News Komoditi & Global ( Rabu, 21 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 21 Januari 2026 )
Harga Emas Global Naik Di Tengah Ketegangan AS-Eropa
Harga Emas (XAU/USD) naik mendekati $4.775 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam berharga ini melanjutkan rally dan siap untuk mencapai rekor tertinggi lainnya di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, akan menjadi sorotan pada hari Rabu nanti.
Para pedagang terus berinvestasi pada aset-aset safe-haven di tengah ketegangan antara AS dan Eropa atas Greenland. Presiden AS, Donald Trump, pada akhir pekan lalu mengancam akan memberlakukan tarif pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya untuk menguasai Greenland.
BBC melaporkan pada hari Rabu bahwa Parlemen Eropa berencana untuk menangguhkan persetujuan kesepakatan perdagangan AS yang disepakati pada bulan Juli, menurut sumber yang dekat dengan komite perdagangan internasionalnya. Penangguhan dijadwalkan akan diumumkan di Strasbourg, Prancis, pada hari Rabu. Eskalasi ketegangan antara AS dan Eropa dapat meningkatkan aset-aset safe-haven tradisional seperti Emas dalam waktu dekat.
Para pedagang memundurkan taruhan mereka bahwa Federal Reserve (The Fed) AS akan menurunkan suku bunga nanti bulan ini setelah tanda-tanda perbaikan di pasar tenaga kerja AS. Para pedagang sekarang memprakirakan penurunan suku bunga berikutnya akan terjadi pada bulan Juni, bulan setelah masa jabatan Ketua The Fed, Jerome Powell, berakhir, dengan penurunan lainnya menyusul di kuartal keempat. Pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama umumnya mendukung Dolar AS (USD) dan membebani aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti Emas.
Harga Minyak Dunia Memanas, Gangguan Pasokan Kazakhstan & Isu Greenland Jadi Sorotan
Harga minyak dunia menguat pada Selasa (20/1/2026) seiring gangguan sementara pasokan dari Kazakhstan serta sentimen positif dari prospek pertumbuhan ekonomi global yang dinilai dapat menopang permintaan bahan bakar. Di saat yang sama, pasar masih mencermati dinamika geopolitik, termasuk ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terkait isu Greenland. Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent ditutup naik 98 sen atau 1,53% ke level US$64,92 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari yang berakhir pada Selasa, menguat 90 sen atau 1,51% ke US$60,34 per barel. Adapun kontrak WTI pengiriman Maret yang lebih aktif diperdagangkan naik US$1,02 atau 1,72% ke US$60,36 per barel. Penguatan harga dipicu kabar penghentian sementara produksi di ladang minyak Kazakhstan. Produsen minyak Tengizchevroil yang dipimpin Chevron menyatakan pada Senin bahwa pihaknya menghentikan sementara produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev akibat gangguan pada sistem distribusi listrik. Ladang Tengiz Berpotensi Berhenti 7–10 Hari Sumber Reuters menyebutkan produksi di Tengiz berpotensi terhenti selama tujuh hingga 10 hari ke depan, sehingga memangkas ekspor minyak mentah melalui Caspian Pipeline Consortium. “Tengiz merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia, sehingga gangguan ini jelas berdampak pada aliran minyak mentah,” ujar Ajay Parmar, direktur energi dan kilang di ICIS. “Namun gangguan ini tampaknya bersifat sementara, sehingga jika retorika tarif terus berlanjut, kami memperkirakan harga akan kembali melemah,” tambahnya. Dari sisi permintaan, pasar minyak turut mendapat dukungan data produk domestik bruto (PDB) China kuartal IV yang lebih baik dari perkiraan. Analis pasar IG Tony Sycamore menilai ketahanan ekonomi importir minyak terbesar dunia tersebut memberikan dorongan positif terhadap sentimen permintaan.
Harga Minyak Dunia Selasa (20/1) Tak Banyak Bergerak di Tengah Krisis Greenland BPS: Harga Minyak Goreng Naik di 109 Wilayah Indonesia Harga Minyak Hari Ini (19/1) Stabil saat Iran dan Greenland jadi Sorotan Utama Sepanjang tahun lalu, ekonomi China tumbuh 5%, dengan kapasitas proses kilang minyak 2025 meningkat 4,1% secara tahunan dan produksi minyak mentah naik 1,5%. Harga minyak juga terbantu oleh revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini oleh International Monetary Fund, serta penguatan harga diesel. Selain itu, pelemahan dolar AS ikut menopang harga karena membuat pembelian komoditas berbasis dolar lebih terjangkau bagi pembeli global. Ancaman Tarif Trump Jadi Perhatian Kekhawatiran perang dagang kembali mencuat setelah Trump menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan 10% mulai 1 Februari terhadap impor dari sejumlah negara Eropa termasuk Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda, serta Inggris dan Norwegia. Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland. Ancaman tarif tersebut dinilai berpotensi menekan harga minyak mentah karena dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global dan mengurangi laju pertumbuhan permintaan minyak, kata Parmar. Di Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan pihaknya tengah menyiapkan paket dukungan untuk keamanan kawasan Arktik dan menilai kebijakan tarif tersebut sebagai sebuah kesalahan.
Wall Street Anjlok: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Penurunan Terburuk dalam 3 Bulan
Ketiga indeks utama Wall Street ditutup dengan penurunan satu hari terbesar dalam tiga bulan, dalam aksi jual besar-besaran yang dipicu oleh kekhawatiran bahwa ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump terhadap Eropa dapat menandakan volatilitas pasar yang kembali meningkat.
Selasa (20/1/2026), Indeks S&P 500 ditutup turun 143,15 poin atau 2,06% menjadi 6.796,86, indeks Nasdaq Composite melemah 561,07 poin, atau 2,39% ke 22.954,32 dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 870,74 poin atau 1,76% ke 48.488,59.
Ketiga indeks saham acuan AS itu mencatatkan kinerja satu hari terburuk sejak 10 Oktober, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq sama-sama tergelincir di bawah rata-rata pergerakan 50 hari.
Pada sesi ini, investor terlihat menghindar dari risiko meluas, yang membantu melambungkan harga emas ke rekor tertinggi baru, dan mendorong kenaikan biaya utang dengan obligasi pemerintah AS yang goyah di bawah tekanan penjualan yang kembali meningkat.
Pada perdagangan sesi ini, harga Bitcoin, yang dapat diminati ketika pasar tradisional bergejolak, turun lebih dari 3%.
Sesi ini adalah kesempatan pertama bagi investor AS untuk menanggapi komentar Trump di akhir pekan, mengingat libur pasar untuk Hari Martin Luther King, Jr pada Senin (19/1/2026).
Ini termasuk pernyataan Trump bahwa tarif impor tambahan sebesar 10% akan berlaku mulai 1 Februari untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya — semuanya sudah dikenakan tarif AS.
Tarif tersebut akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni dan berlanjut hingga kesepakatan tercapai bagi AS untuk membeli Greenland, tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social. Para pemimpin Greenland, wilayah otonom Denmark, dan Denmark telah bersikeras bahwa pulau itu tidak untuk dijual.
Pengaktifan kembali ancaman tarif ke pasar global mengingatkan kembali pada "Hari Pembebasan" bulan April, ketika pungutan Trump terhadap mitra dagang global mendorong S&P 500 mendekati wilayah pasar bearish.
Indeks Volatilitas CBOE, yang juga dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke 20,09 poin, penutupan tertinggi sejak 24 November.
Meskipun sentimen investor tegang pada hari Selasa, pertanyaan yang diajukan adalah apakah Greenland mewakili aksi jual yang reaktif, atau sesuatu yang akan memiliki implikasi jangka panjang bagi pasar.
Jamie Cox, mitra pengelola di Harris Financial Group, mengatakan dia tidak melihat indikasi bahwa investor sedang berhamburan.
"Saya belum sampai pada titik di mana saya bersedia mengatakan apa yang terjadi dengan Greenland, dan munculnya kembali ancaman tarif bolak-balik, akan memicu koreksi di pasar ekuitas," katanya, menambahkan bahwa ia akan terkejut jika terjadi penurunan 3% hingga 5% minggu ini.
Di sisi lain, tindakan yang berpotensi lebih signifikan, menurut Cox, adalah apakah otoritas Jepang akan campur tangan di pasar keuangan.
Obligasi pemerintah Jepang anjlok pada hari Selasa, mendorong imbal hasil ke rekor tertinggi, sementara saham Tokyo dan yen juga jatuh setelah seruan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk pemilihan umum sela mengguncang kepercayaan terhadap kesehatan fiskal negara.
Pergerakan tersebut membantu mendorong biaya obligasi pemerintah Eropa jangka panjang lebih tinggi, sementara aksi jual di obligasi pemerintah AS lebih terasa pada jangka panjang.
Terlepas dari pembicaraan tarif dan pergerakan obligasi yang signifikan, ekonomi AS tetap berada dalam posisi yang kuat.
Investor akan menerima sejumlah data baru minggu ini mengenai kondisi ekonomi AS, termasuk pembaruan PDB AS kuartal ketiga, pembacaan PMI Januari, dan laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi, yang merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve.
Musim laporan keuangan juga semakin intensif, dengan beberapa perusahaan terkemuka di industri ini akan melaporkan pendapatan kuartalan mereka minggu ini. Di antaranya adalah Netflix, yang ditutup melemah 0,8% sebelum melaporkan pendapatan setelah penutupan pasar.
Dolar AS Sentuh Level Terendah Sepekan, Geopolitik Picu Kembali Aksi Sell America
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam sepekan pada awal perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Gedung Putih melontarkan ancaman terhadap Uni Eropa terkait masa depan Greenland.
Situasi ini memicu aksi jual luas di pasar saham dan obligasi pemerintah AS.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,1% ke level 99,004.
Posisi ini merupakan yang terendah sejak 14 Januari, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eksposur aset-aset Amerika Serikat.
Ancaman tarif terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu-sekutu Eropa kembali memicu apa yang dikenal sebagai aksi “Sell America”, yakni pelepasan serentak saham, obligasi Treasury, dan dolar AS.
Pola ini sebelumnya juga muncul setelah pengumuman tarif pada perayaan Liberation Day April tahun lalu. Pasar keuangan AS sendiri baru akan kembali dibuka pada Selasa setelah libur Hari Martin Luther King Jr.
Investor melepas aset dolar karena kekhawatiran terhadap ketidakpastian berkepanjangan, hubungan aliansi yang semakin tegang, menurunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan AS, potensi pembalasan dagang, serta percepatan tren de-dolarisasi.
“Meski ada harapan bahwa pemerintah AS akan meredakan ancaman ini seperti pada episode tarif sebelumnya, jelas bahwa penguasaan Greenland tetap menjadi tujuan utama keamanan nasional pemerintahan saat ini,” ujar Tony Sycamore, analis pasar dari IG di Sydney.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke level 4,2586%.
Kontrak berjangka Fed Funds mencerminkan peluang sebesar 94,5% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan dua hari pekan depan, relatif tidak berubah dibandingkan akhir pekan lalu, menurut CME FedWatch Tool.
Terhadap yen Jepang, dolar bergerak stabil di level 158,175 yen, setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan rencana pemilu cepat pada 8 Februari.
Pernyataannya untuk menangguhkan pajak penjualan makanan sebesar 8% selama dua tahun turut menyoroti rapuhnya kondisi fiskal Jepang.
Sementara itu, dolar AS terhadap yuan China yang diperdagangkan di pasar offshore Hong Kong relatif stabil di level 6,9536 yuan.
Bank Sentral China (PBoC) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya untuk bulan kedelapan berturut-turut pada Januari, berdasarkan survei Reuters.
Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia melemah 0,1% ke level US$0,6710, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,1% ke US$0,5794, setelah sempat menyentuh level tertinggi dua pekan.
Euro diperdagangkan datar di level US$1,1640, sementara pound sterling Inggris juga stabil di posisi US$1,3427.
Di pasar kripto, harga Bitcoin turun 0,6% ke US$92.336,99, sedangkan Ether melemah 1,1% ke US$3.174,41.
Ketegangan AS-Eropa: Dolar Anjlok, Aset Safe Haven Jadi Buruan
Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh pada Senin (19/1/2026), karena investor khawatir dengan ancaman tarif terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa terkait Greenland.
Investor pun berbondong-bondong membeli yen dan franc Swiss sebagai aset aman (safe haven) untuk menghindari risiko yang luas di seluruh pasar.
Trump pada akhir pekan lalu mengatakan akan memberlakukan tarif impor tambahan 10% mulai 1 Februari untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, hingga AS diizinkan membeli Greenland.
Para duta besar Uni Eropa sepakat meningkatkan upaya mereka untuk membujuk Trump agar tidak memberlakukan tarif, sambil juga mempersiapkan langkah-langkah pembalasan jika bea masuk tersebut diberlakukan.
Setelah sempat turun sebentar dalam perdagangan semalam, mata uang Eropa termasuk euro, pound, dan krona Skandinavia naik. Franc Swiss, yang merupakan aset safe-haven klasik, menuju kenaikan harian terbesar terhadap dolar dalam sebulan.
Euro berbalik arah dari awal perdagangan Asia dan naik 0,2% menjadi US$ 1,1627 pada pertengahan pagi di Eropa. Sementara poundsterling juga pulih, naik 0,1% menjadi $1,339.
"Biasanya Anda akan berpikir bahwa ancaman tarif akan menyebabkan euro melemah," kata Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ seperti dilansir Reuters.
Tetapi, Goh bilang, seperti yang kita lihat tahun lalu juga, ketika tarif 'Liberation Day' diberlakukan, dampaknya di pasar valuta asing sebenarnya lebih mengarah pada pelemahan dolar AS setiap kali ada peningkatan ketidakpastian kebijakan yang berasal dari AS.
Seperti diketahui, investor menghindari dolar AS setelah Trump mengumumkan tarif besar-besaran di seluruh dunia pada April 2025 lalu, memicu krisis kepercayaan pada aset AS.
Meskipun beberapa pergerakan modal keluar dari dolar terlihat pada hari Senin, terutama dengan kenaikan besar pada franc Swiss yang dianggap sebagai aset aman, para analis mengatakan bahwa jika terjadi peningkatan ketegangan yang lebih besar, investor kemungkinan besar akan kembali ke mata uang AS.
"Pasar memang cemas tentang penurunan nilai dolar sejak April lalu. Tetapi saya benar-benar ingin memperingatkan agar tidak berasumsi bahwa status dolar sebagai aset aman telah hilang," kata kepala strategi mata uang Rabobank, Jane Foley.
"Bahkan jika investor non-AS memutuskan untuk menarik uang mereka, ke mana mereka akan pergi? Pasar lain tidak cukup besar untuk mempertahankan hal itu. Besarnya pasar (AS) berarti akan selalu ada nilai aset aman yang terkait dengan aset AS," katanya.
Dolar AS turun 0,5% pada Senin (19/1/2026) terhadap franc Swiss menjadi 0,7982 franc. Dolar AS sedikit melemah terhadap yen Jepang, mata uang non-AS lainnya yang menjadi pilihan aman, menjadi 158,055 yen.
Politik domestik Jepang telah menghambat yen dalam beberapa minggu terakhir, dengan pemilu mendadak yang akan datang meningkatkan ekspektasi stimulus fiskal yang lebih besar.
Imbal Hasil US Treasury Naik ke Level Tertinggi Beberapa Bulan, Dipicu Ancaman Trump
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) melonjak mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali memicu perang dagang dengan Eropa.
Melansir Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik hingga tiga basis poin ke level 4,2610%, yang merupakan posisi tertinggi dalam sekitar empat setengah bulan pada perdagangan awal Asia.
Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun melonjak 4,1 basis poin ke 4,8810%, mendekati level tertinggi sejak awal September.
Kenaikan ini merupakan reaksi tertunda pasar terhadap perkembangan isu Greenland yang mencuat sejak akhir pekan lalu, mengingat pasar keuangan AS tutup pada Senin karena hari libur nasional.
“Dengan ancaman tarif terbaru dari Trump, obligasi pemerintah AS berada di antara potensi aliran dana aset aman dan tekanan dari aksi jual aset dolar,” ujar Frances Cheung, Head of FX and Rates Strategy OCBC.
Pada Sabtu lalu, Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland.
Trump juga mengaitkan kebijakan agresif tersebut dengan kegagalannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, dengan mengatakan bahwa dirinya kini tidak lagi berpikir “semata-mata soal perdamaian”.
Sejumlah negara utama Uni Eropa mengecam ancaman tarif tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pemerasan ekonomi. Blok tersebut kini tengah mengkaji langkah balasan, termasuk penerapan tarif tandingan terhadap Amerika Serikat.
Eskalasi terbaru ketegangan dagang ini memicu aksi jual luas terhadap dolar AS, obligasi Treasury, dan kontrak berjangka Wall Street, mengingatkan pasar pada krisis kepercayaan terhadap aset AS tahun lalu setelah pengumuman tarif “Liberation Day” oleh Trump.
Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor lima tahun menyentuh level tertinggi dalam lima bulan di 3,8420%, sementara tenor dua tahun justru sedikit turun ke 3,5881%.
Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya
Bank sentral China (People’s Bank of China/PBOC) kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) pada Januari 2026 untuk bulan kedelapan berturut-turut, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Keputusan ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan moneter di Negeri Tirai Bambu belum terburu-buru melakukan pelonggaran moneter secara luas, meski sebelumnya telah meluncurkan pemangkasan suku bunga yang lebih terarah pada sektor tertentu.
Berdasarkan data terbaru Selasa (20/1/2026), LPR tenor satu tahun tetap di level 3,00%, sementara LPR tenor lima tahun bertahan di 3,50%.
Survei Reuters terhadap 22 pelaku pasar menunjukkan seluruh responden memprediksi tidak ada perubahan pada kedua suku bunga tersebut.
Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil setelah PBOC memangkas suku bunga pada instrumen kebijakan moneter struktural sebesar 25 basis poin pada pekan lalu.
Namun, langkah tersebut dinilai hanya memberikan dampak terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan pemangkasan suku bunga acuan.
PBOC sebelumnya juga menyatakan masih memiliki ruang untuk menurunkan rasio giro wajib minimum (Reserve Requirement Ratio/RRR) perbankan serta melakukan pemangkasan suku bunga yang lebih luas sepanjang tahun ini.
Secara ekonomi, China mencatat pertumbuhan 5,0% sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah.
Pertumbuhan tersebut ditopang lonjakan permintaan global terhadap barang produksi China, meski konsumsi domestik masih lemah.
Strategi ini membantu meredam dampak tarif Amerika Serikat, namun dinilai semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Bank of America Securities menilai pemangkasan suku bunga yang bersifat sektoral baru-baru ini justru menurunkan kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
“Kami tetap memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang lebih komprehensif akan dilakukan pada akhir kuartal I hingga awal kuartal II,” tulis Bank of America Securities dalam risetnya.
Sementara itu, Nomura memperkirakan pemerintah China akan lebih mengandalkan kebijakan fiskal untuk mendorong permintaan dalam jangka pendek.
Lembaga tersebut tetap mempertahankan proyeksi pemangkasan suku bunga sebesar 10 basis poin dan penurunan RRR sebesar 50 basis poin pada kuartal II.
Nomura juga memperkirakan Beijing berpotensi meluncurkan kebijakan tambahan seperti subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) baru, meski pasar masih perlu bersabar menunggu paket kebijakan komprehensif guna menyelamatkan sektor properti yang masih tertekan.
TV Pemerintah Iran Diretas! Pesan Putra Mahkota Gemparkan Publik
Televisi pemerintah Iran dilaporkan diretas selama beberapa menit pada Sabtu (17/2/2026), sehingga pesan oposisi dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, sempat tayang ke seluruh negeri.
Peristiwa ini terjadi di tengah gelombang besar protes masyarakat terhadap pemerintahan Republik Islam Iran.
TheWrap melaporkan, menurut sejumlah media internasional, termasuk The Times of Israel dan Jerusalem Post yang mengutip media oposisi Iran International, pesan Reza Pahlavi disiarkan selama beberapa menit. Kantor pers Pahlavi bahkan mengunggah hampir enam menit rekaman siaran tersebut di platform X pada hari yang sama.
Tak hanya itu, siaran yang diretas juga menampilkan video-video unjuk rasa anti-pemerintah. Tayangan tersebut muncul di berbagai saluran televisi sekaligus karena peretasan dilakukan melalui sistem satelit, menembus pembatasan komunikasi ketat yang selama ini diberlakukan pemerintah Iran.
Krisis nasional di Iran mulai memanas sejak akhir bulan lalu, dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk. Situasi kemudian berkembang menjadi gelombang besar protes anti-pemerintah di berbagai wilayah. Respons pemerintah dilaporkan sangat keras, mulai dari penangkapan massal, penggunaan kekerasan mematikan, hingga pemutusan hampir total akses internet.
Ribuan pengunjuk rasa dilaporkan tewas, terluka, atau ditahan, meski angka pastinya sulit diverifikasi karena terbatasnya arus informasi.
Pekan lalu, dua sineas ternama Iran, Jafar Panahi (sutradara film It Was Just an Accident) dan Mohammad Rasoulof (sutradara There Is No Evil) mengeluarkan peringatan keras terkait pengetatan kembali tindakan represif oleh pemerintah Iran.
Dalam surat bersama yang diperoleh TheWrap, keduanya menyebut pemerintah telah mengisolasi Iran dari dunia luar dengan memutus akses internet, layanan seluler, hingga jaringan telepon rumah. Kelompok pembela HAM memperingatkan, langkah semacam ini kerap menjadi pertanda akan masuknya fase penindasan yang lebih brutal.
Dolar AS Terancam! BRICS Siapkan Skema Pembayaran Baru
Bank sentral India mengusulkan agar negara-negara BRICS saling menghubungkan mata uang digital resmi mereka untuk mempermudah pembayaran lintas negara, baik untuk perdagangan maupun pariwisata.
Melansir Reuters, dua sumber menyebutkan, langkah ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Reserve Bank of India (RBI) telah merekomendasikan kepada pemerintah agar usulan pengaitan mata uang digital bank sentral (central bank digital currencies/CBDC) dimasukkan dalam agenda KTT BRICS 2026. Kedua sumber tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang memberikan pernyataan publik.
India akan menjadi tuan rumah KTT tersebut yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Jika rekomendasi itu disetujui, ini akan menjadi pertama kalinya proposal pengaitan mata uang digital antaranggota BRICS diajukan secara resmi.
BRICS sendiri beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta sejumlah negara lain.
Inisiatif ini berpotensi memancing reaksi Amerika Serikat, yang sebelumnya telah memperingatkan agar tidak ada upaya untuk menghindari peran dolar AS. Presiden AS Donald Trump bahkan pernah menyebut aliansi BRICS sebagai “anti-Amerika” dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara anggotanya.
RBI, pemerintah pusat India, serta bank sentral China, Brasil, dan Rusia tidak merespons permintaan komentar melalui email. Sementara itu, bank sentral Afrika Selatan menolak berkomentar.
Usulan RBI untuk mengaitkan CBDC BRICS demi pembiayaan perdagangan lintas negara dan pariwisata ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Usulan RBI tersebut melanjutkan deklarasi KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro, yang mendorong interoperabilitas sistem pembayaran antaranggota guna meningkatkan efisiensi transaksi lintas batas.
Secara terbuka, RBI juga menyatakan ketertarikannya menghubungkan rupee digital India dengan CBDC negara lain untuk mempercepat transaksi internasional dan memperluas penggunaan global mata uang India. Meski begitu, RBI menegaskan upaya ini tidak dimaksudkan untuk mendorong de-dolarisasi.
Saat ini, belum ada satu pun anggota BRICS yang meluncurkan mata uang digitalnya secara penuh. Namun, lima anggota utama semuanya telah menjalankan proyek percontohan.
Mata uang digital India, yang dikenal sebagai e-rupee, telah menarik sekitar 7 juta pengguna ritel sejak diluncurkan pada Desember 2022. Sementara itu, China berkomitmen meningkatkan penggunaan internasional yuan digital.
RBI juga aktif mendorong adopsi e-rupee, antara lain dengan memungkinkan transaksi offline, menyediakan fitur pemrograman untuk penyaluran subsidi pemerintah, serta mengizinkan perusahaan fintech menawarkan dompet mata uang digital.
Agar pengaitan mata uang digital BRICS berhasil, berbagai aspek perlu dibahas, seperti teknologi yang saling kompatibel, aturan tata kelola, serta mekanisme penyelesaian ketidakseimbangan volume perdagangan. Salah satu sumber menyebutkan, topik-topik ini akan menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Namun, sumber tersebut juga mengingatkan bahwa keraguan antarnegara dalam mengadopsi platform teknologi dari negara lain bisa memperlambat realisasi proposal. Kemajuan nyata akan membutuhkan kesepakatan bersama, baik dari sisi teknologi maupun regulasi.
Salah satu gagasan yang tengah dikaji untuk mengelola potensi ketidakseimbangan perdagangan adalah penggunaan perjanjian swap valuta asing bilateral antarbank sentral.
Upaya sebelumnya oleh Rusia dan India untuk meningkatkan perdagangan menggunakan mata uang lokal sempat menemui kendala. Rusia menumpuk saldo besar dalam rupee India yang sulit dimanfaatkan, sehingga bank sentral India akhirnya mengizinkan dana tersebut diinvestasikan ke obligasi lokal.
Skema penyelesaian transaksi mingguan atau bulanan melalui mekanisme swap juga sedang diusulkan, menurut sumber kedua.
BRICS didirikan pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, sebelum kemudian diperluas dengan bergabungnya Afrika Selatan. Seiring waktu, blok ini terus berkembang dengan masuknya anggota baru seperti Uni Emirat Arab, Iran, dan Indonesia.
BRICS kembali menjadi sorotan seiring kembalinya retorika perang dagang dan ancaman tarif dari Trump, termasuk peringatan kepada negara-negara yang mendekat ke BRICS. Di saat yang sama, India juga semakin mendekat ke Rusia dan China di tengah meningkatnya friksi dagang dengan AS.
Upaya sebelumnya untuk menjadikan BRICS sebagai penyeimbang ekonomi global kerap tersandung hambatan. Salah satunya adalah gagasan pembentukan mata uang bersama BRICS yang sempat diusulkan Brasil, namun akhirnya dibatalkan.
Di tingkat global, minat terhadap CBDC memang sedikit meredup akibat meningkatnya penggunaan stablecoin. Meski demikian, India tetap memosisikan e-rupee sebagai alternatif yang lebih aman dan terregulasi.
“CBDC tidak menimbulkan banyak risiko yang biasanya melekat pada stablecoin,” ujar Deputi Gubernur RBI T Rabi Sankar bulan lalu.
Ia menambahkan, selain berpotensi memfasilitasi pembayaran ilegal dan menghindari pengawasan, stablecoin juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas moneter, kebijakan fiskal, intermediasi perbankan, dan ketahanan sistem keuangan.
India khawatir penggunaan stablecoin secara luas dapat memecah sistem pembayaran nasional dan melemahkan ekosistem pembayaran digital domestik, seperti dilaporkan Reuters pada September lalu.
Ketua The Fed Jerome Powell akan Hadiri Sidang soal Upaya Trump Pecat Lisa Cook
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berencana menghadiri langsung sidang dengar pendapat (oral arguments) di Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Rabu (waktu setempat), terkait gugatan yang menguji kewenangan Presiden Donald Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook.
Informasi tersebut disampaikan sumber yang mengetahui rencana tersebut kepada CNBC, Senin (19/1/2026).
Kehadiran Powell dalam persidangan ini terbilang tidak lazim. Namun, perkara tersebut dipandang sangat krusial oleh bank sentral AS karena menyangkut independensi The Fed dan berpotensi berdampak eksistensial terhadap lembaga tersebut.
Rencana kehadiran Powell muncul di tengah sorotan terhadap dirinya, menyusul penyelidikan pidana oleh Kejaksaan AS di Washington, D.C.
Penyelidikan itu berkaitan dengan proyek renovasi kantor pusat The Fed bernilai miliaran dolar AS serta kesaksiannya di Kongres mengenai proyek tersebut.
Associated Press pertama kali melaporkan rencana Powell untuk menghadiri persidangan tersebut.
Dalam pernyataan publik yang jarang terjadi pada 11 Januari lalu, Powell mengungkapkan bahwa dirinya sedang berada dalam penyelidikan pidana.
Ia menilai dasar penyelidikan tersebut sebagai dalih atas alasan sebenarnya, yakni penolakan Dewan Gubernur The Fed yang mencakup dirinya dan Lisa Cook untuk menurunkan suku bunga secepat yang diminta Trump tahun lalu.
“Ancaman tuntutan pidana ini merupakan konsekuensi dari keputusan Federal Reserve untuk menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik demi kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden,” ujar Powell kala itu.
Trump pada akhir Agustus lalu menyatakan telah memecat Lisa Cook dari Dewan Gubernur The Fed yang beranggotakan tujuh orang.
Trump menuding Cook melakukan penipuan kredit pemilikan rumah (mortgage fraud) terkait dua properti yang dimilikinya.
Namun, Cook membantah tuduhan tersebut dan hingga kini tidak pernah didakwa atas pelanggaran pidana apa pun. Ia kemudian menggugat Trump ke pengadilan federal di Washington, D.C. untuk memblokir pemecatannya.
Hakim pengadilan distrik pada 9 September lalu mengeluarkan putusan sementara yang melarang Trump memecat Cook selama proses hukum berjalan. Putusan tersebut kemudian dikuatkan oleh pengadilan banding federal.
Departemen Kehakiman AS, dalam dokumen yang diajukan ke Mahkamah Agung, menyebut putusan pengadilan yang melarang pemecatan Cook sebagai “contoh lain dari campur tangan yudisial yang tidak semestinya terhadap kewenangan presiden”, termasuk kewenangan Presiden untuk memberhentikan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve dengan alasan tertentu.
Operasi Khusus AS: Akankah Kim Jong Un Bernasib Seperti Maduro?
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tampaknya mulai menangkap pesan penting: dirinya bisa saja menjadi sasaran serangan cepat seperti yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump untuk menyingkirkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dari kekuasaan dan membawanya ke tahanan di New York.
Penggerebekan berani oleh pasukan AS di Caracas pada 3 Januari lalu hampir pasti menimbulkan ketakutan yang jauh lebih besar bagi Kim dibandingkan latihan militer atau unjuk kekuatan udara apa pun.
Pada saat yang sama, peristiwa tersebut juga meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi nuklir, seiring Kim masuk ke mode panik, dipicu oleh presiden AS yang selama ini kerap membanggakan “hubungan yang sangat baik” antara keduanya.
“Operasi untuk melakukan ‘rendition’ terhadap presiden Venezuela menunjukkan kemampuan yang patut menjadi perhatian Korea Utara,” kata Sydney Seiler, mantan pejabat intelijen nasional AS untuk Korea Utara di National Intelligence Council, seperti yang dikutip Daily Beast.
Istilah “rendition” yang digunakan Seiler merupakan bahasa internal CIA, merujuk pada penangkapan target musuh untuk dibawa ke tempat lain guna diadili atau bahkan disiksa dan dibunuh.
Kata kunci lain yang tak asing bagi Kim adalah “decapitation” atau pemenggalan kepemimpinan. Kim tahu betul bahwa Amerika telah lama melatih skenario ini dalam latihan militer tahunan mereka.
“Yang membuatnya menarik adalah karena decapitation merupakan cara tercepat untuk mengakhiri konflik,” ujar Seiler, yang pernah beberapa kali mengunjungi Korea Utara sebagai bagian dari tim perunding sebelum Pyongyang memutus seluruh komunikasi setelah kegagalan pertemuan Kim dan Trump pada 2019.
Menurut Seiler, decapitation akan sangat membantu untuk menekan Korea Utara. Tanpa Kim Jong Un, Korea Utara tidak akan memiliki pemimpin, tidak ada sosok yang tahu bagaimana mengendalikan angkatan bersenjata mereka yang berjumlah sekitar 1,2 juta personel, kekurangan gizi, dan apalagi seseorang yang memegang kendali atas program nuklir negara itu.
Ketakutan terdalam Kim terhadap skenario seperti yang terjadi di Caracas tampak dari keputusannya mengizinkan penayangan film tentang penangkapan Maduro kepada publik Korea Utara.
Film berjudul Days and Nights of Confrontation ditayangkan di televisi pemerintah Korea Utara pada waktu yang sangat tepat, hanya beberapa hari setelah pasukan elite AS menangkap Maduro dan istrinya. Pesannya jelas: apa yang menghalangi Amerika melakukan hal serupa di Korea Utara?
Film tersebut mencerminkan “tren konten bergaya Hollywood yang provokatif dan ditujukan untuk menarik generasi muda,” tulis situs Korea Selatan, NK News, yang memantau Korea Utara. “Tentu saja Kim dan keluarganya, termasuk adik perempuannya yang berapi-api, Yo-Jong, serta putri remajanya yang sangat ia sayangi, Ju-ae, akan menjadi target yang sangat menarik.”
Dalam satu operasi saja, Amerika bisa menghapus seluruh dinasti yang didirikan oleh kakek Kim, Kim Il-Sung, yang dipasang sebagai pemimpin Korea Utara oleh Uni Soviet setelah Jepang menyerah pada 1945.
Menangkap Kim bukanlah gagasan baru bagi para ahli “rendition” Amerika.
“Beberapa staf Gedung Putih percaya kematiannya akan melumpuhkan negaranya,” tulis Joel Wit, mantan anggota tim perunding AS yang pernah memeriksa fasilitas nuklir Yongbyon setelah Korea Utara menandatangani kesepakatan penghentian produksi senjata nuklir pada 1994.
“Pergi dan tangkap Kim Jong Un, kami siap melakukan itu,” kata Wit dalam bukunya Fallout: The Inside Story of America’s Failure to Disarm North Korea. Seorang pejabat dikutip mengatakan, “Semua orang, termasuk Korea Utara, tahu bahwa membunuhnya adalah bagian dari rencana perang.”
Memang, Amerika mungkin perlu mengerahkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan sekitar 150 pesawat dan beberapa ratus pasukan, termasuk pasukan elite Delta Force, yang digunakan untuk menangkap Maduro.
Namun Kim sadar bahwa dirinya, keluarganya, dan lingkaran terdekatnya bisa saja diseret ke dalam helikopter menuju kapal perang AS jauh sebelum Rusia dan China sempat bereaksi untuk membantu militer Korea Utara yang kekurangan logistik, kurang terlatih, dan tidak siap memberikan perlindungan instan kepada pemimpinnya.
Jika menangkap Kim terdengar seperti misi mustahil, perlu diingat bahwa ia sering tampil di depan publik, meninjau proyek industri dan pertanian, memeriksa pasukan, hingga menghadiri upacara resmi. Ia juga kerap muncul dalam peluncuran rudal, yang justru bisa menjadi momen paling ideal untuk menangkapnya saat ia sibuk berpose menekan tombol peluncuran.
Amerika Serikat pun sangat memahami apa yang diperlukan untuk menargetkan Kim. Pasukan AS telah berlatih selama bertahun-tahun untuk skenario tersebut. Latihan militer tahunan AS–Korea Selatan sebelumnya bahkan kerap ditutup dengan simulasi “decapitation” terhadap “pemimpin Korea Utara”, meski tanpa menyebut nama Kim secara langsung.
Komando militer AS di Korea sempat menghilangkan istilah “decapitation” demi menghormati Korea Selatan, yang menilai bahasa tersebut tidak membantu upaya dialog dengan Pyongyang. Namun, istilah itu kembali mengemuka setelah penangkapan Maduro, sekaligus memunculkan pertanyaan di Pyongyang: siapa target berikutnya dalam daftar Amerika?
Sejumlah media internasional menyoroti dampaknya. South China Morning Post menulis bahwa Kim diperkirakan akan semakin bergantung pada “selimut pengaman nuklir” setelah kasus Venezuela. Media lain menyebut operasi “decapitation” AS terhadap Venezuela justru akan memperkuat ambisi nuklir Korea Utara.
Ancaman ini seharusnya mendorong Trump untuk bertindak cepat menyingkirkan sosok yang selama bertahun-tahun dianggap mengganggu stabilitas kawasan, sosok yang gemar melontarkan ancaman kehancuran nuklir sementara rakyatnya sendiri menderita kelaparan dan penyakit.
Unjuk kekuatan lewat penerbangan pembom berat AS nyaris tidak banyak mengubah ancaman yang ditimbulkan musuh-musuh Amerika. Kim tahu ia bisa menertawakan manuver udara semacam itu, atau bahkan pertemuan sia-sia lainnya dengan Trump.
Ancaman penangkapan ala Maduro jauh lebih efektif. Ketakutan terbesar Kim adalah Amerika, setelah bertahun-tahun melatih skenario “pemenggalan kepemimpinan”, akhirnya memutuskan untuk benar-benar melaksanakannya, membungkam sosok yang dianggap teroris utama Asia secepat saat mereka menyeret Maduro dan istrinya ke penjara di New York.
Kebijakan Visa AS Berbuntut Panjang, Negara Lain Balas Setimpal
Seiring pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperluas larangan perjalanan ke 39 negara dan menangguhkan pemrosesan visa untuk total 75 negara, sejumlah negara kini merespons dengan kebijakan pembatasan perjalanan dan visa bagi warga Amerika Serikat.
The Street melaporkan, sejumlah negara Afrika seperti Chad, Niger, Burkina Faso, dan Mali memutuskan untuk menghentikan penerbitan visa bagi warga AS. Langkah ini mereka sebut sebagai tindakan balasan (resiprokal), menyusul perlakuan yang diterima warga negara mereka saat hendak masuk ke Amerika Serikat.
Awal bulan ini, Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Mali mengeluarkan pernyataan bahwa warga AS kini akan dikenai “syarat dan ketentuan yang sama seperti yang diberlakukan otoritas Amerika terhadap warga Mali yang masuk ke Amerika Serikat.”
Pakistan juga mengambil langkah yang membuat kunjungan warga AS menjadi lebih sulit. Negara Asia Selatan tersebut termasuk dalam daftar negara yang pemrosesan seluruh visa imigrannya akan ditangguhkan oleh Departemen Luar Negeri AS mulai 21 Januari.
Meski kebijakan Pakistan ini tidak secara langsung dikaitkan dengan langkah pemerintahan Trump, Pakistan tetap memperketat aturan bagi warga Amerika dengan menghentikan program visa prior to arrival, menurut laporan Visas News. Program ini sebelumnya memungkinkan warga dari 125 negara mengajukan izin masuk secara mudah melalui sistem online.
Sejak Agustus 2024, warga dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, serta sebagian besar negara Eropa dan Asia bisa mengajukan visa turis atau bisnis 90 hari secara gratis, hanya dengan mengunggah data paspor dan rincian perjalanan melalui portal pemerintah.
Namun, para pelancong menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan tersebut. Aplikasi Pak ID kini mengarahkan pemohon untuk memilih kategori visa reguler yang berbayar. Biaya visa kini sebesar US$ 35 untuk sekali masuk dengan masa tinggal hingga tiga bulan. Selain itu, prosesnya memakan waktu hingga tujuh hari kerja, berbeda dengan visa sebelumnya yang memungkinkan keluar-masuk berkali-kali.
Khusus warga Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, biaya visa bahkan lebih mahal, yakni US$ 60. Pemerintah Pakistan belum menjelaskan alasan perbedaan tarif tersebut.
Hingga kini, pemerintah Pakistan juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait perubahan kebijakan tersebut maupun memastikan apakah sistem pengajuan visa yang lebih sederhana akan diberlakukan kembali di masa depan.
Pada Agustus 2024, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sempat menyebut pelonggaran aturan visa sebagai upaya untuk menjadikan Pakistan destinasi yang lebih menarik bagi investasi dan pariwisata.
Inflasi Kanada di Desember Mencapai 2,4%, Lebih Tinggi dari Perkiraan
Inflasi Kanada naik lebih cepat dari perkiraan. Badan Statistik Kanada mengumumkan, Senin (19/1/2026), inflasi Desember mencapai 2,4%.
Angka ini lebih tinggi dari inflasi di bulan sebelumnya yang sebesar 2,2%. Selain itu, konsensus proyeksi ekonom juga memprediksi inflasi di Desember cuma mencapai 2,2%.
Kenaikan inflasi utama pada Desember didorong keringanan pajak penjualan sementara untuk barang-barang makanan dan perlengkapan anak-anak tertentu. Keringan pajak ini disahkan oleh pemerintahan liberal sebelumnya, yang dipimpin Justin Trudeau pada periode Desember 2024.
Harga makanan di restoran, salah satu segmen, yang terpengaruh oleh keringanan pajak tersebut, merupakan kontributor terbesar terhadap percepatan laju inflasi tahunan pada Desember 2025.
Yang mengurangi percepatan laju tahunan tersebut adalah penurunan harga bensin dari tahun ke tahun, yang turun 13,8% di Desember, setelah penurunan 7,8% pada November. Bila tidak memperhitungkan harga makanan dan energi yang fluktuatif, inflasi naik 2,5% pada Desember.
Inflasi harga jasa pada Desember meningkat menjadi 3,3% dari 2,8% pada bulan November. Sementara harga barang naik 1,2% setelah naik 1,5% pada bulan sebelumnya.
Secara rata-rata tahunan, harga meningkat 2,1% sepanjang tahun lalu, setelah kenaikan 2,4% pada tahun 2024.
Secara bulanan, indeks harga konsumen turun sebesar 0,2%. Penurunan bulanan tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar, yang sebesar 0,3%.
Data inflasi utama, yang jadi acuan bank sentral Kanada, yakni CPI-median dan CPI-trim, terus menurun dan mencapai level terendah sejak Desember 2024.
CPI-median, yakni nilai tengah rangkaian perubahan harga dalam satu bulan, turun jadi 2,5% dari 2,8% di November. Sementara CPI-trim, yang tidak memperhitungkan perubahan harga paling ekstrem, turun menjadi 2,7% dari 2,9%.
Perlambatan harga seharusnya memungkinkan Bank of Canada mempertahankan suku bunga. Pelaku pasar keuangan juga memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah tahun ini.
Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil di 2,25% pada Desember lalu. Bank sentral ini mengatakan, ini adalah tingkat yang tepat untuk menjaga inflasi mendekati target 2%.
"Meskipun angka inflasi utama sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan, data ini masih konsisten dengan inflasi inti yang mendekati 2%, dan sebagai hasilnya kami terus melihat tidak ada perubahan pada suku bunga Bank of Canada sepanjang 2026," kata Andrew Grantham, Ekonom Senior CIBC Capital Markets, dikutip Reuters.
Jessica Hinds, Direktur tim Ekonomi Fitch Ratings, mengatakan, data inflasi Kanada sangat tidak mungkin mengubah perhitungan bank sentral.