News Komoditi & Global ( Senin, 8 Juni 2026 )
News Komoditi & Global
( Senin, 8 Juni 2026 )
Harga Emas Global Melemah seiring Tekanan Makroekonomi yang Terkait dengan Konflik di Timur Tengah
Tekanan makroekonomi yang terkait dengan konflik di Timur Tengah telah menghentikan reli beberapa bulan terakhir di pasar logam mulia, seiring data inflasi yang lebih persisten memaksa pasar untuk mengkalibrasi ulang ekspektasi kebijakan moneter. Para investor kini memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang mendorong imbal hasil riil lebih tinggi dan meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas batangan yang tidak memberikan bunga, tulis Chief Investment Officer UBS Switzerland Michael Bolliger dalam catatannya kepada klien pada Jumat.
Koreksi harga yang terjadi menyoroti betapa sensitifnya komoditas terhadap perubahan biaya pinjaman secara langsung. "Imbal hasil riil yang lebih tinggi telah menekan harga emas dalam beberapa bulan terakhir, namun hambatan tersebut seharusnya mereda seiring Fed melanjutkan pemangkasan suku bunga di akhir tahun ini," catat Bolliger.
Jika kondisi makroekonomi melunak dan memungkinkan para pembuat kebijakan untuk beralih ke sikap yang lebih akomodatif, Bolliger memperkirakan akan terjadi pemulihan struktural yang signifikan. Dalam skenario dasar ini, proyeksi UBS menunjukkan logam mulia tersebut pada akhirnya akan reli ke $5.500/oz pada akhir tahun 2026.
Lantai yang sangat tangguh di bawah harga pasar saat ini didukung oleh permintaan institusional yang agresif dan non-siklikal, menurut Bolliger. Bank-bank sentral menyerap sekitar 244 ton emas batangan selama kuartal pertama tahun 2026, menjaga pembelian oleh negara-negara berdaulat tetap pada jalur untuk mencapai total tahunan tertinggi keempat sejak tahun 1950.
Para pembeli institusional besar ini mengelola alokasi berdasarkan perubahan paradigma makroekonomi, bukan momentum harga jangka pendek. Menurut catatan riset tersebut, para manajer cadangan devisa negara terus mengakumulasi logam ini karena "tidak membawa risiko pihak lawan" dan "dianggap netral secara politik" di tengah meningkatnya gesekan internasional.
Menambah pergeseran struktural ini adalah kekhawatiran yang semakin besar seputar kebijakan fiskal Barat dan defisit pemerintah yang terus melebar. Jika portofolio pendapatan tetap tradisional menawarkan diversifikasi yang kurang andal terhadap volatilitas ekuitas ke depannya, aset riil diperkirakan akan mendapatkan premi yang lebih besar.
Bolliger menyarankan agar para investor menyesuaikan perspektif jangka panjang mereka terhadap emas batangan agar selaras dengan perubahan struktural mendalam dalam arsitektur keuangan global ini. Portofolio yang dibangun untuk menghadapi inflasi sistemik dan tekanan utang negara mungkin akan menemukan bahwa aset ini berfungsi "sebagai diversifikasi strategis," simpul CIO tersebut.
Saling Serang Israel-Iran Meletus, Harga Minyak Dunia Melonjak
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam lebih dari US$2 per barel pada awal perdagangan hari Senin (8/6/2026). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh langkah militer Israel yang meluncurkan rangkaian serangan udara ke wilayah ibu kota Beirut, Lebanon, pada hari Minggu kemarin. Baca Juga: Di Tengah Bayang-Bayang Perang, Timnas Iran Tiba di Meksiko Jelang Piala Dunia 2026 Agresi terbaru tersebut menjadi hantaman keras bagi pasar energi global, mengingat serangan terjadi untuk pertama kalinya sejak Amerika Serikat (AS) mengumumkan draf rencana gencatan senjata (ceasefire) untuk Lebanon pada pekan lalu. Melansir Reuters, berdasarkan data perdagangan pada pukul 22.15 GMT, pergerakan dua acuan minyak mentah utama dunia tercatat sebagai berikut: Minyak Mentah AS (WTI): Kontrak berjangka komoditas ini melesat naik sebesar US$2,57 menjadi US$93,11 per barel. Minyak Mentah Brent: Acuan internasional ini melonjak sebesar US$2,67 hingga menyentuh level US$95,76 per barel. Baca Juga: AS Pertimbangkan Beli Kepulauan Chagos dari Mauritius, Amankan Pangkalan Diego Garcia Eskalasi militer di Timur Tengah ini langsung membalikkan sentimen pasar dari akhir pekan lalu, di mana para pelaku pasar sempat optimistis bahwa risiko konflik akan mereda. Dengan kembali memanasnya situasi di Selat Hormuz dan Lebanon, para investor kini bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan serta peningkatan volatilitas harga energi dalam beberapa hari ke depan.
Wall Street Berguguran, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga The Fed Bursa saham AS melemah
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Koreksi dipimpin saham-saham teknologi dan semikonduktor setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,3%, sedangkan indeks S&P 500 terkoreksi 2,6%. Adapun indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih dalam hingga 4,1%. Saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pasar. Saham produsen cip kecerdasan buatan (AI) Nvidia anjlok 6,2%, disusul Broadcom yang merosot 7,9% dan Micron Technology yang terperosok 13,3%, menjadi saham dengan penurunan terdalam di indeks S&P 500. Selain itu, saham Advanced Micro Devices (AMD), Intel, hingga Meta Platforms juga terkoreksi tajam. Saham Meta bahkan turun 5,5% setelah muncul laporan bahwa perusahaan tengah mempertimbangkan penerbitan saham baru untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI. Tekanan terhadap pasar muncul setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan perekonomian masih cukup kuat. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei 2026, jauh melampaui ekspektasi ekonom yang hanya sekitar 88.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap bertahan di level 4,3%. BACA JUGA IHSG Anjlok 8,69% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp922 Triliun SCG Divestasi Saham TPIA Rp14,1 Triliun, Kepemilikan Susut ke 15,71% Prospek Saham UNTR, ITMG, BMRI, Hingga BBRI Cs, Emiten Pembagi Dividen per Saham Terbesar Mei 2026 Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed belum memiliki alasan untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Bahkan, pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga hingga akhir 2026. Sebaliknya, peluang pemangkasan suku bunga praktis menghilang setelah rilis data tenaga kerja terbaru. "Harapan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed secara efektif telah lenyap setelah laporan tenaga kerja yang kuat pagi ini," kata Chief Market Strategist Lazard Ronald Temple dalam risetnya, mengutip TV News Check. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,54% dari sebelumnya 4,50%, sedangkan yield tenor dua tahun melonjak menjadi 4,16% dari 4,04%. Di sisi lain, rotasi keluar dari saham teknologi dan semikonduktor semakin menguat setelah laporan kinerja Broadcom awal pekan ini memicu kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor AI yang telah melambung tinggi sepanjang tahun. Akibat koreksi tersebut, indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan sebesar 2,5% dan mengakhiri tren penguatan selama sembilan pekan berturut-turut. Jika berhasil mempertahankan kenaikan, indeks acuan tersebut berpeluang mencatat rekor reli terpanjang sejak 1985. Sentimen pasar juga dibayangi ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS dan Iran. Meski Presiden Donald Trump menyatakan negosiasi kedua negara telah memasuki tahap akhir, laporan mengenai mandeknya proses perundingan masih memicu kekhawatiran investor. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 2% dan ditutup di level US$93,09 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sekitar US$70 per barel sebelum konflik AS-Iran memanas. Kenaikan harga energi dalam beberapa bulan terakhir turut memperburuk tekanan inflasi di AS. Indikator inflasi pilihan The Fed menunjukkan harga-harga pada April 2026 meningkat 3,8% secara tahunan, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Dolar AS Makin Garang , Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 70%
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kokoh di kisaran level tertinggi dalam dua bulan terakhir pada perdagangan hari Senin (8/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang tumbuh luar biasa, memicu para pelaku pasar untuk meningkatkan taruhan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun ini. Baca Juga: Cara Beli Saham IPO SpaceX untuk Investor Ritel, Simak Panduannya Di sisi lain, keperkasaan greenback membuat mata uang Yen Jepang kian terpuruk dan kembali masuk ke dalam zona intervensi pemerintah Tokyo. Meskipun pergerakan awal pasar valas cenderung terbatas karena bursa Australia tutup memperingati hari libur nasional, indeks dolar AS tetap mempertahankan keuntungan besarnya. Laporan ketenagakerjaan AS mencatat adanya penambahan 172.000 lapangan kerja baru pada bulan lalu, angka yang jauh melampaui estimasi konsensus para ekonom. Baca Juga: Ekonomi Jepang Melambat di Kuartal I-2026 Akibat Merosotnya Belanja Modal Perusahaan Dampak dari penguatan dolar AS ini langsung menekan mata uang global lainnya ke level terendah: Euro (EUR): Merosot ke level terendah dua bulan di posisi US$1,1507. Poundsterling (GBP): Tertahan di level terendah tiga pekan pada posisi US$1,3316. Dolar Australia (AUD): Merosot ke level terendah dua bulan di posisi US$0,7016. Dolar Selandia Baru (NZD): Anjlok ke posisi US$0,5779. Ketahanan Ekonomi AS di Tengah Krisis Energi "Laporan data ketenagakerjaan AS ini menggambarkan bahwa pasar tenaga kerja mereka tetap menguat secara struktural, meskipun saat ini sedang terjadi guncangan harga energi global akibat konflik," kata Jonas Goltermann, Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics dilansir Reuters. Baca Juga: Regulasi Modal Diperketat, Investor China Serbu Hong Kong Amankan Aset US$54 Miliar Kombinasi antara akselerasi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi dari sektor energi membuat pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed pada akhir tahun ini menjadi kian masuk akal. Capital Economics memproyeksikan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan meluncurkan dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun ini. Sebelum data tenaga kerja dirilis, investor global sebenarnya sudah mulai mengantisipasi kenaikan bunga The Fed akibat krisis energi global yang dipicu oleh perang Iran, yang berpotensi kuat mengerek inflasi dunia. Berdasarkan indikator CME FedWatch Tool, pasar kini melihat adanya probabilitas lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember mendatang, melonjak tajam dibandingkan prediksi pekan lalu yang baru sebesar 45%. Baca Juga: Saling Serang Israel-Iran Meletus, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari US$2 Yen Jepang Berada di Titik Kritis Keperkasaan dolar AS menjadi mimpi buruk bagi mata uang Yen Jepang yang kini merosot ke level 160,29 per dolar AS. Nilai ini mengikis habis seluruh keuntungan intervensi senilai 11,7 triliun yen ($73,01 miliar) yang digelontorkan pemerintah Tokyo sebulan lalu saat mata uangnya menyentuh level terendah sejak Juli 2024 di posisi 160,72. "Yen terus berada di bawah tekanan karena volatilitas selisih suku bunga (interest rate disadvantage) yang persisten. Bank of Japan (BOJ) dinilai masih terlalu lambat dalam melakukan normalisasi kebijakan, di saat bank sentral negara maju lainnya sudah bergerak agresif (hawkish)," jelas David Meier, ekonom di Julius Baer. Kendati demikian, sejumlah sumber internal mengungkapkan kepada Reuters bahwa BOJ diperkirakan akan mengambil langkah berani untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini, dengan catatan tidak terjadi eskalasi konflik militer yang ekstrem di Timur Tengah hingga mengacaukan pasar finansial. Baca Juga: AS Pertimbangkan Beli Kepulauan Chagos dari Mauritius, Amankan Pangkalan Diego Garcia Rebound Tipis Pasar Kripto Dari pasar aset kripto, Bitcoin terpantau berhasil naik lebih dari 1% ke level US$62,838.60 pada Senin pagi, mencoba bangkit (rebound) setelah sempat jatuh ke level terendahnya sejak Oktober 2024 pada pekan lalu. Sementara itu, Ether menguat lebih dari 3% ke posisi US$1.680,87. Pergerakan Bitcoin sejak awal tahun ini dinilai cukup berat karena kalah saing dalam memperebutkan likuiditas global. Booming saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta rencana mega IPO sejumlah raksasa teknologi seperti SpaceX ditengarai telah menarik minat modal investor keluar dari pasar mata uang kripto terbesar di dunia tersebut.
Menlu Iran Ungkap Berada Satu Gedung dengan Khamenei Saat di Bom AS-Israel
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa dia berada di dalam kantor Ayatullah Ali Khamenei ketika gedung tersebut diserang pada jam-jam awal agresi AS-Israel terhadap Iran pada 23 Februari lalu. Ia juga menghabiskan dua hari dengan ketidakpastian apakah pimpinannya tersebut selamat.
Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen, Araghchi memberikan penjelasan pribadi paling rinci tentang momen-momen seputar kesyahidan sang Pemimpin.
Araghchi mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa dia telah kembali dari perundingan Jenewa pada Jumat dan pergi ke kantor Sayyed Khamenei keesokan paginya untuk memberi pengarahan secara langsung.
“Setelah kembali dari perundingan Jenewa pada hari Jumat, saya pergi ke kantor Sayyed Khamenei pada hari Sabtu pukul 09.00 untuk menyampaikan laporan saya, yang berkaitan dengan perundingan dan perkembangan yang muncul pada hari Jumat, yang membuat prospek perang jauh lebih mungkin terjadi,” katanya.
Serangan itu terjadi saat dia masih di sana. Sayap bangunan tempat Araghchi duduk tidak hancur, namun bangunan tersebut dibom, dan dia mendapati dirinya berusaha keluar dari bawah reruntuhan.
“Pada saat Sayyed Ali Khamenei syahid, saya sedang berada di kantornya dan diserang,” katanya. "Saat kami mencoba mencari jalan keluar dari bawah reruntuhan, pikiran saya sepenuhnya terfokus pada apakah dia telah menjadi sasaran."
Naluri pertamanya, katanya, bukanlah kepedulian terhadap keselamatan dirinya sendiri. “Pada saat pemboman terjadi, saya sangat prihatin terhadap Pemimpin sehingga saya tidak mengkhawatirkan diri saya sendiri.”
“Dari apa yang saya ketahui tentang rutinitasnya, saya yakin Pemimpin pasti ada di kantornya,” jelas Araghchi. Dia menggambarkan 48 jam berikutnya sebagai masa yang menyiksa, menunggu berita yang akhirnya mengonfirmasi bahwa Sayyed Khamenei telah menjadi syuhada.
Araghchi juga mencatat bahwa Sayyed Khamenei menolak berlindung meskipun kemungkinan terjadinya perang semakin besar.
“Apa yang terjadi tidak akan pernah terlupakan, tidak sekarang, tidak selamanya,” kata Araghchi. “Ini meninggalkan luka di hati kami yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.”
Dia menggambarkan kesyahidan Sayyed Khamenei sebagai momen yang, bertentangan dengan apa yang diantisipasi musuh-musuh Iran, tidak menghancurkan Republik Islam.
“Mereka memperkirakan hal ini akan menjadi titik kelemahan dan menyebabkan runtuhnya rezim,” katanya. “Sebaliknya, yang terjadi justru sebaliknya.”
Dalam penuturan Araghchi, dampaknya menjadi bukti ketahanan institusional Republik Islam. Struktur sistem diaktifkan, kepemimpinan baru dibentuk, dan Mojtaba Khamenei dipilih untuk menggantikan ayahnya.
“Republik Islam Iran lebih kuat dari sistem mana pun yang bergantung pada individu,” kata Araghchi.
Dia menambahkan bahwa selama periode tersebut, Kementerian Luar Negeri telah berupaya untuk memastikan bahwa posisi Iran dapat diterima oleh dunia, bahwa pemerintah dan masyarakat memahami “ketidakadilan yang diderita rakyat Iran, dan legitimasi perjuangan mereka.”
Pesawat Baru Turki Ini Bisa Membuat Musuh Buta, Tuli, dan Kehilangan Kendali
Pesawat ini dirancang untuk melumpuhkan radar, membungkam komunikasi militer lawan, dan membuka jalan bagi serangan udara tanpa harus memasuki wilayah musuh.
Kini, untuk pertama kalinya, wujud paling jelas dari senjata elektronik baru Turki itu muncul ke publik. Cuplikan singkat pesawat bernama HAVA SOJ tampil dalam video peringatan 115 tahun Angkatan Udara Turki yang dirilis Kementerian Pertahanan negara tersebut.
Hanya beberapa detik. Namun bagi para pengamat militer, itu cukup untuk mengirim satu pesan: program yang lama tertutup ini akhirnya mendekati fase operasional.
Seberapa berbahaya pesawat ini?
Dari luar, HAVA SOJ tampak seperti jet bisnis biasa berbasis Bombardier Global 6000. Namun di balik badan pesawatnya terpasang serangkaian fairing, antena, dan sensor yang mengubahnya menjadi pusat peperangan elektronik terbang.
Bukan bom yang menjadi senjata utamanya. Melainkan gelombang elektromagnetik. Menurut Badan Industri Pertahanan Turki, HAVA SOJ dirancang untuk mengacaukan radar pertahanan udara, mengganggu sistem komando dan kendali, serta memutus komunikasi lawan dari jarak jauh.
Dengan kata lain, pesawat ini dapat menciptakan "koridor buta" yang memungkinkan pesawat tempur sekutu menembus wilayah yang sebelumnya dijaga ketat sistem pertahanan udara.
Ketika terbang di luar jangkauan musuh, HAVA SOJ akan menangkap emisi radar dan komunikasi lawan menggunakan perangkat Electronic Support Measures (ESM). Setelah lokasi dan frekuensi sasaran diketahui, sistem serangan elektroniknya mulai bekerja.
Radar bisa dibutakan. Komunikasi bisa dipalsukan. Perintah militer bisa terlambat diterima atau bahkan tidak pernah sampai. Semuanya terjadi tanpa satu peluru pun ditembakkan. Di sinilah teknologi paling menarik itu berada.
Pesawat ini diyakini menggunakan antena Active Electronically Scanned Array (AESA), teknologi yang memungkinkan pancaran energi elektromagnetik diarahkan secara sangat presisi. Berbeda dengan pengacauan konvensional yang menyebar ke segala arah, sistem ini dapat menyerang beberapa sasaran sekaligus dalam waktu bersamaan, bahkan pada jarak yang berbeda-beda, sebagaimana diberitakan The War Zone beberapa hari lalu.
Artinya, satu pesawat dapat mengganggu jaringan radar dan komunikasi dalam area yang sangat luas.
Tetapi ada petunjuk lain yang memunculkan spekulasi lebih jauh. Fairing panjang berbentuk perahu di bagian bawah badan pesawat, desain yang mirip dengan pesawat intelijen canggih milik Amerika Serikat dan Inggris.
Jika benar di dalamnya terdapat radar pengintai sintetis SAR/GMTI, HAVA SOJ bukan hanya mampu mengacaukan musuh, tetapi juga memetakan medan tempur dan melacak pergerakan kendaraan di darat dari jarak jauh.
Turki belum mengonfirmasi kemampuan tersebut. Justru di situlah misterinya. Program HAVA SOJ sendiri telah berjalan lebih dari satu dekade. Awalnya Turki berencana menggantikan kemampuan pengacauan udara lama yang berbasis pesawat angkut Transall C-160.
Namun proyek itu mengalami berbagai keterlambatan, termasuk gagalnya program sementara bernama Golge yang sempat disiapkan sebagai solusi darurat.
Pesawat pertama untuk program HAVA SOJ tiba di fasilitas Turkish Aerospace Industries pada 2019. Target pengiriman ke Angkatan Udara Turki sebenarnya dipasang pada 2023. Target itu terlewati.
Tetapi kemunculan pesawat yang semakin sering dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan sesuatu sedang berubah.
Bukan hanya Turki yang memperhatikannya. Pakistan pernah disebut sebagai calon pelanggan potensial. Arab Saudi juga terlibat melalui kerja sama industri pertahanan yang bertujuan memasarkan varian ekspor sistem ini.
Yang membuatnya semakin menarik, HAVA SOJ tidak bergantung pada pembatasan ekspor teknologi sensitif Amerika Serikat yang selama ini sering menjadi hambatan bagi pembeli senjata canggih.
Dengan kata lain, pasar internasional terbuka lebar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah HAVA SOJ akan terbang untuk Angkatan Udara Turki. Melainkan seberapa besar keseimbangan peperangan elektronik modern akan berubah ketika pesawat yang mampu membungkam radar dan komunikasi musuh ini benar-benar memasuki layanan tempur.
Lebih Berbahaya daripada Jet Tempur?
Ketika membayangkan perang udara, banyak orang langsung teringat pada jet tempur yang menembakkan rudal atau menjatuhkan bom. Namun dalam peperangan modern, sasaran paling berharga sering kali bukan tank, kapal, atau pangkalan militer, melainkan informasi.
Sebuah angkatan bersenjata modern bergantung pada jaringan radar, pusat komando, sistem komunikasi, dan pertukaran data yang bekerja tanpa henti setiap detik. Radar bertugas mendeteksi ancaman, pusat komando mengolah informasi, sementara jaringan komunikasi mengirimkan perintah ke pasukan di lapangan. Tanpa ketiganya, militer modern akan kesulitan memahami apa yang sedang terjadi di medan tempur.
Karena itu, pesawat perang elektronik seperti HAVA SOJ dirancang untuk menyerang "mata dan otak" musuh, bukan tubuhnya. Dengan kemampuan mengacaukan radar dan memutus komunikasi dari jarak jauh, pesawat semacam ini dapat membuat sistem pertahanan kehilangan kesadaran situasional. Rudal mungkin masih berada di peluncurnya, tetapi operator tidak lagi dapat melihat sasaran secara akurat atau menerima perintah tepat waktu.
Dalam kondisi seperti itu, keunggulan militer yang dibangun selama bertahun-tahun dapat berkurang drastis hanya dalam hitungan menit. Pesawat tempur yang datang setelahnya tidak lagi menghadapi lawan yang siap, melainkan sistem pertahanan yang kebingungan, terputus dari jaringan, dan kesulitan merespons ancaman yang datang.
Itulah sebabnya banyak analis pertahanan menganggap peperangan elektronik sebagai salah satu elemen paling menentukan dalam konflik modern. Sebelum rudal pertama diluncurkan, pertempuran sering kali sudah dimulai dalam spektrum elektromagnetik yang tidak terlihat oleh mata manusia. Di medan tempur masa kini, pihak yang lebih dulu menguasai informasi sering kali menjadi pihak yang lebih dulu memenangkan perang.
NATO Membutuhkan Pesawat Seperti Ini?
Selama dua dekade terakhir, negara-negara Barat menikmati keunggulan udara yang relatif besar dalam berbagai operasi militer. Namun situasinya kini berubah. Rusia dan China terus mengembangkan sistem pertahanan udara yang semakin canggih, dengan radar berjangkauan jauh, rudal berkecepatan tinggi, serta jaringan sensor yang mampu mendeteksi dan melacak sasaran dari berbagai arah.
Dalam kondisi seperti itu, menerbangkan pesawat tempur ke wilayah lawan tidak lagi sesederhana seperti pada era sebelumnya. Sebelum jet tempur, pesawat pembom, atau drone dapat menjalankan misinya, militer harus terlebih dahulu memastikan bahwa radar dan sistem pertahanan udara musuh tidak dapat bekerja secara optimal.
Di sinilah peran pesawat perang elektronik menjadi sangat penting. Platform seperti HAVA SOJ, atau EA-37B Compass Call milik Amerika Serikat, dirancang untuk mengacaukan radar, mengganggu komunikasi, dan merusak koordinasi sistem komando musuh. Tujuannya bukan menghancurkan target secara langsung, melainkan menciptakan "koridor aman" yang memungkinkan pesawat tempur dan aset udara lainnya beroperasi dengan risiko lebih rendah.
Bagi NATO, kebutuhan akan kemampuan semacam ini semakin mendesak seiring meningkatnya ketegangan dengan Rusia di kawasan Eropa Timur. Dalam skenario konflik modern, keberhasilan operasi udara tidak hanya ditentukan oleh jumlah jet tempur yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan membutakan jaringan pertahanan lawan pada saat yang tepat.
Tantangan serupa juga muncul di kawasan Indo-Pasifik. Kemajuan sistem pertahanan udara China membuat banyak analis militer menilai bahwa peperangan elektronik akan menjadi salah satu faktor penentu dalam konflik masa depan. Semakin kuat radar dan rudal yang dikembangkan suatu negara, semakin besar pula kebutuhan akan pesawat yang mampu mengacaukan dan menipu sistem tersebut.
Karena itu, pesawat seperti HAVA SOJ bukan sekadar aset pendukung. Dalam banyak skenario peperangan modern, pesawat perang elektronik justru menjadi pembuka jalan bagi seluruh operasi udara. Tanpa mereka, bahkan jet tempur paling canggih sekalipun dapat menghadapi medan yang jauh lebih berbahaya.
Sejak radar pertama kali digunakan secara luas pada Perang Dunia II, teknologi ini telah menjadi salah satu fondasi utama peperangan modern. Siapa yang mampu melihat lebih jauh dan lebih cepat biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan menang. Namun selama puluhan tahun terakhir, sebuah perlombaan teknologi berlangsung diam-diam di balik layar: pertarungan antara radar dan sistem pengacau elektronik.
Setiap kali radar menjadi lebih canggih, para insinyur mengembangkan cara baru untuk menipunya. Sebaliknya, ketika teknologi pengacau sinyal atau jammer semakin efektif, produsen radar berlomba menciptakan sensor yang lebih tahan terhadap gangguan. Persaingan ini berlangsung terus-menerus, menciptakan siklus tanpa akhir antara kemampuan mendeteksi dan kemampuan mengelabui.
Di medan tempur modern, tujuan perang elektronik tidak selalu menghancurkan radar musuh. Dalam banyak kasus, yang lebih penting adalah membuat radar melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau gagal melihat ancaman yang nyata. Sebuah pesawat bisa tampak berada di lokasi yang salah. Sebuah rudal bisa kehilangan sasaran. Sebuah pusat komando bisa menerima gambaran situasi yang keliru hanya karena data yang masuk telah dimanipulasi.
Karena itu, perang masa depan tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki radar paling kuat. Pertanyaan yang semakin penting adalah siapa yang mampu mengendalikan informasi yang diterima radar tersebut. Dalam dunia yang dipenuhi sensor, satelit, drone, dan jaringan data, kemampuan memengaruhi persepsi lawan bisa sama berharganya dengan kemampuan menghancurkan target secara fisik.
Kemunculan platform seperti HAVA SOJ menunjukkan bahwa peperangan elektronik kini menjadi salah satu arena persaingan teknologi paling sengit di dunia. Negara-negara besar tidak hanya berlomba mengembangkan radar yang mampu mendeteksi pesawat siluman atau rudal hipersonik, tetapi juga sistem yang dapat membutakan, menipu, atau membanjiri radar tersebut dengan informasi palsu.
Apakah era radar yang tak bisa dibohongi sudah berakhir? Mungkin belum. Namun satu hal semakin jelas: di medan perang modern, melihat musuh saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa apa yang terlihat memang benar adanya. Jika tidak, kekalahan bisa terjadi bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan.
Bak Buah Simalakama, Dukungan ke Israel Buat Jerman Terdepak dari DK PBB
Kehilangan kursi yang hampir pasti di Dewan Keamanan PBB telah menyebabkan rasa malu cukup besar di kalangan diplomat Jerman.
Bukan rahasia umum, Berlin telah menang tanpa lawan atau sebagai favorit dalam semua voting sebelumnya.
Jerman merupakan penyumbang terbesar kedua untuk PBB, dan pemungutan suara terakhir dipimpin langsung oleh mantan menteri luar negerinya, Annalena Baerbock yang sekarang menjabat sebagai presiden Majelis Umum PBB.
Tapi semua kehebatan itu kandas, dalam voting untuk meraih kursi tak tetap di DK PBB.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, Baerbock cenderung melakukan kesalahan dan sangat pro-Israel. Ia terbukti lebih banyak menghambat daripada membantu.
“Selama setahun terakhir, negara-negara mengalami kemalangan menyaksikan seorang perwakilan elite politik Jerman, Annalena Baerbock, menjabat sebagai presiden Majelis Umum PBB. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil risiko lagi,” katanya di Telegram.
Setelah pemungutan suara, media Rusia memberitakan bahwa Jerman 'gagal' mengamankan kursi di Dewan Keamanan PBB dan pulang dengan 'tangan kosong'.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul—yang menyarankan bahwa Rusia harus disalahkan atas kegagalan Berlin—merasa terkejut.
"Jika Berlin begitu bertekad untuk mencari seseorang yang harus disalahkan atas kegagalannya, sebaiknya mereka bercermin saja,' kata para ahli dan jurnalis dilansir RT.
Kantor berita Rusia RG dalam sebuah artikel panjang mengenai masalah ini mengatakan, tanggung jawab khusus Jerman terhadap Israel telah lama berubah menjadi dukungan tanpa syarat, termasuk militer buat semua tindakan Zionis di Yerusalem Barat.
Dalam beberapa bulan terakhir saja, tulis catatan media itu, partai Kanselir Friedrich Merz telah mendesak Berlin untuk menghentikan pendanaan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB buat Pengungsi Palestina dan menyerukan kriteria lebih ketat yang harus dipenuhi warga Palestina untuk mendapatkan bantuan.
“Selama pemungutan suara PBB pada bulan Mei tentang bantuan untuk Palestina, perwakilan Jerman memilih untuk abstain, sedangkan Austria – yang sekarang akan bergabung dengan Dewan Keamanan PBB – memberikan suara mendukung inisiatif tersebut,” tulis media tersebut.
Disebutkan bahwa negara-negara tetangga Israel, serta negara-negara lain di Global South, melihat posisi ‘tunduk’ Jerman ini dengan sangat jelas.
"Kegagalan dalam pemungutan suara PBB adalah hasil yang dapat diprediksi dari kepercayaan diri yang berlebihan Berlin," tulis media itu.
Artyom Sokolov, seorang peneliti senior di Institut Studi Internasional MGIMO, mengatakan, dipandu oleh impian tatanan dunia unipolar berbasis nilai Barat, Jerman telah kehilangan semua kualitas yang pernah menjadikannya aktor berpengaruh di panggung dunia.
"Jerman modern tidak lagi memiliki empati, moderasi, dan keinginan untuk menyelesaikan krisis internasional dengan memahami akar penyebabnya,” kata Sokolov, menambahkan.
Pengikisan pendekatan diplomatik Jerman telah terwujud dalam konflik Ukraina dan perang di Timur Tengah.
“Saat ini, kekuatan-kekuatan yang pernah menjadikan Jerman sebagai pemain berpengaruh di panggung internasional telah terdistorsi secara signifikan, dan inilah yang menyebabkan kegagalan upaya Jerman.”
Izvestia juga menulis bahwa perkembangan ini akan memberikan pukulan serius terhadap rencana Merz dan Wadephul untuk memperluas pengaruh global Jerman dan mendorong upaya Berlin untuk mendapatkan kursi tetap di Dewan Keamanan PBB.
"Wadephul membuat seolah-olah Rusia telah menghasut negara-negara lain untuk 'menghukum' Jerman atas sikapnya yang tidak kompromi terhadap Ukraina dan Israel," kata analis Sergey Poletaev, anggota lembaga think tank Council on Foreign and Defense Policy, kepada RT.
Ia menambahkan Berlin kemungkinan mencoba mengalihkan kesalahan atas kegagalan kebijakan mereka sendiri.
“Sebagian besar negara tidak menyukai sikap Jerman yang tidak kompromi terhadap Ukraina dan Israel, dan karena itu mereka ingin melihat perwakilan Eropa yang lebih masuk akal di Dewan Keamanan, seperti Portugal dan Austria, yang telah mereka pilih,” katanya, seraya menegaskan bahwa tidak perlu menyeret Rusia ke dalam masalah ini.
“Inilah wujud isolasi internasional, Tuan Wadephul.”
Isolasi yang mengancam?
Komentator politik Jerman terkenal, Alexander Rahr, kepada surat kabar VZ Rusia berpandangan kegagalan di PBB mungkin merupakan tanda pertama bahwa penolakan Berlin terhadap multipolaritas sejati telah berbalik menjadi bumerang.
“Jerman tetap skeptis terhadap konsep tatanan dunia multipolar,” katanya,
Berlin disebut masih lebih memilih untuk mengandalkan institusi dan konsep yang terkait dengan tatanan dunia unipolar. “Di banyak negara di Global South, sikap ini semakin dipandang dengan rasa frustrasi,” tambahnya.
“Jerman… terus menekankan dukungannya yang kuat untuk Ukraina dan Israel dan tetap berkomitmen pada kebijakan luar negerinya yang berbasis nilai. Ini dapat semakin memperdalam jurang pemisah antara Jerman dan sebagian besar komunitas internasional,” kata ia memperingatkan.
China Klaim Miliki AI Terbaik untuk Rancang Material Baru, Ilmuwan Dunia Soroti Terobosannya
Tim peneliti gabungan dari sejumlah lembaga riset terkemuka di China mengumumkan peningkatan model kecerdasan buatan (AI) untuk simulasi atom generasi terbaru, DPA4. Model ini berhasil menempati peringkat pertama dalam penilaian kinerja komprehensif pada Matbench Discovery, salah satu tolok ukur internasional paling berpengaruh dalam bidang penemuan material berbasis AI.
Menurut laporan Beijing Daily pada Jumat (5/6/2026), DPA4 merupakan generasi terbaru dari model atom besar DPA yang dikembangkan untuk mensimulasikan perilaku atom dan memprediksi sifat fisik suatu material. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan melakukan eksperimen virtual dalam skala besar sebelum melakukan uji coba nyata di laboratorium.
Dalam dunia ilmu material, kemampuan memprediksi bagaimana atom berinteraksi menjadi sangat penting karena menentukan sifat suatu bahan, mulai dari daya tahan, konduktivitas listrik, hingga efisiensi penyimpanan energi. Namun simulasi semacam itu selama ini membutuhkan daya komputasi yang sangat besar.
DPA4 menawarkan terobosan pada sisi efisiensi. Li Tiancheng, mahasiswa doktoral Universitas Peking yang menjadi anggota inti tim pengembang, mengatakan model terbaru tersebut mampu mencapai tingkat akurasi yang sama dengan generasi sebelumnya, tetapi dengan efisiensi pelatihan sekitar 10 kali lebih tinggi.
"Terobosan utama DPA4 adalah kemampuannya mempertahankan akurasi tinggi dengan biaya komputasi yang jauh lebih rendah," kata Li.
Matbench Discovery sendiri merupakan papan peringkat internasional yang digunakan komunitas ilmiah untuk mengukur kemampuan model AI dalam menemukan dan merancang material baru. Posisi teratas dalam platform tersebut menunjukkan bahwa DPA4 saat ini menjadi salah satu sistem AI paling kompetitif untuk riset material.
Model ini kini mampu mensimulasikan perubahan energi dan gaya interaksi antaratom pada berbagai jenis material, mulai dari kristal anorganik hingga molekul organik berukuran kecil. Kemampuan tersebut membuka peluang penerapan di berbagai sektor strategis.
Dalam bidang energi, misalnya, DPA4 dapat membantu mempercepat pencarian material baterai yang lebih tahan lama dan berkapasitas lebih besar. Pada industri semikonduktor, teknologi ini dapat digunakan untuk menemukan material baru bagi chip generasi mendatang. Sementara dalam dunia kesehatan, simulasi atom yang lebih akurat berpotensi mempercepat proses penemuan molekul obat.
DPA4 dikembangkan oleh kolaborasi peneliti dari AI for Science Institute (AISI) Beijing, DP Technology, Universitas Peking, serta Institut Fisika Terapan dan Matematika Komputasi. Tim pengembang telah membuka versi akses awal kepada komunitas ilmiah agar para peneliti dapat mulai menguji kemampuan sistem tersebut. Adapun versi sumber terbuka penuh direncanakan akan dirilis pada tahap berikutnya.
Para peneliti menilai model DPA telah berkembang pesat dalam empat tahun terakhir. Jika sebelumnya simulasi atom berskala besar hanya dapat dilakukan oleh lembaga yang memiliki sumber daya komputasi sangat mahal, kini teknologi tersebut semakin mudah diakses.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan tidak hanya digunakan untuk menghasilkan teks atau gambar, tetapi juga mulai menjadi alat penting dalam mempercepat penemuan ilmiah. Dengan bantuan AI, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun berpotensi dipersingkat menjadi hitungan bulan, bahkan pekan.
Model atom berbasis kecerdasan buatan seperti DPA4 dapat dipahami sebagai "mesin prediksi perilaku atom". Sistem ini dirancang untuk memperkirakan bagaimana atom-atom akan berinteraksi dan membentuk suatu material, tanpa harus selalu melalui percobaan fisik yang mahal dan memakan waktu di laboratorium.
Dalam riset material konvensional, para ilmuwan sering kali harus menguji ribuan kombinasi unsur sebelum menemukan material yang memiliki sifat yang diinginkan. Proses tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan membutuhkan biaya besar. Dengan bantuan AI, jutaan kemungkinan dapat disimulasikan secara virtual dalam waktu yang jauh lebih singkat, sehingga peneliti dapat langsung memfokuskan eksperimen pada kandidat yang paling menjanjikan.
Salah satu bidang yang berpotensi merasakan dampak terbesar adalah pengembangan baterai kendaraan listrik. Melalui simulasi atom yang lebih akurat, para ilmuwan dapat mempercepat pencarian material baru yang mampu menyimpan energi lebih besar, memperpanjang usia pakai baterai, serta meningkatkan keamanan penggunaannya.
Jika berhasil diterapkan secara luas, pendekatan ini dapat membantu melahirkan baterai yang lebih awet, waktu pengisian daya yang lebih singkat, dan jarak tempuh kendaraan listrik yang lebih jauh. Karena itu, kemajuan model AI seperti DPA4 tidak hanya menjadi pencapaian di dunia komputasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi masa depan industri energi, transportasi, dan teknologi global.
Meski kemampuan AI dalam bidang sains berkembang sangat pesat, para peneliti menegaskan bahwa teknologi ini tidak akan sepenuhnya menggantikan laboratorium dan ilmuwan. AI berfungsi sebagai alat bantu yang dapat mempercepat proses penelitian, bukan menggantikan seluruh tahapan eksperimen.
Dalam pengembangan material baru, misalnya, AI dapat menyaring jutaan kemungkinan kombinasi atom dan mengidentifikasi kandidat yang paling menjanjikan. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun dapat dipangkas menjadi hitungan bulan, bahkan pekan. Namun hasil yang diperoleh AI tetap berupa prediksi berbasis model komputasi.
Karena itu, setiap temuan masih harus diuji melalui eksperimen nyata untuk memastikan material tersebut benar-benar memiliki sifat yang diperkirakan. Faktor-faktor seperti stabilitas, keamanan, daya tahan, dan kemudahan produksi hanya dapat dipastikan melalui pengujian di laboratorium.
Para ilmuwan menggambarkan peran AI sebagai "kompas" yang membantu menunjukkan arah terbaik dalam pencarian ilmiah. Dengan bantuan AI, peneliti tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mencoba ribuan kemungkinan secara acak. Sebaliknya, mereka dapat memusatkan sumber daya pada kandidat yang paling berpotensi menghasilkan terobosan baru.
Dengan kata lain, masa depan penelitian kemungkinan bukanlah laboratorium yang digantikan AI, melainkan kolaborasi yang semakin erat antara kecerdasan buatan dan para ilmuwan untuk mempercepat lahirnya inovasi di berbagai bidang, mulai dari baterai, semikonduktor, hingga penemuan obat.