News Komoditi & Global ( Kamis, 18 Juni 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Kamis,   18  Juni  2026  )

Harga emas Global Naik didukung Kesepakatan Damai Iran, meski Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga

 

Harga emas naik dalam perdagangan Asia pada Kamis ini, pulih dari kerugian sesi sebelumnya setelah investor menyambut positif penandatanganan perjanjian damai sementara antara AS dan Iran, sembari mencermati sinyal Federal Reserve mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun ini.

Harga spot emas naik 1,4% ke $4.317,80 per troy ons pada pukul 01.20 dini hari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 1% ke $4.339,30.

Logam kuning ini turun 1,7% pada sesi sebelumnya akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury menyusul keputusan kebijakan terbaru Fed.

Emas batangan mendapat dukungan dari optimisme seputar kesepakatan AS-Iran, yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur ekspor energi utama.

Memorandum 14 poin tersebut memulai periode negosiasi 60 hari di mana Iran akan mengizinkan kapal melintas tanpa biaya melalui Selat Hormuz. Kesepakatan ini mengharuskan lalu lintas melalui selat tersebut dipulihkan ke kapasitas penuh dalam 30 hari.

Perjanjian ini membantu meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan, mengurangi kekhawatiran inflasi yang didorong oleh energi, dan mendukung permintaan emas batangan sebagai lindung nilai portofolio.

Namun, kenaikan harga emas tertahan setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di level 3,50%-3,75% pada Rabu lalu dan memberi sinyal bahwa para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pengetatan kebijakan moneter di akhir tahun ini.

Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa sembilan dari 19 pejabat Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026, sebuah pergeseran signifikan dari ekspektasi awal tahun ini.

Dalam rapat pertamanya sebagai ketua Fed, Kevin Warsh mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi, menegaskan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga.

Fed juga menaikkan proyeksi inflasi, mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga dan memperkuat dolar.

Penguatan dolar AS biasanya membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sementara suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang dari memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Indeks Dolar AS naik tipis 0,2% pada Kamis ini, setelah melonjak 0,6% pada sesi sebelumnya menyusul pengumuman Fed.

Di antara logam mulia lainnya, harga perak naik 2,4% ke $69,54 per troy ons, sementara platinum menguat 1,4% ke $1.765,60 per troy ons.

 

 

Harga Minyak Dunia Turun saat Pedagang Pertimbangkan Prospek Pasokan Usai Kesepakatan AS-Iran

 

Harga minyak turun dalam perdagangan Asia pada hari Kamis karena para investor menilai implikasi dari perjanjian damai AS-Iran yang baru diumumkan, sementara kekhawatiran atas surplus pasokan global yang semakin dekat menekan sentimen pasar.

Per pukul 07:44 WIB, kontrak berjangka Brent Oil yang berakhir pada Agustus turun 1% menjadi $78,73 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,2% menjadi $75,89 per barel.

Harga sempat rebound hampir 1% pada hari Rabu setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran belum final dan memperingatkan bahwa aksi militer dapat dilanjutkan jika Iran gagal memenuhi ekspektasi AS.

Pasar kini tengah menganalisis rincian perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani secara digital oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Perjanjian 60 hari ini mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pelonggaran bertahap atas pembatasan AS terhadap ekspor minyak Iran.

Namun, Trump tetap bersikap keras, menyatakan bahwa Washington dapat memberlakukan kembali tekanan jika Teheran melanggar ketentuan perjanjian tersebut.

Prospek kembalinya barel minyak Iran ke pasar telah memperkuat ekspektasi peningkatan pasokan global, terutama setelah beberapa pekan gangguan yang disebabkan oleh konflik di kawasan Teluk.

Menambah nada bearish, Badan Energi Internasional (IEA) pekan ini memperingatkan bahwa pasar minyak dapat beralih ke surplus yang signifikan begitu produksi Timur Tengah pulih sepenuhnya.

Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan pasokan minyak global sekitar 8 juta barel per hari antara tahun 2026 dan 2027, jauh melampaui perkiraan pertumbuhan permintaan sekitar 2 juta barel per hari, sehingga menghasilkan surplus lebih dari 5 juta barel per hari pada tahun 2027.

Para investor juga mencerna data persediaan AS yang menunjukkan stok minyak mentah terus menurun, memberikan sedikit dukungan terhadap harga.

Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah komersial turun sebesar 8,3 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 12 Juni menjadi 418,2 juta barel, jauh lebih besar dari ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan 3,6 juta barel.

Persediaan bensin turun 0,9 juta barel menjadi 214,2 juta barel, sementara stok distilat secara tak terduga naik sekitar 1,0 juta barel menjadi 103,1 juta barel.

Pasar juga menilai keputusan kebijakan Federal Reserve pada hari Rabu, di mana para pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga tidak berubah sesuai ekspektasi, namun mengisyaratkan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Tertekan, The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Tahun Ini

 

 

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6) setelah Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini guna mengendalikan inflasi yang masih tinggi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi lebih dari 1% setelah pelaku pasar menilai arah kebijakan moneter The Fed kini lebih hawkish dibandingkan perkiraan sebelumnya. Baca Juga: IHSG Berisiko Koreksi ke 6.176, Ini Rekomendasi Saham AMRT, TINS, ELSA, INKP Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 507,12 poin atau 0,98% ke level 51.492,55. Indeks S&P 500 melemah 91,25 poin atau 1,21% menjadi 7.420,10, sementara Nasdaq Composite turun 354,69 poin atau 1,34% ke posisi 26.021,66. Dalam rapat kebijakan yang berakhir Rabu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% sesuai ekspektasi pasar. Namun, proyeksi ekonomi terbaru menunjukkan sembilan pejabat bank sentral memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 untuk meredam tekanan inflasi. Baca Juga: Dividen PNBN: Yield 4,49% Kalahkan Bunga Deposito PaninBank, Ini Rinciannya! The Fed juga menghapus pernyataan sebelumnya yang mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini, sebuah langkah yang dinilai memperkuat sikap hawkish bank sentral. Ketua The Fed Kevin Warsh, yang memimpin rapat pertamanya sejak menjabat, menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas harga. "Kami akan memastikan mandat stabilitas harga tetap tercapai," ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat. Warsh juga memperkenalkan agenda evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan kebijakan moneter The Fed. Ia berharap pasar keuangan lebih fokus membaca data ekonomi ketimbang menebak-nebak arah kebijakan pejabat bank sentral. Pasca rapat tersebut, pasar uang mulai meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September mendatang. Baca Juga: Yield 11%, Saham Tambang Batubara Ini Siap Beri Dividen Rp 48.613 Per Lot Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun turun menjadi sekitar 13%, dari 40% sehari sebelumnya. Managing Director sekaligus Equity Sales Trader Rosenblatt Securities, Michael James, menilai pernyataan The Fed dan komentar Warsh memberikan sinyal yang jelas mengenai fokus bank sentral terhadap pengendalian inflasi. "Terdapat nada yang cukup hawkish dalam pernyataan The Fed maupun konferensi pers Ketua Warsh. Pesan utamanya adalah komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi," ujarnya. Tekanan jual terjadi di seluruh sektor utama dalam indeks S&P 500. Seluruh 11 sektor ditutup di zona merah. Sektor layanan komunikasi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 3%. Sementara sektor industri mencatat pelemahan paling terbatas, hanya sekitar 0,1%. Saham perbankan regional juga mengalami tekanan lebih besar dibandingkan bank-bank besar. Indeks KBW Regional Banking turun 1,8%, sedangkan indeks perbankan dalam S&P 500 hanya melemah 0,2%. Menurut James, bank regional cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga dibandingkan bank-bank besar. Sentimen suku bunga tinggi juga membebani sektor properti. ETF State Street SPDR S&P 500 Homebuilders turun 2,3% karena kenaikan biaya pinjaman berpotensi menekan permintaan perumahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bocoran Draf Kesepakatan, Iran Bakal Kaya Mendadak

 

Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan secara resmi menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat (19/6/2026), yang berpotensi membuka babak baru dalam hubungan antara kedua musuh lama tersebut. Beberapa poin dalam kesepakatan yang bocor ke media membuka potensi kekayaan baru bagi Iran.

Draf memorandum berisi 14 poin, yang dilihat oleh Bloomberg News, menguraikan kerangka kerja ambisius yang akan menghentikan operasi militer, mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran dan meluncurkan negosiasi menuju penyelesaian akhir dalam waktu 60 hari. Isi draf itu mirip dengan yang sebelumnya dibocorkan media Iran.

Ketentuan ekonomi merupakan salah satu elemen terpenting dari memorandum tersebut. Rancangan tersebut mengikat AS, bersama dengan mitra regionalnya, untuk menciptakan “rencana komprehensif yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Republik Islam Iran.”

Rencana tersebut akan menjamin pendanaan “setidaknya 300 miliar dolar AS (setara sekitar Rp 5.300 triliun),” dengan mekanisme implementasi yang akan diselesaikan selama negosiasi.

Washington juga akan berkomitmen untuk mengakhiri sanksi yang dikenakan terhadap Iran, termasuk tindakan Dewan Keamanan PBB, pembatasan terkait Badan Energi Atom Internasional, dan sanksi sepihak Amerika.

Menurut Pasal Tujuh, Amerika Serikat berkomitmen untuk mengakhiri “semua jenis sanksi yang saat ini dihadapi Republik Islam Iran.”

Sebelum perjanjian akhir selesai, Departemen Keuangan AS akan mengeluarkan keringanan izin ekspor minyak mentah Iran, produk petrokimia dan jasa terkait, termasuk perbankan, asuransi dan transportasi.

Memorandum tersebut selanjutnya mengikat Washington untuk melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan.

“Amerika Serikat berjanji, mengingat kemajuan negosiasi menuju kesepakatan akhir, dana dan aset Republik Islam Iran yang dibekukan atau dibatasi akan dicairkan dan disediakan sepenuhnya.” Ketentuan ini akan membuka peluang puluhan miliar dolar yang saat ini dibatasi di lembaga keuangan asing.

Patut dicatat, Iran telah dikenai sanksi ekonomi oleh AS sejak revolusi Islam pada 1979. Sementara sanksi tambahan terus diterapkan dari tahun ke tahun. Yang terkini diterapkan pada 2025 lalu memukul keras perekonomian Iran.

Menurut Bloomberg, jika diterapkan, perjanjian ini akan mewakili salah satu terobosan diplomatik paling penting di Timur Tengah dalam beberapa dekade, yang tidak hanya berdampak pada Iran dan Amerika Serikat tetapi juga Lebanon, Teluk Persia, dan keseimbangan kekuatan regional yang lebih luas.

Landasan rancangan perjanjian tersebut adalah komitmen kedua belah pihak untuk mengakhiri permusuhan militer secara permanen.

Menurut artikel pertama dari memorandum tersebut, “Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu mereka dalam perang saat ini, menyatakan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman ini untuk segera mengakhiri perang di semua lini, termasuk Lebanon.”

Ketentuan ini lebih dari sekedar gencatan senjata sementara, yang mengharuskan kedua belah pihak untuk melakukan bahwa “mulai sekarang mereka tidak akan melancarkan tindakan permusuhan terhadap satu sama lain, dan akan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.”

Perjanjian tersebut juga mencakup komitmen untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah serta tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara.

Rancangan tersebut menetapkan jangka waktu yang ketat, yang mengharuskan kedua belah pihak untuk bernegosiasi dan menyimpulkan perjanjian akhir “dalam jangka waktu maksimum 60 hari, dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.”

Bagian utama dari memorandum tersebut berfokus pada pemulihan lalu lintas maritim dan mengurangi ketegangan militer di Teluk Persia.

Berdasarkan Pasal Empat, AS akan segera mencabut apa yang digambarkan dalam dokumen tersebut sebagai blokade laut yang diberlakukan terhadap Iran dan akan “memulihkan lalu lintas ke kapasitas penuh dalam waktu maksimal 30 hari.”

Washington juga akan berkomitmen untuk menarik pasukannya dari wilayah sekitarnya dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan akhir tercapai.

Secara paralel, Iran akan mengambil langkah-langkah untuk memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.

Rancangan tersebut menyatakan bahwa Teheran akan “segera mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa pergerakan kapal dagang dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya dilanjutkan dalam waktu 30 hari seperti sebelum perang.”

Ketentuan tersebut menyoroti perlunya menghilangkan hambatan teknis dan membersihkan ranjau sebelum lalu lintas maritim kembali normal.

Mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz, pembukaan kembali jalur air tersebut akan berdampak besar terhadap pasar energi internasional dan perdagangan global.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari AS maupun Iran soal isi draf yang akan ditandatangani pada Jumat.

Permintaan Israel untuk mengakses teks perjanjian sementara Iran ditolak oleh AS, menurut laporan. Ini menyusul ketegangan antara Benjamin Netanyahu dan Donald Trump menjadi lebih menonjol sejak gencatan senjata dalam permusuhan dengan Iran.

Presiden Donald Trump menggoda pada hari Selasa bahwa dia akan mengadakan konferensi pers dan membaca kesepakatan gencatan senjata Iran selama 60 hari kata demi kata "dalam beberapa hari."

Komentarnya disampaikan saat pertemuan bilateral dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan di KTT G7 di Prancis. Trump mengatakan dia sedang menunggu "tempat formal" untuk merilis teks lengkapnya.

“Saya tidak hanya akan merilisnya – saya mungkin akan mengadakan konferensi pers dan membacakannya kepada Anda kata demi kata, sehingga pers meliputnya secara akurat,” kata Trump.

 

 

 

 

Analis Israel Ramai-Ramai Mengakui PM Netanyahu Telah Dipermalukan Donald Trump

 

Para analis Israel mengkritik keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan menyebutnya sebagai "pembohong" dan penuh kegagalan. Analis menilai Presiden AS Donald Trump telah mempermalukan Netanyahu dengan mengecualikannya dari kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.. Demikian dilaporkan kantor berita Turki Anadolu dilansir Middle East Monitor.

Netanyahu mengakui bahwa ia tidak mengetahui detail nota kesepahaman yang dicapai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Netanyahu mengklaim telah menyelamatkan warga Israel dari ancaman nuklir dengan melancarkan perang melawan Iran. Ia mengakui perbedaan pendapat dengan Trump.

Kolumnis Haaretz, Yossi Verter, melancarkan serangan pedas terhadap Netanyahu dalam sebuah artikel berjudul, "Tanpa rasa malu, arsitek kegagalan (Netanyahu) mengeklaim bahwa ia menyelamatkan Israel dari kematian kolektif. Itu adalah kebohongan lain di antara banyak kebohongan lainnya."

"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di puncak apa yang oleh setiap ahli didefinisikan sebagai kegagalan strategis bagi Negara Israel dan yang dapat ia katakan kepada warganya hanyalah: 'Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, selama saya menjadi perdana menteri'," tulisnya.

Netanyahu telah mengatakan klaim itu selama 30 tahun. Namun di saat yang bersamaan, pada konferensi persnya Senin, Netanyahu mengeklaim Israel hampir saja menghadapi kehancuran massal.

Tel Aviv dan Washington menuduh Teheran mengejar senjata nuklir yang mengancam Israel dan sekutu AS di kawasan tersebut. Namun, Iran mempertahankan bahwa program nuklirnya sepenuhnya bersifat damai. Mereka tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan bersikeras tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Israel yang menduduki wilayah Palestina serta tanah di Lebanon dan Suriah, secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir. Meskipun belum pernah ada keterangan  secara resmi Israel mengakui memilik senjata itu dan tidak tunduk pada pengawasan Badan Energi Atom Internasional.

Verter mengatakan bahwa sesumbar Netanyahu sebelumnya tentang pencapaian bersejarah selama beberapa generasi tampaknya telah pupus dalam kabut pahit yang menyelimuti Israel.

"Hilang juga tujuan untuk menggulingkan rezim, atau setidaknya menciptakan kondisi untuk kejatuhannya; menghilangkan ancaman nuklir dan balistik; memutuskan hubungan Teheran dengan organisasi proksinya," tambahnya.

Netanyahu bahkan tidak mengetahui apa yang terkandung dalam nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran secara digital di belakangnya. "Orang Iran tahu. Orang Pakistan tahu. Mungkin orang Qatar tahu. Netanyahu, tampaknya, tidak tahu," kata kolumnis itu.

Ia menambahkan bahwa Netanyahu berupaya meminimalkan krisis dalam hubungannya dengan Trump yang secara mencolok ia hindari. “Benar. Tetapi dalam keluarga terbaik sekalipun, perselisihan biasanya tidak disertai dengan penghinaan, pelecehan, dan pengabaian publik setiap hari yang datang dari presiden Amerika yang semakin tidak sabar.”

Ia juga menantang pernyataan Netanyahu bahwa Israel mencegah Pasukan Radwan Hizbullah menyerang Israel. Verter menyebutnya sebagai "kebohongan besar."

Kolumnis Maariv, Ben Caspit, menulis sebuah artikel berjudul: "Pertunjukan Netanyahu telah berakhir: Trump mengorbankannya."

Caspit mempertanyakan peringatan berulang Netanyahu bahwa Israel telah lolos dari kematian. Ia berpendapat bahwa penggunaan ancaman dimaksudkan untuk mengaburkan tanggung jawab atas kegagalan Israel terhadap Iran.

“Sekali lagi, Israel tidak dilibatkan,” tambahnya.

Netanyahu telah diincar oleh Mahkamah Pidana Internasional sejak 2024 atas tuduhan kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza selama perang genosida Israel.

Genosida telah menewaskan lebih dari 73 ribu orang dan melukai lebih dari 173 ribu lainnya sejak Oktober 2023.

Caspit mencatat bahwa Netanyahu tidak menyebut nama Trump selama konferensi persnya. Bahkan selama sesi tanya jawab.

“Dia juga mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang perjanjian yang ditandatangani secara elektronik tanpa sepengetahuannya,” tulis Caspit.

“Ini mengingatkan pada perjanjian lain yang ditandatangani pada tahun 2015.”

“Netanyahu selalu berakhir di posisi yang sama,” lanjutnya.

“Dia disingkirkan, dikorbankan, dan dibiarkan berdiri di lorong seperti anak yang dimarahi menunggu putusan yang disampaikan tanpa kehadirannya.”

Dalam analisis terpisah yang diterbitkan oleh portal berita Walla, komentator Barak Seri berpendapat bahwa rasa kemenangan Netanyahu berubah dalam satu hari menjadi kekhawatiran terbesarnya dan sebuah penghinaan.

Seri mencatat bahwa Netanyahu belum berbicara kepada media Israel sejak Maret meskipun terjadi perang yang melibatkan Iran dan Hizbullah serta serangan rudal yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas di Israel.

Netanyahu memilih untuk berbicara hampir secara eksklusif kepada media asing, khususnya media Amerika.

“Tetapi tadi malam dia memutuskan untuk berbicara,” tulis Seri.

“Alasannya adalah hasil kesepakatan yang mengecewakan dengan Iran dan rasa cemas yang mendalam yang melanda Israel, termasuk di antara para pendukungnya sendiri.”

Ia menambahkan bahwa para pejabat senior Israel memandang kesepakatan itu  buruk dan berbahaya bagi Israel. Mereka menggambarkannya sebagai bencana nyata yang dicapai tanpa mempertimbangkan kepentingan Israel.

“Perubahan sikap Trump yang keras dan memalukan terhadap Netanyahu dan Israel, disertai dengan laporan tentang percakapan yang sulit, penghinaan, dan ancaman, dengan cepat bocor ke media,” kata Seri.

“Trump mempermalukan Netanyahu di depan umum.”

Amerika Serikat adalah sekutu utama Israel dan umumnya memberikan dukungan militer, keuangan, dan politik kepada Tel Aviv.

Israel telah menduduki wilayah Palestina dan beberapa wilayah di Lebanon dan Suriah selama beberapa dekade dan menolak penarikan diri dari wilayah-wilayah tersebut. Mereka juga menolak pembentukan negara Palestina merdeka yang diidamkan dalam resolusi PBB yang relevan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Inflasi dan Perang Iran Jadi Sorotan Utama

 

Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (17/6/2026). Pertemuan ini menjadi yang pertama dipimpin oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menantikan pernyataan kebijakan terbaru serta proyeksi ekonomi yang diperkirakan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran, meskipun harga minyak dunia mulai melemah seiring munculnya harapan tercapainya kesepakatan damai. Sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih kuat. Tingkat pengangguran berada di level relatif rendah sebesar 4,3%, sementara inflasi masih bertahan jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi tersebut membuat banyak analis memperkirakan The Fed akan menghapus frasa mengenai "penyesuaian tambahan" terhadap suku bunga acuannya dari pernyataan resmi kebijakan. Sebelumnya, frasa tersebut digunakan sebagai sinyal kemungkinan penurunan biaya pinjaman di masa mendatang. Baca Juga: Bursa Eropa Bergerak Datar, Investor Menanti Kesepakatan Damai AS-Iran dan The Fed Kevin Warsh diketahui kurang menyukai penggunaan panduan kebijakan (forward guidance) dalam komunikasi moneter. Sejumlah pejabat The Fed juga menilai sudah saatnya menghilangkan kecenderungan kebijakan yang mengarah pada pelonggaran (easing bias) dan menggantinya dengan bahasa yang lebih netral sehingga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila diperlukan. Saat ini, investor memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Kepala Ekonom AS JP Morgan, Michael Feroli, memperkirakan perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan akan cukup signifikan. "Kami memperkirakan adanya kecenderungan yang lebih netral. Ada kemungkinan komite di bawah kepemimpinan Warsh benar-benar memangkas panduan mengenai arah suku bunga dalam pernyataan tersebut, baik pada pertemuan kali ini maupun di masa mendatang," tulis Feroli. Menurutnya, perubahan itu juga berpotensi menyatukan pandangan seluruh anggota FOMC, termasuk tiga pejabat yang sebelumnya menyampaikan perbedaan pendapat dan menginginkan bahasa kebijakan yang lebih agresif pada pertemuan April lalu. Keputusan suku bunga, pernyataan kebijakan, dan proyeksi ekonomi terbaru akan diumumkan pukul 14.00 waktu setempat, sementara Kevin Warsh dijadwalkan menggelar konferensi pers sekitar 30 menit setelahnya. Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed bulan lalu, namun Powell masih tetap menjadi anggota Dewan Gubernur dan memiliki hak suara dalam FOMC. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah US$80, Pasar Sambut Kembalinya Minyak Iran Hubungan dengan Gedung Putih Jadi Sorotan Kevin Warsh mengambil alih kepemimpinan The Fed di tengah hubungan yang sebelumnya memanas antara Jerome Powell dan Gedung Putih. Ketegangan tersebut dipicu oleh penolakan Powell untuk memangkas suku bunga secara agresif sebagaimana diinginkan Presiden Donald Trump. Perselisihan itu bahkan ditandai dengan upaya pemerintahan Trump untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook serta peluncuran penyelidikan pidana terhadap Powell yang kemudian dibatalkan. Mahkamah Agung Amerika Serikat dijadwalkan memutuskan perkara terkait status Lisa Cook pada bulan ini. Meskipun putusannya diperkirakan berpihak kepada Cook, hasil tersebut dinilai dapat membawa implikasi penting terhadap tata kelola The Fed di masa depan. Proyeksi Ekonomi Berpotensi Berubah Di bawah kepemimpinan Warsh, peluang penurunan suku bunga diperkirakan semakin menyempit. Proyeksi ekonomi triwulanan yang akan dirilis pekan ini diperkirakan menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed tidak lagi melihat adanya penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Sebaliknya, suku bunga diproyeksikan tetap berada pada kisaran 3,50% hingga 3,75% karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan tingkat pengangguran yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Bahkan, sebagian pejabat diperkirakan mulai memasukkan skenario kenaikan suku bunga ke dalam proyeksinya. Konferensi pers perdana Warsh sebagai Ketua The Fed juga diperkirakan akan didominasi pertanyaan mengenai arah reformasi lembaga tersebut. Sebelum ditunjuk memimpin bank sentral AS, Warsh dikenal sering mengkritik pendekatan kebijakan dan strategi komunikasi yang diterapkan era Jerome Powell, termasuk mendorong pengurangan kepemilikan aset keuangan The Fed. Konflik Iran dan Harga Minyak Jadi Faktor Penting Perkembangan terbaru di Timur Tengah turut menjadi perhatian utama The Fed. Berakhirnya perang yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran serta kembali dibukanya Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia turun mendekati level sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu. Baca Juga: G7 Desak Gencatan Senjata di Lebanon, Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran Meski demikian, pejabat The Fed masih harus menilai sejauh mana lonjakan harga energi sebelumnya akan memengaruhi inflasi serta bagaimana proses normalisasi distribusi komoditas global melalui jalur strategis tersebut. Kepala Ekonom AS Goldman Sachs, David Mericle, menilai dampak inflasi dari kenaikan harga minyak sejauh ini masih bersifat normal. "Sejauh ini dampaknya terhadap inflasi lebih menyerupai efek rambatan yang biasa terjadi akibat guncangan besar harga minyak dan tidak akan memaksa Warsh untuk menaikkan suku bunga," tulis Mericle dalam analisanya. Namun demikian, ia memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga kemungkinan baru terbuka paling cepat pada pertengahan tahun depan, jika memang terjadi. Inflasi utama diperkirakan akan naik di atas 4% dalam beberapa bulan ke depan dan tetap bertahan di atas 3% sepanjang 2026. "Jeda yang panjang akan meningkatkan kemungkinan FOMC memutuskan bahwa suku bunga dana federal saat ini sudah berada pada tingkat yang tepat apabila perekonomian terus menunjukkan kinerja yang baik. Kami memandang skenario suku bunga yang tetap datar sebagai alternatif yang masuk akal," ujar Mericle.

ECB Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga Masih Berlanjut

 

 Prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum cukup untuk mengubah arah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB). Para pejabat ECB mengisyaratkan masih terbuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan meski ketegangan geopolitik mulai mereda dan harga minyak telah turun dari level puncaknya. Melansir Bloomberg (17/6), Presiden ECB Christine Lagarde menilai kesepakatan damai akan menjadi kabar baik bagi perekonomian global. Namun, menurutnya, dampak lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah sudah terlanjur menekan inflasi dan berpotensi bertahan lebih lama. Anggota Dewan Gubernur ECB Peter Kazimir mengatakan, biaya energi yang tinggi kemungkinan masih akan membebani ekonomi Eropa. Proses pemulihan kapasitas produksi, perbaikan infrastruktur, hingga normalisasi jalur pelayaran diperkirakan membutuhkan waktu sehingga harga energi belum akan turun cepat. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi bertahan di atas target ECB sebesar 2%. Kekhawatirannya, perusahaan akan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual, sementara pekerja menuntut kenaikan upah yang pada akhirnya memperkuat tekanan inflasi. Pasar saat ini masih memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin menjadi 2,5% sebelum akhir tahun. Ekonom JPMorgan Greg Fuzesi menilai peluang tercapainya perdamaian memang mengurangi sebagian tekanan terhadap ECB, tetapi belum cukup untuk menghapus kebutuhan pengetatan kebijakan moneter. Baca Juga: ECB Sebut Eropa Berisiko Resesi Jika Harga Minyak Tembus US$150 Kepala Ekonom ECB Philip Lane juga memperingatkan, bahwa empat bulan harga energi yang tinggi akan terus memicu kenaikan harga barang, pangan, dan jasa hingga tahun depan. Meski harga minyak telah turun ke bawah US$ 80 per barel dari sekitar US$ 110 per barel saat puncak konflik, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Di sisi lain, sebagian ekonom mulai mendorong ECB untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah tambahan. Mereka menilai penurunan harga minyak dan meredanya risiko geopolitik dapat membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Meski demikian, Lagarde menegaskan ECB tidak akan lengah. Menurutnya, inflasi yang kembali meningkat harus segera dikendalikan karena biaya ekonomi untuk menurunkannya akan jauh lebih besar jika tekanan harga terlanjur mengakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

G7 Desak Gencatan Senjata di Lebanon, Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

 

Para pemimpin negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) menyerukan gencatan senjata segera di Lebanon sekaligus berkomitmen mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi global guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas perang di Iran dan menyusul tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik. Pertemuan para pemimpin G7 berlangsung di Evian-les-Bains, sebuah kota di tepi Danau Jenewa, Prancis, ketika rincian kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai terungkap dari Washington dan Teheran. Pengumuman resmi perjanjian tersebut diperkirakan dilakukan pada Jumat di wilayah perbatasan Swiss. Kesepakatan sementara itu diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi penyelesaian permanen guna mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 7.000 orang, dengan sebagian besar korban berada di Iran dan Lebanon. Baca Juga: AS Tunda Masukkan DeepSeek dan Lebih dari 100 Perusahaan China ke Daftar Hitam Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menegaskan pentingnya proses negosiasi untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan maupun di tingkat global. "Kami menegaskan perlunya proses negosiasi untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan dan di luar kawasan serta memastikan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir." KTT tersebut juga menjadi kesempatan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memaparkan kesepakatan yang dicapainya dengan Iran kepada para sekutu utama, yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang. Meski negara-negara tersebut pada umumnya memiliki kekhawatiran yang sama terkait program nuklir Iran, mereka tidak pernah secara terbuka mendukung keputusan Washington untuk berperang dan khawatir Teheran justru memperoleh posisi tawar yang lebih kuat setelah mampu bertahan menghadapi serangan Amerika Serikat serta mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. G7 Siap Dukung Implementasi Kesepakatan Perdamaian Dalam pernyataannya, para pemimpin G7 menyatakan kesiapan untuk membantu pelaksanaan perjanjian tersebut. Koalisi yang dipimpin Inggris dan Prancis disiapkan untuk membantu mengamankan jalur pelayaran setelah Selat Hormuz dibuka kembali sebagaimana diperkirakan pada Jumat mendatang. Nota kesepahaman yang telah ditandatangani Washington dan Teheran pekan ini, meski belum dipublikasikan secara resmi, memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan guna memberikan ruang bagi kedua negara untuk merundingkan perdamaian permanen. Namun demikian, Presiden Trump dinilai belum berhasil mencapai sebagian besar target awal yang disampaikannya ketika perang dimulai. Pemerintahan Iran tetap bertahan, cadangan uranium yang diperkaya belum diserahkan, kemampuan rudal balistik Iran belum dihancurkan, dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon juga belum dihentikan. Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Level Tertinggi, Pasar Tunggu Keputusan The Fed Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, yang pada dasarnya merupakan penegasan kembali posisi resmi Iran sejak dekade 1970-an. Sementara itu, pejabat Amerika Serikat menyebut pembahasan lanjutan akan mengarah pada penghapusan atau penghancuran stok uranium yang diperkaya. Meski demikian, penghentian perang dengan syarat-syarat tersebut berpotensi memicu kritik terhadap Trump, termasuk dari kalangan garis keras di Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Nasib Lebanon Masih Menjadi Tanda Tanya Salah satu isu terbesar yang belum terselesaikan dalam kesepakatan damai tersebut adalah masa depan Lebanon. Israel menginvasi Lebanon pada Maret dengan tujuan melumpuhkan Hizbullah setelah kelompok itu melancarkan serangan lintas perbatasan sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Hingga kini, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan yang menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi, sementara Hizbullah belum berhasil dikalahkan. Iran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup penghentian permusuhan di Lebanon dan perjanjian permanen harus diikuti dengan penarikan pasukan Israel. Sebaliknya, Israel yang tidak dilibatkan dalam negosiasi damai Amerika Serikat-Iran menyatakan tidak akan menarik pasukannya dan tetap mempertahankan hak untuk menggunakan kekuatan militer. Perbedaan sikap tersebut memunculkan ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat. Bahkan, Presiden Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan G7, Trump mengatakan: "Saya tidak senang dengan cara Israel menangani situasi ini." "Tanpa kami, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang telah saya lakukan." tambahnya. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menyerukan "gencatan senjata yang kuat dan segera" di Lebanon serta perlucutan senjata Hizbullah. Juru bicara Hizbullah kepada Reuters menyatakan kelompok tersebut meyakini Iran tidak akan menyetujui perdamaian permanen apabila pendudukan Israel belum diakhiri. Kesepakatan Berpotensi Mengubah Lanskap Ekonomi dan Energi Setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi Amerika Serikat dan komunitas internasional yang menekan perekonomian Iran, kesepakatan damai berpotensi membawa manfaat ekonomi yang signifikan. Baca Juga: Perang AS-Iran Membebani Ekonomi G7, Namun Trump Lolos dari Kritik Nota kesepahaman tersebut mencakup dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang akan didanai negara-negara Teluk apabila Iran memenuhi ketentuan lain dalam perjanjian. Dalam 60 hari ke depan, para perunding akan kembali membahas isu-isu sulit seperti masa depan program nuklir Iran. Namun, dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan serta persenjataan rudalnya tampaknya belum masuk dalam agenda pembahasan, yang dinilai sebagai konsesi besar dari Amerika Serikat. Di pasar energi, harga minyak kembali melemah pada Rabu seiring meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Harga minyak mentah Brent turun di bawah US$80 per barel, menjadi level terendah sejak awal konflik Amerika Serikat-Iran. Seorang pejabat senior Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa Washington akan mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan penghentian perang. Kebijakan tersebut membuka peluang masuknya jutaan barel tambahan pasokan minyak ke pasar global, meski pelaku industri memperkirakan produksi minyak dan gas di Timur Tengah masih membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih sepenuhnya. Sebagai langkah antisipasi, para pemimpin G7 menegaskan komitmen mereka untuk mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi dunia. "Kami berkomitmen mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi guna mengurangi kerentanan global terhadap Selat Hormuz dan meningkatkan cadangan energi kami."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perang AS-Iran Membebani Ekonomi G7, Namun Trump Lolos dari Kritik

 

Lonjakan inflasi dan kenaikan harga minyak sekitar 30% akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai membebani pertumbuhan ekonomi global. Meski demikian, para pemimpin negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) diperkirakan tidak akan secara terbuka menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas perlambatan ekonomi yang dipicu perang tersebut dalam pertemuan mereka di Prancis pada Rabu (17/6/2026). Sejak awal, sejumlah pemimpin G7 telah mengkritik keputusan Trump yang tidak berkonsultasi dengan para sekutunya sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Mereka juga memperingatkan potensi dampak ekonomi yang luas dari konflik tersebut. Namun, optimisme mulai muncul setelah Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan lalu mengumumkan telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Kesepakatan tersebut langsung mendorong sentimen positif di pasar global. Harga Energi Melonjak dan Inflasi Kembali Menguat Meski konflik mereda, dampaknya terhadap ekonomi global sudah mulai terasa. Harga energi melonjak tajam, tekanan inflasi kembali meningkat, dan muncul kekhawatiran mengenai potensi krisis pasokan pangan di negara-negara berkembang. Situasi tersebut mendorong bank-bank sentral mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter. Dalam sepekan terakhir, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang lebih besar. Baca Juga: Bank Sentral Swedia Tahan Suku Bunga di 1,75%, Isyaratkan Kenaikan di Tahun Ini Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengaku frustrasi terhadap dampak konflik yang menyebabkan tagihan energi masyarakat meningkat. "Saya sudah muak dengan dampak konflik ini terhadap tagihan energi." Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga memperingatkan konsekuensi ekonomi dan sosial dari perang tersebut. Kenaikan harga-harga bahkan turut menekan tingkat kepuasan publik terhadap Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. G7 Dinilai Menghindari Pembahasan Isu Ekonomi Terbesar Meski dampak perang menjadi perhatian utama dunia, para pemimpin G7 justru cenderung mengesampingkan perdebatan mengenai konsekuensi ekonomi konflik tersebut selama pertemuan pekan ini. Langkah itu dinilai sebagai upaya menghindari benturan langsung dengan Donald Trump, mengingat mereka masih membutuhkan kerja sama Amerika Serikat dalam berbagai isu strategis seperti Ukraina, NATO, hingga perdagangan internasional. Ekonom Kepala Institute of International Finance (IIF), Marcelo Estevao, menilai kebijakan Amerika Serikat justru telah merugikan aktivitas ekonomi global. "Kebijakan Amerika Serikat telah merugikan aktivitas ekonomi dunia. Anda memiliki negara dengan ekonomi terbesar yang justru melemahkan apa yang seharusnya menjadi agenda kolaborasi G7," katanya. Ia menambahkan bahwa para pemimpin G7 perlu memperkuat kembali relevansi kelompok tersebut di tengah meningkatnya peran negara-negara berkembang yang kini memiliki kontribusi lebih besar terhadap ekonomi global. Prancis Hindari Konfrontasi dengan Amerika Serikat Sebagai tuan rumah sekaligus ketua G7 tahun ini, Prancis memilih meredam potensi konflik internal dengan membatalkan rencana penerbitan komunike bersama yang bersifat luas. Sebagai gantinya, pembahasan difokuskan pada isu-isu yang lebih spesifik seperti ketidakseimbangan ekonomi global, rantai pasok mineral kritis, serta transformasi bantuan pembangunan menjadi program berbasis investasi. Risiko konfrontasi juga berkurang setelah pejabat Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan sementara tepat sebelum Donald Trump bertolak ke Prancis. Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Segera Diumumkan, Perdamaian Permanen Masih Dinegosiasikan IMF Lebih Optimistis, tetapi Risiko Masih Besar Para ekonom menilai kesepakatan damai tersebut menjadi kabar baik bagi perekonomian global. Namun, mereka mengingatkan bahwa risiko tetap tinggi apabila kesepakatan gagal dan konflik kembali memanas. Selain itu, normalisasi arus perdagangan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan pasokan bahan bakar kapal (bunker fuel) diperkirakan baru dapat pulih sepenuhnya dalam waktu sekitar satu tahun. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menyampaikan pandangan yang lebih optimistis dibanding beberapa bulan sebelumnya. Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan pada Senin, ia menyebut ekonomi dunia sejauh ini masih bertahan dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan global meski berbagai kawasan mengalami dampak signifikan. IMF dijadwalkan merilis pembaruan proyeksi ekonomi global pada 8 Juli mendatang. Indikasi awal menunjukkan lembaga tersebut kemungkinan akan menggunakan skenario yang mengasumsikan perang Iran berlangsung singkat, dengan pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan sebesar 3,1% pada 2026, turun dari 3,4% pada 2025. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi dunia dapat anjlok hingga hanya 2%, sementara inflasi melonjak menjadi 5,8%. Amerika Serikat Optimistis Dampak Perang Dapat Diredam Pejabat Amerika Serikat menyebut harga minyak saat ini telah turun dari puncaknya dan posisi negara tersebut sebagai eksportir energi membuat dampak lonjakan harga relatif lebih terbatas. Pemerintah AS juga meyakini bahwa setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dampak ekonomi perang terhadap dunia dapat segera berkurang. Bahkan, Eropa yang selama ini bergantung pada impor energi diperkirakan masih mampu menghindari ancaman kekurangan pasokan bahan bakar. Baca Juga: Binance Terancam Kehilangan Izin di Uni Eropa Mulai Juli 2026 Relevansi G7 Kembali Dipertanyakan Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, keberadaan G7 kembali dipertanyakan. Kelompok yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, serta negara-negara ekonomi utama Eropa itu kini hanya menyumbang sekitar 44,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) global, turun dari 60,5% ketika pertama kali dibentuk. Meski demikian, sejumlah pihak menilai G7 masih memiliki peran penting ketika menghadapi krisis internasional. Mantan Kepala Strategi IMF Martin Muehleisen mengatakan: "G7 selalu mampu, jika diperlukan, menghasilkan keputusan-keputusan nyata yang hingga kini masih memengaruhi hampir separuh perekonomian dunia." Sementara itu, Direktur Eksekutif Jubilee USA Network, Eric LeCompte, menegaskan bahwa persoalan ekonomi tetap menjadi isu utama meskipun telah tercapai kesepakatan damai dan harga energi mulai turun. "Perekonomian sedang berada dalam gejolak besar dan Anda tidak perlu berada di negara berkembang untuk melihatnya. Cukup pergi ke toko bahan makanan, dan Anda bisa langsung merasakannya," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post