjamin bahwa dialog tetap menjadi satu-satunya jalan keluar untuk mencegah bencana global di Selat Hormuz.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara resmi menginstruksikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk memulai negosiasi "adil dan setara" dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini menandai pergeseran diplomatik besar di tengah tingginya ketegangan regional pasca-perang 12 hari Juni lalu dan penindakan aksi protes di dalam negeri.
Melalui unggahan di platform X, Selasa (3/2), Pezeshkian menyatakan keputusan ini merupakan respons atas usulan Presiden Donald Trump serta permintaan negara-negara sahabat di kawasan. "Negosiasi harus dipandu oleh prinsip martabat dan kehati-hatian, serta bebas dari ancaman maupun harapan yang tidak masuk akal," tegasnya, sebagaimana diberitakan Al Mayadeen dan Asharq al Awsath.
Meskipun Turki menyatakan kesiapan sebagai mediator, lokasi pasti pembicaraan masih belum ditentukan. Sementara itu, Penasihat Keamanan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengisyaratkan bahwa dialog akan difokuskan sepenuhnya pada isu nuklir. Ia menegaskan Iran tidak mencari senjata nuklir, namun pihak lawan harus "membayar harga" atas komitmen tersebut.
Tantangan besar tetap membayangi seiring tuntutan Presiden Trump yang memasukkan program nuklir dalam daftar syarat utama kesepakatan. Hingga saat ini, Iran masih menolak akses Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memeriksa lokasi nuklir yang hancur akibat serangan udara Juni 2025, dengan alasan risiko keamanan dari uranium di bawah reruntuhan.
Terungkapnya Gurita Jaringan Yahudi-Israel di Dokumen Epstein
Indikasi bahwa predator seksual Jeffrey Epstein selama bekerja untuk kepentingan Israel terus terkuak lewat arsip yang diungkap Departemen Kehakiman AS. Pemerintahan berbagai negara ia rayu untuk memuluskan agenda-agenda Israel.
Dalam salah satu emailnya, Epstein mengatakan kepada seorang pengusaha Qatar bahwa Doha perlu "bernyanyi dan menari" menuruti Israel untuk dapat dukungan Presiden AS Donald Trump selama blokade terhadap negara kecil Teluk tersebut. Qatar sempat dikucilkan negara Arab pada 2017 dengan tudingan melindungi kelompok Ikhwanul Muslimin. Pengucilan itu dicabut pada 2021.
Email tersebut, yang merupakan bagian dari serangkaian dokumen Departemen Kehakiman AS yang dirilis pada akhir pekan, menunjukkan Epstein mengambil kesempatan dalam keretakan yang terjadi di Teluk antara Qatar di satu sisi dan UEA serta Arab Saudi di sisi lain.
Middle East Monitor menuliskan, Epstein mengatakan kepada seorang pria yang diidentifikasi sebagai “Jabor Y” bahwa Qatar tampaknya bisa bangkit dari keterpurukan jika mampu menormalisasi hubungan dengan Israel. "Jika masyarakat mengizinkan negara Anda mengakui Israel, akan menarik untuk dibahas. Jika tidak, mungkin pertimbangkan untuk memasukkan 1 miliar ke dalam dana yang bermanfaat bagi para korban aksi teroris. Mintalah anggota GCC lainnya untuk mencocokkannya," tulis Epstein pada 9 Juli 2017.
Di email lainnya, Jabor Y muncul dengan nama Jabor Yousef Jassim Al Thani. Dia adalah seorang pengusaha Qatar dan anggota keluarga kerajaan. Dalam dokumen tahun 2016, ia tampak meminta izin agar pesawat Epstein mendarat di Doha.
Epstein berpendapat bahwa masalah Qatar bisa hilang jika mereka berhenti “melawan” dan menjalin hubungan lebih dekat dengan Israel. Dia mengatakan Qatar perlu mengikuti contoh India, yang telah menjadi mitra dekat Israel. "Perdana Menteri India, Modi, menerima nasihat. Dan menari dan bernyanyi di Israel demi kepentingan presiden AS. Mereka bertemu beberapa minggu yang lalu.. BERHASIL.!" Epstein menulis kepada Jabar.
Epstein, seorang keturunan Yahudi dan juga warga ganda AS-Israel memiliki hubungan dengan jaringan intelijen dan pedagang senjata sejak tahun 1980-an. Dia sangat dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
Epstein pada 2019 mati secara misterius di sel penjara Kota New York, yang dianggap sebagai bunuh diri. Tetapi dia mengikuti blokade Qatar dengan cermat dan terlibat dalam diplomasi jalur II dengan Barak hingga menjelang kematiannya.
Pada 30 Juni 2017, ia menyarankan agar invasi ke Qatar dicegah karena militer Turki telah mengerahkan kekuatan ke negara Teluk tersebut. Ini tertulis dalam emailnya kepada seorang pria bernama Anas al-Rasheed, yang tampaknya adalah seorang profesor Kuwait yang juga menjabat sebagai menteri kabinet.
Pada Juli 2017, Epstein menyatakan dirinya sebagai mediator yang dapat memperbaiki masalah Qatar. "Saya mengingat tujuan utama kami. Dalam hal ini saya tahu bahwa HBJ ingin duduk bersama MBS secara langsung. JIKA orang Anda bisa mengaturnya, saya pikir itu akan menjadi langkah yang baik," tulis Epstein kepada Rasheed pada 4 Juli.
MBS awam diketahui sebagai singkatan bagi Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. HBJ adalah singkatan dari Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, yang menjabat sebagai perdana menteri di negara Teluk tersebut dari tahun 2007 hingga 2013. Epstein pada saat itu mengklaim bahwa pemimpin tersebut adalah satu-satunya “orang dewasa” di negara Teluk tersebut.
Meskipun tidak jelas apakah pertemuan antara mantan perdana menteri Qatar dan putra mahkota Saudi itu benar-benar terjadi, Epstein berhasil menjadi perantara pertemuan antara Barak dan rekannya dari Qatar.
Pada Jumat pekan lalu, Departemen Kehakiman AS merilis file terkait Epstein termasuk memorandum FBI tahun 2020 yang telah menarik perhatian besar. Dokumen tersebut diantaranya berisi serangkaian tuduhan serius soal kelindan politik Israel dan AS yang melibatkan Donald Trump, Jared Kushner, kelompok Chabad Lubavitch, dan intelijen Israel.
Semua tuduhan itu merujuk pada satu Sumber Manusia Rahasia (CHS), sebagaimana dicatat oleh FBI. Memo tersebut memberikan informasi yang terbatas mengenai identitas CHS, namun substansi pelaporannya menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki koneksi sosial, kedudukan yang baik, dan akrab dengan jaringan elit politik, donor, dan intelijen.
Menurut CHS, sebagaimana tercatat dalam memorandum FBI tahun 2020: Donald Trump telah “dikompromikan oleh Israel.” CHS menegaskan bahwa kepentingan Israel mempunyai pengaruh terhadap Trump dan bahwa pengaruh ini membentuk kepresidenannya.
Laporan itu juga menyatakan kelompok Chabad Lubavitch berusaha untuk “mengkooptasi kepresidenan Trump.” CHS menggambarkan Chabad sebagai jaringan yang aktif secara politik dengan saluran pengaruh baik dalam struktur kekuasaan Israel maupun Rusia.
Didirikan pada abad ke-19, cabang dari Yahudi Haredi ini salah satu kelompok Yahudi paling berpengaruh. Ribuan institusinya tersebar di berbagai wilayah di dunia. Mulanya berdiri di Rusia, kelompok ini kemudian memindahkan markas ke Amerika Serikat pada abad ke-20.
Jared Kushner, menantu Trump, disebut sebagai saluran utama pengaruh Chabad ini. CHS mengklaim Kushner adalah “otak sebenarnya di balik organisasi [Trump] dan kepresidenannya,” dan bahwa ikatan ideologis dan pribadinya dengan Chabad memposisikannya sebagai vektor utama pengaruh asing.
Dokumen itu juga mengungkapkan putri Trump, Ivanka dan Jared Kushner mengunjungi makam Rabbi Menachem Mendel Schneerson pada hari Trump terpilih pada periode pertama pada 2018, yang ditafsirkan CHS sebagai tindakan simbolis keselarasan dengan garis keturunan kepemimpinan Chabad.
Sang CHS juga merekomendasikan agar FBI menyelidiki badan amal keluarga Kushner atas potensi aktivitas pencucian uang, dengan menyatakan bahwa badan amal Chabad secara rutin digunakan untuk tujuan ini.
CHS juga menyatakan bahwa Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan mengklaim Epstein dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya. Berdasarkan keyakinan dan interaksi ini, CHS menjadi yakin bahwa Epstein adalah “agen Mossad yang terkooptasi.”
CHS juga melaporkan bahwa profesor ternama di AS Alan Dershowitz mempengaruhi mahasiswa kaya di Harvard, termasuk Jared Kushner dan saudaranya. CHS mengklaim Dershowitz mengatakan kepada mereka bahwa jika dia lebih muda, dia akan “memegang senjata bius sebagai agen intelijen Israel.”
Keluarga Kushner juga disebut memiliki hubungan mendalam dengan Israel dan sejarah praktik bisnis yang dipertanyakan, mengutip artikel tahun 2004 yang dirujuk oleh CHS.