Wall Street Menanjak, Ini Pendorong Optimisme Pasar

Wall Street Menanjak, Ini Pendorong Optimisme Pasar

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 16 Oktober 2019 )

Wall Street Menanjak, Ini Pendorong Optimisme Pasar

Optimisme soal kesepakatan Brexit dan kuatnya laporan kinerja keuangan perusahaan turut mendongkrak tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) naik tajam pada akhir perdagangan Selasa (15/10/2019).

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 berakhir menanjak 1 persen di level 2.995,68, indeks Nasdaq Composite naik tajam 1,24 persen ke level 8.148,71, dan indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,89 persen di posisi 27.024,8.

Kabar bahwa para negosiator Uni Eropa dan Inggris hampir mencapai kesepakatan mengenai perpisahan Inggris dari Uni Eropa (Brexit) memicu penguatan di seluruh pasar ekuitas Eropa dan membantu mengangkat kenaikan Wall Street lebih lanjut pascarilis laporan kinerja keuangan yang kuat.

Nilai tukar pound sterling naik ke level tertingginya terhadap dolar AS dan euro sejak Mei setelah Bloomberg mengabarkan bahwa negosiator Inggris dan Uni Eropa mendekati kesepakatan soal draf Brexit.

Lonjakan saham tersebut serta merta meredakan kekhawatiran tentang dampak perang perdagangan AS-China yang berkepanjangan terhadap pertumbuhan global.

“Jika kita dapat menyelesaikan masalah perdagangan China dan memiliki resolusi yang cukup baik untuk masalah Brexit dengan Inggris, itu menambah rasa optimisme terhadap pasar bersama laporan kinerja keuangan hari ini,” ujar Rick Meckler, seorang mitra di Cherry Lane Investments.

Menurut David Joy, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial, pasar mungkin mendapat kabar baik dari dua penggerak utama yakni perang dagang AS-China dan Brexit.

“Hal-hal dengan Brexit tampaknya bergerak cukup cepat,” tutur Joy, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, hasil yang optimistis dari JPMorgan Chase & Co, UnitedHealth Group Inc., dan Johnson & Johnson meredakan kekhawatiran tentang dampak dari perang dagang AS-China yang berkepanjangan terhadap perusahaan-perusahaan AS.

Saham JPMorgan mencapai rekor tertinggi dan naik 3,01 persen, sementara saham UnitedHeath melonjak 8,16 persen dan J&J naik 1,62 persen.

Harapan Kesepakatan Brexit Dongkrak Bursa Eropa Naik Tajam

Bursa Eropa melonjak ke level tertingginya dalam hampir tiga bulan pada akhir perdagangan Selasa (15/10/2019), didorong pemberitaan bahwa para negosiator berada di ambang kesepakatan yang akan menghindari kekacauan soal Brexit.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup naik tajam 1,1 persen. Sejumlah indeks regional utama seperti DAX Jerman dan CAC 40 Prancis membukukan kenaikan serupa, sedangkan indeks saham di Irlandia melonjak hampir 3 persen.

Saham-saham Irlandia, yang sangat bergantung pada bisnis di Inggris dan dipandang sebagai barometer kekhawatiran pasar tentang perpisahan Inggris dari Uni Eropa (Brexit), mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Dua pejabat Uni Eropa menuturkan bahwa laporan Bloomberg tentang kesepakatan Brexit yang akan segera terjadi sebagai hal yang “prematur”.

Namun, pejabat ketiga mengungkapkan telah terjadi beberapa “konvergensi pandangan yang serius” dalam pembicaraan teknis sementara kepala perunding Uni Eropa Michel Barnier dan pejabat senior lainnya mengutarakan adanya progres.

Tetap saja, setiap kesepakatan baru masih harus diajukan ke parlemen Inggris yang terkenal telah menolak beberapa upaya mantan Perdana Menteri Theresa May untuk meloloskan kesepakatan yang disetujui dengan Brussels.

“Ada indikasi bahwa ini bisa menjadi pilihan yang lebih enak dibandingkan dengan kesepakatan May yang telah ditolak tiga kali sebelumnya. Ini jelas perkembangan yang bagus,” ujar Andrea Cicione, kepala strategi di TS Lombard, dikutip Reuters.

Wacana positif seputar Brexit pun mendorong penguatan nilai tukar pound sterling. Indeks FTSE 100 London yang berisikan perusahaan-perusahaan dengan fokus secara internasional terbebani, tetapi indeks midcap yang fokus di dalam negeri naik 1,3 persen.

Saham bank-bank Inggris seperti Lloyds, Royal Bank of Scotland, dan Barclays, beberapa yang dianggap paling rentan terhadap ketidakpastian ekonomi Inggris dan Brexit, naik antara 4 persen dan 5 persen.

Turut meningkatkan sentimen pasar adalah awal yang optimistis untuk musim laporan kinerja keuangan kuartalan di Amerika Serikat. Baik J.P Morgan maupun Johnson & Johnson melaporkan hasil yang lebih baik dari perkiraan.

“Peluncuran musim pelaporan dapat mendukung sentimen hari ini karena pasar mencoba mencermati beberapa angka positif yang datang dari Amerika Serikat,” jelas ahli strategi ekuitas Societe Generale Eropa Roland Kaloyan.

Indeks bank Eropa menguat 2,5 persen, terbesar di antara sektor-sektor utama, sedangkan peritel naik 2,4 persen.

Kesepakatan Dagang Fase-1 Makin Meragukan, Dolar AS Naik Lagi

Indeks Dolar AS (DXY) menanjak lagi setinggi 0.1 persen ke kisaran 98.53 pada awal sesi Eropa hari ini (15/Oktober), seiring dengan meningkatnya kesangsian terhadap prospek kesepakatan dagang AS-China dan kesepakatan brexit. Walaupun harapan pasar untuk tercapainya kedua kesepakatan itu masih tinggi, banyak pihak memilih wait-and-see. Minat beli safe haven juga tampak dari posisi USD/JPY menurun 0.15 persen ke level 108.23, serta AUD/USD melemah 0.2 persen ke level 0.6761. DXY Daily Presiden AS Donald Trump membanggakan rancangan kesepakatan dagang fase-1 pada hari Jumat lalu sebagai awal dari tercapainya kompromi menyeluruh dengan China. Akan tetapi, berita-berita terbaru justru mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak sebenarnya masih memiliki banyak perbedaan pendapat yang dapat menghalangi tercetaknya draft kesepakatan utuh yang siap untuk ditandatangani secara resmi. “Laporan media menyebutkan China menginginkan sebuah pertemuan tingkat tinggi lagi akhir bulan ini untuk finalisasi kesepakatan hari Jumat, mengisyaratkan bahwa tak semua rincian sudah disepakati,” kata Alex Stanley dari National Australia Bank, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Lanjutnya, “Partisipan pasar menyadari bahwa beberapa ‘kesepakatan’ AS-China sebelumnya telah gugur di tengah kesalahpahaman antara kedua belah pihak.” Patut untuk dicatat, rancangan kesepakatan fase-1 masih dalam tahap penggodokan oleh delegasi negosiasi AS dan China hingga lima pekan ke depan. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping baru akan menandatanganinya setelah delegasi mereka menyerahkan sebuah draft kesepakatan utuh yang dapat disepakati bersama, kemungkinan dalam bulan November. Di Benua Biru, upaya negosiasi brexit antara Inggris dan Uni Eropa juga tersandung tahap pembuatan draft kesepakatan utuh. Pekan lalu, pasar sempat girang karena PM Inggris Boris Johnson dan PM Irlandia Leo Varadkar mengungkapkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Namun, ternyata draft kesepakatan utuh belum tersusun hingga hari ini. Padahal, draft kesepakatan brexit final harus diajukan ke pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa tanggal 17-18 Oktober agar dapat mengejar deadline yang telah ditentukan.

Pengangguran Meningkat, Pound Masih Fokus Polemik Brexit

Pound Inggris kembali menanjak mendekati level 1.2700 terhadap Dolar AS dalam perdagangan hari ini (15/Oktober), karena tingginya ekspektasi untuk tercapainya kesepakatan brexit. Akan tetapi, banyak pihak memilih untuk bertindak lebih hati-hati, karena data ekonomi domestik semakin memburuk. Apabila polemik brexit tak benar-benar terselesaikan dalam bulan ini, maka kondisi ekonomi Inggris berpotensi memburuk lebih cepat. Laporan ketenagakerjaan Inggris bulan Agustus 2019 yang dirilis hari ini cenderung mengecewakan. Data Employment Change 3M/3M tercatat -56k, bukannya meningkat 23k seperti estimasi pasar. Average Earnings Index+Bonus hanya tumbuh 3.8 persen; lebih rendah dibandingkan prestasi 3.9 persen pada periode sebelumnya maupun estimasi yang dipatok pada 4.0 persen. Bahkan, tingkat pengangguran Inggris meningkat dari 3.8 persen menjadi 3.9 persen. “Laporan ketenagakerjaan Inggris yang sangat buruk, dengan penurunan jumlah orang bekerja terbanyak sejak tahun 2015,” kata Martin Lund dari Nordea Markets, “Kami telah memeringatkan tentang lemahnya outlook pasar tenaga kerja Inggris selama beberapa waktu. Kemungkinan pemangkasan suku bunga meningkat!” Chris Williamson dari IHS Markit juga berkomentar, “Lowongan kerja jatuh ke rekor terendah sejak akhir 2017, dan telah mengisyaratkan pelemahan berkelanjutan dalam permintaan staff sejak awal tahun. Situasi ini cocok sekali dengan sinyal pelemahan permintaan staff dalam survei industri rekrutmen REC/KPMG.” Laporan ekonomi Inggris kali ini tak berdampak besar terhadap nilai tukar Poundsterling, karena pelaku pasar masih berfokus pada negosiasi brexit. Optimisme untuk tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat kembali meningkat sehubungan dengan rumor terbaru dari meja perundingan Inggris-Uni Eropa. Tadi pagi, pimpinan negosiator Uni Eropa Michel Barnier mengatakan kepada wartawan di Luxemburg bahwa kesepakatan masih bisa tercapai dalam pekan ini, tetapi Inggris harus menyerahkan teks legal kesepakatan itu terlebih dahulu. Investor dan trader kini meningkatkan optimisme mereka, sembari mengamati apakah Inggris bisa mengajukan sebuah draft kesepakatan brexit utuh dalam pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa tanggal 17-18 Oktober, agar dapat mengejar deadline yang telah ditentukan. Apabila belum ada draft yang disetujui hingga 19 Oktober, maka legislasi parlemen Inggris (Benn Act) mengharuskan PM Boris Johnson untuk memohon penundaan deadline brexit dari 31 Oktober 2019 menjadi 31 Januari 2020 kepada Uni Eropa -sebuah langkah yang telah ditolak keras oleh Johnson-. Dalam pernyataan terakhirnya, Johnson masih bersikeras akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa deal apabila kesepakatan tak tercapai dalam pekan ini, walaupun tindakan itu akan dianggap melanggar hukum.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu