News Komoditi & Global ( Selasa, 17 Februari 2026 )
News Komoditi & Global ( Selasa, 17 Februari 2026 )
Harga Emas Global Tergelincir saat Dolar AS Rebound dalam Perdagangan yang Tipis
Harga Emas terjun hampir 1% dalam sesi perdagangan dengan likuiditas tipis pada hari Senin karena pasar AS tutup untuk memperingati Hari Presiden, sementara perayaan tahun baru Tiongkok akan membuat pasar tutup selama lebih dari seminggu. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di $4.992 setelah mencapai level tertinggi harian $5.054.
Sentimen pasar tetap positif, didorong oleh spekulasi yang berkembang bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga setidaknya dua kali tahun ini. Faktor-faktor seperti laporan Nonfarm Payrolls yang solid di AS minggu lalu dan data inflasi yang jinak mendorong para investor untuk memprakirakan pelonggaran 60 basis poin menjelang akhir tahun.
Kembalinya Greenback mendorong harga Bullion lebih rendah. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang enam mata uang, naik 0,22% di atas ambang 97,00.
Pada hari Jumat, imbal hasil obligasi Pemerintah AS merosot tajam saat investor tampak yakin dengan penurunan suku bunga di AS. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun merosot lima basis poin, menjadi 4,05%, setelah mencapai level tinggi 4,125%.
Sementara itu, Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, bersikap hawkish, mengatakan bahwa dia masih melihat inflasi jasa cukup tinggi, dan menambahkan bahwa dia berharap kita telah melihat puncak dampak dari tarif.
Goolsbee mengomentari bahwa suku bunga masih bisa turun, tetapi dia perlu melihat kemajuan pada inflasi.
Pasar uang memprakirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan 18 Maret, menurut data Prime Market Terminal.
Selain itu, Rusia dan Ukraina akan mengadakan perundingan di Jenewa pada 17 Februari. Kremlin mengatakan bahwa wilayah tersebut adalah salah satu isu utama yang akan dibahas.
Financial Times melaporkan bahwa Iran meluncurkan latihan angkatan laut saat ketegangan dengan AS meningkat. Latihan Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz dilakukan sehari sebelum perundingan antara Teheran dan Washington dimulai.
Harga Minyak Dunia Naik Menjelang Pembicaraan Nuklir AS-Iran
Harga minyak sedikit naik pada Senin (16/2/2026) karena investor mempertimbangkan implikasi pasar dari pembicaraan AS-Iran yang bertujuan untuk meredakan ketegangan di tengah perkiraan peningkatan pasokan OPEC+.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 90 sen, atau 1,33%, menjadi US$ 68,65 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di US$ 63,75 per barel, naik 86 sen, atau 1,37% pada pukul 14.14 EST (GMT 1914).
Kekhawatiran akan gangguan pasokan akibat ketegangan AS-Iran telah membantu menjaga harga minyak tetap stabil, kata Tamas Varga, seorang analis di PVM.
Libur Tahun Baru Imlek yang akan datang di China, Korea Selatan, dan Taiwan juga meredam perdagangan. Kedua patokan harga minyak mencatatkan penurunan mingguan pekan lalu, dengan Brent turun sekitar 0,5% dan WTI turun 1%, setelah komentar dari Presiden AS Donald Trump bahwa Washington dapat mencapai kesepakatan dengan Teheran dalam sebulan mendatang.
Kedua negara dijadwalkan untuk mengadakan putaran kedua pembicaraan di Jenewa pada hari Selasa mengenai program nuklir Teheran. Menjelang pembicaraan dengan Washington, yang dimediasi oleh Oman, menteri luar negeri Iran bertemu dengan kepala Badan Energi Atom Internasional, pengawas nuklir PBB, pada hari Senin.
Seorang diplomat Iran mengatakan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan nuklir dengan AS yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak, dengan investasi energi dan pertambangan serta pembelian pesawat terbang yang akan dibahas.
Namun, AS sedang mempersiapkan kemungkinan kampanye militer berkelanjutan jika pembicaraan tidak berhasil, demikian kata para pejabat AS kepada Reuters. Garda Revolusi Iran telah memperingatkan bahwa jika terjadi serangan di wilayah Iran, mereka dapat membalas terhadap pangkalan militer AS mana pun.
"Meningkatnya ketegangan Iran dapat mendorong harga Brent hingga US$ 80 per barel. Menurunnya ketegangan akan menurunkannya kembali ke $60 per barel," kata analis SEB dalam sebuah catatan.
Sementara ketegangan AS-Iran mendorong harga minyak naik, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya—yang disebut OPEC+—menekan kenaikan tersebut dengan cenderung mengambil keputusan pada pertemuan 1 Maret mereka untuk melanjutkan peningkatan produksi mulai April setelah penghentian selama tiga bulan.
Harga minyak juga didukung oleh impor minyak mentah China yang terus kuat dan oleh beberapa gangguan dalam ekspor minyak, kata Giovanni Staunovo, seorang analis minyak di UBS.
Impor minyak Rusia oleh China diperkirakan akan meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut pada bulan Februari, mencapai rekor baru, setelah India memangkas pembelian menyusul tekanan AS, menurut para pedagang dan data pelacakan kapal.
Israel Bunuh 11 Orang di Gaza Jelang Pertemuan BoP
Setidaknya 11 warga Palestina syahid di Jalur Gaza dalam serangan terbaru Israel sejak Ahad. Serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran gencatan senjata terkini menjelang pertemuan Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP) di Washington pekan ini.
Pasukan Israel menargetkan tenda-tenda yang menampung orang-orang di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara pada Ahad, menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, sumber rumah sakit mengatakan kepada Aljazirah.
Setidaknya lima orang lainnya syahid dalam serangan Israel di sebelah barat Khan Younis di selatan Jalur Gaza. Sedangkan Sami al-Dahdouh, seorang komandan sayap bersenjata Jihad Islam Palestina (PIJ), gugur dalam serangan Israel di lingkungan Tal al-Hawa di timur Kota Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengutuk serangan Israel sebagai “pembantaian baru” dan “eskalasi kriminal”. Dia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan “upaya yang jelas untuk memaksakan kenyataan berdarah di lapangan dan mengirimkan pesan bahwa semua upaya dan badan yang peduli untuk menciptakan ketenangan di Gaza tidak ada artinya, dan bahwa pendudukan terus melanjutkan agresinya meskipun semua pihak berbicara tentang perlunya mematuhi perjanjian gencatan senjata”.
Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 600 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.600 lainnya sejak “gencatan senjata” antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat dan Qatar mulai berlaku pada 10 Oktober. Gencatan itu merupakan bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang genosida Israel selama dua tahun terhadap warga Palestina di Gaza.
Israel telah melanggar “gencatan senjata” setidaknya 1.620 kali sejak 10 Oktober 2025 hingga 10 Februari 2026, menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza. Israel juga menuduh Hamas melanggar perjanjian tersebut. Mereka melaporkan empat tentara tewas diserang pejuang.
Serangan terbaru ini terjadi ketika Trump mengumumkan bahwa pertemuan pertama “Dewan Perdamaian” yang baru dibentuknya akan berlangsung pada hari Kamis di Washington, DC. Trump menulis dalam sebuah postingan di Truth Social pada Ahad bahwa para anggotanya telah menjanjikan lebih dari 5 miliar dolar AS untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang, dan menyerahkan “ribuan personel ke Pasukan Stabilisasi Internasional dan Polisi Lokal untuk menjaga Keamanan dan Perdamaian bagi warga Gaza.”
AS telah meminta negara-negara untuk membayar 1 miliar dolar AS untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, yang menunjukkan lima negara mungkin telah berjanji untuk melakukannya.
"Ada laporan bahwa Uni Emirat Arab adalah negara pertama yang mengambil langkah maju dalam janji senilai miliaran dolar ini. Ada juga laporan bahwa Kuwait mungkin akan ikut serta. Masih ada tiga negara lain yang tampaknya belum mengumumkannya kepada publik," tulis koresponden Aljazirah.
Tidak jelas berapa banyak dari 20 anggota dewan yang akan hadir pada pertemuan tersebut. Awalnya dianggap sebagai mekanisme untuk mengakhiri perang Gaza, dewan direksi Trump telah terbentuk dengan ambisinya untuk mendapatkan mandat yang lebih luas untuk menyelesaikan konflik di seluruh dunia, yang tampaknya merupakan upaya AS untuk mengabaikan PBB. Beberapa sekutu utama AS telah menolak untuk bergabung dalam dewan tersebut.
