News Komoditi & Global ( Selasa, 21 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 21 April 2026 )
Harga Emas Global Menguat di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata AS-Iran
Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan datar di dekat $4.825 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Logam mulia ini stabil di tengah pembaruan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah.
Reuters melaporkan pada hari Senin bahwa Iran mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan, menyusul langkah Islamabad untuk mengakhiri blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh AS. Namun demikian, para pejabat menegaskan bahwa belum ada keputusan yang diambil, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa "pelanggaran gencatan senjata yang berkelanjutan" oleh AS merupakan hambatan utama untuk melanjutkan proses diplomatik.
Gagalnya perundingan damai AS-Iran dan blokade ulang Selat Hormuz telah mendorong harga minyak naik. Kenaikan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi, menaikkan ambang batas untuk pemotongan suku bunga. Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik, tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Laporan Penjualan Ritel AS akan menjadi sorotan nanti pada hari Selasa. Penjualan Ritel diproyeksikan menunjukkan kenaikan sebesar 1,4% MoM pada bulan Maret, dibandingkan dengan 0,6% pada bulan Februari. Namun, jika laporan tersebut menunjukkan inflasi lebih lemah dari prakiraan di AS, ini dapat membebani Dolar AS (USD) dan mendukung harga komoditas berdenominasi USD.
Harga Minyak Dunia Turun Dipicu oleh Ekspektasi bahwa Perundingan Damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan Berlanjut pekan ini
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026), berbalik arah dari penguatan tajam sehari sebelumnya.
Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berlanjut pekan ini, membuka peluang tambahan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 95 sen atau sekitar 1% ke level US$94,53 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei merosot US$1,54 atau 1,72% menjadi US$88,07 per barel.
Kontrak Mei tersebut akan berakhir pada Selasa, sedangkan kontrak Juni yang lebih aktif turun US$1,09 atau 1,3% ke US$86,37 per barel.
Padahal sehari sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut melonjak tajam. Brent sempat naik 5,6% dan WTI menguat 6,9% setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz serta aksi AS yang menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade terhadap pelabuhan negara tersebut.
Meski begitu, fokus pelaku pasar kini beralih ke peluang tercapainya kesepakatan. Investor menilai perundingan pekan ini berpotensi memperpanjang gencatan senjata yang ada atau bahkan menghasilkan kesepakatan damai yang lebih luas. Namun, risiko konflik lanjutan dan gangguan pasokan minyak tetap membayangi.
Seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran masih mempertimbangkan untuk ikut serta dalam perundingan damai yang diinisiasi di Pakistan.
Upaya ini merupakan bagian dari inisiatif Islamabad untuk mengakhiri blokade yang diberlakukan Amerika Serikat.
Blokade tersebut menjadi hambatan utama bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan, terutama di tengah masa gencatan senjata dua pekan yang akan segera berakhir.
Analis dari Citigroup (Citi) memperkirakan peluang tercapainya nota kesepahaman (MoU) atau perpanjangan gencatan senjata dalam waktu dekat cukup besar, yang berpotensi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas.
Namun, mereka juga mengingatkan bahwa skenario gangguan berkepanjangan tetap mungkin terjadi jika negosiasi gagal.
Ketidakpastian masih tinggi. Pejabat Iran menegaskan belum ada keputusan final untuk menghadiri perundingan.
Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi bahkan menyebut adanya pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat sebagai penghambat proses diplomasi.
Senada, negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas. Jalur ini sangat krusial karena menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Citi memperkirakan, jika gangguan di selat tersebut berlangsung hingga satu bulan, potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 1,3 miliar barel.
Dalam skenario itu, harga minyak diperkirakan dapat menyentuh kisaran US$110 per barel pada kuartal II-2026.
Tekanan juga datang dari sisi logistik. Kuwait dilaporkan telah menetapkan force majeure atas pengiriman minyak akibat blokade di Selat Hormuz.
Sementara itu, analis Société Générale mencatat bahwa lonjakan harga akibat penutupan selat telah menekan permintaan minyak sekitar 3% sejauh ini.
Risiko penurunan permintaan dinilai akan semakin besar jika normalisasi pasokan tertunda, dengan pemulihan penuh diperkirakan baru terjadi pada akhir 2026.
Wall Street Ditutup Melemah Tipis, Ketegangan AS–Iran Bayangi Sentimen Pasar
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup sedikit melemah pada perdagangan Senin (20/4/2026), setelah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas.
Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan gencatan senjata yang sempat meredakan pasar dalam dua pekan terakhir.
Tiga indeks utama Wall Street kompak terkoreksi tipis, meski sebelumnya mencatat reli selama tiga pekan berturut-turut.
Indeks Dow Jones turun 0,01% ke 49.442,56, S&P 500 melemah 0,24% ke 7.109,14, dan Nasdaq terkoreksi 0,26% ke 24.404,39.
Sentimen pasar berubah setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz pada akhir pekan, hanya beberapa hari setelah jalur pelayaran vital itu sempat dibuka.
Ketidakpastian ini memicu lonjakan harga minyak global. Minyak mentah AS melonjak 6,87% ke US$ 89,61 per barel, sementara Brent naik 5,64% menjadi US$ 95,48 per barel. Kenaikan ini turut mengangkat sektor energi di S&P 500, meski secara keseluruhan pasar saham tetap tertekan.
Di sisi lain, sinyal diplomatik masih belum jelas. Iran dikabarkan mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai dengan AS di Pakistan. Namun, laporan tersebut dibantah oleh sumber lain yang menyebut Wakil Presiden AS JD Vance masih berada di dalam negeri, bukan menuju lokasi perundingan.
Ahli strategi investasi U.S. Bank Wealth Management, Tom Hainlin, menilai ketidakpastian geopolitik memang sempat mengganggu optimisme pasar, tetapi tidak sepenuhnya menghapus harapan.
"Pasar sedikit menjauh dari skenario pembukaan penuh, tapi peluang ke arah sana masih ada," ujarnya.
Ia menambahkan, fokus investor kini juga tertuju pada musim laporan keuangan kuartal I. Sejauh ini, fundamental ekonomi AS dinilai masih cukup solid. Data dari sektor perbankan menunjukkan kredit konsumen dan belanja masyarakat tetap stabil.
Dari sisi sektoral, saham layanan komunikasi menjadi penekan utama. Meta turun 2,56% setelah mencatat reli panjang, sementara Netflix merosot 2,55% dan telah anjlok sekitar 12% sejak merilis laporan keuangan serta kabar mundurnya salah satu pendirinya pekan lalu.
Indeks volatilitas CBOE atau fear index naik ke 18,85, menandakan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar setelah sebelumnya sempat turun selama delapan sesi berturut-turut.
Pelaku pasar kini menunggu laporan keuangan dari sejumlah raksasa korporasi seperti Lockheed Martin, IBM, dan Tesla. Tesla dijadwalkan menjadi pembuka laporan kelompok saham teknologi besar “Magnificent Seven” pada pekan ini.
Sejauh ini, kinerja emiten masih cukup positif. Dari 48 perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan, sekitar 87,5% melampaui ekspektasi analis. Pertumbuhan laba kuartal pertama juga tercatat mencapai 14,4%.
Di luar itu, pergerakan saham individual cukup bervariasi. Saham QXO turun 3,12% setelah mengumumkan akuisisi senilai US$17 miliar terhadap TopBuild. Sebaliknya, saham TopBuild melonjak 19,38% merespons kabar tersebut.
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan terbilang moderat dengan volume mencapai 16,42 miliar saham, masih di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,54 miliar saham.
Dunia Cemas Nasib Gencatan Senjata Timur Tengah Setelah AS Sita Kapal Kargo Iran
Kekhawatiran meningkat pada Senin (20/4/2026) bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mungkin tidak akan bertahan. Kondisi ini terjadi setelah AS mengatakan pihaknya telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, sementara Iran bersumpah akan melakukan pembalasan.
Upaya membangun perdamaian yang lebih langgeng di kawasan juga terlihat rapuh, setelah Iran menyatakan tidak akan ikut serta dalam putaran kedua negosiasi yang diharapkan AS dapat dimulai sebelum gencatan senjata berakhir pada Selasa.
Reuters memberitakan, Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut lalu kembali memberlakukan blokade terhadap lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Militer AS pada Minggu mengatakan pihaknya menembaki sebuah kapal kargo berbendera Iran ketika kapal tersebut berlayar menuju Pelabuhan Bandar Abbas di Iran.
“Kami sepenuhnya menguasai kapal mereka, dan sedang melihat apa isi muatannya!” tulis Presiden Donald Trump di media sosial.
Militer Iran mengatakan kapal tersebut sedang melakukan perjalanan dari China.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons dan membalas tindakan pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” kata seorang juru bicara militer, menurut media pemerintah.
