News Komoditi & Global ( Selasa, 31 Maret 2026 )

News  Komoditi & Global                                      ( Selasa,   31 Maret 2026  )
Harga Emas Global Menguat Terbatas di Tengah Ekspektasi Kebijakan Ketat The Fed

Harga Emas masih terpantau menguat  setelah sempat melojak hingga menyentuh level 4555.22. Kenaikan yang terjadi di penutupan perdagangan mingguan lalu. tersebut terjadi saat Tindakan yang dilakukan oleh para “Buyer” saat pelemahan yang sedang terjadi ditengah konflik yang terus bergejolak di Timur Tengah.
Pelaku pasar mulai melihat potensi pengetatan kebijakan moneter global dimana hal ini didasarkan oleh lonjakan harga energi yang memperkuat tekanan inflasi. Terjadinya peningkatan sentimen risk-off imbas dari munculnya spekulasi eskalasi konflik, termasuk kemungkinan aksi militer AS di Iran serta keterlibatan kelompok Houthi, yang semakin memperburuk outlook inflasi dan stabilitas pasar.
Eskalasi konflik membuka front baru yang meningkatkan risiko semakin tingginya resiko pada jalur perdagangan strategis, khususnya di Bab el-Mandeb. Hal ini semakin kompleks dengan masih terjadi penutupan di Selat Hormuz, kondisi ini menjaga harga minyak dan memperkuat potensi rebound tekanan inflasi global. Hal ini sangat memberikan pengaruh yang signifikan bagi pergerakan yang terjadi pada Emas.
Optimisme terhadap jalur diplomatik AS–Iran meredakan sebagian tekanan geopolitik di pasar.  Komentar pejabat AS mengindikasikan progres negosiasi yang solid dan peluang penyelesaian cepat. Harapan tercapainya kesepakatan meningkatkan risk sentimen di tengah ketidakpastian global. Indikasi kemajuan diplomasi memberikan katalis positif jangka pendek bagi stabilitas pasar.
Sementara itu penguatan yang terjadi pada Dolar AS diperkirakan masih akan terus berlanjut di tengah eskalasi geopolitik Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi kebijakan hawkish The Fed, hal ini akan menjadi tekanan utama bagi harga emas.
Emas berisiko untuk mengalami tekanan jual yang lebih lanjut apabila eskalasi konflik semakin meningkat, khususnya jika serangan Houthi terhadap Israel memicu respons militer yang lebih agresif, termasuk ekspansi operasi Israel ke Lebanon selatan.
Memasuki pembukaan sesi perdagangan Senin, Emas mengalami pelemahan dan bergerak mendekati level 4450.00. Hal ini dipicu oleh rencana invasi darat yang dilakukan oleh AS. Emas berupaya menguji level 4400.00 setelah gagal bertahan di level 4500.00.
Fokus pasar masih terkunci pada perkembangan konflik AS–Iran serta meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang terus menjadi pendorong utama sentimen global. Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi Non Farm Payrolls yang akan dikeluarkan hari jumat nanti, Untuk hari ini agenda utama yang harus diperhatikan yaitu Pidato Ketua Dewan Gubernur Fed, Powell yang akan dilakukan pada pukul 21.30 WIB malam nanti.


Harga Minyak Dunia  Naik Dipicu Memanasnya Perang Timur Tengah

 Harga minyak melanjutkan reli pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi. Pukul 06.22 WIB, Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 di New York Mercantile Exchange ada di level US$ 106 per barel, naik 3,03% dari sehari sebelumnya yang ada di level US$ 102,88 per barel.
Harga minyak melonjak setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker di Teluk Persia dan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap infrastruktur sipil negara itu seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, Iran menyerang kapal Kuwait yang bermuatan penuh. Kuwait Petroleum Corp menyebutkan, penyerangan kapal pengangkut minyak mentah di Pelabuhan Dubai ini menyebabkan kebakaran dan potensi tumpahan minyak di perairan sekitarnya.
Teheran mulai membidik kapal yang beroperasi di seluruh Teluk sejak perang dimulai, dan baru-baru ini menghantam dua kapal di dekat Irak.
Pada Senin, Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media social bahwa AS akan meledakkan pembangkit listrik, fasilitas minyak dan mungkin infrastruktur desalinasi jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Perang Iran secara efektif telah menutup jalur air penting bagi pelayaran, mengancam pasokan minyak mentah, gas alam dan produk-produk seperti solar dari pasar global yang menyebabkan melonjaknya Harga energi dan kekhawatiran inflasi.
Trump secara rutin mengatakan kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Namun, di sisi lain AS telah mengirim lebih banyak pasukan ke wilayah tersebuh seiring konflik yang berlanjut hingga pekan kelima.
"Nada yang tersirat tetaplah satu langkah maju, lima Langkah mundur di setiap jalan keluar,"  kata Rebecca Babin, seorang trader energi senior di CIBC Private Wealth Group seperti dikutip Bloomberg.
"Dengan 10 juta barel-12 juta barel per hari yang masih hilang dari asar, cadangan semakin menipis dan membicarakan harga minyak yang lebih rendah menjadi kurang efektif."

Wall Street Ditutup Melemah, Dipicu Meluasnya Perang di Timur Tengah

Indeks Utama Wall Street sebagian besar ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (30/3/2026), karena peringatan baru Presiden AS Donald Trump kepada Teheran dan meluasnya perang Timur Tengah mengimbangi optimisme atas komentarnya tentang perundingan AS dengan Iran.
Mengutip Reuters, indeks Indeks Dow Jones Industrial Average naik 49,50 poin, atau 0,11% ke level 45.216,14, S&P 500 turun 25,13 poin, atau 0,39% ke level 6.343,72 dan Nasdaq Composite turun 153,72 poin, atau 0,73% ke level 20.794,64.
Saham-saham teknologi termasuk di antara faktor-faktor yang menekan S&P 500 hari ini, dengan indeks semikonduktor turun 4,2%.
Indeks energi S&P 500 ditutup turun 0,9% meskipun harga minyak naik pada hari itu. Minyak mentah Brent berada di jalur untuk kenaikan bulanan rekor dan minyak mentah AS ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Sebaliknya, indeks keuangan naik 1,1% setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengeluarkan pedoman yang telah lama ditunggu-tunggu yang bertujuan untuk memperjelas bagaimana wali amanat dapat menambahkan aset alternatif ke dalam rencana pensiun 401(k).
Saham manajer aset naik, dengan Blackstone naik 3,3% dan KKR naik 2,1%.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 18,85 miliar saham, dengan rata-rata sekitar 20 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Trump mengatakan AS sedang melakukan diskusi serius dengan rezim yang lebih masuk akal untuk mengakhiri perang, tetapi mengulangi ancamannya untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi risiko serangan AS terhadap sumur minyak dan pembangkit listrik Iran.
Iran menggambarkan proposal perdamaian AS tidak realistis.
Pada saat yang sama, konflik telah meningkat. Milisi Houthi Yaman yang didukung Iran memasuki perang pada akhir pekan.
Investor telah terguncang oleh ketidakpastian seputar perang Timur Tengah, yang telah menyebabkan harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi.
"Pemerintahan terus mengirimkan pesan yang campur aduk," kata Rick Meckler, mitra di Cherry Lane Investments, sebuah kantor investasi keluarga di New Vernon, New Jersey.
 “Ketika pesan-pesan tampak baik, sejauh pesan-pesan itu dipercaya, hal itu membantu pasar. Jika sesuatu yang mereka katakan menyiratkan pendekatan yang lebih agresif, pasar akan turun tajam.”
Meckler mengatakan investor mungkin mencari titik terendah teknis setelah aksi jual baru-baru ini.
Ketiga indeks utama memulai hari dengan kenaikan setelah mencatat penurunan tajam pada sesi sebelumnya.
Sejak perang dimulai, Dow, Nasdaq, dan indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 semuanya telah mengkonfirmasi wilayah koreksi, berakhir 10% lebih rendah dari penutupan tertinggi sepanjang masa.
Komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan dukungan bagi pasar saham. Powell mengatakan ekspektasi inflasi jangka panjang tampaknya tetap stabil meskipun terjadi guncangan energi saat ini, dan Fed belum perlu mengambil keputusan tentang bagaimana menanggapi masalah terbaru ini.
Para pelaku pasar uang telah memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter dari Federal Reserve tahun ini, dibandingkan dengan dua kali pemotongan suku bunga yang diperkirakan sebelum perang dimulai, menurut FedWatch Tool dari CME Group.

Perundingan WTO Buntu Pasca Brasil Memblokir Kesepakatan Bea Masuk E-Commerce

Pembicaraan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) berakhir buntu pada Senin (30/3/2026) pagi ketika Brasil memblokir upaya AS dan negara-negara lain untuk memperpanjang moratorium bea masuk untuk transmisi elektronik, yang memberikan pukulan baru bagi badan perdagangan yang sedang menghadapi masalah ini.
Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan moratorium e-commerce telah berakhir, yang berarti negara-negara dapat menerapkan bea masuk pada barang elektronik seperti unduhan digital dan streaming.
Namun, ia mengatakan bahwa WTO berharap dapat memulihkan moratorium tersebut dan bahwa Brasil dan AS sedang berupaya mencapai kesepakatan mengenainya.
"Mereka membutuhkan lebih banyak waktu — dan kita tidak punya cukup waktu di sini," katanya.
Ekspektasi rendah menjelang pertemuan tersebut, tetapi kegagalan untuk bahkan menyepakati perpanjangan moratorium e-commerce merupakan kemunduran serius bagi WTO, yang telah berjuang untuk tetap relevan — karena negara-negara semakin banyak yang mencari cara untuk menghindari aturan tersebut.
Pembicaraan maraton pada pertemuan di Kamerun memang menghasilkan kemajuan dalam penyusunan rencana untuk reformasi organisasi yang lebih luas, meskipun kesepakatan masih tertunda.
Pembicaraan WTO akan berlanjut di Jenewa, kata ketua konferensi, Menteri Perdagangan Kamerun Luc Magloire Mbarga Atangana. Para pejabat WTO mengatakan, pertemuan tersebut diperkirakan akan berlangsung pada bulan Mei.
"Kegagalan mencapai keputusan bersama di Yaounde merupakan kemunduran besar bagi perdagangan global," kata Menteri Perdagangan dan Bisnis Inggris, Peter Kyle.
Perundingan tersebut dipandang sebagai ujian relevansi WTO setelah setahun penuh gejolak perdagangan dan gangguan besar akibat perang Iran. Namun, para menteri tidak dapat menyetujui perpanjangan moratorium lebih dari dua tahun setelah adanya keberatan dari Brasil, kata para diplomat.
AS Menginginkan Perpanjangan Permanen
Para diplomat bekerja sepanjang hari Minggu untuk menutup kesenjangan antara Brasil, yang awalnya menginginkan perpanjangan dua tahun, dan AS, yang menginginkan perpanjangan permanen, dengan menyusun proposal perpanjangan empat tahun dengan masa transisi satu tahun, yang berakhir pada tahun 2031.
Brasil kemudian mengusulkan perpanjangan empat tahun, dengan klausul peninjauan di tengah jalan, tetapi hal itu tidak didukung, kata para diplomat kepada Reuters.
Negara-negara berkembang menentang perpanjangan yang terlalu lama, dengan alasan bahwa moratorium tersebut menghalangi mereka memperoleh potensi pendapatan pajak yang dapat mereka investasikan kembali ke negara mereka.
Seorang pejabat AS mengatakan Brasil menentang "dokumen yang hampir mencapai konsensus", menambahkan: "Ini bukan 'AS vs Brasil'. Ini Brasil dan Turki vs 164 anggota."
Sementara itu, seorang diplomat Brasil mengatakan "AS menginginkan segalanya," dan bahwa Brasil ingin berhati-hati dalam memperbarui moratorium hanya selama dua tahun seperti pada konferensi menteri sebelumnya, mengingat perubahan cepat dalam perdagangan digital.
Diplomat lain yang hadir mengatakan bahwa Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer membuat para delegasi tidak nyaman karena ia menyarankan akan ada konsekuensi jika AS tidak mendapatkan perpanjangan moratorium jangka panjang.
Para pemimpin bisnis menyesalkan hasil pembicaraan tersebut, dengan Sekretaris Jenderal Kamar Dagang Internasional John Denton mengatakan bahwa hal itu "sangat mengkhawatirkan di saat ekonomi global sedang mengalami tekanan yang nyata." John Bescec, direktur urusan bea cukai dan perdagangan Microsoft, mengatakan: "Bisnis mengharapkan lebih banyak kepastian dan prediktabilitas... Sebaliknya, kita mendapatkan kebalikannya."
Mendapatkan kesepakatan tentang moratorium e-commerce dipandang sebagai kunci untuk mengamankan dukungan bagi WTO dari AS, yang di bawah Presiden Donald Trump telah mundur dari lembaga multilateral global.
Rencana Reformasi Dimulai
Sebuah rancangan peta jalan reformasi, yang dilihat oleh Reuters, yang memberikan garis waktu untuk kemajuan dan menetapkan isu-isu utama yang perlu ditangani, hampir disepakati di Kamerun, kata para diplomat.
Diskusi akan berlanjut di Jenewa mengenai peningkatan pengambilan keputusan dalam sistem berbasis konsensus yang telah lama terhambat oleh beberapa negara, dan manfaat perdagangan yang diperluas ke negara-negara berkembang.
Debat reformasi ini muncul di tengah upaya untuk merevisi aturan WTO agar penggunaan subsidi lebih transparan dan pengambilan keputusan lebih mudah. AS dan Uni Eropa berpendapat bahwa China—khususnya—telah memanfaatkan aturan saat ini untuk merugikan mereka.


Perang AS-Israel VS Iran, Kepala Intelijen Turki Ungkap Skenario Mengerikan yang Ancam Dunia

Lebih dari 1.340 orang tewas. Pemimpin tertinggi sebuah negara gugur. Dua puluh ribu pelaut terdampar di kapal-kapal yang terjebak. Dan harga bahan bakar melonjak di seluruh penjuru dunia.
Inilah realitas yang terjadi sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, sebuah titik awal yang oleh Kepala Organisasi Intelijen Nasional Turki, Ibrahim Kalin, kini diperingatkan sebagai percikan yang berisiko membakar delapan miliar manusia.
Berbicara di KTT STRATCOM 2026 di Istanbul, Kalin melukiskan peta jalan yang mencemaskan: apa yang dimulai sebagai perang Israel/AS-Iran sejak 28 Februari, kini telah berlangsung sekitar satu bulan, bergerak dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dari konflik regional menuju krisis global.
Peringatan ini bukan sekadar retorika diplomatik biasa. Kalin, yang selama ini dikenal sebagai salah satu arsitek kebijakan luar negeri Turki yang pragmatis, secara eksplisit menyebut bahwa perang ini berisiko menjadi "perang yang akan menelan korban delapan miliar orang," sebagaimana diberitakan TRT World.
Namun yang lebih mencengangkan adalah bagaimana ia membingkai konflik ini bukan sekadar sebagai benturan senjata, melainkan sebagai pertaruhan eksistensial tatanan kawasan.
"Salah satu hasil yang diperhitungkan dari perang ini bukan hanya penghapusan kemampuan nuklir Iran, tetapi yang lebih berbahaya, langkah-langkah yang meletakkan dasar bagi konflik saudara selama beberapa dekade di antara bangsa-bangsa pendiri kawasan ini, Turki, Kurdi, Arab, dan Persia."
Kalin seolah hendak mengatakan: perang ini bukan sekadar soal rezim atau hulu ledak, melainkan soal fragmentasi peradaban yang akan membekas selama generasi.
Di sinilah letak ironi besar. Di satu sisi, Turki mengaku telah melakukan upaya diplomatik intensif, bahkan secara puitis Kalin menyatakan bahwa negaranya akan "memegang bola api itu di tangan kami dan mendinginkannya di dada kami, tetapi kami tidak akan pernah melemparkannya ke dalam api perselisihan."
Di sisi lain, Israel dinilai secara konsisten menyabotase setiap upaya membuka saluran negosiasi dan komunikasi, sebagaimana yang telah terjadi sebelum perang meletus.
Pertanyaan yang tak terelakkan adalah: apakah memang ada ruang untuk diplomasi ketika aktor-aktor kunci justru melihat perang sebagai instrumen untuk menciptakan fait accompli baru di Lebanon, Suriah, dan wilayah Palestina? Kalin dengan tegas menyebut bahwa kebijakan penghancuran, aneksasi, dan pendudukan Israel serta sekutunya sedang berlangsung "tanpa henti."
Blokade Hormuz: Ketika Logistik Menjadi Senjata
Sementara pertempuran berkecamuk di medan darat dan udara, satu front lain yang tak kalah krusial adalah Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, memberikan penilaian yang tajam: mengorganisasi misi militer untuk mengamankan navigasi, seperti yang diserukan Presiden AS Donald Trump pada 14 Maret kepada China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris Raya, dan negara-negara lain, tidak akan memberikan solusi jangka panjang.

"Pembentukan gugus tugas militer untuk menjaga keamanan kapal komersial tidak dapat menjadi solusi jangka panjang. Terlebih lagi, hal itu tidak akan menghilangkan semua risiko, karena kapal masih dapat diserang oleh drone atau rudal," ujar Dominguez.
Solusi yang ia tawarkan justru lebih sederhana sekaligus lebih sulit: deeskalasi. Ini adalah pengakuan jujur bahwa pendekatan keamanan tradisional dengan pengerahan kekuatan militer tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah selama konflik politik masih membara.
Akibatnya, sekitar 20.000 pelaut terdampar di kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia. Harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara. Dan di balik angka-angka itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana dunia bersedia membiarkan segelintir aktor mempertaruhkan stabilitas global demi kepentingan geopolitik sempit?
Di tengah krisis ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres terpaksa melakukan pendekatan satu per satu, menelepon Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, dan sejumlah menteri luar negeri lainnya. Diplomasi tingkat tinggi ini terjadi di tengah gangguan pengiriman yang melintasi Hormuz, namun tetap belum mampu menghentikan eskalasi yang terus berlangsung.
Kalin menyoroti satu aspek yang sering luput dari perhatian: perang ini tidak memiliki dasar hukum di bawah hukum internasional. Namun di dunia di mana "informasi berlimpah, pengetahuan semakin berkurang, dan kebijaksanaan hampir lenyap," seperti yang ia keluhkan, pertanyaan legalitas sering kalah oleh narasi kekuatan.
"Komunikasi bukan hanya upaya untuk menyampaikan informasi dan pesan. Komunikasi juga merupakan upaya untuk membangun makna," kata Kalin. "Jika Anda tidak menyebutkan sesuatu, itu bukan milik Anda. Jika Anda tidak menceritakan kisahnya, itu bukan kisah Anda."
Dalam kalimat ini tersirat sebuah kritik pedas: perang hari ini juga diperebutkan dalam ranah narasi, dan mereka yang mengendalikan makna akan mengendalikan legitimasi.
Sebuah Provokasi: Siapa yang Benar-Benar Menginginkan Perang Ini Berakhir?
Di sinilah tulisan ini ingin memprovokasi Anda, para pembaca. Jika perang ini telah merenggut ribuan nyawa, mengancam stabilitas global, memacetkan pasokan energi, dan bahkan berpotensi melahirkan konflik saudara lintas etnis yang berlangsung puluhan tahun, lalu mengapa perang ini masih terus berlangsung?
Kalin memberikan sebagian jawaban: "Kita tahu betul bahwa mereka yang memulai perang ini sedang berusaha menciptakan fakta baru di lapangan."
Namun apakah hanya itu? Atau ada dimensi lain yang lebih dalam: bahwa bagi sebagian aktor, perang bukanlah kegagalan diplomasi, melainkan kelanjutan diplomasi dengan cara lain, dan justru dalam kekacauan itulah mereka menemukan peluang untuk membentuk ulang kawasan sesuai dengan cetak biru hegemonik mereka?
Turki mungkin akan "memegang bola api itu di tangan mereka dan mendinginkannya di dada mereka." Pakistan mungkin telah mengulurkan tangan untuk membangun negosiasi. PBB mungkin terus melakukan telepon maraton.
Namun tanpa keberanian kolektif untuk menyebut siapa yang sebenarnya menghalangi perdamaian, tanpa keberanian untuk menolak fait accompli yang dipaksakan melalui senjata, maka peringatan Kalin tentang "perang yang akan menelan korban delapan miliar orang" bukan lagi sekadar hipotesis, ia sedang terjadi di depan mata kita.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah eskalasi akan berhenti, tetapi seberapa jauh dunia bersedia terjatuh sebelum akhirnya bangkit untuk berkata: cukup.


