News Komoditi & Global ( Kamis, 26 Februari 2026 )

News  Komoditi & Global

                                (  Kamis,   26  Februari  2026  )

Harga Emas Melonjak Didorong Risiko Tarif & Geopolitik, Investor Beralih ke Aset Aman

 

Harga emas menguat pada perdagangan Rabu (25/2/2026) seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah kekhawatiran dampak tarif terhadap inflasi serta ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, harga emas spot melesat 1,1% menjadi US$ 5.202,28 per ons pada pukul 14.00 waktu setempat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup menguat sekitar 1% di level US$ 5.226,20 per ons.

Penguatan emas terjadi setelah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% sejak Selasa. Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mengkaji kemungkinan menaikkan tarif tersebut menjadi 15%.

Dalam pidato kenegaraannya, Trump mengatakan hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan perjanjian tarif dan investasi yang ada dengan Washington.

Ia juga menegaskan alasannya terkait potensi serangan terhadap Iran, dengan menyatakan tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai pendukung terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa.

“Ada dampak inflasi dari tarif dan harga minyak yang tinggi, terutama jika serangan akan segera terjadi. Saya pikir ada juga lindung nilai oleh investor yang beralih ke emas,” ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.

Emas dikenal luas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan sering diburu saat risiko geopolitik meningkat. Logam mulia ini juga dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, meski tidak memberikan imbal hasil.

Harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026 dan telah naik sekitar 20% sepanjang tahun ini. Namun, Bank of America memperkirakan harga emas berpotensi melemah menjelang musim semi karena investor mulai memperlambat penambahan eksposur.

“Ketidakpastian tarif yang kembali muncul dapat membuat periode konsolidasi harga relatif singkat,” tulis BofA dalam catatannya. Bank tersebut menambahkan, harga emas diperkirakan bisa mencapai US$ 6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan.

Selain emas, harga perak spot melonjak 3,9% menjadi US$ 90,73 per ons, tertinggi dalam tiga minggu.

Sebelumnya, pada 29 Januari, perak sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 121,64 per ons. BofA mencatat harga perak berpotensi kembali menembus level US$100 per ons tahun ini.

Harga platinum spot turut melonjak 7,1% menjadi US$ 2.320,90 per ons, tertinggi sejak 29 Januari. Sementara itu, harga paladium naik 2,6% ke level US$1.814,41 per ons.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Perpanjang Saham Reli Teknologi, Nvidia Redam Kekhawatiran AI

 

Wall Street ditutup menguat pada perdagnagna Rabu (25/2/2026), memperpanjang reli yang dipimpin saham teknologi dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan.

Optimisme terhadap potensi manfaat kecerdasan buatan (AI) meredakan kekhawatiran pasar soal biaya dan dampak disrupsi teknologi tersebut.

Tiga indeks utama Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan. Dow Jones Industrial Average naik 307,65 poin atau 0,63% ke 49.482,15. S&P 500 menguat 56,06 poin atau 0,81% ke 6.946,13. Sementara Nasdaq Composite melonjak 288,40 poin atau 1,26% ke 23.152,08.

Penguatan terbesar datang dari Nasdaq yang ditopang sektor semikonduktor, seiring pasar mendekati akhir bulan yang bergejolak akibat kekhawatiran besarnya investasi infrastruktur AI dan dampaknya terhadap berbagai industri.

Di pusat perhatian, Nvidia melaporkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$ 68,13 miliar, melampaui ekspektasi analis. Sahamnya naik sekitar 3% dalam perdagangan setelah jam bursa.

Menjelang rilis kinerja tersebut, Indeks Semikonduktor Philadelphia SE menguat 1,6%. Indeks S&P Software & Services juga tampil menonjol dengan lonjakan 2,9% setelah sebelumnya tertekan sepanjang tahun.

“Kita berada di tengah tarik-ulur antara sentimen negatif dan pergerakan harga ekstrem di beberapa bagian pasar,” kata Zach Hill, kepala manajemen portofolio Horizon Investments di Charlotte, North Carolina.

Menurutnya, kekhawatiran atas disrupsi AI saat ini lebih besar dibandingkan soal tingkat pengembalian investasi.

Komentar serupa datang dari Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, yang menyebut belum jelas apakah penerapan AI akan menggantikan pekerja. Ia menilai teknologi ini justru berpotensi memberdayakan tenaga kerja dan membuat pasar kerja lebih efisien.

Di level sektoral, dari 11 sektor utama S&P 500, teknologi memimpin kenaikan, sementara sektor industri mencatat penurunan terdalam. Saham Axon Enterprise melonjak 17,6% setelah produsen Taser tersebut melampaui perkiraan laba kuartal keempat.

Sebaliknya, First Solar dan Lowe's Companies turun masing-masing 13,6% dan 5,6% setelah memberikan panduan penjualan tahunan yang lebih lemah dari perkiraan.

Pelemahan Lowe’s menyeret sektor perumahan dan pengembang rumah, yang masing-masing turun 3% dan 3,7%, meskipun suku bunga kontrak hipotek tetap 30 tahun turun ke level terendah 3,5 tahun pekan lalu.

Di sektor barang konsumsi, saham produsen alkohol ikut tertekan. Brown-Forman turun 7,6% dan Molson Coors melemah 4,8% setelah Diageo memproyeksikan penurunan penjualan organik 2%–3% pada 2026 serta memangkas dividen interimnya.

Saham GoDaddy anjlok 14,3% setelah penyedia layanan internet tersebut memberikan proyeksi pendapatan tahunan di bawah ekspektasi Wall Street.

Di tengah volatilitas saham perangkat lunak, pasar menanti hasil kinerja Salesforce, Intuit, dan Snowflake yang diperkirakan akan mendapat sorotan ketat.

Secara keseluruhan, saham yang naik lebih banyak dibandingkan yang turun dengan rasio 1,78 banding 1 di NYSE. Tercatat 635 saham mencetak harga tertinggi baru dan 98 saham mencapai terendah baru. Di Nasdaq, rasio saham naik terhadap turun mencapai 2,02 banding 1.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat 17,50 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20,27 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IMF Minta AS Konsolidasi Fiskal, Defisit Transaksi Berjalan Dinilai Terlalu Besar

 

 International Monetary Fund (IMF) mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menekan defisit fiskal yang terus membengkak sebagai langkah utama menurunkan defisit transaksi berjalan dan perdagangan yang dinilai “terlalu besar”.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan dalam konferensi pers usai tinjauan tahunan kebijakan ekonomi AS (Article IV) bahwa defisit transaksi berjalan Negeri Paman Sam memang berada pada level yang mengkhawatirkan.

“Kesimpulannya sederhana: defisit transaksi berjalan terlalu besar. Dan hal itu juga diakui oleh pemerintahan,” ujarnya dilansir dari Reuters Rabu (25/2/2026).

IMF memperkirakan defisit transaksi berjalan AS berada di kisaran 3,5% hingga 4,0% dari produk domestik bruto (PDB) dalam waktu dekat.

Pernyataan IMF muncul setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif darurat luas yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Sebagai gantinya, pemerintah AS menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974 untuk menerapkan tarif baru yang diklaim bertujuan memperbaiki neraca pembayaran.

Namun, Direktur Departemen Belahan Barat IMF Nigel Chalk menegaskan bahwa cara paling efektif menurunkan defisit eksternal bukan melalui tarif, melainkan dengan mengurangi defisit fiskal pemerintah.

Menurut laporan Article IV pertama di era pemerintahan Trump saat ini, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS tetap solid di level 2,4% pada 2026, sejalan dengan proyeksi Januari lalu.

Sementara inflasi diperkirakan baru kembali ke target 2% yang ditetapkan Federal Reserve pada awal 2027, di tengah ketidakpastian jalur inflasi dan pertumbuhan.

IMF memperingatkan bahwa defisit fiskal AS akan tetap tinggi di kisaran 7% hingga 8% dari PDB dalam beberapa tahun mendatang lebih dari dua kali lipat target yang dicanangkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Dana Moneter Internasional itu juga memproyeksikan rasio utang pemerintah umum terkonsolidasi AS akan mencapai 140% terhadap PDB pada 2031.

“Meski risiko tekanan utang negara (sovereign stress) di AS tergolong rendah, tren kenaikan rasio utang terhadap PDB dan meningkatnya utang jangka pendek menjadi risiko stabilitas yang semakin besar bagi ekonomi AS dan global,” tulis IMF dalam pernyataan awal Article IV.

Peringatan IMF ini mempertegas kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal AS di tengah ketegangan perdagangan global dan beban pembiayaan utang yang terus meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pejabat AS Peringatkan Ancaman Iran Jelang Perundingan Nuklir di Jenewa

 

Sejumlah pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Iran masih menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat (AS) menjelang putaran ketiga perundingan nuklir tahun ini yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Kamis (26/2/2026).

Delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Geneva untuk membahas program nuklir Teheran.

Pertemuan ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah, salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, di tengah kemungkinan opsi serangan terhadap Republik Islam tersebut.

Dalam pidato kenegaraan (State of the Union) pada Selasa, Trump menuduh Iran kembali menghidupkan program nuklirnya serta mengembangkan rudal yang “segera” mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.

Ia juga menuding Teheran berada di balik serangan bom pinggir jalan yang menewaskan personel militer dan warga sipil AS.

Trump memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.

Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika diserang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyuarakan kekhawatiran serupa saat berbicara kepada wartawan dalam kunjungan ke St. Kitts dan Nevis.

“Setelah program nuklir mereka dilumpuhkan, mereka diperingatkan untuk tidak mencoba memulainya kembali, dan sekarang mereka melakukannya lagi,” kata Rubio.

“Mereka mungkin tidak memperkaya uranium saat ini, tetapi mereka berusaha mencapai titik di mana pada akhirnya bisa melakukannya.”

Trump sebelumnya memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu dan mengklaim fasilitas tersebut telah “dilumpuhkan”.

Namun, para pejabat AS belakangan menyebut Iran semakin dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir.

Rubio juga menyoroti kemampuan rudal balistik Iran yang dinilai mengancam kepentingan AS di kawasan, bahkan berpotensi menjangkau wilayah Eropa dan daratan utama Amerika Serikat.

Menurutnya, penolakan Iran untuk membahas isu rudal balistik dalam perundingan Jenewa menjadi “masalah besar”.

Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional AS.

Teheran selama ini menyatakan jangkauan rudalnya dibatasi hingga 2.000 km, yang diklaim cukup untuk kebutuhan pertahanan, termasuk menjangkau Israel.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan bertemu delegasi Iran di Jenewa guna menilai peluang tercapainya kesepakatan.

“Prinsipnya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Vance.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah bertemu Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang berperan sebagai mediator, setibanya di Jenewa.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Araqchi menyampaikan posisi Teheran terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi AS yang disebutnya ilegal dan sepihak.

Putaran perundingan kali ini dinilai krusial di tengah meningkatnya tensi militer dan retorika keras dari kedua belah pihak, dengan risiko eskalasi yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bank-Bank Global Kompak Naikkan Proyeksi Emas, Tren Dedolarisasi Jadi Pendorong

 

Bank investasi global J.P. Morgan menaikkan proyeksi harga emas jangka panjang sebesar 15% menjadi US$ 4.500 per ons troi.

Namun, proyeksi harga emas pada akhir 2026 tetap dipertahankan di level US$ 6.300 per ons.

Dalam catatan kepada klien, JP Morgan menyebut peningkatan pembelian emas oleh bank sentral, pengumuman divestasi aset Treasury AS, serta pergeseran basis pendapatan sejumlah negara dari dolar AS ke renminbi China menjadi faktor utama revisi tersebut.

Bank tersebut juga menaikkan bobot skenario “pergeseran paradigma mata uang cadangan” dan “diversifikasi investor yang signifikan”, yang memperkuat prospek kenaikan harga emas dalam jangka panjang.

Harga emas spot telah naik sekitar 20% sepanjang tahun ini dan sempat menyentuh level US$ 5.248,89 per ons pada Selasa, mendekati rekor tertinggi 29 Januari di US$ 5.594,82 per ons.

Lonjakan ini menyusul kenaikan lebih dari 64% sepanjang 2025, seiring meningkatnya minat terhadap aset safe haven.

Sejumlah lembaga keuangan global juga merevisi naik proyeksi harga emas mereka:

Macquarie Group menaikkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 menjadi US$ 4.323 per ons, dengan estimasi kuartal I-2026 di US$ 4.590 dan kuartal II-2026 di US$ 4.300.

Wells Fargo Investment Institute memperkirakan harga emas mencapai US$ 6.100–US$ 6.300 pada akhir 2026.

UBS menaikkan target harga menjadi US$ 6.200 untuk periode Maret hingga September 2026.

Deutsche Bank memproyeksikan emas di US$ 6.000 pada 2026.

Societe Generale menargetkan US$ 6.000 pada akhir 2026.

Morgan Stanley mematok target dasar US$ 4.600, dengan skenario bullish US$ 5.700 pada paruh kedua 2026.

Goldman Sachs memperkirakan harga emas mencapai US$ 5.400 pada Desember 2026.

Citi Research menaikkan target jangka pendek (0–3 bulan) menjadi US$ 5.000.

HSBC memproyeksikan harga di US$ 4.450 pada akhir 2026.

ANZ menargetkan US$ 4.400 pada akhir tahun dan US$ 4.600 pada Juni 2026.

Bank of America menaikkan outlook 2026 menjadi US$ 5.000.

Standard Chartered mematok proyeksi di kisaran US$ 4.488.

Commerzbank memperkirakan harga mencapai US$ 4.800 pada pertengahan 2026.

Kenaikan proyeksi ini mencerminkan perubahan lanskap moneter global, terutama meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa, serta kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS.

Jika tren dedolarisasi dan ketegangan geopolitik berlanjut, harga emas berpotensi tetap berada dalam tren bullish hingga 2026.

Bagi investor, revisi proyeksi dari sejumlah bank besar ini memperkuat narasi bahwa emas masih menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

 

 

 

OPEC+ Pertimbangkan Kenaikan Produksi Minyak 137.000 Barel Per Hari pada April

 

OPEC+ kemungkinan akan mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyaknya sebesar 137.000 barel per hari untuk bulan April, menurut tiga sumber yang mengetahui pemikiran OPEC+.

Kelompok tersebut tengah bersiap untuk puncak kenaikan permintaan pada musim panas Permintaan dan kenaikan harga akan meningkat akibat ketegangan antara AS dan Iran.

Pengaktifan kembali peningkatan produksi setelah jeda tiga bulan akan memungkinkan pemimpin OPEC, Arab Saudi, dan anggota seperti UEA untuk mendapatkan kembali pangsa pasar pada saat anggota OPEC+ lainnya, seperti Rusia dan Iran, menghadapi sanksi Barat sementara Kazakhstan pulih dari serangkaian kemunduran produksi minyak.

Delapan produsen OPEC+ - Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman - akan bertemu pada 1 Maret.

Dalam perkembangan terpisah, Arab Saudi telah mengaktifkan rencana untuk peningkatan produksi dan ekspor minyak jangka pendek jika serangan AS terhadap Iran mengganggu aliran dari Timur Tengah, kata dua sumber yang mengetahui rencana Saudi tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran untuk menekan para pemimpinnya agar menyetujui kesepakatan untuk mengekang program nuklir Teheran.

OPEC dan otoritas di Rusia dan Arab Saudi tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kedelapan anggota OPEC menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga akhir Desember 2025, setara dengan sekitar 3% dari permintaan global, dan membekukan peningkatan lebih lanjut yang direncanakan untuk Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang lebih lemah sec5ara musiman.

Meskipun ada kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan akan memukul harga tahun ini, patokan minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati $71 per barel. Harga tersebut tidak jauh dari level tertinggi tujuh bulan sebesar $72,50 yang dicapai minggu ini akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketiga sumber, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan peningkatan produksi sebesar 137.000 barel per hari oleh delapan anggota untuk bulan April kemungkinan besar akan diputuskan pada tanggal 1 Maret. Sumber keempat mengatakan jeda produksi untuk bulan April juga merupakan kemungkinan.

Peningkatan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk bulan April akan sama dengan yang disepakati untuk bulan Desember, November, dan Oktober tahun lalu.

OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak ditambah Rusia dan sekutu lainnya, memompa sekitar setengah dari minyak dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Singgung Serangan ke Iran, Ini Fakta Terbaru Program Senjata Teheran

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memanaskan ketegangan dengan Iran.

Dalam pidato kenegaraan di hadapan Kongres, Trump secara terbuka membuka kemungkinan serangan terhadap Teheran dengan alasan tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai “sponsor terorisme terbesar di dunia” memiliki senjata nuklir.

Trump menuding dukungan Iran terhadap kelompok militan, penindasan terhadap demonstran anti-pemerintah pada Januari, serta pengembangan program rudal dan nuklir sebagai ancaman serius bagi kawasan dan Amerika Serikat (A).

Namun, ia tidak menyertakan bukti rinci untuk mendukung klaim tersebut.

Berikut rangkuman fakta dan penjelasan terkait pernyataan Trump mengenai program senjata Iran, berdasarkan penilaian publik AS dan laporan internasional.

Trump menyatakan Iran telah mengembangkan rudal yang mampu mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri, serta sedang membangun rudal yang segera dapat menjangkau Amerika Serikat.

Ia juga mengklaim serangan udara AS pada Juni lalu, yang disebut Operasi Midnight Hammer, telah meluluhlantakkan program senjata nuklir Iran. Meski begitu, menurut Trump, Teheran kini kembali menghidupkan ambisi tersebut.

Badan Intelijen Pertahanan AS (Defense Intelligence Agency/DIA) menilai Iran memiliki kendaraan peluncur antariksa yang secara teoritis dapat dikembangkan menjadi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang layak secara militer pada 2035, jika Iran memilih jalur tersebut.

Media pemerintah Iran sendiri mengklaim negara itu tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau Amerika Serikat.

Pakar rudal Jeffrey Lewis dari Middlebury Institute of International Studies menilai estimasi DIA tersebut tergolong sangat konservatif, mengingat sejak 2013 Iran disebut ikut mengembangkan mesin rudal bersama Korea Utara, yang telah digunakan Pyongyang untuk beberapa generasi ICBM dengan jangkauan ke AS.

Tiga fasilitas yang diketahui memproduksi uranium yang diperkaya yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik maupun bom nuklir tergantung tingkat kemurniannya menjadi sasaran serangan udara AS pada Juni lalu.

Meski Trump berulang kali menyebut fasilitas itu “hancur total”, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan pada Juni lalu bahwa Iran masih bisa kembali memperkaya uranium dalam skala terbatas dalam hitungan bulan.

IAEA menyebut telah memeriksa 13 fasilitas nuklir Iran yang tidak dibom, namun belum dapat menginspeksi tiga lokasi utama yang diserang, yakni Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Salah satu alasan AS dan Israel melakukan pemboman Juni lalu adalah kekhawatiran Iran terlalu dekat untuk mampu memproduksi senjata nuklir. Namun, baik IAEA maupun komunitas intelijen AS menilai Iran telah menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya sejak 2003.

Teheran membantah pernah mengejar senjata nuklir. Sebagai pihak dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran menyatakan memiliki hak untuk memperkaya uranium bagi kepentingan sipil.

Negara-negara Barat menilai tidak ada alasan sipil yang kredibel atas tingkat pengayaan uranium Iran saat ini, dan IAEA menyebut kondisi tersebut sebagai sangat mengkhawatirkan.

Dalam laporan penilaian ancaman global tahunan 2025, komunitas intelijen AS menyatakan tetap menilai Iran tidak sedang membangun senjata nuklir, dan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei belum mengaktifkan kembali program senjata nuklir yang dihentikan pada 2003, meski tekanan politik kemungkinan meningkat.

Trump kemudian membantah penilaian tersebut, termasuk pandangan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, dengan menyebut Iran sangat dekat memiliki senjata nuklir, tanpa menyertakan bukti pendukung.

Dalam pidato terbarunya, Trump juga mengulang tuduhan bahwa Iran telah membunuh sedikitnya 32.000 demonstran dalam beberapa bulan terakhir, angka yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, melaporkan telah mencatat 7.007 kematian yang terverifikasi, dengan 11.744 kasus lainnya masih dalam peninjauan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut pemerintah telah merilis daftar resmi 3.117 korban tewas dalam kerusuhan.

Seorang pejabat Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa otoritas telah memverifikasi sedikitnya 5.000 kematian, termasuk sekitar 500 personel keamanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Jual Rudal Supersonik ke Iran

 

 Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran dikabarkan mendekati kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah antikapal CM-302, di saat Amerika Serikat (AS) mengerahkan armada laut besar ke sekitar perairan Iran.

Mengutip laporan Reuters (25/2), kesepakatan pembelian rudal supersonik CM-302 buatan perusahaan milik negara China, China Aerospace Science and Industry Corp. (CASIC), telah memasuki tahap akhir. Meski demikian, belum ada kepastian terkait jumlah rudal yang dibeli maupun jadwal pengirimannya.

Rudal CM-302 memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang terbang rendah dengan kecepatan tinggi untuk menghindari sistem pertahanan kapal. Dua pakar persenjataan menilai, jika benar terealisasi, akuisisi ini akan secara signifikan meningkatkan daya gempur Iran terhadap armada laut AS di kawasan Teluk.

“Ini akan menjadi game changer jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal di kawasan,” ujar Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di lembaga think tank Israel Institute for National Security Studies, sekaligus mantan perwira intelijen Israel. Menurut dia, rudal jenis ini sangat sulit untuk dicegat.

Negosiasi disebut telah berlangsung setidaknya dua tahun terakhir dan meningkat tajam setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Sejumlah pejabat tinggi militer dan pemerintahan Iran bahkan dilaporkan telah berkunjung ke China pada musim panas lalu, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Iran, Massoud Oraei.

Langkah ini terjadi di tengah eskalasi tekanan dari Washington. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi ultimatum 10 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya atau menghadapi aksi militer. Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan, opsi tindakan keras tetap terbuka jika diplomasi gagal.

Di sisi lain, AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tempurnya, serta USS Gerald R. Ford ke kawasan yang sama. Kedua kapal tersebut mampu membawa lebih dari 5.000 personel dan sekitar 150 pesawat tempur, mempertegas sinyal kesiapan militer Washington.

Jika terealisasi, penjualan rudal ini akan menjadi salah satu transfer alutsista paling canggih dari China ke Iran dalam dua dekade terakhir. Langkah tersebut juga berpotensi menabrak rezim sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kembali diberlakukan pada September lalu.

Analis menilai, potensi transaksi ini mencerminkan semakin eratnya hubungan militer China dan Iran, sekaligus memperlihatkan keberanian Beijing untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini didominasi kekuatan militer AS.

Selain CM-302, Iran juga disebut tengah menjajaki pembelian sistem rudal pertahanan udara, rudal panggul (MANPADS), hingga senjata antibalistik dan antisatelit dari China.

Bagi pasar global, eskalasi ini menambah daftar panjang risiko geopolitik yang dapat memicu volatilitas harga energi, terutama minyak mentah. Kawasan Teluk merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, sehingga setiap peningkatan tensi militer berpotensi langsung tercermin pada pergerakan harga komoditas dan sentimen pasar keuangan global.

Dengan negosiasi yang hampir rampung dan armada AS sudah siaga di sekitar Iran, Timur Tengah kembali menjadi titik panas yang patut dicermati pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UEA Danai Kompleks Perumahan di Gaza, Puluhan Ribu Warga Dapat Hunian

 

Sebuah perusahaan asal Gaza telah dikontrak untuk membangun kompleks perumahan yang didanai oleh Uni Emirat Arab (UEA) bagi puluhan ribu warga Palestina yang mengungsi di wilayah Gaza yang berada di bawah kontrol militer Israel, menurut dua pejabat Israel dan dua pengusaha Palestina yang berbicara kepada Reuters, Selasa (24/2/2026).

Rencana penggunaan perusahaan kontraktor Palestina yang mempekerjakan pekerja lokal Gaza untuk membangun kompleks ini sebelumnya belum pernah dilaporkan.

Langkah ini dianggap sebagai sinyal untuk memulai rekonstruksi tanpa menunggu Israel mundur dari Gaza, yang merupakan tahap yang harus menyertai pelucutan senjata pejuang Hamas dalam fase berikutnya dari gencatan senjata di bawah rencana Presiden AS, Donald Trump.

Mempekerjakan warga Palestina dalam proyek konstruksi bisa menjadi cara untuk mengurangi resistensi lokal terhadap proyek ini. Namun, masih harus dilihat apakah sejumlah besar warga Palestina bersedia tinggal atau bekerja di wilayah Gaza yang dikuasai Israel.

UEA belum secara resmi mengumumkan proyek perumahan ini, yang beberapa diplomat menyebut dengan sebutan "Emirates City". Berdasarkan peta perencanaan yang dilihat Reuters, kompleks ini akan dibangun dekat Rafah, di ujung selatan Gaza, sebuah kawasan yang telah dikosongkan dan dihancurkan oleh pasukan Israel selama perang dengan Hamas.

Empat sumber yang mengetahui rencana ini mengidentifikasi perusahaan kontraktor tersebut sebagai Masoud & Ali Contracting Co (MACC), yang telah memimpin proyek-proyek besar di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel selama beberapa dekade.

Salah satu pengusaha Palestina yang memiliki pengetahuan langsung tentang rencana ini mengatakan MACC akan bekerja sama dengan dua perusahaan Mesir untuk membangunnya. Proyek ini akan mencakup sekitar 74 hektar dan mampu menampung puluhan ribu orang dalam unit bergaya trailer prefabrikasi bertingkat banyak.

Para sumber berbicara dengan syarat anonim karena membahas rencana yang belum diumumkan secara publik. MACC menolak memberikan komentar. Militer Israel juga belum memberikan tanggapan, begitu pula juru bicara Hamas.

Seorang pejabat UEA tidak memberikan komentar langsung mengenai rencana tersebut, tetapi menegaskan bahwa negaranya “berkomitmen penuh untuk mendukung semua upaya bantuan dan pemulihan internasional di Gaza, bekerja sama erat dengan mitra, agar bantuan yang menyelamatkan nyawa dapat disalurkan secara cepat dan efektif.”

Sejak Israel dan Hamas mencapai gencatan senjata pada Oktober 2023, Israel menguasai 53% wilayah Gaza, di mana banyak bangunan telah dihancurkan dan benteng militer dibangun. Lebih dari 2 juta penduduk Gaza kini sebagian besar tinggal di kawasan sempit di sepanjang pantai yang masih dikuasai Hamas, tinggal di tenda darurat dan bangunan rusak.

Rekonstruksi Gaza, yang dimulai dari Rafah, merupakan elemen inti dari rencana Trump untuk mengakhiri perang. Namun, langkah besar lainnya, termasuk pelucutan senjata Hamas dan penarikan Israel, masih belum disepakati.

Rencana ini dikelola oleh Board of Peace Trump, kelompok pemimpin internasional yang mengawasi badan khusus Gaza yang terdiri dari pejabat dan pengusaha, serta komite teknokrat Palestina yang diharapkan mengambil alih pemerintahan Gaza dari Hamas.

Minggu lalu, UEA menjanjikan dana sebesar US$1,2 miliar untuk Gaza dalam konferensi Board of Peace. Namun, rencana pembangunan kompleks perumahan tidak termasuk dalam presentasi konferensi mengenai rekonstruksi.

Seorang pejabat AS sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa UEA berkoordinasi dengan Washington, Board of Peace, dan komite teknokrat Palestina terkait proyek perumahan ini.

Sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, UEA telah menjadi salah satu donor terbesar bagi Gaza, menyediakan hampir US$3 miliar bantuan, menurut Menteri Luar Negeri UEA. Negara tersebut menjalin hubungan erat dengan Israel setelah menandatangani kesepakatan normalisasi pada 2020 yang dimediasi AS.

Pengusaha Palestina yang mengetahui rencana pembangunan kompleks mengatakan MACC dan dua perusahaan Mesir dikontrak oleh sebuah perusahaan besar Mesir untuk melaksanakan proyek ini. Ia menolak menyebutkan nama perusahaan Mesir tersebut, yang akan dibayar oleh UEA.

Pekerjaan di lapangan belum dimulai, sebagian karena Israel belum menyetujui rencana kompleks tersebut. Seorang diplomat Barat yang mengetahui proyek ini mengatakan kontraktor dijadwalkan mengunjungi lokasi proyek awal bulan ini, tetapi belum jelas apakah kunjungan tersebut telah dilakukan.

Berdasarkan situs web resminya, MACC telah membangun pabrik desalinasi, stasiun pompa air, ladang energi surya, jembatan, dan bangunan di Gaza serta Tepi Barat dengan pendanaan dari mitra termasuk Bank Dunia dan USAID.

Reham Owda, analis politik Palestina, mengatakan mempekerjakan perusahaan lokal daripada mendatangkan pekerja dari luar akan “lebih diterima oleh warga Gaza” karena akan menciptakan lapangan kerja dan mempertimbangkan budaya setempat.

“Ini akan mendapat penerimaan luas karena membantu menyelesaikan krisis perumahan, mempercepat rekonstruksi, dan mempekerjakan tenaga kerja Gaza,” kata Owda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS dan Kanada Akan Bertemu Dalam Beberapa Pekan Mendatang untuk Membahas Perdagangan

 

  Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengungkapkan, pejabat perdagangan AS dan Kanada berbicara pada hari Rabu dan berencana untuk bertemu dalam beberapa minggu mendatang.

Ia menambahkan bahwa pemerintahan Trump terbuka terhadap ide-ide mereka tentang bagaimana mencapai kesepakatan.

"Mereka memiliki beberapa ide tentang bagaimana mereka ingin membuat kesepakatan dengan kami. Kami jelas terbuka untuk itu," kata Greer dalam sebuah wawancara di Fox Business Network seperti dilansir dari Reuters Rabu (25/2/2026).

Greer mengatakan dia berbicara dengan rekan dagangnya pada Rabu pagi dan mereka akan bertemu di Washington dalam beberapa minggu.

"Kami terbuka untuk berbicara, dan kita akan lihat apa yang mereka katakan," kata Greer kepada program "Mornings with Maria" di FBN.

Perwakilan Menteri Perdagangan Kanada Dominic LeBlanc tidak dapat dihubungi segera untuk memberikan komentar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Klaim Penuhi Kewajiban Dagang AS, Peringatkan Risiko Tarif Tambahan

 

Pemerintah China menyatakan telah memenuhi kewajiban terkait kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang dikaitkan dengan penyelidikan Section 301.

Beijing juga memperingatkan Washington agar tidak memicu ketegangan baru lewat tarif tambahan.

Juru bicara Kementerian Perdagangan China menyebut kesepakatan yang diteken pada 2020 dengan United States telah dijalankan sesuai komitmen.

 “China berharap pihak AS tidak mengalihkan tanggung jawab atau memprovokasi masalah, tetapi melihat bahwa perjanjian tersebut telah diimplementasikan,” ujar juru bicara tersebut dalam pernyataan resmi, Rabu (25/2/2026).

Pernyataan ini muncul setelah Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mengindikasikan akan melanjutkan penyelidikan berdasarkan Section 301 terkait dugaan praktik perdagangan tidak adil.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, pekan lalu mengatakan kantornya akan meneruskan sejumlah investigasi, termasuk terhadap China dan Brasil, yang berpotensi berujung pada pengenaan tarif tambahan jika ditemukan pelanggaran.

Beijing menegaskan siap melanjutkan komunikasi melalui mekanisme konsultasi ekonomi dan perdagangan bilateral yang telah ada.

Namun, China juga memberi sinyal tegas. “Jika AS tetap bersikeras mendorong investigasi dan menerapkan langkah-langkah restriktif, China akan mempertahankan hak dan kepentingannya,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan.

Ketegangan ini berpotensi kembali memanaskan hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia, di tengah ketidakpastian global dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap gelombang proteksionisme baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post