News Komoditi & Global ( Selasa, 16 Juni 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 16 Juni 2026 )
Harga Emas Global Tembus ke Level Tertinggi Sepekan, Pasar Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran
Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Senin (15/6/2026), didorong melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya kekhawatiran pasar setelah AS dan Iran menyepakati kerangka perdamaian untuk mengakhiri konflik yang selama ini membebani sentimen global. Harga emas spot naik 2,6% menjadi US$ 4.327,82 per ons troi pada pukul 13.30 waktu AS, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 2,7% ke posisi US$ 4.351,60 per ons troi. Kenaikan harga emas terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,2%, yang membuat logam mulia tersebut menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Kenaikan Mingguan, Pasar Pantau Prospek Damai AS-Iran Sentimen pasar turut terdongkrak setelah pejabat AS mengungkapkan bahwa nota kesepahaman untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta Ketua Parlemen Iran. Sebelumnya, kedua pihak juga menyatakan dokumen tersebut akan ditandatangani secara resmi dalam sebuah upacara di Jenewa pada Jumat mendatang. Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan pasar emas mulai mengabaikan risiko konflik dan lebih fokus pada dampak ekonomi dari kesepakatan damai tersebut. “Berita kesepakatan damai menekan imbal hasil obligasi pemerintah, dolar AS, dan harga minyak. Itulah risiko inflasi dan risiko lintas aset terbesar yang kini mereda,” ujarnya. Sebelumnya, emas sempat tertekan sejak pecahnya konflik Iran karena lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga. Baca Juga: Harga Emas Stabil Kamis (16/4), Pasar Cermati Negosiasi Damai AS-Iran Kondisi itu biasanya kurang menguntungkan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Setelah tercapainya kesepakatan damai, pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga turun menjadi 58%, dari hampir 70% pada pekan lalu. Fokus investor kini beralih ke rapat kebijakan Federal Reserve pada 16-17 Juni, yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Pasar menantikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan yang dinilai akan menjadi penentu pergerakan emas berikutnya. Di sisi lain, Singapura mengumumkan rencana pembangunan sistem kliring emas over-the-counter (OTC) serta layanan penyimpanan emas oleh bank sentral. Langkah ini diperkirakan akan memperkuat posisi negara tersebut sebagai pusat perdagangan emas regional. Baca Juga: Emas Stabil di Puncak Sepekan Rabu (15/4) Pagi, Pasar Tunggu Kepastian Damai AS-Iran Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan signifikan. Harga perak spot naik 3,1% menjadi US$70,09 per ons troi, platinum menguat 3,2% ke US$1.772,85 per ons troi, sementara paladium melonjak 4,9% menjadi US$1.345,98 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Anjlok ke Titik Terendah Tiga Bulan, Pasar Sambut Kesepakatan AS-Iran
Harga minyak dunia jatuh hampir 5% pada perdagangan Senin (15/6/2026) dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Pasar merespons positif kabar tersebut karena kesepakatan itu juga mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi titik krusial bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Harga minyak mentah Brent ditutup turun US$ 4,16 atau 4,76% ke level US$ 83,17 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,13 atau 4,87% menjadi US$ 80,75 per barel. Baca Juga: Harga Minyak Anjlok pada Senin (15/6) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran Penurunan ini menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak selama perang berlangsung. Seorang pejabat AS mengatakan MoU tersebut ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Jumat mendatang. Media Iran, Mehr, melaporkan rancangan kesepakatan itu mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran. Selain itu, kedua negara ditargetkan menyelesaikan perjanjian damai yang lebih komprehensif dalam 60 hari ke depan. Ekspektasi pulihnya arus pasokan minyak global menjadi faktor utama yang menekan harga. Wakil Presiden Senior Perdagangan Bok Financial, Dennis Kissler, menilai penurunan harga minyak wajar terjadi karena pasar mulai memperhitungkan potensi lonjakan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Sentimen tersebut juga tercermin dari langkah Iran yang memangkas harga jual resmi minyak mentah ringan untuk pembeli Asia menjadi premi US$ 7,15 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk pengiriman Juli, jauh lebih rendah dibanding premi US$ 13 per barel pada bulan sebelumnya. Baca Juga: Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret, Dipicu Kesepakatan Awal AS-Iran Lembaga keuangan Citi turut merevisi turun proyeksi harga rata-rata Brent pada paruh kedua 2026. Bank tersebut memperkirakan Brent berada di kisaran US$ 75 per barel pada kuartal III dan US$ 70 per barel pada kuartal IV, seiring harapan normalisasi perdagangan melalui Selat Hormuz. Meski demikian, pelaku pasar menilai pemulihan pasokan tidak akan terjadi secara instan. Selama lebih dari tiga bulan konflik berlangsung, jutaan barel minyak dan gas dunia tidak dapat mengalir ke pasar akibat penutupan Selat Hormuz. Kepala Riset Sparta Commodities, Neil Crosby, mengatakan proses pemulihan rantai pasok dan aktivitas pengiriman di kawasan Teluk akan menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, sebagian perusahaan pelayaran kemungkinan masih menunggu kepastian keamanan dan perlindungan asuransi sebelum kembali beroperasi penuh. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak global sempat terhenti selama konflik, setara sekitar 14% dari total permintaan dunia. Baca Juga: Harga Minyak Turun pada Rabu (29/4) Pagi, Pasar Cermati Perundingan Damai AS-Iran Kalangan industri memperingatkan bahwa pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan ke tingkat sebelum perang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Di sisi lain, sejumlah faktor masih berpotensi menopang harga minyak dalam jangka panjang. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai rendahnya persediaan minyak global, lambatnya proses pemulihan produksi, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut. Data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak di negara-negara ekonomi utama dunia mendekati level terendah sejak 2003. Sementara Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS turun menjadi 340,3 juta barel, level terendah sejak 1983. Meski pasar menyambut optimistis prospek perdamaian, sejumlah isu geopolitik masih membayangi. Israel menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Baca Juga: WTI dan Brent Ambles Hampir 7%, Pasar Sambut Kemajuan Negosiasi AS-Iran Sementara itu, pembahasan mengenai program nuklir Iran masih akan menjadi agenda utama dalam perundingan lanjutan. Namun untuk saat ini, fokus pasar tertuju pada kemungkinan kembalinya pasokan minyak Timur Tengah ke pasar global, yang langsung memicu aksi jual besar-besaran dan menyeret harga minyak ke level terendah sejak awal Maret.
Wall Street Melesat, Dow Jones Cetak Rekor Baru Usai AS-Iran Capai Kesepakatan Awal
Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026), dengan indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Melansir Reuters, Indeks Dow Jones naik 468,77 poin atau 0,92% ke level 51.671,03. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,65% menjadi 7.554,29 dan Nasdaq melonjak 3,07% ke 26.683,94, mencatat kenaikan harian terbesar sejak akhir Maret. Sentimen positif datang setelah AS dan Iran menyepakati kerangka awal perdamaian yang juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi strategis dunia. Baca Juga: Wall Street Menguat: Dow Jones Cetak Rekor, Nasdaq Tertahan Saham Produsen Chip Meski sejumlah isu penting seperti program nuklir Iran dan konflik Israel-Lebanon belum tercakup dalam kesepakatan tersebut, pasar menyambut baik prospek meredanya ketegangan geopolitik. Kabar itu langsung menekan harga minyak mentah berjangka AS hingga 4,9% ke level terendah sejak Maret. Turunnya harga energi membuat investor lebih optimistis terhadap prospek inflasi dan membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu memperketat kebijakan lebih lanjut. “Kesepakatan AS-Iran mendorong harga minyak turun tajam, meredakan kekhawatiran inflasi dan mendorong investor kembali ke aset berisiko seperti saham teknologi,” kata Chief Investment Officer Cetera Investment Management, Gene Goldman. Reli terbesar terjadi di sektor teknologi. Indeks teknologi S&P 500 melonjak 3,4%, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) melesat lebih dari 5% dan mencetak rekor tertinggi baru. Baca Juga: Wall Street Lanjut Reli Jumat (29/5), Optimisme Damai AS-Iran Angkat Saham Teknologi Penguatan dipimpin oleh Nvidia yang naik 3,5% serta Micron Technology yang melonjak 10,5% setelah sejumlah analis menaikkan target harga saham perusahaan tersebut. Kenaikan sektor chip turut mengangkat Nasdaq, yang sangat didominasi saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Reli ini sekaligus menandai pemulihan pasar setelah sempat tertekan oleh konflik Timur Tengah dan aksi ambil untung pada saham AI dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan harga minyak juga menjadi kabar baik bagi emiten yang sensitif terhadap biaya energi. Saham United Airlines naik 3,9%, sementara operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line dan Carnival Corp masing-masing menguat 3,7% dan 3,2% berkat prospek biaya bahan bakar yang lebih rendah. Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya kelompok yang tertekan. Indeks energi S&P 500 turun 3,6% seiring melemahnya harga minyak. Perhatian investor kini beralih ke rapat kebijakan Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu pekan ini. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga, meski masih terdapat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Pada level saham individual, SpaceX menjadi sorotan setelah melonjak 19,6% pada hari kedua perdagangannya pasca-IPO. Baca Juga: Wall Street: Saham Teknologi Meroket, Dorong S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru Saham perusahaan antariksa milik Elon Musk itu ditutup di US$ 192,46, jauh di atas harga penawaran perdana US$ 135 dan mendorong valuasi perusahaan melampaui US$2 triliun. Sebaliknya, saham Fox anjlok 16,8% setelah mengumumkan akuisisi Roku senilai US$ 22 miliar. Saham Roku sendiri turun 1,9%. Meningkatnya optimisme pasar juga tercermin dari penurunan Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street. Indeks tersebut turun untuk hari ketiga berturut-turut setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Secara keseluruhan, penguatan Wall Street menunjukkan investor kembali berani mengambil risiko setelah meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak, sementara pasar menanti arah kebijakan terbaru Federal Reserve yang berpotensi menjadi penentu pergerakan berikutnya.
Rincian Kesepakatan Damai AS-Iran Bocor ke Media, Ini Poin-Poinnya
Media Iran pada Senin (menerbitkan rincian draf nota kesepahaman berisi 14 poin antara Iran dan AS yang menjabarkan usulan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan bergerak menuju kesepakatan akhir. Kantor berita semi-resmi Mehr mengatakan draf tersebut menyerukan penghentian perang segera dan permanen di semua front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan periode negosiasi selama 60 hari yang mencakup masalah nuklir serta pencabutan sanksi.
Draf itu muncul setelah Iran mengatakan nota kesepahaman telah diselesaikan dan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat (19/6/2026) di Jenewa, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran telah selesai dan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan "pencabutan segera" blokade Angkatan Laut AS.
Berikut adalah beberapa poin isu dalam kesepakatan tersebut:
Menurut Mehr, draf tersebut menyerukan penghentian segera dan permanen perang di semua front, termasuk Lebanon. Rancangan tersebut juga mencakup komitmen AS untuk tidak campur tangan dalam urusan internal Iran dan menghormati kedaulatan Republik Islam.
Draf itu juga mensyaratkan AS untuk menarik pasukannya dari sekitar Iran dan menahan diri dari mengerahkan pasukan tambahan ke wilayah tersebut ataupun memberlakukan sanksi baru selama periode negosiasi.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade Rancangan tersebut mengatur pencabutan penuh blokade angkatan laut AS terhadap Iran dalam waktu 30 hari. Dokumen itu juga menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari berdasarkan pengelolaan Iran. Mehr mengatakan rancangan tersebut mencakup mekanisme pemantauan untuk mengawasi pelaksanaan perjanjian.
Rancangan tersebut mengatur penangguhan sanksi atas penjualan sejumlah produk Iran termasuk minyak, produk petrokimia, dan turunannya dengan memberikan Teheran akses penuh ke proses keuangannya. Draf itu juga menyerukan pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai 24 miliar dolar AS (Rp427 triliun/Rp17.700 per dolar AS) selama periode negosiasi 60 hari, dengan setengah dari jumlah tersebut akan tersedia untuk Iran sebelum dimulainya pembicaraan akhir.
Menurut draf yang dilaporkan oleh Mehr, kesepakatan akhir akan mencakup pencabutan penuh sanksi primer dan sekunder AS serta penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional yang terkait.
Draf tersebut menetapkan periode negosiasi 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir yang berfokus pada isu-isu nuklir dan pencabutan sanksi. Disebutkan bahwa Iran akan menegaskan kembali komitmennya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tidak memproduksi senjata nuklir.
Mehr melaporkan negosiasi akhir hanya akan berfokus pada nasib material yang diperkaya dan kegiatan pengayaan, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi ekonomi Iran. Laporan tersebut menambahkan bahwa program rudal Iran dan dukungan untuk kelompok perlawanan "secara definitif" dikecualikan dari agenda negosiasi akhir.
Draf tersebut mengharuskan AS dan sekutunya untuk menyampaikan rencana rekonstruksi untuk Iran senilai setidaknya 300 miliar dolar AS (Rp5.318 triliun/Rp17.700 per dolar AS). Disebutkan juga bahwa kesepakatan akhir akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Mehr melaporkan bahwa negosiasi akhir tidak akan dimulai sebelum setengah dari aset Iran yang dibekukan dilepaskan, sanksi terhadap minyak Iran ditangguhkan, dan blokade Angkatan Laut dicabut.
Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi pada Senin (15/6/2026) pagi mengatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah difinalisasi dan akan resmi ditandatangani pada Jumat (19/6/2026). Menurut laporan Mehr dilansir Anadolu, penandatanganan MoU akan digelar di Genewa, Swiss.
Menurutnya, pencabutan blokade maritim akan mulai dilaksanakan pada Ahad malam waktu AS. Gharibabadi menggambarkan MoU sebagai hasil tidak hanya dari diplomasi tapi juga pencapaian militer Iran selama konflik berlangsung.
"Musuh yang melancarkan serangan gagal di semua tujuan jahatnya, dan Republik Islam mencapai kemenangan besar dalam perang," ujarnya.
Dia menambahkan, bahwa Iran telah menambahkan semua posisi-posisi kuncinya dan teks penuh dari MoU akan dipublikasikan setelah resmi ditandatangani. Menurut Gharibabadi, pejabat Iran juga akan menjelasakan beragam dimensi dan pencapaian dari itu melalui publik figur sebelum acara penandatanganan MoU.
Presiden AS Donald Trump pun sudah mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Iran telah sepenuhnya tercapai dan mengumumkan pembukaan Selat Hormuz bersamaan dengan pencabutan blokade maritim AS.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang komplet," kata Trump lewat unggahan di Truth Social.
Dia menambahkan bahwa dia telah mengautorisasi "pembukaan Selat Hormuz tanpa tol" bersamaan dengan "pencabutan segera" blokade maritim AS.
AS berjanji mencairkan aset luar negeri milik Iran senilai 24 miliar dolar AS (sekitar Rp427 triliun), dengan separuh dari jumlah itu harus dikembalikan kepada Iran sebelum penandatanganan nota kesepahaman antara kedua negara, demikian laporan kantor berita Iran, Mehr, mengutip rancangan memorandum tersebut.
"Sebesar 24 miliar dolar AS aset Iran harus dicairkan selama periode 60 hari negosiasi final. Setengah dari jumlah itu harus diberikan kepada Iran sebelum dimulainya negosiasi," tulis Mehr mengutip isi rancangan kesepakatan damai tersebut.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Mohsen Rezaei, dalam sebuah upacara peringatan di Kota Dezful, Iran barat daya, sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars News Agency pada Jumat (12/6/2026) juga mengonfirmasi pencairan aset Iran oleh AS.
Menurut Rezaei, konflik yang baru-baru ini dialami Iran telah meningkatkan posisi negara itu di tingkat global dan memperkuat kemampuan penangkalnya. Ia mengeklaim kemampuan tersebut telah berkembang hingga membuat Trump, yang ia sebut sebagai “penjudi”, kini khawatir untuk bernegosiasi dengan Teheran.
Menteri Israel Ben Gvir Tolak Perdamaian AS-Iran, Serukan Terus Serang Lebanon
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengecam kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, Senin (15/6/2026).
Ben Gvir juga menolak penghentian serangan Zionis ke Lebanon dan meminta pemerintahan Israel tak terikat oleh kesepakatan tersebut.
"Kesepakatan Trump tidak mengikat kami... kami bukan pihak dalam kesepakatan ini. Ini tidak menjamin keamanan kami," kata Ben Gvir di saluran Telegram-nya, yang merupakan reaksi pertama dari seorang pejabat Israel terhadap kesepakatan tersebut.
Menurut Ben Gvir, Israel tak tidak boleh puas dengan perjanjian apa pun selain pembubaran Hizbullah. "Kita tidak boleh mundur dari sejengkal pun wilayah yang telah direbut dan dibersihkan oleh tentara kita,” katanya.
Presiden AS Donald Trump pada Ahad menegaskan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah hanya tinggal 'beberapa jam lagi'.
Ia geram dan menyalahkan Israel karena menunda penandatanganan kesepakatan menyusul serangan udara di Beirut yang memicu ancaman pembalasan dari Iran.
“Seharusnya sekarang. Sekarang dijadwalkan beberapa jam lagi,” kata Trump dalam panggilan telepon kepada Axios, sambil marah kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Mengapa Bibi harus melakukan serangan sialan itu?” katanya kepada Axios. “Saya sangat marah. Saya sudah memberitahunya. Dia tidak punya penilaian sama sekali.”
Trump telah berjanji bahwa perjanjian tersebut akan ditandatangani pada Ahad, pas pada hari ulang tahunnya yang ke-80. Sementara Teheran menolak untuk memberikan jadwal yang jelas, meskipun kedua pihak telah mengisyaratkan bahwa saluran diplomatik tetap terbuka.
Teheran telah lama menuntut agar setiap perjanjian untuk menghentikan perang harus mencakup konflik paralel di Lebanon, di mana Israel telah melakukan kampanye melawan Hizbullah yang didukung Iran.
Namun setelah berhari-hari momentum menuju kesepakatan, serangan Israel pada Ahad ke arah pinggiran selatan Beirut – benteng Hizbullah – membuat kepala negosiator Iran mempertanyakan tujuan melanjutkan pembicaraan perdamaian.
"Serangan itu menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kemauan untuk melaksanakan komitmennya atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di X.
“Jika Anda tidak memiliki kemauan atau kemampuan untuk memenuhi komitmen Anda, maka tidak ada gunanya membicarakan kelanjutan jalan ini,” tambahnya.
Pemukim Yahudi Coba Bakar Masjid Beserta Jamaahnya di Tepi Barat
Pemukim ilegal Yahudi berusaha membakar sebuah masjid di desa Burqa di Tepi Barat saat jamaah berada di dalam pada Ahad malam. Tindakan itu menandai aksi para pemukim dan pasukan Israel yang makin brutal di Tepi Barat belakangan.
Kantor berita WAFA melaporkan bahwa para pemukim awalnya membakar kendaraan yang diparkir di dekat masjid, di kawasan Ramallah, sebelum mengalihkan perhatian mereka ke rumah ibadah itu sendiri. Kepala dewan desa Burqa mengatakan kepada kantor berita bahwa para pemukim mendobrak pintu masjid dan membakar pintu masuk sebelum melarikan diri dari tempat kejadian.
Ketua dewan menambahkan, jamaah yang berada di dalam gedung berhasil memadamkan api sebelum api menyebar lebih jauh. Rekaman kejadian tersebut tampak menunjukkan kerusakan parah pada masjid, namun tidak ada laporan korban luka akibat serangan tersebut
Insiden itu terjadi setelah serangan pembakaran terpisah dilaporkan terjadi di kota terdekat Deir Dibwan, di mana pemukim dilaporkan membakar dua kendaraan dan merusak beberapa lainnya. Kendaraan yang terbakar “hancur total” oleh api, WAFA melaporkan.
Koresponden WAFA melaporkan bahwa sekelompok penjajah menyerbu kawasan al-Marah dekat pintu masuk barat kota, membakar dua kendaraan milik warga, dan menghancurkan dua kendaraan lain yang diparkir di dekat masjid.
pemukim Israel menyerang desa Burqa di Tepi Barat, membakar kendaraan dan mencoba membakar masjid pada Ahad (14/6/2026).
Penjajah melarikan diri dari tempat kejadian setelah melakukan serangan. Dua kendaraan yang terbakar hangus terbakar, sedangkan dua lainnya mengalami kerusakan material yang cukup parah. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Kota Deir Dibwan dan desa-desa serta kota-kota di sekitarnya terus-menerus menjadi sasaran serangan penjajah yang menargetkan warga Palestina dan harta benda mereka, bertepatan dengan serangan berulang kali oleh pasukan pendudukan Israel.
Pemukim Yahudi pada Ahad juga menimbun lahan pertanian dengan tanah dan batu di kota Nahhalin, sebelah barat Betlehem.
Sumber lokal mengatakan kepada WAFA bahwa sekelompok penjajah, di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel, menimbun tanah dan batu di tanah di daerah Lembah Al-Jamala di sebelah barat kota. Lahan yang ditargetkan ditanami sekitar 200 pohon zaitun dan berdekatan dengan koloni Beitar Illit.
Sumber tersebut menambahkan bahwa Lembah Al-Jamala selama bertahun-tahun telah menjadi sasaran pelanggaran pendudukan Israel melalui pembuangan air limbah ke wilayahnya, yang mengakibatkan kerusakan pada ratusan pohon anggur, almond, dan persik.
Sumber yang sama menjelaskan bahwa operasi penimbunan bertujuan untuk memperluas pagar koloni Beitar Illit, mengingat bahwa Lembah Al-Jamala mencakup ratusan dunum dan perambahan terbaru dapat mengakibatkan penyitaan hampir 200 dunum.
Nahhalin telah lama menjadi sasaran tindakan pendudukan Israel, termasuk penyitaan tanah, pembatasan perluasan kota, dan pembongkaran rumah dan bangunan pertanian, demi perluasan pemukiman kolonial.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk kedua insiden tersebut dalam sebuah pernyataan pada Ahad malam, dan mendesak PBB dan komunitas internasional untuk menerapkan “tindakan segera dan konkrit” terhadap kekerasan yang tidak terkendali terhadap pemukim Israel.
Kritikus menuduh pemerintah Israel dan penegak hukum menutup mata terhadap serangan kekerasan yang dilakukan oleh ekstremis pemukim, yang semakin mematikan dalam beberapa tahun terakhir dan terus meningkat, yang terjadi hampir setiap hari. Penangkapan terhadap pemukim jarang terjadi, dan penuntutan bahkan lebih jarang lagi.
Bank Sentral Jepang BOJ Bersiap Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun
Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1% dari 0,75% pada Selasa (16/6/2026). Jika terealisasi, langkah tersebut akan membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak 1995 sekaligus menegaskan strategi normalisasi kebijakan moneter yang lebih agresif untuk meredam tekanan inflasi. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Desember dan menandai perubahan besar dari era suku bunga ultra-rendah yang selama bertahun-tahun diterapkan Jepang. BOJ kini semakin fokus mengendalikan lonjakan harga, terutama akibat kenaikan biaya energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pasar juga mencermati bagaimana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan memengaruhi arah kebijakan BOJ ke depan. Meredanya ketegangan berpotensi menurunkan harga energi global dan mengurangi tekanan inflasi, yang dapat memengaruhi tempo kenaikan suku bunga berikutnya. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai BOJ masih akan mempertahankan bias pengetatan. Wakil Gubernur BOJ, Shinichi Uchida, yang akan memimpin konferensi pers usai rapat karena Gubernur Kazuo Ueda menjalani perawatan medis, diperkirakan tetap menegaskan komitmen bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara bertahap sambil menyesuaikan perkembangan ekonomi dan inflasi. Baca Juga: Bank Sentral Jepang Diprediksi Akan Naikkan Suku Bunga Sampai Menjadi 1,5% Strategi BOJ saat ini tidak hanya diarahkan untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga menahan dampak pelemahan yen yang terus mendorong kenaikan harga impor. Yen yang lemah membuat biaya energi dan bahan baku impor semakin mahal, sehingga meningkatkan tekanan harga di dalam negeri. Di sisi lain, BOJ mulai bergerak lebih hati-hati karena suku bunga 1% sudah mendekati kisaran netral ekonomi Jepang yang diperkirakan berada pada level 1,1%-2,5%. Artinya, ruang kenaikan suku bunga berikutnya tetap terbuka, namun akan dilakukan secara lebih terukur agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi. Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang, Minoru Kiuchi, berharap BOJ terus berkoordinasi erat dengan pemerintah untuk mencapai target inflasi secara stabil. Sejak rapat kebijakan terakhir pada April, BOJ telah menaikkan proyeksi inflasi dan memperingatkan risiko inflasi yang melampaui target. Bahkan, tiga dari sembilan anggota dewan BOJ saat itu sudah mengusulkan kenaikan suku bunga ke 1%. Ekspektasi pasar kini semakin menguat bahwa siklus pengetatan belum berakhir. Survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada kuartal IV 2026 setelah kenaikan ke 1% bulan ini. Baca Juga: BOJ Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi dan Ekonomi Sesuai Proyeksi Tekanan tersebut juga diperkuat oleh inflasi grosir Jepang yang melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun sebesar 6,3% pada Mei. Meski inflasi konsumen inti masih tertahan di bawah target 2% berkat subsidi pemerintah, kenaikan harga di tingkat produsen dinilai berpotensi menular ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan. Dengan kombinasi inflasi yang masih membayangi, harga energi yang belum sepenuhnya stabil, dan pelemahan yen yang berlanjut, strategi BOJ saat ini mengarah pada normalisasi kebijakan secara bertahap namun berkesinambungan, menjadikan kenaikan suku bunga bulan ini kemungkinan bukan yang terakhir pada tahun ini.
IMF: Ekonomi Global Tetap Tangguh Meski Diguncang Perang Timur Tengah
Ekonomi dunia sejauh ini mampu mengatasi guncangan perang di Timur Tengah meskipun terjadi lonjakan harga komoditas, inflasi yang lebih tinggi, dan tekanan dalam kondisi keuangan, tanpa tanda-tanda perlambatan global, kata kepala IMF Kristalina Georgieva pada hari Senin (15/6). Georgieva, direktur pelaksana lembaga pemberi pinjaman global tersebut, menyambut baik kesepakatan hari Minggu antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi memperingatkan dalam sebuah blog baru bahwa intensifikasi konflik atau gangguan pasokan menimbulkan risiko nyata bagi pertumbuhan global. Baca Juga: Salesforce Akuisisi Fin Senilai US$3,6 Miliar untuk Perkuat Bisnis AI IMF akan merilis perkiraan terbaru pada 8 Juli. Pada bulan April, IMF mengeluarkan tiga skenario untuk pertumbuhan PDB global pada tahun 2026 dan 2027, dengan skenario "buruk" di tengahnya memperkirakan pertumbuhan melambat hingga 2,5% pada tahun 2026 dan inflasi utama sebesar 5,4%. Bulan lalu, Georgieva mengatakan bahwa skenario buruk tersebut sudah berlaku, tetapi komentar terbarunya menunjukkan bahwa IMF mungkin akan kembali ke skenario referensinya, yang mengasumsikan perang Iran yang singkat dan memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,1% pada tahun 2026. Kesepakatan kerangka kerja ini menandai terobosan terbesar dalam menyelesaikan perang yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada bulan Februari sebelum meningkat menjadi konflik regional yang lebih luas yang telah menewaskan ribuan orang, mengguncang pasar energi, dan memicu kekhawatiran resesi bagi perekonomian global. "Lebih dari tiga bulan setelah perang di Timur Tengah dimulai, ekonomi global tampaknya masih bertahan. Harga komoditas, inflasi dan ekspektasinya, serta kondisi keuangan semuanya telah terpengaruh—tetapi belum—dengan cara yang menandakan perlambatan global," tulisnya.
Bedah Lengkap Klausul Damai AS-Iran: Dari Masa Depan Nuklir hingga Nasib Selat Hormuz
Detailing draf rincian Nota Kesepahaman (MoU) awal untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya terungkap ke publik pada Senin (15/6/2026). Dokumen kerja sama yang dimediasi oleh Pakistan ini merumuskan peta jalan (roadmap) de-eskalasi militer, pemulihan jalur logistik energi global, hingga klausul sensitif mengenai pembatasan nuklir dan pencairan aset. Baca Juga: Inggris Umumkan Larangan Total Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun Melansir Reuters, berikut adalah poin-poin krusial yang disepakati oleh kedua belah pihak beserta sejumlah isu yang masih diperdebatkan: 1. Tahapan Fase Gencatan Senjata - Penghentian Operasi Militer: Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan kedua belah pihak telah sepakat untuk memulai penghentian operasi militer secara penuh, segera, dan permanen. - Agenda Penandatanganan: Seluruh pihak menjadwalkan penandatanganan resmi MoU perdamaian ini di Swiss pada hari Jumat mendatang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi dokumen tersebut akan langsung dipublikasikan setelah resmi ditandatangani. - Tenggat Waktu Negosiasi Lanjutan: Isu-isu perselisihan yang lebih kompleks—terutama detail teknis program nuklir Iran dan sanksi ekonomi AS—akan dinegosiasikan secara intensif dalam kurun waktu 60 hari ke depan setelah penandatanganan. Baca Juga: SpaceX Diprediksi Lanjut Menguat Setelah IPO Pecahkan Rekor di Wall Street 2. Normalisasi Selat Hormuz dan Pembukaan Blokade Pelabuhan - Akses Kapal Komersial: Perwakilan senior Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk "seluruh kapal komersial" internasional tanpa terkecuali. - Pencabutan Blokade: Presiden AS Donald Trump menyatakan telah memerintahkan militer AS untuk mulai mengangkat blokade laut di pelabuhan-pelabuhan logistik Iran berbarengan dengan penandatanganan hari Jumat. - Regulasi Lalu Lintas Laut: Berdasarkan laporan kantor berita Fars, lalu lintas maritim yang melewati celah Selat Hormuz nantinya akan diregulasi oleh otoritas Iran, dengan koordinasi langsung bersama Kesultanan Oman. Baca Juga: Bursa Asia Menghijau Senin (15/6), Harga Minyak Turun Pasca Kesepakatan AS-Iran 3. Resolusi Program Nuklir Iran Sektor hulu nuklir menjadi salah satu poin paling krusial dalam draf perdamaian ini, dengan komitmen sementara sebagai berikut: Komitmen Anti-Senjata Nuklir: Iran menegaskan kembali komitmen dekade mereka bahwa Teheran tidak akan memproduksi atau berupaya memperoleh senjata nuklir. Pembekuan Aktivitas (Nuclear Freeze): Menunggu kesepakatan komprehensif, Iran setuju untuk membekukan aktivitas nuklirnya, termasuk menahan proses pengayaan uranium (uranium enrichment) baru dan menghentikan perluasan fasilitas nuklir. Penyusutan Uranium: AS menyetujui opsi bagi Iran untuk mengencerkan (dilute) simpanan uranium yang diperkaya tingkat tinggi langsung di dalam negeri di bawah perjanjian masa depan. Sistem Inspeksi: Donald Trump menegaskan akan menerapkan rezim pengawasan dan inspeksi ketat di wilayah Iran, meski belum merinci mekanisme teknisnya. Dari sisi legislatif, Senator AS Lindsey Graham mengingatkan bahwa setiap kesepakatan nuklir final wajib melalui tinjauan dan persetujuan Kongres AS. Baca Juga: Kapal LNG India Mulai Melintas Selat Hormuz Pasca Kesepakatan Damai AS-Iran 4. Sanksi Ekonomi, Pencairan Aset, dan Rekonstruksi Terdapat perbedaan narasi (discrepancy) antara klaim pejabat Iran dan pernyataan Presiden Trump mengenai aspek finansial ini: Komponen Finansial Versi Pejabat Senior Iran Versi Presiden Donald Trump Sanksi Baru AS sepakat tidak mengenakan sanksi baru selama masa negosiasi 60 hari. Sanksi ekonomi berpotensi dicabut secara bertahap sesuai kepatuhan. Ekspor Minyak AS akan memberikan kelonggaran sanksi (waiver) ekspor minyak mentah. (Tidak merinci detail kelonggaran kuota minyak). Pencairan Aset AS sepakat mencairkan US$ 25 miliar aset Iran yang dibekukan lewat transfer tunai, jalur kredit, dan kerja sama regional. Menegaskan bahwa Iran tidak akan diberikan dana tunai (cash), melainkan murni pelonggaran sanksi. Pembangunan Pasca-Perang Washington bersama sekutunya akan menyusun draf rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran dalam 60 hari. (Fokus pada pelonggaran hambatan dagang). Baca Juga: Bursa Saham Eropa Cetak Rekor Tertinggi Setelah AS-Iran Capai Kesepakatan Perdamaian 5. Klausul Konflik di Geografis Lebanon Cakupan perdamaian ini dipastikan turut mengikat situasi militer di Front Utara (Lebanon), yang selama ini melibatkan militer Israel dan kelompok Hezbollah pro-Iran: Gencatan Senjata Multilateral: Gencatan senjata permanen ini secara otomatis mencakup wilayah Lebanon. Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Agung Iran menyatakan seluruh pergerakan senjata diinstruksikan berhenti total sejak Senin malam. Tanggung Jawab Implementasi: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan prasyarat utama keberhasilan draf ini adalah penghentian total serangan militer Israel ke Lebanon, dan membebankan tanggung jawab penegakan aturan tersebut kepada AS. Sikap Bertahan Militer Israel: Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menegaskan kepada Trump bahwa militer Israel (IDF) akan tetap bertahan di zona keamanan yang telah mereka kuasai di Lebanon, Suriah, dan Gaza demi stabilitas wilayah perbatasan mereka.
Inggris Umumkan Larangan Total Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Pemerintah Inggris berencana melarang anak-anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial serta memberlakukan pembatasan terhadap platform gim daring dan layanan siaran langsung (live streaming) sebagai bagian dari upaya meningkatkan perlindungan anak di ruang digital. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Senin (15/6) menyatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah yang diperlukan untuk menghadapi pengaruh perusahaan teknologi besar sekaligus menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi generasi muda. Menurut Starmer, perubahan besar ini akan "mengembalikan masa kecil anak-anak" dengan membatasi akses ke platform seperti Snapchat, TikTok, dan Instagram, serta situs gim yang memungkinkan komunikasi antara anak-anak dengan orang asing. "Sudah jelas bagi saya bahwa larangan penuh adalah pilihan yang tepat," kata Starmer dalam konferensi pers. "Kebijakan ini akan membawa perubahan yang sangat besar. Ini akan membuat anak-anak kita lebih aman, lebih bahagia, memberi mereka lebih banyak waktu, lebih banyak rasa aman, lebih banyak kebebasan untuk tumbuh, dan lebih banyak kesempatan untuk berkembang," tambahnya. Baca Juga: SpaceX Diprediksi Lanjut Menguat Setelah IPO Pecahkan Rekor di Wall Street Mengadopsi Model Australia Pemerintah Inggris menyatakan akan menerapkan pendekatan serupa dengan Australia yang telah memberlakukan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sejak Desember tahun lalu. Larangan tersebut akan mencakup berbagai platform besar seperti YouTube, Facebook, TikTok, Instagram, dan X. Namun, layanan pesan instan seperti WhatsApp dan Signal tidak termasuk dalam kebijakan tersebut. Selain itu, Inggris juga akan menerapkan pembatasan yang disebut sebagai "blokir kelas dunia" terhadap fitur-fitur yang dinilai berbahaya bagi anak-anak, termasuk layanan live streaming dan komunikasi dengan orang asing di bawah usia 16 tahun. Starmer menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk perlindungan yang seharusnya juga berlaku di dunia maya."Apakah ada situasi di dunia nyata di mana Anda membiarkan anak Anda dipasangkan dengan orang asing, seorang dewasa yang sama sekali tidak Anda kenal? Tidak. Karena itu kami mengambil tindakan untuk mengatasinya." Ditargetkan Berlaku Mulai Musim Semi Tahun Depan Starmer mengatakan pemerintah sebenarnya telah memiliki kewenangan untuk memulai proses pelaksanaan larangan tersebut. Regulasi pendukung akan disusun hingga akhir tahun ini dengan target kebijakan mulai berlaku sekitar musim semi tahun depan. Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris memang semakin memperketat pengawasan terhadap perusahaan teknologi, mulai dari mewajibkan verifikasi usia, mendorong perubahan algoritma, hingga mengharuskan platform mencegah penyebaran gambar telanjang yang diambil anak-anak menggunakan telepon seluler. Namun, meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak membuat pemerintah memutuskan mengambil langkah yang lebih tegas setelah berdialog dengan para orang tua dan mempelajari pengalaman Australia. Mayoritas Orang Tua Mendukung Pembatasan Pemerintah Inggris telah melakukan konsultasi luas dengan guru, orang tua, serta kalangan anak muda mengenai berbagai opsi pembatasan, termasuk larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, jam malam penggunaan aplikasi, pembatasan durasi akses, hingga pengurangan fitur-fitur yang dinilai adiktif. Baca Juga: Bursa Asia Menghijau Senin (15/6), Harga Minyak Turun Pasca Kesepakatan AS-Iran Konsultasi tersebut menghasilkan lebih dari 116.000 tanggapan dari masyarakat dan pelaku industri. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 83% orang tua menilai risiko media sosial lebih besar dibandingkan manfaatnya. Sementara itu, sekitar 90% responden mendukung penetapan usia minimum 16 tahun untuk mengakses platform media sosial. Masih Menuai Perdebatan Meski mendapat dukungan luas dari banyak orang tua dan politisi, sejumlah psikolog dan peneliti menilai belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa pelarangan media sosial akan efektif menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak-anak. Dalam wawancara dengan Reuters, sekelompok pelajar di London juga mengaku memiliki hubungan yang kompleks dengan teknologi digital. Mereka menyadari manfaat media sosial, tetapi juga mengakui adanya berbagai risiko yang menyertainya.