Harga minyak melonjak dan pasar saham bergejolak karena para pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan bahwa lalu lintas kapal keluar-masuk kawasan Teluk akan tetap berada pada level minimum.
Iran Menolak Perundingan Damai
Media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah menolak perundingan damai baru, dengan alasan blokade yang masih berlangsung, retorika ancaman, serta perubahan sikap Washington dan “tuntutan yang berlebihan”.
“Tidak mungkin membatasi ekspor minyak Iran sambil mengharapkan keamanan gratis bagi pihak lain,” tulis Wakil Presiden Pertama Iran Mohammadreza Aref di media sosial.
“Pilihannya jelas: pasar minyak bebas untuk semua, atau risiko biaya besar bagi semua pihak.”
Trump sebelumnya memperingatkan Iran bahwa AS akan menghancurkan “setiap jembatan dan pembangkit listrik” di Iran jika Teheran menolak syarat-syaratnya, melanjutkan pola ancaman yang kerap ia lontarkan belakangan ini.
Iran mengatakan jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur sipilnya, maka Iran akan menyerang pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi (penyulingan air laut) milik negara-negara Arab Teluk.
Trump mengatakan para utusannya akan tiba di Islamabad pada Senin malam, sehari sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin perundingan damai pertama perang tersebut sepekan lalu, serta mencakup utusan Trump Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner.
Namun Trump mengatakan kepada ABC News dan MS Now bahwa Vance tidak akan berangkat.
Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama, tampak bersiap untuk pembicaraan tersebut.
Dua pesawat kargo raksasa AS jenis C-17 mendarat di sebuah pangkalan udara pada Minggu sore, membawa peralatan keamanan dan kendaraan sebagai persiapan kedatangan delegasi AS, menurut dua sumber keamanan Pakistan.
Otoritas kota Islamabad menghentikan transportasi umum serta lalu lintas kendaraan berat di dalam kota. Kawat berduri dipasang di sekitar Hotel Serena, lokasi pembicaraan pekan lalu. Pihak hotel juga meminta semua tamu untuk meninggalkan tempat.
Memasuki minggu kedelapan, perang ini telah menciptakan guncangan paling parah terhadap pasokan energi global dalam sejarah, mendorong harga minyak melonjak akibat penutupan de facto Selat Hormuz.
Ribuan orang telah tewas akibat serangan AS-Israel ke Iran serta invasi Israel ke Lebanon yang dilakukan secara paralel sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Iran membalas serangan tersebut dengan rudal dan drone terhadap Israel serta negara-negara Arab terdekat yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang memimpin pihak Iran dalam pembicaraan, sebelumnya mengatakan kedua pihak telah mencapai kemajuan, namun masih memiliki perbedaan besar terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
Sekutu-sekutu Eropa, yang berulang kali dikritik Trump karena tidak membantu upaya perangnya, khawatir tim negosiasi Washington mendorong kesepakatan cepat dan dangkal yang masih memerlukan pembicaraan lanjutan yang rumit secara teknis selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Iran Eksekusi Dua Pria yang Dituduh Bekerja Sama dengan Mossad Israel
Pemerintah Iran mengeksekusi dua pria yang dinyatakan bersalah karena bekerja sama dengan badan intelijen Israel, Mossad, serta merencanakan serangan di dalam negeri.
Media peradilan Iran, Mizan, pada Minggu (19/4/2026) melaporkan bahwa kedua pria tersebut adalah Mohammad Masoum Shahi dan Hamed Validi.
Menurut laporan tersebut, keduanya dituduh menjadi bagian dari jaringan mata-mata yang terkait dengan Mossad. Mereka juga disebut telah menerima pelatihan di luar negeri, termasuk di wilayah Kurdistan, Irak.
Iran menjerat keduanya dengan sejumlah dakwaan, termasuk “permusuhan terhadap Tuhan” dan bekerja sama dengan kelompok yang dianggap bermusuhan dengan negara.
Vonis hukuman mati terhadap kedua pria tersebut telah diperkuat oleh Mahkamah Agung Iran sebelum akhirnya dieksekusi.
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Rudal Balistik, Korea Utara Perkuat Daya Gempur Nuklir
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengawasi langsung peluncuran rudal balistik pada Minggu (19/4/2026) sebagai bagian dari upaya menguji efektivitas hulu ledak baru yang membawa bom tandan dan ranjau fragmentasi.
Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan pada Senin bahwa uji coba tersebut bertujuan mengevaluasi daya hancur dan performa hulu ledak baru pada rudal taktis balistik jarak pendek Hwasong-11 Ra.
Peluncuran ini menjadi uji coba rudal balistik keempat Korea Utara sepanjang April dan ketujuh sepanjang tahun 2026. Langkah tersebut menunjukkan ambisi Pyongyang untuk terus memperkuat kemampuan rudal dan nuklirnya meskipun bertentangan dengan resolusi United Nations Security Council.
KCNA menyebut lima rudal Hwasong-11 Ra diluncurkan ke arah zona target di sebuah pulau sejauh sekitar 136 kilometer. Rudal-rudal tersebut menghantam area sekitar 12,5 hingga 13 hektare dengan kepadatan tinggi, yang menurut laporan menunjukkan kemampuan sistem untuk melakukan serangan penekanan secara terfokus.
Korea Selatan sebelumnya melaporkan bahwa rudal-rudal itu ditembakkan dari dekat kota Sinpo di pantai timur Korea Utara menuju laut sekitar pukul 06.10 pagi waktu setempat. Kantor kepresidenan Korea Selatan mendesak Pyongyang menghentikan “provokasi” semacam itu.
Seorang juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan terdapat kehadiran yang tidak biasa dari sejumlah komandan unit garis depan dalam uji coba tersebut. Hal ini dikaitkan dengan niat Kim untuk memperkuat daya tangkal terhadap Korea Selatan melalui perluasan penempatan rudal taktis.
Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan masih dibayangi ketegangan karena secara teknis kedua negara masih berada dalam kondisi perang setelah Perang Korea berakhir hanya dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
KCNA melaporkan Kim menyatakan puas dengan hasil uji coba tersebut dan menyebutnya sebagai bukti bahwa penelitian bertahun-tahun oleh tim khusus pengembangan hulu ledak rudal tidak sia-sia. Ia juga meminta para ilmuwan pertahanan untuk terus mengembangkan teknologi guna memperkuat kesiapan tempur militer.
Foto-foto yang dirilis KCNA memperlihatkan Kim didampingi putrinya, yang diyakini bernama Ju Ae, saat menyaksikan peluncuran bersama sejumlah pejabat militer. Kehadiran Ju Ae dalam sejumlah uji senjata belakangan ini semakin memunculkan spekulasi bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai penerus Kim.
Sebelumnya bulan ini, Korea Utara juga menguji hulu ledak bom tandan baru pada rudal balistik serta senjata elektromagnetik. Langkah tersebut dinilai para analis sebagai upaya Pyongyang menunjukkan kapasitasnya untuk berperang dengan teknologi modern.
Pemerintah Inggris mengecam peluncuran rudal balistik terbaru Korea Utara dan mendesak negara tertutup itu untuk terlibat dalam diplomasi yang lebih bermakna.
Profesor dari Kyungnam University, Lim Eul-chul, menilai uji coba tersebut menunjukkan niat Pyongyang untuk menyerang dengan tingkat presisi lebih tinggi, jangkauan lebih luas, dan daya hancur lebih besar.
Menurutnya, jika rudal-rudal itu ditempatkan lebih dekat ke garis depan, maka Seoul dan pangkalan militer utama Korea Selatan maupun Amerika Serikat akan berada dalam jangkauan.
Konflik yang berlangsung antara AS dan Israel melawan Iran dalam tujuh pekan terakhir juga dinilai memperkuat ambisi Korea Utara untuk terus mengembangkan program rudal dan nuklirnya.
Pada akhir Maret lalu, Kim menegaskan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah dan perluasan “daya tangkal nuklir defensif” menjadi bagian penting dari keamanan nasional negara tersebut.
Perang Iran Pangkas Pasokan 500 Juta Barel Minyak, Kerugian Tembus US$ 50 Miliar
Konflik antara Iran dan sekutunya telah menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan energi global. Dalam hampir 50 hari sejak perang dimulai pada akhir Februari, pasar dunia kehilangan lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat, dengan nilai kerugian diperkirakan melampaui US$ 50 miliar.
Menurut data Kpler dan perhitungan Reuters, gangguan ini menjadi disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada Jumat bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran akan segera tercapai, meskipun belum ada kepastian waktu.
Kehilangan 500 juta barel minyak dari pasar global memiliki dampak yang sangat besar. Menurut analis utama Wood Mackenzie, Iain Mowat, jumlah tersebut setara dengan:
Pengurangan permintaan penerbangan global selama 10 minggu
Tidak adanya perjalanan kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari
Tidak adanya pasokan minyak bagi ekonomi global selama lima hari penuh
Hampir satu bulan kebutuhan minyak di Amerika Serikat
Lebih dari satu bulan konsumsi minyak seluruh Eropa
Sekitar enam tahun konsumsi bahan bakar militer AS
Cukup untuk menopang industri pelayaran internasional selama empat bulan
Negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret. Volume tersebut hampir setara dengan gabungan produksi dua raksasa migas dunia, yakni Exxon Mobil dan Chevron.
Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman turun drastis dari 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel sepanjang Maret dan April sejauh ini.
Penurunan ekspor tersebut setara dengan bahan bakar untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi antara Bandara JFK New York dan Bandara Heathrow London.
Dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar US$ 100 per barel sejak konflik dimulai, volume minyak yang hilang dari pasar diperkirakan bernilai sekitar US$ 50 miliar.
Analis senior Kpler, Johannes Rauball, mengatakan angka tersebut setara dengan sekitar 1% produk domestik bruto tahunan Jerman atau hampir menyamai total PDB negara kecil seperti Latvia dan Estonia.
Meski Selat Hormuz mulai dibuka kembali, pemulihan pasokan minyak global diperkirakan berlangsung lambat. Persediaan minyak mentah global di daratan telah turun sekitar 45 juta barel sepanjang April.
Sejak akhir Maret, gangguan produksi telah mencapai sekitar 12 juta barel per hari. Ladang minyak berat di Kuwait dan Irak diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali ke tingkat operasi normal.
Selain itu, kerusakan pada kapasitas kilang minyak dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar diperkirakan membuat pemulihan penuh infrastruktur energi regional membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Dengan demikian, dampak perang Iran terhadap pasar energi global diperkirakan tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga akan mempengaruhi harga energi dan stabilitas pasokan selama berbulan-bulan hingga beberapa tahun ke depan.
Tanker Minyak Lolos Selat Hormuz, Meluncur ke Kilang Hyundai Oilbank di Korea Selatan
Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan keluar dari Selat Hormuz dan tengah menuju Korea Selatan untuk membongkar muatannya, di tengah perhatian pasar terhadap keamanan jalur pengiriman energi global.
Data pelacakan kapal menunjukkan tanker berbendera Malta bernama Odessa bergerak menuju kilang milik Hyundai Oilbank di Korea Selatan setelah melintasi Selat Hormuz pada 13 April.
Namun, data dari Kpler tidak mengungkap asal muatan minyak yang dibawa kapal tersebut.
Kapal jenis Suezmax itu memiliki kapasitas angkut hingga 1 juta barel minyak. Dalam perjalanannya, sistem pelacakan otomatis (AIS) kapal sempat dimatikan sebelum kembali terdeteksi pada 17 April di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, menurut data LSEG.
Pihak Hyundai Oilbank membenarkan bahwa kapal tersebut memang menuju fasilitas pengolahan mereka, tetapi tidak memberikan rincian terkait jenis muatan yang diangkut.
Perusahaan hanya merujuk pada data pelayaran ketika ditanya soal rute kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, Dynacom, perusahaan manajemen kapal asal Yunani yang menangani Odessa, belum memberikan tanggapan saat dimintai komentar.
Harga BBM AS Diperkirakan Tetap di Atas US$ 3 per Galon hingga Tahun Depan
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright memperkirakan harga bensin di AS kemungkinan sudah mencapai puncaknya, tetapi masih akan bertahan di atas US$ 3 per galon hingga tahun depan.
Kenaikan harga BBM terjadi seiring konflik antara AS, Israel, dan Iran, serta serangan Iran terhadap negara-negara di sekitarnya. Kondisi ini menciptakan tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Senat dan DPR.
Dalam wawancara dengan CNN, Wright mengatakan harga bensin di bawah US$ 3 per galon bisa saja tercapai pada akhir tahun ini, tetapi kemungkinan besar baru terjadi tahun depan.
“Namun harga kemungkinan sudah mencapai puncaknya dan akan mulai turun. Tentu saja, jika konflik ini terselesaikan, Anda akan melihat harga turun,” ujar Wright.
Pernyataan Wright berbeda dengan proyeksi Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang pekan lalu memperkirakan harga BBM bisa turun ke kisaran US$ 3 per galon pada musim panas tahun ini.
Sementara itu, Trump sendiri sebelumnya mengakui bahwa harga BBM dapat tetap tinggi hingga November. Meski demikian, pejabat pemerintahan AS sepakat bahwa harga energi akan turun setelah konflik Iran berakhir. Wright bahkan menyebut harga di bawah US$ 3 per galon sebagai level yang “sangat baik” jika disesuaikan dengan inflasi.
Rata-rata harga bensin reguler di AS pada Minggu mencapai US$ 4,05 per galon, naik dibandingkan US$ 3,16 per galon pada periode yang sama tahun lalu. Harga ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang, yakni sekitar US$ 2,98 per galon.
Lonjakan harga energi terjadi akibat terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan dan pembatasan lalu lintas kapal di selat tersebut membuat harga minyak dunia melonjak tajam.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat naik ke kisaran US$ 95 per barel, sementara minyak mentah AS naik mendekati US$ 89 per barel.
Selain BBM, konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar pesawat. Menteri Transportasi AS Sean Duffy mengatakan bahan bakar jet akan menjadi lebih tersedia ketika konflik Iran mulai mereda.
“Ya, ada gangguan kecil, semoga hanya dalam waktu singkat. Namun dalam jangka panjang, perjalanan akan menjadi lebih murah bagi warga Amerika karena harga bahan bakar jet akan turun,” kata Duffy.
AS dan Iran sebelumnya sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Namun, Trump menuduh Iran melanggar kesepakatan itu dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz pada akhir pekan ini. Pejabat AS dijadwalkan menuju Pakistan pada Senin untuk melanjutkan negosiasi.
Trump juga kembali mengancam Iran jika tidak menerima tawaran perundingan dari AS.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Jika mereka tidak menerimanya, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” ujar Trump dalam unggahan media sosialnya.
Michigan Tolak Permintaan Pemerintahan Trump atas Surat Suara Pemilu 2024
Pejabat di negara bagian Michigan menolak permintaan Departemen Kehakiman AS (DOJ) terkait penyerahan surat suara dan dokumen pemilu 2024, dengan alasan upaya tersebut dapat merusak kepercayaan terhadap integritas pemilu di Amerika Serikat (AS).
Permintaan itu disampaikan DOJ melalui surat kepada pejabat pemilu di Wayne County, wilayah yang mencakup kota Detroit, menurut Jaksa Agung Michigan Dana Nessel.
Melansir laporan Reuters Minggu (19/4/2026), dalam pernyataan bersama dengan Gubernur Gretchen Whitmer dan Sekretaris Negara Jocelyn Benson, Nessel menilai permintaan tersebut tidak berdasar.
“Permintaan ini sama absurdnya dengan tidak berdasar. Kami siap melindungi hak pilih warga,” ujarnya.
Surat DOJ tersebut ditandatangani oleh Asisten Jaksa Agung Harmeet Dhillon, yang meminta akses terhadap surat suara, tanda terima, serta amplop pemilu guna meneliti proses pemilu 2024.
Langkah ini dinilai terkait dengan dorongan Presiden Donald Trump yang sejak lama mengklaim tanpa bukti bahwa kekalahannya pada pemilu 2020 dari Joe Biden disebabkan kecurangan pemilih.
DOJ mengonfirmasi keaslian surat tersebut, namun tidak memberikan komentar lebih lanjut.
Sementara itu, Direktur FBI Kash Patel menyatakan dalam wawancara televisi bahwa penangkapan terkait dugaan pelanggaran pemilu 2020 akan segera dilakukan.
Dhillon juga mengungkapkan bahwa DOJ telah menggugat 29 negara bagian serta District of Columbia karena menolak memberikan akses terhadap data daftar pemilih.
Menurutnya, sekitar 60 juta data pemilih telah ditinjau, termasuk temuan 350.000 nama orang yang telah meninggal, meski tidak ada bukti bahwa suara diberikan atas nama tersebut.
Upaya DOJ ini menghadapi berbagai hambatan hukum. Sejumlah pengadilan federal di beberapa negara bagian, termasuk Rhode Island dan California, telah menolak permintaan serupa terkait akses data pemilih non-publik.
Penolakan dari Michigan menambah daftar panjang resistensi dari pemerintah negara bagian terhadap upaya pemerintah federal dalam mengakses data pemilu, yang dinilai berpotensi memicu ketegangan politik menjelang pemilu berikutnya.