News Komoditi & Global ( Jumat, 17 April 2026 )
News Komoditi & Global ( Jumat, 17 April 2026 )
Harga Emas Global Melemah di Tengah Kebangkitan Permintaan Dolar AS.
Emas spot diperdagangkan cenderung turun secara harian, tidak jauh di bawah level $4.800, karena para pelaku pasar tetap dalam mode tunggu dan lihat dengan harapan gencatan senjata permanen antara Israel dan Amerika Serikat (AS). Tanpa adanya data makroekonomi yang relevan, minat spekulatif hanya terfokus pada berita terkait perang.
Sejauh ini, Selat Hormuz terus mengalami blokade ganda, meskipun beberapa tanker melewatinya. Iran bersikeras mengenakan tol, yang direncanakan akan dibayar melalui bank-bank Iran. Pembicaraan antara Washington dan Tehran belum mencapai konfirmasi, meskipun Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon akan memulai gencatan senjata selama 10 hari pada Kamis pukul 17.00 waktu Timur.
Namun, gencatan senjata tersebut tampak lebih rapuh dibandingkan dengan yang antara Iran dan AS. Di satu sisi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencatat bahwa IDF akan tetap berada di zona penyangga Lebanon Selatan, sementara kabinet Israel belum mengadakan pemungutan suara mengenai gencatan senjata, menurut I24 News. Kemudian, seorang sumber senior Hezbollah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa selama pendudukan masih berlangsung, Lebanon berhak melakukan perlawanan dengan segala cara untuk memaksa penarikan pasukan tersebut.
Ketidakpastian yang meningkat memberikan dukungan jangka pendek bagi Greenback di seluruh bursa Valas, dan membantu XAU/USD turun di bawah level $4.800 untuk saat ini.
Harga Minyak Dunia Naik Dibayangi Skeptisisme Negosiasi AS-Iran
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), seiring meningkatnya keraguan pasar bahwa negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mampu segera meredakan gangguan pasokan energi global.
Melansir Reuters, harga Brent crude naik US$4,46 atau 4,7% ke level US$99,39 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$3,40 atau 3,7% ke US$94,69 per barel.
Kenaikan ini terjadi di tengah berlanjutnya gangguan distribusi energi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia.
Analis pasar minyak PVM John Evans menilai, pasar masih meragukan adanya solusi cepat dari konflik tersebut.
“Kami masih skeptis perang ini bisa segera diselesaikan. Setiap kabar positif selalu diimbangi dengan sentimen negatif,” ujarnya.
Meski pembicaraan antara AS dan Iran masih berlangsung, ekspektasi terhadap kesepakatan komprehensif mulai menurun.
Sejumlah sumber menyebut kedua pihak kini lebih realistis dengan mendorong kesepakatan sementara guna mencegah eskalasi lanjutan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Namun, pernyataan tersebut tidak banyak memengaruhi pergerakan harga minyak.
Pasar juga mengabaikan pengumuman gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, karena gangguan pasokan energi dinilai masih signifikan.
Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat pasokan global semakin ketat, sementara konsumsi terus berjalan.
Analis dari ING Group memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari aliran minyak terganggu akibat situasi tersebut.
Data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah turun 913.000 barel dalam sepekan terakhir, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan.
Stok bensin dan distilat juga turun, seiring meningkatnya ekspor AS untuk menggantikan pasokan dari Timur Tengah.
Analis TP ICAP Scott Shelton menilai, kondisi ini mencerminkan tekanan nyata pada pasokan global.
“Jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz belum membaik, sehingga stok global terus tergerus,” ujarnya.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kelanjutan negosiasi yang kemungkinan kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat.
Iran juga disebut membuka peluang untuk kembali mengizinkan pelayaran di sisi Oman Selat Hormuz jika kesepakatan damai tercapai.
Namun, dengan kebijakan AS yang tidak memperpanjang keringanan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia, risiko terhadap pasokan global diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Wall Street Cetak Rekor Lagi, Ditopang Harapan Perdamaian Timur Tengah
Indeks saham utama Amerika Serikat kembali mencetak rekor pada penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026), didorong optimisme meredanya konflik di Timur Tengah.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama menguat tipis ke level tertinggi sepanjang masa untuk hari kedua berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan moderat.
Melansir Reuters secara rinci, Dow Jones naik 0,24% ke 48.578,72. S&P 500 menguat 0,26% ke 7.041,28 dan Nasdaq naik 0,36% ke 24.102,70. Kenaikan Nasdaq sekaligus menandai reli selama 12 hari berturut-turut, terpanjang sejak 2009.
Dari sektor, mayoritas sektor di S&P 500 menguat. Sektor energi menjadi penopang utama dengan kenaikan 1,6% seiring penguatan harga minyak, sementara sektor kesehatan menjadi yang terlemah dengan penurunan 0,8%.
Sentimen positif muncul setelah adanya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon, serta sinyal dari Presiden AS Donald Trump bahwa negosiasi lanjutan dengan Iran berpotensi kembali digelar dalam waktu dekat.
Meski demikian, pergerakan pasar cenderung fluktuatif seiring ketidakpastian arah negosiasi. Laporan menyebutkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran kemungkinan membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk tercapai.
Chief Investment Officer Northlight Asset Management Chris Zaccarelli mengatakan bahwa pasar saat ini bergerak mengikuti dinamika konflik Iran.
“Selama satu setengah bulan terakhir, pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh perang Iran,” ujarnya.
Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran di AS tercatat turun lebih besar dari perkiraan, mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil.
Namun, pelaku usaha masih cenderung berhati-hati dalam menambah tenaga kerja di tengah ketidakpastian global.
Direktur Per Stirling Capital Management Robert Phipps menilai, pasar mulai berupaya kembali bergerak berdasarkan fundamental.
“Pasar sempat tertekan cukup dalam, namun kini mulai pulih. Ke depan, pergerakan akan kembali ditentukan oleh fundamental ekonomi,” jelasnya.
Di sisi korporasi, PepsiCo menguat setelah melaporkan laba di atas ekspektasi. Sebaliknya, Abbott Laboratories melemah tajam usai memangkas proyeksi laba tahunan.
Saham Charles Schwab juga turun signifikan setelah merilis laporan kinerja. Sementara itu, Netflix terkoreksi dalam perdagangan setelah jam bursa usai laporan keuangan dirilis.
Pelaku pasar kini masih akan mencermati perkembangan negosiasi geopolitik serta musim laporan keuangan untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Pejabat The Fed Peringatkan Meningkatnya Tekanan Inflasi Akibat Perang Timur Tengah
Presiden Bank Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan bahwa perang di Timur Tengah telah meningkatkan tekanan inflasi. Ia juga menekankan, bank sentral berada pada posisi untuk menanggapi apa pun yang mungkin terjadi dalam perekonomian.
“Perkembangan di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi yang signifikan, yang sudah meningkatkan inflasi secara keseluruhan,” kata Williams dalam sambutannya pada Simposium Anggota Federal Home Loan Bank of New York 2026 seperti dilansir Reuters, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, jika gangguan tersebut segera berakhir, harga energi akan turun.
"Namun, jika perang berlangsung lebih lama, konflik tersebut juga dapat mengakibatkan guncangan pasokan besar dengan efek yang nyata yang secara bersamaan meningkatkan inflasi melalui lonjakan biaya perantara dan harga komoditas dan meredam aktivitas ekonomi."
Williams memperingatkan bahwa proses ini sudah mulai terjadi. Ia mengatakan ada semakin banyak tanda-tanda gangguan rantai pasokan dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi sudah mulai terasa dampaknya dalam bentuk kenaikan harga tiket pesawat, bahan makanan, pupuk, dan produk konsumen lainnya.
Di tengah ancaman terhadap prospek tekanan harga ini, Williams menegaskan kembali komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target. Dan sementara ia Williams mengatakan bahwa Fed tidak memberikan panduan pasti tentang langkah selanjutnya untuk kebijakan suku bunga bank sentral di tengah "situasi yang tidak biasa," namun kebijakan suku bunga Fed "berada pada posisi yang baik untuk menyeimbangkan risiko terhadap tujuan lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga kita."
Komentar Williams pada hari Kamis sebagian besar konsisten dengan pernyataannya baru-baru ini yang "mencatat bahwa bank sentral berada dalam mode wait and see karena berusaha memahami bagaimana perang dan lonjakan harga energi yang besar akan berdampak pada perekonomian.
Fed mempertahankan target suku bunganya tetap stabil pada pertemuan kebijakan pertengahan Maret di antara 3,5% dan 3,75%, sambil menawarkan perkiraan yang memperkirakan satu pelonggaran lagi pada "suatu titik di akhir tahun ini." Pertemuan berikutnya akan diadakan pada 28-29 April dan diperkirakan tidak akan mengubah suku bunganya.
Dalam beberapa hari terakhir, para pejabat Fed hanya memberikan sedikit panduan pasti tentang prospek suku bunga jangka pendek, meskipun pada hari Selasa, dalam sebuah wawancara CNBC, pemimpin Fed Cleveland, Beth Hammack, mencatat ada peluang bagi bank sentral untuk menurunkan atau menaikkan targetnya, tergantung pada bagaimana kinerja ekonomi.
Guncangan energi yang menghantam ekonomi akibat perang di Timur Tengah yang dilancarkan oleh Presiden Donald Trump dan Israel telah mendorong inflasi secara keseluruhan, dari tingkat yang sudah tinggi karena kenaikan pajak impor skala besar yang diberlakukan presiden terhadap konsumen Amerika.
Para pejabat Fed menunggu untuk melihat seberapa lama lonjakan harga tersebut berlangsung dan apakah hal itu akan menyeret tekanan harga yang mendasarinya lebih tinggi. Risiko bagi bank sentral adalah menghadapi lingkungan di mana inflasi tinggi menuntut kenaikan suku bunga sementara harga yang sama menekan permintaan, yang akan mendukung pelonggaran kebijakan moneter.
Dalam pernyataannya, Williams mengatakan inflasi kemungkinan akan naik menjadi... Tingkat pengangguran diperkirakan antara 2,75% dan 3% tahun ini sebelum kembali ke target 2% pada tahun 2027. Ia mengatakan pasar kerja yang mengirimkan sinyal beragam kemungkinan akan mengalami tingkat pengangguran antara 4,25% dan 4,5% tahun ini, dengan pertumbuhan antara 2% dan 2,5%.
IMF: Ketergantungan Minyak dari Timur Tengah, Negara Asia Rentan Guncangan Energi
Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan, negara kawasan Asia lebih rentan terhadap guncangan energi daripada wilayah lain karena ketergantungannya yang besar pada bahan bakar dari Timur Tengah.
IMF juga mewanti-wanti dampak akut terhadap pertumbuhan ekonomi jika perang Iran yang berkepanjangan memicu kekurangan pasokan minyak.
Perekonomian kawasan Asia memasuki tahun 2026 dengan pijakan yang kokoh karena tarif impor Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan. "Lalu juga siklus teknologi yang kuat yang telah meningkatkan ekspor, dan kondisi keuangan yang longgar," kata Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia-Pasifik IMF, Rabu (15/4/2026), dalam wawancara dengan Reuters.
Faktor-faktor pendukung tersebut sedikit mengimbangi hambatan dari guncangan energi yang disebabkan oleh konflik Timur Tengah, sehingga perkiraan pertumbuhan Asia IMF secara umum tetap tidak berubah dari Januari 2026.
Namun, kata Srinivasan, perekonomian Asia yang sangat bergantung pada energi dan ketergantungannya yang besar pada bahan bakar Timur Tengah akan membuat kawasan ini tetap rentan terhadap dampak perang.
Hitungan IMF, penggunaan minyak dan gas mencapai sekitar 4% dari produk domestik bruto (PDB) Asia, hampir dua kali lipat dari Eropa. Mengingat kapasitas produksinya yang terbatas, impor bersih minyak dan gas mencapai sekitar 2,5% dari PDB Asia.
"Ini adalah guncangan, yang akan lebih memengaruhi Asia daripada wilayah lain," kata Srinivasan. "Yang akan kita lihat adalah inflasi yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih lemah, dan neraca transaksi berjalan yang lebih lemah."
Dalam skenario "referensi" yang lebih lunak dari Laporan Prospek Ekonomi Dunia, IMF memproyeksikan pertumbuhan Asia akan melambat dari 5% pada tahun 2025 menjadi 4,4% pada tahun 2026 dan 4,2% pada tahun 2027.
Namun dalam skenario "merugikan" atau "parah", pertumbuhan di Asia dapat turun 1 hingga 2 poin persentase secara kumulatif hingga tahun 2027, katanya.
"Ini adalah guncangan yang berdampak pada harga dan kuantitas," kata Srinivasan.
Ia menambahkan, konflik tersebut, jika berkepanjangan, dapat memicu bukan hanya kenaikan harga tetapi juga kekurangan bahan kimia terkait minyak dan gas yang digunakan untuk memproduksi berbagai mesin dan makanan.
"Jika terjadi guncangan harga dan kekurangan, hal itu dapat menyebabkan non-linearitas yang lebih besar, sehingga dampak pertumbuhan akan jauh lebih akut, terutama jika guncangan tersebut tidak bersifat sementara," ujar Srinivasan.
IMF memperkirakan inflasi di Asia akan meningkat dari 1,4% pada tahun 2025 menjadi 2,6% tahun ini, sebelum mereda menjadi 2,4% pada tahun 2027.
Bank sentral di Asia harus melihat dampak guncangan ini hingga ada kejelasan lebih lanjut tentang dampaknya terhadap perekonomian. "Tetapi harus sangat berhati-hati dan tangkas, sehingga jika Anda melihat ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali, Anda dapat mulai memperketat kebijakan," kata Srinivasan.
Mengingat cadangan fiskal yang terbatas setelah pengeluaran besar untuk memerangi pandemi, para pembuat kebijakan Asia harus memastikan bahwa setiap dukungan fiskal tepat waktu dan ditargetkan kepada orang-orang yang paling membutuhkannya.
Pembicaraan Iran-AS Beralih ke Kesepakatan Sementara di Tengah Perpecahan Nuklir
Negosiator AS dan Iran telah mengurangi ambisi untuk kesepakatan perdamaian komprehensif dan malah mencari memorandum sementara untuk mencegah kembalinya konflik, menurut dua sumber Iran kepada Reuters.
Pergeseran ini menyusul pembicaraan yang tidak menghasilkan kesimpulan akhir pekan lalu di Islamabad, di mana perbedaan mendalam mengenai program nuklir Iran — termasuk nasib persediaan uranium yang diperkaya dan berapa lama Teheran harus menghentikan pekerjaan nuklir — terus mengancam kemajuan, meskipun para pejabat AS dan mediator Pakistan membicarakan prospek yang lebih baik.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kedua pihak telah mulai mempersempit beberapa perbedaan, termasuk tentang bagaimana mengelola Selat Hormuz, jalur vital untuk sekitar 20% kebutuhan minyak dan gas dunia yang telah ditutup untuk sebagian besar kapal selama berminggu-minggu.
Iran, yang telah menghadapi sanksi AS yang melumpuhkan selama bertahun-tahun, menginginkan memorandum yang mencakup pencairan sebagian dana Iran oleh Washington, sebagai imbalan atas izin bagi lebih banyak kapal untuk melewati selat tersebut, kata seorang pejabat senior, yang meminta namanya dirahasiakan karena sensitivitas masalah tersebut.
Sebuah sumber yang diberi informasi oleh Teheran mengatakan pada hari Rabu bahwa Iran dapat mengizinkan kapal berlayar bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz tanpa risiko serangan berdasarkan proposal yang telah ditawarkannya dalam pembicaraan dengan AS, asalkan kesepakatan yang berkelanjutan tercapai.
Namun, setelah lebih dari setengah masa gencatan senjata selama dua minggu, perpecahan yang lebih dalam masih tetap ada. Pejabat senior tersebut mengatakan bahwa hal ini termasuk kesepakatan mengenai nasib persediaan uranium yang sangat diperkaya (HEU) Iran, yang ingin disingkirkan oleh AS, dan durasi penghentian kegiatan nuklir Iran, terutama pengayaan uranium.
Iran telah lama menuntut Washington untuk mengakui haknya untuk memperkaya uranium, yang menurut Teheran hanya dilakukan untuk tujuan damai, tetapi yang menurut kekuatan Barat dan Israel bertujuan untuk membangun senjata nuklir.
Seorang diplomat Barat mengatakan bahwa masalah nuklir "tetap menjadi 'hambatan utama'".
Jika memorandum untuk menghentikan konflik tercapai, "kedua pihak diharapkan memiliki waktu 60 hari untuk menegosiasikan kesepakatan akhir, yang akan membutuhkan keterlibatan para ahli dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)," kata sumber-sumber Iran.
Kesepakatan internasional sebelumnya yang membatasi kegiatan nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ditandatangani pada tahun 2015, tetapi membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk negosiasi. Presiden Donald Trump membatalkan pakta tersebut pada tahun 2018.
Sumber-sumber Iran mengatakan Amerika Serikat menuntut penghentian pekerjaan pengayaan nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Iran ingin membatasinya hingga tiga sampai lima tahun. Teheran juga menginginkan jadwal untuk pencabutan sanksi PBB, AS, dan Uni Eropa, kata mereka.
Iran juga di masa lalu menolak permintaan AS untuk mengirimkan seluruh persediaan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60%, tingkat yang jauh lebih tinggi daripada tingkat yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil.
Namun, sumber-sumber Iran mengatakan ada tanda-tanda kompromi dapat muncul. Salah satu sumber mengatakan bahwa, meskipun Iran belum siap untuk mengirimkan semua uranium yang diperkaya tinggi (HEU) ke luar negeri, sebagian darinya dapat dikirim ke negara ketiga.
Ia mengatakan bahwa sebagian uranium yang diperkaya tinggi (HEU) dibutuhkan untuk keperluan medis dan untuk reaktor penelitian di Teheran yang beroperasi dengan jumlah uranium yang diperkaya hingga sekitar 20% dalam jumlah yang relatif kecil.
IAEA memperkirakan Iran memiliki 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60% ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan pertama mereka terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Jumlah pastinya yang masih tersisa tidak jelas.
Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan pada bulan Maret bahwa sisa stok tersebut sebagian besar disimpan di kompleks terowongan di Isfahan, dan bahwa lembaganya meyakini sedikit lebih dari 200 kg berada di sana. Lembaga tersebut juga meyakini sebagian berada di kompleks nuklir yang luas di Natanz, tempat Iran memiliki dua pabrik pengayaan.
Seorang diplomat Barat lainnya mengatakan: "440 kg HEU tetap menjadi penyebab kekhawatiran karena memungkinkan Iran memiliki apa yang kita sebut kuantitas yang cukup untuk 'membangun sejumlah bom nuklir dengan cukup cepat,' karena fase pengayaan akhir relatif cepat."
Trump Umumkan Gencatan Senjata Lebanon-Israel: Perdamaian Baru atau Jeda Sementara?
Arus geopolitik Timur Tengah mendadak berbalik arah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump mengumumkan bahwa Pemerintah Republik Lebanon dan Negara Israel telah resmi menyepakati gencatan senjata selama 10 hari, terhitung mulai Kamis (16/4) pukul 17:00 EST atau Jumat (17/4) pukul 04:00 WIB.
Kesepakatan ini tercapai setelah pembicaraan langsung yang alot sejak 14 April lalu, yang melibatkan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Momentum bersejarah ini menandai pertama kalinya kedua negara duduk satu meja di Washington D.C. dalam 34 tahun terakhir, di bawah pengawasan langsung Sekretaris Negara AS Marco Rubio.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui akun resmi media sosial miliknya, pada Kamis (16/4).
"Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun yang terhormat dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel. Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata 10 hari pada pukul 17.00 Waktu Timur. Pada hari Selasa, kedua negara bertemu untuk pertama kalinya dalam 34 tahun di Washington, D.C., bersama Menteri Luar Negeri kita yang hebat, Marco Rubio. Saya telah mengarahkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Rubio, bersama dengan Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Razin' Caine, untuk bekerja sama dengan Israel dan Lebanon untuk mencapai perdamaian yang abadi. Merupakan kehormatan bagi saya untuk menyelesaikan 9 perang di seluruh dunia, dan ini akan menjadi yang ke-10, jadi mari kita selesaikan! Presiden Donald J. Trump."
KEMLU RI TANGGAPI PELANGGARAN UDARA PESAWAT MILITER AS
© 2026 Konten oleh Kontan
Pembersihan Kelompok Non-Negara
Dalam pengumuman resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut, pada dokumen kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat untuk menciptakan kondisi damai yang langgeng serta pengakuan penuh terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
Poin krusial dalam perjanjian ini adalah penegasan bahwa tidak boleh ada kelompok bersenjata non-negara yang beroperasi di wilayah Lebanon.
Lebanon berkomitmen bahwa satu-satunya kekuatan yang sah untuk memegang senjata hanya meliputi:
Pertama, Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF); Kedua, Pasukan Keamanan Internal (ISF); Ketiga, Direktorat Keamanan Umum; Keempat, Direktorat Jenderal Keamanan Negara; Kelima, Bea Cukai Lebanon; dan Keenam, Polisi Pemerintah Daerah (Municipal Police)
Langkah ini secara eksplisit bertujuan untuk memangkas pengaruh Hizbullah dan kelompok bersenjata lainnya yang selama ini dianggap merongrong stabilitas kawasan.
Meskipun operatif militer ofensif dihentikan melalui darat, udara, dan laut, Israel tetap mempertahankan hak inheren untuk membela diri. Israel menegaskan tetap akan mengambil tindakan tegas terhadap serangan yang direncanakan atau yang sedang berlangsung selama masa jeda 10 hari ini.
"Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk menyelesaikan 9 perang di seluruh dunia, dan ini akan menjadi yang ke-10. Mari kita selesaikan!" tegas Presiden Trump dalam pernyataannya.
Untuk mengawal transisi ini, Trump telah menunjuk Wakil Presiden JD Vance, Marco Rubio, dan Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan "Razin' Caine" untuk bekerja sama dengan kedua negara guna mencapai perdamaian permanen.
Perundingan lanjutan akan segera dilakukan guna membahas demarkasi perbatasan darat internasional yang selama ini menjadi sengketa.
G7 Desak Perdamaian Timur Tengah, Waspadai Dampak Ekonomi Perang
Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara Group of Seven (G7) menegaskan urgensi mendorong perdamaian jangka panjang di Timur Tengah, sekaligus memperingatkan dampak ekonomi yang semakin besar dari konflik yang berkepanjangan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Prancis selaku presidensi G7 tahun ini, para pejabat sepakat bahwa pembatasan dampak perang terhadap ekonomi global menjadi prioritas utama.
“Kesimpulannya bulat: sangat mendesak untuk membatasi biaya terhadap ekonomi global dari konflik yang berkepanjangan. Anggota G7 juga menegaskan kembali pentingnya menuju perdamaian yang berkelanjutan,” demikian pernyataan tersebut dilansir dari Reuters Kamis (16/4/2026).
Isu perang di Timur Tengah menjadi salah satu dari tiga agenda utama dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Spring Meetings International Monetary Fund (IMF) dan World Bank di Washington.
Selain itu, G7 juga membahas dukungan berkelanjutan untuk Ukraina serta upaya membangun rantai pasok alternatif untuk mineral kritis guna mengurangi ketergantungan pada China.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan bahwa negara-negara G7 harus siap mengambil langkah untuk meredam risiko ekonomi dan inflasi akibat gangguan energi dan rantai pasok.
Didukung G7, International Energy Agency (IEA) sebelumnya telah melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar untuk menahan lonjakan harga akibat terganggunya pasokan dari kawasan Teluk, termasuk jalur vital Selat Hormuz.
Lescure menambahkan, G7 akan terus memantau perkembangan situasi dan siap kembali mengambil langkah intervensi jika diperlukan, seperti pelepasan cadangan energi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, dengan kesepakatan bahwa kapal tidak seharusnya dikenakan biaya oleh pihak mana pun untuk melintas di jalur internasional tersebut.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Prancis, Francois Villeroy de Galhau, menyatakan bank sentral G7 siap bertindak untuk mencegah lonjakan harga energi dan komoditas berubah menjadi inflasi inti yang lebih persisten.
“Kami akan bertindak tanpa ragu jika diperlukan, namun saat ini masih menunggu data lebih lanjut untuk memahami dampak penuh dari guncangan harga,” ujarnya.
Dukungan untuk Ukraina Berlanjut
Selain isu Timur Tengah, G7 juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Ukraina, termasuk membantu kesiapan menghadapi musim dingin mendatang di tengah serangan terhadap infrastruktur energi.
“Ukraina tidak boleh menjadi korban sampingan dari konflik yang terjadi di Iran. Rusia tidak boleh mengambil keuntungan dari situasi ini,” tegas Lescure.
Diskusi juga mencakup reformasi ekonomi Ukraina dalam program senilai US$ 8 miliar bersama IMF, serta upaya menjaga tekanan ekonomi terhadap Rusia.
Tak hanya itu, G7 turut membahas percepatan pembentukan rantai pasok alternatif untuk rare earth dan mineral kritis guna mengurangi dominasi China dalam sektor tersebut.
Langkah-langkah konkret dari agenda ini diharapkan dapat dipresentasikan dalam pertemuan para pemimpin G7 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang di Evian-les-Bains, Prancis.
IMF Mendesak Jepang untuk Menaikkan Suku Bunga dan Menjaga Stimulus Fiskal Terarah
Dana Moneter Internasional (IMF) meminta Jepang untuk menaikkan suku bunga secara bertahap dan menjaga stimulus fiskal tetap terarah mengingat permintaan domestik yang kuat dan kenaikan upah yang stabil.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertemuan kebijakan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) akhir bulan ini di mana dewan akan meneliti keseimbangan antara hambatan ekonomi dan tekanan inflasi akibat perang di Timur Tengah, dalam memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga.
"Pertumbuhan ekonomi di Jepang cukup baik," dengan permintaan domestik yang kuat, pertumbuhan upah yang positif, dan pembicaraan upah tahunan yang menghasilkan kenaikan gaji yang signifikan, kata Krishna Srinivasan, direktur Departemen Asia Pasifik IMF, dalam konferensi pers seperti dilansir Reuters, Kamis (16/4/2026).
"Saran kami kepada BOJ adalah... untuk bergantung pada data dan secara bertahap mulai menaikkan suku bunga ke depannya," katanya.
Ia menambahkan bahwa inflasi diperkirakan akan mendekati target 2% BOJ pada tahun 2027.
Mengenai kebijakan fiskal, Srinivasan mendesak Jepang untuk memberikan dukungan yang tepat sasaran dan menggunakan cadangan fiskal "dengan bijak."
Jepang telah menerapkan subsidi untuk menekan tagihan bensin dan utilitas, sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak kenaikan biaya hidup terhadap rumah tangga - sebuah langkah yang menambah tumpukan utang negara yang sudah sangat besar.
Sebagai pendukung kebijakan fiskal dan moneter ekspansif, Perdana Menteri Sanae Takaichi telah mengusulkan peningkatan pengeluaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan sebelumnya menyuarakan keberatan atas rencana kenaikan suku bunga BOJ.
Uni Eropa: Google Harus Mengizinkan Mesin Pencari Pihak Ketiga Mengakses Datanya
Komisi Eropa telah mengusulkan agar Google mengizinkan mesin pencari pihak ketiga untuk mengakses data pencariannya, termasuk data chatbot kecerdasan buatan dengan fungsi pencarian, untuk mematuhi Undang-Undang Pasar Digital, kata komisi tersebut pada hari Kamis.
Clare Kelly, penasihat persaingan senior Google, mengatakan raksasa teknologi itu akan melawan langkah-langkah tersebut, yang menurutnya berlebihan dan akan membahayakan privasi pengguna.
"Ratusan juta warga Eropa mempercayai Google untuk melakukan pencarian yang paling 'sensitif' - termasuk pertanyaan pribadi tentang kesehatan, keluarga, dan keuangan mereka - dan proposal Komisi akan memaksa kami untuk menyerahkan data ini kepada pihak ketiga, dengan perlindungan privasi yang sangat tidak efektif," katanya dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Kamis (16/4/2026).
Langkah-langkah yang diusulkan Uni Eropa mencakup ruang lingkup, cara, dan frekuensi data pencarian yang harus dibagikan Google, langkah-langkah untuk memastikan data pribadi dianonimkan, proses yang mengatur akses penerima manfaat ke data pencarian, dan parameter untuk menetapkan harga data pencarian, kata komisi tersebut.
"Tujuan dari langkah-langkah ini adalah untuk memungkinkan mesin pencari daring pihak ketiga, atau 'penerima manfaat data', untuk mengoptimalkan layanan pencarian mereka dan menyaingi posisi Google Search," kata komisi tersebut.
Pihak-pihak yang berkepentingan memiliki waktu hingga 1 Mei untuk menyampaikan pandangan mereka tentang langkah-langkah yang diusulkan, dengan keputusan akhir akan dibuat pada bulan Juli.
Google, mesin pencari terpopuler di dunia, didakwa pada Maret 2025 karena melanggar Undang-Undang Pasar Digital. Mereka telah mengajukan proposal sendiri untuk menenangkan para pesaing dan regulator Uni Eropa, tetapi para pesaing mengeluh bahwa langkah-langkah tersebut tidak memadai.
Google telah mengumpulkan denda sebesar 9,71 miliar euro (11,43 miliar dolar AS) sejak 2017 atas berbagai pelanggaran antimonopoli di Eropa.
Denda untuk pelanggaran Undang-Undang Pasar Digital dapat mencapai hingga 10% dari pendapatan tahunan global perusahaan.
Donald Trump Tarik Rem Ekonomi AS di Tengah Gejolak Harga BBM dan Politik Midterm
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran ekonomi sekaligus memperbaiki posisi politik Partai Republik di tengah meningkatnya harga bahan bakar dan tekanan inflasi yang kian membebani konsumen.
Melansir laporan Reuters Kamis (16/4/2026), dalam kunjungan kampanye ke negara bagian Nevada dan Arizona, Trump memanfaatkan momentum untuk mempromosikan agenda pajak dan imigrasi yang menjadi bagian dari janji kampanyenya, khususnya yang menyasar pekerja sektor jasa seperti hospitality dan pekerja bergaji per jam.
Namun, lonjakan harga kebutuhan pokok mulai dari bahan bakar, pangan, perumahan, hingga asuransi mulai menekan daya beli masyarakat dan melemahkan sentimen terhadap kinerja ekonomi pemerintah.
Sejumlah strategis Partai Republik menilai pemerintahan Trump mulai kehilangan kendali atas isu keterjangkauan biaya hidup, yang kini menjadi faktor utama dalam persepsi publik menjelang pemilu paruh waktu (midterm).
“Biaya hidup akan mengalahkan segalanya,” kata seorang profesor ilmu politik dari University of Nevada, Las Vegas, David Damore, menyoroti dominasi isu inflasi dalam preferensi pemilih.
Tekanan politik semakin besar karena Partai Republik menghadapi peta pemilu yang semakin sulit, dengan peluang kehilangan mayoritas di DPR serta persaingan ketat di sejumlah kursi Senat seperti North Carolina, Georgia, Ohio, hingga Nebraska.
Berdasarkan sejumlah survei, tingkat approval Trump juga tercatat melemah, menambah kekhawatiran di internal partai.
Di sisi lain, sebagian penasihat politik Gedung Putih tetap optimistis bahwa dampak ekonomi dapat mereda jika tercapai kesepakatan dengan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, sehingga menurunkan harga energi global.
Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu isu paling sensitif. Pemerintah memang telah mengambil sejumlah langkah seperti pelepasan cadangan minyak strategis, penyesuaian aturan perdagangan energi, hingga pelonggaran sanksi minyak, namun harga minyak global tetap bertahan di atas US$ 90 per barel.
Kondisi ini memperburuk inflasi yang sudah merembet ke berbagai sektor, termasuk transportasi dan barang konsumsi.
Sejumlah pelaku industri energi menilai opsi pemerintah untuk menurunkan harga kini semakin terbatas.
Dalam upaya meredam tekanan politik, Trump juga menonjolkan kebijakan penghapusan pajak untuk tip pekerja sektor jasa, yang diklaim dapat meningkatkan pendapatan jutaan pekerja di sektor hospitality.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari paket reformasi pajak yang diharapkan dapat menjaga dukungan pemilih kelas pekerja menjelang pemilu mendatang.
Meski demikian, analis menilai dampak kebijakan pajak tersebut bisa teredam oleh tekanan inflasi dan harga energi yang masih tinggi.
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Berlaku, Trump: AS-Iran Bertemu Akhir Pekan Ini
Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada Kamis (16/4/2026), seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik Iran mendekati akhir.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga menyebut pertemuan lanjutan antara AS dan Iran berpotensi digelar pada akhir pekan ini.
Trump mengatakan Iran telah menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.
Isu program nuklir Teheran sebelumnya menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan yang berlangsung di Islamabad akhir pekan lalu.
“Kita akan lihat nanti. Tapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih dilansir dari Reuters.
Perang dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari, menyusul serangan AS-Israel, telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Jika gencatan senjata di Lebanon membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas dengan Iran, hal ini akan menjadi capaian penting bagi pemerintahan Trump, yang sejauh ini masih berupaya membuka kembali Selat Hormuz dan membatasi ambisi nuklir Iran.
Suasana perayaan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Beirut saat gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam. Tembakan perayaan terdengar selama sekitar setengah jam.
Trump juga menyatakan belum dapat memastikan apakah gencatan senjata dua pekan dengan Iran yang telah disepakati sebelumnya perlu diperpanjang.
Namun, ia menegaskan bahwa Teheran menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Iran saat ini, meskipun sulit dipercaya. Ini hasil dari tekanan militer selama beberapa pekan dan blokade yang kuat,” ujarnya.
Dalam perundingan sebelumnya, AS mengusulkan penghentian seluruh aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran mengajukan moratorium selama tiga hingga lima tahun.
Washington juga meminta agar uranium yang telah diperkaya dipindahkan keluar dari Iran, sementara Teheran menuntut pencabutan sanksi internasional.
Sumber yang mengetahui perundingan menyebutkan mulai muncul titik temu terkait pengelolaan stok uranium yang diperkaya tinggi, dengan kemungkinan sebagian material dipindahkan ke luar negeri.
Gencatan senjata di Lebanon bertujuan menghentikan konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang kembali memanas sejak awal Maret.
Trump mengaku telah melakukan komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Ia bahkan berencana mengundang keduanya ke Gedung Putih untuk melanjutkan pembahasan perdamaian.
Iran menyambut baik gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan.
Namun, sejumlah isu krusial masih menjadi tantangan dalam negosiasi, termasuk masa depan program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Sumber diplomatik menyebutkan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, yang berperan sebagai mediator utama, telah melakukan terobosan dalam menjembatani perbedaan antara kedua pihak.
Meski demikian, perbedaan mendasar terkait program nuklir masih belum sepenuhnya terselesaikan.
AS disebut menawarkan pelonggaran sanksi dan pencairan aset Iran sebagai bagian dari kesepakatan, sementara Teheran mensyaratkan jaminan keamanan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelum membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pasukan AS tetap siaga untuk melanjutkan operasi militer jika kesepakatan tidak tercapai.
Perkembangan terbaru ini meningkatkan harapan pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik global, meski ketidakpastian masih membayangi jalannya proses diplomasi.
Menhan AS Hegseth Serang Media, Samakan Jurnalis Anti-Trump dengan Musuh Yesus
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth memicu kontroversi setelah melontarkan kritik keras terhadap media, dengan membandingkan jurnalis yang dinilainya anti-Donald Trump dengan kelompok yang memusuhi Yesus dalam ajaran Kristen.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Kamis (16/4/2026), Hegseth mengutip kisah Alkitab tentang kaum Farisi yang disebutnya berupaya menjatuhkan Yesus.
Ia menilai sikap tersebut mirip dengan cara sebagian media memberitakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, khususnya terkait perang Iran.
“Saya duduk di gereja dan berpikir, pers kita seperti kaum Farisi,” ujar Hegseth di hadapan para wartawan dilansir Reuters.
Ia menegaskan, kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh media, melainkan kepada apa yang ia sebut sebagai “media arus utama yang membenci Trump”.
Menurutnya, media cenderung mencari-cari kesalahan dalam setiap kebijakan pemerintah dan hanya menyoroti sisi negatif.
“Mereka mengamati setiap tindakan baik untuk menemukan pelanggaran,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi antara pemerintahan Trump dan pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik perang tersebut.
Konflik memanas setelah Trump mengunggah gambar di media sosial yang menampilkan dirinya dalam visualisasi religius bersama Yesus.
Dalam beberapa hari terakhir, Hegseth dan Trump memang kerap menggunakan narasi keagamaan dalam membahas konflik Iran.
Keduanya bahkan menyebut operasi penyelamatan pilot AS di Iran yang terjadi pada Minggu Paskah sebagai “keajaiban”.
Kontroversi lain muncul ketika Hegseth memimpin doa di Pentagon yang terinspirasi dari film Pulp Fiction.
Doa tersebut mengutip versi populer dari ayat Yehezkiel 25:17 yang dikenal luas melalui film tersebut, meski bukan kutipan literal dari Alkitab.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, kemudian mengklarifikasi bahwa Hegseth memahami perbedaan tersebut dan menyebut kritik atas hal itu sebagai “tidak berdasar”.
Penggunaan bahasa religius secara eksplisit oleh pemerintahan Trump dinilai sejumlah pengamat sebagai pendekatan yang tidak lazim dalam konteks kebijakan militer modern. John Fea, profesor sejarah di Messiah University, menyebut pendekatan ini berbeda dibandingkan pemerintahan sebelumnya, meski agama kerap menjadi bagian dari retorika saat perang.
Tak lama setelah pernyataan Hegseth, Paus Leo kembali menyindir penggunaan agama untuk kepentingan politik dan militer.
Dalam unggahannya di platform X, ia menulis, “Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan untuk kepentingan militer, ekonomi, dan politik.”
Di sisi lain, Hegseth juga dikenal sebagai kritikus vokal media. Ia bahkan tengah menghadapi sengketa hukum terkait kebijakan akreditasi media di Pentagon, yang sebelumnya dinyatakan melanggar konstitusi oleh pengadilan federal.
Pemerintah AS saat ini tengah mengajukan banding atas putusan tersebut.