News Komoditi & Global ( Jumat, 13 Maret 2026 )
News Komoditi & Global
( Jumat, 13 Maret 2026 )
Harga Emas Global Turun di tengah Dolar AS (USD) yang Lebih Kuat dan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS yang Lebih Tinggi
Harga Emas (XAU/USD) menghadapi beberapa tekanan jual dekat $5.090 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini melanjutkan penurunan di tengah Dolar AS (USD) yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih tinggi. Rilis laporan Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS untuk bulan Januari akan menjadi sorotan pada hari Jumat nanti.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan bahwa Selat Hormuz yang krusial harus tetap ditutup dan bahwa Iran akan terus menyerang tetangga-tetangganya di Teluk Persia, menurut Bloomberg. Presiden AS, Donald Trump, menyebut Iran sebagai "sebuah bangsa teror dan kebencian" dan mengatakan situasinya "berkembang sangat cepat" menuju jaminannya soal keterlibatan militer yang terbatas di wilayah tersebut.
Para pedagang akan memantau dengan seksama perkembangan seputar situasi di Timur Tengah. Setiap tanda perang berkepanjangan di wilayah tersebut dapat mendorong aset safe-haven tradisional seperti Emas dalam waktu dekat.
Namun, perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran inflasi meningkat di AS, yang meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) AS mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik relatif aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah dibandingkan logam-logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil seperti Emas.
Harga Minyak Dunia Melonjak Terkerek Rencana Iran untuk Tetap Tutup Selat Hormuz
Harga minyak mentah ditutup melonjak sekitar 9%, pada level tertinggi dalam hampir empat tahun, karena Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di seluruh Timur Tengah, dan pemimpin tertinggi negara itu berjanji untuk tetap menutup Selat Hormuz yang vital.
Kamis (12/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 ditutup melonjak US$ 8,48 atau 9,2% menjadi US$ 100,46 per barel, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 101,60 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 ditutup menguat US$ 8,48 atau 9,7% ke US$ 95,70 per barel.
Kedua kontrak tersebut diselesaikan pada level tertinggi sejak Agustus 2022.
"Pasar sangat tidak seimbang dan itu akan berlanjut sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan operasi hulu dan hilir kembali normal. Itu tidak akan terjadi dengan cepat," kata Jim Burkhard, wakil presiden dan kepala global Riset Minyak Mentah di S&P Global Energy.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada hari Kamis bahwa "Angkatan Laut AS tidak dapat mengawal kapal melalui Selat Hormuz sekarang tetapi "sangat mungkin" itu bisa terjadi pada akhir bulan. Harga minyak global kemungkinan tidak akan mencapai $200 per barel," kata Wright, bahkan ketika Iran terus menyerang kapal dagang.
Dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dihantam oleh kapal-kapal Iran yang bermuatan bahan peledak, kata pejabat keamanan Irak pada hari Kamis. Seorang pejabat Irak Media pemerintah mengatakan bahwa pelabuhan minyak negara itu telah sepenuhnya menghentikan operasinya.
Oman memindahkan semua kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal di luar Selat Hormuz sebagai langkah pencegahan, menurut laporan Bloomberg News.
Pada hari Senin, Brent mencapai US$ 119,50 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2022, kemudian turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang Iran bisa segera berakhir.
Untuk mengatasi kenaikan harga, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mencabut sementara Undang-Undang Jones yang telah berusia seabad untuk jangka waktu terbatas guna memastikan pengiriman energi dan pertanian dapat bergerak bebas antar pelabuhan AS, kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari Kamis.
Perang tersebut menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global, kata Badan Energi Internasional pada hari Kamis, sehari setelah menyetujui pelepasan volume rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis.
Rincian lengkap belum diberikan, sehingga ada keraguan di pasar bahwa volume penuh akan benar-benar dilepaskan, kata analis Energy Aspects, menambahkan bahwa total barel persediaan yang sebagian besar berupa minyak mentah dan beberapa produk hanya setara dengan 25 hari dari gangguan arus saat ini.
Negara-negara Teluk Timur Tengah telah memangkas total produksi minyak setidaknya 10 juta barel per hari - volume yang hampir setara dengan 10% dari permintaan dunia, kata IEA dalam laporan pasar minyak bulanan terbarunya.
Kilang-kilang di Timur Tengah juga telah menutup kapasitas penyulingan minyak mentah dan kondensat sebesar 2,35 juta barel per hari, kata konsultan IIR.
Hizbullah Lebanon meluncurkan serangan roket terbesarnya dalam perang pada hari Rabu, yang memicu serangan Israel yang mengguncang Beirut.
Serangan Hizbullah juga meningkatkan kekhawatiran tentang Houthi Yaman yang bergabung dalam perang bersama Iran, yang dapat semakin mengganggu pengiriman di Laut Merah.
Arab Saudi telah meningkatkan produksi minyak mentah. Ekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, China telah memerintahkan larangan langsung terhadap ekspor bahan bakar olahan pada bulan Maret, langkah lebih lanjut untuk mencegah potensi kekurangan bahan bakar domestik yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah, kata sumber pada hari Kamis.
Wall Street Jatuh Dipicu Perang Iran dan Kekhawatiran Kredit Swasta
Indeks utama Wall Street turun sekitar 1% pada Kamis (12/3/2026), dengan sektor keuangan menjadi yang paling terpukul, seiring lonjakan harga minyak menuju US$100 per barel yang memicu kekhawatiran inflasi. Investor juga menyoroti ketidakpastian di sektor kredit swasta.
Melansir Reuters, pukul 09.55 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 582,01 poin (1,23%) ke 46.835,26, S&P 500 turun 76,10 poin (1,12%) ke 6.699,50, dan Nasdaq Composite turun 312,95 poin (1,38%) ke 22.403,18.
Indeks volatilitas CBOE, Wall Street’s fear gauge, naik 2,53 poin menjadi 26,77, sementara indeks Russell small-caps sensitif suku bunga turun 1,8%.
Harga minyak naik setelah dua kapal tanker dibakar di perairan Irak dalam dugaan serangan Iran, sebagai bagian dari serangkaian serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan, Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan.
Sektor maskapai penerbangan di S&P 500, yang sensitif terhadap biaya bahan bakar, turun 3,4% dan mencatat potensi kerugian bulanan terbesar dalam setahun. Operator kapal pesiar Norwegian dan Royal Caribbean juga turun lebih dari 2,5%.
Di sisi energi, Occidental naik 3,3% dan ConocoPhillips menguat lebih dari 1,4%.
Investor juga mengamati pasar kredit swasta senilai sekitar US$2 triliun, setelah serangkaian masalah kredit muncul dalam beberapa bulan terakhir.
Perusahaan ekuitas swasta Swiss Partners Group memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar kredit swasta bisa berlipat dua dalam beberapa tahun mendatang.
Morgan Stanley turun 4,3% setelah membatasi penarikan dana di salah satu reksa dana kredit swastanya, menyusul tindakan serupa oleh Blackstone dan BlackRock awal bulan ini.
Blackstone dan BlackRock masing-masing turun lebih dari 1%, sementara JPMorgan Chase menurunkan nilai beberapa pinjaman ke reksa dana kredit swasta.
Sektor keuangan S&P 500 secara keseluruhan turun 1,5%, dengan saham bank Citigroup dan Goldman Sachs masing-masing turun lebih dari 3%.
“Pertanyaannya, berapa banyak pihak yang memiliki ini dalam buku mereka? Bagaimana penilaian asetnya? Apakah berupa derivatif? Kita perlu mengawasi dengan sangat ketat karena situasinya bisa berubah cepat,” kata Joe Saluzzi, co-head ekuitas trading di Themis Trading.
Pasar global terguncang bulan ini karena perang AS-Israel dengan Iran mengganggu pasokan minyak dan gas serta mendorong harga minyak naik tajam, sehingga mempersulit rencana bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Goldman Sachs menunda perkiraan pemotongan suku bunga Federal Reserve berikutnya menjadi September, dari sebelumnya diperkirakan Juni.
Data futures pasar uang menunjukkan trader kini hanya memperkirakan satu kali pemotongan 0,25% hingga Desember, turun dari dua kali sebelum konflik.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut dunia menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Selain itu, Washington mengumumkan akan meluncurkan dua investigasi perdagangan baru terkait kapasitas industri berlebih di 16 mitra dagang utama dan penggunaan tenaga kerja paksa, sebagai langkah untuk memperkuat tekanan tarif setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian program tarif Presiden Donald Trump.
Di sektor lain, operator aplikasi kencan Bumble melonjak 37% setelah melaporkan pendapatan kuartal IV melebihi estimasi, sementara peritel diskon Dollar General turun 7,3% setelah memperkirakan penjualan tahunan di bawah ekspektasi.
Perusahaan kimia LyondellBasell dan Dow masing-masing naik 3,7% dan 5,7% setelah Citigroup menilai ada peluang ekspor baru akibat gangguan rantai pasok di Timur Tengah.
Di sisi data ekonomi, klaim pengangguran mingguan turun pekan lalu, yang berpotensi meredakan kekhawatiran terkait melemahnya pasar tenaga kerja setelah penurunan pekerjaan tak terduga pada Februari.
Gawat! FBI Sebut Iran Dapat Luncurkan Serangan Drone ke Wilayah AS
Biro Investigasi Federal (FBI) memperingatkan bahwa Iran dapat meluncurkan serangan drone ke wilayah Amerika Serikat (AS), khususnya di West Coast (Pantai Barat). Peringatan ini menjadi sinyal bahaya bahwa target Teheran tak hanya pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah, tapi juga jauh di tanah Amerika. Mengutip laporan dari ABC News, Kamis (12/3/2026), peringatan FBI ditujukan kepada departemen kepolisian di California. Baca Juga: Media Iran Klaim Netanyahu Tewas dalam Serangan Iran, Benarkah? “Kami baru-baru ini memperoleh informasi bahwa pada awal Februari 2026, Iran diduga berupaya melakukan serangan mendadak menggunakan pesawat nirawak dari kapal yang tidak dikenal di lepas pantai Amerika Serikat, khususnya terhadap target yang tidak ditentukan di California, jika AS melakukan serangan terhadap Iran,” tulis FBI dalam sebuah peringatan yang diedarkan pada akhir Februari, menurut laporan ABC News. “Kami tidak memiliki informasi tambahan tentang waktu, metode, target, atau pelaku dari dugaan serangan ini," lanjut peringatan tersebut. Juru bicara FBI, Departemen Kepolisian Los Angeles, gubernur California, dan wali kota Los Angeles tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kantor berita Reuters melaporkan awal bulan ini bahwa Iran dan proksinya dapat menargetkan wilayah AS sebagai respons atas serangan Amerika. Penilaian ancaman yang dihasilkan oleh Kantor Intelijen dan Analisis di Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan Iran dan proksinya mungkin menimbulkan ancaman serangan yang ditargetkan terhadap Amerika Serikat, meskipun serangan fisik skala besar tidak mungkin terjadi. Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan dia tidak khawatir tentang serangan Iran atau pun proksinya di wilayah AS. "Tidak, saya tidak khawatir," katanya. Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran hampir dua minggu lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu perang di Timur Tengah. Teheran kemudian melakukan serangan balasan terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah, menyebabkan tujuh tentara AS tewas. Beberapa warga Israel juga tewas.
Media Iran Klaim Netanyahu Tewas dalam Serangan Iran, Benarkah?
Kantor Berita Tasnim Teheran mengguncang media global dengan klaim yang belum diverifikasi bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas atau terluka parah dalam serangan balasan baru-baru ini. Klaim ini muncul seiring perang sengit antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Ketidakhadiran Netanyahu di depan publik selama empat hari, pembatalan pesan video, dan pembatalan kunjungan utusan tingkat tinggi AS yang tidak dijelaskan telah meningkatkan spekulasi, dengan para pejabat Israel tetap bungkam. Satu laporan mengejutkan dari Kantor Berita Tasnim semi-resmi Iran telah memicu badai spekulasi tentang nasib Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengklaim bahwa ia mungkin telah tewas atau terluka parah dalam serangan balasan baru-baru ini. Laporan tersebut menunjukkan hilangnya Netanyahu dari pandangan publik selama hampir empat hari—suatu penyimpangan dramatis dari kebiasaannya yang biasa mengirimkan pesan video harian—sebagai bukti bahwa sesuatu yang signifikan telah terjadi. Keheningan dan Langkah-Langkah Keamanan Sumber yang dikutip media Iran mencatat semua pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu sejak menghilang hanya dikeluarkan dalam bentuk tertulis, tanpa disertai konfirmasi video atau foto. Area di sekitar kediaman Perdana Menteri dilaporkan telah ditempatkan di bawah langkah-langkah keamanan luar biasa, meskipun belum ada penjelasan resmi yang diberikan. Laporan Tasnim lebih lanjut menuduh Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan saudara Netanyahu, Iddo, mungkin juga telah tewas, klaim yang sama sekali belum terkonfirmasi. Pembatalan Kunjungan AS Memperdalam Misteri Menambah intrik, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner tiba-tiba membatalkan kunjungan yang direncanakan ke Israel yang dijadwalkan pada hari Selasa. Perjalanan itu dimaksudkan untuk pembicaraan tingkat tinggi tentang perang yang sedang berlangsung dengan Iran, yang kini telah menewaskan lebih dari 1.200 orang termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Media Israel melaporkan pembatalan tersebut tanpa penjelasan, dan baik pejabat AS maupun Israel belum berkomentar tentang alasannya. Beberapa sumber menunjukkan kemungkinan ketidaksepakatan antara Washington dan Tel Aviv mengenai cakupan operasi militer terhadap instalasi minyak Iran. Keheningan Resmi Memicu Spekulasi Yang paling mencolok adalah tidak adanya penolakan sama sekali dari otoritas Israel atau kantor Netanyahu mengenai klaim Iran. Keheningan resmi, ditambah dengan pembatalan kunjungan AS dan langkah-langkah keamanan luar biasa, telah memungkinkan spekulasi berkembang di media internasional. Konflik yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan gabungan AS-Israel kini telah meluas hingga mencakup keterlibatan Hizbullah di perbatasan utara Israel dan ketegangan terkait Houthi di Yaman, dengan total korban jiwa melebihi 2.000 dan ratusan ribu orang mengungsi.
Tel Aviv Porak Poranda! Iran Kecam Sensor Israel Tutupi Kehancuran Akibat Serangan Balasan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam rezim Israel karena menyensor bagaimana Iran menghukum rezim tersebut atas agresinya, dengan mengatakan “kita baru saja memulai.” Dalam unggahan di akun X-nya pada hari Selasa, Araghchi mengecam rezim Israel atas sensor ketatnya terhadap apa yang dilakukan rudal Iran terhadap wilayah pendudukan. “Netanyahu tidak ingin Anda melihat bagaimana Angkatan Bersenjata Iran yang kuat menghukum Israel atas agresinya,” katanya, dilansir Press TV. “Berikut laporan dari pasukan kami di lapangan: kehancuran total yang disebabkan oleh rudal kami, pemimpin yang panik, dan pertahanan udara mereka yang kacau,” katanya, menambahkan bahwa “kami baru saja memulai.” Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan rezim Israel memulai agresi militer tanpa provokasi terhadap Iran, membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dan para komandan militer tinggi. Iran mulai dengan cepat membalas agresi kriminal tersebut dengan meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan AS di negara-negara regional. Sensor militer rezim Israel telah melakukan upaya ekstensif untuk mencegah penyebaran informasi apa pun. Meskipun kantor sensor militer berupaya mengendalikan narasi, media berbahasa Ibrani terpaksa mengakui "korban jiwa," yang menunjukkan bahwa serangan rudal Iran telah memberikan pukulan serius dan belum pernah terjadi sebelumnya kepada entitas ilegal tersebut. Dalam pernyataan lain, Araghchi memperingatkan bahwa pejabat AS memanipulasi pasar dengan menyebarkan berita palsu. "Ini tidak akan menyelamatkan mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika," katanya. Pasar menghadapi kerugian dan kesenjangan terbesar dalam sejarah—krisis yang bahkan lebih besar daripada embargo minyak Arab tahun 1973, Revolusi Islam Iran tahun 1979, dan invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990. Araghchi sebelumnya menulis di X bahwa klaim bahwa Iran bermaksud menyerang Amerika Serikat atau pasukan Amerika, baik secara preemptif maupun sebagai tindakan pencegahan, adalah kebohongan murni dan jelas. “Satu-satunya tujuan dari kebohongan ini adalah untuk membenarkan ‘operasi kesalahan besar’—sebuah petualangan berbahaya yang dirancang oleh Israel dan dibiayai oleh warga Amerika biasa,” tambahnya.
Terungkap, Ini Kesalahan Taktis Besar AS dalam Perang Melawan Iran
Beberapa bulan sebelum konflik dengan Iran meningkat, Ukraina menawarkan Washington teknologi yang telah teruji di medan perang untuk melawan drone Teheran. Proposal tersebut ditolak, sebuah keputusan yang kini disebut oleh beberapa pejabat AS sebagai "kesalahan taktis" besar. Hampir tujuh bulan sebelum drone Iran mulai menguji pertahanan AS di Timur Tengah, para pejabat Ukraina mencoba memperingatkan Washington dan menawarkan solusi. Baca Juga: 3 Taktik Iran untuk Kalahkan AS dan Israel, Salah Satunya Perang Panjang Ala Vietnam Kyiv bahkan menyiapkan presentasi PowerPoint terperinci yang menguraikan bagaimana teknologi yang telah teruji di medan perang dapat membantu AS menembak jatuh drone serang buatan Iran dan melindungi pasukan Amerika dan sekutu dalam potensi konflik regional. Namun proposal tersebut diabaikan oleh pemerintahan Donald Trump. Sekarang, karena drone Shahed Iran semakin menantang pertahanan udara AS, Washington diam-diam membalikkan arah dan menghubungi Ukraina untuk meminta bantuan. Mengapa Drone Shahed Menjadi Masalah Dalam pengarahan tertutup di Capitol Hill pekan lalu, para pejabat pemerintahan Trump mengatakan kepada para anggota Parlemen bahwa drone serang Shahed Iran menimbulkan tantangan operasional yang serius dan bahwa sistem pertahanan udara AS mungkin tidak dapat mencegat semuanya, menurut laporan CNN. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga mengakui dalam pengarahan tersebut bahwa drone Iran telah menjadi masalah yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Drone tersebut sangat sulit dicegat karena terbang rendah dan lambat, yang merupakan karakteristik yang memungkinkan mereka untuk lolos dari sistem pertahanan udara tradisional lebih mudah daripada rudal balistik. Beberapa pejabat AS sekarang melihat keputusan Washington untuk menolak proposal Ukraina sebelumnya sebagai kesalahan taktis yang mahal. Menolak tawaran Kyiv termasuk di antara kesalahan taktis paling signifikan sejak Amerika Serikat mulai membombardir Iran pada 28 Februari, kata dua pejabat AS kepada Axios. Drone Shahed Iran Membunuh 7 Tentara AS? Drone Shahed Iran yang murah telah dikaitkan dengan kematian tujuh anggota militer AS dan memaksa AS dan sekutu regionalnya untuk menghabiskan jutaan dolar untuk mencegatnya. "Jika ada kesalahan taktis atau kesalahan yang kami buat menjelang [perang di Iran] ini, inilah kesalahannya," kata seorang pejabat AS. Ukraina, yang telah bertahun-tahun memerangi drone yang sama di medan perangnya sendiri, telah menjadi negara paling berpengalaman di dunia dalam melawan sistem ala Shahed. Rusia telah menggunakan ribuan drone tersebut, yang diberi merek baru sebagai Geran, selama invasinya ke Ukraina. Sebagai tanggapan, Kyiv telah mengembangkan berbagai tindakan balasan, termasuk drone pencegat berbiaya rendah yang dirancang khusus untuk menembak jatuh pesawat nirawak ala Shahed. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara pribadi mengusulkan teknologi tersebut selama pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 18 Agustus, menawarkan drone pencegat kepada Presiden AS Donald Trump sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperdalam hubungan keamanan dan menunjukkan apresiasi atas dukungan AS terhadap Rusia. Kyiv juga mengusulkan pembuatan jaringan "pusat tempur drone" di negara-negara seperti Turki, Yordania, dan negara-negara Teluk Persia untuk bertahan melawan ancaman drone dari Iran dan proksi regionalnya. "Kami ingin membangun 'tembok drone' dan semua hal yang diperlukan seperti radar, dan lain-lain," kata seorang pejabat Ukraina. Namun rencana tersebut tidak pernah mendapat dukungan di dalam pemerintahan Trump. "Pada pertemuan itu ... pada bulan Agustus, Trump meminta timnya untuk mengerjakannya, tetapi mereka tidak melakukan apa pun," kata pejabat Ukraina tersebut. Seorang pejabat AS yang meninjau presentasi tersebut mengonfirmasi bahwa tim Zelensky membagikan proposal tersebut kepada para pejabat Amerika. Namun, beberapa orang di dalam pemerintahan dilaporkan memandang pemimpin Ukraina itu terlalu bersemangat untuk mempromosikan peran negaranya. "Kami mengira itu adalah Zelensky yang bersikap seperti biasanya. Seseorang memutuskan untuk tidak mempercayainya," kata pejabat itu. Pada hari Kamis, AS secara resmi mendekati Kyiv untuk meminta bantuan dalam melawan drone Iran, menurut The New York Times. Para pejabat Amerika menyatakan bahwa pasukan AS telah mencegat sebagian besar rudal dan drone Iran. Sejauh ini, tujuh korban jiwa AS jauh lebih rendah daripada perkiraan awal, yang memperkirakan sebanyak 40 kematian pada fase awal konflik. Ketidakseimbangan Biaya Namun, kekhawatiran tetap ada tentang ketidakseimbangan biaya dalam pertempuran tersebut. Sebuah drone Shahed Iran diperkirakan berharga antara USD20.000 hingga USD50.000 tergantung pada modelnya, sementara pencegat yang digunakan untuk menembak jatuh drone tersebut dapat berharga jutaan dolar. Isu ini pertama kali muncul selama operasi AS melawan pemberontak Houthi di Yaman dan terus berlanjut seiring dengan perluasan kemampuan drone Iran dan sekutunya. Pada hari Jumat, AS mengumumkan rencana untuk mengerahkan sistem anti-Shahed sendiri, yang disebut Merops, karena sekutu regional mengeluh tentang serangan drone yang terus berlanjut. Namun, bahkan di dalam pemerintahan, frustrasi atas respons tersebut semakin meningkat. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa upaya untuk melawan kampanye drone Iran sejauh ini "mengecewakan". Pejabat lain mengakui bahwa teknologi Ukraina dapat membantu jika dikerahkan lebih awal, meskipun mereka bersikeras: "Kinerja kami di medan perang sangat luar biasa." Ukraina telah menyusun proposal sebelumnya untuk menarik naluri bisnis Trump, dengan menyajikan rencana pertahanan drone sebagai kemitraan yang dapat menciptakan lapangan kerja manufaktur di AS. "Masalah kami adalah uang. Sumber daya kami hanya memungkinkan kami untuk memproduksi 50% dari apa yang dapat kami produksi. Jadi kami ingin AS menginvestasikan 50% lainnya dan memiliki bagian dari produksi," kata pejabat Ukraina tersebut. Menurut presentasi tersebut, Ukraina meyakini bahwa kemitraan ini pada akhirnya dapat menghasilkan hingga 20 juta drone dan sistem terkait, yang akan membantu "melepaskan dominasi drone Amerika".
3 Taktik Iran untuk Kalahkan AS dan Israel, Salah Satunya Perang Panjang Ala Vietnam
Kalah dalam persenjataan dari Amerika Serikat (AS), para penguasa Iran telah melancarkan serangan di berbagai front—tetapi para pakar mengatakan bahwa apa yang tampak seperti reaksi kacau sebenarnya adalah strategi yang telah teruji waktu untuk bertahan hidup melawan musuh yang lebih kuat dalam perjuangan untuk bertahan hidup. Bagi sebagian orang, respons Iran sejak serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang, 28 Februari, tampak seperti respons dari kekuatan yang kehilangan kepala dan arah. Baca Juga: Sepekan Perang Melawan Iran, AS Sudah Tekor Rp102 Triliun 3 Taktik Iran untuk Kalahkan AS dan Israel 1. Taktik Perang Asimetris Mengapa Iran menargetkan negara-negara Teluk, Turki, dan Azerbaijan dengan serangan udara? Mengapa tidak mencari dukungan dari negara-negara tersebut, atau setidaknya menjaga mereka tetap netral? Berbagai analis melihat strategi perang asimetris yang telah diasah dengan baik dalam serangan balasan Iran: melawan serangan tersebut, dan membuat musuh membayar harga yang sangat mahal sehingga mereka harus menyerah. “Strategi Iran adalah menciptakan tekanan pada Washington, DC dengan membuat marah negara-negara Teluk dan dengan menciptakan tren kenaikan harga minyak, gas, dan komoditas lainnya,” kata Burcu Ozcelik, seorang ahli keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute (RUSI) Inggris. Meskipun kepemimpinan Iran sangat terguncang oleh serangan yang menewaskan Khamenei—yang sekarang digantikan oleh putranya; Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi—dan tokoh-tokoh penting lainnya, sistem tersebut sejauh ini masih bertahan. 2. Taktik Perang Panjang Republik Islam Iran sekarang sedang bersiap untuk pertarungan habis-habisan melawan Amerika Serikat yang memiliki taruhan lebih sedikit. Teheran memiliki sedikit peluang untuk mengalahkan militer AS. Namun, mereka dapat berharap untuk bertahan lebih lama dari kampanye saat ini, yang terbatas pada serangan udara. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump harus mempertimbangkan dengan matang potensi biaya politik sebelum mengirimkan pasukan darat. “Teheran berusaha meningkatkan biaya eskalasi sampai Washington mulai mencari jalan keluar,” kata Ali Vaez, seorang ahli Iran di International Crisis Group. Ini adalah halaman yang diambil langsung dari buku teks tentang perang asimetris. Dalam makalah klasik tahun 1975, “Mengapa Negara-Negara Besar Kalah dalam Perang Kecil”, mendiang profesor Andrew Mack menguraikan alasan di balik hasil seperti kekalahan AS di Vietnam. Dia menggarisbawahi bagaimana kekuatan yang lebih lemah dapat memanfaatkan berkurangnya kapasitas politik lawan yang lebih kuat untuk berperang. "Karena Iran tidak memiliki persediaan rudal dan drone yang tak terbatas, kita melihat mereka mencoba menggunakan daya tembak mereka dengan hati-hati, untuk membuat konflik berlangsung cukup lama sehingga Trump akhirnya berkata, ‘Cukup sudah’,” kata Agnes Levallois, kepala lembaga think tank yang berfokus pada Timur Tengah, iReMMo. “Semakin lama konflik berlangsung, semakin Teheran percaya bahwa keseimbangan strategis—secara psikologis dan politis—mulai bergeser” ke arah mereka, kata Danny Citrinowicz, dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel. Dan perangkat Iran lebih dalam lagi. “Teheran, menyadari ketidakmampuannya untuk memenangkan perang konvensional melawan AS, mengandalkan taktik tidak konvensional untuk memperpanjang perang, terutama melalui paksaan ekonomi dan asimetri biaya,” kata sebuah laporan dari pusat penelitian AS, Soufan. Itu termasuk menabur kekacauan di Timur Tengah, membom negara-negara tetangga, dan menaikkan harga minyak dan gas global dengan secara efektif menutup Selat Hormuz yang sangat penting. 3. Taktik Perang Gesekan Jika Trump mendapat tekanan yang cukup dari sekutu Teluk dan inflasi energi, dia mungkin harus menyerah. “Dampak pasar, gangguan di Hormuz, dan harga minyak adalah semua variabel yang akan sangat membebani pemikiran Washington,” kata analis Emily Stromquist dari perusahaan penasihat AS, Teneo. Strategi ini bergantung pada asumsi bahwa negara-negara Teluk akan memiliki pengaruh lebih besar terhadap Trump daripada sekutu utama AS, Israel, yang berupaya menggulingkan rezim di Iran. Jika Republik Islam Iran bertahan, mereka mungkin akan membayar harga yang mahal. “Rezim di Iran harus membuat beberapa konsesi besar dalam setiap penyelesaian konflik," kata Ozcelik. "Negara-negara Teluk akan ingin memiliki pengaruh dalam setiap perjanjian gencatan senjata, dan hubungan Iran dengan negara-negara lain di kawasan itu akan sangat rusak," katanya. Namun, menurut Citrinowicz, semua itu kemungkinan tidak penting bagi Teheran. “Dari perspektif Iran, tujuan perang ini adalah untuk memaksimalkan keuntungannya dan ‘menanamkan’ dalam benak musuh-musuhnya biaya memerangi Iran di masa depan,” katanya, seperti dikutip dari AFP,Kamis (12/3/2026).
Sudah Kekurangan Rudal, Sampai Kapan AS dan Israel Menghentikan Perang?
Pada 28 Februari, Amerika Serikat meluncurkan "Operasi Epic Fury" di Iran . Pada minggu berikutnya, AS melakukan ribuan serangan di seluruh negeri, mengerahkan lebih dari 20 sistem senjata di udara, darat, dan laut. Dalam gelombang pertama serangan AS-Israel, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas. Presiden AS Donald Trump mengatakan konflik tersebut bisa berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi AS memiliki "kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu". Sudah Kekurangan Rudal, Sampai Kapan AS dan Israel Menghentikan Perang? 1. AS Yakin dengan Kemampuan Kapasitas Militer AS Pemerintahan Trump sangat optimis tentang kapasitas militer AS. "Kita tidak kekurangan amunisi," kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth selama kunjungan ke Komando Pusat AS di Florida. "Persediaan senjata pertahanan dan ofensif kita memungkinkan kita untuk mempertahankan kampanye ini selama yang kita butuhkan." Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, memberikan jaminan serupa, "Kita memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas yang ada, baik dalam serangan maupun pertahanan." Namun, Trump diam-diam mengakui di mana letak masalahnya. Dalam sebuah unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, ia menulis, "Persediaan Amunisi Amerika Serikat, pada tingkat menengah dan menengah atas, tidak pernah lebih tinggi atau lebih baik... Pada tingkat tertinggi, kita memiliki persediaan yang baik tetapi belum berada di tempat yang kita inginkan." Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga think tank Stimson Center, setuju bahwa perbedaan yang dibuat Trump mengenai tingkat persenjataan itu penting. Rudal dan pencegat jarak jauh kelas tertinggi inilah yang paling menimbulkan kekhawatiran. “Ada beberapa keterbatasan nyata pada persediaan di sana,” katanya. 2. Perhitungan Konflik Sejak awal konflik, AS, Israel, dan Iran telah melancarkan serangkaian serangan di seluruh wilayah. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), AS menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam 7 hari pertama. Sebagai balasannya, Iran telah meluncurkan ribuan drone Shahed 136, dan ratusan rudal ke target AS di seluruh wilayah. Di sinilah perhitungannya menjadi tidak nyaman. Drone Shahed Iran berharga antara USD20.000 dan USD50.000 untuk diproduksi. Ada berbagai cara yang telah dilakukan AS dan sekutunya untuk bertahan melawan mereka, tetapi tidak ada yang murah. Pesawat tempur yang dipersenjatai dengan rudal AIM-9 berharga USD450.000 per tembakan, ditambah USD40.000 per jam hanya untuk mengoperasikan pesawat. "Biaya pengoperasian pesawat tempur selama satu jam setara dengan biaya sebuah Shahed," kata Grieco, "Ini tidak efisien. Ini bukan pertukaran biaya yang menguntungkan." Ia berpendapat AS seharusnya belajar dari Ukraina, yang telah menemukan metode yang lebih murah seperti drone pencegat yang harganya lebih rendah daripada Shahed. "Amerika Serikat telah menguji [teknologi itu], hanya saja belum membelinya dalam jumlah yang cukup," kata Grieco. Rudal pertahanan Patriot yang jauh lebih mahal (berharga sekitar USD3 juta per rudal) diperuntukkan untuk mencegat rudal balistik Iran, dan di sinilah muncul kekhawatiran tentang persediaan. Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, memperkirakan bahwa persediaan tersebut habis dengan cepat. “Pada awalnya, saya rasa ada sekitar 1.000 rudal Patriot dan saya pikir kita sudah menggunakan sebagian besar persediaan itu sekarang.” Ia memperkirakan bahwa 200-300 rudal Patriot telah digunakan. Senjata canggih seperti ini membutuhkan waktu untuk dibuat. Lockheed Martin hanya mengirimkan 620 pencegat PAC-3 sepanjang tahun 2025. “Jika Anda pergi ke perusahaan hari ini dan mengatakan saya ingin membeli satu lagi Patriot, setidaknya akan membutuhkan waktu dua tahun agar Patriot itu muncul,” kata Cancian. Untuk senjata jarak pendek seperti bom, kit JDAM, dan rudal Hellfire, situasinya berbeda. “Secara militer, saya pikir kita dapat mempertahankannya untuk waktu yang sangat lama. Anda tahu, kita memiliki amunisi darat untuk melakukan itu,” kata Cancian. 3. Melipatgandakan Produksi Senjata Pada tanggal 6 Maret, Trump bertemu dengan beberapa perusahaan pertahanan, dan setelah itu memposting di Truth Social bahwa para produsen telah setuju untuk melipatgandakan produksi senjata kelas atas. Gedung Putih menekankan bahwa pertemuan tersebut telah direncanakan selama beberapa minggu. Namun, Grieco meragukan kebaruan kesepakatan tersebut. "Saya merasa itu seperti bukan pengumuman karena dalam beberapa bulan terakhir sebagian besar kesepakatan ini telah diumumkan." Sejak Januari. Setelah pertemuan di Gedung Putih, tidak ada tenggat waktu baru yang diberikan. Target tanggal tetap tahun 2030. Bahkan mempercepat produksi pun tidak mudah. "Ada banyak hambatan yang bahkan jika Anda menggelontorkan banyak uang untuk masalah ini, itu tidak sesederhana menyalakan saklar dan mulai berproduksi. Itu masih akan membutuhkan waktu," kata Grieco. 4. Ada Konsekuensi Global Para analis sepakat bahwa AS kemungkinan tidak akan kehabisan senjata saat berperang di Iran, tetapi ada kekhawatiran untuk masa depan. “Apakah akan habis? Bukan itu cara yang tepat untuk mengungkapkannya,” kata Grieco. “Saya rasa tidak akan ada yang benar-benar habis dalam perang ini. Tetapi masalahnya adalah [...] kita akan ditinggalkan dengan persediaan yang minim [...] dan itu akan membatasi pilihan kita di tahun-tahun mendatang dalam hal Indo-Pasifik dan Eropa atau bahkan Timur Tengah.” Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah menyuarakan kekhawatiran. “Ada kekhawatiran bahwa jika perang berkepanjangan, Amerika dapat mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan rudal untuk pertahanan udara ke Ukraina,” kata Zelenskyy kepada RAI, penyiar nasional Italia. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyampaikan peringatan serupa. Operasi berkelanjutan di Iran dapat membuat AS rentan terhadap ancaman dari Rusia dan China, katanya. 5. AS Terlalu Meremehkan Iran Jenderal Dan Caine melaporkan bahwa peluncuran rudal balistik Iran telah turun "86% dari hari pertama pertempuran." Washington menganggap ini sebagai tanda kemajuan. Sementara itu, Grieco mengakui bahwa sulit untuk mengetahui detail di balik penurunan peluncuran Iran, tetapi menyebutnya sebagai kemungkinan bahwa "kita telah melakukan degradasi signifikan terhadap kekuatan rudal balistik." Mengenai drone Shahed Iran, produksi yang tersebar membuat perkiraan persediaan menjadi sangat sulit. "Bahkan sebelum perang, kita sebenarnya tidak memiliki perkiraan yang baik tentang berapa banyak yang mungkin mereka miliki," kata Grieco. "Anda bisa merakitnya di garasi Anda jika Anda benar-benar menginginkannya." Lebih mendasar lagi, ia berpendapat bahwa AS mungkin telah meremehkan Iran. "Jika tujuannya adalah perubahan rezim... kekuatan udara saja tidak akan menyebabkan runtuhnya rezim." Ia berpikir bahwa pengekangan Iran sebelumnya dalam menanggapi serangan AS dan Israel ditafsirkan sebagai kelemahan dan berpendapat bahwa hal itu menyebabkan serangkaian kegagalan pencegahan. "Mereka berjuang untuk kelangsungan rezim. Mereka memiliki insentif untuk berjuang keras dan menanggung banyak biaya." Cancian setuju: "Kita telah menyerang mereka cukup keras dan mereka belum meminta perdamaian," katanya. "Itu mungkin tidak terduga." Penangkapan cepat mantan pemimpin Nicolas Maduro di Venezuela memicu kepercayaan Washington tentang kemungkinan hasil Operasi Epic Fury. Tetapi AS pernah salah tentang lamanya dan biaya perangnya sebelumnya. Persediaan senjata pemerintahan Trump mungkin tidak akan habis di Iran, tetapi pertanyaan tetap ada tentang persediaan yang akan dimiliki AS setelah perang berakhir.
Salah Kalkulasi Balas Dendam Iran, Biaya Perang AS Terus Membengkak
Presiden AS Donald Trump melakukan kesalahan perhitungan mengenai respons Iran terhadap agresi yang sedang berlangsung oleh koalisi AS-Israel. Sementara Selat Hormuz tetap hampir tidak dapat dilalui dengan harga minyak yang melonjak. The New York Times melaporkan pada hari Rabu bahwa Trump sangat meremehkan respons Iran terhadap perang agresi tanpa provokasi yang dilancarkan oleh koalisi militer AS-Israel pada 28 Februari dan dampaknya di pasar. Menurut artikel tersebut, yang mengutip beberapa sumber anonim, pemerintahan Trump keliru percaya bahwa harga minyak akan naik sebentar selama beberapa hari lalu turun, seperti yang terjadi selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Namun, Gedung Putih terbukti salah kali ini karena tidak menganggap serius ancaman Teheran untuk menutup Selat Hormuz yang strategis di Teluk Persia. Menurut Times, pengiriman komersial telah terhenti di Teluk Persia, harga minyak melonjak, dan pemerintahan Trump berupaya keras mencari cara untuk meredam krisis ekonomi yang telah memicu kenaikan harga bensin bagi warga Amerika. “Episode ini merupakan contoh betapa salahnya penilaian Trump dan para penasihatnya tentang bagaimana Iran akan menanggapi konflik yang dianggap pemerintah di Teheran sebagai ancaman eksistensial,” kata demikian ungkap Times. “Iran telah merespons jauh lebih agresif daripada yang dilakukannya selama perang 12 hari Juni lalu, menembakkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan militer AS” di negara-negara Arab Teluk Persia, serta wilayah pendudukan Israel, tambahnya. Setelah pengarahan tertutup kepada para anggota parlemen oleh pejabat pemerintahan Trump pada hari Selasa, Senator Christopher Murphy mengatakan di media sosial bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk Selat Hormuz dan “tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman.” Menurut Times, para pejabat di dalam pemerintahan semakin pesimis tentang kurangnya strategi yang jelas dari Trump untuk mengakhiri perang, tetapi mereka berhati-hati untuk tidak menyampaikannya secara langsung kepada presiden, yang telah berulang kali mengklaim bahwa perang tersebut sepenuhnya berhasil. Agresi AS-Israel terhadap Iran telah memicu guncangan energi global, gejolak pasar, dan inflasi, mengancam penutupan Selat Hormuz, gangguan rantai pasokan jangka panjang, dan ketidakstabilan ekonomi. Menteri Perang Pete Hegseth mengakui pada hari Selasa bahwa respons ganas Iran terhadap agresi tersebut dengan menyerang pangkalan AS di negara-negara Arab Teluk Persia agak mengejutkan Pentagon. “Saya tidak dapat mengatakan bahwa kami mengantisipasi bahwa itulah tepatnya bagaimana mereka akan bereaksi, tetapi kami tahu itu adalah kemungkinan,” kata Hegseth dalam konferensi pers Pentagon. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menunjukkan frustrasi yang semakin meningkat atas bagaimana perang tersebut mengganggu pasokan minyak secara global, mendesak awak kapal tanker minyak untuk “menunjukkan keberanian” dan berlayar melalui Selat Hormuz. Menurut Times, sejumlah penasihat militer memperingatkan sebelum dimulainya perang bahwa Republik Islam dapat melancarkan kampanye balasan yang kuat, dan bahwa mereka akan memandang perang AS-Israel sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Menteri Energi Chris Wright memicu kehebohan pasar pada hari Selasa ketika ia mengunggah di media sosial bahwa Angkatan Laut telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Unggahannya mendorong kenaikan saham dan meyakinkan pasar minyak. Kemudian, ketika ia menghapus unggahan tersebut setelah para pejabat pemerintah mengatakan tidak ada pengawalan yang terjadi, pasar sekali lagi terguncang. Pencarian jalan keluar dari perang telah menjadi semakin mendesak sejak akhir pekan, karena harga minyak global melonjak dan Amerika Serikat menghabiskan amunisi yang mahal. Para pejabat Pentagon mengatakan dalam pengarahan tertutup baru-baru ini di Capitol Hill bahwa militer telah menggunakan amunisi senilai USD5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama perang, menurut para pejabat kongres, yang dikutip oleh surat kabar tersebut. “Jumlah dan tingkat pembakaran amunisi tersebut jauh lebih besar daripada yang telah diungkapkan kepada publik,” tambahnya. Serangan balasan Iran dimulai pada 28 Februari, hanya beberapa jam setelah AS dan Israel melancarkan agresi udara terhadap Iran dengan membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dan beberapa komandan militer senior. Serangan balasan Iran telah berhasil menargetkan banyak lokasi di wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di beberapa negara tetangga Iran.
Blunder AS, Tunjukan Pakai Wilayah Negara Teluk Serang Iran
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengindikasikan militer Amerika telah menggunakan pangkalan di negara-negara tetangga untuk menempatkan sistem serangan jarak jauh terhadap Iran.
Pengakuan ini muncul ketika CENTCOM membagikan gambar dan komentar yang menyoroti kemampuan sistem canggih seperti HIMARS dan Precision Strike Missiles dalam operasi serangan ke Iran.
WION melansir, Postingan publik tersebut menunjukkan bagaimana pasukan AS menggunakan sistem roket dan rudal serangan terhadap Iran. CENTCOM menggambarkan senjata ini memberikan “kemampuan serangan dalam yang tak tertandingi” dalam serangan tersebut.
Para pejabat Iran mengklaim bukti video yang dirilis oleh Komando Pusat Amerika Serikat menunjukkan sistem roket HIMARS Amerika digunakan dari negara-negara tetangga untuk menyerang sasaran-sasaran Iran.
AS belum mengungkapkan lokasi pasti dari lokasi peluncuran tersebut, sehingga memicu spekulasi bahwa pasukan Amerika mungkin beroperasi dari pangkalan-pangkalan di Teluk dalam jangkauan pantai selatan Iran.
Analis militer mencatat bahwa sistem HIMARS dapat menyerang sasaran pada jarak 300–500 km, yang berarti peluncur yang ditempatkan di sepanjang Teluk Persia dapat mengenai infrastruktur strategis Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan tajam mengkritik pengungkapan tersebut. “Terima kasih CENTCOM karena mengakui bahwa Anda menggunakan wilayah tetangga kami untuk menyebarkan sistem HIMARS terhadap rakyat kami,” tulis Araghchi.
“Tidak seorang pun boleh mengeluh jika rudal kami yang kuat menghancurkan sistem ini dimanapun mereka berada sebagai balasannya,” tambahnya.
AS menggunakan berbagai sistem senjata dalam perang Israel melawan Iran. Laporan menunjukkan bahwa pesawat terbang, drone, dan peluncur roket HIMARS telah menyerang lebih dari 1.000 sasaran jauh di wilayah Iran.
Pangkalan regional yang menampung pasukan AS termasuk lokasi di Teluk di mana HIMARS dan aset lainnya dapat mencapai Iran. Rilis gambar dan rincian penempatan CENTCOM dilakukan sebagai bagian dari penjelasannya tentang pendekatan operasional militer AS di Timur Tengah.
Negara-negara Arab sebelumnya membantah penggunaan wilayah mereka untuk menyerang Iran. Postingan CENTCOM tampaknya bertentangan dengan pernyataan ini.
29 Warga Israel Terinjak-injak Saat Berebut Hindari Rudal Iran
Layanan ambulans Israel melaporkan 29 warga Israel terluka akibat terinjak-injak saat berebutan mencapai bunker perlindungan. Kepanikan itu seiring gelombang pemboman Iran pada Selasa (11/3/2026) malam.
Garda Revolusi Iran mengumumkan peluncuran gelombang rudal baru sebagai bagian dari operasi yang disebut Iran sebagai “Janji Sejati 4” - saat fajar pada hari Rabu. IRGC mengatakan serangan itu akan berlangsung setidaknya tiga jam. Ini mewakili gelombang operasi ke-37.
Garda Revolusi mengatakan – dalam pernyataannya – bahwa gelombang rudal baru tersebut mencakup sasaran Amerika di Erbil, dan lokasi milik Armada Kelima, selain sasaran di jantung Tel Aviv.
YNet melansir, sirene alarm roket berbunyi dari Rehovot ke Hadera sesaat sebelum pukul 04.00 pagi pada Rabu dan setengah jam kemudian, menyebabkan jutaan orang di Israel tengah dan Tepi Barat bagian utara berebut menuju tempat perlindungan.
Tidak ada korban luka yang dilaporkan. Angkatan Udara Israel berhasil mencegat peluncuran dari Iran. Sirene Rabu pagi terdengar beberapa jam setelah, sesaat sebelum tengah malam pada Selasa malam, alarm peringatan akan adanya rudal yang ditembakkan dari Iran.
Sirene tambahan berbunyi setelah tengah malam pada Rabu pagi. Alarm juga berbunyi di Yerusalem dan kawasan Laut Mati, dan kemudian di Teluk Haifa dan kawasan Carmel. Pada saat yang sama, peringatan dibunyikan untuk memperingatkan masuknya pesawat tak berawak bersenjata di Galilea.
Seorang jurnalis India yang baru saja kembali dari Israel menggambarkan pembatasan ketat terhadap liputan media selama perang yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel.
Jurnalis Praj Mohan Singh mengatakan bahwa pihak berwenang mengontrol dengan ketat apa yang dapat didokumentasikan oleh wartawan mengenai kerusakan yang disebabkan oleh serangan rudal Iran, Aljazirah melaporkan.
“Pemerintah (Israel) tidak akan memberitahu Anda apa pun, Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika terjadi kecelakaan, kami bahkan tidak tahu di mana kejadiannya,” ujarnya.
Menurut Singh, otoritas pendudukan Israel juga melarang jurnalis merekam kehancuran yang disebabkan oleh serangan Iran. Kesaksiannya telah beredar luas di platform media sosial, di mana pengguna menggambarkannya sebagai bukti sensor ketat militer Israel selama konflik.
Perang dan Selat Hormuz yang Ditutup Iran, Gedung Putih Pun Panik Harga Minyak Dunia Meroket
Implikasi dari keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang dan memulai perang melawan Iran diibaratkan dalam laporan Raw Story, Rabu (11/3/2026) ikut menggoyang Gedung Putih saat para pejabat pemerintahan sempat berada pada mode panik mengetahui harga minyak dunia meroket hingga lebih dari 100 dolar AS per barel pada awal pekan ini.
Menurut Financial Times, Trump juga 'sangat marah' saat melihat harga minyak dunia sempat menyentuh 120 dolar AS per barel pada Senin. Info yang juga dikonfirmasi orang dalam Gedung Putih kepada Politico.
Kepanikan di Gedung Putih mengekspose sebuah kesalahan perhitungan mendasar dari pemerintahan AS saat ini. Para pejabat di pemerintahan Trump sepertinya tidak pernah mengantisipasi bahwa operasi militer di Timur Tengah akan mengirim pasar energi ke dalam kekacauan.
Namun, menurut seorang mantan pejabat di pemerintahan Trump mengatakan, diperlukan sebuah "pembacaan multipekan, konsisten" dari harga minyak sebelum pemerintahan ini menimbang ulang keputusan perang mereka. "Rotasi kecil sementara ini bukan hal yang akan dijadikan oleh mereka sebagai dasar kebijakan mereka," kata sumber itu, sembari mensinyalkan, lonjakan sementara harga minyak tidak akan mengubah keputusan militer.
Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia pada Senin lalu telah membuat kaget kalangan Gedung Putih. "Dalam momen terburuk malam itu, itu gila," kata seorang yang dekat dengan lingkaran Gedung Putih.
Alih-alih mengubah keputusan terkait agresi di Iran, pemerintahan Trump kemudian sibuk mengontrol dampak buruknya, memberikan jaminan kepada pialang minyak yang panik tentang stabilitas rantai pasok sembari menenangkan para politik Partai Republik yang cemas.
Dilaporkan, para anggota Kongres dari Partai Republik khawatir, perang Iran kontradiktif dengan pesan kampanye mereka di Pemilu Sela tahun ini, yakni soal meringankan biaya hidup. Sementara, kekhawatiran publik adalah hal yang substansial.
Menurut poling Quinnipiac, lebih dari 70 persen pemilih mengekspresikan kekhawatiran mereka bahwa perang akan mengerek harga minyak dan gas. Adapun, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menegaskan bahwa kenaikan harga minyak bersifat sementara, sambil menyebut pandangan Trump atas kenaikan harga minyak sebagai "disrupsi jangka pendek".
Sebelumnya, tak lama setelah harga minyak dunia mendadak meroket lebih dari 100 dolar AS per barel, Donald Trump mengeklaim bahwa perang melawan Iran "sudah sangat selesai" dan Washington "sangat jauh berada di depan" dari kerangka waktu awal perang selama empat pekan. Hal itu diutarakan Trump dalam wawancaranya dengan CBS News dilansir Reuters, Selasa (10/3/2026).
"Saya pikir perang sudah sangat selesai, sedikit banyak. Mereka tidak punya angkatan laut, tak ada komunikasi. Mereka tidak punya Angkatan Udara," kata Trump.
Saat ditanya soal Selat Hormuz, Trump mengatakan kapal-kapal sudah mulai melintasi selat itu, tapi dia sekarang "berpikir untuk mengambil alih."
Trump pun mengancam akan menyerang Iran "20 kali lebih keras" dari intensitas kali ini jika Teheran memblokade pasokan minyak di Selat Hormuz.
"Jika Iran melakukan apapun yang menghentikan pasokan minyak di Selat Hormuz, mereka akan diserang oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras dari yang mereka hadapi sejauh ini," kata Trump melalui Truth Social, Selasa.
Ia mengatakan bahwa AS juga akan mengincar target-target yang mudah dihancurkan sehingga "akan mustahil bagi Iran untuk membangun negaranya kembali" karena "kematian, api, dan amarah akan berkuasa di atas mereka".
"Tetapi saya berharap, dan berdoa, supaya hal tersebut tak terjadi!" ucap Presiden AS itu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan memberikan hak melintas penuh kepada kapal asal negara-negara Arab atau Eropa yang bersedia mengusir duta-duta besar Amerika Serikat dan Israel dari negara mereka. Iran dilaporkan menutup perlintasan Selat Hormuz sejak pecahnya perang dengan AS dan Israel.
"Negara Arab atau Eropa manapun yang mengusir duta-duta besar Israel dan AS dari wilayahnya akan diberikan kebebasan penuh dan hak melintas di Selat Hormuz mulai besok," menurut keterangan tertulis IRGC sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran, Selasa (10/3/2026).
Pad Rabu (11/3/2026), Iran dilaporkan mulai menyebar ranjau laut di Selat Hormuz, menurut dua sumber di kalangan intelijen AS dikutip CNN. Menurut laporan CNN, belum terlalu banyak ranjau yang disebar Iran namun penyebaran sudah dilakukan beberapa hari terakhir.
IRGC yang kini secara efektif mengendalikan Selat Hormuz bersama dengan Angkatan Laut Iran, memiliki kemampuan untuk mengerahkan serangkaian kapal penebar ranjau, kapal bermuatan bahan peledak, dan baterai rudal yang tersebar di pantai. Sebelumnya, IRGC sudah mengingatkan bahwa kapal yang berani melintasi Selat Hormuz akan diserang dan selat itu telah ditutup oleh Iran sejak perang dimulai.
Sumber CNN menggambarkan situasi Selat Hormuz saat ini seperti sebuah "lembah mati" menimbang risiko yang muncul dari aktivitas perlintasan kapal. Pejabat AS pada Selasa (10/3/2026) mengatakan bahwa Angkatan Laut AS tidak melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia mempertimbangkan opsi pengawalan itu.