News Komoditi & Global ( Jumat, 31 Juli 2026 )
News Komoditi & Global
( Jumat, 31 Juli 2026 )
Harga Emas Global Naik saat Pedagang Pangkas Prakiraan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas (XAU/USD) mendapatkan momentum ke sekitar $4.110 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini bergerak naik saat para pedagang mengurangi prakiraan mereka terhadap kenaikan suku bunga sehari setelah Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, memberikan sedikit kejelasan mengenai kebijakan.
Pada hari Rabu, bank sentral AS memutuskan untuk membiarkan suku bunga tidak berubah dalam kisaran target saat ini antara 3,50% dan 3,75%. Dalam konferensi pers, Warsh berjanji untuk tetap berkomitmen penuh menurunkan inflasi, sebuah pesan yang membuat pasar bingung tentang apa sebenarnya yang siap ia lakukan.
Perlu dicatat bahwa Emas sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi tetapi tidak menghasilkan bunga, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Pasar kini memperhitungkan probabilitas hampir 63,4% untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan September, turun dari sekitar 77% sebelum pertemuan The Fed bulan Juli, menurut CME FedWatch tool.
Namun demikian, ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah mungkin membatasi kenaikan logam kuning ini karena hal itu dapat mendorong harga minyak mentah naik dan membuat bank-bank sentral mempertahankan suku bunga di level-level tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Bloomberg melaporkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengatakan pihaknya menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain setelah pasukan AS membom sebuah bangunan di Pulau Qeshm, Iran. Militer Iran menambahkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup dan bahwa "agresor akan dihukum."
Tim Riset Valas Commerzbank mencatat bahwa ketua The Fed telah memperkuat sikap bank sentral yang bergantung pada data, "melanjutkan upayanya untuk mengurangi ketergantungan The Fed pada forward guidance, dengan berargumen bahwa pasar seharusnya merespons data ekonomi yang masuk, bukan sinyal dari The Fed." Penyesuaian strategi komunikasi ini dipandang oleh Commerzbank sebagai latar belakang utama bagi pergerakan pasar terbaru, dengan para investor semakin memperhatikan perkembangan data makro ketimbang isyarat-isyarat kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Harga Minyak Dunia Menguat Seiring Meningkatnya Tensi Perang AS-Iran
Harga minyak kembali naik pada perdagangan Jumat (31/7/2026) pagi. Pukul 07.16 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 84,02 per barel, naik 0,51% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 83,59 per barel. Mengutip Bloomberg, harga minyak naik dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Maret seiring meningkatnya tensi perang AS-Iran. Meskipun AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis, pengiriman melalui Selat Hormuz tampaknya tetap berjalan normal dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, Arab Saudi berdiskusi dengan perwakilan dari 43 negara untuk membentuk aliansi guna melindungi navigasi di Laut Merah dan sekitarnya, dengan harapan untuk melawan blokade kelompok militant Houthi. Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah pada Jumat (31/7/2026), Simak Sentimen yang Membayangi Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis, pemimpin Houthi Abdulmalik al-Houthi mengatakan ada indikasi bahwa Arab Saudi sedang menuju eskalasi komprehensif yang menurutnya akan dibalas dengan kampanye yang lebih sengit. Selain serangan ke kapal tanker, kelompok tersebut baru-baru ini juga mengklaim serangan terhadap fasilitas minyak. Harga energi melonjak tinggi pada Juli, dengan persentase kenaikan hingga dua digit untuk minyak dan produk seperti solar. Presdien AS Donald Trump sekali lagi menghadapi dilema apakah akan meninggalkan konflik lebih lanjut sebagai pembalasan atas serangan Iran, atau focus pada meredakan gejolak pasar energi global. "Kita harus menunggu dan melihat apakah ini akan meluas, dan apakah AS akan membalas dengan cara yang diancam Trump, atau apakah ini akan menjadi semacam pembalasan setimpal tetapi dalam skala yang relatif lebih kecil," kata Carolyn Kissane, wakil desan di Pusat Urusan Global Universitas New York seperti dikutip Bloomberg. Baca Juga: Bangun Kosambi (CBDK) Catat Marketing Sales Rp 231 Miliar pada Semester I 2026 Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva melihat risiko bahwa guncangan Harga minyak Timur Tengah dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi, meski dampaknya akan moderat jika Selat Hormuz dibuka Kembali. "Prediksi kami adalah bahwa selama perang berlangsung, Harga minyak WTI akan berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel," kata Jay Hatfield, kepala eksekutif Infrastructure Capital Management LLC.
Wall Street Menguat, Ditopang Kenaikan Saham Microsoft
Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026), didukung kenaikan saham chip dan saham Microsoft yang mencatat kenaikan harian terbesar dalam 18 tahun setelah raksasa teknologi itu memberikan perkiraan yang luar biasa yang meredakan kekhawatiran tentang pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI. Mengutip Reuters, indeks S&P 500 naik 1,66% ke level 7.437,63. Nasdaq naik 2,78% ke level 25.122,18, sementara Dow Jones Industrial Average naik 1,19% menjadi 52.208,06. Tujuh dari 11 indeks sektor S&P 500 naik, dipimpin oleh sektor teknologi, naik 5,2%, diikuti oleh kenaikan 1,6% di sektor barang konsumsi non-esensial. Baca Juga: Intip Saham yang Banyak Dijual Asing Saat IHSG Melesat 1,56% ke 6.186, Kamis (30/7) Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 18 miliar saham, dengan rata-rata 17,2 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Saham Microsoft melonjak lebih dari 15%, meningkatkan nilai pasar sahamnya sebesar US$ 450 miliar, peningkatan harian terbesar yang pernah terjadi untuk sebuah perusahaan di Wall Street. Raksasa teknologi ini memperkirakan penjualan kuartalan dan pertumbuhan cloud di atas ekspektasi. Mereka juga melaporkan pengeluaran modal di bawah perkiraan dan mengatakan mengharapkan untuk terus menghasilkan arus kas hingga tahun fiskal 2027 yang baru saja dimulai. Tahun ini, investor telah dikejutkan oleh pengeluaran besar untuk AI di perusahaan teknologi besar. Laporan arus kas negatif dari Alphabet dan Tesla minggu lalu memicu aksi jual saham yang terkait dengan AI, dengan saham chip juga berada di bawah tekanan karena investor mempertanyakan valuasi yang tinggi. Meta Platforms anjlok setelah raksasa media sosial ini melaporkan penurunan arus kas bebas kuartal kedua sebesar 91%, yang menunjukkan tekanan keuangan dari pembangunan AI yang mahal. "Ini adalah saham-saham yang benar-benar menjadi medan pertempuran. Investor tidak dapat memutuskan apakah ROI dari pengeluaran modal besar-besaran akan sepadan atau tidak," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management. "Microsoft memberikan hasil yang memuaskan kemarin, dan mungkin Microsoft akan mampu beralih dari kubu 'medan pertempuran' menjadi saham 'pemenang AI yang terpercaya'," kata Ellerbroek. Indeks chip PHLX melonjak 8,2%, dengan saham Micron Technology melonjak 18%, saham Sandisk meroket 26%, dan saham Advanced Micro Devices naik 13%. Saham Amazon naik 3,9% dan saham Apple turun 1,4%, dengan kedua perusahaan akan melaporkan hasil mereka setelah pasar tutup. Saham Amazon berkinerja lebih rendah daripada pasar secara keseluruhan tahun ini karena kekhawatiran tentang pengeluaran besar-besaran untuk AI. Apple, yang tidak banyak berinvestasi pada AI, baru-baru ini menyalip Nvidia untuk menjadi perusahaan paling berharga di dunia, dengan nilai pasar sekitar US$ 4,9 triliun. Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Kamis (30/7), Microsoft Redakan Kekhawatiran Belanja AI Para pedagang sekarang hanya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 59% pada pertemuan Fed bulan September, menurut CME FedWatch, turun dari 82% seminggu yang lalu. Pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal kedua karena defisit perdagangan melebar. Ekonomi tumbuh pada tingkat 1,5%, lebih lambat dari perkiraan pertumbuhan 2,1%, menurut data. Pembacaan terpisah juga menunjukkan inflasi AS melambat pada bulan Juni. Qualcomm turun 2,6% setelah produsen chip tersebut memperkirakan laba kuartal keempat di bawah perkiraan dan mengatakan pendapatan dari produk Apple akan menurun lebih cepat dari yang diharapkan.
AS Diduga Kebobolan, Komunitas Intelijen: 220 Juta Pemilih AS Telah di Tangan China
Komunitas Intelijen Amerika Serikat, Kamis, mengungkapkan bahwa China telah memperoleh data 220 juta pemilih Amerika melalui berbagai cara. Demikian menurut lembar fakta yang diperoleh kelompok jurnalis di Gedung Putih.
"Republik Rakyat China dan pihak-pihak yang bertindak atas nama mereka telah membeli, mencuri, atau meretas data pendaftaran pemilih sebanyak 220 juta warga Amerika. Pengumpulan data oleh China itu mencakup data yang tidak tersedia untuk umum," disebutkan dalam lembar fakta yang telah dikonfirmasi para pimpinan Kantor Direktur Intelijen Nasional, Badan Keamanan Nasional, Badan Intelijen Pusat, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri tersebut.
Dokumen tersebut mendefinisikan 'intervensi dalam pemilu' secara terbuka maupun terselubung yang dilakukan pemerintah asing bertujuan untukmemengaruhi pemilu AS secara langsung maupun tidak langsung.
Dokumen itu juga menyebutkan bahwa badan intelijen AS pada 2022 pernah menetapkan adanya seorang pelaku eksploitasi jaringan komputer asal China yang diduga memperoleh data pendaftaran pemilih yang tersedia di platform perdagangan daring.
"Pihak lawan dapat memanipulasi data untuk mencegah pemilih perorangan atau kelompok pemilih agar tidak memberikan suara. Sehingga, itu menyebabkan keterlambatan kedatangan pemilih pada hari pemungutan suara atau memaksa pemilih untuk menggunakan surat suara sementara," demikian menurut laporan komunits intelijen.
Pihak-pihak lawan juga dapat memanfaatkan data pendaftaran, yang dalam beberapa kasus tersedia secara publik atau dapat dibeli, untuk merancang upaya campur tangan atau pengaruh lainnya.
Awal Juli lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan China diduga telah melakukan segala cara untuk menggagalkan keterpilihan dirinya kembali pada pemilu di 2020. Trump pun menuding pejabat intelijen AS dengan sengaja menyembunyikan informasi tersebut dari Gedung Putih.
Kedutaan Besar China di Washington, kepada RIA Novosti, menyatakan China tidak pernah dan tidak akan pernah mencampuri urusan pemilihan presiden AS.
Terungkap, India Pasok Ratusan Ribu Senjata ke Israel Selama Genosida di Gaza
Sebuah laporan baru dari Amnesty International mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan milik negara maupun swasta India telah mengirimkan setidaknya 2.596 pengiriman yang mencakup ratusan ribu senjata, amunisi, dan komponen militer ke Israel selama genosida di Gaza. Ini membuka sorotan terhadap peran Indoa dalam genosida tersebut.
Pengiriman yang dilakukan antara 7 Oktober 2023 dan 30 November 2025 tersebut mencakup komponen senapan mesin, peluru artileri berdaya ledak tinggi (high-explosive) kaliber 155 mm yang dipasok ke Elbit Systems. Selain itu ada hulu ledak untuk drone "kamikaze" SkyStriker—yang serupa dengan yang ditemukan di antara reruntuhan di Khan Younis—serta komponen kendaraan lapis baja yang ditujukan bagi pemasok utama militer Israel.
Menurut Amnesty, jumlah ini mencakup 564.970 bagian amunisi peledak (hulu ledak drone, selongsong peluru artileri, dan lainnya); 390.516 suku cadang senjata ringan untuk senjata standar militer; serta 298 komponen kendaraan militer yang dikirimkan ke perusahaan-perusahaan besar Israel yang menjadi pemasok bagi angkatan bersenjata Israel.
Per 29 Juli 2026, setidaknya 247.387 warga Palestina syahid atau terluka sejak Israel melancarkan operasi militernya di Gaza, menyusul serangan yang dipimpin Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023.
Laporan berjudul "Made in India: The Supply of Weapons and Ammunition to Israel" (Buatan India: Pasokan Senjata dan Amunisi ke Israel) yang diterbitkan pada hari Kamis tersebut menyatakan bahwa temuan mereka "didasarkan pada metodologi yang sengaja dibuat konservatif", sehingga kemungkinan besar angka-angka tersebut justru lebih rendah daripada "cakupan sebenarnya dari kontribusi India terhadap rantai pasokan militer Israel".
Dilansir Middle East Eye, Laporan ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian laporan yang menuding India memberikan dukungan materiil terhadap genosida Israel di Gaza, menyusul tuduhan sebelumnya bahwa New Delhi memasok drone tempur, bom, dan komponen senjata ke Israel setelah Oktober 2023. Pada Mei 2026, gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang dipimpin Palestina serta kelompok No Harbour for Genocide (NHG) memperingatkan adanya "banjir" pasokan militer dari India ke Israel.
"Israel memiliki kapasitas produksi dalam negeri yang besar, namun mereka bergantung pada komponen-komponen tertentu, baik itu berupa material berteknologi tinggi untuk sektor kedirgantaraan maupun material dalam jumlah besar seperti baja untuk keperluan militer," ujar juru bicara kelompok No Harbour for Genocide kepada Middle East Eye pada saat itu.
Senada dengan hal tersebut, sebuah investigasi Aljazirah yang didasarkan pada data impor Otoritas Pajak Israel (ITA) menemukan bahwa India merupakan eksportir terbesar kedua untuk barang-barang terkait militer ke Israel pada periode antara Oktober 2023 dan Oktober 2025.
Aljazirah mencatat bahwa data tersebut kemungkinan hanya menggambarkan sebagian dari total transfer senjata ke Israel dan tidak menunjukkan penggunaan akhir dari pengiriman tersebut di Gaza. Demikian pula, para penyelidik Amnesty mendasarkan analisis mereka pada pengiriman yang diklasifikasikan di bawah kode Harmonized System (HS) tertentu, yaitu sistem klasifikasi kepabeanan yang digunakan secara internasional untuk barang-barang perdagangan.
Kode-kode tersebut mencakup HS 9301–9307, yang meliputi senjata, amunisi, serta suku cadang dan aksesorinya; dan HS 8710, yang mencakup kendaraan lapis baja dan kendaraan tempur beserta komponennya. Para peneliti mengecualikan pengiriman yang hanya mencantumkan nomor produk atau nomor suku cadang internal, di mana tidak dimungkinkan untuk menentukan apakah barang-barang tersebut bersifat militer atau sipil.
Analisis ini juga mengecualikan ratusan pengiriman komponen senjata ringan yang memiliki kegunaan ganda (dual-use), serta senjata, suku cadang, dan amunisi yang kemungkinan ditujukan untuk sistem pertahanan anti-rudal. Amnesty menyatakan bahwa metodologi mereka yang sengaja dibuat konservatif berarti temuan mereka kemungkinan besar meremehkan besaran sebenarnya dari kontribusi India terhadap rantai pasokan militer Israel.
Kendati demikian, temuan tersebut mengungkapkan adanya sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan milik negara, yang terlibat dalam penyediaan bantuan militer bagi Israel.
Pihaknya menyatakan telah menyurati sembilan perusahaan serta pemerintah India, namun tidak menerima tanggapan hingga berita ini diterbitkan. "Mengingat perintah tindakan sementara dari Mahkamah Internasional (ICJ) yang mengakui adanya risiko nyata genosida terhadap warga Palestina di Gaza, otoritas India tidak dapat berargumen secara kredibel bahwa mereka tidak mengetahui bahwa tindakan terus memberikan izin dan memfasilitasi transfer senjata ke Israel mengandung risiko besar untuk berkontribusi pada pelanggaran serius hukum internasional," ujar Agnes Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty, dalam sebuah pernyataan. Callamard menambahkan bahwa sementara militer Israel terus menyebabkan kematian dan penderitaan di Gaza,
"perusahaan-perusahaan India terus meraup keuntungan dengan memasok komponen dan amunisi yang ditujukan bagi sektor pertahanan Israel."
Hubungan India-Israel telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi dan Benjamin Netanyahu.
India merupakan pembeli senjata Israel terbesar di dunia, dan sejumlah produsen senjata Israel telah mendirikan fasilitas produksi di negara tersebut melalui usaha patungan dengan perusahaan-perusahaan India.
Awal tahun ini, dalam kunjungan Modi ke Israel, kedua negara meningkatkan status hubungan mereka menjadi Kemitraan Strategis Khusus untuk Perdamaian, Inovasi, dan Kemakmuran. Sejak saat itu, hubungan tersebut semakin meluas, ditandai dengan serangkaian nota kesepahaman (MoU) baru dan laporan mengenai potensi kemitraan pertahanan, termasuk pembahasan mengenai rencana India memproduksi rudal pencegat Iron Dome untuk Israel.
Pentagon Rekrut Bankir Wall Street Bergaji Rp7,2 M, Senator AS Ini Soroti Konflik Kepentingan
Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren mempertanyakan program Departemen Pertahanan AS atau Pentagon untuk mendatangkan para profesional bergaji tinggi dari Wall Street dan perusahaan teknologi ke dalam proses pengadaan serta investasi pertahanan. Ia memperingatkan program itu dapat menimbulkan konflik kepentingan, praktik pintu putar antara pemerintah dan korporasi, hingga risiko terhadap keamanan nasional.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Warren dalam surat yang dikirim pada Selasa malam kepada Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg dan Direktur Office of Strategic Capital (OSC) David Lorch. Surat yang pertama kali diperoleh CNBC itu memuat hampir tiga lusin pertanyaan mengenai proses perekrutan, status kepegawaian, aturan etika, pemeriksaan latar belakang, dan penggunaan anggaran program.
Sorotan Warren terutama tertuju pada program Business Operators for National Defense (BOND) yang dibentuk Pentagon pada Februari 2026. Program tersebut dirancang untuk memasukkan profesional sektor swasta ke dalam proses pengadaan pertahanan dan pengalokasian modal bagi industri yang dianggap strategis bagi keamanan Amerika Serikat.
“Saya telah lama memiliki kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan, penyalahgunaan praktik ‘pintu putar’ (revolving door), dan masalah keamanan nasional dalam proses pengadaan Departemen Pertahanan,” kata Warren, senator Partai Demokrat dari Massachusetts, dalam surat tersebut.
“Sekarang saya prihatin tentang implikasi keamanan nasional dan masalah korupsi yang ditimbulkan oleh inisiatif BOND Departemen Pertahanan dan tim investor Wall Street, dan mendesak Departemen Pertahanan untuk menerapkan pengamanan dan pengawasan yang diperlukan untuk sepenuhnya mengatasi kekhawatiran ini.”
Gaji Lebih dari Rp7,2 Miliar Setahun
Selain program BOND, Office of Strategic Capital disebut berupaya menarik bankir, investor, dan profesional keuangan dari sektor swasta. Berdasarkan laporan The New York Times dan The Wall Street Journal, Pentagon menawarkan kompensasi lebih dari 400 ribu dolar AS per tahun.
Dengan kurs Rp18.087 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp7,23 miliar per tahun, atau lebih dari Rp602 juta per bulan. Paket perekrutan itu juga disebut menawarkan kesempatan membangun hubungan dengan pejabat tinggi pemerintah dan membuka akses terhadap sumber permodalan pada masa mendatang.
Penawaran tersebut membuat Warren mempertanyakan apakah para profesional yang direkrut akan bekerja sebagai pegawai pemerintah, penasihat, kontraktor, atau menggunakan bentuk hubungan kerja lainnya. Status itu akan menentukan aturan etika, kewajiban pengungkapan keuangan, dan pembatasan konflik kepentingan yang berlaku terhadap mereka.
Warren juga meminta Pentagon menjelaskan siapa saja yang telah atau akan direkrut dengan kompensasi tahunan mencapai 400 ribu dolar AS atau lebih. Ia ingin memastikan apakah para bankir dan investor tersebut akan tetap terikat pembatasan etika setelah meninggalkan pemerintahan.
Kekhawatiran itu berkaitan dengan praktik revolving door, yakni perpindahan pejabat atau profesional antara perusahaan swasta dan lembaga pemerintah yang mengatur atau berbisnis dengan perusahaan tersebut. Tanpa pengamanan yang kuat, seseorang dapat terlibat dalam penyusunan kebijakan atau keputusan investasi yang menguntungkan bekas perusahaan maupun calon tempat kerjanya setelah keluar dari pemerintahan.
Dugaan Janji Akses kepada Pejabat dan Modal
Warren secara khusus menyoroti laporan The New York Times mengenai materi presentasi yang disiapkan sebuah perusahaan perekrut untuk mencari kandidat bagi Pentagon. Materi itu disebut menawarkan akses kepada pejabat tinggi pemerintah Amerika Serikat dan internasional, serta saluran penggalangan dana bagi calon peserta.
Belum diketahui apakah materi tersebut telah disetujui secara resmi oleh Departemen Pertahanan. Warren meminta Pentagon menjelaskan apakah lembaga itu mengetahui, meninjau, atau menyetujui presentasi perekrutan tersebut.
Janji akses kepada pejabat dan jaringan permodalan menjadi persoalan sensitif karena peserta program berpotensi memperoleh manfaat profesional atau komersial dari hubungan yang dibangun selama bekerja untuk pemerintah. Pada saat bersamaan, mereka dapat terlibat dalam keputusan yang menentukan perusahaan atau sektor mana yang menerima kontrak, pinjaman, jaminan, maupun investasi pemerintah.
Surat Warren dikirim ketika pemerintahan Presiden Donald Trump semakin memperluas keterlibatan pemerintah dalam sektor-sektor yang dianggap penting bagi keamanan nasional. Pemerintah AS juga telah mengambil kepemilikan saham atau kepentingan ekonomi dalam sejumlah perusahaan yang memproduksi barang strategis.
Model kerja sama tersebut dipandang dapat memperkuat basis industri Amerika Serikat. Namun, kedekatan yang semakin kuat antara pemerintah dan perusahaan swasta juga memunculkan pertanyaan mengenai transparansi, akuntabilitas, dan kemungkinan pengambilan keuntungan pribadi oleh orang-orang yang memiliki akses terhadap kebijakan negara.
Hubungan dengan Cerberus Dipertanyakan
Surat Warren ditujukan langsung kepada Feinberg dan Lorch karena keduanya memiliki latar belakang kuat di industri investasi.
Sebelum menjadi orang nomor dua di Pentagon, Feinberg merupakan salah satu pendiri sekaligus pemimpin Cerberus Capital Management. Lorch juga pernah bekerja sebagai direktur pelaksana di perusahaan investasi tersebut.
Feinberg kemudian membentuk Economic Defense Unit di Pentagon yang bekerja bersama Office of Strategic Capital. Unit tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas ekonomi dan industri yang berkaitan dengan kepentingan pertahanan AS.
Warren meminta keduanya memberikan daftar lengkap seluruh pakar industri yang terlibat dalam program BOND, termasuk perusahaan tempat mereka bekerja atau memiliki hubungan profesional. Ia juga mempertanyakan apakah peserta BOND maupun orang yang direkrut dari Wall Street untuk bergabung dengan OSC sebelumnya pernah bekerja di Cerberus.
Pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah jaringan profesional lama para pejabat Pentagon dapat memengaruhi proses perekrutan dan keputusan investasi pemerintah.
Warren juga meminta penjelasan mengenai mekanisme pemeriksaan latar belakang, aturan penyelesaian konflik kepentingan, kewajiban melepaskan kepemilikan investasi, serta larangan bagi peserta untuk menangani persoalan yang melibatkan bekas perusahaan mereka.
Anggaran Lebih dari Rp370 Triliun Disorot
Selain proses perekrutan, Warren meminta penjelasan terperinci mengenai penggunaan tiga pos anggaran yang berkaitan dengan program tersebut.
Pentagon disebut mengajukan anggaran sebesar 88 juta dolar AS untuk program BOND. Dengan kurs Rp18.087 per dolar AS, jumlah itu setara dengan sekitar Rp1,59 triliun.
Warren juga mempertanyakan dana sebesar 189 juta dolar AS yang diminta untuk Economic Defense Unit. Nilainya mencapai sekitar Rp3,42 triliun.
Pos terbesar yang disorot adalah permintaan dana sebesar 20,2 miliar dolar AS untuk program yang dikaitkan dengan perekrutan dan keterlibatan investor Wall Street. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp365,36 triliun.
Secara keseluruhan, tiga pos itu mencapai sekitar 20,477 miliar dolar AS, atau setara dengan lebih dari Rp370,36 triliun berdasarkan kurs yang sama.
Warren meminta Pentagon menjelaskan dasar perhitungan anggaran, jenis kegiatan yang akan dibiayai, pihak yang berwenang mengambil keputusan, serta mekanisme pengawasan terhadap penggunaan dana tersebut.
Ia juga ingin mengetahui apakah anggaran miliaran dolar tersebut akan digunakan untuk membayar kompensasi profesional, membiayai operasional program, menyalurkan investasi kepada perusahaan, atau mendukung proyek industri pertahanan lainnya.
Eksekutif Palantir, Meta, dan OpenAI
Potensi keterlibatan profesional dari perusahaan teknologi juga menjadi perhatian Warren. Ia meminta Pentagon menjelaskan pengamanan yang akan diterapkan untuk mencegah konflik kepentingan apabila eksekutif atau pegawai dari Palantir, Meta, dan OpenAI terlibat dalam program tersebut.
Perusahaan-perusahaan teknologi dapat memiliki kepentingan langsung terhadap kontrak pemerintah, pengembangan kecerdasan buatan, pengolahan data, komputasi, serta teknologi yang digunakan dalam sektor pertahanan dan keamanan nasional.
Keterlibatan pegawai perusahaan dalam pengambilan keputusan pemerintah dinilai berpotensi menimbulkan konflik apabila mereka memiliki akses terhadap informasi pesaing, rencana pengadaan, kebutuhan teknologi Pentagon, atau keputusan investasi yang dapat memberikan keuntungan kepada perusahaan asalnya.
Karena itu, Warren meminta Pentagon menjelaskan apakah peserta harus mengundurkan diri dari perusahaan, melepaskan kepemilikan saham, mengungkap seluruh kepentingan keuangan, atau menghindari keputusan yang berkaitan dengan mantan pemberi kerja mereka.
Ia juga menanyakan apakah kewajiban etika akan tetap berlaku setelah para peserta menyelesaikan tugas di Pentagon dan kembali bekerja di sektor swasta.
Hingga berita ini ditulis, Pentagon belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar CNBC. Departemen Pertahanan juga belum menjelaskan apakah akan membuka daftar peserta BOND, rincian kompensasi, dan hubungan korporasi mereka kepada publik.
Timur Tengah di Tubir Perang Besar
Kondisi keamanan di Timur Tengah kian panas menyusul serangan Amerika Serikat dan Saudi ke Irak pada Rabu (28/7/2026). Serangan tersebut diklaim menewaskan empat anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), hal yang bisa memicu reaksi balasan dari Teheran.
Kematian empat anggota IRGC akibat serangan gabungan Arab Saudi dan AS ke Irak itu dilaporkan kantor berita semi-resmi Mehr. Aljazirah juga mengeklaim melihat foto yang beredar memperlihatkan beberapa peti jenazah yang diselimuti bendera, namun belum ada konfirmasi resmi dari IRGC.
Terkait kondisi terkini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan kepada rakyat Iran untuk "melawan musuh dan berdiri teguh menghadapi mereka agar kita tidak tunduk pada ketidakadilan dan penindasan".
"Demikian pula, kita tidak boleh menindas warga kita atau melakukan ketidakadilan terhadap mereka," demikian kutipan pernyataan beliau oleh kantor berita IRNA. Pezeshkian menambahkan bahwa Iran telah membuktikan diri sebagai "model perlawanan yang unik".
Sedangkan Dewan Keamanan Nasional Irak telah mengadakan pertemuan darurat dengan panglima tertinggi angkatan bersenjata untuk membahas serangan AS-Arab Saudi yang menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi.
"Pertemuan tersebut menegaskan sikap tegas pemerintah yang menolak segala tindakan permusuhan, terlepas dari siapa pelakunya ataupun alasan yang mendasarinya, serta menekankan bahwa penanganan dan perlawanan terhadap agresi semacam itu merupakan tanggung jawab mutlak pemerintah Irak," demikian pernyataan dewan tersebut.
Dewan itu menyerukan "penggunaan jalur diplomasi sebagai cara untuk menyelesaikan sengketa" dan menyatakan bahwa Irak harus "menjauhi konflik regional".
Sebelumnya, pihak kepresidenan Irak telah mengecam serangan tersebut serta "penggunaan wilayah Irak sebagai titik peluncuran atau medan pertempuran untuk serangan terhadap negara-negara tetangga".
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada Fox News juga menyatakan akan ada tanggapan atas serangan terhadap aset militer AS di Yordania pada Rabu. "Kami akan menghantam mereka dengan keras; mereka akan dipukul habis-habisan," ujarnya.
Pada hari yang sama, sebuah pesawat nirawak menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik AS di pelabuhan Damietta, Mesir, yang terletak di Laut Tengah, menurut perusahaan keamanan maritim Ambrey. Dua kapal tanker gas terbakar di Damietta, kata perusahaan layanan pelabuhan Inchcape.
Di tengah eskalasi itu, Angkatan bersenjata dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) berpartisipasi dalam latihan militer gabungan di Bahrain, demikian pernyataan Angkatan Pertahanan negara tersebut.
Kepala Staf Letnan Jenderal Dhiab bin Saqr al-Nuaimi mengatakan bahwa latihan "Perisai Bahrain" (Bahrain Shield), yang berlangsung dari tanggal 28 hingga 30 Juli, bertujuan untuk meningkatkan kesiapan tempur, memperbaiki perencanaan operasional, dan memperkuat koordinasi di antara pasukan negara-negara Teluk.
Ia menyatakan bahwa partisipasi angkatan bersenjata GCC "mencerminkan karakteristik kekuatan militer gabungan Teluk yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan". Latihan tersebut, tambahnya, merupakan "landasan strategis yang kokoh bagi solidaritas militer serta pilar yang kuat untuk bersatu melawan segala bentuk serangan yang penuh pengkhianatan".
Al-Nuaimi mengatakan bahwa aksi kekerasan yang terjadi baru-baru ini di kawasan tersebut mempertegas perlunya pertahanan bersama. "Serangan-serangan penuh pengkhianatan yang terjadi di kawasan ini mengharuskan kita untuk mengembangkan kerja sama pertahanan militer gabungan," tambahnya.
Intelijen Prancis Selidiki Pilot Jet Rafale M Terkait Aktivitas dengan China
Mantan pilot Rafale Angkatan Laut Prancis, telah ditempatkan di bawah penyelidikan resmi di Paris atas dugaan aktivitas intelijen yang menguntungkan China. Pierre-Henri Chuet adalah sang pensiunan pilot yang juga menjadi Youtuber.
Chuet pernah menerbangkan pesawat tempur Super Etendard dan Rafale M dari Kapal Induk Charles de Gaulle, dihadirkan ke hadapan hakim investigasi pada 20 Juli 2026, setelah diinterogasi di kantor dinas intelijen domestik Prancis, DGSI. Rumahnya juga digeledah. Perkembangan ini pertama kali dilaporkan pada 27 Juli 2026 oleh media khusus Intelligence Online.
Chuet menghadapi empat dakwaan: pengungkapan rahasia pertahanan nasional oleh seseorang yang dipercayakan untuk merahasiakannya, intelijen dengan kekuatan asing, pengumpulan informasi yang berkaitan dengan kepentingan fundamental negara, dan penyampaian informasi kepada kekuatan asing. Ia telah ditempatkan di bawah pengawasan yudisial.
Menurut prosedur Prancis, "mise en examen" bukanlah vonis atau keputusan untuk mengirim kasus ke pengadilan. Hal itu menunjukkan bahwa seorang hakim investigasi menganggap ada bukti serius atau bukti yang menguatkan yang membenarkan penyelidikan formal.
Dilaporkan Eurasian Times, Chuet yang dilatih oleh Angkatan Laut AS, mampu enyelesaikan lebih dari 200 pendaratan di kapal induk. Dia menghabiskan delapan tahun di skuadron tempur sebelum bergabung dengan Air Canada sebagai pilot komersial. Pengalaman penerbangan kapal induknya sebagai pilot pesawat tempur Rafale M sangat berharga bagi China.
Namun, setelah pensiun, ia fokus mengembangkan channel Youtube. Bagi pemerintah Prancis, beberapa video YouTube-nya menimbulkan kontroversi besar, khususnya pada tahun lalu, ketika ia menyatakan bahwa India kehilangan jet tempur Rafale selama bentrokan dengan Pakistan pada Mei 2025.
Dalam video berjudul "UN RAFALE INDIEN PERDU FACE AU PAKISTAN ? ANALYSE D’UN PILOTE DE CHASSE (ATE CHUET)," yang diunggah pada 10 Mei 2025, ia menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa India kehilangan setidaknya satu jet Rafale satu tempat duduk selama bentrokan tersebut. Namun, konfirmasi itu dibantah pemerintah India.
Di video lain, Chuet juga memuji keunggulan sejumlah jet tempur produksi China, di antaranya Chengdu J-10C, JF-17 Thunder, dan rudal udara-ke-udara PL-15. Dia terang-terangan sangat memuji jet dan rudal produksi China tersebut.
Perjalanan ke China 2025
Media investigasi Prancis, Le Canard Enchaîné, melaporkan pada April 2025 bahwa kantor kejaksaan Paris telah menerima rujukan dari Kementerian Angkatan Bersenjata pada 19 Februari 2025. Laporan itu berisi mengenai seorang mantan prajurit yang dicurigai melakukan aktivitas intelijen dengan kekuatan asing.
Pilot tersebut dilaporkan telah melakukan perjalanan ke China pada September 2018 dan Agustus 2019 saat masih bertugas, tanpa memberi tahu rantai komandonya sebagaimana diwajibkan oleh peraturan militer Prancis. Kedua perjalanan tersebut dikatakan telah diatur dan dibiayai oleh sebuah perusahaan penerbangan Afrika Selatan.
Chuet yang merupakan warga negara ganda Prancis dan Kanada, dilatih sebagai perwira pertukaran dengan Angkatan Laut AS dan menyelesaikan sekitar 200 pendaratan di kapal induk sebelum diberhentikan secara medis setelah menderita stroke. Dia kemudian membangun pengikut penerbangan yang besar di Youtube dan bekerja sebagai penulis, pembicara perusahaan, dan pilot maskapai penerbangan.
Pengalaman penerbangan kapal induk itu akan sangat berharga bagi Beijing. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengoperasikan tiga kapal induk, dengan yang keempat sedang dibangun. Kapal induk terbarunya, Fujian, dikonfigurasi untuk lepas landas dengan bantuan ketapel dan pendaratan dengan penahan.
Penerbang Angkatan Laut Prancis, yang dilatih di satu-satunya kapal induk Catobar yang beroperasi di luar Angkatan Laut AS, oleh karena itu termasuk dalam kategori yang sempit dan sangat dicari keahliannya. Adpaun perantara Afrika Selatan yang menjadi pusat kasus Prancis sesuai dengan pola yang didokumentasikan di seluruh aliansi.
Investigasi Sky News tahun 2022 mengidentifikasi Akademi Penerbangan Uji Afrika Selatan (TFASA) sebagai saluran untuk merekrut mantan penerbang militer Inggris, yang memicu peringatan ancaman dari Kementerian Pertahanan Inggris. Investigasi Mail on Sunday yang diterbitkan pada 28 Juni 2026 menyebutkan tujuh mantan personel Inggris lainnya yang telah didekati.
Surat kabar Spanyol, ABC melaporkan pada 25 Juli 2026 bahwa dinas intelijen telah mengidentifikasi setidaknya dua mantan pilot Angkatan Udara dan Antariksa Spanyol yang bekerja untuk melatih penerbang militer China yang direkrut melalui perantara Afrika Selatan, termasuk TFASA.
Departemen Kehakiman AS juga mendakwa mantan pilot Korps Marinir AS Daniel Duggan pada 2017 atas instruksi pendaratan kapal induk yang diduga diberikan kepada pilot Cina melalui kontrak dengan TFASA. Adapun pemerintah Australia menyetujui ekstradisinya pada tahun 2022.
Pada Januari 2026, Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan penyitaan sipil untuk menyita dua pesawat latih awak misi kontainer yang dibangun oleh TFASA dan dicegat dalam perjalanan dari Afrika Selatan ke China. Dimodelkan berdasarkan interior Boeing P-8 Poseidon, sistem tersebut diduga menggabungkan perangkat lunak asal AS dan keahlian perang antikapal selam Barat untuk membantu personel PLA mendeteksi dan melacak kapal selam Angkatan Laut AS.
Pihak berwenang menangkap mantan pilot Angkatan Udara AS, Gerald Eddie Brown Jr, pada Februari 2026, dan kemudian menuduhnya telah memberikan pengarahan tentang F-35 di China.
Gelontorkan Rp7 T, Inggris Bangun Angkatan Udara Generasi Ke-6, Rusia Jadi Ancaman Utama
Inggris mempercepat transformasi Royal Air Force (RAF) menjadi angkatan udara generasi keenam pertama di Eropa. Ambisi itu memperoleh momentum baru setelah BAE Systems memperkenalkan Brontanax, rancangan pesawat tempur kolaboratif otonom pertama yang didesain di Inggris, dalam Farnborough International Airshow, beberapa waktu lalu.
Brontanax diproyeksikan menjadi bagian dari program Storm Fighter, yakni pesawat tempur tanpa awak yang akan terbang bersama Eurofighter Typhoon, F-35, dan kelak pesawat tempur generasi keenam Global Combat Air Programme (GCAP). Pemerintah Inggris telah mengalokasikan 300 juta pound sterling untuk memulai program Collaborative Combat Aircraft (CCA) tersebut.
Sehari sebelum Brontanax diperkenalkan, Inggris, Italia, dan Jepang menerima Kanada sebagai negara pengamat pertama dalam GCAP. Status tersebut memberi Kanada akses lebih luas untuk mempelajari tata kelola, kebutuhan kemampuan, kerangka industri, dan persyaratan keamanan program pesawat tempur generasi baru itu.
Masuknya Kanada menjadi penting bagi ambisi udara Inggris. GCAP tidak lagi hanya berkembang sebagai proyek tiga negara, tetapi mulai membentuk ekosistem pertahanan yang lebih luas di antara negara-negara sekutu di kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik.
Pada 3 Juli 2026, Inggris, Italia, dan Jepang juga menandatangani kontrak senilai 4,6 miliar pound sterling setara dengan Rp110 T, dengan perusahaan patungan Edgewing untuk membawa GCAP memasuki tahap desain berikutnya. Pesawat tempur siluman generasi keenam itu ditargetkan mulai bertugas pada 2035.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan Inggris tidak sedang menunggu GCAP selesai sebelum memodernisasi RAF. London memilih membangun kemampuan secara berlapis: mempertahankan Typhoon, menambah F-35, menghadirkan CCA otonom, memperkuat radar peringatan dini, dan membangun kemampuan tempur ruang angkasa.
Kepala Staf Angkatan Udara RAF Air Chief Marshal Sir Harv Smyth mengatakan penyegaran Combat Air Strategy akan menjadi fondasi perubahan terbesar kekuatan udara Inggris dalam beberapa dekade. Dalam wawancara dengan Aviation Week menjelang Global Air and Space Chiefs Conference di London pada 15–16 Juli 2026, Smyth menyampaikan ambisinya menjadikan RAF angkatan udara generasi keenam pertama di Eropa.
Target itu memperoleh dukungan pendanaan melalui Defence Investment Plan (DIP) yang diterbitkan Pemerintah Inggris pada akhir Juni 2026. Dokumen tersebut mengalokasikan 27,8 miliar pound sterling untuk domain udara dan 3,2 miliar pound sterling untuk ruang angkasa selama empat tahun anggaran, sehingga totalnya mencapai sekitar 31 miliar pound sterling.
Di sektor udara, Inggris mengalokasikan 8,6 miliar pound sterling untuk GCAP, 5,4 miliar pound sterling bagi Typhoon, 2,2 miliar pound sterling untuk F-35, serta 300 juta pound sterling untuk CCA. Anggaran tambahan disiapkan untuk armada angkut, pesawat pengintai, tanker, sistem pelatihan jet, dan E-7 Wedgetail.
Pemerintah Inggris menyebut RAF generasi berikutnya akan memadukan pesawat berawak dan nirawak dari generasi keempat, kelima, dan keenam. Typhoon tidak langsung disingkirkan ketika GCAP tiba. Pesawat generasi keempat itu justru akan ditingkatkan agar tetap dapat beroperasi hingga dekade 2040-an.
Storm Fighter menjadi penghubung utama antargenerasi tersebut. Pesawat nirawak itu tidak dirancang sekadar mengikuti jet tempur berawak, tetapi beroperasi sebagai bagian dari jaringan pertempuran yang membagi sensor, data, persenjataan, dan tugas secara waktu nyata.
CCA dapat ditempatkan jauh di depan pesawat berawak untuk mengintai, menemukan sasaran, mengganggu pertahanan udara, atau membawa rudal tambahan. Dengan cara itu, pilot dapat mempertahankan jarak lebih aman dari sistem pertahanan lawan.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan Storm Fighter dapat berperan sebagai “malaikat penjaga” sekaligus “anjing penyerang” bagi Typhoon, F-35, dan GCAP. Dalam pidatonya di Farnborough pada 22 Juli, ia menyatakan lima CCA dapat ditempatkan hingga 500 mil di depan Typhoon yang mengendalikannya, dengan biaya yang diklaim sekitar seperlima harga pesawat berawak tersebut.
Kemampuan itu dapat mengubah hitungan ekonomi dalam peperangan udara. Saat ini, sebuah pesawat tempur berawak bernilai tinggi berisiko menghadapi rudal pertahanan udara atau drone yang jauh lebih murah. Dengan menempatkan pesawat otonom di lapisan terdepan, Inggris berupaya memindahkan sebagian risiko dari pilot dan platform mahal kepada sistem yang lebih murah dan dapat digantikan.
Smyth menilai kombinasi Typhoon dan CCA dapat membuat pesawat generasi keempat itu bekerja sebagai bagian dari sistem udara yang mendekati karakteristik generasi kelima. Typhoon memang tidak akan berubah menjadi pesawat siluman, tetapi kemampuannya dapat diperluas melalui sensor terdistribusi, peperangan elektronik, konektivitas data, dan tambahan daya angkut senjata.
Defence Investment Plan menyebut CCA akan memperluas cakupan sensor, membawa lebih banyak rudal, serta beroperasi jauh di depan elemen udara berawak. Inggris juga merencanakan agar kemampuan otonom kelak tersedia bagi setiap skuadron tempur udara.
Akan tetapi, jadwal pengembangan program tersebut masih memperlihatkan dua tingkat target. DIP menetapkan demonstrator konsep harus terbang paling lambat pada 2030 dan meminta kemampuan operasional dipercepat sedini mungkin.
Target politik dan operasionalnya jauh lebih agresif. Streeting menyatakan pemerintah ingin menerbangkan demonstrator CCA pada 2027 dan menjadikan Storm Fighter operasional sebelum akhir dekade ini. Smyth juga menginginkan demonstrator terbang bersama Typhoon dalam latihan besar NATO Steadfast Defender pada 2027.
Perbedaan tersebut menunjukkan 2030 merupakan batas perencanaan formal, sedangkan 2027 menjadi sasaran percepatan. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan teknologi otonom, integrasi perangkat lunak, keamanan komunikasi, dan kemampuan industri mengubah demonstrator menjadi sistem tempur yang aman.
Smyth mengatakan pelajaran dari perang Ukraina memperlihatkan bahwa kemampuan tersebut tidak dapat ditunda hingga pertengahan 2030-an. Drone murah, kecerdasan buatan, peperangan elektronik, dan jaringan sensor telah mempercepat perubahan medan perang.
Pemerintah Inggris mengambil kesimpulan serupa. DIP menyebut perang Ukraina membuktikan sistem murah, presisi, dan digunakan secara massal semakin mendominasi pertempuran. Karena itu, Inggris mengalokasikan lebih dari lima miliar pound sterling untuk sistem otonom hingga 2030, investasi drone terbesar dalam sejarah pertahanannya.
Namun, Inggris tidak akan sepenuhnya mengganti pesawat berawak dengan drone. Pemerintah menilai pesawat tempur berawak tetap diperlukan untuk menguasai udara, melakukan serangan mendalam, dan menjalankan misi yang memerlukan pengambilan keputusan manusia dalam situasi kompleks.
Storm Fighter karena itu akan dikembangkan sebagai pelengkap, bukan pengganti tunggal Typhoon, F-35, maupun GCAP. Model tersebut dikenal sebagai manned-unmanned teaming, ketika pesawat berawak memimpin satu atau beberapa platform otonom yang menjalankan fungsi berbeda.
Smyth juga ingin RAF meninggalkan pola pengadaan yang menunggu sebuah sistem mencapai kesempurnaan sebelum digunakan. Ia memilih pendekatan pengembangan bertahap, dengan versi awal segera diuji, kemudian diperbaiki melalui pembaruan perangkat lunak, sensor, persenjataan, dan algoritma otonomi.
Menurut Smyth, RAF harus bersedia menghadapi kegagalan pada sebagian tahap pengembangan selama risiko dikelola dan pembelajaran diperoleh dengan cepat. Ia menyebutnya pendekatan fail fast, yakni menemukan kekurangan sedini mungkin agar kesalahan tidak baru diketahui setelah program menjadi terlalu mahal dan kompleks.
Sebelum GCAP mulai beroperasi pada 2035, Smyth ingin Storm Fighter telah melewati beberapa iterasi. Pendekatan itu memungkinkan teknologi yang sudah matang langsung digunakan, sedangkan bagian yang belum siap dapat dimasukkan dalam pembaruan berikutnya.
Kecepatan tersebut telah diuji ketika RAF mengintegrasikan roket berpemandu Advanced Precision Kill Weapon System II ke Eurofighter Typhoon. Proses yang semula diperkirakan dapat berlangsung hingga dua tahun diselesaikan hanya dalam 42 hari karena adanya kebutuhan operasional mendesak.
Roket tersebut memberi Typhoon pilihan yang lebih murah untuk menghadapi drone dibandingkan penggunaan rudal udara-ke-udara berharga tinggi. Bagi Smyth, pengalaman itu membuktikan birokrasi pertahanan dapat bergerak cepat tanpa harus menunggu Inggris terlibat dalam perang terbuka.
Meski fokus masa depan berada pada GCAP dan CCA, Typhoon tetap menjadi tulang punggung RAF. Inggris menyiapkan tambahan 1,1 miliar pound sterling untuk peningkatan dan pemeliharaan armada itu melalui program Long-Term Evolution agar tetap relevan hingga 2040-an.
Smyth menegaskan RAF membutuhkan masa tumpang tindih yang memadai antara Typhoon dan GCAP. Inggris ingin menghindari “jurang kemampuan”, yakni keadaan ketika pesawat lama ditarik terlalu cepat sementara penggantinya belum siap menjalankan seluruh misi.
Tantangan serupa terlihat dalam program F-35. Smyth mengaku tidak puas terhadap lambatnya integrasi senjata baru ke pesawat siluman tersebut. Menurutnya, perang Ukraina memperlihatkan bahwa kecanggihan platform tidak cukup apabila senjata yang dibutuhkan tidak segera tersedia di garis depan.
Inggris juga akan membeli sedikitnya 12 F-35A dan kembali berpartisipasi dalam misi pesawat berkemampuan ganda nuklir NATO. Berbeda dengan F-35B yang dapat lepas landas pendek dan mendarat vertikal dari kapal induk, F-35A menggunakan landasan konvensional dan memiliki biaya pembelian lebih rendah.
Pemerintah Inggris memperkirakan pembelian F-35A dapat menghemat hingga 25 persen per pesawat dibandingkan F-35B. Pesawat tersebut akan ditempatkan di RAF Marham dan dijadwalkan memasuki layanan pada awal 2030-an.
RAF dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris akan mengkaji kembali keseimbangan jumlah F-35A dan F-35B. Rencana membentuk sayap udara hibrida yang menggabungkan F-35B dengan drone dari kapal induk kelas Queen Elizabeth berpotensi mengurangi kebutuhan menempatkan sejumlah besar jet berawak di atas kapal.
Storm Fighter juga bukan satu-satunya sistem otonom RAF. Inggris telah mengembangkan Storm Shroud untuk peperangan elektronik, Storm Chrome sebagai drone peperangan elektronik jarak jauh, serta Storm Fire sebagai wahana serang satu arah berbiaya rendah.
Pada 22 Juli, BAE Systems menyatakan Brontanax dirancang sebagai CCA otonom buatan Inggris. Perusahaan tersebut menilai platform itu dapat dikembangkan dengan arsitektur terbuka sehingga sensor, muatan misi, dan persenjataannya dapat diubah mengikuti kebutuhan operasi.
Modernisasi RAF juga mencakup sistem pengawasan udara. Inggris telah memesan tiga Boeing E-7 Wedgetail untuk menggantikan E-3D Sentry. Pesawat pertama tiba di RAF Lossiemouth pada 21 Mei 2026 dan masih menjalani tahap pengujian serta evaluasi sebelum diserahkan secara resmi kepada RAF.
E-7 akan berfungsi sebagai pusat radar dan manajemen pertempuran di udara. Pesawat tersebut dapat mendeteksi dan melacak sasaran udara maupun maritim, kemudian membagikan informasi kepada pesawat tempur, tanker, kapal perang, dan unsur pertahanan lainnya.
Smyth mengakui tiga pesawat belum ideal untuk menjaga wilayah udara Inggris secara terus-menerus, terutama dengan meningkatnya aktivitas militer Rusia. Strategic Defence Review Inggris merekomendasikan penambahan E-7 ketika pendanaan memungkinkan, termasuk kemungkinan berbagi biaya dengan negara-negara NATO.
Masalah lain adalah pengisian bahan bakar udara. Selama beberapa dekade, tanker Airbus A330 Voyager milik RAF hanya mengandalkan sistem probe-and-drogue. Sistem itu tidak dapat melayani sejumlah pesawat yang menggunakan receptacle untuk boom, termasuk F-35A, C-17, P-8, E-7, dan RC-135.
Smyth mengatakan RAF sedang membahas kemungkinan memasang boom pada tanker bersama AirTanker. Kemampuan itu akan menjadi semakin penting ketika F-35A dan GCAP mulai beroperasi karena keduanya memerlukan sistem pengisian bahan bakar jenis boom.
Transformasi tidak berhenti di atmosfer. Inggris mengalokasikan 3,2 miliar pound sterling untuk domain ruang angkasa hingga tahun anggaran 2029/2030. RAF sebagai matra utama untuk ruang angkasa akan membentuk hingga enam skuadron khusus dan mengembangkan kemampuan pengawasan, komunikasi satelit, serta perlindungan aset orbital.
Pemerintah Inggris juga menyiapkan investasi awal 40 juta pound sterling untuk Integrated Air, Space and Missile Defence Operations Centre. Pusat tersebut dirancang menggabungkan komando pertahanan udara dan ruang angkasa menggunakan sistem kendali berbantuan kecerdasan buatan.
Perubahan itu menandai pergeseran dari sekadar space domain awareness menuju space control. Inggris tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi di orbit, tetapi juga melindungi satelit, menjaga akses terhadap layanan ruang angkasa, dan menghadapi aktivitas lawan di domain tersebut.
Meski ambisinya besar, jalan menuju RAF generasi keenam masih menghadapi risiko. Integrasi pesawat berawak dan otonom memerlukan jaringan komunikasi yang tahan gangguan, kecerdasan buatan yang dapat dipercaya, aturan penggunaan senjata yang jelas, serta sistem keamanan siber yang mampu mencegah pengambilalihan platform oleh lawan.
Inggris juga harus menjaga agar program-program yang berjalan bersamaan tidak saling menyedot tenaga ahli dan anggaran. GCAP, Typhoon, F-35, Storm Fighter, Wedgetail, tanker, persenjataan baru, dan kemampuan ruang angkasa membutuhkan rantai pasok serta tenaga teknik yang sama-sama terbatas.
Pemerintah Inggris mengakui angka, jadwal, dan cakupan dalam Defence Investment Plan masih dapat berubah mengikuti kondisi fiskal, perkembangan teknologi, kemampuan industri, dan perubahan ancaman. Program dapat ditunda, diperkecil, diubah, bahkan dibatalkan apabila tidak lagi dinilai layak.
Namun, momentum politik dan industrinya kini semakin kuat. Selain kontrak 4,6 miliar pound sterling untuk tahap lanjutan GCAP, konsorsium Rolls-Royce, Avio Aero, dan IHI telah menyelesaikan lebih dari 100 pengujian komponen berskala kecil dan bergerak menuju persetujuan akhir desain demonstrator mesin GCAP.
Bagi Smyth, angkatan udara generasi keenam bukan hanya soal memiliki satu pesawat tempur baru. Ia merupakan sistem yang menyatukan jet berawak, platform otonom, sensor, peperangan elektronik, ruang angkasa, kecerdasan buatan, jaringan data, dan persenjataan dalam satu arsitektur operasi.
Inggris kini berusaha membangun sistem itu sebelum negara Eropa lainnya. Pertaruhannya bukan hanya posisi RAF dalam peperangan masa depan, tetapi juga kemampuan industri kedirgantaraan Inggris mempertahankan teknologi, lapangan kerja, dan pasar ekspor ketika era Typhoon berakhir.