News Komoditi & Global ( Jumat, 29 Mei 2026 )
News Komoditi & Global
( Jumat, 29 Mei 2026 )
Harga Emas Global Naik, Didukung Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Harga emas naik pada perdagangan Jumat (29/5//2026) pagi. Pukul 07.15 WIB, harga emas spot ada di US$ 4.498,77 per ons troi, nsik 0,08% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 4.495,29 per ons troi. Harga emas naik setelah laporan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata dan berupaya untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Mengutip Bloomberg, AS dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama 60 hari dan akan menggelar perundingan lebih lanjut tentang program nuklir Teheran, menurut salah seorang yang mengetahui masalah tersebut. Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Jumat (29/5) Pagi, Menyusul Kabar Gencatan Senjata AS-Iran Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump. Harga emas turun hamper 15% sejak akhir Februari, dan telah diperdagangkan dalam kisaran sempit sejak penurunan awalnya di awal perang, karena pedagang mempertimbangkan sinyal yang saling bertentangan tentang kemajuan menuju gencatan senjata.
Harga Minyak Dunia Melemah Menyusul Kabar Gencatan Senjata AS-Iran
Harga minyak terkoreksi pada perdagangan Jumat (29/5/2026) pagi. Mengutip Bloomberg, pukul 07.01 WIB, Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 88,45 per barel, turun 0,51% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 88,90 per barel. Harga minyak terkoreksi setelah AS dan Iran secara tentantif sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Gencatan senjata ini berpotensi memungkinkan pengiriman melalui Selat Hormuz berlanjut. Mengutip Bloomberg, Presiden AS Donald Trump dikabarkan belum mencapai kesepakatan dengan Iran, menurut seorang sumber. Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Fluktuatif pada Jumat (29/5), Pasar Cermati Pelemahan Rupiah Namun, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui kapan atau apakah kesepakatan dengan Iran akan tercapai. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa tim perundingan telah melakukan negosiasi bolak balik untuk merundingkan kesepakatan. "Kami perlahan dan dengan susah payah mencapai kesepakatan," kata Aaron Stein, presiden Lembaga Penelitian Kebijakan Luar Negeri seperti dilansir Bloomberg.
Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Catat Rekor Pasca AS-ran Perpanjang Gencatan Senjata
Indeks Utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (28/5/2026), dengan S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi setelah laporan mengatakan AS dan Iran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata mereka selama 60 hari. Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 24,69 poin, atau 0,05% ke level 50.668,97, S&P 500 naik 43,27 poin, atau 0,58% ke level 7.563,63 dan Nasdaq Composite naik 242,74 poin, atau 0,91% ke level 26.917,47. Indeks perawatan kesehatan S&P 500 mencatat kenaikan yang kuat. Saham Eli Lilly naik 4% setelah CVS Health mengatakan akan mengembalikan suntikan penurun berat badan perusahaan obat tersebut, Zepbound, ke dalam cakupan asuransinya dan menambahkan pil obesitas baru yang disetujui, Foundayo. Baca Juga: Wall Street Lesu, Investor Perhatikan Data Inflasi & Perkembangan di Timur Tengah Saham teknologi juga bergerak lebih tinggi. Saham Microsoft naik 3,5% setelah situs berita The Information melaporkan bahwa perusahaan tersebut akan merilis model pengkodean baru minggu depan. Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 19,2 miliar saham, dengan rata-rata 19,03 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Sumber Reuters mengatakan, kesepakatan AS-Iran masih membutuhkan persetujuan Presiden AS Donald Trump. Sementara itu, kantor berita Iran, Tasnim, mengatakan teks nota kesepahaman potensial dengan AS belum diselesaikan atau dikonfirmasi. "Para pedagang sangat waspada dengan perkembangan berita kesepakatan, dan telah mengambil posisi beli untuk menghindari kerugian akibat hasil yang lebih baik dari perkiraan. Bagian yang lebih sulit adalah bahwa kekuatan inflasi mungkin tidak mereda secepat yang diinginkan pasar," kata Jamie Cox, mitra pengelola di Harris Financial Group. Data ekonomi menunjukkan inflasi AS meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun pada bulan April, didorong oleh harga energi yang lebih tinggi di tengah perang Iran. Sementara itu, PDB AS untuk kuartal pertama direvisi lebih rendah menjadi peningkatan tahunan sebesar 1,6%, dengan momentum diperkirakan akan melambat pada kuartal ini. Kepercayaan pada AI dan momentum pertumbuhan pendapatan telah menggarisbawahi reli baru-baru ini meskipun ada ketegangan di Timur Tengah, yang telah meningkatkan ekspektasi inflasi. Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Tekan Wall Street, Harga Minyak Melonjak "Pasar terus mengabaikan risiko-risiko ini—karena ekonomi global dan pendapatan perusahaan tetap relatif tangguh," kata Jitania Kandhari, wakil CIO, solusi dan multi-aset, di Morgan Stanley Investment Management. "Ketidakstabilan geopolitik pada akhirnya dapat mempercepat pengeluaran di bidang-bidang yang terkait dengan AI, termasuk keamanan siber, teknologi pertahanan, infrastruktur energi, dan ketahanan rantai pasokan, memperkuat argumen investasi jangka panjang."
Iran Serang Pangkalan Udara AS
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah menyerang sebuah pangkalan udara Amerika. Serangan itu sebagai tanggapan atas serangan dini hari oleh pasukan AS di sebuah lokasi dekat bandara di Bandar Abbas, Iran.
Dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Tasnim, IRGC mengumumkan bahwa sebuah pangkalan udara, yang diidentifikasi sebagai asal mula "agresi" AS tetapi tidak menyebutkan lokasinya, diserang pada pukul 04.50 waktu setempat (01.20 GMT).
Pengumuman tersebut menyusul laporan bahwa militer AS telah menyerang sebuah daerah di pinggiran Bandar Abbas.
IRGC juga mengatakan bahwa setiap agresi tidak akan dibiarkan begitu saja. "Tindakan militer lebih lanjut akan menghadapi tanggapan yang "lebih tegas," demikian pertanyaan IRGC.
Ketegangan terbaru Iran dan AS terjadi di tengah perundingan yang belum berbuah hasil. AS menuntut Iran memusnahkan semua nuklirnya, tapi Teheran menolak permintaan Amerika. Muncul usulan, uranium Iran dipindahkan ke negara ketiga. AS menolak jika uranium Iran diserahkan ke Rusia atau Iran.
Sebelumnya Angkatan Laut IRGC dilaporkan juga berhadapan dengan kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz dengan mematikan sistem radar mereka.
Menurut laporan tersebut, Angkatan Laut IRGC menembak dengan cepat dan tepat, memaksa kapal tanker minyak AS untuk berbalik.
Sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut mengatakan kepada Tasnim bahwa Amerika Serikat menembak ke arah daerah yang mereka gambarkan sebagai daerah tak berpenghuni di Bandar Abbas.
Perang AS verus Iran dan Israel dimulai pada 28 Februari. AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke wilayah Iran yang mengakibatkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Meski tidak ada laporan mengenai dimulainya kembali permusuhan, Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan perairan Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Rabu (27/5) mengatakan Washington akan menilai kemungkinan tercapainya kemajuan perundingan dengan Iran dalam beberapa jam atau beberapa hari mendatang.
"Ada kesepakatan yang dapat dicapai, dan kami ingin itu terwujud. Saya pikir sudah ada beberapa kemajuan dan ketertarikan, dan kita akan melihat dalam beberapa jam dan beberapa hari ke depan apakah kemajuan dapat dicapai," kata Rubio dalam rapat kabinet.
Ia mengingatkan bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki opsi militer jika tidak tercapai kesepakatan. Namun Washington lebih memilih jalur diplomatik melalui perundingan dan akan memberikan setiap peluang agar pembicaraan berhasil.
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 56 Orang dalam Sehari
Serangan Israel di Lebanon kembali memakan korban besar. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 56 orang tewas dan 103 lainnya terluka akibat serangan yang terus berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon pada Selasa (26/5/2026) menyebutkan total korban sipil sejak 2 Maret telah mencapai 3.213 orang tewas dan 9.737 luka-luka. Sehari kemudian, angka tersebut kembali bertambah menjadi 3.269 korban tewas dan 9.840 orang terluka.
Sumber militer Lebanon kepada RIA Novosti mengatakan, pesawat tempur Israel menyerang sedikitnya 47 kota dan desa di wilayah selatan dan timur Lebanon pada Rabu (27/5/2026). Serangan disebut banyak menyasar wilayah Nabatieh, Tyre, hingga beberapa daerah di Lembah Bekaa.
Situasi di perbatasan Lebanon-Israel terus memanas meski kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata. Pada 16 April lalu, Lebanon dan Israel menggelar pembicaraan langsung pertama di tingkat duta besar di Washington.
Usai pertemuan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, di lapangan, serangan Israel disebut masih berlangsung hampir setiap hari terhadap sejumlah permukiman di Lebanon selatan.
Israel juga dilaporkan masih mengendalikan tembakan di sejumlah kawasan perbatasan. Kondisi itu memicu balasan dari Hizbullah Lebanon yang terus melancarkan operasi terhadap pasukan Israel.
Konflik yang berkepanjangan itu membuat situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk. Ribuan warga sipil menjadi korban sejak eskalasi serangan meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Trump: Saya tak Nyaman Uranium Iran Diserahkan ke Rusia dan China
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Rabu (27/5) mengatakan tidak akan setuju jika Rusia atau China mengambil persediaan uranium Iran diperkaya tingkat tinggi. Trump mengaku tak nyaman dengan penyerahan ke dua negara besar tersebut.
"Tidak, saya tidak akan merasa nyaman. Itu tidak akan membuat saya nyaman," kata Trump kepada wartawan saat ditanya mengenai kemungkinan tersebut.
Pada 11 Mei, Trump mengatakan para negosiator Iran meyakini bahwa hanya AS dan China yang mampu memindahkan material nuklir negara tersebut.
Sementara itu, pada 18 April, perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, menyatakan siap membantu pemindahan uranium yang diperkaya dari Iran.
Pada Selasa, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan bahwa Rusia siap menyimpan material nuklir Iran yang telah diperkaya jika Teheran memintanya sebagai bagian dari kesepakatan dengan AS.
Serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari lalu. Paman Sam melancarkan serangan bersama ke wilayah Iran, yang mengakibatkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Meski tidak ada laporan mengenai dimulainya kembali permusuhan, Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan perairan Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Rabu (27/5) mengatakan Washington akan menilai kemungkinan tercapainya kemajuan perundingan dengan Iran dalam beberapa jam atau beberapa hari mendatang.
"Ada kesepakatan yang dapat dicapai, dan kami ingin itu terwujud. Saya pikir sudah ada beberapa kemajuan dan ketertarikan, dan kita akan melihat dalam beberapa jam dan beberapa hari ke depan apakah kemajuan dapat dicapai," kata Rubio dalam rapat kabinet.
Ia mengingatkan bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki opsi militer jika tidak tercapai kesepakatan. Namun ia menegaskan bahwa Washington lebih memilih jalur diplomatik melalui perundingan dan akan memberikan setiap peluang agar pembicaraan berhasil.
Pada Senin, Rubio mengatakan bahwa Washington dan Teheran memiliki peluang yang baik untuk mencapai kesepakatan sementara terkait isu nuklir.
Kesepakatan kerangka kerja Iran-AS, yang hingga kini belum disetujui Iran, mengatur bahwa Teheran akan melepaskan persediaan uranium yang telah diperkaya. Demikian dilaporkan The Washington Post.
Seorang pejabat Iran menjelaskan kepada surat kabar tersebut bahwa itu bukan kesepakatan nuklir final, melainkan kesepakatan sementara untuk menunda pembahasan isu tersebut hingga waktu mendatang.
Pemukim Israel Curi 900 Domba Warga Palestina, Yousef Terbunuh Saat Coba Mempertahankan
Ali Kaabneh tidak akan pernah melupakan apa yang telah dilakukan oleh Israel kepadanya. Tidak hanya mencuri, tentara Zionis pun membunuh putra kesangannya.
"Tentara Israel mencuri domba kami dan membunuh putra saya," kata Ali Kaabneh, berdiri di tempat putranya yang berusia 16 tahun, Yousef.
Ananda ditembak di desa Jiljilya, utara Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, ketika para pemukim dan tentara Israel menyerbu daerah itu Rabu lalu.
Sekitar 900 ekor domba diambil secara paksa dari penduduk Palestina setempat selama penyerbuan tersebut.
Meskipun para pemukim sering menyerbu komunitas Palestina dan mencuri ternak, dalam kasus ini seluruh operasi dilakukan dalam koordinasi dengan – dan di bawah perlindungan – tentara Israel, yang mengamankan pencurian dan membantu para pemukim sepanjang operasi.
"Mereka mengejar kawanan domba kami, mencurinya, menjarah dan merampok kami, dan membunuh putra saya dengan kejam," kata Kaabneh kepada Middle East Eye.
"Ini adalah kebijakan pemerintah teroris yang membunuh dan menjarah."
Penggerebekan dilancarkan setelah adanya laporan bahwa, pada dini hari Rabu, 120 ekor domba telah dicuri dari kandang milik Peternakan Tzur Levavi – sebuah pos terdepan ilegal yang dikelola oleh keluarga Maguri. Lokasinya terletak di Jabal al-Batin di Area A, bagian dari Tepi Barat yang diduduki dan berada di bawah kendali Otoritas Palestina. Pos terdepan itu sendiri berada di lahan milik desa Sinjil dan al-Mazra'a ash-Sharqiya.
Pagi harinya, puluhan pemukim, didampingi tentara Israel, menyerbu desa-desa Sinjil, Jiljilya, dan Abwein, memasuki kandang domba dan mengosongkannya.
Israel National News (Arutz 7), sebuah media yang berpihak pada pemukim, melaporkan bahwa penyitaan domba tersebut dimungkinkan melalui aktivitas bersama pasukan keamanan dan sukarelawan sipil Zionis.
Saat penggerebekan berlangsung, tentara Israel mendirikan penghalang jalan di seluruh area untuk memungkinkan para pemukim bergerak bebas.
Anggota keluarga Kaabneh, yang tinggal di komunitas kecil di lembah antara Sinjil dan Jiljilya, melihat para pemukim mulai mengepung mereka dan bergegas melarikan diri bersama domba-domba itu menuju daerah padat penduduk Jiljilya.
Tentara mengepung keluarga itu menggunakan drone, menyita domba-domba tersebut, dan menangkap empat anggota keluarga, termasuk ayah dari anak laki-laki yang terbunuh. Para tahanan dibebaskan kemudian pada hari yang sama.
"Kami berada di rumah sedang mengurus domba. Para pemukim datang di bawah perlindungan tentara," kata Ali Kaabneh.
"Kami tidak menyerang mereka, kami tidak melakukan apa pun. Kami memindahkan domba-domba sekitar dua kilometer jauhnya, dan tentara menemukan mereka menggunakan drone."
Di sekitar tempat putranya, Yousef, ditembak, sebuah lingkaran batu telah ditempatkan, dan bercak darah masih terlihat di tanah.
"Tentara membunuh putra saya dengan sengaja. Mereka menembaknya di dada dan dia meninggal di tempat," katanya.
"Dia berusia 16 tahun – apa kesalahannya? Dia ingin dombanya kembali, dan mereka menanggapinya dengan menembaknya. Bahaya apa yang dia timbulkan bagi mereka? Dia tidak membawa apa pun, dia tidak bersenjata. Mereka bisa saja menangkapnya, tetapi malah menembaknya."
"Seperti anak-anak lainnya, dia ingin membangun rumah di masa depan dan menikah. Tetapi di sini, siang hari kami bekerja, dan malam hari kami berjaga secara bergantian, tanpa tidur," katanya menambahkan.
Tempat Yousef ditembak hanya berjarak beberapa puluh meter dari jalan utama tempat domba-domba curian itu digiring.
Dalam video yang direkam oleh ayahnya, beberapa tentara terlihat berdiri di seberang gang tempat anggota keluarga berdiri berteriak memprotes pencurian tersebut saat kawanan domba lewat.
Beberapa tembakan terdengar dalam rekaman tersebut, salah satunya tampaknya mengenai Yousef.
Sang ayah ditangkap tak lama kemudian, dan baru setelah dibebaskan empat jam kemudian ia mengetahui bahwa putranya telah tewas. "Seluruh dunia melihat di media sosial bagaimana tentara Israel berada di depan dan di belakang kawanan domba," katanya.
Tanggapan militer Israel pada hari kejadian juga menimbulkan pertanyaan. Seorang juru bicara militer mengakui bahwa pos terdepan itu terletak di Area A. Namun mengklaim bahwa tentara masuk untuk mengevakuasi warga sipil, bukan untuk menemani pemukim ilegal.
"Setelah tiba di lokasi kejadian, [tentara Israel] dan pasukan Polisi Perbatasan bertindak untuk mengevakuasi semua warga sipil Israel dari desa, mencegah gesekan di daerah tersebut, dan mengambil kembali ternak," tambah juru bicara itu.
"Beberapa tersangka pencurian ternak ditangkap oleh pasukan."
Mengingat tanggapan ini, masih belum jelas bagaimana tentara dan para pemukim meninggalkan daerah tersebut dengan 900 ekor domba.
Fawaz Kaabneh, warga lain yang kehilangan sekitar 200 ekor domba dan juga ditangkap, mengatakan:
"Kami takut mereka akan sampai ke rumah-rumah, jadi kami keluar. Kami terkejut dengan banyaknya pemukim. Mereka menangkap saya dan menyerahkan saya kepada tentara, dan dari sana saya dipindahkan ke polisi. Mereka membawa saya ke Sha'ar Binyamin. Saya mengatakan kepada mereka bahwa domba-domba itu milik saya."
Seperti tahanan lainnya, ia diinterogasi dan dibebaskan malam itu juga – sebuah indikasi bahwa bahkan polisi pun memahami bahwa tuduhan terhadap mereka yang ditangkap tidak memiliki dasar kuat.
Keesokan harinya, ia kembali untuk mengajukan pengaduan di kantor polisi yang sama, dan kemudian pada hari itu beberapa lusin domba dikembalikan setelah tentara melepaskan mereka ke arah desa.
Iyad Ghafar, seorang aktivis dari desa Sinjil, mendokumentasikan pencurian ternak tersebut. Pada pukul 11:06 pagi, ia merekam seorang pemukim bersama kawanan domba curian berlari ke arahnya dengan pistol terhunus.
Enam menit kemudian, Yousef Kaabneh ditembak yang tampaknya oleh tentara. Dalam rekaman lain, terlihat para pemukim bertopeng melempari batu.
Ghafar mengatakan domba-domba itu digiring menuju pos terdepan Maguri, yang terletak di dalam struktur pertanian Palestina di Area A – area yang sama tempat tentara dan pemukim membunuh dua pemuda pada bulan Juli ketika mereka mencoba mempertahankan tanahnya.
Menurut kementerian kesehatan Palestina, salah satu korban tewas, Saif al-Din Musallat, seorang warga negara AS berusia 20 tahun, meninggal karena pemukulan yang dideritanya.
Di daerah antara Jiljilya dan Sinjil, sekitar 20 keluarga Palestina – total sekitar 200 orang, semuanya pengungsi yang berasal dari timur Ramallah – telah tinggal. Setelah pencurian dan penembakan, semua penduduk telah pergi.
Kandang domba sekarang kosong, sementara tenda-tenda tetap dipenuhi kasur, pakaian, dan tempat tidur bayi – bukti kehidupan yang ada di sana hingga beberapa hari yang lalu. Minggu ini, penduduk kembali sebentar untuk mengambil beberapa barang milik mereka dan mengumpulkan anjing-anjing yang ditinggalkan.
Kisah keluarga Kaabneh merangkum realitas saat ini di Tepi Barat yang diduduki. Pengusiran berulang, serangan pemukim yang meluas ke Area B dan A menjadi mimpi buruk.
Pemukim ilegal Israel merampas ternak dan mendirikan pos-pos pemukim di titik-titik strategis untuk merebut lahan yang luas dan menghubungkan blok-blok pemukiman – semuanya di bawah perlindungan tentara Israel.
Keluarga tersebut awalnya tinggal di daerah antara Negev dan Masafer Yatta, dari mana mereka diusir pada tahun 1948. Sejak saat itu hingga Oktober 2023, mereka tinggal di Pusat Mu'arrajat, dekat persimpangan Taybeh.
Pada awal perang Israel di Gaza, para pemukim dan tentara mengusir mereka. Beberapa pindah ke pinggiran desa Lubban ash-Sharqiya, sementara yang lain pindah ke daerah al-Batin.
Penduduk terakhir meninggalkan daerah itu sekitar setahun yang lalu setelah pos terdepan didirikan di sana dan tentara membunuh dua pemuda, Musallat dan Mohammad Razek Hussein al-Shalabi.
Ali Kaabneh dan yang lainnya kemudian menetap di pinggiran Lubban ash-Sharqiya, dekat Jalan Raya 60. Pada tanggal 6 April, para pemukim menyerang mereka dan membakar dua mobil dan sebuah tenda tempat beberapa anggota keluarga tidur. Seorang kerabat terluka akibat pukulan tongkat.
Para pemukim Israel juga menyemprotkan slogan "Price Tag" dan "Zionist Revenge" di tenda-tenda tersebut.
Ini bukan pertama kalinya keluarga Bedouin yang mengungsi diserang lagi setelah pindah. Pada April 2025, para pemukim yang telah mendirikan pos terdepan lain di daerah Sinjil menyerang penduduk pengungsi dari Wadi as-Siq dan membakar kendaraan serta tenda-tenda tempat tinggal.
Donald Trump Ancam Ledakkan Oman
Presiden AS Donald Trump mengancam akan “meledakkan” Oman. Hal tersebut ia sampaikan terkait proposal Iran agar perlintasan Selat Hormuz dikendalikan bersama dengan Oman.
Presiden AS melontarkan ancaman tersebut setelah adanya laporan mengenai perundingan antara Iran dan Oman mengenai tarif bersama bagi kapal-kapal yang melewati jalur air penting tersebut, yang telah ditutup sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran.
“Selat ini akan terbuka untuk semua orang,” kata Trump pada Selasa waktu AS, dilansir the Guardian. "Tidak ada yang akan mengendalikannya. Kami akan mengawasinya. Kami akan mengawasinya. Tapi tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu adalah bagian dari negosiasi yang kami lakukan.”
Patut dicatat, Iran dan Oman yang zona ekonomi eksklusifnya bersinggungan di titik tersempit Selat Hormuz sejak lama membebaskan pelayaran melintasi perairan itu. Justru serangan AS-Israel ke Iran yang belakangan memicu penutupan jalur laut penting dunia tersebut.
Teheran ingin membujuk Oman, sekutu AS, untuk mendukung mekanisme pengumpulan tarif dari kapal-kapal yang transit melalui selat tersebut, demikian yang dilaporkan Associated Press dalam beberapa hari terakhir, mengutip seorang pejabat regional. “Mereka ingin mengendalikannya,” kata Trump, yang menekankan bahwa selat itu adalah bagian dari perairan internasional.
“Oman akan berperilaku sama seperti orang lain. Atau kita harus meledakkan mereka. Mereka memahami hal itu. Mereka akan baik-baik saja."
Upaya Trump dalam beberapa pekan terakhir untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran sejauh ini gagal membuahkan hasil. Dalam pertemuan hari Rabu, ia menuduh Iran berusaha untuk menunda perjanjian tersebut dan “menunggu saya” sampai pemilu paruh waktu di AS pada bulan November.
Ketika Trump memberi isyarat bahwa dia hampir mencapai kesepakatan pada akhir pekan, para pendukung Partai Republik yang sangat mendukung keputusan kontroversialnya untuk memerintahkan perang terhadap Iran bersama Israel mengeluarkan teguran yang jarang terjadi. Roger Wicker, ketua komite angkatan bersenjata Senat, mengatakan “gencatan senjata 60 hari yang dikabarkan” akan menjadi “bencana” dalam sebuah postingan di media sosial. “Segala sesuatu yang dicapai melalui Operasi Epic Fury akan sia-sia,” tambahnya.
Energi Hijau Berlimpah di Eropa, Kenapa Masih Krisis?
Pada siang hari, ketika angin bertiup dan matahari bersinar, jumlah listrik yang tersedia di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya sering kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Namun, kapasitas penyimpanan baterai yang belum memadai membuat energi tersebut tidak dapat disimpan untuk digunakan nanti. Setelah matahari terbenam, pembangkit listrik berbahan bakar gas alam sering kali harus mengambil alih untuk menutupi kekurangan pasokan.
Hal itu harus berubah jika Jerman ingin menjadi netral iklim pada tahun 2045. Fasilitas penyimpanan energi hijau berskala besar sangat penting untuk menjaga stabilitas harga listrik dan mewujudkan transisi menuju 100% energi terbarukan.
Uni Eropa, yang telah menetapkan target netral iklimnya sendiri pada tahun 2050, saat ini menghasilkan sekitar setengah dari listriknya dari energi terbarukan. Di seluruh Eropa, fasilitas penyimpanan yang ada saat ini memiliki kapasitas sekitar 14 GW, menurut data dari Joint Research Centre Komisi Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi tersebut meningkat secara dramatis: tambahan kapasitas penyimpanan sebesar 84 GW, yang mewakili peningkatan enam kali lipat, saat ini berada dalam tahap perencanaan atau konstruksi dan diperkirakan akan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.
Hal itu mencerminkan tren global, menurut kelompok riset Bloomberg New Energy Finance. Analisis terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan terkuat fasilitas penyimpanan berskala besar diperkirakan akan terjadi di Asia, khususnya di Cina dan India. Di Eropa, Jerman dan Italia, negara dengan produksi energi terbarukan yang signifikan, juga menjadi pasar utama bagi penyimpanan energi baru.
Sebagian dari pertumbuhan pesat itu disebabkan oleh penurunan biaya. Dalam beberapa tahun terakhir, harga baterai lithium-ion turun sekitar 20% per tahun. Pada 2030, menurut proyeksi Uni Eropa, biaya baterai diperkirakan turun setengah dibandingkan dengan harga tahun 2022.
Ketika sistem penyimpanan kecil milik pribadi dan fasilitas berskala besar digabungkan, kapasitas di Uni Eropa telah meningkat sepuluh kali lipat sejak 2022. Namun, untuk memenuhi target iklim blok tersebut, angka itu harus meningkat lagi hingga sepuluh kali lipat menjadi sekitar 750 GW, target yang masih cukup jauh untuk dicapai.
Investasi baterai dapat menjaga stabilitas harga listrik
Harga energi terbarukan biasanya sangat rendah pada siang hari, bahkan terkadang turun di bawah nol, sering kali akibat surplus listrik yang dihasilkan oleh angin dan tenaga surya. Akibatnya, beberapa pembangkit energi terbarukan dimatikan selama beberapa jam untuk menyeimbangkan pasokan, sehingga mengurangi keuntungan produsen energi.
Ketika pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara mulai beroperasi pada malam hari untuk menutupi kekurangan energi, hal itu kembali mendorong harga naik, jelas Dirk Uwe Sauer, profesor dan pakar sistem penyimpanan energi dari RWTH Aachen University di Jerman.
“Jika kita melihat harga-harga ini, misalnya dari tahun lalu, maka kita melihat bahwa sekitar tengah hari harga rata-rata listrik tidak jauh lebih tinggi dari €0,03 (sekitar Rp570),” katanya kepada DW. “Pada awal malam, harganya mendekati €0,18 (sekitar Rp.3.420)”
Perbedaan besar ini membuat investasi pada teknologi penyimpanan baterai menjadi menarik secara ekonomi, terutama di saat harga gas alam melonjak akibat perang di Ukraina dan Iran.
Sauer menunjukkan bahwa setiap unit penyimpanan tambahan dapat membantu meredam lonjakan harga, sehingga menguntungkan industri energi terbarukan maupun konsumen rumah tangga. Hingga baru-baru ini, ekspansi energi terbarukan di Eropa terhambat oleh proses perizinan yang lambat, tahap perencanaan yang panjang, serta hambatan besar dalam menghubungkan penyimpanan baterai ke jaringan listrik.
Baterai yang lebih baik menjadi kunci transisi energi
“Setiap tahun, kita menghabiskan sekitar €80 miliar (sekitar Rp1.250 triliun) untuk mengimpor energi dari luar negeri. Itu adalah ketergantungan yang besar, dan energi terbarukan dapat membantu kita melepaskan diri dari hal tersebut,” kata Sauer. Agar itu dapat terjadi, tambahnya, pembangunan fasilitas penyimpanan baterai dan jaringan listrik harus dipandang sebagai satu kesatuan.
“Bersama dengan fasilitas angin dan fotovoltaik, kita harus membangun jaringan listrik lokal untuk mendistribusikan listrik secara langsung, gunaserta fasilitas penyimpanan untuk menyimpannya bagi digunakan di kemudian hari. Keduanya benar-benar sangat penting,” katanya.
Namun, sebagian masalah terletak pada jaringan listrik Eropa yang sudah ada. Banyak di antaranya berusia lebih dari 40 tahun, dan sebagian besar tidak dirancang untuk menerima listrik hijau dalam jumlah besar serta menyalurkannya ke lokasi yang membutuhkan. Jaringan listrik di Jerman, dan di seluruh Eropa, perlu dimodernisasi dan dihubungkan dengan taman angin, ladang surya, serta fasilitas penyimpanan.
Komisi Eropa sebelumnya mengatakan bahwa Uni Eropa perlu menginvestasikan sekitar €580 miliar (sekitar Rp11.020 triliun) untuk meningkatkan jaringan listriknya sebelum 2030. Namun, kemajuannya sejauh ini masih beragam, bahkan di Jerman. Pemerintah federal telah merencanakan pembangunan sekitar 16.000 kilometer (10.000 mil) jalur listrik selama bertahun-tahun; saat ini, baru sekitar 20% yang beroperasi. Meski demikian, proses perizinan baru-baru ini telah disederhanakan untuk mempercepat pembangunan.
Walaupun investasi dalam peningkatan jaringan listrik mulai meningkat, target €580 miliar tampaknya sulit tercapai. Data dari European Union Agency for the Cooperation of Energy Regulators menunjukkan investasi sekitar €35 miliar (sekitar Rp665 triliun) pada 2024; pada 2027, angka itu diperkirakan menjadi €47 miliar (sekitar Rp893 triliun).
Uni Eropa berupaya mengamankan masa depan kelistrikan
Para analis industri tidak memperkirakan perang yang sedang berlangsung di Iran akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor baterai dan ekspansi jaringan listrik, meskipun terjadi gejolak energi global.
Bloomberg BNEF melaporkan bahwa konflik yang telah berlangsung tiga bulan itu sejauh ini hanya memberi dampak minimal terhadap pasar penyimpanan baterai, yang sebagian besar berbasis di Cina. Perang tersebut memang mendorong harga listrik naik, dengan pengiriman bahan bakar fosil terhambat di Selat Hormuz, yang dapat menghasilkan keuntungan jangka pendek bagi operator fasilitas penyimpanan baterai. Namun, Sauer mengatakan hal itu saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan sektor yang berkelanjutan.
“Krisis sementara [seperti Iran] umumnya bukan dasar yang baik untuk membuat keputusan investasi pada produk yang akan digunakan selama bertahun-tahun,” katanya. Dan meskipun investasi meningkat, ia masih melihat tanda-tanda ketidakpastian di pasar.
Pada saat fasilitas berskala besar yang saat ini direncanakan benar-benar selesai dibangun dan terhubung ke jaringan listrik, perang Iran dan krisis energi kemungkinan sudah lama berakhir, kata Sauer. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan target jangka panjang. “Jaringan listrik dibangun untuk 40 atau 50 tahun ke depan.”
Yang sama pentingnya bagi negara-negara anggota Uni Eropa, selain kemauan politik, adalah akses terhadap lithium dan logam lain yang dibutuhkan untuk produksi baterai.
Blok tersebut telah memprioritaskan pengembangan strategi bahan baku, mendukung produksi domestik logam tanah jarang, mengurangi ketergantungan pada Cina, serta membangun rantai pasok yang aman. Selain itu, Uni Eropa juga ingin mendorong daur ulang bahan baku kritis seperti litium, nikel, galium, dan kobalt.
AS Kembali Serang Iran, Trump Bantah Ada Kesepakatan Selat Hormuz
Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan mengenai adanya kesepakatan pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Seorang pejabat AS mengatakan militer Amerika menyerang operasi drone Iran yang dinilai mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Baca Juga: Won Korea dan Peso Filipina Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Kamis (28/5) Pejabat yang enggan disebut namanya itu mengatakan militer AS menembak jatuh empat drone serang Iran serta menghancurkan pusat kendali drone di kota pelabuhan Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima. “Langkah ini bersifat terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata,” ujar pejabat tersebut. Gencatan senjata antara AS dan Iran sendiri mulai berlaku sejak awal April lalu. Namun, media Iran Tasnim mengutip sumber militer yang menyebut Angkatan Laut Garda Revolusi Iran sempat menembakkan peringatan ke arah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz hingga kapal tersebut berbalik arah. Baca Juga: China Luncurkan Obligasi Hijau US$ 885 Juta untuk Biayai Proyek Ramah Lingkungan Sumber itu juga mengatakan militer AS kemudian menyerang area terbuka di sekitar Bandar Abbas tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan. Media Iran kemudian melaporkan empat kapal lain juga mencoba melintas pada Kamis dini hari, tetapi dipaksa mundur setelah ditembak peringatan. Sebelumnya pada Senin, militer AS juga melakukan serangan di wilayah selatan Iran yang disebut sebagai tindakan defensif. Namun Iran menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata. Harga minyak dunia yang sempat anjlok lebih dari 5% pada Rabu kembali menguat setelah Reuters melaporkan serangan terbaru AS tersebut. Kontrak minyak mentah AS naik hampir 2% menjadi US$ 90,38 per barel pada perdagangan Asia. Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi ke Otoritas Selat Hormuz, Ketegangan dengan Iran Memanas Dalam rapat kabinet yang terbuka untuk media, Trump juga membantah laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut telah ada rancangan kesepakatan pemulihan pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu satu bulan dengan Iran dan Oman sebagai pengelola bersama. Trump menegaskan tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai Selat Hormuz. “Tidak ada yang akan mengendalikan selat itu. Itu adalah perairan internasional,” ujar Trump. Ia bahkan melontarkan ancaman terhadap Oman dengan mengatakan negara tersebut harus mengikuti aturan internasional. Gedung Putih maupun Kedutaan Oman di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump tersebut. Baca Juga: Bursa Jepang Kehilangan Arah Kamis (28/5), Konflik Iran Bebani Sentimen Di sisi lain, Departemen Keuangan AS menambahkan Persian Gulf Strait Authority, badan Iran yang dibentuk untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, ke dalam daftar sanksi nasional AS. Laporan televisi Iran sebelumnya menyebut rancangan kesepakatan juga mencakup pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS dan penarikan pasukan militer AS dari sekitar wilayah Iran. Namun Gedung Putih menyebut laporan itu sebagai “rekayasa total”. Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan ancaman Trump tidak akan membuat Iran mundur dari tuntutannya terkait pengayaan uranium, kontrol atas Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi. “Jelas Trump sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini dengan bergantian mengeluarkan ancaman dan ajakan negosiasi,” ujar Azizi melalui media sosial X. Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Setelah Reli Lima Hari Kamis (28/5), Saham Bank Tertekan Konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan sejak dimulai pada 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan mendorong lonjakan harga energi global. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia dengan lalu lintas harian mencapai 125 hingga 140 kapal. Namun Garda Revolusi Iran menyebut hanya 23 kapal yang melintas dengan izin Iran dalam 24 jam terakhir.
Pasar Tenaga Kerja AS Sangat Tangguh, The Fed Fokus Kendalikan Inflasi
Wakil Ketua Federal Reserve Philip Jefferson mengatakan bahwa fokus untuk mengembalikan inflasi ke target 2% bank sentral adalah hal yang tepat mengingat pasar tenaga kerja AS sudah sangat tangguh terhadap guncangan energi saat ini. “Ketika saya memikirkan keputusan kebijakan saya dari pertemuan ke pertemuan, saya benar-benar fokus pada stabilitas harga, tetapi berdasarkan mandat saya juga perlu mengingat apa yang terjadi di pasar tenaga kerja,” kata Jefferson selama sesi tanya jawab setelah pidato di konferensi yang diselenggarakan oleh BOJ dan lembaga think thanknya di Tokyo sepert dilansir Reuters, Kamis (28/5/2026). “Pasar tenaga kerja AS sangat tangguh terhadap guncangan saat ini. Mengingat ketahanan tersebut, tampaknya tepat jika fokusnya adalah mengembalikan inflasi ke 2%,” katanya. Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah 2 Bulan, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi Komentar Jefferson adalah yang pertama sejak pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua Fed yang baru pada Jumat lalu. Jefferson mengatakan sulit untuk mengatakan kebijakan suku bunga Fed secara pasti dari waktu ke waktu mengingat ketidakpastian mengenai besarnya dan lamanya guncangan energi akibat perang. "Yang diperhatikan oleh semua segmen masyarakat adalah kenaikan harga energi dan khususnya bensin. Kami peka terhadap bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari," katanya. Namun tantangan bagi perekonomian AS adalah, selain dampak dari guncangan energi, perluasan investasi AI mendorong pertumbuhan, katanya. "Guncangan energi merupakan hambatan bagi pertumbuhan, tetapi kita masih mengalami pertumbuhan selama episode ini," kata Jefferson. "Dalam hal komunikasi kebijakan moneter, penekanannya adalah pada pemantauan efek putaran kedua yang terkait dengan guncangan pasokan dan lonjakan permintaan investasi." Baca Juga: Tiga Kapal Minyak dan LNG Tinggalkan Selat Hormuz dengan Transponder Dimatikan Dalam pidato yang telah disiapkan untuk konferensi tersebut, ia mengatakan bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada tempat yang tepat di tengah risiko kenaikan inflasi yang berkelanjutan. "Saya belum menilai terlebih dahulu pertemuan berikutnya dan berharap dapat berdiskusi dengan kolega saya tentang kebijakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan mandat ganda kita dengan sebaik-baiknya," katanya tentang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal berikutnya pada tanggal 16-17 Juni.
AS Jatuhkan Sanksi ke Otoritas Selat Hormuz, Ketegangan dengan Iran Memanas
Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap Persian Gulf Strait Authority, badan yang dibentuk Iran untuk mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Departemen Keuangan AS pada Rabu (27/5/2026) menyatakan, otoritas tersebut bertugas mengelola permohonan izin pelayaran yang melintasi Selat Hormuz. Baca Juga: Bursa Jepang Kehilangan Arah Kamis (28/5), Konflik Iran Bebani Sentimen Langkah Washington ini menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz setelah pecah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Departemen Keuangan AS menyebut pihak mana pun yang bekerja sama dengan Persian Gulf Strait Authority berpotensi dianggap memberikan dukungan kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan dapat ikut terkena sanksi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah terbaru militer Iran dinilai sebagai upaya memeras perdagangan maritim global. “Upaya terbaru militer Iran untuk memeras perdagangan maritim global menjadi bukti bahwa tekanan ekonomi telah membuat rezim Iran semakin putus asa mencari dana,” ujar Bessent dalam pernyataannya. Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun ke US$ 4.419 Kamis (28/5) di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran Pekan lalu, Persian Gulf Strait Authority juga menerbitkan peta yang kembali menegaskan klaim Teheran atas wilayah perairan luas di sekitar titik sempit Selat Hormuz. Ketegangan di jalur strategis tersebut terus menjadi perhatian pasar global karena berpotensi mengganggu distribusi energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak internasional.
Tiga Kapal Minyak dan LNG Tinggalkan Selat Hormuz dengan Transponder Dimatikan
Dua kapal supertanker minyak dan satu kapal pengangkut gas alam cair (LNG) diketahui keluar dari Selat Hormuz pekan ini dengan transponder dimatikan, di tengah masih tingginya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Berdasarkan data pelayaran dari LSEG dan Kpler pada Kamis (28/5/2026), kapal-kapal tersebut kini bergerak menuju India dan China. Baca Juga: Pejabat The Fed Peringatkan Euforia AI Bisa Picu Inflasi Lebih Tinggi Ketiga kapal itu bergabung dengan sejumlah tanker lain yang mulai meninggalkan kawasan Teluk bulan ini, meskipun lalu lintas minyak dan LNG secara keseluruhan masih sangat terbatas akibat konflik di kawasan. Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Eagle Veracruz yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi dilaporkan menuju pelabuhan Quanzhou di Provinsi Fujian, China tenggara. Kapal tersebut diperkirakan tiba pada 16 Juni di pelabuhan yang menjadi lokasi kilang milik Sinochem. Namun hingga kini, perusahaan pengelola kapal AET Tankers maupun Sinochem belum memberikan tanggapan resmi. Baca Juga: AS Kembali Serang Iran, Trump Bantah Ada Kesepakatan Selat Hormuz Supertanker lainnya, Nissos Keros, membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Das dari Uni Emirat Arab dan diperkirakan tiba di pelabuhan Visakhapatnam, India, pada 3 Juni. Pelabuhan tersebut menjadi lokasi kilang milik Hindustan Petroleum. Vitol sebagai penyewa kapal dan Kylades Maritime selaku pengelola tanker juga belum memberikan komentar. Data Kpler menunjukkan kedua supertanker tersebut keluar dari Selat Hormuz pada Selasa lalu. Sementara pada Rabu, kapal berbendera China Hua Lin Wan yang dioperasikan grup pelayaran COSCO juga keluar dari selat tersebut. Kapal itu membawa muatan naphtha dari Kuwait dan diperkirakan tiba di pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 12 Juni. Secara terpisah, kapal LNG Umm Al Ashtan sebelumnya terakhir terdeteksi dalam kondisi kosong di lepas pantai Uni Emirat Arab pada 1 Mei. Kapal itu kembali muncul dalam data pelacakan pada 27 Mei setelah memuat LNG dari Das Island dan kini berada di lepas pantai Oman dengan arah pelayaran menuju India. Baca Juga: Trump Pertimbangkan Suntikan Dana untuk Industri Drone Nasional ADNOC yang tercatat sebagai pengelola kapal tersebut belum memberikan tanggapan resmi. Perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari telah mengganggu secara signifikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Sebelum konflik pecah, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mencapai rata-rata 125 hingga 140 kapal per hari. Namun kini aktivitas pelayaran menurun drastis. Sekitar 20.000 pelaut juga dilaporkan masih terjebak di ratusan kapal yang tertahan di kawasan Teluk akibat situasi keamanan yang belum stabil.