News Komoditi& Global ( Jumat, 15 Mei 2026 )
News Komoditi& Global
( Jumat, 15 Mei 2026 )
Harga Emas Dunia Turun, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan Trump-Xi
Harga emas dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (14/5/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pasar juga masih menanti perkembangan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.669,48 per ons troi pada pukul 14.48 EDT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,4% ke level US$ 4.685,30 per ons troi.
Indeks dolar AS menguat sekitar 0,3%, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Di saat bersamaan, harga minyak dunia naik setelah muncul laporan mengenai tenggelamnya kapal kargo India dan penyitaan kapal lain di dekat wilayah Uni Emirat Arab yang disebut menuju perairan Iran.
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah media pemerintah Iran melaporkan kapal-kapal China melintasi Selat Hormuz.
Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, perkembangan di Selat Hormuz memperkuat harga minyak dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama di AS.
“Apa yang terjadi di Selat Hormuz hari ini menopang harga minyak dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan tetap tinggi lebih lama. Ditambah data inflasi AS yang panas pekan ini, wajar jika dolar menguat dan menekan harga emas,” ujar Grant.
Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat juga semakin memudar setelah lonjakan harga produsen dan konsumen AS pada April yang didorong kenaikan harga energi.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek menilai, harga emas masih berisiko mengalami koreksi lebih dalam apabila konflik Timur Tengah tidak segera mereda.
Menurut dia, gangguan pasokan dan keterbatasan stok energi dapat memicu kenaikan biaya energi dan inflasi lebih lanjut.
Meski emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, Xi Jinping menyampaikan kepada Trump bahwa negosiasi perdagangan AS-China menunjukkan kemajuan.
Namun, Xi juga memperingatkan bahwa perbedaan pandangan terkait Taiwan dapat mengganggu hubungan kedua negara. Pernyataan resmi pemerintah AS tidak menyinggung isu Taiwan dalam rangkuman hasil pertemuan tersebut.
Sementara itu, pemerintah India mengumumkan pembatasan impor emas maksimal 100 kilogram dalam skema advance authorization.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 4,1% menjadi US$ 84,36 per ons troi. Harga platinum melemah 3,3% ke level US$ 2.066,75, sedangkan palladium turun 3,5% menjadi US$ 1.447,73 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Menguat setelah Laporan bahwa Sejumlah Kapal Tanker kembali Melintasi Selat Hormuz
Harga minyak dunia ditutup nyaris tidak berubah pada perdagangan Kamis (14/5/2026), setelah laporan bahwa sejumlah kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global di tengah perang Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik tipis 9 sen atau 0,09% ke level US$ 105,72 per barel.
Sepanjang perdagangan, Brent sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 107,13 per barel, namun sebagian besar sesi bergerak di zona negatif.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 15 sen atau 0,15% menjadi US$ 101,17 per barel.
Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent anjlok lebih dari US$ 2 per barel dan WTI turun lebih dari US$ 1 per barel akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga AS untuk menekan inflasi.
Media pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak Rabu malam. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Gedung Putih menyatakan, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk menjamin kelancaran arus energi global.
Xi juga disebut menyampaikan bahwa visi “kebangkitan China” dan slogan “Make America Great Again” milik Trump dapat berjalan beriringan.
Chief Economist Matador Economics Tim Snyder menilai, pasar kini mempertanyakan apakah Iran mulai melonggarkan lalu lintas kapal demi menjaga hubungan strategis dengan China.
“Banyak pihak bertanya-tanya apakah Iran membiarkan kapal-kapal melintas agar posisi China yang melindungi Iran tidak terganggu dalam negosiasi,” ujarnya.
Gedung Putih juga menyebut Xi tertarik membeli lebih banyak minyak AS untuk mengurangi ketergantungan China terhadap Selat Hormuz.
Namun, China diketahui belum mengimpor minyak mentah AS sejak Mei 2025 akibat tarif impor 20% yang diberlakukan selama perang dagang.
Di sisi lain, Iran dilaporkan memperketat kontrol atas Selat Hormuz melalui kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG).
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menyebut Teheran mulai mengizinkan beberapa kapal China melintasi selat tersebut. Sebelum laporan itu muncul, sebuah supertanker China yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah Irak berhasil melintas setelah terjebak di Teluk selama lebih dari dua bulan.
Data pelacakan kapal LSEG juga menunjukkan kapal tanker berbendera Panama yang dikelola perusahaan Jepang Eneos berhasil melewati Selat Hormuz, menjadi kapal terkait Jepang kedua yang berhasil melintas.
Namun demikian, ketegangan keamanan masih membayangi kawasan tersebut. Sebuah kapal kargo India yang mengangkut ternak dari Afrika ke Uni Emirat Arab dilaporkan tenggelam di lepas pantai Oman.
Sementara itu, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan adanya “personel tidak sah” yang mengambil alih kapal di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, dan mengarahkannya menuju Iran.
Analis pasar minyak PVM Tamas Varga mengatakan, meningkatnya jumlah kapal yang diizinkan melintas lebih banyak memengaruhi sentimen pasar dibanding keseimbangan riil pasokan dan permintaan minyak.
“Hal ini mungkin membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk mendorong harga turun signifikan,” ujarnya.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan, perang Iran dan penutupan Selat Hormuz telah membawa ekonomi global menuju skenario memburuk, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia turun menjadi 2,5% pada 2026 dari 3,4% pada 2025.
Di sisi pasokan, International Energy Agency (IEA) memperkirakan suplai minyak global tahun ini tidak akan mampu memenuhi permintaan karena persediaan minyak terkuras dengan laju tercepat dalam sejarah.
Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS turun 4,3 juta barel menjadi 452,9 juta barel pada pekan yang berakhir 8 Mei, didorong peningkatan ekspor.
Wall Street Perpanjang Reli, Cermati Hasil Pertemuan Trump & Xi Jinping
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (14/5/2026), didorong reli saham teknologi di tengah optimisme pasar terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perhatian investor pada pertemuan penting Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Mengutip Reuters, ketiga indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi baru, melanjutkan tren penguatan dalam beberapa sesi terakhir.
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup hanya sekitar 0,3% di bawah rekor penutupan tertinggi sepanjang masa yang tercapai pada 10 Februari lalu.
Secara rinci, indeks Dow Jones naik 370,26 poin atau 0,75% ke level 50.063,46. Indeks S&P 500 menguat 56,99 poin atau 0,77% ke level 7.501,24, sedangkan Nasdaq Composite naik 232,88 poin atau 0,88% ke level 26.635,22.
Sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan indeks S&P 500, sementara sektor material mencatat penurunan terdalam.
“Semua orang bertanya sampai kapan reli ini akan berlangsung. Banyak investor menikmati reli ini, tetapi di saat yang sama juga mulai waswas,” ujar Senior Portfolio Manager Dakota Wealth Robert Pavlik.
Menurut dia, investor tidak bisa hanya menunggu di pinggir pasar ketika indeks terus mencetak rekor tertinggi baru.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping menjadi perhatian utama pasar karena membahas berbagai isu strategis, mulai dari perdagangan, penjualan senjata AS ke Taiwan, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
Trump hadir bersama sejumlah petinggi perusahaan teknologi besar, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang.
Saham Nvidia melonjak 4,4% setelah pemerintah AS mengizinkan penjualan chip H200 milik perusahaan tersebut ke perusahaan-perusahaan China.
“Kami senang melihat kedua pemimpin menunjukkan nada kolaboratif dan berharap itu berlanjut menjadi kesepakatan jangka panjang,” ujar Portfolio Manager Founder ETFs Michael Monaghan.
Dari sisi ekonomi, data penjualan ritel AS tercatat sesuai ekspektasi pasar. Namun, kenaikan tersebut sebagian besar ditopang lonjakan harga bensin akibat perang Iran, yang juga mendorong kenaikan harga impor terbesar sejak Oktober 2022.
Serangkaian data inflasi pekan ini memunculkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat menyebar ke barang dan jasa lain, sehingga memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh bank sentral AS atau Federal Reserve.
Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid menyebut inflasi masih menjadi risiko paling mendesak bagi ekonomi AS meskipun kondisi ekonomi dinilai tetap tangguh.
Selain Nvidia, saham perusahaan semikonduktor dan AI lainnya bergerak bervariasi. Saham Qualcomm, Intel, Sandisk, dan Micron justru terkoreksi antara 3,4% hingga 6,1%.
Saham Cisco melonjak 13,4% hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa setelah perusahaan mengumumkan pemutusan hubungan kerja hampir 4.000 karyawan dan menaikkan proyeksi pendapatan tahunan.
Di sisi lain, saham Boeing turun 4,7% meski Trump menyebut China setuju membeli 200 pesawat Boeing.
Sementara itu, saham perusahaan chip AI Cerebras melesat 68,2% pada debut perdagangannya di bursa AS.
Iran Izinkan Kapal China Lintasi Selat Hormuz
Iran dilaporkan mengizinkan sejumlah kapal China melintasi Selat Hormuz, Kamis (14/5/2026). Ini setelah tercapai koordinasi diplomatik dan kesepahaman terkait aturan pengelolaan jalur laut strategis tersebut oleh Teheran.
Kantor berita Fars News Agency melaporkan, keputusan itu diambil setelah komunikasi intensif antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan duta besar Beijing di Teheran. Mengutip sumber yang mengetahui persoalan itu, Fars menyebut pejabat Iran dan China mencapai pemahaman bersama mengenai kerangka aturan Iran terkait lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Sumber tersebut memastikan proses pelayaran kapal-kapal China yang telah mendapat izin mulai berlangsung sejak semalam. Pejabat Iran disebut memandang pengaturan itu sebagai bagian dari protokol internal Republik Islam untuk mencegah apa yang mereka anggap sebagai eksploitasi politik terhadap arti strategis Selat Hormuz.
Laporan itu juga menyebut langkah tersebut mencerminkan “pengelolaan cerdas dan presisi” Iran terhadap salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Dalam perkembangan terkait, televisi pemerintah Iran melaporkan sebanyak 30 kapal melintasi Selat Hormuz sejak malam sebelumnya di bawah pengawasan angkatan laut Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Otoritas Iran berulang kali memperingatkan bahwa hanya jalur pelayaran yang ditetapkan Teheran yang dianggap aman untuk dilintasi. Komando Angkatan Laut Iran menegaskan kapal yang menyimpang dari rute yang telah disetujui dapat menghadapi “respons tegas”.
Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk pascaperang Amerika Serikat-Israel melawan Iran serta sengketa terkait kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Perkembangan terbaru ini terjadi sehari setelah kapal tanker raksasa berbendera China terpantau melintasi Selat Hormuz.
Data pelayaran MarineTraffic menunjukkan kapal tanker Yuan Hua Hu bergerak ke arah timur melalui selat tersebut pada Rabu dini hari sebelum sinyal pelacakannya menghilang beberapa jam kemudian.
Hilangnya sinyal itu memicu spekulasi bahwa sistem identifikasi otomatis kapal sengaja dimatikan di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Catatan pelayaran menunjukkan kapal tersebut sebelumnya sempat berlabuh di pelabuhan Asaluyeh, Iran, pada 28 Februari lalu, hari pertama perang pecah. Kapal itu juga tercatat tetap aktif beroperasi di kawasan Teluk selama konflik berlangsung.
Pelabuhan terakhir yang tercatat disinggahi kapal tersebut sebelum pelayaran terbaru adalah Uni Emirat Arab pada Maret lalu.
China hingga kini tetap menjadi importir terbesar minyak mentah Iran meski Washington menjatuhkan sanksi besar terhadap sektor energi Teheran.
Beijing berulang kali menolak sanksi sepihak Amerika Serikat terhadap Iran dan belakangan bergerak mencegah entitas China mematuhi pembatasan AS terhadap kilang yang membeli minyak Iran.
Perkembangan maritim itu bertepatan dengan kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap gangguan di Selat Hormuz dan melonjaknya harga energi dunia.
Pejabat AS diperkirakan akan menekan China agar menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran demi membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta mendukung kerangka gencatan senjata yang dapat diterima Washington.
Namun China semakin keras mengkritik apa yang mereka sebut sebagai peran destabilisasi Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Di saat bersamaan, Beijing terus mendorong deeskalasi kawasan dan stabilitas ekonomi.
Aktivitas maritim China yang kembali meningkat dinilai memperlihatkan makin besarnya irisan antara krisis Teluk dan persaingan strategis Amerika Serikat-China, terutama terkait keamanan energi, penerapan sanksi, dan pengaruh geopolitik di Timur Tengah.
Israel Gugat NYT Karena Ungkap Kebiasaan IDF Perkosa Tahanan Palestina
Israel bersiap menempuh jalur hukum terhadap harian Amerika Serikat, The New York Times (NYT). Ini setelah surat kabar tersebut menerbitkan laporan mengenai dugaan pemerkosaan tahanan Palestina dalam tahanan Israel.
Yang memicu kegeraman Israel sedianya ditaruh the Times di kolom opini, hal yang berbeda dengan tudingan serupa terhadap Hamas yang ditaruh di halaman depan. Namun isi tulisan jurnalis perang kawakan Nicholas Kristof itu sesuai kaidah laporan jurnalistik.
Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan rencana gugatan melalui platform X pada Kamis. Gugatan itu dilayangkan setelah The New York Times menolak mencabut laporan tersebut.
“Laporan opini Nicholas Kristof diawali dengan pernyataan kepada pembaca: ‘Apapun pandangan kita mengenai konflik Timur Tengah, kita seharusnya bisa bersatu mengecam pemerkosaan’,” ujar juru bicara The New York Times.
Artikel Kristof memuat kesaksian memilukan mengenai dugaan kekerasan seksual yang dilakukan tentara Israel terhadap tahanan Palestina. Kesaksian itu mencakup dugaan penyiksaan seksual menggunakan anjing, pemerkosaan dengan benda asing seperti tongkat dan wortel, hingga luka serius pada korban.
Para politikus dan influencer Israel kemudian menuduh The New York Times menyebarkan “blood libel”, yakni tuduhan antisemit klasik yang pada masa Eropa abad pertengahan kerap digunakan untuk membenarkan pembantaian terhadap orang Yahudi.
Kementerian Luar Negeri Israel menyebut laporan tersebut sebagai “salah satu kebohongan paling keji dan terdistorsi” yang pernah dipublikasikan media modern terhadap negara Israel.
“Atas instruksi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar, langkah gugatan pencemaran nama baik terhadap The New York Times akan segera dimulai,” demikian pernyataan kementerian itu.
Laporan serupa sebelumnya juga diungkap Middle East Eye bulan lalu melalui dokumen berjudul “Sexual Violence and Forcible Transfer in the West Bank: How the Exploitation of Gender Dynamics Drives Displacement” yang diterbitkan West Bank Protection Consortium.
Kelompok tersebut mendokumentasikan sedikitnya 16 kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pemukim dan tentara Israel.
Dalam artikelnya, Kristof menulis bahwa dana pajak Amerika Serikat ikut membiayai aparat keamanan Israel sehingga Washington dinilai turut terlibat secara tidak langsung dalam kekerasan seksual tersebut.
Artikel itu dibuka dengan wawancara seorang jurnalis Palestina yang mengaku direkam ketika mengalami kekerasan seksual oleh tentara Israel laki-laki dan perempuan menggunakan tongkat karet.
Jurnalis Palestina berusia 46 tahun bernama Sami al-Sai itu mengaku alat vitalnya diremas sangat keras hingga ia berteriak meminta tentara menghentikan tindakan tersebut.
Kristof juga menyoroti bahwa dehumanisasi terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun dinilai menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kekerasan itu terjadi.
Ia menilai jumlah kasus sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar karena korban kekerasan seksual di masyarakat Palestina yang konservatif sering enggan berbicara secara terbuka akibat stigma sosial.
Sebagian besar korban yang diwawancarai Kristof menolak identitas mereka dipublikasikan. Namun menurutnya, pola kesaksian yang muncul menunjukkan adanya persoalan sistematis.
Kristof turut mengutip berbagai laporan organisasi nonpemerintah yang mendokumentasikan dugaan kekerasan seksual oleh aparat Israel, di antaranya Euro-Med Monitor, Save the Children, Committee to Protect Journalists, dan B’Tselem.
Ia juga mewawancarai pengacara Israel yang mengakui bahwa praktik kekerasan seksual terhadap warga Palestina terjadi secara luas.
Jepang Hingga Israel Gigit Jari, Mengapa AS Sangat Protektif Jaga Rahasia F-22 Raptor?
Ada banyak jet tempur canggih di dunia. Tetapi hanya sedikit pesawat yang begitu dijaga rahasianya seperti Lockheed Martin F-22 Raptor. Bahkan hingga hari ini, Amerika Serikat tetap menolak menjual F-22 kepada negara lain, termasuk sekutu dekatnya sendiri seperti Jepang, Australia, dan Israel.
Keputusan itu membuat F-22 menjadi sesuatu yang unik dalam dunia militer modern: salah satu pesawat paling canggih di dunia, tetapi hampir mustahil dimiliki selain oleh Angkatan Udara Amerika Serikat.
Larangan ekspor F-22 sebenarnya sudah dimulai sejak 1998 melalui aturan yang dikenal sebagai Amandemen Obey. Kongres AS saat itu memutuskan bahwa teknologi yang dimiliki F-22 terlalu sensitif untuk dilepas ke luar negeri.
Padahal, minat terhadap pesawat ini sangat besar. Australia pernah mencoba mendapatkannya pada 2008 ketika program F-35 masih dipenuhi masalah biaya dan keterlambatan produksi.
Jepang bahkan sempat mempertimbangkan membeli hingga 50 unit F-22 untuk menggantikan armada F-4 mereka yang sudah tua. Israel juga tertarik. Namun semuanya ditolak, sebagaimana diberitakan National Security Journal dan sejumlah media pertahanan.
Jawabannya bukan hanya soal bisnis senjata, tetapi soal rahasia teknologi. F-22 dirancang pada era Perang Dingin, ketika Amerika ingin menciptakan pesawat yang mampu menguasai langit bahkan sebelum musuh sadar sedang diburu. Karena itu, pesawat ini dibangun dengan teknologi yang sangat maju untuk masanya, bahkan sebagian masih dianggap unggul hingga sekarang.
Sederhananya, pesawat yang bisa melihat lawan lebih dulu biasanya akan menang lebih dulu. F-22 juga mampu terbang lebih dari dua kali kecepatan suara atau Mach 2. Yang membuatnya lebih istimewa, ia bisa tetap melaju supersonik tanpa afterburner melalui teknologi yang disebut supercruise. Ini penting karena afterburner menghasilkan panas besar yang mudah dideteksi sensor musuh.
Pesawat ini menggunakan dua mesin Pratt & Whitney F119 yang dipadukan dengan thrust vectoring, teknologi yang memungkinkan arah dorongan mesin berubah saat bermanuver. Hasilnya, F-22 dapat bergerak sangat lincah di udara, bahkan dalam situasi dogfight atau pertempuran jarak dekat.
Dalam persenjataan, F-22 membawa misil AIM-120 AMRAAM untuk jarak jauh, AIM-9 Sidewinder untuk jarak dekat, bom JDAM, serta meriam Vulcan 20 mm. Sebagian besar senjata ditempatkan di dalam badan pesawat agar bentuk stealth-nya tetap terjaga.
Meski sering dibandingkan dengan Lockheed Martin F-35 Lightning II, sebenarnya kedua pesawat ini dibuat untuk tujuan berbeda.
F-22 lebih fokus menjadi “pemburu udara”, dirancang untuk mengalahkan pesawat musuh dan menguasai wilayah udara. Sedangkan F-35 dibuat sebagai jet multirole yang lebih fleksibel: bisa menyerang darat, melakukan perang elektronik, berbagi data digital antar pasukan, hingga mendukung operasi gabungan modern.
Karena itu, banyak analis menilai F-22 masih lebih unggul dalam duel udara murni, sementara F-35 lebih unggul dalam perang jaringan modern.
Salah satu kemampuan paling menakutkan dari Lockheed Martin F-22 Raptor adalah teknologi stealth atau silumannya. F-22 tidak dibuat sekadar untuk terbang cepat atau membawa banyak senjata, tetapi dirancang agar musuh bahkan tidak sadar bahwa ia sedang berada di udara.
Kemampuan siluman F-22 bekerja melalui kombinasi bentuk pesawat, material khusus, hingga cara pesawat itu memantulkan gelombang radar.
Bentuk badan F-22 dipenuhi sudut-sudut tajam dan garis tertentu yang dirancang untuk membelokkan pantulan radar ke arah lain, bukan kembali ke radar musuh. Karena itu, sinyal radar yang diterima lawan menjadi sangat kecil. Banyak analis pertahanan menyebut radar cross section F-22 sangat rendah, bahkan sering dianalogikan “sekecil bola logam” dibanding ukuran asli pesawatnya yang besar.
Selain bentuk, permukaan F-22 dilapisi radar absorbent material (RAM), material khusus yang mampu menyerap sebagian gelombang radar sehingga pantulannya makin kecil. Teknologi ini membuat F-22 jauh lebih sulit dilacak dibanding jet tempur generasi sebelumnya.
Keunggulan lain ada pada desain persenjataannya. Misil dan bom F-22 disimpan di dalam badan pesawat, bukan digantung di sayap seperti jet tempur biasa. Dalam perang udara modern, senjata eksternal dapat memantulkan radar dan membuat pesawat lebih mudah terlihat. Dengan menyimpan senjata di internal weapon bay, profil siluman F-22 tetap terjaga bahkan saat membawa persenjataan lengkap.
Mesin F-22 juga dirancang untuk mengurangi jejak panas inframerah yang biasanya dapat dideteksi sensor musuh. Nozzle mesinnya dibuat khusus untuk membantu menurunkan tanda panas dan mengurangi peluang terkunci oleh misil pencari panas.
Karena kombinasi teknologi itu, F-22 dirancang untuk menjalankan konsep yang sering disebut militer AS sebagai: First look, first shot, first kill, sebagaimana diberitakan kantor berita Barat.
Artinya, F-22 diharapkan bisa melihat musuh lebih dulu melalui sensornya, menembak lebih dulu sebelum terdeteksi, lalu keluar dari area tempur bahkan sebelum lawan memahami dari mana serangan datang.
Dalam praktiknya, kemampuan ini membuat F-22 sangat berbahaya dalam pertempuran Beyond Visual Range (BVR) atau pertempuran jarak jauh modern, ketika pesawat lawan bisa dihancurkan bahkan sebelum pilot sempat melihat musuh secara langsung.
Kekuatan utama F-22 bukan terletak pada dogfight jarak dekat, melainkan pada kemampuannya “menghilang” di langit sambil tetap mematikan.
F-22 juga sering dibandingkan dengan jet Rusia seperti Sukhoi Su-57 dan Su-35. Namun hingga kini belum pernah ada pertempuran langsung antara F-22 dan pesawat tempur generasi kelima Rusia, sehingga banyak perbandingan masih bersifat analisis di atas kertas.
Menariknya, meski sangat terkenal, jumlah F-22 sebenarnya cukup sedikit. Amerika hanya memproduksi 187 unit sebelum jalur produksinya dihentikan pada 2011 karena biaya yang sangat mahal.
Biaya operasional dan teknologi yang terlalu sensitif membuat Amerika akhirnya memilih mempertahankan F-22 hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan sekutu dekat pun dianggap belum cukup aman untuk memegang teknologi tersebut dalam jangka panjang. Amerika khawatir teknologi F-22 bisa bocor melalui spionase, rekayasa balik, atau jatuh ke tangan lawan jika terjadi konflik.
Dalam operasinya, F-22 pertama kali digunakan tempur saat menyerang ISIS di Suriah dan Irak pada 2014. Pesawat ini dipakai untuk serangan presisi dan menjaga dominasi udara koalisi AS.
F-22 juga rutin diterbangkan di kawasan sensitif seperti Eropa Timur, Alaska, dan Pasifik untuk menghadapi meningkatnya tensi dengan Rusia dan China. Pada 2023, F-22 bahkan menjadi sorotan dunia setelah menembak jatuh balon pengintai China di lepas pantai Carolina Utara menggunakan misil AIM-9X.
Pesawat tempur ini bukan sekadar untuk superioritas udara. Ia adalah simbol bagaimana teknologi militer modern bukan hanya tentang senjata, tetapi juga tentang informasi, kerahasiaan, dan siapa yang menguasai langit sebelum perang benar-benar dimulai.
Saudi Usulkan Pakta Nonagresi Timur Tengah dan Iran
Arab Saudi dilaporkan mengusulkan pakta nonagresi antara Iran dan negara-negara Timur Tengah. Rencananya, pakta itu bakal mencontoh kesepakatan era Perang Dingin di Eropa pada 1970-an.
Laporan itu diungkap Financial Times pada Kamis. Upaya Riyadh tersebut disebut telah mendapat dukungan dari sejumlah ibu kota negara Eropa serta institusi Uni Eropa. Namun belum jelas apakah Israel dan Amerika Serikat akan mendukung gagasan itu.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) justru mengambil posisi lebih keras terhadap Iran dan bergerak semakin dekat dengan Israel sejak serangan Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Arab Saudi disebut memodelkan kerangka pakta tersebut berdasarkan Helsinki Accords 1975, yakni kesepakatan yang ditandatangani Uni Soviet dan sekutunya bersama Amerika Serikat serta negara-negara Eropa.
Perjanjian itu kala itu membantu meredakan ketegangan Perang Dingin dengan menetapkan pengakuan bersama terhadap batas wilayah Eropa pasca-Perang Dunia II. Negara-negara penandatangan juga sepakat menghormati hak asasi manusia dan bekerja sama dalam bidang ekonomi, sains, serta kemanusiaan.
Seorang diplomat Arab mengatakan kepada Financial Times bahwa kesepakatan serupa untuk Timur Tengah akan disambut baik “oleh sebagian besar negara Arab dan Muslim, termasuk Iran”.
Menuju Damai di Timur Tengah
Sebelumnya, Teheran memang telah meminta negara-negara Teluk menutup pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Namun Israel diperkirakan akan menolak setiap perjanjian formal yang bertujuan meredakan ketegangan antara negara-negara Arab dan Iran. Sikap Washington terhadap usulan itu juga belum diketahui.
Salah satu persoalan sensitif yang belum jelas penyelesaiannya adalah terkait Selat Hormuz. Iran ingin mempertahankan pengaruhnya atas jalur laut strategis tersebut dan bahkan telah menerapkan sistem navigasi sendiri, termasuk pungutan biaya bagi kapal yang melintas.
Laporan itu juga mengungkap bahwa Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk sebenarnya sempat melobi Amerika Serikat agar tidak menyerang Iran. Salah satu alasannya, mereka khawatir perang justru membuat Iran semakin keras meski mengalami kerusakan besar, sementara pemerintahan Republik Islam tetap bertahan.
Kekhawatiran itu tampaknya sejalan dengan laporan CIA yang menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar arsenal rudal balistiknya sebelum perang. Pemerintah Iran juga dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.
Negara-negara Teluk sendiri terpecah dalam menyikapi konflik tersebut. Meski berupaya mencegah perang, Iran tetap menggempur kawasan Teluk dengan ribuan drone dan rudal.
Pada saat bersamaan, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut melobi negara-negara Teluk agar ikut terlibat dalam perang melawan Iran.
Reuters pekan ini melaporkan Arab Saudi sempat melancarkan serangan terhadap Iran pada Maret lalu. UEA juga disebut melakukan serangan, tetapi Abu Dhabi mengambil pendekatan yang jauh lebih agresif dibanding Riyadh.
Arab Saudi, misalnya, mendukung upaya mediasi yang dilakukan Pakistan untuk membuka jalur diplomasi antara AS dan Iran. Namun langkah itu ditentang UEA. Hingga kini, pembicaraan antara Washington dan Teheran yang dimediasi Pakistan dilaporkan masih mandek.
Perbedaan sikap juga terlihat dalam hubungan dengan Israel. Kalangan yang dekat dengan keluarga kerajaan Saudi beberapa kali melontarkan kritik terhadap Israel. Sebaliknya, UEA justru bergerak semakin dekat dengan Tel Aviv.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan bahwa Israel sempat mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome ke UEA selama perang berlangsung.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengklaim Netanyahu melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang. Namun pemerintah Abu Dhabi membantah kunjungan tersebut pernah terjadi.
Dalam wawancara dengan Republika beberapa waktu lalu, Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan serangan AS-Israel ke Iran akan berdampak besar di kawasan. “Amerika kehilangan kredibilitas, karena datang untuk memenangkan perang singkat, namun justru menjadi pihak yang kalah,” ujarnya.
Ia berpandangan banyak negara Arab dan Islam kini sedang meninjau kembali hubungan mereka, baik dalam hal normalisasi dengan rezim Zionis maupun hubungan dengan Amerika yang sebelumnya dianggap menjamin keamanan mereka.
“Negara-negara Arab kini memahami bahwa pangkalan Amerika bukan untuk melindungi mereka, melainkan mereka yang justru melindungi pangkalan tersebut.”
Hal ini mendorong mereka untuk berpikir ulang mengenai hubungan mereka dengan negara-negara tersebut, dan kemungkinan akan mengarah pada upaya negara-negara Islam untuk lebih memikirkan keamanan mereka sendiri dalam menghadapi rezim Zionis dan tindakan sepihak.
Gagasan seperti NATO Islam, ujarnya mungkin belum jelas bentuknya, namun yang pasti banyak negara Islam mulai memikirkan pakta pertahanan di dalam kawasan dan dunia Islam.
“Jika hasil dari perang ini adalah meningkatnya kesadaran Islam, maka itu tentu merupakan hasil yang baik," kata dia
Ben Gvir Kembali Nodai al-Aqsa
Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis petang di bawah pengawalan ketat aparat keamanan Israel.
Kantor berita WAFA menyebut Ben-Gvir mengibarkan bendera Israel di dalam kompleks Al-Aqsa serta melakukan tindakan dan tarian provokatif saat memasuki kawasan tersebut. Aksi itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya serbuan pemukim Israel ke kompleks masjid dalam peringatan yang mereka sebut sebagai “Hari Yerusalem”.
Di saat bersamaan, pasukan Israel menutup kawasan Bab al-Sahira di Yerusalem Timur yang diduduki dengan pengerahan besar polisi menjelang pawai bendera Israel di Kota Tua.
Para pemukim juga terlihat melakukan tarian dan aksi provokatif di lingkungan permukiman serta pasar-pasar kota sebelum pawai dimulai.
Ribuan pemukim Israel pada Kamis malam mengikuti “Flag March” atau Pawai Bendera yang dinilai provokatif. Massa menyerbu kawasan Gerbang Damaskus, salah satu pintu utama menuju Kota Tua Yerusalem, di bawah perlindungan ketat polisi Israel.
Pawai itu dihadiri sejumlah menteri dan anggota Knesset dari koalisi pemerintahan Israel, termasuk Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Sejumlah pejabat polisi, militer, dan politikus ekstrem kanan Israel juga turut hadir.
Para peserta mengibarkan bendera Israel serta membawa spanduk bernada rasis yang menyerukan kematian bagi warga Arab dan ancaman pembangunan “kuil” Yahudi di lokasi Masjid Al-Aqsa.
Menurut saksi mata, para pemukim menyerang sejumlah warga Palestina dan jurnalis di lokasi dengan meludahi, melontarkan hinaan verbal, serta menari sambil mengibarkan bendera Israel.
Pasukan Israel juga menempatkan penembak jitu di tembok sekitar Gerbang Damaskus dan menyebar besar-besaran di jalan-jalan Yerusalem serta gang-gang Kota Tua. Warga menyebut kawasan itu berubah menjadi zona militer dengan dalih pengamanan pawai.
Polisi Israel turut membatasi pergerakan warga Palestina di Kota Tua dan memaksa pemilik toko menutup usaha mereka demi memberikan ruang bagi peserta pawai.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh Ben-Gvir yang berlangsung bersamaan dengan “Flag March”.
Amman juga mengutuk tindakan provokatif para pemukim ekstremis yang mengibarkan bendera Israel di dalam kompleks masjid di bawah perlindungan polisi Israel serta menghalangi jamaah memasuki kawasan suci tersebut.
Dalam pernyataannya pada Kamis, Kementerian Luar Negeri Yordania menegaskan tindakan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan status historis serta hukum yang berlaku di Yerusalem.
Yordania menegaskan Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk situs-situs suci Islam dan Kristen di kota tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Duta Besar Fuad Al-Majali, menegaskan negaranya menolak keras serbuan berulang para menteri Israel, pejabat pemerintah, dan pemukim ekstremis ke Masjid Al-Aqsa. Ia juga mengecam pembatasan terhadap jamaah Palestina untuk memasuki masjid.
Menurut Al-Majali, tindakan Israel merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional serta dianggap sebagai upaya menciptakan realitas baru di Al-Aqsa, termasuk pembagian kawasan masjid secara waktu dan wilayah.
Yordania memperingatkan dampak berbahaya dari pelanggaran yang terus meningkat dan mendesak komunitas internasional mengambil sikap tegas untuk memaksa Israel menghentikan pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem.
Amman kembali menegaskan seluruh area Masjid Al-Aqsa seluas 144 dunam merupakan tempat ibadah eksklusif bagi umat Islam.
Yordania juga menekankan bahwa Departemen Wakaf Yerusalem yang berada di bawah Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Yordania merupakan satu-satunya otoritas sah yang berwenang mengelola Masjid Al-Aqsa dan mengatur akses masuk ke kawasan tersebut.
Bantah Israel, Cendikawan Emirat: Penjahat Perang Benjamin Netanyahu tak Diterima di Tanah UEA
Cendekiawan Emirat Abdulkhaleq Abdulla menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai 'penjahat perang' yang sama sekali tidak diterima di Uni Emirat Arab. Pernyataan itu ditegaskan setelah kementerian luar negeri negara itu mengeluarkan pernyataan yang membantah bahwa Netanyahu pernah mengunjungi penguasa UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan.
Netanyahu lewat kantornya mengaku melakukan kunjungan 'rahasia' ke UEA pada bulan Maret, di tengah perang AS-Israel melawan Iran.
"Tidak ada sambutan sama sekali bagi seorang penjahat perang dan pembunuh anak-anak Gaza di tanah suci Emirat," tulis Abdulla, yang merupakan peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute di Washington, DC, di X pada hari Kamis.
"Kunjungan yang dibicarakan Netanyahu adalah rekayasa dari imajinasinya yang sakit, dan sudah diketahui bahwa dia adalah pembohong ulung yang menyebarkan kebohongan ini untuk melayani tujuan elektoral yang oportunistik."
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan bahwa hubungan UEA dengan Israel bersifat publik dan dijalankan dalam kerangka Kesepakatan Abraham yang terkenal dan diumumkan secara resmi. Hubungan tidak didasarkan pada pengaturan yang tak transparan atau bukan resmi.
Baik sumber Israel maupun Arab mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pertemuan antara Netanyahu dan Mohammed bin Zayed berlangsung pada 26 Maret di Al-Ain, sebuah kota oasis di perbatasan Oman.
Pada 27 Maret, sehari setelah pertemuan, Avi Scharf, editor intelijen sumber terbuka dan keamanan nasional Haaretz, memposting di media sosial bahwa dua jet bisnis Israel yang terkadang digunakan untuk penerbangan VVIP khusus telah mendarat di Al-Ain dan terbang kembali ke Israel empat jam kemudian, pada malam 26 Maret.
Pelacakan penerbangan lebih lanjut mengkonfirmasi bahwa dua jet bisnis telah terbang dari Tel Aviv ke Al-Ain, berangkat dari kota Israel tersebut pada sore hari dan kembali pada malam harinya.
UEA adalah negara Teluk pertama yang menandatangani Perjanjian Abraham dengan Israel pada tahun 2020, di bawah pemerintahan Trump pertama, dan berbagi banyak proyek militer dan intelijen bersama dengan Israel dan AS.
Sejak 28 Februari, perang AS-Israel melawan Iran telah semakin mempererat hubungan antara UEA dan Israel, sekaligus memperketat hubungan.
UEA sejauh ini belum membantah bahwa Israel mengirimkan baterai pertahanan udara Iron Dome, beserta tentara untuk mengoperasikannya, ke UEA di tengah perang melawan Iran. Kabar pengiriman itu telah dikonfirmasi oleh duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada Selasa dalam sebuah wawancara.
“Israel baru saja mengirimkan baterai Iron Dome dan personel untuk membantu pengoperasiannya ke UEA. Mengapa demikian? Karena ada hubungan luar biasa antara UEA dan Israel berdasarkan Perjanjian Abraham,” kata Huckabee dalam sebuah acara di Tel Aviv, merujuk pada perjanjian tahun 2020 di mana UEA menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Komentar Huckabee menandai konfirmasi resmi pertama tentang bantuan yang diberikan Israel kepada UEA di tengah perang melawan Iran.
Axios melaporkan bulan lalu bahwa Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke negara Teluk tersebut, beserta personel untuk mengoperasikannya. Financial Times kemudian melaporkan bahwa Israel juga mengirimkan sistem pertahanan laser Iron Beam ke UEA untuk melindungi dari drone dan rudal Iran.
Bisa Gotong Semua Jenis Rudal, Ini Ngerinya Kapal Perang Siluman Rusia, AL Amerika Wajib Waspada
Rusia kembali mengirim sinyal keras dalam persaingan militer global setelah memulai pembangunan fregat siluman terbaru Project 22350 bernama Admiral Gromov di Galangan Kapal Severnaya Verf, St. Petersburg.
Kapal perang generasi baru ini disebut mampu membawa hampir seluruh jenis rudal utama Angkatan Laut Rusia, termasuk rudal hipersonik Zircon yang ditakuti Barat.
Panglima Angkatan Laut Rusia Laksamana Alexander Moiseyev mengatakan fregat Project 22350 telah membuktikan diri sebagai kapal perang yang andal dengan kemampuan serangan, pertahanan, dan pencarian yang kuat.
“Fregat-fregat ini dilengkapi untuk membawa seluruh jenis rudal yang saat ini digunakan Angkatan Laut Rusia,” kata Moiseyev dalam upacara peletakan lunas kapal tersebut.
Admiral Gromov merupakan kapal kesembilan dalam keluarga Project 22350 atau Admiral Gorshkov-class, yang kini menjadi salah satu proyek modernisasi armada laut paling strategis Rusia di tengah meningkatnya rivalitas dengan NATO dan Barat.
Berbeda dengan kapal perang Rusia era Soviet yang cenderung besar dan spesifik fungsi, Project 22350 dirancang sebagai kapal tempur multirole modern: mampu menyerang target laut dan darat, bertahan dari serangan udara, memburu kapal selam, hingga mendukung operasi jarak jauh di samudra terbuka.
Secara spesifikasi, Admiral Gromov diperkirakan memiliki panjang sekitar 135 meter dengan bobot penuh sekitar 5.400 ton. Kapal ini menggunakan sistem propulsi CODAG gabungan mesin diesel dan turbin gas yang menghasilkan tenaga sekitar 65.000 shp, memungkinkan kecepatan hingga 30 knot dan operasi laut selama sekitar 30 hari tanpa kembali ke pangkalan.
Salah satu aspek paling menonjol dari kapal ini adalah desain stealth atau silumannya. Bentuk badan kapal dan superstruktur dibuat untuk mengurangi pantulan radar, sementara emisi panas dan sinyal elektronik ditekan agar lebih sulit terdeteksi sensor lawan. Dalam perang laut modern, kemampuan “menghilang” dari radar menjadi sama pentingnya dengan kekuatan senjata.
Namun kekuatan utama Admiral Gromov terletak pada persenjataannya. Kapal ini dirancang mampu membawa rudal hipersonik 3M22 Zircon yang diklaim mampu melesat hingga Mach 8–9 dengan jangkauan sekitar 1.000 kilometer. Kecepatan ekstrem tersebut membuat waktu reaksi lawan sangat pendek dan menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara modern.
Selain Zircon, Admiral Gromov juga kompatibel dengan rudal jelajah Kalibr yang telah digunakan Rusia dalam operasi di Suriah dan Ukraina. Rudal ini mampu menghantam kapal perang, pangkalan militer, hingga infrastruktur darat jarak jauh melalui sistem peluncur vertikal atau Vertical Launch System (VLS).
Kapal tersebut juga dapat membawa rudal supersonik P-800 Oniks untuk peperangan anti-kapal. Rudal ini dirancang terbang rendah di atas permukaan laut dengan kecepatan tinggi untuk menghindari radar dan menghantam kapal perang besar.
Di sektor pertahanan udara, Admiral Gromov menggunakan sistem Poliment-Redut dengan radar phased-array modern. Sistem ini dirancang menghadapi jet tempur, drone, hingga rudal jelajah dan disebut membawa sekitar 32 sel VLS pertahanan udara.
Kapal ini juga dilengkapi meriam A-192M 130 mm, torpedo Paket-NK, sonar anti-kapal selam, serta hanggar helikopter Kamov Ka-27 untuk operasi pengintaian dan peperangan anti-kapal selam.
Bagi Moskow, Project 22350 bukan sekadar program kapal perang baru. Kehadiran Admiral Gromov mencerminkan ambisi Rusia membangun kembali kekuatan lautnya pasca-era Soviet, sekaligus menunjukkan bahwa Moskow masih mampu mengembangkan platform tempur modern di tengah sanksi Barat dan tekanan perang Ukraina.
Saat ini, tiga fregat Project 22350 telah ditempatkan dalam armada Northern Fleet Rusia. Dengan hadirnya Admiral Gromov, Rusia tampaknya ingin memperkuat kemampuan tempur lautnya untuk menghadapi persaingan geopolitik yang semakin keras di Atlantik Utara, Arktik, hingga Indo-Pasifik.
Di balik dinginnya Arktik dan gelombang gelap Atlantik Utara, berlangsung salah satu persaingan militer paling senyap sekaligus paling berbahaya di dunia: perebutan kendali bawah laut antara Rusia dan NATO.
Bagi Moskow, kawasan Arktik bukan sekadar wilayah es. Kawasan itu adalah benteng strategis utama bagi armada kapal selam nuklir Rusia, terutama Northern Fleet atau Armada Utara yang bermarkas di Severomorsk dekat Laut Barents.
Armada inilah yang menjadi pusat kekuatan laut paling penting Rusia.
Sebagian besar kapal selam nuklir strategis Rusia, termasuk pembawa rudal balistik nuklir, beroperasi dari kawasan tersebut. Dari sana, kapal selam Rusia dapat bergerak diam-diam menuju Atlantik Utara dan menciptakan ancaman langsung terhadap Eropa maupun Amerika Utara.
Karena itu, NATO memandang Northern Fleet sebagai salah satu elemen paling kritis dalam doktrin nuklir Rusia.
Dalam skenario perang besar, kapal selam nuklir Rusia diperkirakan akan berusaha keluar dari Laut Barents menuju Atlantik melalui jalur strategis yang dikenal sebagai GIUK Gap, celah laut antara Greenland, Islandia, dan Inggris. Jalur ini sejak era Perang Dingin dianggap sebagai “gerbang bawah laut” paling vital di dunia.
Jika kapal selam Rusia berhasil melewati kawasan itu tanpa terdeteksi, maka mereka dapat bergerak lebih dekat ke wilayah NATO dan mempertahankan kemampuan serangan nuklir balasan.
Itulah sebabnya Atlantik Utara kembali menjadi arena persaingan militer besar dalam beberapa tahun terakhir.
NATO kini meningkatkan patroli anti-kapal selam, memperkuat sensor bawah laut, dan memperluas latihan militer di kawasan Arktik. Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia secara rutin mengerahkan pesawat pemburu kapal selam P-8 Poseidon untuk melacak aktivitas bawah laut Rusia.
Di sisi lain, Rusia juga terus memperkuat Northern Fleet dengan kapal selam baru, rudal hipersonik, dan fregat modern seperti Admiral Gromov.
Kehadiran kapal Project 22350 menjadi penting karena Rusia membutuhkan pengawal modern untuk melindungi jalur operasi kapal selam strategis mereka di Arktik dan Atlantik Utara. Kapal seperti Admiral Gromov bukan hanya dirancang untuk menyerang kapal permukaan, tetapi juga memburu kapal selam NATO dan mempertahankan kelompok armada Rusia dari serangan udara.
Dalam konteks ini, perang laut modern tidak lagi hanya soal kapal besar yang saling menembak di permukaan laut.
Pertempuran sesungguhnya justru sering terjadi jauh di bawah permukaan, dalam senyap, tanpa terlihat publik.
Kapal selam nuklir modern dapat bersembunyi selama berbulan-bulan di laut dalam sambil membawa rudal yang mampu menghancurkan kota-kota besar. Karena itu, siapa yang menguasai laut bawah Arktik memiliki keuntungan strategis luar biasa dalam keseimbangan nuklir global.
Persaingan ini semakin intensif karena Arktik juga mulai berubah akibat mencairnya es kutub. Jalur pelayaran baru terbuka, akses sumber daya energi meningkat, dan kehadiran militer negara-negara besar pun semakin agresif.
Banyak analis pertahanan Barat meyakini bahwa jika konflik besar antara Rusia dan NATO pecah di masa depan, salah satu front paling menentukan kemungkinan bukan berada di Ukraina atau Eropa Timur, melainkan di laut dingin Arktik, tempat kapal selam nuklir bergerak tanpa suara di bawah lapisan es.
Selama puluhan tahun, kapal induk Amerika Serikat dianggap sebagai simbol supremasi militer global. Satu carrier strike group milik AS dapat membawa puluhan jet tempur, kapal perusak, sistem pertahanan udara, hingga kapal selam nuklir dalam satu gugus tempur bernilai miliaran dolar. Namun munculnya rudal hipersonik Rusia seperti 3M22 Zircon mulai memunculkan pertanyaan baru: apakah era dominasi kapal induk mulai terancam?
Rudal Zircon yang dirancang kompatibel dengan fregat stealth Project 22350 seperti Admiral Gromov diklaim mampu melesat hingga Mach 8–9 dengan jangkauan sekitar 1.000 kilometer. Dengan kecepatan seperti itu, waktu reaksi kapal lawan menjadi sangat pendek. Dalam skenario tertentu, rudal dapat menghantam target hanya dalam hitungan menit setelah diluncurkan.
Yang membuat ancaman ini semakin serius adalah kombinasi antara kapal stealth dan rudal hipersonik. Fregat seperti Admiral Gromov dirancang agar sulit terdeteksi radar, sementara Zircon terbang dengan kecepatan ekstrem dan manuver tinggi. Kombinasi tersebut membuat proses deteksi, pelacakan, dan pencegatan menjadi jauh lebih rumit dibanding menghadapi rudal konvensional.
Dalam doktrin perang laut modern, carrier strike group Amerika sebenarnya dilindungi berlapis-lapis oleh kapal perusak Aegis, pesawat tempur, radar canggih, hingga sistem anti-rudal. Namun para analis militer menilai teknologi hipersonik mulai mengubah keseimbangan itu. Semakin cepat rudal melaju, semakin kecil peluang sistem pertahanan untuk merespons secara efektif.
Meski begitu, banyak pengamat menilai kapal induk Amerika belum kehilangan dominasinya. AS masih unggul dalam jumlah armada, pengalaman tempur global, satelit, sensor, dan integrasi jaringan perang modern. Namun kemunculan Zircon menunjukkan bahwa kapal perang besar kini tidak lagi sepenuhnya aman hanya karena memiliki sistem pertahanan mahal.
Perang laut abad ke-21 perlahan berubah. Jika dulu dominasi ditentukan oleh ukuran armada dan jumlah jet tempur, kini kecepatan rudal, stealth, sensor, dan kemampuan menyerang lebih dulu menjadi faktor penentu. Dalam situasi itu, kapal induk senilai miliaran dolar pun bisa berubah menjadi target strategis yang rentan dalam hitungan menit.