Pendukung Setia Kecewa, Sebut Donald Trump 'Pengkhianat' America First

Konflik militer Amerika Serikat terhadap Iran yang berlangsung sejak awal Maret 2026 telah memicu gelombang kritik internal yang signifikan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Eskalasi ini dinilai tidak hanya mengingkari janji kampanye Trump untuk menjaga AS dari keterlibatan konflik baru di Timur Tengah, tetapi juga memperburuk tekanan ekonomi domestik, terutama kenaikan harga bahan bakar minyak yang bertentangan dengan janji menekan inflasi.
Hasil jajak pendapat CBS News terkini menunjukkan tingkat ketidaksetujuan terhadap kinerja Presiden Trump melonjak hingga 60%. Di berbagai wawancara jalanan dan media sosial, sentimen penyesalan dari pemilih yang sebelumnya mendukung Trump kian hari kian terlihat. Bahkan, sejumlah politisi Partai Republik yang selama ini menjadi pilar pendukung administrasi mulai menunjukkan kegelisahan mereka.
Keraguan di Tubuh Partai Republik
Pada awal Maret lalu, Senator Partai Republik John Kennedy sempat menyatakan optimisme dengan pernyataan “Kita sudah menang di Iran.” Namun, seiring berjalannya waktu dan situasi di lapangan yang tidak kunjung mereda, nada optimistis itu mulai luntur. Titik balik terjadi ketika pemerintahan Trump mengajukan permintaan tambahan dana perang sebesar 200 miliar dolar AS, angka yang mengejutkan mengingat konflik baru berlangsung kurang dari sebulan, sebagaimana diberitakan Daily Sabah.
Kennedy kemudian menyatakan tidak akan menyetujui alokasi dana sebesar itu tanpa melalui proses sidang dengar pendapat yang ketat. Senada dengan itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari faksi MAGA (Make America Great Again), Lauren Boebert, secara vokal menentang pendanaan tambahan. Boebert menyampaikan kelelahan atas alokasi dana pajak yang terus mengalir ke kompleks industri militer, sementara warganya di Colorado justru kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Sikap Boebert ini menarik perhatian. Bersama Marjorie Taylor Greene, ia dikenal sebagai figur perempuan paling vokal dalam kubu MAGA. Namun, kebijakan luar negeri Trump yang dinilai terlalu akomodatif terhadap kepentingan Israel, bahkan di atas kepentingan nasional AS, mulai menggoyahkan loyalitas mereka.
Mantan kolonel Angkatan Darat AS dan anggota DPR dari Partai Demokrat, Eugene Vindman, mengungkapkan kepada MSNBC bahwa sejumlah koleganya dari Partai Republik secara pribadi menyatakan pengerahan pasukan darat merupakan garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Pergeseran Sikap Tokoh Pro-Trump
Kritik paling tajam justru muncul dari tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi pendukung setia Trump. Marjorie Taylor Greene, yang pada 2021 gencar mempromosikan gelang "Berdoa untuk Israel", kini secara terbuka mengecam apa yang disebutnya sebagai kekejaman Israel di Palestina. Ia bahkan menulis bahwa “perang dengan Iran adalah perang terakhir Amerika” dan menyoroti bagaimana pihak-pihak pro-perang merayakan gugurnya tentara AS.
Pergeseran serupa terjadi pada Carrie Prejean Boller, mantan Miss California 2009 yang memiliki hubungan dekat dengan Trump. Setelah diangkat dalam Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, Boller justru vokal menyuarakan kritik terhadap genosida di Gaza dan menolak tekanan pejabat yang memintanya mundur. Ia akhirnya diberhentikan setelah pernyataan anti-Zionisnya menuai kecaman dari kelompok pro-Israel. Pemberhentian ini kemudian memicu solidaritas dari tokoh seperti Tucker Carlson dan sejumlah kritikus Israel lainnya.
Komentator politik Candace Owens, yang dulu menjadi ikon sayap kanan, kini secara terang-terangan menyatakan AS sepenuhnya berada di bawah kendali Zionis. Ia menuding Trump hanya menjalankan perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menantu presiden, Jared Kushner. Owens bahkan menyebut militer AS saat ini bekerja untuk kepentingan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Candace Owens adalah aktivis politik konservatif dan komentator media yang dikenal sebagai pendukung kuat gerakan konservatif Amerika, terutama di kalangan generasi muda. Owens sebelumnya aktif dalam organisasi Turning Point USA dan kemudian membangun basis pengaruhnya melalui podcast, media sosial, serta berbagai forum politik. Ia dikenal karena kritik keras terhadap Partai Demokrat, media arus utama, serta kebijakan liberal, dan sempat menjadi salah satu suara yang cukup vokal dalam mendukung agenda konservatif.
Candace Owens juga menunjukkan sikap lebih independen dalam beberapa isu, termasuk kebijakan luar negeri dan strategi politik Trump menjelang pemilu. Ia mengkritik pendekatan politik yang dinilai terlalu bergantung pada konflik politik internal tanpa menawarkan solusi jangka panjang. Owens juga menekankan pentingnya gerakan konservatif yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada satu figur politik, termasuk Trump.
Tucker Carlson, yang pernah memilih Trump dalam pemilu, kini menilai presiden telah mengkhianati prinsip "America First". Dalam wawancara dengan The Economist, Carlson menyampaikan kekecewaannya, sebuah sikap yang dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap opini publik mengingat popularitasnya yang luas di kalangan pemilih konservatif.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh media paling berpengaruh dalam basis pemilih konservatif Amerika. Carlson sering mengangkat isu populisme, anti-intervensi luar negeri, kritik terhadap elite politik Washington, serta skeptisisme terhadap kebijakan globalisasi. Karena pengaruhnya yang besar di kalangan pendukung konservatif, sikap politik Carlson sering dianggap mencerminkan dinamika di dalam basis pendukung Partai Republik.
Tucker Carlson semakin kritis terhadap kemungkinan Trump mengambil kebijakan luar negeri yang dianggap terlalu konfrontatif, terutama terkait konflik geopolitik global. Carlson dikenal sebagai tokoh konservatif yang cenderung mengusung pendekatan non-intervensi, sehingga ia menilai bahwa sebagian kebijakan Trump berpotensi bertentangan dengan prinsip tersebut.
Megyn Kelly, jurnalis yang selama pemilu menjadi pendukung vokal Trump, kini juga berbalik kritis. Ia menyebut perang dengan Iran jelas merupakan perang untuk kepentingan Israel, dan menyesalkan gugurnya tentara AS dalam konflik tersebut. Kelly juga mengungkapkan bahwa mendiang aktivis konservatif Charlie Kirk, sebelum meninggal, sempat mengkritik keras pengaruh Israel terhadap politisi AS.
Sementara itu, komentator sayap kanan Nick Fuentes, yang selama ini dikenal sebagai pendukung Trump, kini menyebut presiden sebagai "pengkhianat" dan mengancam akan beralih mendukung Demokrat pada pemilu 2028 jika Partai Republik mencalonkan tokoh seperti JD Vance atau Marco Rubio.
Perubahan sikap dari tokoh-tokoh berpengaruh ini menggambarkan adanya pergeseran signifikan dalam peta politik domestik AS. Mereka yang sebelumnya menjadi corong propaganda pro-Israel dan pro-perang kini mulai mempertanyakan arah kebijakan luar negeri Trump. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah upaya lobi Zionis yang selama ini menggelontorkan dana besar untuk mempertahankan pengaruh mereka.
Bagi Trump, yang tengah menjalani masa jabatan terakhir, reputasi jangka panjang mungkin bukan lagi prioritas utama. Namun, bagi publik Amerika dan struktur politik yang selama ini terbangun atas dukungan koalisi konservatif, perang ini telah membuka keretakan yang tidak mudah diperbaiki. Citra Israel di mata masyarakat AS, terutama di kalangan konservatif, kini berada pada titik terendah, sementara perlawanan terhadap kebijakan luar negeri yang dinilai mengorbankan kepentingan nasional terus menguat.

Rahasia Gelap Militer Israel Bocor, Pasien Gangguan Jiwa Dipaksa Terjun ke Medan Perang

Sejumlah kantor berita mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi personel militer Israel di tengah eskalasi perang. Menurut laporan tersebut, ratusan prajurit yang mengalami gangguan psikologis berat, termasuk PTSD (gangguan stres pasca-trauma), dipanggil kembali untuk bertugas meski masih menjalani perawatan rehabilitasi.
Banyak di antara mereka belum sempat diperiksa oleh komite medis resmi, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. Akibat tekanan dan ancaman dari komandan, sebagian besar akhirnya menyerah dan kembali mengenakan seragam militer meski masih dihantui trauma yang dalam.
Beberapa komandan bahkan mengancam akan menjerat mereka dengan tuduhan desersi jika menolak panggilan tugas. Pendekatan serupa juga diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri, sebagaimana diberitakan Haaretz dan al Mayadeen.
Sejak pecahnya perang dengan Iran, Haaretz menerima lebih dari 20 laporan serupa. Baru setelah ada intervensi pihak militer pada kasus-kasus tertentu, perintah penugasan tersebut dicabut. Kondisi ini mencerminkan betapa daruratnya kekurangan personel militer Israel, hingga pasien gangguan kejiwaan pun tak luput dari panggilan perang.
Di saat yang sama, Gerakan Ansar Allah Yaman (Houthi) kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari. Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari “Perang Jihad Suci” dan menargetkan sasaran militer di wilayah Palestina selatan yang diduduki.
Saree menegaskan bahwa Houthi akan melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.
Sementara itu, pengungsi Palestina generasi ketiga sekaligus profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, Ghada Ageel, menyampaikan solidaritas mendalam kepada rakyat Iran. Dalam opininya di Al Jazeera (28 Maret 2026), ia menilai tragedi yang kini menimpa Iran mencerminkan penderitaan panjang yang dialami rakyat Palestina sejak Nakba hingga kehancuran Gaza.
Ageel menekankan bahwa rakyat Iran tidak menginginkan pergantian penindasan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. Mereka menolak intervensi asing yang hanya menggantikan bentuk dominasi lama dengan yang baru.
 “Kebebasan orang lain sama sekali bukan agenda Barat, terlepas dari retorika publiknya. Imperialisme semacam ini tidak menginginkan kebebasan; ia menginginkan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan,” tulisnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perang tidak pernah selektif. Bom tidak pandang bulu, dan kehancuran selalu menimpa warga sipil. Ageel menyoroti pola serangan Israel yang serupa antara Gaza dan Iran, termasuk penargetan infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan ruang publik, serta taktik “serangan ganda” yang menyasar tim penyelamat. Menurutnya, strategi ini bukan sekadar menghancurkan fisik, melainkan juga menyebarkan teror psikologis untuk mematahkan semangat masyarakat.
Bagi Ageel, Gaza telah menjadi “laboratorium” bagi strategi militer Israel yang kini meluas ke wilayah lain, termasuk Iran dan Lebanon. Ia memperingatkan bahwa jika pola kekerasan ini terus berlanjut, kawasan Timur Tengah berisiko mengalami kehancuran berkepanjangan, tanpa ruang aman bagi warganya.
Dengan mengutip puisi Mahmoud Darwish, Ageel mengingatkan akan harga mahal kehilangan tanah dan masa depan akibat siklus kekerasan yang tak kunjung usai.
Sutradara film legendaris Iran, ‘Children of Heaven’, Majid Majidi, menilai Teheran saat ini berada pada posisi simbolis bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia, di tengah operasi gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel.
“Hari ini, Republik Islam Iran mewakili semua orang tertindas dan teraniaya di dunia, berdiri menghadapi rezim Israel dan melawan kebijakan hegemonik pemerintah Amerika Serikat,” kata sutradara tersebut melalui pernyataan tertulisnya.
Majidi menggambarkan perang yang yang berlangsung bukan sekadar konflik militer, melainkan perang antara kebenaran dan kebatilan yang dampaknya dirasakan hingga ke masyarakat sipil.
Dia mengatakan garis depan konflik kini tidak hanya berada di medan tempur, melainkan rumah-rumah penduduk, rumah sakit, hingga sekolah anak-anak ikut menjadi bagian dari realitas perang, tempat masyarakat tidak tidak lagi memiliki tempat berlindung selain harapan.
Di tengah tekanan dan kekerasan, Majidi menilai rakyat Iran tetap menunjukkan keteguhan. Dia mengatakan perlawanan terlihat dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para pemimpin hingga anak-anak sekolah dasar yang menurutnya ikut merasakan dampak situasi.
 “Terlepas dari semua kekerasan dan tekanan, rakyat Iran tetap berdiri tegak, mulai dari para pemimpinnya hingga anak-anak sekolah dasar yang tidak berdosa. Mereka semua adalah bagian dari narasi perlawanan suatu bangsa yang mau tidak tunduk pada tekanan,” ucap Majidi.
Majidi juga menyinggung keterlibatan kekuatan besar dunia di kawasan Timur Tengah. Ia menilai sejumlah negara berupaya mengubah peta geopolitik wilayah itu demi menguasai sumber daya serta memperluas pengaruh politik.
Namun demikian, dia mengemukakan bahwa perlawanan masyarakat Iran menunjukkan bahwa kehendak suatu bangsa dapat menahan kekuatan besar sekalipun.
Majidi meyakini sejarah akan mencatat bahwa tekad, persatuan, dan solidaritas mampu menahan kekuatan besar.
Dia juga menyerukan peran kalangan intelektual, penulis, dan seniman dunia. Menurutnya, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan manusia dan harus membela kebenaran serta martabat manusia melalui seni dan pemikiran.
“Hari ini, tanggung jawab moral dan kemanusiaan mereka terhadap penindasan dan ketidakadilan menjadi sangat jelas lebih dari sebelumnya,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa simpati terhadap rakyat Iran muncul dari berbagai negara dan meyakini banyak masyarakat dunia memahami bahwa keinginan bangsa Iran adalah kemerdekaan, martabat, serta perlawanan terhadap penindasan.
“Hari ini adalah hari kebangkitan dan kesadaran hati nurani di seluruh dunia, hari ketika orang-orang merdeka berdiri melawan ketidakadilan dan membela martabat manusia,” kata Majidi menutup pesannya.

Israel Serang Markas Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon, Ada yang Gugur


Israel dilaporkan melakukan serangan terhadap pangkalan penjaga perdamaian PBB yang berisi pasukan Indonesia di Lebanon selatan pada Ahad (29/3/2026). Sementara seorang anggota kontingen pasukan perdamaian dilaporkan gugur terkena serpihan rudal.
Pasukan Indonesia diserang di pangkalan di Aadshit al-Qusayr, di distrik Marjayoun, di selatan, lapor Kantor Berita Nasional Lebanon. Penyiar Al Jadeed News melaporkan bahwa ada korban jiwa dan helikopter sedang mengangkut korban luka.
Seorang tentara Indonesia terkonfirmasi gugur dalam serangan ke markas UNIFIL di Lebanon selatan pada Ahad. Sementara satu tentara lainnya dalam kondisi kritis.
Dari informasi yang diperoleh Republika dari Lebanon, jenazah anggota TNI yang gugur belum dievakuasi dan masih berada di pos UNIFIL di Marjayoun, Lebanon. Sementara seorang yang terluka disebut dalam kondisi kritis. Yang bersangkutan dirawat di RS St George Beirut.
Belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI terkait informasi ini. Namun Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah mengonfirmasi gugurnya tentara Indonesia.  Tiga prajurit lainnya juga mengalami luka-luka dalam serangan itu.
“Indonesia mengecam sangat keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan atas peristiwa tersebut,” begitu kata Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang kepada Republika di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Ia menyatakan belum ada kepastian pihak militer mana yang melakukan penyerangan tersebut. “Serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia yang berada di dekat Adchit al-Qusayr,” begitu kata Yvonne.
Dari laporan yang diterima, peristiwa itu terjadi di tengah pertempuran antara pasukan bersenjata di kawasan Lebanon selatan, dengan militer penjajah Zionis Israel. Meski begitu, kata Yvonne serangan artileri tidak langsung yang mengenai prajurit perdamaian dari Indonesia itu tetap tak dapat diterima
Kandice Ardiel, juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), telah mengkonfirmasi bahwa beberapa penjaga perdamaian terluka setelah ledakan di posisi PBB di Lebanon selatan.
“Sebuah proyektil meledak malam ini di lokasi UNIFIL dekat Adshit al-Qusayr, mengakibatkan sejumlah penjaga perdamaian terluka,” kata Ardiel seperti dikutip Kantor Berita Nasional Lebanon.
Ia kemudian mengatakan bahwa insiden itu menewaskan seorang tentara. "Seorang penjaga perdamaian gugur secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” katanya, seraya menambahkan bahwa seorang lainnya “terluka parah”.
"Kami tidak mengetahui asal muasal proyektil tersebut. Kami telah melakukan penyelidikan untuk mengetahui semua keadaannya."
Insiden ini menggarisbawahi meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditempatkan di Lebanon selatan, wilayah yang berulang kali mengalami konflik antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata. UNIFIL, yang didirikan untuk memantau gencatan senjata di sepanjang Jalur Biru, beranggotakan kontingen dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan.
Pada 6 Maret, angkatan bersenjata Ghana mengatakan markas besar batalion penjaga perdamaian PBB di Lebanon terkena serangan rudal, menyebabkan dua tentara terluka parah. Militer Israel kemudian mengakui bahwa tembakan tanknya telah mengenai posisi PBB di Lebanon selatan pada hari itu, melukai pasukan penjaga perdamaian Ghana.
“Sekali lagi, kami menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB setiap saat, termasuk dengan menahan diri dari tindakan yang dapat membahayakan pasukan penjaga perdamaian,” kata UNIFIL.
Dari sekitar 20 insiden penembakan sejauh ini yang tercatat sejak 28 Februari, juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengatakan kepada ABC News bahwa penghitungan awal menemukan bahwa sekitar 60 persen tidak diketahui asal usulnya, 25 persen disebabkan oleh IDF dan 15 persen disebabkan oleh aktor non-negara di pihak Lebanon – yang “kemungkinan besar” adalah Hizbullah.
Empat pasukan penjaga perdamaian UNIFIL sejauh ini terluka dalam dua insiden terpisah, kata Ardiel. Tiga di antaranya luka ringan dan satu luka parah. Penjaga perdamaian yang menderita luka parah kini dalam kondisi stabil, katanya.
UNIFIL belum menetapkan tanggung jawab atas kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut, tambah Ardiel. Namun, IDF telah mengakui tanggung jawab atas satu insiden, ketika mereka mengatakan bahwa pada tanggal 6 Maret sebuah tank Israel secara keliru menembaki posisi UNIFIL, sehingga melukai pasukan penjaga perdamaian Ghana.
Hizbullah tidak diketahui mengaku bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan UNIFIL.
Ardiel memuji tindakan pengamanan UNIFIL atas relatif rendahnya jumlah korban hingga saat ini. Bahkan markas besar pasukan di kota pesisir Naqoura, katanya, “telah terkena peluru, pecahan peluru, pecahan proyektil yang dicegat.”
Pada hari Senin, markas besar tersebut juga dihantam oleh "sebuah roket yang ditembakkan oleh aktor non-negara -- kemungkinan besar Hizbullah," kata Ardiel.
UNIFIL pertama kali dikerahkan ke Lebanon pada tahun 1978, bertugas memantau gencatan senjata yang mengakhiri serangan Israel ke bagian selatan negara tersebut.
Sejak tahun 2006, UNIFIL ditugaskan untuk memantau penghentian permusuhan lintas batas setelah konflik besar antara IDF dan Hizbullah dan mendukung rencana – namun pada akhirnya tidak terealisasi – penarikan Hizbullah dari wilayah tersebut dan penempatan kembali militer Lebanon sebagai gantinya. Rencana itu ditetapkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701.
Ini bukan pertama kalinya pasukan Indonesia di Lebanon terkena serangan. Kejadian serupa pernah juga terjadi pada 2024 lalu, di tengah gencarnya upaya Hizbullah menekan Israel menghentikan genosida di Gaza.
Dua prajurit TNI kala itu menjadi sasaran tembak militer Israel saat berjaga di Naqoura, Lebanon, Kamis, 10 Oktober 2024. Pusat Penerangan TNI, melansir, kedua prajurit itu adalah Pratu Marinir Eggy Arifiyanto dan Praka Nofrian Syah Putra.
Meski dalam pernyataan resminya, UNIFIL tidak menyebutkan negara asal dua prajuritnya yang menjadi sasaran tembak Israel. UNIFIL menyebut luka akibat serangan itu tidak serius, dan dua prajuritnya yang terluka itu masih di rumah sakit untuk menjalani perawatan.
“Dua prajurit pasukan perdamaian terluka setelah tank Merkava IDF menembak ke arah menara pengamatan di Markas UNIFIL di Naqoura. Serangan itu menargetkan menara pengamatan dan mengakibatkan dua prajurit itu jatuh. Luka-luka yang mereka terima kali ini tidak fatal, tetapi mereka saat ini masih dirawat di RS,” demikian siaran resmi UNIFIL.
Lebih dari 1.000 prajurit TNI saat ini tersebar di beberapa daerah di Lebanon untuk melaksanakan misi perdamaian bersama UNIFIL.
Mereka bertugas di berbagai satuan UNIFIL, di antaranya Maritime Task Force (MTF), Satgas Batalyon Mekanis TNI (INDOBATT), Satgas Pendukung Markas/Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Satgas Indo Force Protection Company (FPC), Satgas Koordinasi Sipil-Militer/Civilian Military Coordination (CIMIC) TNI, Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), dan Satgas Level 2 Hospital.
Sebagian besar prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL beroperasi di darat, sedangkan Satgas MTF menjalankan tugasnya di lautan.
Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengumumkan perluasan invasinya ke Lebanon selatan, dengan mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk  memperluas apa yang disebut “zona penyangga” dan berjanji untuk mengubah situasi keamanan di sana secara mendasar.
"Saya baru saja menginstruksikan untuk lebih memperluas zona penyangga keamanan yang ada. Kami bertekad untuk mengubah situasi di utara secara mendasar," kata Netanyahu dalam pernyataan video dari Komando Utara.
Penjahat perang buronan Mahkamah Pidana Internasional itu mengatakan keputusan tersebut bertujuan untuk memperkuat postur keamanan Israel di sepanjang perbatasan utara selama ketegangan yang sedang berlangsung di sepanjang perbatasan utara Israel, di mana perang lintas batas telah menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi regional yang lebih luas.
Sejak akhir Maret 2026, serangan udara dan pemboman Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.100 hingga 1.200 orang, termasuk sedikitnya 121 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon dan laporan lainnya. Agresi Israel yang semakin intensif telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, dan lebih dari 3.400 orang terluka.
Situasi ini digambarkan oleh para ahli PBB sebagai potensi “bencana kemanusiaan”, dengan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Serangan telah melanda wilayah yang luas, termasuk di Lebanon selatan, di mana banyak keluarga terbunuh dalam serangan tersebut.

Ini Penampakan Pesawat Andalan AS yang Dirudal Iran di Pangkalan Saudi


Serangan Iran yang melukai pasukan AS di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi juga merusak beberapa pesawat. Belakangan beredar foto-foto bahwa serangan itu kemungkinan besar menghancurkan sebuah pesawat Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS.
The Wall Street Journal melansir, serangan sekitar 96 kilometer selatan ibu kota Riyadh pada dini hari tanggal 27 Maret dikatakan melibatkan serangan presisi terkoordinasi yang melibatkan setidaknya satu rudal balistik Iran dan beberapa drone penyerang. Menurut laporan, sekitar 10 hingga 12 anggota militer Amerika terluka dalam serangan itu, dengan setidaknya dua orang dalam kondisi serius.
Pangkalan tersebut, yang merupakan lokasi operasi utama Angkatan Udara AS selama serangan ke Iran, telah jadi sasaran serangan belasan beberapa kali sejak awal perang dimulai AS-Israel sebulan lalu. Awal pekan ini, 14 orang lainnya terluka dalam serangan dan serangan rudal di pangkalan pada 1 Maret membunuh satu prajurit.
Serangan pada hari Jumat menghantam instalasi yang menampung pasukan dan juga menyebabkan kerusakan signifikan pada pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker AS yang penting untuk mempertahankan operasi udara jarak jauh AS dan Israel serta E 3 Sentry AWACS, salah satu platform komando dan kontrol terpenting dalam inventaris AS.
Serangan itu meninggalkan jejak kehancuran yang jelas di seluruh instalasi yang terlihat pada citra satelit dan foto yang dibagikan ke media sosial. Setidaknya dua foto menunjukkan bagian belakang badan pesawat E-3 terbakar, dan kubah radar hancur di landasan sebelah pesawat.
Data pelacakan menunjukkan pesawat yang hancur itu bernomor ekor 81-0005, sebuah E-3G Sentry yang ditugaskan di Sayap Kontrol Udara ke-552 di Pangkalan Angkatan Udara Tinker di Oklahoma.
Hancurnya AWACS Sentry E 3 membawa konsekuensi strategis yang jauh melampaui kehancuran fisik satu badan pesawat karena menurunkan kemampuan untuk mendeteksi ancaman musuh yang datang dan mengoordinasikan respons pembalasan apapun.
E 3 Sentry adalah pesawat Boeing 707 yang dimodifikasi Sistem Peringatan dan Kontrol Lintas Udara, yang dapat langsung dikenali dari kubah radar berputar besar yang dipasang di atas badan pesawatnya. Radarnya menyediakan pengawasan 360 derajat dalam radius 250 mil, memungkinkannya mendeteksi peluncuran pesawat, drone, dan rudal sekaligus mengoordinasikan pasukan sekutu.
Pesawat ini telah banyak digunakan dalam operasi militer sejak tahun 1970-an, termasuk Operasi Badai Gurun, Kosovo, perang di Irak dan Afghanistan serta selama Operasi Inherent Resolve melawan ISIS. Angkatan Udara AS memiliki sekitar 30 pesawat E-3 Sentry, dan Boeing telah mengirimkan pesawat terakhir pada tahun 1992.
Namun karena pesawat tersebut kesulitan mempertahankan kesiapan, Angkatan Udara AS telah mengurangi armadanya hampir setengahnya menjadi 16 pesawat. Dari jumlah tersebut, enam dikirim ke Timur Tengah menjelang perang.
Kehilangan E 3 selama kampanye bertempo tinggi akan mengurangi kemampuan koalisi dalam mengelola wilayah udara, merespons peluncuran rudal Iran, dan menyinkronkan paket serangan yang kompleks.
“Hilangnya E-3 ini sangat problematis, mengingat betapa pentingnya para manajer pertempuran ini dalam segala hal mulai dari dekonfliksi wilayah udara, dekonfliksi pesawat, penargetan, dan memberikan efek mematikan lainnya yang dibutuhkan seluruh pasukan untuk ruang pertempuran,” Heather Penney, mantan pilot F-16 dan direktur studi dan penelitian di Mitchell Institute for Aerospace Studies AFA mengatakan kepada majalah Air and Space Forces.
“Nilai dari E-3 dan manajeri pertempurannya adalah mereka melihat gambaran besarnya,” katanya. “Mereka adalah pemain catur, sedangkan pilot pesawat tempur adalah pionnya.”
Kolonel Angkatan Udara John 'JV' Venable mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa hancurnya pesawat itu 'masalah besar' karena jumlah E-3G terbatas dan tidak dapat diganti. “Hal ini merugikan kemampuan AS untuk melihat apa yang terjadi di Teluk dan menjaga kesadaran situasional,” katanya.
Hancurnya pesawat itu juga jadi bukti penargetan canggih Iran. Militer Iran tidak hanya menyerang pangkalan, namun secara presisi menyerang pesawat tertentu yang bernilai tinggi, termasuk tanker pengisi bahan bakar dan AWACS.
Iran dikatakan menerima dukungan intelijen eksternal dari sekutunya seperti China dan Rusia untuk kemampuan pengawasan tingkat lanjut guna menargetkan instalasi-instalasi penting di Teluk.
Akurasi serangan tersebut menunjukkan bahwa Iran memiliki akses terhadap informasi intelijen berkualitas tinggi dan tepat waktu mengenai posisi pesawat dan pola operasional di Pangkalan Udara Prince Sultan yang juga menampung F-15E Strike Eagles, F-35A Lightning, F-16 Fighting Falcon, dan banyak lagi.


 

 

Share this Post