Tiga Indeks Wall Street Sentuh Rekor

Tiga Indeks Wall Street Sentuh Rekor

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 05  November 2019 )

Didorong Ekspektasi Kesepakatan AS-China, Tiga Indeks Wall Street Sentuh Rekor

Ketiga indeks saham utama AS membukukan rekor penutupan tertinggi pada Senin (4/11/2019), karena harapan lebih lanjut terhadap kesepakatan perdagangan AS-China.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 114,75 poin atau 0,42 persen  ke level 27.462,11, sedangkan indeks S&P 500 naik 11,36 poin atau 0,37 persen ke 3.078,27 dan Nasdaq Composite menguat 46,80 poin atau 0,56 persen ke 8.433,20.

Dilansir Reuters, setelah pejabat AS pada Jumat pekan lalu mengindikasikan bahwa kesepakatan perdagangan dengan China dapat ditandatangani bulan ini, Menteri Perdagangan Wilbur Ross mengatakan pada hari Minggu bahwa perusahaan-perusahaan AS akan segera diberikan lisensi untuk menjual komponen ke Huawei Technologies Co Ltd.

Pada bulan Mei, Huawei, penyedia peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, dimasukkan ke dalam daftar hitam AS karena alasan kekhawatiran keamanan nasional.

Sektor-sektor yang dianggap paling sensitif terhadap perang perdagangan meningkat. Indeks teknologi S&P 500 naik 0,6 persen, indeks Philadelphia Semiconductor mencapai rekor tertinggi, dan indeks industri S&P naik 1,2 persen.

“Optimisme terhadap kemajuan kesepakatan dengan China membuat investor lebih tergerak untuk terus membeli dan memanjat dinding kekhawatiran,” kata Michael James, direktur pelaksana perdagangan ekuitas di Wedbush Securities, seperti dikutip Reuters.

Sektor energi melonjak seiring dengan kenaikan harga minyak, dengan indeks energi S&P 500 menguat 3,2 persen, sedangkan sektor keuangan S&P 500 naik 0,9 persen, didorong oleh saham Berkshire Hathaway Inc setelah melampaui ekspektasi laba operasional kuartalan.

Pemangkasan suku bunga the Fed pekan lalu, harapan kesepakatan perdagangan, dan laporan pertumbuhan tenaga kerja bulan Oktober yang lebih baik dari perkiraan telah menjadi katalis utama dari reli baru-baru ini.

Membatasi kenaikan pada perdagangan Senin, saham McDonald’s Corp melemah 2,7 persen setelah perusahaan memecat Chief Executive Officer Steve Easterbrook karena hubungan asmara dengan karyawannya.

Musim pendapatan kuartal ketiga 2019 terlihat cukup optimis, dengan mayoritas perusahaan S&P 500 melampaui ekspektasi laba, menurut data IBES dari Refinitiv.

Saham Under Armor Inc turun 18,9 persen pada hari Senin karena produsen pakaian olahraga ini menurunkan proyeksi pendapatan setahun penuh untuk kedua kalinya tahun ini, sehari setelah mengkonfirmasi penyelidikan federal terkait dengan praktik akuntingnya.

Takut Dikalahkan China, Alasan AS Sulut Api Perang Dagang?

Amerika Serikat (AS) dan China telah terlibat perang dagang sejak awal tahun 2018 lalu. Kedua ekonomi terbesar di dunia itu juga telah saling menerapkan tarif hingga ratusan miliar dolar terhadap barang satu sama lain.

Berbagai faktor penyebab perang dagang mereka di antaranya adalah karena AS menganggap China melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Seperti melakukan pencurian kekayaan intelektual termasuk akibat lebarnya defisit perdagangan antara kedua negara.

Namun, dampak dari perang dagang tidak hanya berimbas pada kedua negara. Perang dagang juga telah menyebabkan perlambatan ekonomi global.

Bahkan menyebabkan perlambatan di negara-negara lainnya. Alasannya adalah karena negara-negara itu juga menjalin bisnis dan perdagangan dengan AS dan China.

Tapi, hingga saat ini masih banyak yang meragukan bahwa penyebab utama perang dagang kedua negara adalah praktik perdagangan China dan juga defisit. Sebab jika memang defisit, AS nyatanya tidak hanya mencatatkan defisit perdagangan yang lebar dari transaksinya dengan China.

Pemerintahan Presiden Donald Trump ini juga memiliki defisit perdagangan yang lumayan lebar dengan sekutunya, Jepang. Hal ini diungkapkan Michael Ivanovitch, seorang analis independen yang berfokus pada ekonomi dunia, geopolitik dan strategi investasi dalam tulisannya di CNBC International.

“Dengan Jepang, AS memiliki defisit sebesar US$ 48,6 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini, meningkat 6,3% dari tahun sebelumnya,” kata ekonom senior OECD di Paris ini yang juga ekonom internasional di Federal Reserve Bank New York dan pengajar ekonomi di Columbia Business School itu.

“Sementara itu dengan Uni Eropa, pada periode Januari hingga Agustus, surplus perdagangannya dengan AS mencapai 102,7 miliar euro, dan defisit perdagangan 127,4 miliar euro dengan China.”

“Jerman menyumbang hampir sepertiga dari surplus dengan AS dan mengalami defisit yang sangat kecil dengan China, yaitu 7,5 miliar euro.”

Ivanovitch juga mengatakan Jepang dan Jerman cukup banyak terdampak oleh perang dagang AS-China. Ia mengatakan, Kementerian keuangan Jepang mengumumkan pekan lalu bahwa rata-rata pertumbuhan tahunan Jepang adalah 0,6% pada tahun ini hingga Juni.

Namun begitu, Jepang tidak berencana untuk menyuntikkan stimulus untuk menopang perekonomiannya yang lesu.

Sama seperti Jepang, ekonomi Jerman juga terus melambat dalam beberapa bulan terakhir. Namun, negara ini mengatakan belum perlu membuat kebijakan untuk mendorong ekonominya, yang juga diperkirakan akan mandek di bulan-bulan mendatang.

“Jepang ternyata melakukan bisnis yang cepat dengan AS dan China. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, ekspor Jepang ke China mencapai US$ 86,4 miliar, hampir menyamai ekspor ke AS yang sebesar US$ 94,6 miliar. Kedua negara saat ini menyumbang hampir 40% dari total penjualan Jepang di luar negeri,” jelasnya.

Berdasarkan hal itu, Ivanovitch pun beranggapan bahwa China kemungkinan akan bisa menyamai AS dalam hal perdagangan, yang mungkin menjadi kekhawatiran AS. Namun, ia mengatakan perang dagang bukanlah jalan yang tepat bagi kedua negara untuk bersaing.

“AS akan disarankan untuk membuat kesepakatan perdagangan yang cepat dengan China dan untuk mengurangi retorika anti-China yang serampangan dan kontraproduktif,” ujarnya lagi.

“China, pada bagiannya, harus memahami bahwa neraca perdagangannya yang seimbang dengan AS adalah titik tolak untuk hubungan konstruktif yang bisa dijalani oleh kedua negara dan itu bisa sangat bermanfaat bagi negara-negara lain di dunia.” jelasnya.

Media Lokal Cina Tegaskan ‘Masalah Inti’ setelah Pembicaraan Dagang

Media pemerintah Cina menegaskan kembali tuntutan inti negaranya dalam perundingan dagang dengan Amerika Serikat dan termasuk juga penghapusan semua tarif setelah wakil tim perunding utama berbicara melalui saluran telepon minggu lalu.

“Bagi Cina, menghapus semua tarif tambahan adalah masalah utama yang tidak berubah dan tidak akan pernah berubah; bahkan jika ada kesepakatan tahap pertama, masalah inti ini harus tercermin,” Taoran Notes, blog Economic Daily yang berafiliasi dengan pemerintah, menulis pada hari Sabtu. Cina menekankan nilai yang “realistis” terkait pembelian produk AS dan isi penulisan kesepakatan yang “berimbang”. Sementara itu, perhatian utama pihak Amerika Serikat adalah pembelian produk pertanian.

Menurut laporan yang dilansir Bloomberg pada Senin (04/11) petang, Wakil Perdana Menteri Cina Liu He, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer melakukan pembicaraan melalui saluran telepon Jumat (01/11) pekan silam dan kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan yang menggambarkannya sebagai pembicaraan yang “konstruktif.” Presiden Donald Trump Minggu mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa jika sudah selesai kesepakatan perdagangan akan ditandatangani di Amerika Serikat.

Jika kedua belah pihak menjaga momentum dengan baik dan benar dalam mengatasi masalah inti, mereka akan semakin dekat untuk menyelesaikan kesepakatan tahap satu, menurut laporan. Namun, juga memperingatkan bahwa hambatan terbaru bisa muncul karena mengatasi tuntutan inti di kedua sisi tidak dapat diselesaikan dalam satu langkah

Aksi Demonstrasi Memicu Risiko Baru Bagi Ekonomi Global

Meredanya risiko yang telah mengganggu perekonomian global tahun ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020, namun aksi protes di seluruh dunia masih meninggalkan tantangan jangka panjang bagi pembuat kebijakan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Investasi AIA Group Mark Konyn dalam acara Reuters Global 2020 Investment Outlook Summit.

Konyn mengatakan bahwa siklus ekonomi akan berakhir pada paruh pertama tahun depan dan Eropa akan menjadi wilayah yang paling mungkin memberikan kejutan dalam perbaikan ekonomi, dibantu oleh memudarnya risiko mulai dari tekanan pada euro serta persoalan Brexit.

“Eropa bisa menjadi lebih buruk (pada tahun ini). Jika Anda menempatkan itu dalam konteks ekonomi global, lebih banyak dukungan yang tersedia,” katanya.

“Dalam lingkungan di mana AS mencatat kinerja yang lebih baik dari perkiraan dan stabilnya ekonomi China, ini adalah prospek yang lebih baik ke depannya,” lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

AIA yang berbasis di Hong Kong adalah perusahaan asuransi jiwa terdaftar terbesar di Asia, dan memiliki total aset senilai US$256 miliar per Juni 2019.

Konyn mengatakan bahwa mesin utama pertumbuhan global adalah belanja konsumen AS yang kuat, yang akan membatasi kebutuhan Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut terlepas dari adanya perhelatan pemilihan presiden AS pada tahun 2020.

“Pasar akan menyesuaikan dengan komentar di sekitar pemilihan presiden. Kami pikir ini tahun di man AS mencatat pertumbuhan yang wajar,” tambahnya.

Di Asia, sejumlah bank sentral akan memangkas suku bunga lebih jauh untuk mengimbangi dampak perang perdagangan AS-China.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan dalam proyeksinya baru-baru ini bahwa tarif yang diberlakukan atau diancam oleh Beijing dan Washington dapat memangkas PDB global hingga 0,8 persen pada tahun 2020 dan menimbulkan kerugian di tahun-tahun mendatang.

Tidak Berkelanjutan

Selain risiko terhadap pertumbuhan global, pasar semakin memperhatikan demonstrasi anti-pemerintah yang menyebar dari Chili dan Prancis hingga Hong Kong, Irak, dan Lebanon.

Meskipun Konyn memperkirakan demonstrasi tidak secara signifikan memengaruhi pertumbuhan global dalam waktu dekat, ia mengatakan politisi dan pembuat kebijakan lainnya harus mengatasi peningkatan ketimpangan sosial sejak krisis keuangan global 2008 silam.

“Anda telah melihat di seluruh dunia kesenjangan orang kaya dan yang miskin, terutama di negara maju, dengan adanya pengembalian modal yang kuat tetapi tidak banyak pertumbuhan tenaga kerja. Ini adalah masalah struktural yang perlu ditangani karena tidak berkelanjutan,” ungkapnya.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu