Protes Hong Kong

Protes Hong Kong

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 13 Juni 2019 )

1. Protes Hong Kong

Polisi di Hong Kong menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah kerumunan besar warga yang memprotes pemberlakuan undang-undang baru yang memungkinkan orang dapat dikirim ke China daratan untuk diadili. Erosi hak-hak keadilan cenderung merusak kepercayaan investor di pasar bekas koloni Inggris Raya tersebut.

Protes tersebut datang pada waktu yang buruk untuk Beijing, hanya beberapa hari setelah peringatan 30 tahun pembantaian Lapangan Tiananmen dan beberapa minggu sebelum pertemuan puncak para pemimpin dunia di Tokyo, di mana Presiden Donald Trump dan Xi Jinping akan mencari untuk menghidupkan dukungan atas masing-masing visi kepemimpinan dunia.

Indeks Hang Seng merosot 1,9%, lebih besar dari penurunan 0,8% indeks acuan Shanghai Shenzhen CSI 300 di daratan China.

2. Harga Minyak Meluncur Deras

Harga minyak merosot tajam di tengah kekhawatiran yang muncul dari banjir pasokan pasar global setelah pemerintah Amerika Serikat merevisi turun perkiraan permintaan minyak global tahun ini sebesar 160.000 barel per hari.

Minyak mentah AS berjangka anjlok 2,8% pada $51,80 pukul 16.45 WIB, sementara Brent berjangka internasional karam 2,6% ke $60,67.

Meskipun Badan Informasi Energi juga menurunkan estimasi produksi minyak AS sebesar 140.000 barel per hari, pasar masih menerima berita negatif, ketakutan mereka semakin membesar akibat dipengaruhi oleh peningkatan ketujuh kalinya stok minyak mentah AS dalam delapan minggu terakhir, sebagaimana dihitung oleh American Petroleum Institute.

Analis mengharapkan data resmi untuk menunjukkan penurunan moderat persediaan ketika data dirilis pada pukul 21.30 WIB.

3. Wall Street Bergerak Melemah; CPI Disorot

Wall Street terlihat akan dibuka lebih rendah saat sentimen negatif yang keluar dari pasar minyak juga mempengaruhi pasar ekuitas.

Pada pukul 16.50 WIB, kontrak S&P 500 melemah 10 poin atau 0,4%, Dow berjangka turun 92 poin, atau 0,4%, sedangkan indeks teknologi Nasdaq 100 Berjangka berkurang 41 poin, atau 0,5%

Dengan pengurangan suku bunga oleh Federal Reserve sekarang sebagian besar dihargai ada pada bulan Juli, tren bullish akan berharap bahwa pembacaan inflasi konsumen bulan Mei pukul 19.30 WIB yang tidak akan mempersulit Fed untuk membenarkan langkah seperti itu.

4. Musk Prediksi Rekor Kuartal bagi Tesla

Saham Tesla (NASDAQ:TSLA) siap dibuka naik lebih dari 2% setelah CEO Elon Musk mengatakan perusahaan memiliki “kesempatan yang layak untuk menciptakan rekor kuartal di setiap level,” pada pertemuan tahunan pemegang saham perusahaan.

Juga pada pertemuan itu, Musk mengatakan perusahaan “mungkin masuk ke dalam sektor pertambangan” di masa depan dan ini bisa membantu menjamin pasokan elemen langka yang dibutuhkan oleh kendaraan listrik.

Saham Tesla sekarang telah naik sekitar 15% dari posisi terendah setelah pengumuman kenaikan modal $2,7 miliar, tetapi harga masih turun lebih dari 30% untuk 2019 hingga saat ini.

5. Departemen Kehakiman AS Kirim Peringatan pada Perusahaan Teknologi Raksasa

Facebook (NASDAQ:FB), Google (NASDAQ:GOOGL) dan lainnya tidak dapat mengandalkan menghindari dari pengawasan antimonopoli hanya karena mereka menawarkan layanan gratis, kepala antimonopoli Departemen Kehakiman (DoJ) Makan Delrahim memperingatkan dalam pidatonya.

Delhrahim membandingkan raksasa teknologi hari ini secara langsung dengan Standard Oil dalam pidatonya pada sebuah konferensi di Israel. Ini mengundang spekulasi bahwa pemerintah berniat untuk menekan mereka sama seperti menghancurkan perusahaan minyak John D. Rockefeller.

Delrahim, yang akan memimpin regulasi atas Apple (NASDAQ:AAPL) dan Google di bawah pembagian tanggung jawab terbaru dengan Komisi Perdagangan Federal (FTC), mengatakan bahwa masalah-masalah seperti kebebasan berbicara dan privasi data juga akan menjadi masalah yang dipertimbangkan ketika pihak berwenang mencari cara untuk mengatur sektor ini dengan lebih baik.

Untuk Menguasai Teknologi, China Membuat âNasdaqâ di Shanghai

Perusahaan-perusahaan China dan investor sedang mengantri untuk mengambil bagian di bursa teknologi Shanghai. Inilah gaya bursa Nasdaq Amerika Serikat (AS) yang ditiru oleh China.

Penyebabnya apa lagi kalau bukan perang dagang gaya Donald Trump yang mempermalukan Huawei di kancah bisnis global. Alhasil, muncul semangat patriotisme di dalam negeri untuk sama-sama membantu anak bangsa.

Hanya dalam waktu dua bulan sejak periode pendaftaran dimulai, 120 perusahaan – kebanyakan di industri seperti semiconductor, artificial intelligence dan biotek – sudah mendaftarkan diri, dengan total dana yang dibutuhkan US$16 miliar.

Sebagai perbandingan, nilai IPO di main board bursa Shanghai pada tahun lalu berhasil meraih dana US$11,7 miliar. Sementara di Shenzhen Exchange berhasil meraih US$8 miliar, menurut data dari Refinitiv, sebagaimana dikutip Reuters.

Dari sisi investor, ada gerak cepat untuk membentuk mutual fund yang berfokus ke teknologi. Menurut China Regulatory Commission (OJK-nya China), saat ini ada 100 lembaga yang menunggu perizinannya disetujui.

Sejak 12 Mei, sudah diluncurkan 12 lembaga yang memang menargetkan papan bursa berbasis teknologi ini. Di mana masing-masing sudah mengumpulkan dana US$145 juta.

Sama dengan Nasdaq, di bursa ini perusahaan yang listing tidak harus sudah mempunyai profit. Asal tahu saja, bursa Sci-tech Innovation Board ini diluncurkan secara mendadak pada November 2018 lalu oleh Presiden Xi Jinping. Tampaknya bursa ini sebagai salah satu jalan bagi Beijing agar bisa menguasai teknologi inti, seperti misalnya chips, secara mandiri.

Empat tahun lalu sebenarnya China sudah menayangkan visi “Made in China 2015”. Tapi, sejalan dengan meningkatnya eskalasi perang dagang dengan AS, tampaknya China harus mempercepat implementasinya.

“Perang dagang bukan hanya perkara China harus lebih banyak mengimpor kedelai atau mengurangi defisit perdagangan,” ujar Shi Donghui, direktur Capital Market Institute dari Shanghai Stock Exchange pada acara forum keuangan pada bulan lalu, setelah gagalnya pembicaraan antara AS dan China.

“Tapi ini perkara bagaimana menguasai jaringan supply chain dan teknologi inti,” tambahnya. Dia menambahkan bahwa kedua negara sekarang sedang bertarung mencari posisi yang terkuat di bidang ekonomi. Karena itu seluruh sumber daya manusianya kini sedang bekerja habis-habisan, 24 jam setiap hari, nyaris tanpa libur.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu