News Komoditi & Global ( Rabu, 22 April 2026 )

News  Komoditi & Global  ( Rabu,   22 April 2026  )

Harga Emas Melemah di Tengah Ketidakpastian AS–Iran

 

Harga emas global jatuh lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (21/4/2026), terseret penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, di tengah ketidakpastian arah hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga emas spot tercatat turun 2,2% ke level US$ 4.712,04 per ons pada pukul 13.46 waktu setempat, menjadi posisi terendah sejak 13 April 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 2,3% ke US$ 4.719,60 per ons.

Tekanan terhadap emas datang dari menguatnya dolar AS yang naik 0,2% terhadap mata uang utama lainnya. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang selain dolar.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkat, mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Analis RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan kombinasi kenaikan imbal hasil dan dolar AS menjadi faktor utama penekan harga emas. Selain itu, derasnya perkembangan berita terkait Iran ikut memperburuk sentimen pasar.

“Imbal hasil yang lebih tinggi dan dolar AS menekan emas, ditambah berbagai sinyal yang beragam terkait Iran yang mendorong harga energi naik,” ujarnya.

Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat mengirim sinyal keras dengan menyatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.

Ia juga menegaskan militer AS siap bertindak jika negosiasi gagal. Pernyataan ini mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 3%. Kendati ia kemudian mengumumkan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu setelah pasar tutup.

Kenaikan harga minyak sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari turut memicu kekhawatiran inflasi meningkat.

Kondisi ini berpotensi menahan penurunan suku bunga, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Fokus investor juga tertuju pada sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di Komite Perbankan Senat AS.

Warsh mendorong perubahan besar di bank sentral, termasuk pendekatan baru dalam pengendalian inflasi dan perombakan strategi komunikasi kebijakan moneter.

Pasar diperkirakan akan bergerak fluktuatif seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan Fed ke depan.

Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot anjlok 3,9% menjadi US$76,76 per ons, platinum turun 2,7% ke US$2.033,37, dan paladium melemah 0,6% ke US$1.541,56 per ons.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Menguat  di Tengah Ketidakpastian Iran-AS, Pasokan Global Terancam

 

Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada perdagangan Selasa (21/4/2026), dipicu ketidakpastian Iran terkait keikutsertaannya dalam pembicaraan damai dengan Amerika Serikat (AS).

Situasi ini terjadi hanya sehari sebelum tenggat gencatan senjata dalam konflik Iran berakhir, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar atas pasokan energi global.

Harga minyak mentah Brent naik US$ 3 atau 3,1% ke level US$ 98,48 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,52 atau 2,8% menjadi US$92,13 per barel.

Kenaikan sempat menyentuh sekitar 5% sebelum terkoreksi, menyusul laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance belum berangkat ke Islamabad untuk memimpin delegasi negosiasi.

Sebelunya Presiden AS Donald Trump berharap tercapai kesepakatan damai, namun menegaskan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata. Ia juga mengancam militer AS siap bertindak jika jalur diplomasi gagal.

Di sisi lain, gangguan serius terjadi di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Lalu lintas kapal dilaporkan hampir terhenti, dengan hanya tiga kapal melintas dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini memperbesar risiko terganggunya pasokan energi dunia.

Kepala ekonom Trafigura, Saad Rahim, memperingatkan dampak signifikan terhadap pasokan. “Pada titik ini, Anda sudah kehilangan satu miliar barel, bahkan jika ini terselesaikan besok,” ujarnya.

Ketegangan juga meningkat di kawasan lain. Militer Israel melaporkan serangan roket oleh Hizbullah di Lebanon selatan, yang dituding melanggar gencatan senjata menjelang pembicaraan yang dimediasi AS. Hingga kini, belum ada tanggapan dari pihak Hizbullah.

Uni Eropa turut bersiap menghadapi dampak konflik dengan menyiapkan panduan bagi maskapai terkait potensi kekurangan bahan bakar jet.

Meski demikian, Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche menyatakan pasokan bahan bakar masih aman karena kilang beradaptasi dengan lonjakan permintaan, meski pemerintah tetap memantau situasi.

Dari sisi pasokan Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut pipa Druzhba siap kembali beroperasi untuk mengalirkan minyak ke Eropa.

Namun, sumber industri mengungkapkan Rusia berencana menghentikan ekspor minyak dari Kazakhstan ke Jerman melalui pipa tersebut mulai 1 Mei. Kremlin menyatakan belum mengetahui rencana tersebut.

Sentimen negatif juga terasa di Eropa. Kepercayaan investor Jerman anjlok ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun pada April, seiring meningkatnya dampak ekonomi dari konflik Iran.

Sementara itu di AS, penjualan ritel mencatat kenaikan di atas ekspektasi pada Maret. Lonjakan ini didorong naiknya harga bensin akibat konflik Iran, yang meningkatkan pendapatan SPBU ke level rekor, serta dukungan dari pengembalian pajak.

Pelaku pasar kini menanti data cadangan minyak mingguan AS dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA).

Analis memperkirakan terjadi penarikan 1,2 juta barel minyak dari penyimpanan pada pekan yang berakhir 17 April.

Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan dua minggu berturut-turut pertama sejak Februari, mengindikasikan pengetatan pasokan di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

 

Wall Street Ditutup Melemah, Ketegangan AS-Iran Redam Optimisme Laba dan AI

 

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Selasa (21/4/2026), setelah reli di awal sesi terhapus oleh meningkatnya kekhawatiran konflik Timur Tengah.

Isu geopolitik, khususnya terkait Iran, menekan sentimen pasar dan mengalahkan optimisme atas kinerja laba perusahaan serta prospek kecerdasan buatan (AI).

Indeks utama kompak turun. Dow Jones Industrial Average merosot 293,18 poin atau 0,59% ke 49.149,38.

S&P 500 turun 45,13 poin atau 0,63% ke 7.064,01, sementara Nasdaq Composite melemah 144,43 poin atau 0,59% ke 24.259,96. Padahal, S&P 500 sempat menguat hingga 0,4% di awal perdagangan.

Tekanan pasar meningkat setelah muncul kabar Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Pakistan untuk pembicaraan perdamaian. Sebelumnya, pasar sempat berharap ada kemajuan diplomatik yang bisa meredakan konflik.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya terbuka untuk menghadiri pembicaraan dengan AS di Pakistan, namun dengan syarat Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman.

Teheran juga menegaskan menolak negosiasi yang mengarah pada bentuk penyerahan diri.

Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, mengatakan pasar saat ini dihadapkan pada dua kekuatan besar: kinerja fundamental perusahaan yang solid dan ketidakpastian geopolitik.

“Ada ekspektasi yang sangat baik untuk laba perusahaan dan ekonomi juga masih berjalan baik. Tapi ketidakpastian soal Iran ini yang membingungkan pasar,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, data Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel melonjak 1,7% pada Maret, kenaikan terbesar sejak Maret 2025 dan di atas ekspektasi pasar sebesar 1,4%.

Kenaikan ini didorong lonjakan harga bensin di tengah konflik, yang memicu rekor pendapatan di SPBU.

Meski begitu, data kuat tersebut tidak cukup menahan tekanan pasar.

Di sisi korporasi, sentimen sebenarnya masih cukup positif. Ekspektasi pertumbuhan laba kuartal I diperkirakan mencapai 14%, didorong sektor teknologi dan AI. J.P. Morgan bahkan menaikkan target akhir tahun S&P 500, mengandalkan momentum AI.

Amazon menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana investasi hingga US$ 25 miliar ke perusahaan AI Anthropic. Sahamnya ditutup naik 0,66%.

Sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat, naik 1,31% seiring lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah.

Sementara itu, saham UnitedHealth melonjak 7% setelah membukukan kinerja kuartal I di atas ekspektasi dan menaikkan proyeksi laba tahunan. Kenaikan ini menjadi penopang terbesar bagi Dow.

Sebaliknya, saham Apple turun 2,52% setelah perusahaan mengumumkan CEO Tim Cook akan menyerahkan kendali kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus.

Dari sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati perkembangan proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve.

Dalam sidang Senat, Warsh menegaskan tidak membuat komitmen kepada Presiden Donald Trump terkait pemangkasan suku bunga dan menekankan independensi bank sentral.

Namun proses ini terancam tersendat. Senator Republik Thom Tillis berjanji akan memblokir konfirmasi Warsh hingga penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, dihentikan.

Kebuntuan ini menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter, terlebih Trump sebelumnya menyatakan akan mencopot Powell jika tidak mundur setelah masa jabatannya berakhir pada Mei.

Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi pasar. Di NYSE, jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 2,67 banding 1, sementara di Nasdaq rasionya 2,53 banding 1.

Volume perdagangan tercatat 18,08 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,4 miliar saham.

Kombinasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan membuat pasar kembali defensif, meski fondasi fundamental perusahaan masih relatif kuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Pakistan

 

Amerika Serikat menyatakan optimistis bahwa perundingan damai dengan Iran akan kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat. Meski demikian, berbagai hambatan masih membayangi proses diplomatik menjelang berakhirnya masa gencatan senjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menginginkan kesepakatan yang dapat mencegah lonjakan harga minyak dan gejolak pasar saham global. Namun, Washington tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Teheran berharap dapat memanfaatkan pengaruhnya atas Selat Hormuz untuk memperoleh kesepakatan yang mampu mencegah perang kembali pecah, meringankan sanksi, tetapi tetap tidak menghambat program nuklirnya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran sedang “meninjau secara positif” kemungkinan ikut serta dalam perundingan tersebut, meskipun sebelumnya sempat menolak. Namun, hingga kini belum ada keputusan final.

Sumber di Pakistan yang terlibat dalam pembicaraan menyebut terdapat momentum kuat agar perundingan dimulai kembali pada Rabu. Bahkan, Trump disebut bisa hadir secara langsung maupun virtual apabila kesepakatan berhasil dicapai.

Optimisme terhadap potensi dimulainya kembali pembicaraan antara AS dan Iran membuat harga minyak turun dan pasar saham Asia menguat pada perdagangan Selasa.

Kontrak minyak mentah Brent turun 0,6% menjadi US$ 94,94 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate melemah 1,2% menjadi US$ 88,50 per barel.

Namun, ketegangan tetap tinggi. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam AS atas dugaan serangan terhadap kapal dagang Iran Touska pada akhir pekan lalu dan menuntut pembebasan kapal beserta awaknya.

Iran menegaskan akan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan negaranya, serta menyatakan bahwa AS akan bertanggung jawab penuh jika terjadi eskalasi lebih lanjut.

Sumber keamanan maritim menyebut kapal tersebut diduga membawa barang-barang yang dianggap Washington memiliki fungsi ganda untuk keperluan sipil dan militer. Sementara itu, Komando Pusat AS menyatakan awak kapal Touska mengabaikan peringatan berulang selama enam jam dan melanggar blokade AS.

China, yang merupakan pembeli utama minyak mentah Iran, juga menyampaikan kekhawatiran atas tindakan “intersepsi paksa” tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh Washington sebagai hambatan utama dalam proses diplomatik.

Sementara itu, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Trump meningkatkan tekanan melalui blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ia menilai Trump keliru jika menganggap meja perundingan dapat diubah menjadi “meja penyerahan”, dan menegaskan Iran menolak negosiasi di bawah ancaman.

Trump sendiri mengatakan Iran pada akhirnya akan berunding. Namun, ia kembali menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

"Mereka akan berunding, dan mudah-mudahan mereka akan mencapai kesepakatan yang adil serta membangun kembali negara mereka, tetapi mereka tidak akan memiliki senjata nuklir ketika itu terjadi," kata Trump.

Pemerintah Pakistan telah melakukan berbagai persiapan untuk menjadi tuan rumah perundingan tersebut. Sekitar 20.000 personel keamanan telah dikerahkan di Islamabad guna memastikan keamanan selama proses diplomatik berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance juga dilaporkan akan melakukan perjalanan ke Pakistan pada Selasa untuk mendukung perundingan Iran.

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyatakan AS berada sangat dekat dengan tercapainya kesepakatan.

Menurutnya, keberhasilan operasi militer dan gaya negosiasi keras Trump membuat peluang tercapainya kesepakatan semakin besar.

Namun, Gedung Putih juga mengingatkan bahwa Trump masih memiliki berbagai opsi lain jika kesepakatan gagal dicapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebijakan Trump terhadap China Dinilai Kacau, AS Kehilangan Daya Tekan

 

Saat kembali menjabat pada 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan menggunakan tarif untuk mengubah hubungan dagang dengan China. Trump menuduh kebijakan perdagangan Beijing telah “menghancurkan” Amerika Serikat.

Namun, lebih dari setahun memasuki masa jabatan keduanya, langkah agresif Trump dinilai belum berhasil mengubah perilaku dagang maupun strategi militer China. Sebaliknya, kebijakan Washington terhadap Beijing justru terlihat tidak konsisten dan membingungkan para pejabat AS sendiri.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump beberapa kali mengambil keputusan yang saling bertentangan. Salah satunya adalah memasukkan perusahaan-perusahaan besar China ke daftar hitam militer, lalu mencabut daftar tersebut hanya beberapa saat kemudian.

Trump juga menyetujui penjualan chip kecerdasan buatan ke China, hanya beberapa menit setelah pemerintahannya menyebut akses China terhadap chip tersebut sebagai ancaman keamanan nasional.

Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 14-15 Mei untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Kunjungan ini akan menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam delapan tahun terakhir.

Namun, sejumlah analis menilai inkonsistensi kebijakan Trump, ditambah gaya negosiasi yang improvisatif, justru melemahkan posisi AS dalam persaingan strategis dengan China.

Ely Ratner, mantan pejabat pertahanan AS untuk kawasan Indo-Pasifik, mengatakan berbagai lembaga pemerintah bergerak sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda-beda.

“Pada hari tertentu, kebijakan bisa berubah arah ke mana saja,” katanya.

Trump memulai kebijakan China di periode keduanya dengan menaikkan tarif barang-barang China hingga sekitar 145%.

Namun, China tidak mundur dan justru membalas dengan menaikkan tarifnya sendiri. Ketegangan akhirnya mereda setelah China mengancam akan membatasi pasokan logam tanah jarang, komoditas penting bagi industri Amerika Serikat.

China saat ini hampir memonopoli proses pemurnian dan pengolahan logam tanah jarang dunia. Ancaman pembatasan pasokan membuat AS harus menyesuaikan pendekatannya.

Situasi ini diperburuk oleh keputusan Mahkamah Agung AS pada Februari yang membatalkan banyak tarif Trump.

Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies mengatakan strategi awal Trump sepenuhnya bertumpu pada tarif untuk memaksa China memberikan konsesi besar.

“Strategi itu cepat kandas dan tidak ada rencana cadangan yang jelas,” ujarnya.

Meski demikian, tarif menghasilkan satu dampak yang diinginkan Trump, yakni penurunan defisit perdagangan barang AS dengan China sebesar 32% menjadi US$ 202 miliar pada 2025 dibandingkan 2024.

Namun, tarif tersebut belum mengubah kebijakan dagang China dan belum berhasil mendorong relokasi industri ke Amerika Serikat. Sepanjang Februari hingga Desember tahun lalu, AS justru kehilangan sekitar 91.000 lapangan kerja manufaktur.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer kini dinilai lebih dominan dalam kebijakan China dibanding Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang dikenal lebih keras terhadap Beijing.

Keduanya tampaknya menurunkan ekspektasi terhadap perubahan besar dalam hubungan dagang dengan China dan mulai mengarah pada konsep “managed trade” atau perdagangan yang lebih terkelola.

Greer mengatakan AS ingin hubungan dengan China tetap stabil, perdagangan lebih seimbang, dan fokus pada barang-barang yang tidak sensitif secara strategis.

Sementara itu, China berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan global yang stabil dan bertanggung jawab di tengah kebijakan AS yang dinilai kacau.

Inkonsistensi pemerintahan Trump tidak hanya terjadi pada tarif.

Pada Desember lalu, Trump menyetujui penjualan chip AI canggih H200 buatan Nvidia ke China. Keputusan ini diumumkan hanya 30 menit setelah Departemen Kehakiman AS menyebut chip tersebut diselundupkan ke China dan menjadi ancaman keamanan nasional.

Pada Februari, Pentagon juga memasukkan sejumlah perusahaan teknologi China ke daftar hitam karena diduga membantu militer China, tetapi kemudian mencabut daftar itu hanya satu jam kemudian tanpa penjelasan yang memadai.

Departemen Perdagangan AS sempat memperluas kontrol ekspor terhadap ribuan anak usaha perusahaan China untuk menutup celah akses terhadap teknologi sensitif. Namun kebijakan itu akhirnya ditunda setelah China mengancam membatasi ekspor logam tanah jarang.

Zack Cooper dari American Enterprise Institute menilai kontradiksi tersebut bermula dari gaya kepemimpinan Trump yang cenderung mengambil keputusan spontan tanpa strategi besar yang jelas.

Meski demikian, beberapa langkah Trump tetap memberi tekanan pada Beijing.

Operasi militer AS di Iran dan Venezuela melemahkan dua negara yang merupakan mitra penting China sekaligus pemasok minyak utama.

Trump juga menyetujui penjualan senjata senilai US$ 11 miliar kepada Taiwan pada Desember, yang memperkuat posisi pulau tersebut di tengah klaim China.

Selain itu, Trump menekan Panama agar mengurangi peran operator pelabuhan asal Hong Kong di sekitar Terusan Panama.

Namun, para analis menilai langkah-langkah tersebut belum cukup memberikan pukulan strategis bagi China. Sebaliknya, perang dengan Iran justru menguras stok rudal canggih AS dan mengalihkan fokus militer Washington dari Asia.

Jonathan Czin dari Brookings Institution mengatakan AS saat ini hanya mengambil “pion-pion kecil” di pinggiran, bukan menguasai pusat permainan strategis.

Di sisi lain, ketegangan Trump dengan sekutu-sekutu AS, baik terkait NATO, tarif, maupun konflik Iran, berpotensi melemahkan konsensus global untuk menghadapi China.

Profesor Wang Dong dari Peking University mengatakan China melihat pendekatan AS saat ini sebagai bentuk kerusakan institusional.

Menurutnya, inkonsistensi kebijakan AS justru merusak kredibilitas Washington di mata dunia.

 

 

Iran Pertimbangkan Hadiri Perundingan Damai dengan AS di Pakistan

 

Iran tengah mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan, seiring mendekatnya akhir gencatan senjata dua pekan antara kedua negara.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan keputusan final belum diambil. Menurutnya, langkah Islamabad untuk mengakhiri blokade pelabuhan Iran oleh AS menjadi salah satu faktor penting yang dapat membuka jalan bagi kembalinya Teheran ke jalur diplomasi.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh AS masih menjadi hambatan besar dalam proses diplomatik.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, Araqchi menyatakan Iran masih mempertimbangkan seluruh aspek sebelum menentukan langkah berikutnya.

Pada Senin malam, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui blokade dan pelanggaran gencatan senjata. Ia menegaskan Iran menolak perundingan yang dilakukan di bawah ancaman.

Gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Trump pada 7 April diperkirakan akan berakhir pekan ini. Seorang sumber Pakistan yang terlibat dalam perundingan menyebut masa berlaku gencatan senjata berakhir pada Rabu pukul 20.00 waktu AS Timur, atau Kamis dini hari waktu Iran.

Situasi sempat memanas setelah AS menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang diduga melanggar blokade. Sebagai respons, Teheran mengancam akan melakukan pembalasan.

Dalam perundingan yang direncanakan di Islamabad, Trump disebut menginginkan kesepakatan cepat guna mencegah lonjakan harga minyak dan kejatuhan pasar saham.

Di sisi lain, Iran berharap dapat memanfaatkan posisinya di Selat Hormuz untuk memperoleh jaminan bahwa perang tidak akan kembali pecah, sekaligus mendapatkan keringanan sanksi dan ruang bagi program nuklirnya.

Pejabat senior Iran menyebut Teheran kini “secara positif” meninjau kemungkinan berpartisipasi dalam perundingan. Sikap ini menjadi perubahan dibandingkan pernyataan sebelumnya yang menolak hadir dan menegaskan akan membalas agresi AS.

Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, disebut tengah melakukan upaya positif untuk mengakhiri blokade pelabuhan Iran dan memastikan keikutsertaan Teheran dalam pembicaraan.

Sumber keamanan Pakistan mengatakan mediator utama, Asim Munir, telah memberi tahu Trump bahwa blokade menjadi penghalang utama perundingan. Trump disebut berjanji akan mempertimbangkan penghentian blokade tersebut.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan masih berada di AS pada Senin, membantah rumor bahwa ia telah menuju Pakistan untuk menghadiri perundingan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai sinyal yang diberikan pejabat AS masih kontradiktif dan tidak konstruktif.

“Iran tidak akan tunduk pada tekanan,” tulis Pezeshkian di media sosial.

AS masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut dan kemudian memberlakukan kembali pembatasan di Selat Hormuz. Jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak naik sekitar 5%, di tengah kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata dapat runtuh sewaktu-waktu.

Militer AS juga melaporkan telah melepaskan tembakan ke kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas setelah terjadi kebuntuan di laut. Komando Pusat AS merilis video yang memperlihatkan marinir turun dari helikopter ke atas kapal tersebut.

Sumber keamanan maritim menyebut kapal itu kemungkinan membawa barang-barang yang dianggap memiliki fungsi ganda dan dapat digunakan untuk kepentingan militer.

Iran menuduh AS melakukan “pembajakan bersenjata” dan menyatakan siap menghadapi pasukan AS atas apa yang disebut sebagai agresi terang-terangan.

China, sebagai pembeli utama minyak mentah Iran, juga menyatakan kekhawatiran atas penyitaan paksa kapal tersebut. Presiden China Xi Jinping menyerukan agar lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal dan konflik diselesaikan melalui jalur politik dan diplomatik.

Di tengah ketidakpastian apakah perundingan benar-benar akan berlangsung, Pakistan telah menyiapkan hampir 20.000 personel keamanan di Islamabad untuk mengantisipasi pelaksanaan pembicaraan damai tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Negara Teluk Khawatir Negosiasi AS-Iran Perkuat Cengkeraman “Emas” Teheran di Hormuz

 

Negara-negara Teluk semakin khawatir bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran hanya akan menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz, tanpa mencapai deeskalasi yang lebih luas.

Kekhawatiran itu menguat setelah mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyebut Selat Hormuz sebagai “senjata nuklir” Iran dalam unggahannya di media sosial pada 8 April lalu.

Menurut pejabat dan analis, putaran negosiasi berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad diperkirakan akan lebih fokus pada batas pengayaan uranium Iran dan bagaimana mengelola pengaruh Teheran atas Selat Hormuz, ketimbang membahas program rudal atau kelompok proksi Iran di kawasan.

Negara-negara Teluk menilai pendekatan ini berisiko memperkuat posisi Iran atas pasokan energi Timur Tengah. Pasalnya, fokus pembicaraan dianggap lebih menekankan stabilitas ekonomi global dibanding menghapus ancaman keamanan yang dihadapi negara-negara di kawasan.

Sumber-sumber Teluk menyebut diplomasi antara AS dan Iran kini tidak lagi berfokus pada upaya membatasi program rudal Iran, tetapi lebih kepada tingkat pengayaan uranium dan penerimaan diam-diam terhadap pengaruh Iran atas Selat Hormuz.

Padahal, selat tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Negara-negara Teluk memandang situasi ini sebagai perubahan besar dalam prioritas keamanan regional.

“Pada akhirnya, Hormuz akan menjadi garis merah,” kata salah satu sumber Teluk yang dekat dengan lingkaran pemerintah.

“Dulu ini bukan isu utama. Sekarang iya. Patokannya sudah bergeser,” tambahnya.

Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Teluk selama perang telah mematahkan tabu lama terkait penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan. Kini, gangguan terhadap jalur tersebut menjadi instrumen negosiasi yang realistis untuk pertama kalinya.

Dalam unggahan di platform X, Medvedev mengatakan belum jelas bagaimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan berkembang. Namun, menurutnya, satu hal yang pasti adalah Iran telah “menguji senjata nuklirnya”, yakni Selat Hormuz.

Pernyataan itu menggambarkan Hormuz sebagai alat pengaruh yang memungkinkan Iran meningkatkan biaya dan membentuk aturan tanpa harus benar-benar menggunakan senjata nuklir.

Sumber keamanan Iran bahkan menggambarkan Selat Hormuz sebagai “aset emas” yang tidak ternilai dan berasal dari posisi geografis Iran.

“Iran telah mempersiapkan selama bertahun-tahun untuk skenario penutupan Selat Hormuz, merencanakan setiap langkah,” kata seorang sumber keamanan senior Iran.

“Hari ini, itu menjadi salah satu alat paling efektif Iran dan bentuk pengaruh geografis yang sangat kuat,” terangnya.

Sumber lain yang dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps menyebut Selat Hormuz kini ibarat pedang yang sudah terhunus dan tidak bisa lagi diabaikan oleh AS maupun negara-negara kawasan.

Yang paling mengkhawatirkan bagi negara-negara Teluk adalah fakta bahwa meskipun rudal, drone, dan kelompok proksi Iran berulang kali menyerang kawasan mereka, pembicaraan internasional justru lebih banyak difokuskan pada Selat Hormuz karena dampaknya terhadap ekonomi global.

Presiden Emirates Policy Center, Ebtesam Al-Ketbi, menilai kondisi saat ini menunjukkan ketimpangan antara pihak yang menentukan aturan dan pihak yang harus menanggung akibat ketika aturan tersebut dilanggar.

“Apa yang terbentuk hari ini bukanlah penyelesaian bersejarah, tetapi rekayasa konflik yang berkelanjutan,” ujar Al-Ketbi.

Ia menambahkan bahwa ancaman utama bagi negara-negara Teluk sebenarnya bukan hanya Hormuz, tetapi juga rudal dan kelompok proksi Iran yang selama ini menyerang kawasan.

Para diplomat mengatakan negara-negara Teluk telah mendesak Washington agar tidak memberikan pelonggaran sanksi penuh kepada Iran. Mereka lebih memilih pendekatan bertahap untuk menguji perilaku Teheran.

Menurut mereka, ancaman utama Iran masih belum terselesaikan, terutama rudal yang dapat menjangkau ibu kota negara-negara Teluk serta kelompok proksi bersenjata yang digunakan Iran untuk memperluas pengaruhnya.

Konflik antara AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari juga telah memukul ekonomi negara-negara Teluk. Serangan terhadap infrastruktur energi, kenaikan biaya ekspor, hingga premi asuransi yang lebih tinggi menjadi dampak langsung yang mereka rasakan.

Meski negara-negara Teluk mengakui kekuatan militer AS masih menjadi faktor penentu utama di kawasan, mereka mulai menyadari bahwa ketergantungan pada satu pelindung eksternal memiliki keterbatasan.

Akademisi asal Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan negara-negara Teluk mampu bertahan dalam perang berkat sistem pertahanan canggih buatan AS seperti THAAD dan Patriot.

Namun, ia menilai AS tetap bisa salah perhitungan, termasuk dalam meremehkan kemungkinan konflik di Selat Hormuz.

Direktur pusat riset berbasis di Dubai, B’huth, Mohammed Baharoon, mengatakan salah satu pelajaran penting dari perang ini adalah bahwa negara-negara Teluk tidak bisa hanya bergantung pada satu kekuatan eksternal.

Kini, saat Washington dan Teheran melanjutkan negosiasi, para pejabat Teluk menilai pengucilan mereka dari proses pembicaraan bukan lagi sekadar masalah regional, tetapi isu global mengingat pentingnya Selat Hormuz bagi perekonomian dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gubernur Baru Bank of Korea Janji Kebijakan Hati-hati di Tengah Risiko Iran

 

 Gubernur baru bank sentral Korea Selatan, Shin Hyun-song, menegaskan bahwa kebijakan moneter harus dijalankan secara hati-hati dan fleksibel di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam pidato pelantikannya dilansir Reuters Selasa (21/4/2026), Shin menyebut gejolak yang dipicu perang Iran telah menciptakan tekanan pada inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini juga memicu volatilitas di pasar keuangan serta meningkatkan risiko ketidakstabilan finansial.

“Ketidakpastian terhadap jalur inflasi dan pertumbuhan meningkat akibat guncangan pasokan dari konflik Timur Tengah. Karena itu, diperlukan kebijakan moneter yang hati-hati dan fleksibel untuk menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank of Korea memutuskan menahan suku bunga acuan pada awal bulan ini, sembari memperingatkan bahwa prospek ekonomi ke depan sangat tidak pasti. Bank sentral juga mengisyaratkan potensi revisi naik proyeksi inflasi dan penurunan outlook pertumbuhan.

Shin menambahkan, lonjakan harga minyak akibat konflik turut memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi, sekaligus membebani aktivitas ekonomi.

Dalam agenda kebijakannya, Shin Hyun-song berencana memperkuat peran bank sentral dalam menjaga stabilitas keuangan.

Ia juga akan mendorong keseimbangan antara internasionalisasi mata uang won, inovasi digital dalam sistem pembayaran, serta penguatan kebijakan makroprudensial.

Selain itu, bank sentral akan mengambil peran lebih aktif dalam reformasi struktural ekonomi yang dinilai menjadi faktor penting dalam efektivitas kebijakan moneter.

Shin resmi memulai masa jabatan empat tahun pada Selasa (21/4) dan dijadwalkan memimpin rapat kebijakan moneter pertamanya pada 28 Mei mendatang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jepang Longgarkan Aturan Ekspor Senjata, Buka Jalan Penjualan Kapal Perang dan Rudal

 

Jepang pada Selasa (21/4/2026) mengumumkan perubahan terbesar dalam aturan ekspor pertahanan dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah Tokyo mencabut berbagai pembatasan penjualan senjata ke luar negeri, membuka peluang ekspor kapal perang, rudal, hingga persenjataan lainnya.

Langkah tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa Jepang semakin menjauh dari kebijakan pasifis yang selama ini membentuk strategi keamanan pascaperang negara tersebut.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa tidak ada satu negara pun yang kini dapat melindungi keamanan dan perdamaiannya sendiri tanpa dukungan mitra.

“No single country can now protect its own peace and security alone, and partner countries that support each other in terms of defence equipment are necessary,” ujar Takaichi dalam unggahan di media sosial X.

Pemerintah Jepang menghapus lima kategori ekspor yang sebelumnya membatasi penjualan peralatan militer hanya pada perlengkapan penyelamatan, transportasi, peringatan, pengawasan, dan penyapu ranjau.

Kini, setiap proposal penjualan senjata akan dinilai berdasarkan manfaat strategis dan kepentingan nasional. Meski demikian, Jepang tetap mempertahankan tiga prinsip utama ekspor pertahanan, yakni pemeriksaan ketat, pembatasan transfer ke negara ketiga, dan larangan penjualan ke negara yang sedang terlibat konflik.

Namun, pemerintah Jepang juga membuka kemungkinan adanya pengecualian jika dianggap penting bagi keamanan nasional.

Filipina menjadi salah satu negara yang menyambut positif perubahan kebijakan Jepang. Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro menyebut langkah tersebut akan memberikan akses terhadap peralatan pertahanan berkualitas tinggi yang dapat memperkuat ketahanan domestik dan stabilitas kawasan.

Salah satu kesepakatan awal yang diperkirakan akan terjadi adalah ekspor kapal perang bekas Jepang ke Manila.

Hubungan pertahanan antara Jepang dan Filipina memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring meningkatnya pengaruh China di kawasan.

Filipina dan Jepang berada di wilayah yang dikenal sebagai First Island Chain, rantai pulau strategis yang membatasi akses China dari perairan pesisir menuju Pasifik Barat.

Pada September lalu, kedua negara menandatangani perjanjian yang mempermudah operasi militer di wilayah masing-masing. Pada Januari tahun ini, aturan pertukaran logistik dan pasokan militer juga dilonggarkan.

Duta Besar AS untuk Jepang, George Glass, menyebut perubahan kebijakan Jepang sebagai langkah bersejarah yang akan memperkuat kapasitas pertahanan kolektif dan menjaga stabilitas kawasan.

Pelonggaran aturan ekspor juga ditujukan untuk memperkuat basis industri pertahanan domestik Jepang. Dengan pasar yang lebih luas, perusahaan-perusahaan pertahanan dapat meningkatkan volume produksi, menurunkan biaya per unit, dan memperluas kapasitas manufaktur.

Salah satu perusahaan utama yang diperkirakan akan diuntungkan adalah Mitsubishi Heavy Industries, yang memproduksi kapal selam, jet tempur, dan rudal.

Selama ini, perusahaan-perusahaan pertahanan Jepang sangat bergantung pada pesanan domestik dari Pasukan Bela Diri Jepang, sehingga volume produksi relatif kecil dan biaya menjadi tinggi.

Jeffrey Hornung dari RAND Corporation menilai bahwa ekspansi pasar ekspor akan membantu menciptakan skala ekonomi yang lebih efisien, sekaligus memberi kehidupan baru bagi industri pertahanan Jepang, terutama perusahaan kecil dan menengah.

Selain memperluas ekspor, Jepang juga terus meningkatkan kekuatan militernya sendiri. Tokyo tengah membeli rudal, pesawat siluman, dan drone guna menghadapi potensi ancaman dari China, terutama di sekitar pulau-pulau dekat Taiwan.

Jepang juga tengah mengembangkan jet tempur generasi baru bersama Inggris dan Italia yang ditargetkan mulai digunakan pada pertengahan 2030-an.

Belanja pertahanan Jepang telah meningkat hingga setara 2% dari produk domestik bruto (PDB), dan pemerintah Takaichi diperkirakan akan kembali menaikkan anggaran pertahanan dalam strategi keamanan terbaru yang akan diumumkan tahun ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Roket Blue Origin Milik Jeff Bezos Gagal, Regulator AS Minta Investigasi Menyeluruh

 

Regulator penerbangan Amerika Serikat memerintahkan perusahaan antariksa milik miliarder Jeff Bezos, Blue Origin, untuk menyelidiki kegagalan tahap atas (upper-stage) roket New Glenn setelah peluncuran satelit yang bermasalah pada akhir pekan lalu di Florida.

Mengutip Reuters, perintah tersebut dikeluarkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) pada Senin (20/4/2026).

Insiden ini menjadi pukulan bagi ambisi Blue Origin untuk bersaing lebih ketat dengan SpaceX milik Elon Musk, yang saat ini memimpin pasar layanan peluncuran roket global.

Dalam arahan tersebut, FAA mewajibkan Blue Origin melakukan investigasi menyeluruh atas insiden (mishap) dan mendapatkan persetujuan regulator sebelum kembali melanjutkan penerbangan roket New Glenn.

FAA juga harus memastikan tidak ada risiko terhadap keselamatan publik dari sistem atau prosedur yang digunakan.

Peluncuran roket dua tahap New Glenn pada Minggu berjalan sebagian sukses. Booster tahap pertama berhasil lepas landas dari Cape Canaveral dan mendarat kembali dengan selamat di Bumi. Namun, tahap atas gagal mengantarkan muatan ke orbit yang ditargetkan.

Satelit komunikasi milik AST SpaceMobile tetap terlepas ke luar angkasa, tetapi berada pada ketinggian orbit yang tidak mencukupi.

Data awal menunjukkan salah satu dari dua mesin BE-3U yang digunakan pada tahap atas tidak menghasilkan dorongan (thrust) yang cukup.

CEO Blue Origin Dave Limp menyatakan bahwa perusahaan akan memimpin investigasi anomali tersebut di bawah pengawasan FAA untuk mempercepat perbaikan dan kembali ke operasi normal.

Sementara itu, satelit BlueBird 7 milik AST yang gagal mencapai orbit dilaporkan telah masuk kembali ke atmosfer pada Senin dan kemungkinan terbakar tanpa menimbulkan dampak.

Misi ini merupakan bagian dari upaya membangun jaringan broadband berbasis satelit yang dapat terhubung langsung dengan ponsel, serupa dengan proyek milik Amazon dan konstelasi Starlink milik SpaceX.

Didirikan pada tahun 2000, Blue Origin sebelumnya dikenal lewat layanan wisata luar angkasa menggunakan roket suborbital New Shepard. Namun, perusahaan mengumumkan pada Januari lalu bahwa mereka akan menghentikan sementara bisnis tersebut selama dua tahun untuk fokus pada peluncuran komersial dan pengembangan pendarat bulan untuk NASA.

Peluncuran New Glenn menjadi krusial dalam strategi Blue Origin untuk menyaingi roket Falcon 9 milik SpaceX. Roket setinggi sekitar 29 lantai ini dinamai dari John Glenn, astronot Amerika pertama yang mengorbit Bumi.

Misi New Glenn 3 ini juga berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas sektor antariksa global, termasuk keberhasilan misi Artemis II yang membawa empat astronaut terbang lebih dari 252.000 mil dari Bumi—jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia.

 

 

 

Share this Post