Serangan Drone Buat Investor Resah, Wall Street Melemah

Serangan Drone Buat Investor Resah, Wall Street Melemah

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 17 September 2019 )

Timur Tengah Tegang, Lonjakan Harga Minyak Dekati 15 Persen

Kenaikan harga minyak naik mendekati 15 persen pada perdagangan kemarin dan minyak mentah jenis Brent mencatat lonjakan terbesar dalam kurun lebih dari 30 tahun di tengah rekor volume perdagangan.

Lonjakan harga itu terjadi setelah serangan terhadap fasilitas minyak mentah Arab Saudi memangkas produksi minyak kerajaan itu menjadi separuhnya.

Sementara, kekhawatiran akan terjadi ketegangan memuncak di Timur Tengah. Serangan itu meningkatkan ketidakpastian di pasar yang relatif tenang dalam beberapa bulan terakhir.

Kekhawatiran muncul karena berkurangnya minyak mentah dari Arab Saudi yang secara tradisional menjadi pemasok utama di dunia.

Guncangan pasar minyak mencapai level tertinggi sejak Desember tahun lalu, sedangkan aktivitas perdagangan menunjukkan investor memperkirakan harga akan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Miyak mentah Brent berada di posisi US$69,02 per barel atau naik US$ 8,80, atau 14,6 persen. Kenaikan persentase satu hari itu merupakan yang terbesar sejak 1988.

Perdagangan berjangka untuk Brent tercatat lebih dari dua juta kontrak yang merupakan   rekor volume harian sepanjang masa, kata juru bicara Intercontinental Exchange, Rebecca Mitchell seperti dikutip Reuters, Selasa (17/9/2019).

Sedangkan kontrak untuk minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada posisi US$62,90 per barel atau melonjak US$8,05 (14,7 persen). Kenaikan persentase itu merupakan yang tertinggi dalam satu hari sejak Desember 2008.

“Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi muncul sebagai kejutan,” kata Tony Headrick, seorang analis pasar energi di Stpaul, Minnesota yang merupakan pialang komoditas CHS Hedging LLC. Dia melihat perubahan harga tersebut terjadi tanpa diduga.

Arab  Saudi merupakan pengekspor minyak terbesar di dunia dan dengan kapasitas cadangan yang relatif besar, negara itu menjadi pemasok yang aman beberapa dekade.

Serangan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah milik produsen Saudi Aramco di Abqaiq dan Khura telah memangkas produksi sebesar 5,7 juta barel per hari dan menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan negara itu untuk mempertahankan ekspor minyak.

Pihak Aramco belum memberikan batas waktu kapan perusahaan itu akan beroperas secara penuh.

Serangan Drone Buat Investor Resah, Wall Street Melemah

Saham energi melonjak namun pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) harus berakhir melemah pada perdagangan Senin (16/9/2019) di tengah kekhawatiran investor tentang risiko geopolitik dan ekonomi global.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup turun 0,31 persen di level 2.997,96, indeks Nasdaq Composite turun 0,28 persen ke level 8.153,54, dan indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,52 persen di posisi 27.076,82.

Serangan drone terhadap raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, pada Sabtu (14/9) sempat mendorong harga minyak naik lebih dari 20 persen sebelum kemudian berkurang setelah berbagai negara mengatakan akan memanfaatkan cadangan darurat guna memastikan pasokan yang stabil.

Indeks energi S&P 500 pun melonjak 3,3 persen, kenaikan harian terbesar sejak Januari. Saham Apache Corp, Helmerich and Payne, dan Cimarex Energy melonjak antara 12 persen-17 persen, sekaligus memimpin kenaikan pada S&P 500.

Koalisi militer pimpinan Saudi yang memerangi gerakan Houthi dari Yaman mengatakan serangan itu dilakukan dengan senjata Iran. Hal ini serta merta meningkatkan prospek konflik global yang melibatkan AS dan Iran.

“Investor AS sedang menunggu dengan napas tertahan tentang apa yang mungkin dilakukan AS dan aliansinya,” ujar Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.

Namun antisipasi dari biaya bahan bakar yang lebih tinggi membebani saham maskapai dan operator pelayaran. Indeks maskapai pada S&P 1500 turun 2,1 persen, sedangkan saham Carnival Corp turun 3,2 persen.

Adapun indeks ritel S&P 500 kehilangan 1,4 persen. Para peritel, yang akan dirugikan oleh kenaikan harga bahan bakar, menjadi salah satu penekan terbesar pada S&P 500.

“Serangan drone di Saudi telah berdampak pada bagaimana investor melihat keamanan dan stabilitas rantai pasokan energi global serta mendorong tingkat penilaian ulang risiko,” ujar Peter Kenny, pendiri Kenny’s Commentary LLC dan Strategic Board Solutions LLC di New York.

Di sisi lain, saham perusahaan pertahanan Raytheon Co, Lockheed Martin Corp, dan Northrop Grumman Corp naik lebih dari 2 persen.

5 Hal Penting Perlu Diketahui di Kalender Ekonomi Pekan Ini

  1. Minyak Siap Melonjak setelah Serangan Saudi

Serangan terhadap pabrik pemrosesan minyak besar Arab Saudi pada hari Sabtu akan menguji kemampuan dunia untuk menangani krisis pasokan karena sedang menghadapi kehilangan sementara lebih dari 5% pasokan global dari eksportir minyak mentah terbesar di dunia.

AS telah menyalahkan Iran atas serangan itu, yang akan memangkas produksi Saudi sekitar 5,7 juta barel per hari (bph), lebih dari setengah produksi kerajaan tersebut, menurut pernyataan dari Aramco perusahaan minyak Saudi yang dikelola pemerintah.

Harga minyak mentah bisa melonjak beberapa dolar per barel ketika pasar dibuka Minggu malam waktu setempat akibat pemadaman berkepanjangan yang dapat mendorong AS dan negara-negara lain untuk melepaskan minyak mentah dari cadangan minyak strategis mereka agar bisa meningkatkan stok komersial secara global.

“Harga minyak akan melompat karena serangan ini, dan jika gangguan pada produksi Saudi berlanjut, pelepasan SPR … tampaknya mungkin terjadi dan masuk akal,” ungkap Jason Bordoff, direktur pendiri Pusat Kebijakan Energi Global di Universitas Columbia Kota New York.

  1. Fed akan Pangkas Suku Bunga Lagi

The Fed diperkirakan bakal menurunkan suku bunga lagi pada akhir pertemuan kebijakan dua hari Rabu setempat, untuk mengimbangi risiko perekonomian AS akibat dari ketegangan perdagangan antara Beijing dan Washington, Brexit dan perlambatan global.

Investor menghargai peluang 78,5% penurunan suku bunga 25 basis poin, menurut data Investing.com. The Fed memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade di bulan Juli lalu.

“Kami pikir The Fed akan turun mendukung pemotongan suku bunga 25bp lagi dalam apa yang akan digambarkan sebagai langkah asuransi terhadap tantangan yang dihadapi perekonomian”, analis ING menulis dalam catatan. “Selain itu, penurunan suku bunga Fed akan membantu mengurangi tekanan ke atas pada dolar AS mengingat kebijakan pelonggaran juga datang dari bank sentral lain seperti ECB.”

  1. ‘Super Kamis’ Bank Sentral

Pada hari Kamis, pelaku pasar akan melihat pertemuan kebijakan dari bank sentral di Jepang, Inggris, Norwegia dan Swiss pasca keputusan Fed yang dirilis sebelumnya pada Rabu waktu setempat serta paket stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) di minggu lalu.

Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah kecuali keputusan Fed menyentak pasar dan memicu lonjakan yen.

Swiss, dengan suku bunga sebesar -0,75%, sejauh ini masih tenang terhadap prospek meniru pelonggaran kebijakan ECB tetapi akan menjadi lebih khawatir karena lonjakan franc ke tingkat tertinggi dua tahun terhadap euro.

Bank of England diharapkan tidak bakal melakukan perubahan, tetapi pernyataan suku bunganya akan diawasi dengan cermat untuk mencari tiap nada kekhawatiran atas kejatuhan ekonomi akibat dari Brexit.

Bank sentral Norwegia bisa meningkatkan suku bunga lagi, tetapi dengan kebijakan pelonggaran mulai menyelubungi kenaikan suku bunga tersebut dan ini sangat mungkin untuk menandai akhir dari siklus kebijakan pengetatan bank sentral Norwegia.

  1. Harapan Perdagangan

Para pejabat junior AS dan Cina bakal bertemu pada pekan ini menjelang pembicaraan yang direncanakan antara negosiator perdagangan senior terjadi di awal Oktober dan investor akan mewaspadai adanya indikasi bahwa hubungan antara kedua belah pihak sedang mencair.

Beijing membebaskan beberapa produk pertanian dari tarif tambahan atas barang-barang AS minggu lalu dan Presiden Donald Trump menunda kenaikan tarif produk Cina tertentu selama dua minggu.

Data ekonomi dari Cina pada hari Senin, termasuk laporan produksi industri, penjualan ritel dan investasi aset tetap akan memberikan wawasan bagaimana perekonomian terbesar kedua dunia ini bertahan di tengah perang dagang yang berlangsung terus menerus.

  1. Data Ekonomi & Laporan Pendapatan

Kalender ekonomi akan memberikan pembaruan tentang kesehatan pasar perumahan AS yakni laporan perumahan baru dan penjualan rumah lama. Raksasa pengiriman global FedEx (NYSE:FDX), yang dianggap sebagai penentu arah bagi perekonomian AS, akan melaporkan pendapatan pada hari Selasa.

Di zona euro, laporan indeks ZEW Jerman Selasa akan menawarkan wawasan lebih lanjut apakah perekonomian terbesar blok Eropa tersebut berada di jalur menuju resesi setelah sedikit berkontraksi pada kuartal kedua.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu