News Komoditi & Global ( Jumat, 27 Februari 2026 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 27 Februari 2026 )
Harga Emas Global Turun dipengaruhi Perpanjangan Perundingan Nuklir AS-Iran
Harga emas bergerak dalam rentang sempit pada awal perdagangan Jumat (27/2/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perpanjangan perundingan nuklir. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,24% atau 9,93 poin ke level US$5.175,04 per troy ounce pada pukul 07.40 WIB. Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak April 2026 menguat 0,23% atau 11,7 poin ke posisi US$5.205,80 per troy ounce. Melansir Bloomberg, pemerintah Oman yang menjadi mediator AS dan Iran mengatakan kedua negara dijadwalkan melanjutkan perundingan pekan depan usai mencatat “kemajuan signifikan” pada Kamis (26/2/2026). Namun, seorang sumber yang memahami posisi AS menyebut para pejabat meninggalkan meja perundingan dengan kekecewaan atas capaian yang ada. AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan terkait aktivitas nuklir Republik Islam tersebut, disertai pertukaran ancaman setelah Presiden Donald Trump memerintahkan peningkatan besar kehadiran militer AS di kawasan.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 20%, kembali mengokohkan posisinya di atas US$5.000 per ons setelah sempat terkoreksi tajam dari rekor tertinggi pada akhir Januari. Ketegangan geopolitik dan perdagangan yang berkelanjutan, serta kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, memberikan dorongan tambahan bagi reli emas yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Di sisi lain, pelaku pasar juga memantau sinyal terkait langkah The Fed selanjutnya dalam kebijakan suku bunga. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan bahwa beberapa kali pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan tahun ini apabila inflasi terus menurun. Sementara itu, Gubernur The Fed Stephen Miran kembali menyerukan pemangkasan suku bunga hingga satu poin persentase penuh pada 2026, meskipun data terbaru menunjukkan perbaikan kondisi pasar tenaga kerja.
Wall Street Melemah, Euforia AI Mereda Usai Kinerja Nvidia Gagal Pikat Pasar
Wall Street ditutup melemah pada Kamis (26/2/2026) setelah reli saham teknologi terhenti. Antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) mereda menyusul laporan kinerja Nvidia yang dinilai gagal memberi dorongan baru bagi investor.
Indeks-indeks utama bergerak bervariasi. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,03%, sementara S&P 500 turun 0,54% dan Nasdaq Composite merosot 1,18%. Tekanan terbesar datang dari saham chip, seiring indeks semikonduktor anjlok 3,2% dan berada di ambang mengakhiri tren penguatan 10 pekan.
Pelemahan teknologi menahan laju pasar, meski rotasi ke saham-saham siklikal membantu Dow bertahan di zona hijau. Secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq diperkirakan menutup Februari di zona merah, sedangkan Dow masih berpeluang mencatat kenaikan.
Kinerja kuartal keempat Nvidia sebenarnya melampaui ekspektasi analis dan proyeksinya juga di atas perkiraan pasar. Namun, laju pertumbuhan pendapatan yang mulai melambat membuat perbandingan tahunan kian menantang. Saham Nvidia pun turun 5,5%.
“Ini terasa seperti efek samping Nvidia yang spesifik pada sektor AI,” kata Michael Green, kepala strategi di Simplify Asset Management. Menurutnya, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar berbasis AI membuat S&P 500 dan Nasdaq tertekan.
Di level sektoral, teknologi dan layanan komunikasi mencatat penurunan terdalam. Sebaliknya, sektor keuangan memimpin penguatan dengan kenaikan 1,3%, ditopang saham bank-bank besar seperti JPMorgan Chase, Bank of America, dan Wells Fargo.
Saham perangkat lunak dan layanan justru menguat 1,4%, dipimpin Salesforce yang naik 4% meski panduan pendapatannya lebih lemah dari perkiraan. Di sisi lain, Trade Desk anjlok 4,8% setelah proyeksi pendapatan kuartal I meleset dari estimasi.
Pergerakan saham individual juga beragam. J.M. Smucker melonjak 8,8% berkat kinerja kuartal yang solid, se
mentara C3.ai terperosok 18,5% setelah memberi proyeksi penjualan yang lemah dan mengumumkan pemangkasan 26% tenaga kerja global.
Di bursa, saham yang naik lebih banyak dibanding turun dengan rasio 1,41 banding 1 di NYSE, sedangkan di Nasdaq rasio tercatat 1,09 banding 1. Volume perdagangan mencapai 19,55 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir.
Secara keseluruhan, pasar menandai jeda pada euforia AI, dengan investor mulai bersikap lebih selektif terhadap saham teknologi berkapitalisasi besar.
Ogah Iuran BoP, Ini Jumlah Kerugian Materiil yang Ditimbulkan Israel di Gaza
Israel menolak berkontribusi secara finansial pada rekonstruksi Jalur Gaza melalui Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump. Hal ini mereka nyatakan meski telah mengakibatkan kerugian raksasa setelah dua tahun lebih menghancurkan Gaza.
Sejak serangan Israel ke Jalur Gaza pada Oktober 2023, wilayah pesisir Palestina itu mengalami penghancuran infrastruktur, harta benda, dan sektor ekonomi yang masif. Dampaknya tidak hanya pada kehidupan sosial kemasyarakatan, tetapi juga berimplikasi pada kerugian materiil besar yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.
Laporan bersama Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kerusakan fisik pada infrastruktur vital di Gaza mencapai sekitar 18,5 miliar dolar AS pada akhir Januari 2024. Ini meliputi kerusakan di sektor perumahan, fasilitas air bersih, kesehatan, pendidikan, serta gedung industri dan komersial. Angka ini setara dengan 97 persen Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan wilayah Tepi Barat dan Gaza pada 2022.
Studi perpanjangan dari Badan Pemerintah Gaza memperkirakan bahwa kerugian awal langsung untuk 15 sektor vital sepanjang 2025 telah menembus lebih dari 33 miliar dolar AS, termasuk kehancuran luas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta jaringan listrik dan layanan publik lain.
Beberapa data statistik yang dipublikasikan oleh Kantor Media Pemerintah di Gaza bahkan mengindikasikan total kerugian materiil mencapai sekitar USD 70 miliar dolar AS selama dua tahun konflik, mencakup kerusakan perumahan, fasilitas publik, pendidikan, kesehatan dan sektor produktif lainnya.
Sepanjang dua tahun genosida, puluhan ribu unit rumah di Gaza hancur atau rusak berat, membuat jutaan warga kehilangan tempat tinggal. Ratusan kilometer jaringan listrik, air, dan jalan juga dilaporkan lumpuh total.
Jumlah puing diperkirakan mencapai puluhan juta ton, mempersulit proses pembersihan dan rekonstruksi. Fasilitas kesehatan dan pendidikan mengalami kerusakan berat, dengan banyak sekolah dan rumah sakit tidak lagi beroperasi.
Layanan dasar masyarakat seperti air bersih, sanitasi dan listrik terputus, memperparah kondisi kemanusiaan. Lahan pertanian, sumur, serta peralatan produksi rusak parah, menghancurkan sumber penghidupan masyarakat lokal dan memicu ketergantungan pada bantuan luar negeri. Kerugian sektor pertanian diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.
Kegiatan ekonomi di Gaza juga hampir terhenti, memicu kontraksi tajam perekonomian Gaza.
Merujuk PBB, estimasi kebutuhan biaya rekonstruksi dan pemulihan infrastruktur di Gaza dalam dekade mendatang berkisar antara 40 miliar hingga 53 miliar dolar AS tergantung pada tingkat akses, keamanan, dan dukungan internasional. Dampak kerusakan yang luas itu bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga menghadirkan tantangan struktural untuk pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Gaza dalam jangka panjang.
Sepanjang dua tahun lebih genosida, Israel telah membunuh setidaknya 72 ribu warga Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, 600 lebih warga Gaza dibunuh dalam berbagai pelanggaran gencatan senjata.
Sikap Israel yang ogah menyumbang untuk Dewan Perdamaian itu disampaikan Ze’ev Elkin, yang menjabat sebagai menteri kedua di Kementerian Keuangan, kepada radio lokal pada Ahad lalu. “Kami tidak akan mendanai Dewan Perdamaian; tidak ada alasan untuk melakukannya,” Elkin, yang duduk di Kabinet Keamanan Yerusalem, mengatakan kepada saluran pemerintah Kan Reshet Bet.
“Kami diserang,” kata Elkin, merujuk pada serangan Hamas dan faksi perlawanan Palestina yang berupaya membebaskan Jalur Gaza dari kepungan menahun Israel pada 7 Oktober 2023.
Menteri tersebut menyimpulkan: “Tidak ada alasan bagi kami untuk membayar biaya rekonstruksi.”
Menurut Kan News, pemerintahan Trump mengizinkan negara Yahudi untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian tanpa berkontribusi pada upaya rekonstruksi atau biaya operasional organisasi internasional.
Anggota lainnya, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, masing-masing telah menyumbangkan lebih dari 1 miliar dolar AS kepada dewan tersebut, tulis Kan News. Laporan tersebut mengutip sumber pemerintah Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengklaim bahwa pengecualian pembayaran tersebut membantu meringankan tekanan politik dalam negeri terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghadapi kritik karena setuju untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian bersama negara-negara yang kritis seperti Qatar dan Turki.
AS-Iran Kembali Mulai Perundingan di Jenewa
Putaran terakhir perundingan antara Amerika Serikat dan Iran telah dimulai di Jenewa, dengan tujuan menyelesaikan perselisihan lama mereka mengenai program nuklir Teheran. Sementara perundingan berlangsung, AS terus meningkatkan ancaman serangan terhadap Iran dengan penumpukan kekuatan militer skala besar.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada Kamis bahwa negaranya tidak berusaha untuk membuat senjata nuklir, dan menekankan komitmen mereka terhadap fatwa Pemimpin Tertinggi Iran yang melarang kepemilikan senjata nuklir. Pezeshkian menambahkan bahwa mereka menghormati protes damai, tetapi apa yang terjadi Januari lalu adalah upaya untuk menggulingkan rezim tersebut, dan mencatat bahwa Israel memicu perang di wilayah tersebut dan menyebarkan perselisihan di negara-negaranya.
Media Iran melaporkan bahwa delegasi perundingan Iran tiba di gedung misi Oman di Jenewa untuk berpartisipasi dalam putaran baru perundingan. Kantor berita Iran mengatakan bahwa usulan Teheran dalam perundingan Jenewa menghilangkan semua dalih Amerika mengenai program nuklir Iran.
Badan tersebut menambahkan pada hari Kamis bahwa penolakan Washington terhadap usulan Iran akan menegaskan kurangnya keseriusan mereka, dan bahwa seruan mereka untuk melakukan diplomasi hanyalah sebuah manuver. Badan itu menjelaskan bahwa Menteri Luar Negeri Oman telah menyampaikan usulan Teheran kepada pihak Amerika di Jenewa.
Reuters mengutip para pejabat AS yang mengatakan bahwa Iran merupakan ancaman besar bagi Amerika Serikat, namun menegaskan bahwa Utusan Khusus AS Steve Wittkopf dan Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, akan menghadiri pembicaraan tidak langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Pembicaraan tersebut menyusul diskusi yang diadakan di Jenewa pekan lalu, yang dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi. Araghchi mengatakan pada Selasa bahwa negaranya bertujuan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan cepat, tetapi menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan melepaskan haknya atas teknologi nuklir untuk tujuan damai. Ia menekankan kesepakatan dapat dicapai jika memang itu prioritas AS.
Trump dalam pidato kenegaraannya pada Selasa, mengatakan Iran melanjutkan program nuklirnya dan berupaya mengembangkan rudal yang "segera" dapat mencapai Amerika Serikat. Ia juga menuduh Iran bertanggung jawab atas pemboman yang menewaskan personel militer dan warga sipil Amerika.
Trump memperingatkan "hari yang sangat sulit" bagi Iran jika tidak ada kesepakatan yang dicapai untuk menyelesaikan perselisihan yang sudah berlangsung lama mengenai program nuklir Teheran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mendukung pembenaran Trump.
"Setelah program nuklir mereka dihancurkan, mereka diperingatkan untuk tidak mencoba memulai kembali program tersebut, dan di sini mereka melakukan hal tersebut… Kita dapat melihat bagaimana mereka terus-menerus mencoba untuk membangun kembali beberapa elemen program tersebut. Mereka saat ini tidak melakukan pengayaan uranium, namun mereka berusaha untuk mencapai titik di mana mereka pada akhirnya dapat melakukan hal tersebut." kata Rubio.
Ia menambahkan bahwa Iran juga memiliki sejumlah besar rudal balistik yang mengancam kepentingan Amerika di kawasan, dan Iran sedang berusaha mengembangkan senjata yang mampu mencapai Amerika Serikat. "Selain program nuklir, mereka memiliki senjata konvensional yang dirancang khusus untuk menyerang Amerika dan menyerang Amerika jika mereka menginginkannya… Saat ini, mereka sudah memiliki senjata yang mampu menjangkau sebagian besar Eropa saat ini," kata Rubio.
Rubio menggambarkan desakan Teheran untuk tidak membahas masalah rudal balistik dalam perundingan Jenewa sebagai “masalah besar,” dan menambahkan bahwa ia ingin menggambarkan perundingan hari Kamis hanya sebagai “kesempatan berikutnya untuk berdialog.
Kantor Direktur Intelijen Nasional AS mengatakan Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Iran memiliki rudal dengan jangkauan 2.000 kilometer, yang menurut para pejabat cukup untuk melindungi negara tersebut karena mampu menjangkau jarak ke Israel.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir; itu akan menjadi tujuan akhir aksi militer,” kata Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Fox News.
Pembicaraan di Jenewa bertepatan dengan Departemen Pertahanan AS yang memperkuat kehadirannya di Teluk Arab dan Selat Hormuz. Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah mengerahkan kelompok penyerang kapal induk USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln, yang dilengkapi dengan rudal dan 50 jet tempur generasi kelima yang canggih, sebagai persiapan untuk melaksanakan perintah Trump untuk menyerang Iran setiap saat.
Ditanya akankah China Bantu Iran Jika AS Lancarkan Serangan? Ini Jawaban Beijing
Di tengah proses diplomatik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Jenewa, Swiss, potensi pecahnya perang regional di kawasan Teluk masih tinggi. Pemerintah China, dalam keterangan persnya pada Kamis (26/2/2026) menyatakan ikut mengamati secara seksama perkembangan di Timur Tengah.
Menurut Beijing, China konsisten mendukung penyelesaian masalah melalui cara-cara politik dan diplomatik, dan menentang penggunaan ancaman militer dalam hubungan internasional.
Dalam taklimat persnya pada Kamis, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao menjawab pertanyaan wartawan apakah Beijing akan mendukung Iran jika AS melancarkan serangan. Mao menegaskan, China mendukung pemerintahan dan rakyat Iran dalam menjaga kepentingan bangsa dan hak-haknya yang sah.
"Kami berharap semua pihak akan menghargai perdamaian, menahan diri, dan menyelesaikan perbedaan lewat dialog. China akan terus memainkan peran sebagai sebuah negara besar yang bertanggung jawab," kata Mao dikutip Global Times.
AS terus meningkatkan 'tekanan' terhadap Iran di tengah proses diplomatik antara kedua negara. Menurut laporan Washington Post pada Selasa (24/2/2026), lebih dari 150 pesawat tempur AS disiagakan di sejumlah titik di Eropa dan Timur Tengah di tengah ketegangan yang terjadi dengan Iran.
Menurut citra satelit yang diambil Jumat (20/2/2026), sudah ada lebih dari 60 pesawat tempur AS, termasuk selusin jet tempur F-35, bersiaga di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Data penerbangan juga menunjukkan bahwa Washington telah menempatkan lebih dari sepertiga armada pesawat pengintai E-3G Sentry ke Eropa dan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir. Kemudian, pesawat tanker dan sedikitnya sebuah pesawat pengintai diketahui telah bersiaga di Bandara Chania, Pulau Kreta, Yunani, sejak 17 Februari. Video dari Bandara Chania pada Sabtu (21/2/2026) memperlihatkan ada 10 lagi pesawat jet F-35 di antara pesawat-pesawat tempur yang sudah ada.
Puluhan pesawat tambahan serta sistem anti-rudal yang dilengkapi misil Tomahawk terlihat sudah disiagakan di kapal-kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford. Selain itu, belasan pesawat tempur F-22A Raptor sudah ada di Pangkalan Udara Lakenheath di Inggris dan sekurangnya satu unit jet tempur F-16 Fighting Falcon dilaporkan mendarat di Azores, wilayah otonom Portugal di Samudera Atlantik.
Menurut Washington Post, setengah lebih dari pesawat-pesawat yang baru dikerahkan tersebut telah mendarat di pangkalan udara Eropa, yang titiknya berada di luar jangkauan sebagian besar rudal Iran. Sebelumnya pada Senin (23/3/2026), menurut laporan The New York Times dengan mengutip sumber, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran jika perundingan atau sebuah serangan terbatas tidak menimbulkan hasil yang diharapkan.
Dilaporkan Politico dilansir Jerusalem Post, Kamis, penasihat senior Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia menginginkan Israel menyerang Iran lebih dulu. Ia meyakini bahwa langkah itu akan menyediakan optik yang lebih baik dan bisa meraih dukungan dari rakyat agar AS membantu Israel.
"Ada pemikiran di dalam dan sekitar pemerintahan bahwa secara politik akan jauh lebih baik jika Israel menyerang dulu sendiri dan Iran menyerang balik kami, dan memberi kami alasan lebih untuk mengambil tindakan," kata penasihat Trump itu.
Motivasi di balik ide Israel menyerang lebih dulu, kata sumber tadi, adalah agar "lebih banyak rakyat AS mendukung perang dengan Iran jika AS atau sekutunya diserang duluan."
129 Jurnalis Gugur pada 2025, Mayoritas Dibunuh Pasukan Israel
The Committee to Protect Journalists (CPJ), sebuah organisasi nirlaba berbasis di New York yang fokus pada isu kebebasan pers mencatat, terdapat 129 kasus kematian jurnalis dan pekerja media di seluruh dunia pada 2025. Dua pertiga dari kematian tersebut dilakukan Israel.
Dalam laporannya, CPJ mengungkapkan, lebih dari tiga perempat dari total kematian jurnalis pada 2025 terjadi di daerah konflik, termasuk Jalur Gaza. CPJ turut mendokumentasikan jurnalis Palestina yang terbunuh di tangan pasukan Israel.
"Lebih dari 60 persen dari 86 anggota pers yang tewas akibat tembakan Israel pada tahun 2025 adalah warga Palestina yang meliput dari Gaza," ungkap CPJ dalam laporannya, dikutip laman Al Arabiya, Rabu (25/2/2026).
CPJ mencatat, jumlah jurnalis yang tewas di Ukraina dan Sudan juga meningkat pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. CPJ menyoroti peningkatan pengoperasian pesawat nirawak (drone) dalam kasus kematian jurnalis, khususnya di daerah konflik.
CPJ mendokumentasikan 39 kasus kematian jurnalis akibat drone. Sebanyak 28 kasus di antaranya dilakukan Israel terhadap jurnalis di Gaza. Militer telah berulang mengeklaim tidak pernah secara sengaja menargetkan jurnalis dalam serangannya.
Di Ukraina, dalam catatan CPJ, terdapat empat jurnalis terbunuh akibat drone militer Rusia. Angka itu menjadi jumlah kematian jurnalis tahunan tertinggi dalam perang Ukraina sejak 15 orang tewas pada tahun 2022.
CPJ mengungkapkan, pada 2025, terdapat enam jurnalis yang tewas di Meksiko. Hingga kini pengungkapan seluruh kasus kematian tersebut belum menemui titik terang.
CPJ juga mencatatkan beberapa kasus kematian jurnalis di Filipina, Bangladesh, India, dan Peru. Menurut CPJ, jurnalis semakin rentan karena budaya impunitas yang terus berlanjut. Mereka mencatat kurangnya investigasi transparan terhadap pembunuhan jurnalis atau pekerja media.
"Jurnalis terbunuh dalam jumlah yang memecahkan rekor pada saat akses informasi lebih penting daripada sebelumnya,” kata CEO CPJ Jodie Ginsberg dalam sebuah pernyataan.
“Kita semua berisiko ketika jurnalis terbunuh karena melaporkan berita," tambah Ginsberg.
Pakistan-Afghanistan Perang Terbuka, Seratus Lebih Tewas
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan "perang terbuka" terhadap pemerintah Afghanistan pada Jumat dini hari. Sementara pesawat Pakistan melancarkan serangan udara yang menargetkan ibu kota Afghanistan, Kabul dan provinsi Kandahar dan Paktika.
Dilansir Aljazirah, serangan Pakistan ini disebut sebagai tanggapan atas serangan militer yang dilancarkan Afghanistan beberapa jam sebelumnya di wilayah perbatasan antara kedua negara. Sebagai tanggapan, Afghanistan mengulangi serangannya terhadap pasukan Pakistan di sepanjang perbatasan bersama mereka pada hari Jumat, setelah Islamabad melancarkan serangan di kota Kabul dan Kandahar.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif, berbicara di platform X, mengatakan bahwa kesabaran negaranya telah habis dan mereka sekarang akan melancarkan "perang terbuka". Dia menjelaskan bahwa Pakistan telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keadaan normal, baik secara langsung maupun melalui negara-negara sahabat, dan telah melakukan upaya diplomasi yang intensif.
Menteri Pakistan melancarkan serangan sengit terhadap Taliban, mengingat mereka telah "menjadi agen India". Ia menambahkan bahwa setelah penarikan diri dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), ia memperkirakan Taliban akan fokus pada perdamaian, namun Taliban telah “mengubah Afghanistan menjadi koloni India,” dan menuduhnya “mengumpulkan teroris dari seluruh dunia dan mulai mengekspor terorisme.”
Sementara itu, Menteri Penerangan Pakistan Attaullah Tarar mengumumkan bahwa posisi pertahanan Taliban di Kabul, Paktia, dan Kandahar telah menjadi sasaran. Menteri mengkonfirmasi bahwa 27 posisi Taliban telah dihancurkan dan sembilan lainnya direbut, dan mengumumkan bahwa 133 pejuang Taliban Afghanistan telah terbunuh dan lebih dari 200 lainnya terluka.
Koresponden Aljazirah di Kabul, melaporkan bahwa serangan kekerasan menargetkan ibu kota Afghanistan pada pukul 01.50 pagi, diikuti dengan serangan lainnya. Dia mencatat bahwa senjata anti-pesawat Afghanistan melepaskan tembakan setelah serangan pertama dan terus menembak setelah serangan kedua.
Sumber pemerintah Afghanistan mengatakan bahwa serangan udara Pakistan menargetkan ibu kota, Kabul, dan serangan udara Pakistan lainnya menghantam pangkalan militer di provinsi Kandahar di Afghanistan selatan.
Sumber melaporkan bahwa pesawat Pakistan masih terbang di wilayah udara Afghanistan setelah mengebom tiga provinsi Afghanistan. Juru bicara pemerintah Afghanistan Zabihullah Mujahid mengatakan dalam sebuah postingan di platform “X” bahwa “tentara pengecut Pakistan melakukan serangan udara di daerah tertentu di Kabul, Kandahar dan Paktika,” menambahkan bahwa “untungnya, tidak ada laporan korban jiwa.”
Dia kemudian menambahkan "Pasukan Afghanistan melancarkan serangan balik terhadap pos-pos militer Pakistan di Afghanistan selatan." Mujahid sebelumnya menyatakan bahwa “jika rezim militer Pakistan kembali melanggar wilayah udara Afghanistan atau menargetkan lokasi mana pun, Islamabad akan menjadi sasarannya.”
Televisi pemerintah Pakistan (PTV) melaporkan bahwa angkatan bersenjata Pakistan melancarkan serangan udara yang menargetkan instalasi militer penting milik gerakan Taliban Afghanistan di Kabul, Kandahar dan Paktika.
Televisi pemerintah menjelaskan, penggerebekan tersebut mengakibatkan hancurnya dua markas brigade di ibu kota, Kabul, sementara markas korps dan markas brigade hancur di provinsi Kandahar. Menurut sumber yang sama, serangan udara tersebut juga menghancurkan depot amunisi dan pangkalan logistik di Kandahar, serta markas komando korps di provinsi Paktika.
Maskapai Internasional Setop Penerbangan ke Tel Aviv seiring Potensi Perang Baru
Penerbangan sipil menghadapi peningkatan gangguan karena maskapai penerbangan internasional dengan cepat menyesuaikan atau menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Baca Juga : Menara Ikonik Jepang Tokyo Skytree Ditutup gegara Lift Rusak Jebak 20 Orang hingga 5,5 Jam Banyak pihak khawatir konflik militer di Timur Tengah dapat meningkat, yang secara langsung memengaruhi pemesanan perjalanan dan lalu lintas udara. Beberapa pemerintah juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, dengan alasan kemungkinan penutupan wilayah udara atau gangguan penerbangan mendadak jika kondisi keamanan memburuk secara tak terduga. Sebagai langkah praktis, maskapai penerbangan Belanda KLM telah mengumumkan akan menangguhkan penerbangan Amsterdam–Tel Aviv mulai hari Minggu, dengan alasan meningkatnya kekhawatiran keamanan. “Saat ini, secara komersial dan operasional tidak memungkinkan bagi KLM untuk mengoperasikan penerbangan ke Tel Aviv,” ungkap juru bicara KLM. Maskapai tersebut mengkonfirmasi penumpang yang terkena dampak akan menerima pemberitahuan pribadi dengan pilihan untuk menjadwal ulang penerbangan mereka atau menerima pengembalian dana penuh.
Israel Takut Trump Buat Kesepakatan Lemah dengan Iran dan Buatnya Terancam
Para pejabat keamanan Israel semakin khawatir Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mungkin akan menyimpulkan kesepakatan yang cepat atau terbatas dengan Iran yang gagal mengatasi isu-isu keamanan utama. Kabar itu diungkap dalam laporan yang diterbitkan surat kabar Israel Maariv. Baca Juga : Menara Ikonik Jepang Tokyo Skytree Ditutup gegara Lift Rusak Jebak 20 Orang hingga 5,5 Jam Laporan tersebut mengatakan kekhawatiran di kalangan pejabat politik dan pertahanan Israel berpusat pada kemungkinan Washington dapat memprioritaskan kesepahaman nuklir yang sempit dengan Teheran sambil membiarkan program rudal balistik Iran dan aliansi regional sebagian besar tidak tersentuh. Para analis Israel khawatir kesepakatan semacam itu dapat menyebabkan pelonggaran sanksi ekonomi dan pelepasan aset Iran yang dibekukan, yang berpotensi memperkuat kemampuan militer Teheran dan pengaruh regionalnya. Menurut Maariv, beberapa skenario saat ini sedang dibahas di kalangan strategis Israel. Salah satu hasil yang paling mengkhawatirkan, dari perspektif Israel, adalah kesepakatan diplomatik parsial yang memberikan bantuan keuangan kepada Iran tanpa memberlakukan pembatasan keamanan yang lebih luas. Skenario lain yang dipandang negatif melibatkan serangan militer AS yang terbatas diikuti oleh negosiasi, yang menurut para pejabat Israel dapat membuat Israel rentan terhadap pembalasan Iran sementara pada akhirnya membuat Iran semakin kuat secara politik. Laporan tersebut menambahkan beberapa pembuat kebijakan Israel menganggap kampanye militer Amerika berskala besar yang menargetkan infrastruktur nuklir dan rudal Iran sebagai hasil yang paling menguntungkan, sementara yang lain melihat tekanan internasional yang berkelanjutan melalui sanksi dan isolasi diplomatik sebagai alternatif yang lebih realistis.
Zionis Ketakutan, Aliansi Turki-Mesir Bentuk Lingkaran Sunni Kepung Israel
Analisis politik Israel memperingatkan tentang apa yang digambarkannya sebagai pergeseran geopolitik terselubung yang dipimpin Turki dan Mesir yang bertujuan membentuk aliansi regional Sunni yang dapat membentuk kembali dinamika kekuatan Timur Tengah di sekitar Israel. Laporan tersebut diterbitkan platform berita Israel Mida dan berdasarkan penelitian oleh Gatestone Institute yang berbasis di Eropa. Menurut laporan itu, sementara perhatian internasional tetap terfokus pada Iran, proses diplomatik paralel sedang berlangsung yang dapat membawa konsekuensi strategis jangka panjang yang signifikan bagi Israel, Amerika Serikat (AS), dan kawasan yang lebih luas. Menurut analisis tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah meluncurkan inisiatif diplomatik yang luas yang bertujuan memperkuat kerja sama di antara negara-negara mayoritas Sunni di bawah kepemimpinan Ankara. Laporan tersebut mengklaim upaya tersebut tidak hanya bertujuan rekonsiliasi dengan mantan rival regional tetapi juga untuk menciptakan blok politik dan strategis terkoordinasi yang digambarkan sebagai "lingkaran Sunni" yang mengelilingi Israel, yang disajikan sebagai alternatif bagi jaringan sekutu regional Iran. Laporan tersebut menyoroti kunjungan regional Erdogan pada awal Februari 2026, di mana ia mengunjungi Arab Saudi dan Mesir, dan kemudian menjamu Raja Abdullah II dari Yordania di Istanbul. Para analis yang dikutip dalam laporan tersebut menggambarkan pertemuan-pertemuan tersebut sebagai puncak dari proses normalisasi yang lebih luas yang dimulai pada tahun 2022, ketika Turki berupaya memperbaiki hubungan yang tegang dengan negara-negara Teluk dan Arab setelah bertahun-tahun ketegangan yang terkait dengan dukungan Ankara terhadap Ikhwanul Muslimin. Penekanan khusus diberikan pada peningkatan hubungan Turki-Mesir, yang dicirikan sebagai titik balik utama setelah lebih dari satu dekade persaingan politik menyusul pergolakan politik Mesir tahun 2013. Selama kunjungan Erdogan ke Kairo, kedua negara menandatangani perjanjian kerangka kerja militer yang dilaporkan bernilai USD350 juta, yang mencakup produksi senjata bersama, kerja sama intelijen, dan latihan militer. Laporan tersebut menambahkan pengiriman sistem pertahanan udara dan amunisi Turki diharapkan, sementara perdagangan bilateral dapat mencapai USD15 miliar. Dari perspektif strategis, analisis tersebut berpendapat partisipasi Mesir akan secara signifikan memperluas pengaruh aliansi yang muncul, mengingat kendali Kairo atas Terusan Suez dan peran sentralnya dalam keamanan Afrika Utara dan Mediterania. Laporan tersebut menyarankan hal ini dapat memberi Mesir pengaruh logistik atas jalur maritim yang dianggap vital bagi perekonomian Israel. Penilaian ini mencerminkan perdebatan yang sedang berlangsung di kalangan strategis Israel mengenai pergeseran aliansi regional di tengah perubahan geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah.