News Komoditi & Global ( Rabu, 14 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 14 Januari 2026 )
Harga Emas Global di Tengah Ekspektasi Penurunan Suku Bunga AS, Ketidakpastian The Fed
Harga Emas (XAU/USD) naik ke sekitar $4.600 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini mendapatkan momentum saat para pedagang memperkuat taruhan mereka pada penurunan suku bunga AS setelah rilis data inflasi. Para pedagang akan mengambil lebih banyak isyarat dari data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (IHP) AS nanti hari ini.
Laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS baru-baru ini memberikan beberapa dukungan bagi logam kuning karena IHK inti tidak memenuhi ekspektasi para analis, meningkatkan kemungkinan Federal Reserve AS (The Fed) akan terus menurunkan suku bunga tahun ini. Penurunan suku bunga dapat mengurangi biaya peluang memegang Emas, mendukung logam mulia yang tidak berimbal hasil ini.
Selain itu, ketidakpastian mengelilingi bank sentral AS di tengah ancaman baru dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasukan keamanan Republik Islam telah menindak demonstrasi besar-besaran, dengan ratusan orang dilaporkan tewas.
Pemerintah telah memutus akses Internet di Iran, membuat sulit untuk memverifikasi bagaimana situasi berkembang di lapangan. Trump telah berulang kali mengancam untuk campur tangan jika pemerintah membunuh para pengunjuk rasa.
Data Penjualan Ritel dan IHP AS akan menjadi pusat perhatian pada hari Rabu. Laporan-laporan ini dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai jalur suku bunga AS. Tanda-tanda inflasi lebih tinggi di AS dapat mendorong Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.
Harga Minyak Dunia Menguat Didukung Potensi Gangguan Pasokan dari Iran
Harga minyak ditutup melonjak lebih dari 2% karena prospek gangguan ekspor minyak mentah Iran menutupi kemungkinan peningkatan pasokan dari Venezuela.
Selasa (13/1/2026) harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 ditutup melonjak US$ 1,60 atau 2,5% ke US$ 65,47 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup naik US$ 1,65 atau 2,8% menjadi US$ 61,15 per barel
"Pasar minyak sedang membangun perlindungan harga terhadap faktor-faktor geopolitik," kata analis PVM Oil Associates, John Evans, menyoroti otensi pengecualian ekspor Iran, masalah di Venezuela, pembicaraan tentang perang Rusia di Ukraina, dan minat AS untuk mengambil kendali atas Greenland.
Iran, salah satu produsen utama di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
"Penindakan pemerintah terhadap para pengunjuk rasa yang menurut seorang pejabat Iran telah menewaskan sekitar 2.000 orang dan menyebabkan penangkapan ribuan lainnya, memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump tentang kemungkinan tindakan militer."
Trump mengatakan pada hari Senin (12/1/2026) bahwa negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif sebesar 25% untuk setiap bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat. China adalah pelanggan terbesar untuk minyak mentah Iran.
"Saya rasa China, misalnya, tidak akan menghindari minyak mentah Iran, tetapi jika itu terjadi, dan jika semua orang melakukannya, itu akan mengurangi pasokan global sebesar 3,3 juta barel per hari yang saat ini dipasok ke pasar oleh Iran," kata Bob Yawger dari Mizuho Securities di New York.
Pada hari Selasa, Trump memposting di situs media sosialnya bahwa para pengunjuk rasa di Iran harus "mengambil alih institusi Anda" dan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan."
Trump mengatakan, dia telah membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran sampai kematian para pengunjuk rasa berhenti. Harga sempat naik lebih dari 3% ke level tertinggi tiga bulan setelah pernyataan tersebut.
Juga menandakan pasokan yang lebih ketat di masa mendatang, empat kapal tanker minyak yang dikelola Yunani dihantam oleh drone tak dikenal pada hari Selasa. Kapal tanker tersebut berada di Laut Hitam dalam perjalanan untuk memuat minyak di terminal Caspian Pipeline Consortium di lepas pantai Rusia, delapan sumber mengatakan kepada Reuters.
Kekhawatiran akan kelebihan pasokan telah mereda untuk saat ini, kata analis Rystad, Janiv Shah, menambahkan bahwa kelebihan kapasitas penyulingan di Eropa membebani pasar gasoil.
Premium minyak mentah Brent terhadap patokan Timur Tengah Dubai naik pada hari Selasa ke level tertinggi sejak Juli karena ketegangan geopolitik di Iran dan Venezuela mendukung patokan harga global, data LSEG menunjukkan.
"Keggelisahan di Iran telah menambah sekitar $3-$4 per barel dalam premi risiko geopolitik pada harga minyak, menurut pandangan kami," kata analis Barclays dalam sebuah catatan.
Pasar juga bergulat dengan kekhawatiran atas tambahan pasokan minyak mentah yang membanjiri pasar seiring dengan dimulainya kembali ekspor Venezuela. Setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro, Trump mengatakan pekan lalu bahwa Caracas akan menyerahkan kepada AS sebanyak 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi Barat.
Perusahaan perdagangan minyak global telah muncul sebagai pemenang awal dalam perlombaan untuk mengendalikan aliran minyak mentah Venezuela, mengungguli perusahaan energi besar AS.
Geger! Jerome Powell Diteror: Ancaman Dakwaan Pidana The Fed Dibongkar
Jaksa federal Amerika Serikat membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Hal itu diungkapkan langsung oleh Powell pada Minggu.
Melansir BBC, dalam langkah yang sangat jarang terjadi, Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS (DoJ) telah mengirimkan surat panggilan (subpoena) kepada The Fed dan bahkan mengancam dakwaan pidana. Ancaman tersebut berkaitan dengan kesaksiannya di hadapan komite Senat mengenai proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve.
Powell menyebut penyelidikan ini sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sebelumnya”. Ia meyakini langkah tersebut dipicu oleh kemarahan Donald Trump atas sikap The Fed yang menolak menurunkan suku bunga, meskipun presiden berkali-kali memberikan tekanan secara terbuka.
Trump sendiri mengatakan tidak “mengetahui apa pun” soal penyelidikan tersebut. Pihak DoJ juga telah dimintai komentar.
Selama ini, konflik panjang antara Trump dan Powell cenderung bersifat satu arah, dengan Trump kerap menyebut Powell sebagai “Mr Too Late” dan “orang bodoh”.
Pernyataan Powell pada Minggu menjadi kali pertama ia secara terbuka dan tegas melawan Trump, sembari memperingatkan bahwa independensi bank sentral AS kini berada dalam ancaman.
“Ini soal apakah The Fed masih bisa menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau justru kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan politik atau intimidasi,” ujar Powell.
“Saya sangat menghormati supremasi hukum dan akuntabilitas dalam demokrasi kita. Tidak ada seorang pun, termasuk Ketua Federal Reserve, yang kebal hukum. Namun, langkah yang belum pernah terjadi ini harus dilihat dalam konteks ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintahan,” lanjutnya.
Dalam wawancara dengan NBC News pada Minggu, Trump kembali menegaskan bahwa ia tidak tahu-menahu soal penyelidikan DoJ terhadap The Fed.
“Saya tidak tahu apa-apa soal itu, tapi dia jelas tidak terlalu bagus memimpin The Fed, dan juga tidak terlalu bagus membangun gedung,” kata Trump tentang Powell.
“Mengenal Powell sebaik yang saya tahu, kemungkinan dia berbohong itu nol. Saya percaya mereka mengejarnya karena ingin kursinya dan ingin menyingkirkannya,” kata Yellen kepada CNBC.
“Anda punya presiden yang ingin The Fed memangkas suku bunga agar beban bunga utang pemerintah turun… Ini jalan menuju negara ala republik pisang,” tambahnya.
Menurut Yellen, penyelidikan ini “menunjukkan sejauh apa presiden bersedia melangkah demi mendapatkan keinginannya”.
The Fed saat ini tengah menjalankan renovasi besar pertama terhadap dua gedungnya, Gedung Eccles dan gedung di 1951 Constitution Avenue, sejak keduanya dibangun pada era 1930-an.
Proyek “perombakan dan modernisasi” tersebut mencakup pekerjaan keselamatan dan kesehatan, termasuk penghilangan asbes dan kontaminasi timbal.
The Fed menyatakan renovasi ini justru akan menekan biaya dalam jangka panjang. Namun Trump mengkritik melonjaknya anggaran proyek tersebut, yang menurutnya bisa mencapai US$ 3,1 miliar, jauh di atas perkiraan The Fed sebesar US$ 2,5 miliar.
Powell menjadi tokoh terbaru yang bentrok dengan Trump sebelum akhirnya menghadapi penyelidikan pidana oleh Departemen Kehakiman AS.
Ironisnya, Powell sendiri dinominasikan Trump sebagai Ketua The Fed pada 2017, saat Trump menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Powell dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya pada Mei, dan Trump diperkirakan akan menunjuk pengganti sebelum akhir bulan ini.
Namun, penyelidikan DoJ berpotensi menghambat proses tersebut.
Jaksa Selidiki Jerome Powell, Independensi The Fed Terancam Tekanan Politik
Jaksa federal Amerika Serikat membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell terkait kesaksiannya di hadapan Kongres pada Juni lalu mengenai proyek renovasi kantor pusat bank sentral senilai US$ 2,5 miliar di Washington DC.
Langkah hukum yang mengejutkan ini langsung memicu kekhawatiran luas, karena dinilai memperdalam konflik terbuka antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan bank sentral yang selama ini dikenal independen dari kekuasaan politik.
Powell secara terbuka mengaitkan penyelidikan tersebut dengan sikap The Fed yang tidak sejalan dengan keinginan Gedung Putih soal suku bunga.
Dalam pernyataan video pada Minggu malam, Powell menyebut ancaman pidana itu sebagai konsekuensi dari tekanan politik yang terus-menerus dialamatkan kepadanya.
“Ancaman tuntutan pidana ini muncul karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik demi kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden,” ujar Powell.
Menurut Powell, kasus ini menyentuh inti persoalan independensi bank sentral. Ia menegaskan bahwa penyelidikan tersebut berpotensi menjadi bentuk intimidasi agar kebijakan moneter tunduk pada tekanan politik.
“Ini tentang apakah The Fed masih bisa menetapkan suku bunga berdasarkan data dan kondisi ekonomi, atau justru diarahkan oleh tekanan dan intimidasi politik,” katanya.
Departemen Kehakiman AS (DOJ) enggan berkomentar rinci. Juru bicara DOJ, Chad Gilmartin, hanya menyatakan bahwa jaksa agung ingin memprioritaskan penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan dana pembayar pajak. Gedung Putih merujuk CNN pada pernyataan tersebut.
Presiden Trump, dalam wawancara dengan NBC News, mengaku tidak mengetahui adanya penyelidikan tersebut. Namun, ia kembali melontarkan kritik terhadap Powell.
“Saya tidak tahu soal itu, tapi dia jelas tidak bagus memimpin The Fed, dan juga tidak bagus membangun gedung,” kata Trump.
Tekanan Politik yang Berlarut
Selama setahun terakhir, Trump dan sekutunya berulang kali menyerang Powell karena menilai The Fed tidak cukup agresif memangkas suku bunga. Meski bank sentral telah menurunkan suku bunga tiga kali pada paruh kedua tahun lalu, pejabat The Fed belakangan menyatakan belum melihat urgensi pemangkasan lanjutan.
Tekanan Trump tidak hanya berupa kritik kebijakan, tetapi juga serangan personal dan ancaman pemecatan. Namun, Powell menegaskan bahwa Presiden tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua The Fed.
Kontroversi renovasi gedung The Fed turut memperkeruh hubungan. Powell menjelaskan di Kongres bahwa proyek tersebut dikerjakan bersama sejumlah lembaga dan biayanya berubah seiring waktu, termasuk untuk penghilangan asbes serta peningkatan sistem listrik dan ventilasi.
Trump bahkan mengancam akan menggugat Powell atas proyek tersebut. Sejumlah sekutu Trump menuding renovasi itu salah kelola, meski The Fed menyatakan pembaruan gedung tua tersebut memang diperlukan.
Ketegangan memuncak pada Juli lalu saat Trump dan Powell meninjau langsung proyek renovasi. Di hadapan wartawan, Powell mengoreksi pernyataan Trump soal biaya proyek, memperlihatkan ketegangan yang nyata di antara keduanya.
Penyelidikan ini muncul menjelang berakhirnya masa jabatan Powell pada Mei mendatang, saat Trump bersiap menunjuk penggantinya. Sejumlah nama disebut-sebut, termasuk Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, hingga CIO BlackRock Rick Rieder.
Langkah hukum tersebut langsung menuai reaksi politik. Senator Republik Thom Tillis menyatakan akan menolak konfirmasi siapa pun calon pimpinan The Fed hingga kasus ini tuntas.
Senator Demokrat Elizabeth Warren dan Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer juga mengecam penyelidikan tersebut, menilai langkah itu sebagai serangan terhadap independensi bank sentral.
Kekhawatiran juga datang dari pelaku pasar dan ekonom global. Wakil Ketua Evercore ISI, Krishna Guha, menyebut perkembangan ini “sangat mengganggu” dan berpotensi memicu konflik terbuka antara pemerintah dan bank sentral.
“Secara kasat mata, ini terlihat seperti perang terbuka antara administrasi dan bank sentral,” tulis Guha.
Bagi investor global, independensi The Fed merupakan pilar utama stabilitas ekonomi Amerika Serikat.
Penyelidikan pidana terhadap ketua bank sentral dinilai dapat menjadi preseden berbahaya, bukan hanya bagi Powell, tetapi juga bagi siapa pun yang akan memimpin The Fed ke depan.
Ancaman Trump: Negara Mitra Dagang Iran Bakal Kena Tarif 25% dari AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan menghadapi tarif 25% untuk perdagangan dengan AS.
Hal tersebut dilakukan karena Washington mempertimbangkan tanggapan terhadap situasi di Iran yang sedang mengalami protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
“Mulai sekarang, setiap negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif 25% untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” kata Trump dalam sebuah unggahan di “Truth Social” pada Senin (12/1/2026).
Tarif tersebut dibayarkan oleh importir AS untuk barang-barang dari negara-negara tersebut. Di sisi lain, Iran telah dikenai sanksi berat oleh Washington selama bertahun-tahun.
“Perintah ini bersifat final dan mengikat,” kata Trump tanpa memberikan detail lebih lanjut. Tujuan ekspor utama barang-barang Iran termasuk China, Uni Emirat Arab, dan India.
Tidak ada dokumentasi resmi dari Gedung Putih mengenai kebijakan tersebut di situs webnya, maupun informasi tentang dasar hukum yang akan digunakan Trump untuk memberlakukan tarif tersebut, atau apakah tarif tersebut akan ditujukan kepada semua mitra dagang Iran.
Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar.
Iran, yang tahun lalu terlibat perang 12 hari dengan sekutu AS, Israel, dan fasilitas nuklirnya dibom oleh militer AS pada bulan Juni, kini menyaksikan demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Trump mengatakan, AS mungkin akan bertemu dengan pejabat Iran dan bahwa ia telah menghubungi oposisi Iran, sambil terus menekan para pemimpinnya, termasuk mengancam akan melakukan aksi militer.
Teheran mengatakan pada hari Senin bahwa mereka tetap membuka saluran komunikasi dengan Washington sementara Trump mempertimbangkan bagaimana menanggapi situasi di Iran, yang telah menimbulkan salah satu ujian terberat bagi kekuasaan ulama di negara itu sejak Revolusi Islam pada tahun 1979.
Demonstrasi berkembang dari keluhan tentang kesulitan ekonomi yang parah menjadi seruan menantang untuk menjatuhkan rezim ulama yang telah mengakar kuat.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, mengatakan telah memverifikasi kematian 599 orang, 510 demonstran dan 89 personel keamanan, sejak protes dimulai pada 28 Desember.
Meskipun serangan udara adalah salah satu dari banyak alternatif yang tersedia bagi Trump, "diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden," kata sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Senin.
Selama masa jabatan keduanya, Trump sering mengancam dan memberlakukan tarif pada negara lain atas hubungan mereka dengan musuh AS dan atas kebijakan perdagangan yang ia gambarkan sebagai tidak adil bagi Washington.
Kebijakan perdagangan Trump berada di bawah tekanan hukum karena Mahkamah Agung AS sedang mempertimbangkan untuk membatalkan sebagian besar tarif Trump yang ada.
Iran, anggota kelompok produsen minyak OPEC, mengekspor produk ke 147 mitra dagang pada tahun 2022, menurut data terbaru Bank Dunia.
Dolar AS dan Futures Saham AS Merosot, Ancaman Kriminal ke Ketua The Fed Bikin Geger
Dolar AS melemah dan futures saham Amerika Serikat (AS) turun pada Senin (12/1/2026), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pemerintahan Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana, yang memicu kekhawatiran tentang independensi bank sentral.
Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5% dan emas mencapai rekor tertinggi baru sebagai reaksi langsung terhadap eskalasi perseteruan antara Presiden AS Donald Trump dan The Fed.
Sementara, Franc Swiss menguat 0,4% menjadi 0,7979 per dolar AS dan euro menguat 0,17% menjadi US$ 1,1656. Para trader mengatakan berita tersebut mengkhawatirkan, meskipun implikasi langsungnya terhadap suku bunga belum jelas.
Kontrak berjangka dana Fed telah menambahkan sekitar tiga basis poin lagi dalam pemotongan suku bunga tahun ini, yang "kecil tetapi menunjukkan risiko bahwa The Fed akan terdorong untuk menjadi lebih agresif."
Harga emas mencapai rekor tertinggi lebih dari US$ 4.600 per ons, juga didorong oleh ketegangan geopolitik karena kerusuhan di Iran mengangkat harga logam mulia dan mendukung harga minyak.
Kontrak berjangka saham Eropa sedikit turun meskipun saham Asia naik pada hari Senin dipimpin oleh sektor teknologi setelah data pada hari Jumat menunjukkan pasar tenaga kerja AS tidak memburuk dengan cepat meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat.
Pasar Jepang tutup karena hari libur.
Pada hari Minggu (11/1/2026), Powell mengatakan, pemerintahan Trump telah mengancamnya dengan dakwaan pidana dan mengirimkan surat panggilan juri agung terkait kesaksian Kongres yang dia berikan musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung Fed, tindakan yang dia sebut sebagai "dalih" yang bertujuan untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga.
Perkembangan ini menunjukkan peningkatan dramatis dalam perseteruan antara Powell dan Trump, yang bermula sejak tahun-tahun pertama Powell menjabat sebagai ketua pada tahun 2018.
"Trump sedang mengobrak-abrik independensi bank sentral," kata Andrew Lilley, kepala strategi suku bunga di Barrenjoey, sebuah bank investasi yang berbasis di Sydney.
Ia bilang, Satu-satunya alasan Trump mengambil langkah-langkah ini adalah karena dia tahu bahwa dia tidak akan mengambil kendali atas The Fed, jadi dia ingin memberikan tekanan yang tidak semestinya sebanyak mungkin.
"Investor tidak akan senang dengan hal ini, tetapi ini menunjukkan bahwa Trump sebenarnya tidak memiliki cara lain untuk bertindak. Suku bunga acuan akan tetap seperti yang diinginkan mayoritas FOMC," kata Lilley.
Dolar AS mengalami reaksi paling tajam, bahkan jatuh terhadap mata uang yang biasanya sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru. Indeks dolar turun 0,3% dan berada di jalur penurunan satu hari terbesar sejak pertengahan Desember.
Dolar mengalami tahun 2025 yang buruk, turun lebih dari 9% terhadap mata uang utama lainnya karena menyusutnya perbedaan suku bunga seiring dengan penurunan suku bunga oleh The Fed dan kekhawatiran tentang defisit fiskal AS dan ketidakpastian politik yang terus berlanjut.
"Perang terbuka antara The Fed dan pemerintahan AS ini... jelas bukan pertanda baik bagi dolar AS," kata kepala strategi mata uang National Australia Bank, Ray Attrill.
Pejabat The Fed: Suku Bunga AS Tepat, Tidak Ada Alasan Mendesak Memangkas
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kebijakan moneter Amerika Serikat saat ini berada pada posisi yang tepat di tengah prospek ekonomi yang dinilainya cukup baik.
Williams juga mengindikasikan tidak ada alasan mendesak untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya di hadapan forum Council on Foreign Relations di New York, Senin (12/1/2026), Williams mengatakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah membawa kebijakan moneter dari posisi yang sebelumnya agak ketat menjadi lebih mendekati netral.
“Kebijakan moneter kini berada pada posisi yang tepat untuk mendukung stabilisasi pasar tenaga kerja dan mengembalikan inflasi ke target jangka panjang FOMC sebesar 2%,” ujar Williams.
Ia menegaskan pentingnya menurunkan inflasi ke level sasaran tanpa menimbulkan risiko berlebihan terhadap pasar tenaga kerja.
Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir risiko penurunan pada sisi ketenagakerjaan meningkat seiring mendinginnya pasar tenaga kerja, sementara risiko kenaikan inflasi justru menurun.
Pernyataan Williams ini merupakan komentar publik pertamanya pada tahun ini. The Fed secara luas dipandang telah memasuki fase menahan kebijakan (holding stage) setelah memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sepanjang tahun lalu, sehingga kisaran suku bunga federal funds kini berada di 3,5%–3,75%.
Penurunan suku bunga tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang melemah dengan inflasi yang masih berada di atas target 2%.
Pada pertemuan Desember lalu, pejabat The Fed memproyeksikan satu kali lagi pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan asumsi pasar tenaga kerja tetap stabil dan tekanan inflasi mereda seiring memudarnya dampak kebijakan tarif dagang Presiden Donald Trump yang diterapkan secara tidak konsisten.
Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan permintaan tenaga kerja yang lemah di tengah inflasi yang masih relatif tinggi.
Dalam wawancara televisi pada Desember, Williams juga menyebut tidak melihat urgensi untuk kembali menurunkan suku bunga.
Pandangan ini sejalan dengan sejumlah pejabat The Fed lainnya, meskipun tekanan politik dari Trump dan para sekutunya agar The Fed memangkas suku bunga secara agresif terus berlanjut.
Williams menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “cukup positif.” Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 2,5%–2,75%, dengan tingkat pengangguran stabil tahun ini dan mulai menurun pada tahun-tahun berikutnya.
Untuk inflasi, Williams memperkirakan tekanan harga mencapai puncak 2,75%–3% pada paruh pertama tahun ini, sebelum melandai menjadi sekitar 2,5% secara tahunan, dan kembali ke 2% pada 2027.
Di sisi lain, pidato Williams juga disampaikan di tengah tekanan serius terhadap independensi bank sentral. Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengungkapkan bahwa lembaganya menerima subpoena dewan juri yang berpotensi mengarah pada dakwaan pidana terkait pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed.
Powell menilai langkah hukum tersebut sebagai dalih politik dan menegaskan bahwa isu utamanya adalah apakah The Fed masih dapat menetapkan kebijakan moneter berdasarkan data dan kondisi ekonomi, atau justru di bawah tekanan dan intimidasi politik.
Menanggapi hal tersebut, Williams menolak mengomentari proses hukum yang berjalan, namun memperingatkan bahaya jika independensi bank sentral dikompromikan.
Menurutnya, serangan terhadap independensi bank sentral sering kali berujung pada dampak ekonomi yang buruk, termasuk inflasi tinggi.
Williams juga menegaskan bahwa Powell adalah sosok dengan integritas tinggi dan telah memimpin The Fed melewati berbagai periode sulit.
Trump Diminta Tahan Serangan ke Iran, Wapres Vance Ajukan Opsi Damai
Sejumlah pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump, dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, dilaporkan mendorong Trump untuk menempuh jalur diplomasi sebelum mempertimbangkan serangan militer ke Iran, demikian laporan Wall Street Journal pada Senin (12/1/2026), mengutip sumber dari pemerintah AS.
Laporan itu menyebut, Gedung Putih tengah mempertimbangkan tawaran dari Teheran untuk membuka pembicaraan terkait program nuklirnya.
Sementara Trump disebut-sebut tengah menimbang kemungkinan mengizinkan tindakan militer terhadap Iran.
Juru bicara Vance menyatakan bahwa laporan WSJ tersebut tidak sepenuhnya akurat.
“Wakil Presiden Vance dan Menteri Luar Negeri Rubio bersama-sama menyajikan rangkaian opsi kepada Presiden, mulai dari pendekatan diplomatik hingga tindakan militer,” kata William Martin, Direktur Komunikasi Vance.
“Mereka menyajikan opsi-opsi tersebut tanpa bias atau keberpihakan.”
Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 7 Pekan: Iran dan Venezuela Jadi Kunci
Harga minyak ditutup menguat dan stabil di level tertinggi tujuh minggu pada awal pekan karena kekhawatiran bahwa ekspor Iran dapat turun setelah anggota OPEC yang dikenai sanksi tersebut menindak keras demonstrasi anti-pemerintah.
Yang membatasi kenaikan harga minyak adalah ekspektasi bahwa pasokan dapat meningkat dari Venezuela, anggota lain dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak yang dikenai sanksi.
Senin (12/1/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 ditutup naik 53 sen atau 0,8% menjadi US$ 63,87 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup menguat 38 sen, atau 0,6% ke US$ 59,50 per barel.
Ini adalah harga penutupan tertinggi Brent sejak 18 November dan WTI sejak 5 Desember.
Iran mengatakan, pihaknya tetap membuka komunikasi dengan Washington sementara Presiden Donald Trump mempertimbangkan tanggapan terhadap penindakan keras yang mematikan terhadap protes nasional, salah satu tantangan terberat terhadap pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.
Pada hari Minggu (11/1/2026), Trump mengatakan AS mungkin akan bertemu dengan pejabat Iran dan dia sedang berhubungan dengan oposisi Iran. Dia mengancam kemungkinan tindakan militer atas kekerasan mematikan terhadap para demonstran.
Iran memiliki jumlah minyak yang beredar di laut dalam jumlah rekor, setara dengan sekitar 50 hari produksi, dengan China membeli lebih sedikit karena sanksi dan Teheran berupaya melindungi pasokannya dari risiko serangan AS, data dari Kpler dan Vortexa menunjukkan.
Venezuela diperkirakan akan segera melanjutkan ekspor minyak setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Trump mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan sebanyak 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada AS.
Perusahaan-perusahaan minyak telah berlomba untuk menemukan kapal tanker dan mempersiapkan operasi untuk mengirimkan minyak mentah dengan aman, kata empat sumber yang mengetahui operasi tersebut. Dalam pertemuan Gedung Putih pada hari Jumat(9/1/2026), perusahaan komoditas multinasional Trafigura mengatakan kapal pertamanya akan memuat minyak minggu depan.
Dua kapal tanker super berbendera China yang berlayar ke Venezuela untuk mengambil kargo minyak mentah guna membayar utang selama embargo minyak AS terhadap negara OPEC tersebut telah berbalik arah dan sekarang kembali ke Asia, menurut data pengiriman LSEG pada hari Senin.
Investor juga mengamati risiko gangguan pasokan dari Rusia, karena serangan Ukraina telah menargetkan fasilitas energinya, dan prospek sanksi AS yang lebih keras terhadap energi Moskow.
Di Azerbaijan, ekspor minyak turun menjadi 23,1 juta ton pada tahun 2025 dari 24,4 juta ton pada tahun 2024, kata kementerian energi pada hari Senin.
Rusia dan Azerbaijan sama-sama anggota OPEC+, yang mencakup OPEC dan produsen sekutu. Di Norwegia, pemerintah mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menyampaikan dokumen kebijakan kepada parlemen tahun depan tentang masa depan industri minyak dan gas, termasuk akses perusahaan ke lahan eksplorasi.
"Industri minyak dan gas sangat penting bagi Norwegia, dan harus dikembangkan, bukan dihilangkan," kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere dalam pidatonya.
Bank AS Goldman Sachs mengatakan dalam sebuah catatan bahwa harga minyak kemungkinan akan turun tahun ini karena pasokan baru tersedia dan menciptakan surplus pasar, meskipun risiko geopolitik yang terkait dengan Rusia, Venezuela, dan Iran akan terus mendorong volatilitas.
Langkah pemerintahan Trump untuk membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell meningkatkan kampanye tekanan Trump terhadap bank sentral. Kepala The Fed menyebut langkah itu sebagai "dalih" untuk memengaruhi suku bunga.
Mantan kepala Fed dan anggota kunci Partai Republik Trump juga mengkritik penyelidikan tersebut. Suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak dengan mengurangi biaya pinjaman, tetapi dapat menghambat upaya bank sentral untuk mengendalikan inflasi.
Skandal Renovasi US$2,5 Miliar: Benarkah Hanya Dalih Jegal Ketua The Fed Powell?
Keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menuai kecaman luas, termasuk dari para mantan pimpinan bank sentral AS dan sejumlah senator Partai Republik sendiri.
Penyelidikan tersebut terungkap pada Minggu (12/1/2026) waktu setempat, setelah Powell mengungkapkan bahwa The Fed menerima surat panggilan (subpoena) dari Departemen Kehakiman AS.
Powell secara terbuka menyebut langkah itu sebagai “dalih” untuk memberi Gedung Putih pengaruh lebih besar terhadap kebijakan suku bunga.
Menurut dua sumber yang mengetahui proses tersebut, penyelidikan disetujui dan dimulai oleh Jaksa AS di Washington Jeanine Pirro, sekutu politik Trump.
Disebutkan pula bahwa Jaksa Agung Pam Bondi maupun Wakil Jaksa Agung Todd Blanche tidak diberi pengarahan sebelumnya terkait keputusan pemanggilan The Fed.
Pirro dalam pernyataan resminya menyebut langkah hukum itu diambil karena The Fed dinilai mengabaikan permintaan untuk membahas pembengkakan biaya proyek renovasi dua gedung bersejarah di kantor pusat The Fed di Washington. Proyek tersebut bernilai sekitar US$2,5 miliar.
“Keputusan kantor ini diambil semata-mata berdasarkan substansi hukum, tidak lebih dan tidak kurang,” kata Pirro dalam unggahan di media sosial X.
Ancaman dakwaan pidana tersebut, yang secara formal berkaitan dengan pernyataan Powell kepada Kongres soal proyek renovasi, langsung memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang.
Investor khawatir, independensi The Fed akan tergerus dan berdampak pada inflasi serta arah kebijakan moneter.
Sejumlah ekonom menilai, jika tekanan pasar berlanjut, kondisi ini justru dapat menghambat agenda ekonomi Trump sendiri, terutama upaya menekan biaya pinjaman dan meningkatkan keterjangkauan kredit.
Independensi bank sentral selama ini dianggap sebagai pilar utama kebijakan ekonomi yang sehat, karena memungkinkan pengambilan keputusan suku bunga terbebas dari tekanan politik jangka pendek.
Kekhawatiran itu disuarakan secara terbuka oleh para mantan Ketua The Fed, termasuk Janet Yellen, Ben Bernanke, dan Alan Greenspan.
Dalam pernyataan bersama, mereka memperingatkan bahwa intervensi politik terhadap bank sentral merupakan praktik yang lazim di negara dengan institusi lemah dan berdampak buruk bagi stabilitas ekonomi.
Sejumlah bank sentral dunia, termasuk Prancis dan Kanada, juga menyampaikan solidaritas terhadap Powell.
Penolakan datang pula dari internal Partai Republik. Senator Thom Tillis, anggota Komite Perbankan Senat AS, menyebut penyelidikan tersebut sebagai “kesalahan besar” dan menegaskan akan menolak seluruh calon pimpinan The Fed yang diajukan Trump hingga perkara ini diselesaikan.
Senator Lisa Murkowski memperingatkan bahwa hilangnya independensi The Fed dapat mengancam stabilitas pasar dan perekonomian secara luas.
Senator Cynthia Lummis, yang dikenal kritis terhadap Powell, bahkan menyatakan penggunaan pasal pidana dalam kasus ini tampak “dipaksakan” dan tidak melihat adanya niat kriminal.
Reaksi pasar keuangan relatif terbatas. Harga emas justru mencetak rekor tertinggi, dolar AS melemah, sementara indeks saham utama AS tetap ditutup menguat berkat reli saham berbasis kecerdasan buatan dan ritel.
Powell, yang dicalonkan Trump sebagai Ketua The Fed pada 2017 dan menjabat sejak 2018, akan mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua pada Mei mendatang.
Namun, ia masih dapat bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga 2028. Sejumlah analis menilai tekanan politik ini justru meningkatkan kemungkinan Powell memilih bertahan di The Fed.
Dalam pernyataannya, Powell menegaskan dirinya menghormati supremasi hukum, namun menilai langkah hukum ini tidak terlepas dari tekanan berkelanjutan pemerintah untuk menurunkan suku bunga.
“Ancaman ini bukan soal renovasi gedung atau pengawasan Kongres. Itu hanya dalih,” kata Powell.
“Ancaman dakwaan pidana ini muncul karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan kepentingan publik, bukan preferensi Presiden.”
Trump sendiri mengaku tidak mengetahui langkah Departemen Kehakiman tersebut, meski kembali melontarkan kritik terhadap kinerja Powell.
Nasib Diplomasi Iran-AS: Komunikasi Diam-diam di Tengah Ancaman Trump
Pemerintah Iran menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah pertimbangan Presiden AS Donald Trump terkait respons atas penindakan keras terhadap gelombang protes nasional di Iran.
Aksi tersebut menjadi salah satu ujian terberat bagi pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.
Menambah tekanan, Trump pada Senin (12/1/2026) malam mengumumkan bahwa setiap negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran akan dikenai tarif baru sebesar 25% atas ekspornya ke AS. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial.
“Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulis Trump.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai lebih bersifat simbolis mengingat Iran, sebagai salah satu produsen minyak utama dunia, telah lama berada di bawah sanksi perdagangan AS dan internasional.
Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York menolak berkomentar atas pengumuman tarif tersebut. Adapun tujuan ekspor utama Iran saat ini meliputi China, Uni Emirat Arab, dan India.
Trump sebelumnya mengatakan AS membuka peluang pertemuan dengan pejabat Iran dan mengklaim telah berkomunikasi dengan kelompok oposisi Iran.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan terhadap para pemimpin Iran atas penggunaan kekerasan mematikan terhadap demonstran.
Gelombang protes yang meluas di Iran berawal dari keluhan atas kondisi ekonomi yang memburuk, sebelum berkembang menjadi tuntutan terbuka agar pemerintahan ulama yang telah berkuasa lebih dari 45 tahun lengser. Pengaruh regional Iran juga disebut semakin melemah dalam beberapa tahun terakhir.
Kelompok HAM yang berbasis di AS, HRANA, menyebut hingga Senin malam telah memverifikasi kematian 646 orang, termasuk 505 demonstran, 113 personel militer dan keamanan, serta tujuh warga sipil.
Selain itu, HRANA mencatat 10.721 orang ditangkap sejak protes dimulai pada 28 Desember. Reuters belum dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.
HRANA juga melaporkan bahwa keluarga korban berkumpul di Pemakaman Behesht Zahra, Teheran, sambil meneriakkan slogan-slogan protes.
Aliran informasi dari Iran sendiri terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis lalu, meski sebagian warga masih dapat mengakses internet melalui layanan satelit Starlink.
Sementara itu, Gedung Putih menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi utama. “Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama presiden,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Ia menambahkan bahwa pesan yang disampaikan Iran secara terbuka berbeda dengan komunikasi yang diterima AS secara tertutup.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran tengah mempelajari sejumlah gagasan yang disampaikan Washington, meski sebagian dinilai tidak sejalan dengan ancaman AS.
Ia mengungkapkan komunikasi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff masih berlangsung sebelum dan setelah pecahnya protes.
Iran sendiri belum merilis angka resmi korban tewas. Pemerintah Iran menuding kekerasan dipicu campur tangan AS serta kelompok yang mereka sebut sebagai teroris yang didukung AS dan Israel. Media pemerintah lebih banyak menyoroti kematian aparat keamanan.
Berbicara di Lapangan Enqelab, Teheran, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan Iran tengah menghadapi perang di empat front, yakni perang ekonomi, psikologis, militer melawan AS dan Israel, serta perang melawan terorisme. Ia mengklaim situasi berada dalam kendali penuh.
Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior untuk membahas opsi terhadap Iran.
Sejumlah opsi yang dipertimbangkan antara lain perluasan sanksi, serangan siber, hingga aksi militer terbatas.
Namun, langkah tersebut dinilai berisiko tinggi karena sejumlah fasilitas militer Iran berada di kawasan padat penduduk.
Ketegangan ini turut mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam tujuh pekan, seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan ekspor minyak Iran akibat instabilitas politik dan kemungkinan respons AS.
Ancaman Dakwaan DOJ ke The Fed: Investor Emas Wajib Waspada Risiko Ini
Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, seiring reli besar di pasar logam mulia setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengancam Federal Reserve dengan dakwaan pidana. Situasi ini kembali memunculkan kekhawatiran soal independensi bank sentral AS.
Bloomberg melaporkan, harga emas sempat menembus US$ 4.600 per ons, sementara perak melampaui US$ 86 per ons. Lonjakan ini terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan potensi dakwaan tersebut muncul di tengah “ancaman dan tekanan berkelanjutan” dari pemerintah untuk memengaruhi kebijakan suku bunga.
Informasi saja, harga perak melonjak hingga 8% pada Senin, menyentuh US$86,25 per ons, rekor tertinggi baru.
Tahun lalu, harga perak sudah melonjak hampir 150%, sebagian dipicu oleh fenomena short squeeze besar-besaran.
Di saat yang sama, dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik tipis.
Saham perusahaan tambang ikut menguat. Saham Hochschild Mining Plc melonjak hingga 9,6%, sementara Industrias Peñoles, perusahaan tambang perak, naik sampai 12%.
Ada sejumlah faktor yang mendongkrak harga emas dan perak.
Serangan berulang pemerintahan Trump terhadap The Fed menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga emas dan perak terus mencetak rekor sejak tahun lalu, dan faktor ini diperkirakan masih akan berlanjut. Jika kemampuan The Fed untuk mengendalikan inflasi melemah, dolar dan obligasi AS berpotensi tertekan, sehingga membuat logam mulia makin menarik sebagai penyimpan nilai.
Risiko yang dinilai lebih besar bagi The Fed akan muncul pada 21 Januari, saat Mahkamah Agung AS mendengarkan argumen lisan dalam kasus terhadap Gubernur The Fed Lisa Cook, menurut analis Wells Fargo. Jika pengadilan berpihak pada pemerintahan Trump, yang sebelumnya berupaya memecat Cook, dolar AS berpotensi turun hingga 2%. Kondisi ini dinilai positif bagi harga emas karena diperdagangkan dalam dolar.
“Kami melihat meningkatnya campur tangan terhadap The Fed sebagai faktor tak terduga yang sangat mendukung harga logam mulia pada 2026,” kata Carsten Menke dari Julius Baer.
Ia menambahkan, pasar perak yang lebih kecil membuat harganya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan nilai dolar.
Kenaikan harga logam mulia didorong oleh berbagai faktor sekaligus: penurunan suku bunga AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta persepsi bahwa AS akan melonggarkan upaya pengendalian inflasi.
Lebih dari selusin manajer investasi mengatakan mereka memilih tetap mempertahankan kepemilikan emas, karena yakin daya tarik jangka panjangnya masih kuat.
“Potensi dakwaan terhadap The Fed menjadi pengingat bahwa pasar sedang menghadapi banyak ketidakpastian, mulai dari geopolitik, perdebatan soal pertumbuhan dan suku bunga, hingga risiko institusional baru,” kata Charu Chanana dari Saxo Markets di Singapura.
Kerusuhan mematikan di Iran juga menambah ketidakpastian, terutama terkait kemungkinan keterlibatan kembali AS di kawasan tersebut, menurut analis City Index Fawad Razaqzada.
Presiden Trump pada Minggu mengatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran. Ia juga kembali mengancam akan mengambil alih Greenland dan mempertanyakan manfaat aliansi NATO, hanya berselang sedikit lebih dari sepekan setelah menyita pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS menjadwalkan Rabu sebagai hari potensial berikutnya untuk mengumumkan putusan terkait tarif Trump. Jika tarif tersebut dibatalkan, itu akan menjadi pukulan besar bagi kebijakan ekonomi andalannya sekaligus kekalahan hukum terbesarnya sejak kembali menjabat presiden.
Pelaku pasar juga menanti hasil penyelidikan Section 232, yang berpotensi berujung pada pengenaan tarif AS atas perak, platinum, dan paladium.
Bank Besar Ubah Proyeksi Suku Bunga The Fed, JP Morgan Prediksi Kenaikan pada 2027
Sejumlah bank investasi global merevisi proyeksi arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) seiring data terbaru yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif solid.
J.P. Morgan memperkirakan langkah berikutnya dari Federal Reserve (The Fed) justru berupa kenaikan suku bunga pada 2027, sementara Barclays dan Goldman Sachs menunda perkiraan pemangkasan suku bunga hingga paruh kedua 2026.
J.P. Morgan mencabut proyeksi pemangkasan suku bunga pada Januari dan kini memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada kuartal III 2027. Macquarie juga mempertahankan pandangan serupa dengan memperkirakan kenaikan suku bunga pada kuartal IV 2026.
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Desember melambat lebih dalam dari perkiraan.
Namun, tingkat pengangguran justru turun ke 4,4% dan pertumbuhan upah tetap kuat. Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja belum melemah secara signifikan.
Situasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 95%, naik dari 86% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Dalam catatannya, J.P. Morgan menyebutkan bahwa peluang pelonggaran kebijakan masih terbuka jika pasar tenaga kerja kembali melemah atau inflasi turun tajam. Namun, bank tersebut menilai pasar tenaga kerja justru akan kembali mengetat pada kuartal II, sementara proses penurunan inflasi berlangsung secara bertahap.
Goldman Sachs dan Barclays yang sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga masing-masing pada Maret dan Juni, kini menggeser proyeksinya. Goldman memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis poin pada September, sementara Barclays pada Desember, setelah pemangkasan pertama pada Juni.
Goldman juga menurunkan probabilitas resesi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 20% dari sebelumnya 30%. Menurut Goldman, jika pasar tenaga kerja stabil, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan beralih dari mode manajemen risiko ke arah normalisasi kebijakan.
Morgan Stanley turut merevisi proyeksinya dengan memperkirakan pemangkasan suku bunga pada Juni dan September, dari sebelumnya Januari dan April.
Sementara itu, Wells Fargo tetap pada proyeksi pemangkasan pada Maret–Juni, dan BofA Global Research pada Juni–Juli.
BofA menilai kombinasi data saat ini konsisten dengan pandangan bahwa kebutuhan pertumbuhan lapangan kerja berpotensi menurun lebih cepat dibandingkan pengakuan The Fed, seiring adanya guncangan pasokan tenaga kerja.
Di sisi lain, ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell kembali meningkat.
Powell menyatakan bahwa pemerintahan Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana, yang memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
Powell menyebut ancaman tersebut sebagai dalih untuk memperbesar pengaruh politik terhadap kebijakan suku bunga, di tengah dorongan Trump agar suku bunga diturunkan secara agresif.
Imbal Hasil Obligasi Jepang Tenor 20 Tahun Cetak Rekor Tertinggi
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) melonjak tajam pada perdagangan Selasa (13/1/2026), dipicu spekulasi bahwa pemilihan umum dini berpotensi memberi mandat kuat kepada Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menjalankan kebijakan stimulus fiskal agresif.
Lonjakan imbal hasil terjadi setelah pasar domestik Jepang kembali dibuka usai libur panjang akhir pekan.
Pasar merespons laporan mengenai kemungkinan pemilu dini yang juga memicu pelemahan nilai tukar yen.
Melansir Reuters, imbal hasil JGB tenor 20 tahun naik 8 basis poin (bps) menjadi 3,135%, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun melonjak 9,5 bps ke level 3,495%.
Adapun imbal hasil obligasi acuan 10 tahun meningkat 4,5 bps menjadi 2,135%, level tertinggi sejak Februari 1999. Perlu dicatat, pergerakan imbal hasil obligasi berlawanan arah dengan harga.
Kenaikan imbal hasil jangka panjang telah berlangsung sejak awal November lalu dan terus mencetak rekor baru, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap besarnya rencana stimulus fiskal yang diperkirakan akan digulirkan pemerintahan Takaichi.
Sementara itu, imbal hasil jangka pendek juga berada di bawah tekanan naik setelah Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga kebijakan dan memberi sinyal bahwa pengetatan moneter masih akan berlanjut.
Media domestik Jepang melaporkan bahwa Takaichi tengah mempertimbangkan pelaksanaan pemilu pada Februari mendatang, kemungkinan yang semakin menguat setelah pernyataan pimpinan partai mitra koalisi pemerintah pada Minggu lalu.
Ekonom Barclays Naohiko Baba dan Takashi Onoda menilai, selama masa kampanye, kekhawatiran terhadap ekspansi fiskal berpotensi terus menekan imbal hasil obligasi jangka panjang.
“Jika kekhawatiran terhadap belanja fiskal meningkat selama kampanye, imbal hasil jangka panjang kemungkinan akan terus berada di bawah tekanan naik, setidaknya untuk sementara waktu,” tulis mereka.
Namun demikian, mereka juga mengingatkan bahwa pelemahan yen dan kenaikan imbal hasil jangka panjang pada akhirnya bisa membatasi ruang gerak pemerintah Takaichi dalam menjalankan kebijakan fiskal yang terlalu ekspansif.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Jepang tenor lima tahun tercatat naik 4 bps ke level 1,595%.