Meski Harga Minyak Siuman, Lonjakan Pasokan Masih Mengintai

Meski Harga Minyak Siuman, Lonjakan Pasokan Masih Mengintai

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 26  Maret  2020 )

Meski Harga Minyak Siuman, Lonjakan Pasokan Masih Mengintai

Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Rabu (25/3/2020) menyusul perkembangan terbaru dari kebijakan stimulus di AS.

Di sisi lain, pasar minyak AS masih menunjukkan kekhawatiran bahwa ruang penyimpanan minyak akan terisi penuh karena permintaan yang berkurang.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei 2020 ditutup menguat 0,48 poin ke level US$24,49 per barel.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2020 menguat 0,24 poin ke level US$27,39 per barel.

Senat berencana mengadakan pemungutan suara pada Rabu terhadap paket bantuan stimulus senilai lebih dari US$2 triliun. Draf stimulus terbaru mencakup pinjaman dan bantuan untuk perusahaan besar, serta negara bagian dan kota senilai sekitar US$500  miliar.

Meskipun menguat menyusul perkembangan terbaru terhadap paket bantuan ekonomi AS, pelaku pasar masih khawatir mengenai lonjakan cadangan minyak mentah AS dalam beberapa pekan mendatang.

Manajer portofolio di Tortoise, Nick Holmes, mengatakan investor masih bergulat terhadap besarnya penurunan permintaan menyusul pandemi virus corona (Covid-19).

“Ditambah dengan lebih banyak pasokan yang masuk ke pasar, hal itu menciptakan dislokasi parah di pasar minyak. Ada banyak ketidakpastian tentang berapa lama permintaan akan tertekan dan seberapa besar tekanan tersebut,” ungkap Holmes, seperti dikutip Bloomberg.

Ketika pandemi Covid-19 menutup akses sejumlah negara, kekhawatiran mengenai dampak virus terhadap konsumsi terus meningkat. Kepala Vitol Group memperingatkan permintaan menurun dan akan menyusut lebih lanjut karena India menerapkan lockdown.

Pemerintah AS juga mengambil sikap yang lebih tegas dengan Arab Saudi di tengah perang harga dengan Rusia. Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mendesak Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman untuk memberikan respons yang tepat mengenai pasar energi pada saat ketidakpastian ekonomi.

Intervensi itu terjadi ketika surplus minyak mentah global memburuk, dengan laporan pemerintah AS pada hari Rabu menunjukkan stok naik 1,62 juta barel pekan lalu ke level tertinggi sejak Juli.

Persediaan telah meningkat selama sembilan minggu terakhir secara nasional dan selama tiga minggu berturut-turut di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma.

Perundingan RUU Berujung Voting, Wall Street Mixed

Mayoritas bursa saham Amerika Serikat berakhir menguat pada perdagangan Rabu (25/3/2020), setelah negosiasi mengenai RUU stimulus AS di Kongres berlanjut menuju pemungutan suara pada akhir pekan ini.

Indeks Dow Jones Industria Average ditutup menguat 2,39 persen atau 495,64 poin ke level 21.200,55, sedangkan indeks S&P 500 menguat 1,15 persen atau 28,23 poin ke level 2.475,56. Di sisi lain, indeks Nasdaq melemah 0,45 persen atau 33,56 poin ke level 7.384,30.

Indeks Boeing menjadi pendorong utama indeks Dow Jones setelah ditutup melonjak 24,32 persen. Sementara  itu, saham American Express Co menguat 7,28 persen.

Indeks S&P 500 sempat menguat hingga 5 persen sebelum kembali mereda menyusul perselisihan di Kongres AS mengenai RUU stimulus.

Senator Republik mengajukan keberatan atas bagian tunjangan pengangguran dari RUU stimulus, sedangkan Senator Vermont, Bernie Sanders, mengancam akan menegakkan undang-undang kecuali keberatan tersebut dibatalkan.

“Meskipun detail pasti masih belum terlihat, paket dukungan stimulus akan membantu meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan hasil ekonomi terburuk bagi individu dan perusahaan,” kata Oliver Blackbourn, manajer portofolio di Janus Henderson Investors, seperti dikutip Bloomberg.

“Investor perlu tetap waspada terhadap laju pertumbuhan kasus virus corona dan bagaimana tanggapan pemerintah ke depan. Meskipu kebijakan tampaknya telah mengurangi tekanan terhadap ekonomi, hanya data kesehatan yang lebih baik yang bisa menghilangkannya,” lanjutnya.

Senat berencana mengadakan pemungutan suara pada Rabu terhadap paket bantuan stimulus senilai lebih dari US$2 triliun. Draf stimulus terbaru mencakup pinjaman dan bantuan untuk perusahaan besar, serta negara bagian dan kota senilai sekitar US$500  miliar.

Dolar AS Terkoreksi Akibat Pembahasan RUU Stimulus US$2 Triliun

Dolar AS jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) seiring dengan rancangan undang-undang stimulus US$2 triliun dapat meningkatkan risiko, dan mengurangi permintaan terhadap mata uang safe haven itu.

Indeks dolar turun 0,81 persen menjadi 101,87. Sterling melonjak 1,33 persen menjadi 1,1913 dolar. Euro menguat 0,91 persen terhadap greenback menjadi 1,0885 dolar.

Saham-saham melonjak untuk hari kedua ketika para senator AS memberikan suara untuk paket legislasi bipartisan guna mengurangi dampak ekonomi yang merusak dari pandemi virus corona. Mereka berharap akan menjadi undang-undang dengan cepat.

Investor juga kemungkinan mengurangi eksposur terhadap dolar menjelang rilis data klaim pengangguran pada Kamis (26/3/2020). Data ini diperkirakan akan menunjukkan lonjakan orang yang mengajukan tunjangan, karena banyak tutup di seluruh negeri dalam upaya mengekang penyebaran virus.

Klaim pengangguran pada Kamis diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar satu juta, dari 281.000 minggu sebelumnya, menurut perkiraan median dari jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

“Perkembangan hari ini adalah alasan yang baik untuk mengecilkan taruhan bullish pada dolar,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, di Washington. “Tetapi sentimen masih positif (untuk dolar) karena ketidakpastian tetap tinggi tentang kerusakan ekonomi dari virus.”

Gubernur New York pada Rabu (25/3/2020) mengatakan ada tanda-tanda tentatif bahwa pembatasan memperlambat penyebaran virus corona di negara bagiannya. Bahkan ketika krisis kesehatan masyarakat semakin dalam di New Orleans yang terpukul keras dan bagian lain dari Amerika Serikat.

Mata uang tunggal juga didorong setelah majelis rendah Jerman pada Rabu (25/3) menyetujui paket stimulus besar-besaran oleh pemerintah Kanselir Angela Merkel.

Ekonomi Jerman dapat berkontraksi sebanyak 20 persen tahun ini karena dampak dari virus corona, seorang ekonom Ifo mengatakan pada Rabu (25/3/2020), ketika kepercayaan bisnis Jerman jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan global pada 2009.

Investor juga terus mencerna pengumuman Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Senin (23/3/2020) bahwa mereka akan meluncurkan pelonggaran kuantitatif (QE) tanpa batas, dan bagaimana hal itu akan berdampak pada greenback.

“QE pertama kali diperkenalkan kembali pada 2008, dolar pada awalnya melemah tetapi kemudian pulih ke level yang lebih kuat. Kami percaya bahwa dinamika kemungkinan akan terungkap sekarang,” kata Win Thin, kepala strategi mata uang global di Brown Brothers Harriman di New York.

Pemerintah AS Siapkan Dana Tangkal Corona, Wall Street Menghijau

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menghijau seiring dengan sentimen investor menunggu paket belanja pemerintah. Paket yang belum pernah terjadi sebelumnya itu ditujukan untuk melawan pukulan dari pandemi coronavirus.

Pada penutupan perdagangan Rabu (25/3/2020) waktu setempat, Dow Jones menanjak 2,39 persen, S&P 500 menguat 1,15 persen, NASDAQ terkoreksi -0,45 persen, dan NYSE naik 3,14 persen.

Dikutip dari Bloomberg, Indeks S&P 500 mencatat kenaikan dua hari terbesar sejak November 2008 setelah negosiasi semalam di Kongres membuka jalan untuk pemungutan suara untuk keputusan stimulus minggu ini.

Saham Boeing Co. menguat 24 persen, mengangkat Dow Jones Industrial Average tertimbang harga menuju yang terbaik dua hari sejak 1987. Namun, Indeks blue-chip masih turun sekitar 25 persen dari rekor Februari.

Namun, pergerakan saham sempat jatuh setelah senator Republik mengajukan keberatan atas bagian tunjangan pengangguran dari tagihan stimulus. Selain itu, Senator Vermont Bernie Sanders mengancam untuk menegakkan undang-undang kecuali keberatan itu dibatalkan.