Trump juga mengatakan dalam postingannya bahwa “Hamas harus menjunjung tinggi komitmennya terhadap Demiliterisasi Penuh dan Segera”. Qassem dari Hamas meminta Dewan Perdamaian untuk menekan Israel agar berhenti melanggar gencatan senjata dan “memaksanya untuk melaksanakan apa yang telah disepakati tanpa penundaan atau manipulasi”.
Polisi Israel Tangkap Imam Masjid Al Aqsa di Halaman Masjid
Polisi pendudukan Israel pada Senin (16/2) malam menangkap Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Mohammad Ali Al-Abbasi di halaman masjid di Yerusalem yang diduduki. Demikian menurut sumber setempat.
Penangkapan itu terjadi di tengah meningkatnya aksi otoritas pendudukan yang menargetkan Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam.
Aksi itu mencakup pembatasan terhadap para imam masjid, penceramah, dan al-Murabitin atau mereka kerap hadir di masjid. Zionis membatasi akses masuk jamaah, serta mendorong 'serangan' pemukim Yahudi ke Al-Aqsa yang dikawal ketat oleh polisi Israel.
Wilayah Yerusalem yang diduduki, khususnya Kota Tua dan daerah-daerah di sekitar Masjid Al-Aqsa, mengalami eskalasi situasi keamanan akibat langkah-langkah pengamanan ketat yang diberlakukan otoritas Israel, termasuk penahanan dan pembatasan terhadap tokoh agama dan aktivis lokal.
Tidak hanya di Al-Aqsa, Yerusalem, Israel juga meningkatkan tekanannya di Tepi Barat. Pemerintah Arab Saudi mengecam keras keputusan otoritas pendudukan Israel yang mengubah lahan di Tepi Barat menjadi apa yang disebut sebagai “properti negara” yang berafiliasi dengan otoritas pendudukan.
Dalam pernyataan yang dikutip dari Saudi Gazette, Selasa (17/2/2026), Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari rencana untuk memberlakukan realitas hukum dan administratif baru di wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Menurut mereka, kebijakan itu berpotensi melemahkan berbagai upaya yang sedang berlangsung untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Pemerintah Saudi kembali menegaskan bahwa tidak ada kedaulatan Israel atas wilayah Palestina yang diduduki. Kerajaan juga menyatakan penolakan mutlak terhadap tindakan yang mereka nilai sebagai langkah ilegal tersebut.
Dalam pernyataan itu ditegaskan bahwa kebijakan Israel merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Selain itu, langkah tersebut dinilai merusak prospek solusi dua negara serta mengancam hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka dan berdaulat di perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Jelang Perundingan Nuklir, Menlu Iran Akan Bertemu Badan Energi Atom Internasional
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi akan bertemu dengan direktur badan pengawas nuklir PBB pada Senin (16/2/2026), sehari sebelum putaran kedua pembicaraan nuklir Amerika Serikat (AS)-Iran di Jenewa.
Iran dan AS memperbarui negosiasi awal bulan ini untuk mengatasi perselisihan mereka yang telah berlangsung selama beberapa dekade mengenai program nuklir Teheran dan mencegah konfrontasi militer baru karena kapal perang AS, termasuk kapal induk kedua, dikerahkan ke wilayah tersebut.
"Saya berada di Jenewa dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam pembahasan: penyerahan diri di hadapan ancaman," kata Araqchi di X seperti dilansir Reuters, Senin (16/2/2026).
Sementara Washington berupaya memperluas cakupan pembicaraan ke isu-isu non-nuklir seperti persediaan rudal Iran, Teheran mengatakan bahwa mereka hanya bersedia membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan tidak akan menerima pengayaan uranium nol.
Sebelum AS bergabung dengan Israel dalam menyerang situs nuklir Iran pada bulan Juni, pembicaraan nuklir Iran-AS telah terhenti karena tuntutan Washington agar Teheran menghentikan pengayaan di wilayahnya, yang dipandang AS sebagai jalan menuju senjata nuklir Iran.
Iran menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil dan siap meredakan kekhawatiran terkait senjata nuklir dengan "membangun kepercayaan bahwa pengayaan uranium adalah dan akan tetap untuk tujuan damai."
Araqchi mengatakan ia akan bertemu dengan kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada hari Senin didampingi oleh para ahli nuklir untuk diskusi teknis mendalam.
IAEA telah meminta Iran selama berbulan-bulan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada persediaan uranium yang sangat diperkaya sebanyak 440 kg setelah serangan Israel-AS dan mengizinkan inspeksi dilanjutkan sepenuhnya, termasuk di tiga lokasi utama yang dibom pada bulan Juni: Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Meskipun Iran mengizinkan badan pengawas nuklir PBB untuk memeriksa fasilitas nuklir yang dinyatakan tidak menjadi sasaran pada Juni lalu, Iran mengatakan bahwa IAEA harus mengklarifikasi pendiriannya mengenai serangan AS dan Israel dan menambahkan bahwa lokasi yang dibom tidak aman untuk inspeksi.
IAEA dan Iran mengumumkan kesepakatan pada bulan September di Kairo yang seharusnya membuka jalan menuju inspeksi dan verifikasi penuh, tetapi Teheran membatalkan kesepakatan tersebut setelah negara-negara Barat memberlakukan kembali sanksi PBB terhadap Iran.
Jelang Negosiasi Nuklir AS-Iran, Angkatan Laut Iran Latihan Militer di Selat Hormuz
Angkatan laut Garda Revolusi Iran menggelar latihan di Selat Hormuz pada Senin (16/2/2026). Latihan militer ini digelar sehari sebelum dimulainya kembali negosiasi nuklir Iran-Amerika Serikat (AS).
Kantor berita semi-resmi Tasnim seperti dikutip Reuters melaporkan, latihan militer yang diberi nama "Kontrol Cerdas Selat Hormuz" ini bertujuan untuk menguji kesiapan pasukan operasional dalam menghadapi kemungkinan ancaman keamanan dan militer.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi akan bertemu dengan direktur badan pengawas nuklir PBB pada Senin (16/2/2026), sehari sebelum putaran kedua pembicaraan nuklir AS-Iran di Jenewa.
Iran dan AS memperbarui negosiasi awal bulan ini untuk mengatasi perselisihan mereka yang telah berlangsung selama beberapa dekade mengenai program nuklir Teheran dan mencegah konfrontasi militer baru karena kapal perang AS, termasuk kapal induk kedua, dikerahkan ke wilayah tersebut.
"Saya berada di Jenewa dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam pembahasan: penyerahan diri di hadapan ancaman," kata Araqchi di X seperti dilansir Reuters, Senin (16/2/2026).
Sementara Washington berupaya memperluas cakupan pembicaraan ke isu-isu non-nuklir seperti persediaan rudal Iran, Teheran mengatakan bahwa mereka hanya bersedia membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan tidak akan menerima pengayaan uranium nol.
Sebelum AS bergabung dengan Israel dalam menyerang situs nuklir Iran pada bulan Juni, pembicaraan nuklir Iran-AS telah terhenti karena tuntutan Washington agar Teheran menghentikan pengayaan di wilayahnya, yang dipandang AS sebagai jalan menuju senjata nuklir Iran.
Iran menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil dan siap meredakan kekhawatiran terkait senjata nuklir dengan "membangun kepercayaan bahwa pengayaan uranium adalah dan akan tetap untuk tujuan damai."
Araqchi mengatakan ia akan bertemu dengan kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada hari Senin didampingi oleh para ahli nuklir untuk diskusi teknis mendalam.
IAEA telah meminta Iran selama berbulan-bulan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada persediaan uranium yang sangat diperkaya sebanyak 440 kg setelah serangan Israel-AS dan mengizinkan inspeksi dilanjutkan sepenuhnya, termasuk di tiga lokasi utama yang dibom pada bulan Juni: Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Meskipun Iran mengizinkan badan pengawas nuklir PBB untuk memeriksa fasilitas nuklir yang dinyatakan tidak menjadi sasaran pada Juni lalu, Iran mengatakan bahwa IAEA harus mengklarifikasi pendiriannya mengenai serangan AS dan Israel dan menambahkan bahwa lokasi yang dibom tidak aman untuk inspeksi.
IAEA dan Iran mengumumkan kesepakatan pada bulan September di Kairo yang seharusnya membuka jalan menuju inspeksi dan verifikasi penuh, tetapi Teheran membatalkan kesepakatan tersebut setelah negara-negara Barat memberlakukan kembali sanksi PBB terhadap Iran.
Ekonomi Jepang: Pertumbuhan 0,2% Picu Ketakutan Resesi Baru
Ekonomi Jepang menutup tahun dengan napas pendek. Pemerintah melaporkan produk domestik bruto (PDB) Negeri Sakura hanya tumbuh 0,2% secara tahunan pada kuartal terakhir, sementara sepanjang 2025 pertumbuhan tercatat 1,1%.
Data awal yang disesuaikan secara musiman menunjukkan, konsumsi swasta pada Oktober–Desember memang naik 0,4% secara tahunan. Namun, dorongan belanja rumah tangga itu tak cukup kuat menahan tekanan dari sisi eksternal. Ekspor justru turun 1,1%, mencerminkan rapuhnya mesin utama ekonomi Jepang yang selama ini bergantung pada pasar luar negeri.
Kinerja ini menegaskan ekonomi Jepang masih berjalan di jalur lambat. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan memang cenderung datar, dan tekanan tarif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mengguncang sektor perdagangan.
Dalam laporan Associated Press (16/2) melaporkan, Perdana Menteri Sanae Takaichi yang baru meraih kemenangan telak dalam pemilu, dihadapkan pada pekerjaan rumah besar untuk memulihkan momentum. Ia berjanji akan meningkatkan belanja pemerintah dan menangguhkan pajak penjualan untuk bahan makanan, sebagai bagian dari upaya mendorong daya beli dan menopang pertumbuhan.
Sebelumnya, ekonomi Jepang sempat terkontraksi 0,7% secara kuartalan pada Juli–September, setelah tumbuh 0,5% pada kuartal sebelumnya. Dengan pertumbuhan tipis 0,1% pada Oktober–Desember, Jepang hanya selangkah dari resesi teknis yang didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi.
Meski pertumbuhan 1,1% sepanjang 2025 menjadi yang tercepat sejak 2022 periode pemulihan dari dampak pandemi angka tersebut tetap tergolong rendah untuk ukuran ekonomi maju. Pemerintah pun memproyeksikan pertumbuhan rata-rata hanya sekitar 0,6% dalam waktu dekat.
Artinya, tanpa reformasi struktural dan dorongan investasi yang lebih agresif, ekonomi Jepang berisiko terjebak dalam pertumbuhan rendah berkepanjangan.
Saham Raksasa Teknologi Tergelincir, Miliaran Dolar Menguap
Saham-saham teknologi paling bernilai di dunia sedang tidak baik-baik saja. Setelah bertahun-tahun menikmati lonjakan tajam, tahun ini valuasi mereka tergerus signifikan.
Penyebab utamanya: kekhawatiran investor bahwa belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI) belum tentu menghasilkan imbal balik yang sepadan.
Melansir Reuters, saham Microsoft tercatat turun sekitar 17% sejak awal tahun. Investor mulai mempertanyakan prospek bisnis AI perusahaan tersebut, apalagi persaingan makin ketat dari model Gemini milik Google serta agen AI Claude dari Anthropic. Akibatnya, kapitalisasi pasar Microsoft menyusut sekitar US$ 613 miliar dan kini berada di kisaran US$ 2,98 triliun per Jumat lalu.
Saham Amazon juga tak luput dari tekanan. Sahamnya melemah sekitar 13,85% sepanjang tahun ini, menghapus sekitar US$ 343 miliar dari nilai pasarnya. Kini valuasi Amazon berada di sekitar US$ 2,13 triliun. Padahal, awal bulan ini perusahaan mengumumkan rencana peningkatan belanja modal lebih dari 50% tahun ini, sebagian besar untuk mendukung ekspansi AI dan infrastruktur cloud.
Nasib serupa dialami Nvidia, Apple, dan Alphabet. Sejak awal 2026, nilai pasar Nvidia turun sekitar US$ 89,67 miliar, Apple terkoreksi US$ 256,44 miliar, dan Alphabet kehilangan sekitar US$ 87,96 miliar.
Meski masih mencatat valuasi fantastis, masing-masing sekitar US$ 4,44 triliun, US$ 3,76 triliun, dan US$ 3,7 triliun, tekanan ini menunjukkan sentimen pasar yang mulai berubah.
Analis melihat fenomena ini sebagai pergeseran psikologi investor. Jika sebelumnya pasar cenderung “menghadiahi” ambisi jangka panjang di sektor AI, kini fokus beralih pada kejelasan laba dalam jangka pendek. Euforia spekulatif mulai digantikan sikap lebih selektif dan realistis.
Menariknya, tidak semua perusahaan terdampak negatif. TSMC, Samsung Electronics, dan Walmart justru mencatat kenaikan nilai pasar dalam periode yang sama. Kapitalisasi TSMC bertambah sekitar US$ 293,89 miliar menjadi US$ 1,58 triliun. Samsung naik sekitar US$ 272,88 miliar ke US$ 817 miliar, sementara Walmart bertambah US$ 179,17 miliar menjadi sekitar US$ 1,07 triliun.
Pergerakan ini memperlihatkan rotasi dana investor ke saham yang dinilai lebih defensif atau memiliki visibilitas kinerja yang lebih jelas. Di tengah ketidakpastian hasil investasi AI, pasar tampaknya mulai menuntut bukti nyata, bukan sekadar janji pertumbuhan masa depan.
Harga Diyakini Bakal Naik, Hedge Fund Global Memburu Saham-Saham Asia
Dana lindung nilai global membeli saham dalam jumlah besar dari pasar negara maju dan berkembang di Asia pada pekan hingga Jumat, 13 Februari 2026. Ini terungkap dari catatan klien Goldman Sachs yang dilihat Reuters pada Senin (16/2/2026).
Para hedge fund bertaruh bahwa harga saham akan naik, terutama di pasar negara berkembang di Asia. Indeks saham dunia jatuh tajam pada Jumat (13/2/2026), karena investor meningkatkan aksi jual saham teknologi sebagai respons terhadap kekhawatiran tentang investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan dan dampaknya yang disruptif.
Namun, selama seminggu, beberapa pasar saham di Asia mencatatkan keuntungan mingguan yang positif. Indeks saham Nikkei Jepang dan Taiwan sama-sama naik sekitar 5%, sementara Kospi Korea naik lebih dari 8% selama perdagangan minggu lalu.
Dana lindung nilai memfokuskan perdagangan bullish mereka pada Korea, Taiwan, dan Tiongkok, tetapi Goldman Sachs tidak memberikan penjelasan apa pun untuk preferensi tersebut.
Terdapat "penjualan moderat" di India, tulis Goldman Sachs tersebut dalam catatan yang diedarkan kepada klien pada hari Jumat.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa hedge fund membeli saham di pasar negara maju dan berkembang di seluruh Asia, di sebagian besar sektor. Termasuk real estat, perusahaan teknologi, industri, dan saham barang konsumsi non-esensial, tetapi tidak di sektor keuangan.
Eksposur terhadap saham Asia berada pada level tertinggi setidaknya sejak tahun 2016, menurut catatan Goldman Sachs tersebut.
Zelenskiy Peringatkan Serangan Baru Rusia Menjelang Pembicaraan Perdamaian Jenewa
Presiden Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa intelijen Ukraina menunjukkan lebih banyak serangan Rusia terhadap target energi akan terjadi dan bahwa serangan tersebut mempersulit tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
"Laporan intelijen menunjukkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan besar-besaran lebih lanjut terhadap infrastruktur energi sehingga perlu dipastikan bahwa semua sistem pertahanan udara dikonfigurasi dengan benar," kata Zelenskiy dalam pidato video malamnya seperti dilansir Reuters, Selasa (17/2/2026).
Delegasi Ukraina, Rusia, dan Amerika berkumpul di kota Jenewa, Swiss, untuk putaran ketiga pembicaraan yang dimediasi AS pada hari Selasa, yang untuk pertama kalinya berfokus pada pertanyaan paling pelik dalam perang — nasib wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.
Zelenskiy mengatakan serangan Rusia terus berkembang dan menggunakan kombinasi senjata, termasuk drone dan rudal, yang membutuhkan "pertahanan dan dukungan khusus dari mitra kami".
"Rusia tidak dapat menahan godaan 'hari-hari terakhir musim dingin yang dingin' dan ingin menyerang Ukraina dengan menyakitkan," katanya.
"Mitra harus memahami ini. Pertama dan terutama, ini menyangkut Amerika Serikat."
Reuters tidak dapat segera menghubungi pejabat Rusia untuk dimintai komentar.
Kepala delegasi Ukraina, Rustem Umerov, mengatakan di Telegram bahwa timnya "sudah berada di Jenewa dan menantikan "kerja sama yang konstruktif dan pertemuan substantif mengenai masalah keamanan dan kemanusiaan".
Moskow menginginkan Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas. Kremlin mengkonfirmasi bahwa Vladimir Medinsky, ajudan Presiden Vladimir Putin, akan memimpin delegasi Rusia.
"Kali ini, idenya adalah untuk membahas berbagai isu yang lebih luas, termasuk, pada kenyataannya, isu-isu utama. Isu-isu utama menyangkut wilayah dan segala sesuatu yang terkait dengan tuntutan yang telah kami ajukan," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan.
Dua putaran pembicaraan sebelumnya yang didukung AS di Uni Emirat Arab menghasilkan pertukaran tahanan, tetapi tidak ada terobosan menuju penyelesaian.
Panasonic Mengincar India sebagai Pasar AC Global Teratas dalam Tujuh Tahun
Panasonic memperkirakan India akan menjadi pasar pendingin udara atawa air conditioner terbesarnya secara global dalam tujuh tahun ke depan, kata seorang eksekutif kepada Reuters pada hari Jumat (13/2/2026).
Di mana, Panasonic mengandalkan permintaan yang meningkat pesat di India.
Perkiraan industri menunjukkan hanya sepersepuluh rumah tangga di India yang memiliki AC, dibandingkan dengan dua pertiga di China dan sepertiga di Thailand, bahkan ketika negara terpadat di dunia ini sering bergulat dengan gelombang panas.
"Pasar AC ruangan di India sudah menjadi nomor 2 bagi kami secara global," kata Abhishek Verma, kepala pemasaran dan perencanaan produk di bisnis pemanas, ventilasi, dan pendingin udara serta rantai dingin Panasonic di India.
"Mungkin dalam jangka waktu lima hingga tujuh tahun, kami akan menjadi pasar nomor 1 bagi kami secara global."
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, Panasonic, yang saat ini sebagian besar mengirimkan produknya ke pasar Asia Tenggara, berencana untuk menggandakan kapasitas produksinya menjadi dua juta unit pada tahun fiskal 2028.
Perusahaan ini juga berupaya untuk memperluas ekspor dari India, kata Verma, menambahkan bahwa Panasonic "berusaha mengembangkan negara ini menjadi pusat ekspor."
Ia tidak mengungkapkan besaran investasinya.
Beberapa merek global, termasuk Apple dan Nike, telah meningkatkan produksi mereka di India karena mereka ingin mendiversifikasi rantai pasokan mereka dan negara tersebut menawarkan kebijakan yang lebih ramah bisnis dan tenaga kerja murah.
Panasonic memiliki pangsa pasar 6,7% dari pasar AC ruangan India yang hampir mencapai US$ 5 miliar pada tahun fiskal 2025.
Perusahaan ini bertujuan untuk meningkatkan angka tersebut menjadi 8% pada tahun kalender 2026, kata Verma, sehari setelah perusahaan meluncurkan 57 model baru, termasuk model dengan fitur pemurnian udara yang dirancang untuk mengatasi tingkat polusi yang semakin buruk di negara tersebut.
Voltas dari Tata Group, pemimpin pasar AC India dengan pangsa pasar hampir 18%, optimistis tentang musim panas yang akan datang, bertaruh pada pembeli pertama kali untuk mendorong pertumbuhan pendapatan dua digit.
Panasonic menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 55% dalam bisnis AC-nya untuk periode Januari-Juni, bulan-bulan puncak musim panas di India, didorong oleh penurunan permintaan tahun lalu dan rencananya untuk meningkatkan pengeluaran pemasaran sebesar 2,5 hingga tiga kali lipat tahun ini, menurut Verma.
Pasar China Libur, Harga Tembaga dan Aluminium Turun
Harga tembaga di Bursa Logam London (LME) turun pada Senin (16/2/2026). Sementara, harga aluminium memperpanjang koreksi untuk sesi ketiga berturut-turut karena perdagangan tipis karena pasar China tengah libur sehingga membebani harga.
Bursa Berjangka Shanghai ditutup untuk liburan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada 15 Februari dan perdagangan akan dilanjutkan pada 24 Februari.
Senin (16/2/2026), harga tembaga acuan tiga bulan di Bursa Logam London (LME) turun tipis 0,2% menjadi US$ 12.848,50 per ton pada pukul 06.54 GMT, setelah turun ke level terendah dalam seminggu pada hari Jumat.
"Harga tembaga LME mungkin akan menguji ulang level support di US$ 12.578 per ton metrik minggu ini, dan jika menembus level tersebut, penurunan akan terjadi ke kisaran US$ 11.545-US$ 12.116," kata analis teknikal Reuters Wang Tao, Senin (16/2/2026).
Stok tembaga di tiga bursa logam terbesar di dunia telah melampaui 1 juta metrik ton untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, karena penumpukan persediaan akibat permintaan yang lemah di Tiongkok menambah penimbunan baru-baru ini di Amerika Serikat.
Stok tembaga LME naik 7.225 metrik ton pada Jumat lalu (13/2/2026).
Aktivitas pabrik di Tiongkok melemah pada bulan Januari karena permintaan domestik yang lemah menyeret turun produksi di awal tahun baru, menurut survei resmi pada 31 Januari.
Harga logam lainnya, aluminium sempat naik 0,1% menjadi US$ 3.076, setelah turun ke level terendah dalam satu minggu pada hari Jumat usai adaya laporan bahwa Presiden AS Donald Trump berencana mengurangi beberapa tarif pada barang baja dan aluminium.
"Aluminium LME mungkin akan menguji ulang level support di US$ 3.000 per ton metrik minggu ini, dan penembusan di bawah level tersebut dapat membuka jalan menuju US$ 2.916," tambah Tao.
Sementara, harga nikel LME turun 0,2% menjadi US$ 16.960/ton, level terendah dalam lebih dari seminggu. Stok nikel di bursa juga naik 702 ton.
Pakar Pertahanan Israel Takut Turki dan Mesir Kembangkan Teknologi Nuklir
Ketua Dewan Direksi Rafael Advanced Defence Systems (RADS), Yuval Steinitz, memperingatkan Israel agar mengawasi negara-negara di kawasan seperti Mesir dan Turki agar tak diam-diam mengembangkan senjata nuklir.
Steinitz merupakan tokoh senior di bidang pertahanan serta keamanan Israel. Sedangkan RADS adalah perusahaan pertahanan milik Pemerintah Israel.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, Steinitz mengatakan, Israel sedang mempersiapkan kemungkinan jika seandainya perundingan Amerika Serikat (AS) dengan Iran terkait program nuklir milik Teheran menghadapi kebuntuan. Namun Steinitz menekankan apa yang disebutnya sebagai risiko regional yang lebih luas.
"Negara seperti Israel harus mengkhawatirkan segala hal, dan kita harus memantau dengan cermat negara-negara lain di Timur Tengah, seperti Mesir dan Turki, untuk memastikan mereka tidak secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir," kata Steinitz, seperti dikutip laman Middle East Monitor, Senin (16/2/2025).
Steinitz tak memungkiri bahwa Israel akan merasa sangat terancam jika Iran memiliki senjata nuklir. "Saya lebih memilih hidup di bawah ancaman 10 ribu rudal balistik daripada di bawah ancaman satu bom nuklir,” ujarnya, merujuk pada Iran.
Kendati demikian, Steinitz mengatakan bahwa sistem pertahanan udara berlapis Israel siap mencegat setiap serangan.
Dia pun berharap AS memainkan peran operasional lebih besar dalam konflik di masa depan, dengan menunjuk pada pangkalan udara AS di dekat Iran dan kapal induk yang dapat membantu menargetkan sistem rudal.
Steinitz diangkat sebagai ketua dewan direksi RADS dua tahun lalu. Dia adalah seorang veteran di bidang pertahanan Israel. Ia menjabat sebagai anggota Knesset dan menteri selama lebih dari dua dekade.
Steinitz sempat memegang posisi-posisi kunci, termasuk menteri intelijen, menteri urusan strategis, ketua Komite Luar Negeri dan Pertahanan, serta ketua Subkomite Intelijen dan Dinas Rahasia.