News Komoditi & Global ( Senin, 30 Maret 2026 )
News Komoditi & Global
( Senin, 30 Maret 2026 )
Harga Emas Global Melemah di Tengah Kekhawatiran Meluasnya Konflik Iran
Harga Emas (XAU/USD) dibuka turun lebih dari 1% ke sekitar $4.445,00 pada hari Senin, saat harga minyak rally lebih lanjut karena kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. Harga Minyak WTI naik hampir 3% di atas $102,50 pada perdagangan pembukaan, meningkatkan kekhawatiran terhadap ekspektasi inflasi lebih tinggi secara global.
Secara teoritis, percepatan ekspektasi inflasi global memaksa bank-bank sentral untuk mempertahankan suku bunga stabil dalam jangka waktu lebih lama atau mengetatkan kondisi moneter, yang mengurangi permintaan aset-aset yang tidak berimbal hasil, seperti Emas.
Kekhawatiran eskalasi lebih lanjut dalam perang Timur Tengah dipicu oleh ekspektasi bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan invasi darat ke Iran. Pada hari Kamis, laporan dari Wall Street Journal (WSJ) menunjukkan bahwa Pentagon AS akan mengirim tambahan 10.000 pasukan ke Iran.
Menanggapi hal ini, Brigadir Jenderal Iran, Ebrahim Zolfaqari, memperingatkan di televisi negara Iran bahwa "pasukan AS akan menjadi makanan yang baik bagi hiu-hiu di Teluk Persia".
Sementara itu, laporan dari Reuters menunjukkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, tetap yakin, saat diwawancarai oleh Financial Times (FT), bahwa Washington dapat segera mencapai kesepakatan dengan Iran. "Perundingan tidak langsung melalui utusan berjalan dengan baik," kata Trump, dan menambahkan, "Kesepakatan bisa dibuat dengan cukup cepat."
Harga Minyak Dunia Naik Awal Pekan Ini, Imbas Kekhawatiran Meluasnya Konflik Timur Tengah
Harga minyak kembali melonjak pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026). Mengutip Bloomberg, pukul 05.55 WIB, Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 102,48 per barel, naik 2,85% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 99,64 per barel.
Sedangkan Harga Brent melonjak lebih dari 3% ke level US$ 116,43 per barel setelah serangan Houthi menembakkan rudal di Israel selama akhir pekan.
Harga minyak kembali naik setelah militan Houthi yang didukung Iran di Yaman memasuki perang Timur Tengah dan lebih banyak pasukan AS tiba di wilayah tersebut. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan menyebabkan kekacauan yang lebih besar di pasar energi.
Pelabuhan Arab Saudi Yanbu, yang digunakan negara itu untuk mengekspor Sebagian minyaknya setelah Selat Hormuz ditutup, juga berada dalam jangkauan rudal Houthi.
"Ancaman dari Houthi terhadap infrastruktur dan ekspor minyak Saudi melalui jalur Laut Merah sama seperti menolak operasi bypass yang berhasil menghentikan serangan jantung penuh akibat penutupan Selat Hormuz," kata Mukesh Sahdev, kepala eksekutif XAnalysts Pty seperti dikutip Bloomberg.
Keterlibatan Houthi membawa risiko baru bagi pasar minyak mentah. Kelompok ini secara efektif menutup Laut Merah bagi Sebagian besar pengirim barang Barat setelah perang di Gaza dimulai tahun 2023, membuat kapal-kapal kargo mengubah rute.
Ancaman terhadap kargo yang dimuat melalui Yanbu di Arab Saudi akan semakin membatasi pasokan.
Pekan lalu, Macquarie Group Ltd memperkirakan bahwa Harga minyak berjangka kemungkinan akan mencapai US$ 200 per barel jika konflik berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap ditutup dalam skenario dengan peluang 40%.
Ancaman Pangan Dunia Mengintai, Jika Konflik Timur Tengah Tak Segera Berakhir
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan jika konflik di Timur Tengah yang memengaruhi Selat Hormuz berakhir segera, dampaknya terhadap pasar komoditas global akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk stabil.
Seperti dikutip Anadolu Agency, Kepala Ekonom FAO Maximo Torero menyebut, jika konflik berhenti hari ini, akan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk menstabilkan biaya.
Konflik di Timur Tengah telah memicu salah satu gangguan paling cepat dan parah terhadap aliran komoditas global dalam beberapa waktu terakhir. Dalam beberapa hari, lalu lintas melalui Selat Hormuz anjlok hingga 90%, sementara rute tersebut biasanya mengangkut 20 juta barel minyak per hari.
"Itu 35% dari minyak mentah, bersama dengan seperlima dari gas alam LNG dunia, dan hingga 30% dari perdagangan pupuk internasional," katanya.
Menurutnya, jika semuanya diselesaikan dalam dua minggu ke depan, pasar akan menyerapnya, dan itu akan meminimalkan potensi risiko kerawanan pangan di dunia pada musim tanam berikutnya, atau potensi risiko dampak ekonomi.
"Jika krisis ini berlanjut selama tiga hingga enam bulan, maka tidak hanya pada sektor ketahanan pangan, tetapi tentu saja, energi akan berdampak pada semua sektor lain dan input lainnya," tambahnya.
Torero juga menyoroti kerentanan negara-negara yang sangat bergantung pada kiriman uang dari pekerja Teluk, menyebut Nepal, Yordania, Lebanon, Pakistan, Mesir, dan Sri Lanka sebagai negara-negara di mana sebagian besar PDB dapat berisiko.
Ia lebih lanjut menyebut Turki dan Yordania sebagai negara-negara yang sangat berisiko karena kalender tanaman mereka dan "ketergantungan impor," dengan Lebanon juga menghadapi kesulitan yang semakin besar.
Iia menekankan bahwa pasokan pangan dunia masih cukup jika konflik berakhir dalam satu atau dua minggu ke depan. "Tetapi kita harus realistis; jika ini berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama, situasinya akan sangat mengkhawatirkan," katanya.
Di samping konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut, Torero memperingatkan tentang kombinasi faktor yang berpotensi menimbulkan bencana jika El Nino terjadi saat konflik berlanjut.
"Jika El Nino terjadi dan kuat, maka kombinasi faktor-faktor tersebut, efek iklim, ditambah dengan meningkatnya biaya input, akan memperburuk situasi secara signifikan," katanya.
OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2027
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mempertahankan perkiraan pertumbuhan global tahun 2026 tidak berubah pada 2,9% tetapi merevisi turun prospek tahun 2027 menjadi 3% pada hari Kamis (26/3). Ini karena ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasokan.
Seperti dikutip Anadolu Agency, dalam laporan Prospek Ekonomi sementara yang berjudul Menguji Ketahanan, OECD mengatakan pengiriman komoditas energi yang hampir terhenti melalui Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi regional telah memicu kenaikan harga yang tajam, mengganggu pasokan komoditas utama, dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Organisasi tersebut mengatakan cakupan dan durasi ketegangan tetap "sangat tidak pasti," memperingatkan bahwa harga energi yang terus tinggi akan meningkatkan biaya bisnis dan menambah tekanan inflasi.
Meskipun mempertahankan perkiraan tahun 2026, OECD mengatakan proyeksi tersebut masih menunjukkan perlambatan yang signifikan dari pertumbuhan global 3,3% pada tahun 2025.
OECD mengatakan inflasi di seluruh negara G20 diperkirakan mencapai 4% tahun ini, 1,2 poin persentase di atas perkiraan sebelumnya, sebelum mereda menjadi 2,7% pada tahun 2027, seiring dengan meredanya tekanan harga energi secara bertahap.
OECD memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap ekspor dari Timur Tengah dapat mendorong harga energi lebih tinggi dari yang diperkirakan, memperdalam kendala pasokan komoditas utama, meningkatkan inflasi lebih lanjut, dan semakin membebani pertumbuhan global.
AS Tuduh SMIC Kirim Teknologi Chip ke Militer Iran, Ketegangan dengan China Memanas
Perusahaan semikonduktor terbesar China, Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), dilaporkan telah memasok peralatan pembuatan chip kepada militer Iran.
Hal ini diungkap oleh dua pejabat senior pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sehingga memunculkan pertanyaan terkait posisi Beijing dalam konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah.
Menurut sumber tersebut sebagaimana dilansir dari Reuters Kamis (26/3/2026), SMIC yang selama ini telah dikenai berbagai sanksi oleh pemerintah AS karena dugaan keterkaitannya dengan militer China, mulai mengirimkan peralatan tersebut ke Iran sejak sekitar satu tahun lalu.
“Kami tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa aktivitas ini telah berhenti,” ujar salah satu pejabat yang enggan disebutkan namanya.
Lebih lanjut, kerja sama tersebut disebut kemungkinan besar juga mencakup pelatihan teknis terkait teknologi semikonduktor milik SMIC.
Namun, belum dapat dipastikan apakah peralatan yang dikirimkan tersebut berasal dari teknologi Amerika Serikat, yang jika benar dapat melanggar sanksi yang berlaku terhadap Iran.
Hingga kini, pihak SMIC, Kedutaan Besar China di Washington, serta perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
Pemerintah China sendiri selama ini menegaskan bahwa hubungan dagangnya dengan Iran merupakan kerja sama komersial biasa.
SMIC juga sebelumnya membantah memiliki keterkaitan dengan kompleks industri militer China.
Isu ini berpotensi memperkeruh hubungan antara Washington dan Beijing, di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, AS juga tengah berupaya membatasi perkembangan industri semikonduktor China melalui berbagai kebijakan pembatasan ekspor teknologi.
Sebelumnya, laporan Reuters menyebut Iran juga tengah mendekati kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah anti-kapal, seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Belum diketahui secara pasti peran peralatan semikonduktor tersebut dalam respons Iran terhadap konflik, yang telah mengguncang pasar keuangan global, mendorong lonjakan harga minyak, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Pemerintah AS sendiri terus memperketat pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi China, termasuk SMIC, guna membatasi akses mereka terhadap peralatan chip canggih dari perusahaan-perusahaan Amerika seperti Lam Research, KLA, dan Applied Materials.
Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran, Klaim Negosiasi Berjalan Baik
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga April 2026, di tengah klaim bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik berjalan positif.
Melansir Reuters Jumat (27/3/2026), Trump menyebut proses negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik”, meskipun pihak Teheran menilai proposal damai dari Amerika Serikat bersifat sepihak dan tidak adil.
Perang yang telah berlangsung hampir empat pekan ini telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, menewaskan ribuan orang dan mengguncang perekonomian global.
Lonjakan harga energi akibat konflik tersebut juga memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.
Sebelumnya, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, setelah perundingan terkait program nuklir Teheran gagal mencapai kesepakatan.
Dalam pernyataannya, Trump sempat mengancam akan meningkatkan tekanan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.
Namun, ia kemudian mengumumkan penangguhan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April 2026.
“Pembicaraan masih berlangsung dan berjalan sangat baik, meskipun ada pernyataan yang menyesatkan,” ujar Trump melalui akun media sosialnya.
Meski demikian, Iran menegaskan tidak sedang melakukan negosiasi langsung dengan Washington.
Seorang pejabat Iran menyebut proposal 15 poin dari AS hanya mengakomodasi kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah klaim kemajuan diplomasi, situasi di lapangan masih memanas. Iran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara Teluk.
Konflik ini juga berdampak besar terhadap jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan tersebut telah mendorong harga minyak naik sekitar 40%, sementara harga gas alam cair (LNG) dan pupuk berbasis nitrogen juga melonjak tajam.
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan ke Timur Tengah guna memperkuat opsi militer.
Pentagon juga mengonfirmasi penggunaan kapal cepat tanpa awak (drone speedboats) dalam operasi di kawasan tersebut.
Trump kembali menegaskan bahwa AS akan meningkatkan tekanan jika Iran tidak memenuhi tuntutan, termasuk membuka kembali jalur Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.
Sementara itu, Iran tetap pada posisinya dengan menuntut jaminan tidak ada serangan lanjutan, kompensasi atas kerugian, serta keterlibatan pihak lain dalam kesepakatan gencatan senjata.
Di tengah ketegangan tersebut, serangan rudal dan drone masih terus terjadi di berbagai titik, termasuk di Tel Aviv dan sejumlah wilayah di Iran, menandakan bahwa jalan menuju perdamaian masih penuh ketidakpastian.
Perang Memanas, Dolar Jadi Raja: Pasar Abaikan Sinyal Damai
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Jumat (27/3/2026), seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Melansir Reuters, penguatan dolar terjadi setelah pasar kembali diliputi ketidakpastian, menyusul perbedaan pernyataan antara pemerintah AS dan Iran terkait perkembangan diplomasi untuk meredakan konflik.
Presiden AS Donald Trump memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga April, namun prospek deeskalasi dinilai masih belum jelas.
Di sisi lain, laporan bahwa Pentagon mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah semakin menekan sentimen pasar dan meredam harapan berakhirnya konflik dalam waktu dekat.
Kondisi ini mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset lindung nilai. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) juga meningkat, seiring tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi yang diperkirakan berlangsung lebih lama.
Sementara itu, mata uang lain cenderung tertekan. Yen Jepang berada di kisaran 159,61 per dolar AS, mendekati level psikologis 160. Euro turun tipis 0,03% ke posisi US$1,1525, sedangkan poundsterling melemah 0,05% ke US$1,3325.
“Konflik ini tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Selama kondisi ini berlangsung, dolar akan tetap menjadi pilihan utama,” ujar Carol Kong, analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia.
Mata uang yang sensitif terhadap risiko juga mengalami tekanan. Dolar Australia turun ke level terendah dalam dua bulan di US$0,68722, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,15% ke US$0,5754, mendekati posisi terendah sejak Januari.
Secara keseluruhan, indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama naik tipis ke level 99,93 dan berada di jalur kenaikan sekitar 2,3% sepanjang bulan ini, yang akan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 46% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan penurunan suku bunga sebelum konflik terjadi.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS relatif stabil setelah mengalami lonjakan tajam.
Yield obligasi tenor dua tahun berada di level 3,98%, sementara yield tenor 10 tahun sedikit turun ke 4,41%.
Analis Capital Economics menilai, gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan memicu siklus pengetatan moneter yang lebih luas, bahkan meningkatkan risiko resesi global.
Ancaman Konflik Iran: Dunia Terguncang, Rusia Justru Panen Cuan dari Minyak
Rusia memperoleh sekitar US$ 760 juta per hari dari ekspor minyak karena perang di Iran mendorong kenaikan harga minyak mentah global dan meningkatkan permintaan minyak Rusia.
Laporkan The Telegraph pada hari Kamis (26/3), mengutip data dari Institut Sekolah Ekonomi Kyiv (KSE) seperti dikutip Anadolu Agency, menyebut, penjualan minyak dan gas Rusia diperkirakan akan hampir berlipat ganda bulan ini, naik dari sekitar US$ 12 miliar menjadi hampir US$ 24 miliar, karena Moskow mendapat keuntungan dari harga yang lebih tinggi dan pengecualian sementara sanksi AS.
Bahkan jika konflik berakhir dalam beberapa minggu mendatang, pendapatan ekspor minyak dan gas tahunan Rusia diproyeksikan mencapai US$ 218,5 miliar tahun ini, naik 63% dari skenario di mana pasokan energi Timur Tengah tetap tidak terganggu, kata KSE. Itu akan menghasilkan tambahan pendapatan tak terduga sebesar US$ 84 miliar.
Jika konflik berlanjut selama enam bulan lagi, pendapatan tahunan dapat meningkat menjadi US$ 386,5 miliar, hampir 188% di atas perkiraan sebelum krisis, menurut proyeksi yang sama.
Pada pertemuan Kremlin mengenai isu-isu ekonomi Senin lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan perusahaan minyak dan gas harus menggunakan pendapatan tambahan dari kenaikan harga hidrokarbon untuk mengurangi utang mereka kepada bank-bank domestik.
Laporan tersebut mengatakan Rusia juga mendapat manfaat dari pengecualian sementara sanksi AS yang mencakup beberapa kargo minyak yang sudah dimuat ke kapal tanker, sehingga mengurangi risiko transaksi bagi pembeli.
Para analis mengatakan minyak Rusia sebelumnya dijual dengan diskon besar karena sanksi meningkatkan biaya hukum, keuangan, dan logistik. Tetapi pengecualian tersebut memungkinkan Moskow untuk memasarkan beberapa minyak mentah dengan harga yang lebih mendekati harga pasar terbuka.
Harga minyak global telah melonjak sejak konflik di Iran dimulai, dengan minyak mentah Brent naik sekitar 40% menjadi sekitar US$ 105 per barel. Harga minyak Rusia bahkan meningkat lebih cepat, menurut perkiraan KSE.
Yuan China Dekati Level Terendah 3 Minggu, Didorong Permintaan Aman ke Dolar
Yuan China melemah mendekati level terendah tiga minggu terhadap dolar AS pada Jumat (27/3/2026), dan berpotensi mengalami penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong investor mencari aset aman dan menekan mata uang non-dolar.
Melansir Reuters, dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, investor beralih ke mode aversi risiko.
Indeks Nasdaq turun lebih dari 2% semalam, menegaskan bahwa indeks ini sedang berada di wilayah koreksi, sementara harga Brent crude menembus $105 per barel, mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di pasar global.
Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga April, sambil menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan “sangat baik”. Namun, pejabat Iran menolak usulan AS tersebut, menyebutnya “sepihak dan tidak adil”.
“Stabilitas kembali menjadi prioritas utama dalam kebijakan nilai tukar Bank Rakyat China (PBOC), menurut pandangan kami,” kata analis Citi dalam catatan.
“Ketidakpastian global meningkat dengan konflik ini, harga minyak, dolar AS, dan variabel lainnya… Kondisi yang tinggi ini bisa membuat PBOC kembali fokus pada stabilitas, sebagaimana terjadi saat guncangan tarif tahun lalu.”
Bank sentral China telah menahan kurs tengah harian di sekitar level 6,9 per dolar sepanjang bulan ini, mengambil pendekatan “tunggu dan lihat” seiring perkembangan ketidakpastian eksternal.
Sebelum pembukaan pasar Jumat, PBOC menetapkan kurs tengah pada 6,9141 per dolar, terlemah sejak 9 Maret dan 52 pips lebih rendah dari perkiraan Reuters sebesar 6,9089.
Di pasar spot, yuan onshore sempat menyentuh titik terendah 6,9163 per dolar, terlemah sejak 9 Maret, sebelum diperdagangkan pada 6,9133 per 0255 GMT.
Jika menutup sesi malam di level tersebut, yuan akan mencatat penurunan sekitar 0,12% terhadap dolar sepanjang minggu, menandai minggu kedua berturut-turut melemah. Yuan offshore tercatat diperdagangkan di 6,9175 per dolar.
Meski sedikit melemah, yuan tetap menjadi salah satu mata uang pasar berkembang dengan kinerja terbaik sejak perang Timur Tengah pecah akhir Februari.
Namun, analis dan pedagang memperkirakan permintaan musiman untuk valuta asing akan segera menekan yuan, seiring perusahaan China yang terdaftar di luar negeri mulai menukar mata uang untuk membayar dividen kepada pemegang saham.
Secara tradisional, yuan cenderung melemah dari April hingga Agustus, menurut catatan analis China Construction Bank, terutama karena meningkatnya pembelian valuta asing oleh perusahaan dan rumah tangga, yang tercermin dari defisit perdagangan jasa yang melebar, seiring musim liburan musim panas.
Selain itu, pelaku pasar mencermati pertumbuhan laba industri China yang kuat di awal tahun dan akan menunggu data aktivitas manufaktur Maret yang dijadwalkan rilis Selasa depan untuk melihat dampak perang Timur Tengah terhadap ekonomi secara lebih luas.
Iran tak Mempan Digertak, Trump Kembali Perpanjang Tunda Penyerangan Fasilitas Listrik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memundurkan batas waktu serangan terhadap jaringan listrik Iran menjadi 6 April. Ia beralasan ini terkait kemajuan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, hal yang sejauh ini terus disangkal Iran.
Pengumuman pada Kamis waktu AS ini muncul ketika presiden terus menekan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur air penting untuk lalu lintas minyak. “Sesuai permintaan Pemerintah Iran, pernyataan ini mewakili bahwa saya menghentikan sementara periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 Waktu Bagian Timur,” tulis Trump dalam postingan Truth Social.
“Pembicaraan sedang berlangsung dan, meskipun ada pernyataan keliru yang disampaikan oleh Media Berita Palsu, dan lainnya, semuanya berjalan dengan baik.”
Postingan tersebut menandai penundaan terbaru yang diumumkan Trump sejak ia pertama kali mengancam sistem energi Iran. Pada Ahad, Trump mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam. Dia menulis bahwa dia akan menyerang pembangkit listrik, “MULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU”.
Ancaman itu tak digubris Iran yang justru mengultimatum balik akan menyerang fasilitas energi dan penyulingan air di negara Teluk sekutu AS.
Dalam pernyataan terkini, Trump mengatakan dia menunda mengambil tindakan potensial karena pembicaraan yang bertujuan untuk mengakhiri konflik berjalan “sangat baik.” Faktanya Iran terus secara terbuka bersikeras bahwa mereka tidak melakukan negosiasi dengan Gedung Putih mengenai proposal 15 poin – yang disampaikan oleh perantara Pakistan – untuk mengakhiri perang.
“Mereka meminta waktu tujuh (hari),” kata Trump dalam acara “The Five” di Fox News Channel tak lama setelah dia mengumumkan di media sosial bahwa dia akan memberi Iran waktu hingga 6 April untuk membuka kembali selat tersebut. “Dan saya berkata, 'Saya akan memberi Anda 10 hari.'”
Selepas ancaman Iran, pada Senin, Trump mengatakan akan menunda serangan selama lima hari lagi berdasarkan “percakapan yang baik dan produktif” yang dibantah oleh Iran.
Penundaan pada hari Kamis adalah yang kedua kalinya. Pemerintahan Trump kerap melontarkan pernyataan kontradiktif mengenai arah perang, yang dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran hampir sebulan lalu, pada 28 Februari. Namun dengan sengaja menargetkan pasokan listrik Iran dapat meningkatkan kritik terhadap kampanye militer secara keseluruhan.
Para ahli hukum telah menggambarkan serangan awal terhadap Iran sebagai tindakan agresi yang tidak beralasan. Sementara itu, menghancurkan atau merusak infrastruktur sipil dapat dianggap sebagai kejahatan perang berdasarkan Konvensi Jenewa.
Trump mempublikasikan keputusannya tak lama setelah Wall Street ditutup pada hari Kamis, hari yang sulit karena saham-saham AS mencatat kerugian terbesar sejak perang dengan Iran dimulai. S&P 500 turun 1,7 persen, Dow Jones Industrial Average turun 469 poin, atau 1 persen, dan komposit Nasdaq merosot 2,4 persen hingga turun lebih dari 10 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di awal tahun ini.
Trump pertama kali mengancam akan membombardir fasilitas energi Iran pada Sabtu. Dalam ancaman awalnya, dia memberi Teheran waktu 48 jam untuk membuka selat tersebut, yang merupakan titik sempit bagi pasar minyak global. Namun dia mundur pada hari Senin, mengatakan dia akan memberi Iran waktu tambahan lima hari, setelah pasar Asia berfluktuasi. Kemudian, dia kembali melakukan tendangan setelah pasar yang goyah pada hari Kamis.
Ini bukan pertama kalinya Trump terlihat terdesak dalam menyesuaikan kebijakan dalam menghadapi volatilitas pasar. April 2025 lalu, setelah menerapkan tarif baru yang memicu aksi jual terburuk selama dua hari untuk S&P 500 dalam lima tahun, Trump mengumumkan penghentian tarif paling parah selama 90 hari untuk semua negara kecuali China.
Iran secara efektif telah menantang Trump untuk menindaklanjuti ancaman tersebut, dan memperingatkan bahwa Iran akan melakukan pembalasan terhadap infrastruktur penting di wilayah tersebut, termasuk fasilitas desalinasi untuk air minum, jika AS atau Israel menyerang pembangkit listrik mereka.
Iran juga telah memperketat cengkeramannya di selat tersebut, karena berupaya menciptakan sesuatu yang mirip dengan “pintu tol” bagi kapal tanker untuk melewati jalur air sempit tersebut.
Reaksi pasar yang tidak menentu terhadap garis merah yang ditetapkan Trump di selat tersebut telah membuat Gedung Putih kesulitan untuk membentuk narasi perang. Investor global resah mengenai apakah – dan bagaimana – presiden tersebut dapat mengakhiri perang dan membuka kembali jalur perairan penting tersebut, yang dilalui oleh sekitar 20 persen minyak dunia setiap hari.
Bahkan ketika Gedung Putih terus bersikeras bahwa kemajuan telah dicapai dalam menemukan jalan keluar dari konflik ini, Trump terus berupaya untuk memindahkan lebih banyak pasukan ke Timur Tengah.
Pentagon sedang bersiap untuk mengerahkan setidaknya 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat untuk mendukung operasi melawan Iran, Associated Press melaporkan awal pekan ini. Pengerahan ini akan dilakukan setelah sekitar 5.000 Marinir dipindahkan ke Timur Tengah. Jumlah pasukan tersebut melebihi 50.000 tentara AS yang sudah ada di wilayah tersebut.
Peningkatan jumlah Marinir dan tentara ini telah menimbulkan spekulasi bahwa Trump, paling tidak, memposisikan pasukannya untuk melakukan serangan darat terbatas guna mengamankan tepian selat atau merebut Pulau Kharg, yang merupakan bagian penting dari industri minyak Iran.
Pakar pertahanan mengatakan pasukan darat AS pasti bisa merebut Kharg dan membantu mengamankan selat tersebut, namun dampaknya bisa berupa perang gesekan yang mana nyawa orang Amerika dan uang pembayar pajak harus dibayar mahal.
“Ya, kita bisa melakukannya, tapi pertanyaannya adalah apakah kita bisa melakukannya?” kata Mick Mulroy, mantan wakil asisten menteri pertahanan yang sekarang bekerja di Middle East Institute di Washington. "Itu — haruskah kita melakukannya? Dan jalan keluar terbaik adalah melalui diplomasi. Saya tahu ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun diplomasi dan negosiasi hanya akan berhasil jika kedua belah pihak mau berkompromi."
Trump pada Kamis juga mengumumkan bahwa Iran mengizinkan beberapa kapal tanker berbendera Pakistan melewati selat tersebut. Ini adalah sesuatu yang diharapkannya sebagai tanda itikad baik untuk perundingan tersebut.
“Yah, saya rasa kita berurusan dengan orang yang tepat,” kata Trump.
IDF di Ambang Menuju Kolaps, Kepala Staf Eyal Zamir Ungkap Penyebabnya
Kalangan oposisi di Israel menuduh pemerintahan Benjamin Netanyahu sedang membawa negaranya menuju sebuah "bencana keamanan" akibat jumlah tentara yang tidak memadai. Kekuatan sumber daya manusia IDF saat ini dinilai tak akan mampu meladeni serangan dari beberapa front.
"IDF telah menjangkau melebihi batasnya. Pemerintah meninggalkan pasukan yang terluka di medan peran," ujar tokoh oposisi Yair Lapid, dikutip TRT World, Kamis (26/3/2026).
Pernyataan Lapid itu merujuk pada taklimat yang diberikan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir di rapat kabinet yang menyebut pihaknya kekuarangan prajurit di medan perang. Media Israel mengutip Zamir yang mengatakan bahwa "IDF di ambang menuju kolaps".
"Pemerintah mengirim tentara ke perang multi-front tanpa strategi, tanpa cara yang jelas, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit," kata Lapid.
Menurut Lapid, Zamir mengungkap di rapat kabinet bahwa para tentara reservis saat ini melakoni enam sampai tujuh rotasi penugasan. Akibatnya, banyak prajurit yang kelelahan dan tak bisa lagi menghadapi tugas berat mengamankan Israel.
Lapid menyerukan dimulainya perekrutan dari komunitas ultra-Orthodox Haredi community, yang mana sejak berdirinya negara Israel pada 1948, telah dikecualikan dari wajib militer. Berdasarkan aturan, kaum ultra-Orthodox Heredi yang mendedikasikan dirinya untuk mempelajari teks Yahudi diperbolehkan tidak mengikuti wajib militer.
"Pemerintah harus berhenti menjadi pengecut, segera setop semua pendanaan bagi para Heredi yang menghindari wajib militer, rekrut mereka tanpa ragu," kata Lapid.
Mengomentari masalah IDF yang kekurangan tentara, juru bicara Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan, "lebih banyak prajurit perang diperlukan" di front terdepan peperangan, khususnya di Lebanon.
"Di front Lebanon, zona pertahanan yang kami bentuk membutuhkan pasukan tambahan IDF," kata Defrin, sembari menyebut peningkatan kebutuhan prajurit untuk wilayah Tepi Barat, Gaza, dan Suriah.
Dalam rapat kabinet terkahir, Eyal Zamir dilaporkan media Israel mengingatkan bahwa militer Israel akan "kolaps dengan sendirinya," saat mereka menghadapi peningkatan perlawanan dari Hizbullah di Lebanon. "Saya mengibarkan 10 bendera merah sebelum anda," kata Zamir kepada para menteri, menurut laporan Channel 13.
"IDF saat ini butuh undang-undang wajib militer, undang-undang kewajiban penugasan militer, dan undang-undang yang memperpanjang kewajiban penugasan militer," kata Yamir.
"Tak lama lagi, IDF tidak akan siap untuk menjalani misi rutin dan sistem perekrutan tidak akan bisa bertahan."
Israel telah membuka perang multi-front di Timur Tengah dengan menyerang Iran, Lebanon, dan Gaza, dan sesekali mengebom wilayah Suriah. Pada Kamis, dua prajurit IDF tewas dalam misi invasi di selatan Lebanon.
Total, empat prajurit IDF tewas terbunuh. Hizbullah menyatakan, melancarkan serangkaian operasi penyergapan atas pasukan Israel dan menghancurkan beberapa tank Merkava.
Eks Bos M16 Inggris Simpulkan Iran Lebih Unggul Dibanding AS dalam Perang, Ini Kekuatan Teheran
Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan telah memenangkan perang terhadap Republik Islam Iran dinilai sebagai omong kosong.
Mantan Kepala Intelijen Inggris M16 Sir Alexander William Younger mengatakan, hingga saat ini, invansi AS bersama Zionis Israel terhadap Teheran tak membuktikan kemenangan apapun di pihak agresor.
Justru sebaliknya, kata Younger, Iran menunjukkan keunggulan dalam peperangan yang sudah dipersiapkan lama dalam meladeni duo agresor Trump dan Benjamin Netanyahu si penjahat perang.
“Iran lebih unggul,” kata Younger, saat diwawancarai oleh the Economist seperti dikutip dari Ynetnews, Kamis (26/3/2026). “Saya harus mengatakan kesimpulan itu (keunggulan Iran),” ujarnya.
Sir Younger merupakan Kepala M16 sepanjang 2014-2020 di masa pemerintahan tiga perdana menteri di Inggris. Sepak terjangnya di dunia intelijen, asam garam atas kedalaman informasi militer AS, pun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.
Ada banyak faktor yang membuat Younger menarik kesimpulan bahwa Iran memecundangi AS dalam perang kali ini. Namun dari semua faktor keunggulan itu, kata Younger, paling krusial adalah sikap mental dan moralitas menghadapi peperangan ini. “AS terlalu menganggap remeh Iran,” kata Younger.
Iran, kata dia mengambil momentum krusial menghadapi agresi AS-Zionis setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Wali Agung Iran Ali Khamenei pada pembuka invansi 28 Februari 2026 lalu. “Saya tidak bersedih atas kematian Ali Khamenei. Tetapi kenyataannya, Trump (dan Zionis) menganggap remeh atas hal tersebut,” ujar Younger.
Menurut Younger, Iran memang sudah mempersiapkan diri menghadapi peperangan ini sejak Juni 2025 lalu. Tetapi, kata Younger, persiapan militer Iran itu semakin mengeras setelah AS-Zionis ‘mengambil nyawa’ Ali Khamenei.
“Yang dilakukan oleh Trump (dan Netanyahu) memperjelas bahwa bagi Iran ini adalah perang eksistensialisme. Mereka (AS-Zionis) mencoba untuk membuat Iran terpojok (tidak punya pemimpin). Tetapi itu justru memberi daya tahan yang lebih besar bagi Iran terhadap musuhnya (AS-Zionis),” ujar Younger.
Keputusan Iran membuat perhitungan atas agresi AS-Zionis, pun tak main-main. Menurut Younger, Iran membuat peperangan yang dimulai oleh AS-
Zionis ini sebagai perlawanan yang sporadis.
Menurut Younger, Iran pun membuat perhitungan terhadap AS-Zionis dengan menghantam semua pihak yang turut membantu dua agresor tersebut di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Perlawanan Iran tersebut, menurut Younger memaksa perang kali ini meluas yang menciptakan krisis di kawasan dan mengancam keamanan global, namun melabel AS-Zionis sebagai biang utama peperangan.
Iran, kata ia, melakukan apa yang secara teknis dimaksudkan untuk membuat ‘eskalasi horizontal’. Teheran menembakkan misil-misil mereka ke siapapun yang terlibat (membantu AS-Zionis) dalam jangkauan misil-misil mereka.
"Saya pikir ini awalnya gila. Tetapi sebenarnya Iran melakukan itu dengan efektif untuk memberikan dampak kerugian langsung terhadap AS terutama. Dan itu sangat berhasil,” ujar Younger.
“Iran sudah membuat keputusan pertahanan yang bagus sejak Juni tahun lalu dengan menyebarkan kemampuan militer mereka. Dan itu membangun pertahanan mereka yang signifikan atas kampanye (serangan) udara yang kuat (dari AS-Zionis)," katanya menambahkan.
Selama perlawanan balasan terhadap AS-Zionis, Iran menghujani wilayah-wilayah pendudukan Israel di Tanah Palestina dengan drone-drone serbu dan rudal-rudal berdaya ledak hebat. Iran juga menembakkan rudal-rudal jelajahnya ke wilayah negara-negara Teluk Arab yang dijadikan pangkalan-pangkalan militer AS dalam menyerang Iran.
Kemarahan pemimpin-pemimpin negara Arab atas serangan balasan rudal-rudal Iran ke pangkalan-pangkalan militer AS di wilayah Teluk Arab itu bakal memicu peperangan yang lebih masif jika berlanjut pada reaksi tindakan balasan militer terhadap Teheran.
Younger mengatakan, Iran juga memberi ‘perhitungan’ akurat dalam perlawanan agresi AS-Zionis dengan mengambil langkah menutup Selat Hormuz. Menurut Younger, Iran memang harus dilihat sebagai negara dengan alat-alat pertahanan yang tak lebih unggul ketimbang kepunyaan militer AS, maupun Israel.
Tetapi, menurut Younger keputusan militer dan pemerintah Iran menutup celah di perairan Teluk Persia itu bagian dari perang total yang dilakukan melalui pelatuk ekonomi dan energi sebagai persenjataan efektif bagi Iran.
“Iran memahami pentingnya peperangan ini, dengan menyentuh bidang energi dan ekonomi, dengan menutup selat tersebut (Hormuz). Cara itu membuat Iran berusaha mengubah peperangan ini menjadi peperangan global. Dan Iran memainkan kartunya (pertahanannya) dengan sangat baik, meskipun sebenarnya mereka mendapatkan ‘kartu-kartu’ yang tidak baik,” ujar Younger.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak 2 Maret, atau hari ke-3 peperangan berhasil membuat krisis energi secara global. Sebab Selat Hormuz memegang peran penting sebagai lalu lintas 22 persen pasokan minyak fosil dan gas cair ke seluruh dunia.
Iran hanya membolehkan kapal-kapal tanker berbendera negara-negara sahabatnya melintas. Sementara kapal-kapal tanker berbendera negara-negara yang mendukung AS-Zionis dihabisi dan dibakar oleh militer Iran.
Hal tersebut memicu pelambungan harga tinggi minyak dan gas di seluruh dunia. Kondisi global tersebut menyudutkan AS, dan Zionis sebagai biang kerok peperangan.
Pada Selasa (24/3/2026), atau hari ke-25 peperangan, Presiden Trump bersama Menteri Perangnya Pete Hesgeth mengumumkan penyelesaian perang dengan mengajak Iran berunding untuk gencatan senjata.
Trump mengeklaim kemenangan. Tetapi Iran bergeming, dan menilai AS sedang mengalami ilusi memenangkan peperangan kali ini. Militer Iran, hingga hari ke-27 peperangan berjalan, masih melakukan perlawanan dengan tetap menghujani wilayah-wilayah yang diduduki Zionis Israel di Tanah Palestina, pun juga membombardir pangkalan-pangkalan militer AS, yang tersebar di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirate Arab, Irak, pun di Yordania.