Dari koporasi, Apple Inc. dikatakan sedang membahas menunda peluncuran iPhone 5G-nya, sehingga turut membebani sentimen terhadap pasar.

Meskipun ada harapan seputar stimulus, James Bullard, Kepala Federal Reserve Bank di St. Louis, mengatakan kepada wartawan bahwa ia memprediksi klaim pengangguran meningkat dan AS tidak akan melanjutkan kehidupan normal sampai orang merasa aman.

“Kesepakatan stimulus US$ 2 triliun dapat membantu meredam pukulan terhadap ekonomi, tetapi kami tidak berpikir bahwa itu bisa berlaku untuk aset berisiko,” kata Mark McCormick, kepala global strategi FX di Toronto Dominion Bank. “Setidaknya, jalan di depan masih akan berombak.”

Peningkatan ekuitas juga terjadi di Eropa, di mana para pimpinan bergerak akan mengeluarkan paket fiskal. Di Asia, patokan saham regional mencatat kenaikan satu hari terbaik sejak 2008. MSCI Asia Pasifik menguat 5,6 persen.

Investor melihat indeks ekuitas AS dan global membukukan kenaikan harian berturut-turut pertama sejak sesaat sebelum tren penurunan dimulai sebulan yang lalu.

Dengan infeksi virus corona yang meningkat secara global dan Spanyol melaporkan lebih dari 700 kematian dalam satu hari, pedagang diingatkan bahwa ancaman terhadap ekonomi global masih ada.

“Perdagangan pasar bergantung kepada sentimen. Beralih dari kepanikan ke optimisme, ”kata Nathan Thooft, kepala alokasi aset global Manulife Investment Management.

“Pada tingkat makro, kebijakan terus berevolusi, dan kita tahu data ekonomi akan menjadi buruk, tetapi sebesara besar [penurunan data ekonomi] belum bisa diprediksi, meskipun ada sedikit kepastian tentang durasi.”

Investor Antisipasi Stimulus, Indeks Stoxx Menguat Lebih dari 3 Persen

Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Rabu (25/3/2020), di tengah antisipasi investor terhadap paket kebijakan stimulus pemerintah.

Indeks Stoxx Europe 600 dituutp menguat 3,09 persen atau 9,38 poin ke level 313,38. Meskipun menguat dalam dua sesi perdagangan terakhir, indeks masih anjlok 28 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pada Februari 2020.

Sektor energi dan perjalanan & liburan, yang telah terpukul paling parah oleh Covid-19, memimpin penguatan indeks Stoxx hari ini karena valuasi saham yang murah menarik pembeli.

Dilansir dari Bloomberg, penguatan indeks didorong oleh antisipasi investor terhadap pake kebijakan stimulus fiskal AS senilai US$ 2 triliun.

Selain itu, sejumlah negara zona euro juga diperkirakan akan meningkatkan langkah-langkah untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat Covid-19. Anggota parlemen Jerman akan melakukan pemungutan suara untuk menggelontorkan paket bantuan kebijakan.

Sementara itu, Jerman juga dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menggunakan Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) untuk menopang ekonomi yang terdampak virus corona.

Investor berharap indeks indeks membukukan kenaikan harian berturut-turut pertama sejak sesaat sebelum anjloknya harga saham dimulai sebulan yang lalu, bahkan ketika ekonomi dari Milan ke Seattle belum pulih dari pandemi.

Dengan infeksi yang meningkat secara global dan Spanyol melaporkan lebih dari 700 kematian dalam satu hari, pelaku pasar diingatkan terhadap ancaman ekonomi global.

Kepala alokasi aset global Manulife Investment Management Nathan Thooft mengatakan sentimen saat ini terus berubah dengan cepat, bahkan dari kepanikan hingga optimisme.

“Pada level makro, kebijakan terus berevolusi, dan data ekonomi yang kita tahu akan menjadi buruk, tetapi besarnya belum dapat dipastikan,” ungkap Thooft, seperti dikutip Bloomberg.

Takut Tentaranya Tertular, Pentagon Perintahkan Semua Militer AS Setop Lakukan Perjalanan

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Mark Esper, telah mengeluarkan perintah penghentian perjalanan untuk militer AS. Petugas keamanan negara diminta untuk berhenti melakukan perjalanan dan pergerakan ke luar negeri hingga 60 hari.

Keputusan Pentagon ini dilakukan dalam upaya untuk membatasi penyebaran virus korona melalui satuan militernya. Sejauh ini langkah tersebut merupakan upaya yang paling luas dari Departemen Pertahanan dan akan mempengaruhi pasukan di seluruh dunia.

Esper mengatakan perintah itu berlaku untuk semua pasukan AS, personel sipil, dan keluarga, tetapi akan ada beberapa pengecualian. Pengecualian terhadap perintah itu adalah penarikan yang sedang berlangsung di Afghanistan.

“Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kami tidak membawa virus kembali ke rumah, menginfeksi orang lain, bahwa kami tidak menyebarkannya ke militer,” katanya.

AS telah berkomitmen untuk mengurangi jumlah pasukannya di Afghanistan menjadi 8.600 dari 13.000 dalam waktu 135 hari setelah menandatangani kesepakatan dengan Taliban bulan lalu. Penarikan penuh seluruh pasukan AS dan koalisi akan terjadi dalam waktu 14 bulan sejak kesepakatan ditandatangani, jika Taliban mempertahankan isi kesepakatannya.

“Itu (perintah berhenti pergerakan) tidak akan berdampak pada itu,” kata Esper tentang penarikan di Afghanistan.

Keputusan menghentikan perpindahan pasukan menggambarkan meningkatnya kekhawatiran Pentagon tentang penyebaran virus. Virus korona telah menginfeksi 227 tentara AS dan ini angka yang telah naik sekitar 30 persen hanya dalam beberapa hari terakhir.

Militer AS mengatakan telah meningkatkan kondisi perlindungan kesehatan atau HPCON di pangkalan-pangkalan di seluruh dunia menjadi Charlie pada Rabu (25/3/2020). Istilah itu merujuk pada tingkat tertinggi kedua yang menunjukkan transmisi masyarakat berkelanjutan.

“Kurva kami tidak rata. Dan itulah sebabnya kami pergi ke HPCON Charlie hari ini, yang mencakup pembatasan pada pertemuan besar dan termasuk jarak sosial tambahan,” kata Brigadir Jenderal Angkatan Udara Paul Friedrichs.

Ketika tingkat infeksi meningkat dan latihan militer dibatalkan, pejabat Pentagon semakin mengakui pandemi virus korona dapat mempengaruhi kesiapan militer untuk menghadapi konflik atau krisis. Naaun, Esper dan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Angkatan Darat AS Mark Milley, telah menekankan pasukan pemimpin militer akan berusaha untuk mengurangi risiko dan masih akan dapat menjalankan misinya.

Salah satu misi militer membantu respons domestik pemerintah AS terhadap pandemi. Sejauh ini, militer telah mengatakan sedang bersiap untuk mengerahkan rumah sakit lapangan ke Seattle dan New York.

Sebuah kapal rumah sakit Angkatan Laut sedang dalam perjalanan ke Los Angeles dan satu lagi diperkirakan akan menuju ke kota New York. Masing-masing kapal berkapasitas sekitar 1.000 tempat tidur untuk pasien non-virus korona.

Korps Insinyur Angkatan Darat sedang bekerja di New York untuk melihat bagaimana hal itu dapat meningkatkan kapasitas tempat tidur. Mereka mengatakan akan mengubah lebih dari 10.000 kamar yang kemungkinan hotel dan asrama kampus di New York.

Esper mengatakan militer siap untuk menawarkan lebih banyak sumber daya jika diminta untuk negara bagian New York yang menjadi pusat wabah AS. Unit medis tambahan telah disiagakan untuk mencoba tetap tinggal menunggu permintaan.

Lebih dari 10.700 pasukan Garda Nasional mendukung negara-negara bagian dalam upaya untuk melawan virus korona. Saat ini AS melaporkan virus korona telah menginfeksi lebih dari 65,342 orang di seluruh negeri dan menewaskan 922.

Raja Salman Lockdown Mekkah, Madinah, Hingga Riyadh

Perintah Raja Arab Saudi, Mohammad Salman, pada hari Rabu ini melarang orang-orang dari 13 provinsi Kerajaan untuk meninggalkan wilayah tersebut atau pindah ke wilayah lain. Perintah mulai berlaku pada hari Kamis (26/3), seperti dilansir Saudi Press Agency.

 

Selain itu, pihak kerajaan juga mengeluarkan perintah melarang orang memasuki atau keluar dari perbatasan Mekkah, Madinah, dan Riyadh.

 

Kebijakan ini dikeluarkan sebagai upaya yang lebih besar untuk menahan penyebaran virus corona. Aturan jam malam yang diberlakukan baru-baru ini akan dimulai pukul 15.00, bukannya 19.00 yang berlaku di kota-kota Mekkah, Madinah dan Riyadh. Arahan baru akan mulai berlaku dari Kamis sore hingga akhir periode jam malam diumumkan dalam perintah Raja yang lainnya.

 

Pihak Otoritas Saudi pun telah diberi wewenang untuk menambah jam malam, atau jam malam sepanjang hari di kota-kota Mekkah, Madinah dan Riyadh atau kota-kota lain, gubernur, dan daerah bila di rasa perlu. Kebijakan  ini akan bisa diambil berdasarkan proposal dari Kementerian Kesehatan.

 

”Pekerjaan untuk mengimplementasikan pesanan ini akan dimulai pada hari Kamis, 26 Maret,” begitu tambahan perintah kerajaan.

 

Larangan perjalanan tidak termasuk kelompok dan sektor yang telah dikecualikan sebelumnya dari jam malam. Ini mengingat pengecualian tersebut dalam ruang lingkup paling sempit dan sesuai dengan prosedur dan kontrol yang ditetapkan oleh otoritas terkait.

 

Perintah hari Rabu ini dikeluarkan berdasarkan pada kepedulian Raja Salman pada kesehatan dan keselamatan warga negara dan para ekspatriatnya. Dan ini juga berdasarkan dukungan dari pihak otoritas terkait. Tindakan pencegahan yang dipilih agar lebih dapat membatasi penyebaran virus corona baru.

 

Raja Salman memang mengeluarkan perintah jam malam pada hari Ahad lalu  dari jam 19.00 malam sampai pukul 06.00 pagi untuk jangka waktu 21 hari, yang efektif mulai 23 Maret. Selanjutnya, Kementerian Dalam Negeri memberikan klarifikasi mengenai sektor dan karyawan mana saja yang dibebaskan dari pembatasan jam malam.

 

 

 

Pangeran Charles Positif Corona, Sekarang Diasingkan

Pangeran Charles atau Prince of Wales dinyatakan terinfeksi virus Corona setelah tes terhadap dirinya menunjukkan hasil positif. Hasil itu telah dikonfirmasi oleh Clarence House telah mengkonfirmasi.

 

“Pangeran Charles (71) menunjukkan gejala ringan meski begitu, kesehatannya tetap baik,” kata seorang juru bicara Clarence House seperti dikutip dari BBC, Rabu (25/3/2020).

 

Sementara itu istri Pangeran Charles, Camilla atau The Duchess of Cornwall (72) juga telah diuji tetapi tidak hasilnya negatif.

 

“Sesuai dengan saran pemerintah dan medis, sang pangeran dan bangsawan sekarang mengasingkan diri di rumah di Skotlandia,” bunyi sebuah pernyataan resmi.

 

“Tes dilakukan oleh NHS di Aberdeenshire, di mana mereka memenuhi kriteria yang diperlukan untuk melakukan pengujian,” sambung pernyataan itu.

 

“Tidak mungkin untuk memastikan dari siapa sang pangeran terpapar virus karena tingginya jumlah keterlibatan yang dia lakukan dalam peran publiknya selama beberapa minggu terakhir,” demikian bunyi pernyataan itu.

 

Pandemi virus Corona di Inggris telah menginfeksi 8.077 orang, di mana 422 orang diantaranya meninggal dan 135 lainnya dinyatakan telah sembuh.

 

 

3 Penyebab Angka Kematian Korban Corona Italia Tertinggi di Dunia

Italia kini sudah dinobatkan sebagai negara kedua di luar China yang terdampak paling parah terkena pandemi virus corona atau COVID-19.

Dilansir AlJazeera, Selasa 24 Maret 2020, data terbaru angka kematian warga akibat corona di Negeri Pizza sudah melampaui China. Italia mencatat ada 6.078 kematian dari 63.928 yang terinfeksi dengan presentasi tingkat kematian tertinggi di dunia lebih dari 9 persen.

Besarnya jumlah korban COVID-19 di Italia masih menyisahkan banyak tanda tanya. Apa penyebab tingkat kematian virus corona begitu tinggi di sana? Sudah berminggu-minggu briefing harian selalu dilaksanakan oleh Lembaga Perlindungan Sipil Italia yang terus memberikan kabar terbaru tentang jumlah orang yang terbunuh oleh virus mematikan ini.

Meskipun serangkaian kebijakan dan imbauan sudah dilakukan dengan sangat ketat seperti lockdown, dan penutupan semua bisnis yang tidak penting, namun tetap saja angka kematian masih terus melonjak.

Sementara itu, di China di mana wabah ini berasal, angkat kematian akibat virus ini berada pada angkat 3,8 persen. Lalu di Jerman yang sudah melaporkan 24 ribu kasus dengan 94 kematian. Angka tingkat kematiannya ada di presentase 0,3 persen.

Berikut kemungkinan penyebab Italia memiliki tingkat kematian tertinggi dalam wabah virus corona ini, seperti dilansir dari AlJazeera.

  1. Umur dan Riwayat Penyakit Pribadi

Virus corona memang dikenal dapat menginfeksi orang-orang dari segala usia. Orang dewasa yang mengarah lebih tua, diketahui sistem kekebalannya menurun seiring bertambahnya usia, sehingga lebih rentan untuk menjadi sakit parah setelah tertular virus.

Di Italia sendiri 85,6 persen dari mereka yang telah meninggal akibat terjangkit virus ini adalah orang yang berumur 70 tahun ke atas menurut laporan Institusi Nasional Kesehatan.

Untuk diketahui, 23 persen dari seluruh populasi orang Italia berusia di atas 65 tahun. Catatan itu pun menobatkan negara mediteranian tersebut berada di posisi kedua di dunia setelah jepang dengan populasi orang lansia terbanyak. Ini dipercaya para pengamat berperan pada peningkatan angka kematian.

Selain itu, faktor lain yang dapat ditengarai menjadi pemicu tingkat kematian menjadi tinggi adalah sistem kesehatan warga Italia itu sendiri. Sistem kesehatan Italia menyediakan cakupan perawatan universal dan sebagian besar bebas biaya.

“Kami memiliki orang lanjut usia dengan banyak penyakit yang mampu hidup lebih lama berkat perawatan yang luas. Tetapi orang-orang ini lebih rapuh daripada yang lain,” kata Massimo Galli, kepala unit penyakit menular di Rumah Sakit Sacco di Milan.

  1. Kontak Sosial

Para ahli menunjuk “matriks kontak sosial” Italia sebagai alasan lain yang mungkin, meski tidak langsung di balik penyebaran virus corona di kalangan orang tua.

“Orang-orang lansia Italia, kebanyakan dari mereka hidup sendiri, tidak terisolasi, dan hidup mereka ditandai oleh lebih banyak interaksi intens dengan anak-anak mereka, dan populasi yang lebih muda dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Linda Laura Sabbadini, direktur pusat Italia Institut Statistik Nasional.

Ditegaskannya, ketika kejutan eksternal seperti wabah virus corona terjadi, penting bahwa interaksi ini menurun, karenanya mengisolasi orang lansia seharusnya segera menjadi prioritas.

Italia dinilai terlena dan tidak siap dalam menghadapi serangan wabah ini. Para dokter Italia yang kini sedang berjuang melawan pandemi itu memperingatkan bahwa jika kita tidak bertindak cepat, dan tegas konsekuensinya amat bahaya.

Ahli Epidemologi dan Profesor Kebersihan di Universitas Pisa, Perluigi Lopalco, memperingatkan negara lain harus memperhatikan bagaimana Italia mengambil kebijakan dalam situasi ini.

“Negara-negara lain harus memperhatikan dengan seksama. Setelah China, Italia adalah negara pertama dimana epidemi meletus, oleh karena itu, kita berurusan dengan efek dari epidemi stadium lanjut,” kata Perluigi.

  1. Tenaga Medis Tanpa APD Memadai

Di kota Lombardy, beberapa dokter yang berada di garis depan dalam melawan virus ini bekerja tanpa peralatan pelindung yang memadai. Menurut laporan yang membuat mereka berisiko tinggi sudah ada 14 tenaga medis kehilangan nyawa, dan total 3.700 perawat dan dokter terinfeksi saat bertugas.

Pihak berwenang di wilayah yang paling terdampak di Italia itu sedang berlari dengan waktu untuk terus mengisolasi orang, dan menemukan tempat tidur untuk pasien. Di pusat kota Milan, hotel Michelangelo bintang empat sedang diubah menjadi fasilitas karantina untuk 300 orang.

Sementara paviliun pameran diubah menjadi bangsal perawatan untuk jumlah pasien yang sama. Keduanya ini dijadwalkan akan beroperasi pada akhir minggu ini.

“Kita seperti orang yang tenggelam ke laut dengan ujung hidungnya masih bisa mencapai permukaan. Orang itu masih bernapas, tetapi juga berharap gelombang baru tidak datang,” ungkap Galli.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu