News Komoditi & Global ( Senin, 6 April 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Senin,   6 April 2026  )

Harga Emas Global Turun, Tekanan Dolar & Suku Bunga Pemicunya

 

Harga emas dunia melemah lebih dari 1% pada awal pekan, Senin (6/4/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS.

Melansir Reuters, harga emas spot tercatat turun 1,2% menjadi US$ 4.620,68 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 0,7% ke level US$ 4.647,10 per ons troi.

Tekanan terhadap emas terjadi seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan penguatan indeks dolar, yang membuat aset berdenominasi dolar seperti emas menjadi kurang menarik.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tensi geopolitik dengan mengancam Iran agar segera membuka Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.

Namun, laporan intelijen AS menyebut Iran kemungkinan tidak akan membuka jalur tersebut dalam waktu dekat.

Ketegangan ini turut mendorong harga minyak tetap tinggi, bahkan bertahan di atas US$ 110 per barel, di tengah gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru dapat menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil.

Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menyebut, lonjakan harga minyak terjadi pada waktu yang kurang tepat, saat tekanan inflasi dari kebijakan tarif sebelumnya belum sepenuhnya mereda.

Dari sisi data ekonomi, laporan terbaru menunjukkan nonfarm payrolls AS meningkat 178.000 pekerjaan pada Maret tertinggi sejak Desember 2024 dengan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%.

Kondisi ini membuat pelaku pasar hampir sepenuhnya menghapus ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini.

Sebelumnya, pasar memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026.

Sementara itu, di pasar logam lainnya, harga perak turun 1% menjadi US$ 72,28 per ons troi, platinum melemah 0,5% ke US$ 1.979,42, sedangkan paladium naik tipis 0,1% ke US$ 1.504,34 per ons troi.

Di pasar fisik, harga emas sempat diperdagangkan dengan premi di India untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir seiring meningkatnya permintaan. Sebaliknya, premi di China sedikit menurun karena pelaku pasar menunggu koreksi harga yang lebih dalam.

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia  Naik, Perang AS-Israel dengan Iran Ganggu Pasokan

 

Harga minyak terus menguat di awal pekan ini karena kekhawatiran yang terus berlanjut akan kehilangan pasokan akibat gangguan pengiriman di wilayah penghasil minyak utama Timur Tengah akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Senin (6/4/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 naik US$ 1,71 atau 1,6% menjadi US$ 110,74 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 menguat US$ 0,71 atau 0,6% ke US$ 112,25 per barel.

Pada hari Kamis, hari perdagangan terakhir sebelum libur Jumat Agung, WTI ditutup melonjak lebih dari 11% dan Brent melonjak hampir 8% dalam perdagangan yang bergejolak. Ini juga jadi kenaikan harga absolut terbesar sejak tahun 2020, karena Presiden AS Donald Trump berjanji untuk melanjutkan serangan terhadap Iran.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur minyak dan produk petroleum dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, sebagian besar masih tertutup akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal setelah perang dimulai pada 28 Februari.

Karena gangguan pasokan di Timur Tengah, kilang-kilang minyak mencari sumber alternatif untuk minyak mentah, khususnya untuk kargo fisik di AS dan Laut Utara Inggris.

"Pembeli global menawar secara agresif untuk minyak mentah (Pantai Teluk AS) dan Brent bahkan naik lebih cepat," kata Schork Group dalam catatan kepada klien pada hari Senin.

Pada hari Minggu, Trump meningkatkan tekanan pada Teheran, mengancam dalam unggahan media sosial Minggu Paskah yang penuh dengan kata-kata kasar untuk menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran pada hari Selasa jika Selat Hormuz yang strategis tidak dibuka kembali.

Meskipun demikian, beberapa kapal, termasuk kapal tanker yang dioperasikan Oman, kapal kontainer milik Prancis, dan kapal pengangkut gas milik Jepang, telah melintasi Selat Hormuz sejak Kamis, menurut data pengiriman, yang mencerminkan kebijakan Iran untuk mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggapnya "sahabat" untuk melintas.

Perang tersebut mengancam akan berlanjut karena Iran secara resmi telah memberi tahu para mediator bahwa mereka tidak siap untuk bertemu dengan pejabat AS di ibu kota Pakistan, Islamabad, dalam beberapa hari mendatang dan upaya untuk mencapai gencatan senjata telah menemui jalan buntu, demikian laporan Wall Street Journal pada hari Jumat.

Pada hari Minggu, OPEC+, yang terdiri dari beberapa anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu seperti Rusia, menyetujui peningkatan produksi yang moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan Mei.

Namun, keputusan tersebut sebagian besar hanya akan ada di atas kertas karena beberapa produsen utama kelompok tersebut tidak dapat meningkatkan produksi karena perang.

Pasokan Rusia baru-baru ini terganggu oleh serangan drone Ukraina terhadap terminal ekspornya di Laut Baltik. Laporan media pada hari Minggu mengatakan terminal Ust-Luga melanjutkan pemuatan pada hari Sabtu setelah beberapa hari mengalami gangguan.

 

 

 

 

 

 

 

Futures Wall St turun setelah Trump beri Iran tenggat Selasa untuk buka Hormuz

 

Futures indeks saham AS jatuh pada Minggu malam, saat harga minyak naik lebih lanjut setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka pada hari Selasa.

Futures S&P 500 turun 0,3% menjadi 6.603,0 poin, sementara Futures Nasdaq 100 jatuh 0,2% menjadi 24.175,75 poin pada pukul 08:31 (00:31 GMT). Futures Dow Jones tergelincir 0,4% menjadi 46.535,0 poin.

Penarikan ini menyusul penutupan kuat di Wall Street minggu lalu, ketika investor membeli saham-saham yang terpukul setelah beberapa sesi volatilitas terkait konflik Iran.

Untuk minggu ini, Dow Jones Industrial Average naik 3%, S&P 500 naik 3,4%, dan NASDAQ Composite meningkat 4,44%, menandai kenaikan mingguan pertama dalam enam minggu untuk ketiga indeks utama tersebut.

Sentimen investor melemah lagi setelah Trump memposting di Truth Social bahwa "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!!"

"Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP," tambahnya, mengintensifkan ketakutan akan konflik yang lebih luas.

Trump mengatakan Iran menghadapi tenggat waktu pukul 20:00 Waktu Timur pada hari Selasa untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Harga minyak naik lebih dari 2% dalam perdagangan Asia pada hari Senin, melanjutkan lonjakan minggu lalu karena pedagang memperhitungkan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui salah satu jalur energi paling kritis di dunia.

Pasar juga mencerna laporan penggajian AS hari Jumat, yang dirilis saat pasar ekuitas ditutup untuk Jumat Agung.

Nonfarm payrolls meningkat sebanyak 178.000 pekerjaan pada bulan Maret setelah penurunan yang direvisi sebesar 133.000 pada bulan Februari, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4%, menandakan ketahanan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan.

"Pemulihan kuat dalam lapangan kerja menunjukkan ekonomi AS berada dalam posisi yang layak untuk menghadapi hambatan ekonomi dari konflik Timur Tengah," kata analis ING dalam catatan.

"Meskipun demikian, penciptaan lapangan kerja tetap terkonsentrasi di segelintir sektor, dan meningkatnya ketidakpastian dan kehati-hatian kemungkinan akan membuat pemberi kerja ragu untuk mempercepat rencana perekrutan," tambah mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'Trump Always Chicken Out': Kala Pasar Sudah tak Lagi Percaya Kebohongan Donald Trump

 

Di balik gejolak pasar energi global yang terus dinamis di tengah perang, sebuah pola manipulasi informasi  mulai terendus oleh para pemain di Wall Street. Para pialang menyebutnya sebagai "TACO" (Trump Always Chickens Out). Pola ini menjadi sorotan setelah serangkaian klaim perdamaian dari Gedung Putih terbukti hanya menjadi alat untuk menekan harga minyak secara artifisial, sementara para "orang dalam" meraup keuntungan fantastis dari informasi tersebut.

Salah satu insiden paling mencolok terjadi pada Senin (23/3/2026) pagi waktu New York. Dalam jeda waktu hanya 60 detik, sekitar 6.200 kontrak berjangka minyak senilai 580 juta dolar AS diperdagangkan secara masif. Tidak ada pengumuman resmi atau rilis data ekonomi saat itu. Namun, tepat 15 menit kemudian, Presiden Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa AS dan Iran telah mengadakan "percakapan yang sangat baik dan produktif" untuk mengakhiri perang, dilansir dari Al Mayadeen.

Hasilnya? Harga minyak anjlok 15 persen dalam satu jam. Sementara itu, pasar ekuitas global melonjak seketika. Kegembiraan itu sirna dalam waktu kurang dari 24 jam setelah Iran membantah adanya pembicaraan tersebut. Harga minyak pun kembali merangkak naik.

Pola ini bukan sekali terjadi. Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, pemerintahan Trump dinilai menggunakan pola yang konsisten: eskalasi yang memicu kepanikan pasar, diikuti de-eskalasi verbal (meski palsu) yang memicu reli pasar.

Beberapa titik manipulatif Gedung Putih, yakni:

9 Maret: Trump mengeklaim perang "hampir selesai," membuat minyak jatuh dari 100 dolar ke 83 dolar AS per barel.

10 Maret: Menteri Energi Chris Wright mengeklaim Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker di Selat Hormuz. Harga minyak jatuh 17 persen sebelum akhirnya postingan tersebut dihapus dan dinyatakan sebagai "salah komunikasi."

23 Maret: Klaim "percakapan produktif" yang bertepatan dengan jendela perdagangan mingguan pasar energi.

Pakar strategi pasar dari Bianco Research, Jim Bianco, menyatakan bahwa kredibilitas pernyataan presiden kini telah runtuh di dunia pasar finansial. "Pernyataan Trump tentang kesepakatan kini dianggap sebagai 'suara bising' (white noise). Pasar hanya akan bergerak jika pihak Iran yang mengonfirmasi bahwa pembicaraan berjalan baik,"tegas dia.

Agresivitas manajemen pesan pasar ini diyakini sebagai bentuk pertahanan politik. Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, dalam rapat internal memperingatkan bahwa kegagalan mengendalikan harga bensin bisa menjadi katastropik bagi Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang.

Sentimen konsumen AS saat ini berada di titik terendah dalam 12 tahun terakhir. Indeks S&P 500 bahkan telah jatuh di bawah level sebelum pemilu. Namun, strategi "menekan harga melalui kata-kata" ini justru dianggap sebagai 'perangkap batman'.

Bob McNally dari Rapidan Energy Group menilai manipulasi ini menghilangkan tekanan pasar yang seharusnya memaksa Washington untuk mencari resolusi nyata atas konflik dengan Iran. "Manipulasi untuk menjaga minyak tetap di bawah 120 dolar AS mungkin menjadi alasan mengapa perang ini masih terus berlanjut," ujarnya dalam wawancara dengan NPR.

Ketika pasar saham mulai kehilangan kepercayaan, sinyal paling mengkhawatirkan justru muncul dari pasar obligasi pemerintah AS (Treasury). Secara tradisional, obligasi dianggap sebagai "pelabuhan aman" (safe haven) di masa perang, di mana investor akan memborongnya sehingga harga naik dan imbal hasil (yield) turun.

Namun, perilaku pasar saat ini menunjukkan sesuatu yang fundamental telah patah. Ketidakpastian yang diciptakan oleh pola komunikasi Gedung Putih mulai merusak kepercayaan investor terhadap stabilitas utang pemerintah AS.

Hingga pekan keempat perang, Wall Street telah mencatatkan lima pekan penurunan berturut-turut—rekor terlama dalam hampir empat tahun. Saham-saham raksasa teknologi seperti Nvidia, Amazon, dan Meta ikut tumbang, sementara sektor konsumsi seperti Starbucks dan Norwegian Cruise Line kehilangan nilai secara signifikan karena kekhawatiran melambungnya biaya hidup akibat harga energi yang tak menentu.

Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan perang akan berakhir, melainkan sampai kapan pasar global mau berdansa di bawah irama "gaslighting" yang dimainkan oleh Washington.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hamas Beri Penghormatan Para Syuhada Prajurit TNI di Lebanon

 

 

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga tentara Indonesia di Lebanon Selatan. Mereka menyampaikan penghormatan terhadap “pengorbanan mulia” para prajurit dalam menjaga perdamaian di Lebanon.

Hal ini disampaikan Ketua Dewan Kepemimpinan Gerakan Hamas, Muhammad Darwish dalam pernyataan yang dilansir semalam. Ia menyampaikan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, serta pemerintah dan rakyat Indonesia, ungkapan belasungkawa yang tulus dan simpati yang mendalam atas gugurnya “tiga tentara pemberani serta luka-lukanya sejumlah lainnya, akibat dua serangan keji saat mereka menjalankan tugas dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon Selatan.”

 “Kami mengenang dengan penuh penghargaan dan penghormatan apa yang telah dipersembahkan oleh para syuhada ini berupa pengorbanan mulia demi menjaga keamanan dan perdamaian internasional,” ujar Darwish dalam pernyataan yang diterima Republika.

Menurutnya pengorbanan mereka mencerminkan komitmen kuat Indonesia dalam mendukung misi kemanusiaan dan memperkuat stabilitas di kawasan dan dunia.

Ia juga menyatakan kecaman keras terhadap serangan pengecut ini yang menargetkan para tentara yang sedang menjalankan tugas dalam pasukan yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hama menegaskan pentingnya dilakukan penyelidikan segera untuk mengetahui kronologi kejadian dan meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab.

“(Pihak) yang tampaknya terus melakukan serangan-serangan semacam ini, melanggar hukum internasional dan hukum humaniter internasional, serta meremehkan piagam dan norma internasional.”

Darwish juga menegaskan sikap tegas Gerakan Hamas dan solidaritas penuhnya terhadap Republik Indonesia, baik pimpinan maupun rakyatnya.

“Kami memohon kepada Allah agar para syuhada mendapatkan rahmat-Nya yang luas, para korban luka diberikan kesembuhan yang segera, serta keluarga mereka diberikan kesabaran dan ketabahan.

Sebelumnya, tiga personel TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur saat bertugas di Lebanon pada Maret 2026 ini.

Mereka yang gugur adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar.

Fahrizal meninggal akibat serangan artileri Israel di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, Ahad (29/3/2026). Sedangkan Nur Ichwan dan Zulmi meninggal akibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan, Senin (30/3/2026).

Kematian ini di tengah agresi Israel ke Lebanon selatan yang sejauh ini telah menewaskan sekitar 1.300 warga. Kelompok Hizbullah melakukan perlawanan terhadap agresi tersebut, memicu seantero selatan Lebanon jadi medan tempur.

 

 

 

 

 

 

 

 

AS-Israel Serang Iran, Pakar Rusia: Salah Hitung, Teheran Justru Ganggu Perdagangan Global

 

Klaim kemenangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Iran dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan justru memunculkan pertanyaan baru: benarkah perang ini mendekati akhir, atau justru membuka babak ketidakpastian yang lebih panjang?

Dalam pidato nasionalnya, Trump menyatakan militer AS hampir mencapai seluruh tujuannya di Iran. Ia mengklaim kekuatan militer Teheran telah dilumpuhkan, termasuk angkatan laut, udara, serta program rudal dan nuklirnya.

 “Kita memegang kendali penuh. Mereka tidak punya satu pun,” kata Trump, sembari menegaskan operasi militer akan terus ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan, sebagaimana diberitakan RTE.

Namun, pernyataan tersebut tidak diiringi kejelasan mengenai kapan konflik akan berakhir. Sebaliknya, ancaman eskalasi lanjutan justru memperkuat kekhawatiran bahwa perang akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Respons pasar global menjadi indikator awal. Harga minyak melonjak tajam, sementara pasar saham melemah, mencerminkan kecemasan atas gangguan pasokan energi dunia dan potensi dampak ekonomi yang lebih luas.

Sejumlah analis menilai, persoalan utama dalam konflik ini bukan sekadar siapa yang unggul secara militer, melainkan bagaimana “kemenangan” itu sendiri didefinisikan.

Pakar hubungan internasional Rusia, Fyodor Lukyanov, menilai pendekatan Washington terhadap Iran mengandung kesalahan perhitungan mendasar. Ia menegaskan Iran bukanlah negara yang mudah ditaklukkan seperti dalam intervensi militer AS sebelumnya.

“Iran adalah negara besar dengan kedalaman strategis dan kemampuan untuk mengganggu perdagangan global serta aliran energi,” tulisnya di RT.

Menurut Lukyanov, asumsi bahwa Iran akan menyerah cepat terbukti tidak realistis. Konflik yang semula diproyeksikan singkat kini justru berkembang menjadi konfrontasi berkepanjangan tanpa indikator keberhasilan yang jelas.

Hal ini menimbulkan dilema strategis bagi Washington. Sebagai kekuatan global, AS membutuhkan kemenangan yang tegas. Namun, semakin lama konflik berlangsung tanpa hasil konkret, semakin besar risiko melemahnya posisi Amerika di panggung internasional.

Dimensi lain yang memperumit konflik adalah posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Gangguan di kawasan ini telah berdampak langsung terhadap stabilitas energi global. Bahkan eskalasi terbatas pun mampu mengguncang pasar internasional, memperlihatkan betapa besar pengaruh Iran dalam percaturan geopolitik.

Dalam konteks ini, klaim kemenangan militer menjadi semakin sulit diverifikasi. Selama Iran masih mampu memengaruhi jalur energi global, keseimbangan kekuatan tetap berada dalam kondisi dinamis.

Di luar dimensi militer dan ekonomi, konflik ini juga memperlihatkan pertarungan narasi yang tidak kalah penting.

Di Iran, seruan untuk menanam pohon sebagai penghormatan kepada para martir muncul sebagai bentuk mobilisasi simbolik, sebagaimana diberitakan Tasnim. Aksi tersebut dimaknai sebagai penegasan bahwa kehidupan akan terus tumbuh di tengah kehancuran.

Simbol yang sama, dalam konteks berbeda, pernah hadir dalam sejarah Nusantara. Dalam perjuangan Pangeran Diponegoro, pohon, terutama sawo kecik, digunakan sebagai penanda identitas dan jaringan kultural perlawanan terhadap kolonialisme.

Meski tidak memiliki hubungan sejarah langsung, kedua konteks tersebut menunjukkan kemiripan simbolik: perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata, tetapi juga melalui nilai, budaya, dan memori kolektif.

Inggris akan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri (menlu) dari 35 negara pada pekan ini guna membahas upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, kata Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer.

"Menteri Pertahanan Inggris (John Healey) telah berada di Timur Tengah untuk berbicara dengan mitra kami. Inggris kini telah menyatukan suara dari 35 negara lewat pernyataan niat untuk bersama-sama mendorong keamanan maritim di seluruh Teluk," kata Starmer kepada wartawan di London, Rabu.

"Dan hari ini, saya dapat mengumumkan bahwa akhir pekan ini, Menteri Luar Negeri Inggris (Yvette Cooper) akan menerima perwakilan negara-negara itu untuk pertama kali, di mana kami akan menilai seluruh langkah diplomatik dan politik yang layak untuk kami ambil dalam memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan seluruh kapal dan pelaut yang terjebak, serta melanjutkan pergerakan komoditas-komoditas vital."

Para diplomat senior, tambahnya, akan mempertimbangkan kemungkinan penerapan sejumlah langkah diplomatik dan politik untuk memulihkan kebebasan navigasi, memastikan keselamatan kapal dan pelaut yang terdampar, dan melanjutkan lalu lintas kapal komersial.

Setelah pertemuan para menlu tersebut berlangsung, ujar Starmer, mereka kemudian akan mengadakan pertemuan dengan para perencana militer untuk membahas langkah-langkah yang mungkin diambil guna memastikan keamanan Selat Hormuz setelah perang berakhir.

Sebelumnya, para perwakilan 35 negara itu telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu memastikan kelancaran lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz di tengah ketegangan seputar Iran.

Negara-negara tersebut juga memperingatkan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasokan energi global merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Taktik 'Licin' Iran Ini Bikin Militer AS dan Israel Kelabakan

 

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya mengguncang medan militer, tetapi juga memicu gejolak serius di pasar global. Ketidakjelasan arah perang dan potensi perluasan konflik kawasan kini menjadi faktor utama yang menekan ekonomi dunia.

Pasar bereaksi keras setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan, tanpa memberikan kejelasan kapan konflik akan berakhir.

Harga minyak melonjak tajam menembus 100 dolar AS per barel, sementara saham global merosot dan dolar menguat. Investor merespons ketidakpastian tersebut dengan menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

“Pasar tidak mendapatkan kepastian atau kejelasan tambahan mengenai jangka waktu konflik,” kata Jon Withaar dari Pictet Asset Management, menyoroti kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi lanjutan.

Ketegangan semakin tajam karena Selat Hormuz, jalur vital energi global, masih berada dalam ketidakpastian. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dunia, terutama bagi negara-negara Asia.

Meski Trump menyebut jalur tersebut akan terbuka “secara alami” setelah perang berakhir, pasar tidak melihat indikasi bahwa hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.

Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi berkepanjangan, yang berpotensi mendorong inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tekanan militer, Iran dan sekutunya dinilai mengadopsi strategi yang berbeda dari perang konvensional. Alih-alih menghadapi langsung superioritas militer AS dan Israel, Teheran justru memperluas arena konflik ke berbagai kawasan.

Pakar hubungan internasional Murad Sadygzade menilai perang ini telah berkembang menjadi konfrontasi regional yang kompleks.

“Apa yang kita saksikan bukan lagi bentrokan terbatas, tetapi konflik yang meluas di mana sekutu Iran mulai terlibat secara langsung,” tulisnya.

Front konflik kini tidak hanya berada di Iran, tetapi juga meluas ke Lebanon, Irak, hingga Yaman. Kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran membuka tekanan baru terhadap kepentingan AS dan Israel, menciptakan medan perang yang tersebar.

Strategi ini tidak bertujuan meraih kemenangan cepat, melainkan memperpanjang konflik dan meningkatkan biaya bagi lawan.

Perluasan konflik tidak hanya berdampak militer, tetapi juga ekonomi global. Ancaman terhadap jalur pelayaran utama, termasuk Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, berpotensi mengganggu rantai pasokan dunia.

Gangguan tersebut dapat memicu kenaikan biaya logistik, lonjakan harga komoditas, serta tekanan inflasi yang meluas.

Dampaknya sudah mulai terasa. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memperingatkan krisis bahan bakar akibat konflik ini dapat berlangsung berbulan-bulan.

Australia, yang sangat bergantung pada impor energi, mulai mengalami tekanan serius pada pasokan bahan bakar. Pemerintah setempat bahkan mendorong masyarakat mengurangi konsumsi dan beralih ke transportasi publik sebagai langkah mitigasi.

Sejumlah analis menilai eskalasi konflik justru menunjukkan adanya potensi salah perhitungan dari pihak yang memulai tekanan militer.

Alih-alih mengisolasi Iran, tekanan yang meningkat justru memperkuat keterlibatan sekutu-sekutunya di kawasan. Hal ini membuat konflik menjadi lebih luas, kompleks, dan sulit dikendalikan.

“Iran tidak perlu menang secara konvensional. Cukup memastikan lawannya tidak bisa meraih kemenangan cepat,” demikian analisis tersebut.

Dalam kondisi ini, keunggulan militer tidak otomatis menjamin keberhasilan strategis. Kemampuan untuk memperluas konflik dan mengganggu stabilitas global justru menjadi faktor penentu baru.

Dengan dinamika yang terus berkembang, konflik AS-Israel melawan Iran kini memasuki fase yang lebih tidak terprediksi.

Klaim kemenangan yang disampaikan di satu sisi berhadapan dengan realitas lapangan yang menunjukkan konflik semakin meluas dan berdampak global.

Bagi pasar, investor, dan negara-negara yang bergantung pada stabilitas energi, satu hal menjadi semakin jelas: perang ini belum mendekati akhir.

Dan selama ketidakpastian itu bertahan, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Giliran Italia Larang Pangkalannya Digunakan Pesawat AS untuk Bombardir Iran

 

Italia telah melarang Pangkalan Udara Sigonella di Sisilia digunakan pesawat-pesawat militer Amerika Serikat (AS) transit sebelum terbang ke Timur Tengah untuk membombardir Iran. Sebelumnya, Spanyol menutup wilayah udaranya untuk pesawat-pesawat militer Amerika yang terlibat perang Iran. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto telah memerintahkan agar akses ke Pangkalan Udara Sigonella ditolak untuk sejumlah pesawat militer AS. Baca Juga: Negara NATO Ini Tutup Wilayah Udaranya untuk Pesawat AS yang Bombardir Iran Kantor berita Italia, ANSA, melaporkan bahwa larangan tersebut sudah diberlakukan sejak beberapa hari yang lalu. Laporan itu mengutip sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut dan mengonfirmasi laporan serupa yang diterbitkan surat kabar Corriere della Sera. Langkah ini telah menarik perhatian yang cukup besar karena negara-negara Eropa menyesuaikan kembali posisi mereka terkait dengan kampanye militer Amerika yang sedang berlangsung melawan Iran. Kepala Staf Pertahanan Italia, Jenderal Luciano Portolano, diberitahu oleh Staf Umum Angkatan Udara bahwa rencana penerbangan beberapa pesawat AS mencakup pendaratan terjadwal di Sigonella, dari mana mereka bermaksud berangkat menuju Timur Tengah. Namun, tidak ada otorisasi sebelumnya yang diminta, dan kepemimpinan militer Italia juga tidak dikonsultasikan—rencana penerbangan tersebut dilaporkan dikomunikasikan kepada otoritas Italia saat pesawat sudah berada di udara. Pemeriksaan awal dilaporkan mengonfirmasi bahwa penerbangan yang dimaksud bukanlah penerbangan rutin atau logistik dan oleh karena itu berada di luar cakupan perjanjian yang disepakati antara Roma dan Washington. Portolano kemudian memberi tahu Crosetto, yang mengeluarkan arahan: pesawat tidak akan diizinkan mendarat di Sigonella, dengan alasan bahwa mereka belum diotorisasi dan tidak ada konsultasi sebelumnya yang dilakukan. Kantor Perdana Menteri Giorgia Meloni menanggapi laporan pers dengan sebuah pernyataan yang mengatakan: "Tidak ada masalah kritis atau ketegangan dengan mitra internasional." "Hubungan dengan Amerika Serikat, khususnya, solid dan didasarkan pada kerja sama penuh dan setia," kata kantor tersebut. Crosetto mengklarifikasi bahwa dia hanya memastikan perjanjian internasional dihormati, menekankan bahwa itu tidak berarti ada ketegangan dengan AS atau bahwa AS telah dilarang menggunakan pangkalan militer di Italia. "Saya ingin menegaskan kembali bahwa tidak ada pendinginan atau ketegangan dengan AS," tulis Crosetto di X. "Karena mereka mengetahui aturan yang telah mengatur kehadiran mereka di Italia sejak 1954 sama baiknya dengan kita," lanjut dia. Insiden ini menyoroti pengaturan perjanjian terstruktur yang mengatur penggunaan fasilitas militer Amerika di wilayah Italia. Awal Maret lalu, Crosetto telah menjelaskan posisi hukum dalam sebuah unggahan di media sosial sebagai tanggapan atas pertanyaan parlemen dari oposisi Movimento 5 Stelle: penggunaan pangkalan militer di wilayah Italia, khususnya pangkalan AS, diatur oleh perjanjian termasuk Perjanjian Status Pasukan NATO tahun 1951, Perjanjian Infrastruktur Bilateral tahun 1954 yang diperbarui pada tahun 1973, dan Nota Kesepahaman Italia-AS tahun 1995. Berdasarkan pengaturan ini, pasukan Amerika dapat menggunakan pangkalan seperti Sigonella untuk keperluan logistik dan pengawasan rutin; penggunaan apa pun sebagai landasan peluncuran untuk operasi tempur memerlukan otorisasi tegas dari pemerintah Italia. Sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran, dilaporkan terjadi peningkatan yang signifikan dalam lalu lintas drone dan pesawat terbang di Sigonella, meskipun hingga saat ini hal tersebut terbatas pada pengisian bahan bakar, logistik, dan operasi pengawasan udara. Pangkalan tersebut, yang terletak di Sisilia antara provinsi Catania dan Siracusa, menempati posisi strategis di Mediterania tengah, menjadikannya pos transit yang sangat dicari untuk operasi yang ditujukan ke Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, Spanyol mengambil langkah untuk membatasi penggunaan militer AS di wilayahnya sehubungan dengan operasi melawan Iran, yang mencerminkan keresahan Eropa yang lebih luas tentang sejauh mana infrastruktur benua tersebut ditarik ke dalam konflik di mana pemerintahnya belum sepenuhnya berpartisipasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Baru 2 Pekan Iran Tembak Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kini Jet Serupa Amerika Jatuh

 

 Sebuah jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat (AS) yang ditugaskan di Pangkalan Angkatan Udara Nellis jatuh di Nevada Test and Training Range (NTTR). Pilotnya berhasil melontarkan diri dan mengalami cedera. Kecelakaan ini terjadi pada 31 Maret, namun baru dikonfirmasi militer AS pada Rabu (1/4/2026). Ini menjadi insiden yang kesekekian kalinya bagi jet tempur canggih dan mahal Amerika tersebut. Baca Juga: 16 Pesawat AS Hancur dan Lumpuh dalam Perang Iran, Citra Superpower Amerika Remuk Pejabat dari Sayap ke-57 di Pangkalan Angkatan Udara Nellis mengatakan pesawat tempur itu jatuh selama misi pelatihan rutin. Menurut laporan KSNV News 3, pesawat tersebut mengalami kesulitan bermanuver sekitar tengah hari waktu setempat. Pencarian pilot diluncurkan segera setelah pelontaran diri. Pangkalan Angkatan Udara Nellis mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi sekitar 25 mil timur laut Indian Springs, Nevada, di dalam wilayah udara yang dikendalikan dan dibatasi oleh NTTR. NTTR, yang membentang lebih dari 5.000 mil persegi dan 2,9 juta hektare, adalah salah satu kompleks pelatihan militer terbesar dan tercanggih di dunia. Area ini mendukung pelatihan tempur realistis, simulasi ancaman, dan latihan besar seperti Red Flag. "Pilot selamat dan sedang dirawat karena cedera ringan," kata Wing ke-57 dalam sebuah pernyataan. Pangkalan tersebut mencatat bahwa kecelakaan terjadi di properti federal yang dibatasi dan tidak berdampak pada daerah berpenduduk di dekatnya. Iran Tembak F-35 AS untuk Pertama Kalinya Sebelumnya, di tengah Operasi Epic Fury yang sedang berlangsung, Iran menyerang jet tempur F-35 Angkatan Udara AS (USAF) selama misi tempur di atas negara Islam tersebut—kasus kedua yang tercatat tentang pesawat siluman yang terkena tembakan di udara. Bagi F-35, ini akan menjadi penargetan pertama yang tercatat terhadap pesawat tempur siluman generasi kelima, landasan kekuatan udara AS. Ini juga akan menjadi serangan udara kedua terhadap pesawat siluman setelah penembakan jatuh pesawat F-117 Nighthawk Angkatan Udara AS di Serbia pada tahun 1999. Meskipun Angkatan Udara AS tidak berkomentar tentang klaim Iran mengenai penembakan F-35, mereka mengonfirmasi bahwa jet tempur F-35 AS melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara AS di Timur Tengah. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat (CENTCOM) AS, mengatakan jet siluman generasi kelima itu sedang menjalankan misi tempur di atas Iran ketika terpaksa melakukan pendaratan darurat. Hawkins mengatakan pesawat mendarat dengan selamat dan insiden tersebut sedang diselidiki. "Pesawat mendarat dengan selamat, dan pilot dalam kondisi stabil," imbuh Hawkins. "Insiden ini sedang diselidiki," katanya lagi. Sementara itu, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada CNN bahwa pesawat tersebut kemungkinan terkena tembakan Iran. Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), jet tempur siluman itu dihantam oleh sistem pertahanan udara di atas Iran tengah pada dini hari tanggal 19 Maret. Akun resmi Iran dan Tehran Times juga membagikan video, yang tampaknya menunjukkan momen jet tempur F-35 AS dihantam selama misi tempur di wilayah udara Iran. Klip pendek berdurasi enam detik itu menunjukkan sebuah pesawat terkena tembakan, dengan ledakan, jejak asap, dan jet yang berbelok dari jalur di udara. IRGC mengatakan telah menghantam dan merusak parah pesawat tersebut sekitar pukul 02.50 waktu setempat, menambahkan bahwa nasib jet tersebut masih belum jelas dan ada kemungkinan besar pesawat itu telah jatuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Negara NATO Ini Tolak Pinjamkan Sistem Patriot untuk Bantu AS Tangkis Rudal Iran

 

Polandia, salah satu negara NATO, menolak untuk meminjamkan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat (AS) untuk membantu AS menangkis rudal-rudal Iran di Timur Tengah. Penolakan ini disampaikan Menteri Pertahanan Wladyslaw Kosiniak-Kamysz. Meskipun Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Pentagon memiliki persediaan senjata yang tidak terbatas, kampanye pengeboman AS-Israel yang diluncurkan sejak 28 Februari tak mampu melenyapkan kemampuan Iran untuk menyerang pangkalan Amerika di Timur Tengah. Baca Juga: Iran Tembakkan 10 Rudal ke Israel, Salvo Misil Terbesar sejak Perang Pecah Pada hari Selasa, surat kabar Polandia; Rzeczpospolita, melaporkan bahwa AS telah meminta Warsawa untuk meminjamkan setidaknya dua sistem Patriot miliknya, bersama dengan beberapa rudal PAC-3 MSE yang sebelumnya dijual ke Polandia, untuk perang melawan Iran. “Baterai Patriot kami dan persenjataannya digunakan untuk melindungi wilayah udara Polandia dan sayap timur NATO. Tidak ada yang berubah dalam hal ini, dan kami tidak berencana untuk memindahkannya ke mana pun,” tulis Kosiniak-Kamysz di X, seperti dikutip Russia Today, Kamis (2/4/2026). “Sekutu kami sepenuhnya memahami betapa pentingnya misi kami di sini. Keamanan Polandia adalah prioritas utama,” imbuh kepala pertahanan Polandia tersebut. Tujuh anggota militer AS telah tewas dan hampir 350 lainnya terluka dalam serangan Iran sejak perang dimulai. Rudal-rudal dan drone Iran telah merusak atau menghancurkan beberapa radar AS yang mahal dan pesawat komando dan kendali AWACS E-3 Sentry, menurut citra satelit dan rekaman video dari lokasi kejadian. Trump telah menegur anggota NATO di Eropa karena menolak mengirim kapal perang untuk membantu AS mengamankan Selat Hormuz, mengancam akan keluar dari blok militer yang dia gambarkan sebagai "macan kertas". Salah satu penentang paling vokal perang Trump adalah Spanyol, yang menolak mengizinkan AS menggunakan wilayah udaranya dan pangkalan bersama untuk menyerang Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dianggap sebagai Macan Kertas, Trump Ingin AS Keluar dari NATO

 

 

Presiden AS Donald Trump mengancam akan meninggalkan NATO . Itu diperkuat dengan penolakan NATO membantu AS menyerang Iran. “Oh ya, saya akan mengatakan [itu] sudah tidak bisa dipertimbangkan lagi,” katanya, dilansir The Telegraph. “Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka adalah macan kertas, dan Putin juga tahu itu.” Trump secara teratur mengecam sekutu NATO atas kurangnya dukungan mereka untuk perang, menyebut mereka "pengecut" karena menolak mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Dia mengulangi keluhan tersebut kepada The Telegraph, mengklaim dukungan "seharusnya otomatis" dan tampaknya membandingkan perang melawan Iran dengan perang Rusia di Ukraina. “Kami telah berada di sana secara otomatis, termasuk Ukraina. Ukraina bukanlah masalah kami,” katanya. “Itu adalah ujian, dan kami ada di sana untuk mereka, dan kami akan selalu ada di sana untuk mereka. Mereka tidak ada di sana untuk kami.” Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer membela NATO sebagai "aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia," setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan AS sedang mempertimbangkan untuk meninggalkannya. Ditanya apakah hubungan keamanan jangka panjang Inggris dengan AS akan berubah, merujuk pada wawancara Trump dengan surat kabar Telegraph yang diterbitkan pagi ini, Starmer mengatakan, NATO "telah menjaga kita tetap aman selama beberapa dekade." Berbicara pada konferensi pers Rabu pagi, Starmer melanjutkan, "Apa pun tekanan yang ada pada saya dan orang lain, apa pun kebisingannya, saya akan bertindak demi kepentingan nasional Inggris dalam semua keputusan yang saya buat dan itulah mengapa saya sangat jelas bahwa ini bukan perang kita dan kita tidak akan terseret ke dalamnya." "Tetapi saya juga jelas bahwa dalam hal pertahanan dan keamanan, dan masa depan ekonomi kita, kita harus memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Eropa." Komentar Starmer muncul setelah Trump menepis aliansi militer itu sebagai "macan kertas" ketika ditanya oleh Telegraph apakah ia akan mempertimbangkan kembali keanggotaan AS setelah perang dengan Iran. Trump juga mengkritik Starmer dalam wawancara tersebut karena menolak terlibat dalam perang Iran, dengan mengatakan bahwa angkatan laut Inggris tidak memenuhi standar. "Anda bahkan tidak memiliki angkatan laut. Anda terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi," katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS Dilanda Krisis, Wali Kota New York: Trump Habiskan Miliaran Dolar untuk Perang

 

Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, mengatakan perang AS-Israel di Iran "harus ditentang di setiap aspek" dan mencatat bahwa "perang perubahan rezim" oleh Washington secara historis memiliki "konsekuensi yang mengerikan". Mamdani, yang mencalonkan diri dengan janji untuk membuat biaya hidup di New York City lebih terjangkau, mengatakan kepada YouTuber Brian Tyler Cohen bahwa perang tersebut "telah menelan biaya USD23 miliar" selama "krisis keterjangkauan yang bersejarah". Ini adalah "jenis uang yang dapat mengubah kehidupan warga Amerika kelas pekerja, baik melalui investasi di Medicare atau guru atau bahkan penghapusan utang mahasiswa," kata Mamdani, menambahkan bahwa semua itu telah "dibuang begitu saja dengan upaya untuk melancarkan perang perubahan rezim lainnya". Sementara itu, ketika Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan, ia membahas beberapa elemen perang melawan Iran, termasuk mengklaim bahwa perubahan rezim bukanlah salah satu tujuan awal AS ketika memulai serangan udara pada 28 Februari. Namun, ia beberapa kali mengatakan bahwa telah terjadi perubahan rezim, dan orang-orang yang sekarang menjalankan negara itu adalah orang-orang yang dapat diajak bernegosiasi oleh AS, meskipun Iran bersikeras bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri perang. Trump juga mengatakan bahwa, menurut pandangan AS, kemampuan Iran untuk mencoba membangun program senjata nuklir telah terhambat 15 hingga 20 tahun, meskipun ia tidak memberikan bukti konkret untuk hal itu. Namun, yang tidak ia bicarakan adalah apa yang akan terjadi pada persediaan uranium Iran yang berjumlah lebih dari 600 kilogram uranium yang telah diperkaya. Siapa yang akan mengambil alihnya? Apakah akan dipindahkan dari wilayah Iran, dan apa lagi yang dibutuhkan untuk mengamankan persediaan tersebut? Apakah itu berarti pasukan darat AS akan masuk? Itu poin lain yang tidak disentuh Trump.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak Semudah Itu bagi Trump untuk Akhiri Perang Lawan Iran

 

Meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan operasi militer AS terhadap Iran akan berakhir dalam dua hingga tiga pekan, tidak mungkin perang akan segera berakhir dan Selat Hormuz tiba-tiba dibuka kembali. Pendapat itu diungkap seorang pakar kebijakan luar negeri Iran. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Trita Parsi dari Quincy Institute mengatakan, “Iran akan terus mengendalikan Selat Hormuz, dan mungkin akan terus menembakinya.” “Saya rasa tidak semudah itu bagi Trump untuk begitu saja mengakhiri konflik,” kata Parsi. Ia mencatat Trump “berusaha menciptakan narasi keberhasilan” dengan mengatakan pembukaan selat bukanlah bagian dari tujuan AS dalam perang melawan Iran. Namun Parsi menambahkan presiden juga menunjukkan kekecewaannya kepada Eropa karena tidak bersedia membantunya membuka kembali jalur air penting tersebut. “AS memiliki angkatan laut terbesar dan terkuat di dunia. Jika AS tidak dapat melakukannya, apa bedanya jika Prancis dan negara-negara Eropa lainnya ikut campur?” kata Parsi. “Melihat negara-negara Eropa tidak mau menjadi bagian dari kekacauan ini, dia menyerang mereka, dengan mengatakan, ‘Lihat, AS tidak membutuhkan Selat Hormuz, kalianlah yang menderita akibatnya, dan sebagai hasilnya, kalian harus menanganinya sendiri.’” Parsi juga mengatakan ia melihat “Israelisasi” tujuan Trump seiring berjalannya operasi. “Fakta bahwa dia mengatakan ingin mengirim orang Iran kembali ke Zaman Batu pada dasarnya adalah Israelisasi tujuan perang Amerika di sini,” papar dia. Trump mengatakan perubahan rezim di Iran bukanlah tujuan AS, dan AS dapat menyelesaikan kampanyenya di Iran dalam dua hingga tiga pekan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membenarkan kepada Al Jazeera bahwa telah terjadi pertukaran pesan dengan AS, tetapi menegaskan Teheran tidak sedang bernegosiasi dengan Washington. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan AS "bernegosiasi dengan bom," seraya mendesak Iran membuat kesepakatan perdamaian atau menghadapi peningkatan serangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post