News Komoditi & Global ( Rabu, 18 Maret 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Rabu,   18 Maret 2026  )

Harga Emas Global Melemah di Tengah Ekspektasi The Fed Hawkish, Permintaan USD

 

Emas sedang dalam fase konsolidasi bearish dekat terendah bulanan, sambil berjuang di level $5.000. Di tengah pembaruan permintaan safe haven Dolar AS (USD) dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) AS dapat berubah hawkish pada hari Rabu membuat tekanan bearish pada Emas tetap terjaga.

Israel Defense Forces (IDF) mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka "mengidentifikasi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah Negara Israel. Sistem pertahanan sedang beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran membantah laporan komunikasi langsung dengan utusan AS, Steve Witkoff, yang meredam harapan perundingan gencatan senjata.

Lebih lanjut, pasar tetap khawatir terhadap ketahanan gangguan pasokan minyak secara global karena negara-negara Eropa menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, meskipun ada ancaman dari Presiden AS, Donald Trump, bahwa NATO menghadapi "masa depan yang sangat buruk" jika anggota-anggotanya gagal membantu membuka jalur air vital tersebut.

Perkembangan geopolitik ini terkait dengan perang di Timur Tengah menghidupkan kembali aliran safe haven ke dalam Greenback.

Selain itu, USD juga mendapat dukungan dari berkurangnya taruhan bahwa The Fed dapat memangkas suku bunga di tahun ini. Pasar memprakirakanThe Fed akan mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah untuk tiga pertemuan mendatang.

Emas juga dapat menghadapi beberapa hambatan dari kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) yang diprakirakirakan secara luas pada hari Selasa saat bank sentral berusaha mengatasi guncangan inflasi yang dipicu energi.

Namun, sisi bawah tampaknya terjaga karena aksi 'beli saat harga turun' tetap berlangsung saat investor masih memiliki sedikit keyakinan pada penyimpan nilai tradisional, Emas, saat ketidakpastian terus berlanjut akibat konflik di Timur Tengah.

Ke depan, para pedagang Emas akan terus berada di bawah pengaruh berita dari Timur Tengah dan pergerakan harga USD dan harga minyak saat The Fed memulai pertemuan kebijakan moneternya yang berlangsung selama dua hari pada Selasa sore ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Turun setelah Laporan dari American Petroleum Institute  Menunjukkan Peningkatan Persediaan Minyak Mentah di Amerika Serikat

 

Harga minyak sedikit turun pada Rabu pagi setelah laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, minyak Brent turun US$ 1,15 atau 1,11% menjadi US$ 102,27 per barel pada pukul 01.08 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,54 atau 1,6% menjadi US$ 94,67 per barel.

Berdasarkan data API, persediaan minyak mentah AS naik sekitar 6,56 juta barel untuk pekan yang berakhir 13 Maret, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan 380.000 barel.

Di sisi pasokan, Menteri Minyak Irak menyebut pemerintah pusat dan Pemerintah Regional Kurdistan telah mencapai kesepakatan untuk melanjutkan ekspor minyak ke pelabuhan energi Ceyhan, Turki, mulai Rabu. Aliran minyak dari pelabuhan Ceyhan dijadwalkan dimulai pukul 10 pagi waktu setempat (07.00 GMT).

Sementara itu, National Oil Corporation Libya menyatakan aliran dari ladang minyak Sharara dialihkan melalui pipa alternatif setelah terjadi kebakaran, namun produksi tetap berjalan dan tidak ada korban.

Kondisi geopolitik juga memengaruhi pasar. Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, tewas dalam serangan Israel, menjadi pejabat tertinggi yang menjadi target sejak hari pertama perang AS-Israel terhadap Iran.

Seorang pejabat senior Iran menyebut pemimpin tertinggi baru Iran menolak tawaran de-eskalasi dari negara perantara.

Militer AS menyatakan menargetkan situs di sepanjang pesisir Iran dekat Selat Hormuz karena rudal anti-kapal Iran dianggap mengancam jalur pelayaran internasional.

Menurut Mingyu Gao, kepala peneliti energi dan kimia di China Futures, kematian Larijani dan serangan militer AS di pesisir Iran meningkatkan harapan bahwa konflik bisa berakhir lebih cepat, yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Naik, Cermati Sikap The Fed Saat Harga Minyak Panas

 

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026), seiring investor mencermati hasil pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve di tengah tekanan harga minyak dan konflik Timur Tengah.

Mengutip Reuters, secara keseluruhan, indeks S&P 500 naik 0,25% ke level 6.716,09. Indeks Nasdaq Composite menguat 0,47% ke 22.479,53, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,10% ke 46.993,26.

Sebanyak delapan dari sebelas sektor di S&P 500 ditutup di zona hijau, dipimpin sektor energi yang naik 1,02% serta sektor konsumer diskresioner yang menguat sekitar 1%.

Penguatan pasar terutama ditopang oleh saham sektor perjalanan dan maskapai yang bangkit setelah sebelumnya tertekan akibat lonjakan harga energi.

Saham Delta Air Lines melonjak lebih dari 6%, sementara American Airlines Group naik 3,5% setelah keduanya meningkatkan proyeksi pendapatan kuartal berjalan. United Airlines turut menguat 3,2%.

Di sektor pariwisata, Norwegian Cruise Line Holdings naik lebih dari 2% dan Expedia Group menguat lebih dari 4%.

Pertemuan dua hari The Fed dimulai pada Selasa waktu setempat. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga dalam keputusan yang diumumkan Rabu (18/3/2026).

Namun, lonjakan harga minyak yang bertahan di kisaran US$100 per barel akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama, karena berpotensi mendorong inflasi di tengah sinyal pelemahan pasar tenaga kerja.

Investment strategist Baird Private Wealth Management, Ross Mayfield, mengingatkan bahwa respons The Fed terhadap lonjakan harga minyak akan sangat menentukan arah pasar.

“Risiko terbesar bagi pasar adalah jika The Fed melihat lonjakan harga minyak sebagai tekanan inflasi dan merespons dengan kebijakan yang lebih hawkish,” ujarnya.

Menurutnya, skenario terbaik bagi pasar adalah jika bank sentral tetap konsisten dengan pendekatan sebelumnya.

“Skenario terbaik adalah The Fed mengonfirmasi bahwa mereka memantau situasi, namun tetap mencoba melihat melampaui guncangan harga minyak yang bersifat sementara,” tambahnya.

Data pasar menunjukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai menurun. Pelaku pasar kini hanya memperkirakan satu kali penurunan sebesar 25 basis poin pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan dua kali sebelum konflik meningkat.

Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI), juga menekan sentimen pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Indeks acuan S&P 500 tercatat turun sekitar 4% dari level tertinggi sepanjang masa pada akhir Januari, meskipun saat ini masih diperdagangkan di atas rata-rata valuasi historisnya.

Sektor keuangan ikut pulih setelah tekanan pada pekan sebelumnya. Saham Blackstone naik 4,6%, Apollo Global Management menguat 5,3%, dan KKR naik 3,3%.

Di sektor energi, Occidental Petroleum dan ConocoPhillips masing-masing naik sekitar 1% mengikuti kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, saham Uber Technologies melonjak 4,2% setelah mengumumkan rencana ekspansi robotaxi di 28 kota mulai tahun depan dengan dukungan teknologi dari Nvidia.

Namun, tidak semua saham menguat. Honeywell International turun 1,3% setelah memperingatkan dampak konflik Timur Tengah terhadap kinerja kuartal pertama.

Sementara itu, saham Eli Lilly anjlok hampir 6% setelah mendapat penurunan rekomendasi dari HSBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebohongan Baru Trump, Tak Menyangka Iran Bakal Membalas ke Negara Teluk

 

Presiden AS Donald Trump menyatakan keterkejutannya soal serangan balasan Iran ke pangkalan dan aset di negara-negara Teluk. Ini ia sampaikan menyangkal fakta bahwa Iran jauh sebelum serangan AS-Israel sudah memeringatkan bahwa balasan mereka akan menyasar negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

"Tidak ada yang menduga hal itu. Kami terkejut. Para pakar terhebat, tidak ada yang mengira mereka akan melakukan itu,” ujar Trump dalam pernyataan terbarunya dari Gedung Putih, Senin (16/3/2026).

"Kuwait terkena dampaknya, Bahrain terkena dampaknya, semua negara terkena dampaknya. Tidak ada pakar yang bisa mengatakan hal ini akan terjadi."

Begitupun, Trump mengatakan sekalipun ia tahu negara-negara Teluk akan terkena dampaknya, AS akan tetap melancarkan serangan. “Apa masalahnya (jika negara Teluk diserang). Maksud saya, kami harus melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Komentar Trump itu berkebalikan dengan fakta di lapangan. Sejak AS mulai mengerahkan kapal induk ke Timur Tengah untuk mengancam Iran, negara tersebut sudah mewanti-wanti soal meluasnya perang.

Pada 1 Februari, duta besar Iran untuk PBB mengatakan semua pangkalan dan aset AS di wilayah tersebut akan dianggap sebagai target yang sah jika terjadi serangan. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga memperingatkan pihak-pihak terkait bahwa mereka "mengipasi api" potensi perang yang lebih luas.

Negara-negara Teluk juga agaknya paham ancaman Iran bukan isapan jempol. Diplomat mereka terekam melakukan upaya-upaya merayu AS tak melancarkan serangan ke Iran karena khawatir akan meluasnya balasan Iran.

Terkini, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan pihaknya kembali mengeluarkan peringatan bahwa serangan ini akan menghantam industri-industri yang berafiliasi dengan AS di wilayah tersebut dalam beberapa jam mendatang, dan mendesak para pekerja dan orang-orang di wilayah tersebut untuk mengungsi.

“Kami memperingatkan rezim Amerika yang kalah untuk mengevakuasi semua industri Amerika di wilayah tersebut, dan kami meminta masyarakat di daerah sekitar pabrik-pabrik industri di mana Amerika adalah pemegang sahamnya untuk mengevakuasi daerah-daerah tersebut sehingga mereka tidak dirugikan,” kata juru bicaranya dalam sebuah pesan yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim Iran.

Belum jelas perusahaan mana yang akan menjadi sasaran, namun pekan lalu kantor berita tersebut menerbitkan daftar target potensial di Telegram yang mencakup kantor raksasa teknologi seperti Amazon, Google, Microsoft dan Nvidia di negara-negara Teluk.

Sejauh ini, perang Israel-AS terhadap Iran mulai memberikan dampak buruk terhadap perekonomian negara-negara Teluk, dengan Dubai sebagai salah satu pusat keuangan dan pariwisata yang paling terkena dampaknya di wilayah tersebut.

Lebih dari 1.800 rudal dan drone Iran telah menargetkan Uni Emirat Arab (UEA) sejak perang AS-Israel terhadap Iran meningkat, sebagian besar ditujukan ke Dubai. Pasar saham Dubai telah anjlok 21 persen sementara indeks real estat kota tersebut telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya.

Giorgio Cafiero, CEO Gulf State Analytics, mengatakan serangan tersebut merusak reputasi yang membantu mengubah Dubai menjadi pusat global. “Selama beberapa dekade, citra dan reputasi Dubai sebagai kota yang sangat aman dan bagian Timur Tengah yang sangat stabil dan sejahtera sangat penting bagi reputasi Dubai,” katanya kepada Aljazirah.

Cafiero memperingatkan semakin lama perang berlanjut, semakin sulit bagi UEA untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. “Saya pikir pertanyaannya adalah, ketika perang ini berakhir, apa yang dapat dilakukan UEA untuk memulihkan citra tersebut dan membangun kembali merek tersebut?”

Dia juga menyebutkan latar belakang geopolitik di balik serangan tersebut. “Iran jelas melihat hubungan UEA-Israel sebagai ancaman besar bagi Republik Islam,” kata Cafiero.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Retaknya NATO karena Menolak Ajakan Trump Ikut Perang di Selat Hormuz

 

 

Agresi terhadap Iran membuat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) retak. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam negara-negara sekutunya di Eropa yang tergabung dalam NATO lantaran menolak mengerahkan armada militernya ke Selat Hormuz yang masih dikuasai total oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Trump mengatakan, penolakan rekanannya di Eropa itu bakal membuat masa depan NATO menjadi suram. “Masa depan yang sangat buruk bagi NATO, kecuali jika mereka menyediakan kapal perang,” kata Trump dalam wawancaranya bersama Financial Times seperti dikutip dari Guardian, Senin (16/3/2026).

Bagi Trump, Eropa merupakan sekumpulan negara-negara yang selama ini diuntungkan dengan adanya keamanan di Selat Hormuz. Hingga saat ini, Iran masih menutup perairan krusial komoditas minyak fosil dan gas cair global itu lantaran diserang oleh agresor AS-Zionis Israel.

Kata Trump, negara-negara yang diuntungkan atas keamanan Selat Hormuz itu punya tanggung jawab membantu AS-Israel untuk membuka kembali akses seperlima minyak dan gas dunia itu dengan cara-cara memerangi Iran.

“Sangat tepat jika mereka (Eropa) yang diuntungkan oleh selat (Hormuz) tersebut, membantu memastikan bahwa tidak ada hal yang buruk terjadi di sana. Jika tidak ada tanggapan, atau mereka memberikan tanggapan yang negatif, saya berpikir, itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” kata Trump.

AS merupakan negara utama anggota NATO. Namun partisipasi negara-negara di Eropa lebih dominan. Dan pemimpin negara-negara dominan itu memastikan, ajakan Trump agar anggota-anggota NATO itu mengerahkan armada perangnya ke Selat Hormuz tak dapat diterima.

Negara-negara NATO itu pun merasa agresi AS-Zionis yang menyerang Iran, bukanlah perang anggota-anggota NATO. Sejak AS-Zionis menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026), hingga perang yang sudah memasuki pekan ketiga itu, Eropa menegaskan tak mau ikut-ikutan.

Eropa bahkan turut mengecam Trump dan Benjamin Netanyahu menyerang Iran. Jerman salah satu negara anggota NATO terkuat di Eropa, berkali-kali mengatakan bahwa agresi AS-Zionis ke Iran, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Serangan AS-Zionis terhadap Iran yang sudah membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khamenei wafat, semakin membuat runyam. Sebab itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak setiap proposal AS maupun Israel yang mengajak ikut masuk ke palagan perang. Termasuk menolak tegas ajakan Trump untuk membantu merebut penguasaan Selat Hormuz yang merupakan teritorial peraian Iran.

“Tidak pernah ada keputusan bersama tentang apakah kami (Jerman) akan campur tangan. Itulah sebabnya pertanyaan tentang bagaimana Jerman akan berkontribusi secara militer tidak akan pernah muncul. Kami tidak akan melakukannya,” kata Merz.

Meskipun kata dia anggapan tentang pemerintahan Para Mullah memang harus diakhiri. “Tetapi tidak dengan mengebom mereka. Berdasarkan pengalaman yang kita peroleh dalam beberapa tahun dan dekade sebelumnya, mengebom mereka hingga tunduk, bukanlah pendekatan yang tepat,” kata Merz.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius menambahkan, the Panzer bukannya tak mau membantu AS-Israel dalam kampanyenya terhadap Iran. Pun Jerman bukannya menolak proposal Trump agar tercipta koalisi armada laut untuk normalisasi akses Selat Hormuz.

“Tetapi ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya. Apa yang diharapkan oleh Donald Trump dari sedikit fregat (kapal perang) Eropa di Selat Hormuz yang tidak bisa ditangani oleh Angkatan Laut Amerika Serikat yang perkasa? Itulah pertanyaan yang selalu saya ajukan pada diri sendiri,” kata Pistorius.

Pihak Inggris yang juga negara penentu dalam NATO memuntahkan proposal Trump terkait Selat Hormuz itu. Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer pernah ‘dihina’ oleh Trump sebagai pengecut karena menolak ikut membantu mengerahkan armada perangnya sebagai penangkal serangan-serangan balasan rudal-misil Iran ke negara-negara Teluk Arab. Kali ini kembali mementahkan proposal Trump agar Inggris mengerahkan armada lautnya untuk melawan Iran di Selat Hormuz.

“Inggris tetap tidak akan terlibat dalam peperangan ini,” kata dia. Meskipun Starmer setuju agar Selat Hormuz tetap kembali normal.

“Pada akhirnya kita memang harus membuka Selat Hormuz untuk memastikan stabilitas di pasar. Tetapi itu tidak dilakukan dengan cara yang diinginkan oleh Donald Trump (pengerahan armada perang),” ujar Starmer.

Inggris, kata dia, lebih percaya normalisasi Selat Hormuz dapat dilakukan dengan kesepakatan-kesepakatan bersama dalam balutan diplomasi internasional. Menteri Luar Negeri (Menlu) Italia Antonio Tajani juga mengatakan negaranya mendorong AS-Israel untuk menghentikan peperangan.

Tajani mengatakan, Selat Hormuz harus dikembalikan menjadi perairan yang aman melalui cara-cara diplomasi. “Diplomasi harus diutamakan. Negara-negara yang tidak terlibat (peperangan AS-Zionis dengan Iran), tidak bisa memperluas misi angkatan lautnya ke wilayah tersebut (Selat Hormuz),” kata Tajani.

Meskipun dia mengakui saat ini sejumlah armada laut militer negara-negara Eropa berada di perairan Laut Merah, namun tidak akan bergeser sampai ke palagan di Selat Hormuz.

The Guardian mengatakan, Prancis yang militernya juga salah satu terkuat di Eropa, dan juga di NATO menolak untuk memenuhi proposal Trump dalam meminta bantuan armada perang laut untuk dikerahkan ke Selat Hormuz. Sementara negara-negara sekutu AS lainnya di belahan Bumi seberang, yang bukan anggota NATO, seperti Australia, dan Jepang dilaporkan, tak ada rencana kali ini untuk ikut-ikutan ajakan AS. Kedua negara mitra AS di kawasan Pasifik itu menegaskan, tak mau mengirimkan kapal-kapal perangnya ke Selat Hormuz.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, mengatakan militer gabungan Benua Biru saat ini memang masih dalam Operasi Aspides di perairan Laut Merah. Misi dalam operasi tersebut, terkait dengan latihan pertahanan dan antipembajakan. Gara-gara proposal Trump ke negara-negara Eropa, dan para anggota NATO itu, militer gabungan di Laut Merah mempercepat operasi latihan bersamanya untuk menghindari kesalahpahaman.

“Dalam diskusi kami, ada keinginan yang jelas untuk memperkuat operasi ini (latihan gabungan Operasi Aspides di Laut Merah). Tetapi untuk saat ini tidak ada keinginan untuk memperpanjang, dan mengubah mandatnya,” ujar Kallas.

Dan Yunani, anggota Uni Eropa dan juga NATO yang menjadi tuan rumah dalam Operasi Aspides menegaskan, misi gabungan armada laut Eropa itu, tak akan melibatkan diri dalam kampanye perang di manapun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menlu Rusia: Jangan Lupakan Palestina

 

Rusia mengingatkan internasional untuk tak melupakan masalah kemanusiaan yang masih terjadi di Gaza, Palestina. Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengatakan, perang Amerika Serikat (AS)-Zionis Israel dengan Republik Islam Iran di Timur Tengah (Timteng) saat ini seperti membuat semua orang pikun atas upaya bersama-sama untuk kembali membicarakan tentang upaya bersama memerdekakan Bangsa Palestina.

“Isu tentang Palestina dengan sangat mudah dilupakan. Sekarang semua orang berbicara tentang krisis, konflik di Timur Tengah, tetapi mereka sama sekali tidak melihat Palestina (lagi). Palestina dengan mudah dilupakan,” begitu kata Lavrov seperti dikutip dari Anadolu Agency, Senin (16/3/2026). Lavrov mengatakan itu saat konfrensi pers bersama Menlu Kenya, Musalia Mudavadi, di Moskow, Rusia, Senin (16/3/2026).

Konfrensi pers itu dilakukan setelah keduanya membincangkan isu-isu aktual dan hubungan kedua negara. Keduanya mendiskusikan tentang warga negara Kenya yang dapat menjadi anggota militer di Rusia. Pun juga membincangkan tentang perang yang saat ini sudah memasuki pekan ketiga di kawasan Timteng, lantaran agresi AS-Zionis ke Teheran. Selain itu, Lavrov dan Mudavadi juga berdiskusi tentang masa depan kemerdekaan Bangsa Palestina.

Kata Lavrov, perang yang diawali AS-Zionis terhadap Iran saat ini semakin membuat situasi di Timteng semakin tak menentu. Negara-negara di Teluk Arab terkena dampaknya langsung atas perlawanan dan serangan balasan Iran terhadap AS.

Serangan balasan Iran ke wilayah-wilayah pendudukan Israel di Palestina, kata Lavrov diyakini juga akan memengaruhi. Perang semakin merambat dengan terciptanya front pertempuran tambahan di antara militer zionis dengan faksi bersenjata Hizbullah di perbatasan Lebanon.

Lavrov mengatakan, semua situasi tersebut bakal berpengaruh atas nasib Palestina ke depan. Mengingat perang yang terjadi antara AS-Zionis dan Iran menyentuh langsung persoalan negara-negara Arab yang punya tanggung jawab moral dalam memastikan masa depan Palestina. Akan tetapi, tak ada satupun pihak internasional yang saat ini kembali mengingatkan tentang nasib dan masa depan Palestina itu.

“Saya percaya, bahwa semua orang yang terlibat dalam konflik ini, dan mungkin yang paling terpenting adalah negara-negara Arab, perlu menyadari tanggung jawab mereka terhadap Palestina. Dan kami (Rusia) akan selalu siap untuk secara aktif mendukung pendekatan di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sudah bertanggung jawab mengambil keputusannya (tentang pengakuan terhadap Palestina),” kata Lavrov.

Sebelum pecah perang AS-Zionis dengan Iran, peperangan hebat juga terjadi antara Zionis dengan faksi-faksi pejuang Islam di Jalur Gaza, Palestina. Perang terakhir itu berlangsung sejak 2023 yang berujung pada kemarahan dunia atas aksi brutal penjajahan Zionis Israel terhadap warga di Gaza. Aksi brutal tersebut bahkan berujung pada keputusan Mahkamah Pidana Internasional yang menetapkan pemimpin penjajahan Zionis Israel Benjamin Netanyahu sebagai penjahat perang.

Ratusan ribu warga sipil di Gaza syahid dibombardir Zionis Israel. Dan hingga kini, blokade ketat yang dilakukan zionis terhadap warga di Gaza, pun masih terjadi. Meskipun sejak akhir 2025 berlangsung gencatan senjata, tetapi Zionis Israel tak mengizinkan masuknya bantuan kemanusian internasional ke Gaza.

Meskipun dalam status gencatan senjata, hingga hari ini laporan-laporan internasional masih mengabarkan tentang pelanggaran-pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Zionis Israel dengan tetap membombardir, serta pembunuhan terhadap warga biasa di Gaza.

Sering Diremehkan Trump, Kini Eropa Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

 

 

Para pemimpin Eropa masih menolak tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirimkan kapal perang memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Penolakan ini diutarakan di sela para menteri luar negeri Uni Eropa (UE)berkumpul di Brussels untuk membahas meroketnya harga minyak selama perang AS-Israel melawan Iran.

Jerman termasuk di antara anggota UE yang menyatakan skeptis terhadap gagasan Trump tersebut. “Apa yang … Trump harapkan dapat dilakukan oleh beberapa kapal fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak dapat dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang kuat?” Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius berkata di Berlin, dilansir Aljazirah, Senin.

"Ini bukan perang kami. Bukan kami yang memulainya."

Patut dicatat, Donald Trump telah berulang kali meremehkan kontribusi militer Eropa di NATO. Pada Januari, ia membuat banyak pimpinan Eropa meradang saat mengatakan pasukan sekutu NATO “main aman” dengan membiarkan AS maju ke garis depan depan pada perang Afghanistan. Trump juga mengatakan tahun lalu bahwa ia ingin mencaplok Greenland dari Denmark dan pasukan Eropa tak bakal bisa menghentikannya.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Senin menegaskan Berlin tidak berniat bergabung dalam operasi militer selama konflik tersebut. “Kami mengharapkan AS dan Israel memberi informasi kepada kami, melibatkan kami dalam apa yang mereka lakukan di sana, dan memberi tahu kami apakah tujuan-tujuan mereka menyerang Iran tercapai,” katanya kepada wartawan sebelum pertemuan di Brussels.

“Setelah kami memiliki gambaran yang jelas mengenai hal tersebut, kami yakin kami perlu melangkah ke fase berikutnya, yaitu mendefinisikan arsitektur keamanan untuk seluruh wilayah ini, bersama dengan negara-negara tetangga,” katanya.

Wadephul menambahkan bahwa NATO belum membuat keputusan apapun mengenai tanggung jawab di Selat Hormuz setelah Trump pada Ahad menyerukan koalisi angkatan laut untuk mengerahkan kapal perang untuk mengamankan jalur perairan utama Teluk, yang menjadi jalur transit sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.

Selat Hormuz, saat ini secara efektif ditutup Iran sebagai balasan untuk Amerika dan Israel yang melancarkan serangan mematikan di seluruh Iran sejak 28 Februari. Iran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke seluruh Timur Tengah, sehingga mengguncang pasar energi global.

Seruan Trump agar negara-negara mengamankan jalur air tersebut mendapat penolakan dari beberapa negara Eropa meskipun harga minyak dan gas melonjak.

Juru bicara pemerintah Yunani Pavlos Marinakis mengatakan pada Senin bahwa Yunani tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun ‌di Selat Hormuz. Sementara Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan Italia tidak terlibat dalam misi angkatan laut apa pun yang dapat ‌diperluas ke wilayah tersebut.

Namun, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan bahwa Eropa harus tetap berpikiran terbuka dalam membantu menjamin kebebasan navigasi di selat tersebut meskipun benua tersebut tidak mendukung keputusan AS-Israel untuk berperang dengan Iran.

“Kita harus menghadapi dunia sebagaimana adanya, bukan seperti yang kita inginkan,” kata Rasmussen, seraya menambahkan bahwa UE harus memutuskan sebuah rencana “dengan tujuan deeskalasi”.

Sementara itu, Inggris menyatakan sedang menyusun rencana kolektif untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan navigasi di Timur Tengah tetapi hal tersebut tidak akan mudah.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan kepada wartawan sebelum pertemuan di Brussels bahwa para pemimpin Uni Eropa akan fokus pada bagaimana Uni Eropa dapat berkontribusi untuk membuka kembali jalur perairan tersebut. “Pertama-tama kita perlu mendiskusikan apa yang ingin dilakukan negara-negara anggota di Selat Hormuz,” katanya. “Tentu saja, kebutuhan untuk membuka Selat Hormuz sudah ada saat ini.”

Kallas mengatakan penutupan selat tersebut, yang menyebabkan harga minyak mencapai lebih dari 100 dolar AS per barel, menguntungkan Rusia dalam memerangi Ukraina. Serangan Rusia sebagian besar didanai oleh pendapatan energi Moskow.

Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada Ahad, Trump mengatakan NATO menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika usulannya untuk melakukan operasi militer di selat tersebut tidak mendapat tanggapan atau mendapat tanggapan negatif.

Prancis telah menyarankan UE untuk memperluas misi Aspides, sebuah misi angkatan laut kecil yang didirikan pada tahun 2024 untuk melindungi kapal dari serangan Houthi Yaman di Laut Merah. Saat ini mereka mempunyai kapal Italia dan Yunani di bawah komando langsungnya dan mungkin juga akan meminta bantuan kapal Prancis dan kapal Italia lainnya.

Menyusul tanggapan dingin dari Eropa. Presiden Trump menyatakan kekesalannya. “Selama 40 tahun kami melindungi Anda, dan Anda tidak ingin terlibat,” kata Trump kepada wartawan.

“Kami sangat mendorong negara-negara lain untuk terlibat dengan kami dan terlibat dengan cepat dan dengan antusiasme yang besar,” katanya. Trump ingin negara-negara membantu mengawasi selat penting tersebut setelah Iran menanggapi serangan AS-Israel dengan menggunakan drone, rudal, dan ranjau untuk secara efektif menutup saluran bagi kapal tanker yang biasanya mengangkut seperlima minyak global dan gas alam cair.

"Beberapa negara sangat antusias dan ada pula yang tidak. Beberapa negara adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun. Kami telah melindungi mereka dari sumber luar yang buruk, dan mereka tidak begitu antusias. Dan tingkat antusiasme penting bagi saya."

 

 

 

Laporan Media AS: Utusan Trump Kirim Pesan Gencatan Senjata, tapi Dicuekin Iran

 

Laporan Drop Site pada Senin (16/3/2026) mengungkap adanya upaya dari Washington untuk membuka pintu diplomasi demi tercapainya gencatan senjata dengan Iran. Namun, Teheran tidak memberikan respons.

Hingga pekan ketiga perang antara AS-Israel dan Iran, Presiden AS Donald Trump kerap sesumbar bahwa militer Iran telah dimusnahkan dan kepemimpina tersisa di Iran mengemis gencatan senjata kepadanya. "Mereka ingin bernegosiasi. Mereka sangat ingin bernegosiasi," kata Trump Ahad (15/3/2026) malam.

"Kami berbicara dengan mereka. Tapi saya pikir mereka belum siap, tapi mereka sudah cukup dekat."

Menurut laporan Drop Site, yang terjadi di belakang layar berbeda dengan apa yang dikatakan Trump. Dua pejabat Iran kepada Drop Site mengungkap bahwa Utusan Khusus Steve Witkoff secara pribadi telah mengirim pesan ke beberapa pejabat di Teheran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada pekan lalu, mengeksplorasi kemungkinan melanjutkan negosiasi.

Menurut pejabat Iran tadi, Iran juga menerima pesan dari Gedung Putih melalui negara pihak ketiga.

"Karena keputusan dibuat oleh pejabat tinggi (Iran), tidak ada response yang dikirim atas pesan itu," kata seorang pejabat senior Iran kepada Drop Site.

"Pesannya di sini jelas: Iran telah menutup pintu untuk negosiasi langsung," sumber itu menambahkan.

"Otoritas yang mendeklarasikan gencatan senjata berada sepenuhnya di tangan Pemimpin Tertinggi. Itu bukan sesuatu (keputusan) yang menteri luar negeri, atau pejabat lainnya di Iran, yang akan mengirimkan pesan ke sebuah pihak asing."

Merespons upaya konfirmasi Drop Site, seorang juru bicara Gedung Putih mengirim pesan: "Radikal, sayap Drop Site jelas mengantarkan air ke rezim teroris Iran - dan melaporkan ini murni berdasarkan fiksi dan mengutip sumber anonim harus diabaikan segara. Iran memasok berita palsu propaganda dan mempublikasikannya sebagai fakta, yang mana perilaku Amerika Terakhir mengerikan. Operation Epic Fury akan terus berlanjut tanpa henti hingga Presiden Trump, sebagai Komandan, menentukan bahwa tujuan dari Operation Epic Fury, termasuk Iran tak lagi memperlihatkan ancaman militer, terealisasi penuh."

Menter Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga sudah menegaskan mengatakan bahwa Iran tak tertarik membuka komunikasi dengan AS. Pernyataannya ini merespons klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Teheran ingin membuat kesepakatan mengakhiri perang.

"Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya mempertahankan rakyat kami," kata Araghchi dalam wawancara dalam program CBS, Face The Nation, Ahad (15/3/2026).

"Kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka dan mereka memutuskan menyerang kami. Ada pengalaman tidak baik berbicara dengan Amerika," ujarnya, menambahkan.

Trump pada Sabtu (14/3/2026) mengatakan bahwa, Iran menginginkan sebuah kesepkatan, namun ia tidak siap untuk menerima dalam syarat dan kondisi yang ada sekarang tanpa memberikan detailnya. Merespons klaim Trump itu, Araghchi mengatakan, "Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami tidak pernah meminta bahkan untuk bernegosiasi.”

 

AS Kirim Pasukan ke Timur Tengah, Iran tak Gentar, Ingatkan Kekalahan Amerika di Vietnam

 

Amerika Serikat telah menggerakkan ribuan personel pasukannya dari Jepang ke Timur Tengah. Beredar spekulasi cukup santer AS akan mencoba menguasai Pulau Khargh yang menjadi basis ekspor minyak Iran.

Namun Teheran tak khawatir dengan ancaman tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, memperingatkan bahwa potensi invasi darat AS ke Iran akan bisa dikalahkan. Khatibzadeh lantas mengingatkan bagaimana AS 'keok' ketika perang Vietnam.

 “Bacalah saja apa yang terjadi di Vietnam,” kata diplomat itu kepada Sky News dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Senin.

Ia berpendapat bahwa pasukan Amerika akan menghadapi nasib serupa di Iran. “Mereka memahami bahwa mereka yang menyeret mereka ke dalam perang ini juga dapat menyeret mereka ke dalam rawa,” katanya.

Trump hingga kini belum menyatakan secara resmi apakah akan mengirimkan pasukan darat. Namun Trump mengancam akan kembali menyerang Pulau Khargh.

"Saya sudah mengatakan kepada mereka secara terbuka — saya akan menghancurkannya habis-habisan," ujar Trump dilansir PBS.

Komentar tersebut disampaikan selama percakapan telepon tiga menit pada Senin pagi dengan Liz Landers dari PBS News, saat presiden menghadiri apa yang ia sebut sebagai pertemuan yang sangat penting tentang perang melawan Iran.

Trump mengumumkan pada Jumat di Truth Social bahwa ia telah benar-benar menghancurkan setiap target militer di pulau itu, rumah bagi terminal minyak kecil di Teluk Persia yang mengirimkan 90% ekspor minyak Iran.

Para pejabat militer AS melaporkan pada Sabtu bahwa sejumlah fasilitas militer dan rudal hancur dalam serangan itu, tetapi infrastruktur minyak tetap utuh.

"Saya tidak ingin mengenai pipa-pipa itu karena, Anda tahu, bertahun-tahun kerja keras untuk membangunnya," ujar Trump.

"Sekarang pulau itu mati secara militer, sepenuhnya. Setiap area militer… mereka telah melarikan diri."

Trump mengatakan dia tidak akan mendekati infrastruktur minyak. "Karena begitu Anda melakukannya, Anda tahu, itu akan memakan waktu lama. Itu adalah proses pembangunan yang panjang."

Trump mengatakan, dia tidak menyasar banyak infrastruktur dalam serangan terhadap Teheran sejak AS dan Israel.

"Saya bisa menghancurkan pembangkit listrik dalam satu jam. Mereka akan hancur. Tetapi jika saya melakukan itu, itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali dan itu akan menimbulkan trauma. Jadi saya mencoba untuk menahan diri dari hal semacam itu."

Mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan cara Trump menangani perang di Iran. Hal itu menurut jajak pendapat terbaru PBS News/NPR/Marist.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran akan membalas jika infrastruktur minyak atau energi negara itu diserang.

Pemerintahan Trump terus mengubah tujuan perang di Iran. Sebelumnya Trump sempat berseloroh ingin menggulingkan rezim pemerintahan Iran. Namun belakangan ia telah mengubah tujuan utamanya, dan menyatakan telah menghancurkan kekuatan militer Iran.

Ketika ditanya apakah akan mengirim pasukan AS ke Iran? Ia menjawab, "Saya tidak ingin mengatakan itu."

Ketika ditanya apakah pemikirannya telah berubah mengenai masalah ini, ia berkata, "Tidak, itu tidak berubah, tetapi saya hanya tidak ingin membicarakannya, karena saya tidak akan membicarakan strategi dengan seorang reporter. Oke?"

Harga bensin telah melonjak sejak perang dimulai. Badan Energi Internasional melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangannya minggu lalu untuk menstabilkan pasar.

Trump mengatakan melalui telepon pada Senin bahwa harga minyak akan turun drastis segera setelah perang berakhir.

Ketika ditanya oleh PBS News kapan tepatnya hal itu akan terjadi? Trump berkata, "Yah, segera setelah perang berakhir dan itu tidak akan… Saya rasa tidak akan lama."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perang Picu Krisis Minyak, Energi Terbarukan Jadi Tameng Sejumlah Negara

 

 

Negara-negara yang lebih banyak menghasilkan listrik dari angin, matahari, dan sumber terbarukan lainnya terbukti lebih tahan terhadap guncangan energi global. Begitu penilaian para ahli di tengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah.

Perang terus meluas sejakAmerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran lebih dari 10 hari lalu. Infrastruktur energi di kawasan itu menjadi sasaran, dan ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan ini membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri, hingga transportasi. Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat.

"Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels. "Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil."

Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80% energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik, kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).

Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai "lebih tahan terhadap guncangan semacam ini".

Teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai memang memiliki rantai pasok global yang juga bisa terdampak ketegangan geopolitik. Namun, energi yang dihasilkannya biasanya berasal dari dalam negeri sendiri.

"Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah matahari, angin, panas bumi yang semuanya lokal," kata Adib kepada DW. "Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global."

Kekhawatiran soal ketergantungan pada impor minyak dan gas pascakrisis keuangan 2008 mendorong Uruguay untuk serius beralih ke energi terbarukan. Dua dekade lalu, negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya dengan cara memperluas ladang angin secara agresif.

Hasilnya, lebih dari 90% listrik Uruguay kini berasal dari energi terbarukan, terutama angin, matahari, tenaga air, dan biofuel. Angka itu bahkan mencapai 98% di tahun-tahun dengan curah hujan dan kecepatan angin yang tinggi.

"Ini membuktikan bahwa jaringan listrik 100% terbarukan benar-benar bisa diwujudkan," kata Adib.

Ia menambahkan bahwa langkah ini terbukti melindungi Uruguay dari lonjakan harga energi di masa lalu. Saat krisis energi akibat perang Ukraina menghantam banyak negara, harga energi di Uruguay tetap stabil.

"Ini sangat penting karena artinya inflasi tidak memukul negara ini seperti yang terjadi pada negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil," kata Adib.

Investasi di sektor energi terbarukan juga menciptakan 50.000 lapangan kerja dan memungkinkan Uruguay menghemat biaya impor energi hingga 500 juta dolar (sekitar Rp8,4 triliun) per tahun. Meski begitu, Uruguay seperti kebanyakan negara lain masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan pemanas rumah.

Denmark: Dari krisis minyak jadi dominasi energi hijau

Denmark adalah contoh lain negara yang berhasil menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Krisis minyak tahun 1970-an memukul negara Skandinavia ini dengan keras dan mendorongnya untuk mulai mengembangkan energi terbarukan sejak dini.

Kini lebih dari 80% listrik Denmark dipasok dari energi hijau, dengan angin menyumbang hampir 60% dari total tersebut, diikuti biogas. Negara dengan 6 juta penduduk ini menargetkan sistem listrik yang sepenuhnya bebas bahan bakar fosil pada 2030.

Sistem pemanas terpusat di Denmark, yang sudah terhubung ke lebih dari 65% rumah tangga, juga sebagian besar sudah meninggalkan batu bara dan direncanakan sepenuhnya beralih ke biometana terbarukan pada 2030.

Froggatt menyebut dominasi energi terbarukan dalam jaringan listrik berkontribusi menekan harga. Ia mengutip studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% porsi energi terbarukan, rata-rata bisa menurunkan harga listrik grosir sebesar 0,6%.

Namun ia menekankan bahwa konsumen baru benar-benar terlindungi dari lonjakan harga minyak dan gas ketika transportasi dan pemanas rumah sudah sepenuhnya beralih ke listrik, misalnya melalui kendaraan listrik dan pompa panas.

"Kita akan butuh jauh lebih banyak listrik untuk menjalankan transisi energi ini, sehingga semakin penting untuk membangun lebih banyak energi terbarukan karena permintaan listrik diprediksi akan terus meningkat," katanya.

Harga bahan bakar fosil yang tinggi dan kerentanannya terhadap gangguan pasokan diperkirakan akan membuat energi bersih semakin kompetitif dan menarik secara finansial, sekaligus mendorong pemerintah mencari solusi alternatif.

"Krisis saat ini sekali lagi menunjukkan bahwa kita perlu memasuki era berbasis energi terbarukan dan meninggalkan era bahan bakar fosil ... jika kita ingin masyarakat dan perekonomian yang lebih tangguh," kata Adib.

Meski sumber energi hijau kini jauh lebih murah dibanding bahan bakar fosil, percepatan transisi tetap membutuhkan investasi besar dan perubahan sistem menyeluruh. Bahan bakar fosil juga masih mendapat subsidi besar-besaran di berbagai negara.

Froggatt menegaskan bahwa peralihan ke energi terbarukan bukan sekadar soal perubahan iklim, melainkan juga soal ketahanan energi.

"Keduanya berjalan beriringan. Jadi kalau ada sisi positif dari apa yang kita saksikan sekarang, itu adalah isu energi dan cara kita mendapatkan energi kembali menjadi prioritas utama dalam agenda politik," katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IRGC Tantang Trump Kirim Kapal ke Teluk Persia Jika Berani

 

 

Iran menyangkal tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa kemampuan angkatan laut mereka telah dihancurkan dan menantang Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirim kapal-kapal ke Teluk Persia jika berani.

"Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Korps Garuda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Iran memiliki kedaulatan penuh atas itu," kata Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini.

Naini mengeklaim bahwa sejauh ini Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 pesawat nirawak dengan targetnya adalah Amerika dan Israel.

"Bukankah Trump mengatakan bahwa dia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran? Jadi, jika dia berani, dia bisa mengirim kapalnya ke wilayah Teluk Persia," tegas Naini.

Dia juga menegaskan bahwa perang akan berakhir saat "musuh" menyadari kekuatan militer dan pencegahan sosial Iran.

"Kami (Iran) berupaya menghukum agresor dan melanjutkan serangan berat dan menghancurkan musuh," kata Naini.

Sejak Israel dan Amerika melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei, permusuhan telah meningkat.

Iran telah membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal dengan menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik Amerika. Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz sejak awal Maret.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada pekan ini berencana mengumumkan pembentukan koalisi beberapa negara untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, menurut laporan Wall Street Journal mengutip beberapa pejabat AS. Menurut sumber, para pejabat masih mendiskusikan kapan operasi tersebut akan dimulai, sebelum atau setelah berakhirnya permusuhan di wilayah tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengatakan bahwa militer AS dapat mulai mengawal kapal komersial melintasi Selat Hormuz paling cepat pada akhir Maret, seraya mencatat bahwa Angkatan Laut AS saat ini tidak memiliki kemampuan tersebut.

Seiring meningkatnya konflik di sekitar wilayah Iran, pengiriman melintasi Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global, praktis terhenti.

Sementara, perusahaan asuransi mulai menaikkan premi dan meninjau jangkauan perlintasan di tengah ancaman keamanan yang terus meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post