Pound Sterling Diproyeksi Perpanjang Kerugian

Pound Sterling Diproyeksi Perpanjang Kerugian

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 06 Januari 2020 )

Dampak Ketegangan Iran – AS, Emas Naik ke Level Tertinggi Sejak 2013

Harga emas naik ke level tertinggi dalam lebih dari enam tahun terakhir, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian geopolitik dan permintaan akan aset safe haven.

Harga emas di pasar spot menguat 2,3 persen ke level US$1.588,13 per troy ounce, level tertinggi sejak April 2013, dan diperdagangkan 1,5 persen di posisi US$1.575,36 pada pukul 7.22 waktu Singapura.

Sementara itu, harga emas berjangka Comex untuk kontrak Februari 2020 menguat 1,15 persen ke level US$1.570,30 per troy ounce pada pukul 07.04 WIB.

Seperti dilansir Bloomberg, pemerintah Iran mengatakan tidak akan lagi tunduk pada larangan pengayaan uranium setelah pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani, sementara parlemen Irak memilih untuk mengusir pasukan AS dari negara tersebut.

Anggota parlemen AS pada hari Minggu bahwa ia siap untuk menyerang Iran “dengan cara yang tidak proporsional” jika negara tersebut melakukan balasan terhadap target AS.

Emas meraih awal yang gemilang di tahun 2020 dan membangun penguatan tahunan terbesar dalam hampir satu dekade, didorong oleh pelemahan dolar, suku bunga riil yang lebih rendah, dan dampak perang dagang dalam mengekang pertumbuhan global.

Kepala analis pasar AxiTrader Ltd., Stephen Innes mengatakan setelah serangan udara AS, kekhawatiran tentang seberapa jauh kedua belah pihak akan meningkatkan konflik akan membatasi sejauh mana pagar lindung nilai bergerak.

“Dengan perdagangan S&P 500 mendekati level tertinggi sepanjang masa dan mengingat pasar telah melakukan perdagangan dengan bias risiko positif yang kuat, emas sejauh ini merupakan lindung nilai terbaik di lingkungan ini dan akan menarik lebih banyak pembelian bahkan dari mereka yang cenderung tidak bermain-main dengan emas,” kata Innes, seperti dikutip Bloomberg

Pound Sterling Diproyeksi Perpanjang Kerugian

Pound sterling diprediksi memperpanjang kerugiannnya pada pekan ini, seiring dengan data ekonomi Inggris yang dirilis lebih rendah daripada perkiraan pasar dan menjadi sinyal ekonomi Negeri Ratu Elizabeth tersebut masih dalam tekanan di tengah ketidakpastian Brexit.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan pekan lalu, Jumat (3/1/2020), pound sterling ditutup di level US$1,3083 per pound sterling, melemah 0,47%.

Ahli Strategi Commonwealth Bank of Australia Elias Haddad mengatakan bahwa pound sterling berada dalam tekanan akibat kontraksi yang lebih dalam di sektor konstruksi Inggris.

Survei IHS Markit / CIPS menunjukkan penurunan konstruksi yang semakin dalam pada periode Desember 2019, didorong oleh penurunan tajam dalam aktivitas teknik sipil sejak 2009. Sementara itu, pertumbuhan pinjaman konsumen tanpa jaminan Inggris juga melambat menjadi 5,7% pada 2019, peningkatan terkecil sejak Juni 2014.

Selain itu, berdasarkan survei Bank of England bahwa 42% dari bisnis Inggris memperkirakan ketidakpastian Brexit masih berlangsung setidaknya hingga 2021.

“Sterling berada di bawah tekanan turun juga karena dolar AS yang cenderung lebih kuat dan ketidakpastian yang dihasilkan oleh negosiasi perdagangan pasca-Brexit,” ujar Elias seperti dikutip dari Reuters, Minggu (5/1/2020).

Sementara itu, mengutip riset bank MUFG jika tidak terlihat peningkatan yang lebih signifikan dalam sentimen dan aktivitas bisnis dalam beberapa bulan mendatang maka sulit untuk melihat pound sterling reli ke kisaran level US$1,3 per pound sterling hingga level US$1,35 per pound sterling.

Sebagai informasi, mata uang Inggris sempat meroket hingga lebih dari US$1,35 per pound sterling setelah pemilihan umum 12 Desember yang memenangkan Partai Konservatif.

Namun, reli tersebut telah dirusak akibat janji Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk tetap dengan batas waktu Brexit pada akhir 2020 untuk menegosiasikan kerangka kerja perdagangan dengan Uni Eropa.

Periode negosiasi selama 11 bulan tersebut dinilai pasar tidak cukup lama, sehingga banyak ketakutan dari pasar bahwa Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepkatan dagang apapun.

Dalam risetnya, bank MUFG mengatakan bahwa pada perdagangan pekan ini fokus investor akan tertuju pada pertemuan parlemen Inggris pada Selasa (7/1/2020) untuk membahas kesepakatan Brexit.

Keputusan apapun dari hasil pertemuan tersebut yang akan meningkatkan ketidakpastian Brexit akan memberikan tekanan tambahan terhadap pound sterling sehingga mata uang itu akan terus terdepresiasi.

Harga Minyak Dunia : Pasar Mengamati Kemungkinan Serangan Balasan Iran

Harga minyak mentah global berpotensi masih memanas usai perhatian pasar beralih ke pembalasan Iran atas serangan udara Amerika Serikat yang membunuh Mayor Jenderal Qasem Soleimani, perwira militer senior Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate ditutup melesat 3,06% atau 1,87 poin menjadi US$63,05%, sedangkan harga minyak mentah Brent ditutup menguat 3,55% atau 2,35 poin menjadi US$68,60 per barel, Jumat (3/1/2020).

Dilansir dari Bloomberg, Minggu (6/1/2020), CNN melaporkan mengutip pejabat pertahanan AS, Negeri Paman Sam juga berencana mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan regional.

“Hal ini adalah peristiwa seismik di wilayah ini,” kata Jason Bordoff, mantan pejabat pemerintahan Barack Obama.

Dia mengatakan, serangan itu berpotensi memunculkan balasan hebat dari Iran. Dalam hal ini, sektor energi pun terancam. “Tanggapan Iran akan sangat parah dan mematikan. Tentunya termasuk eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran dalam wawancara dengan TV pemerintah mengatakan, respon Republik Islam Iran terhadap pembunuhan tokoh militer penting negara itu akan datang kapan saja. “Dengan cara apa pun,” katanya.

Harga minyak cukup mereda karena pembengkakan persediaan bensin dan diesel AS, mengimbangi penurunan minyak mentah terbesar sejak Juni lalu. Energy Information Administration (EIA) melaporkan, ekspor minyak mentah mencapai rekor, sehingga membuat stok di Gulf Cost turun paling dalam.

Direktur pelaksana dan manajer portofolio di Tortoise Rob Thummel mengatakan, laporan EIA itu tidak bisa mendorong harga naik lebih tinggi sebagai akibat serangan Timur Tengah, “Dari sini, pasar akan mengawasi gangguan pasokan global.”

Menurut seseorang yang familiar dengan persoalan ini, reli harga minyak juga menarik penjualan dari produsen minyak yang ingin mengunci harga yang lebih tinggi. “Beberapa juta barel dijual untuk kontrak tertentu,” katanya.

Saat tidak ada instalasi atau produksi minyak yang terpengaruh, menargetkan salah satu jenderal paling kuat Iran meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran, serta meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi bersenjata yang dapat menarik negara-negara lain.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersumpah bahwa pembalasan hebat menunggu pembunuh Soleimani.

Ketegangan telah meningkat setelah seorang milisi Irak yang didukung Iran menyerbu kedutaan Amerika di Baghdad untuk memprotes serangan udara mematikan AS awal pekan ini.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak bisa terbatas karena pasar juga mengamati proyeksi banjir pasokan minyak global. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) memiliki kapasitas cadangan yang besar, setelah mengurangi pasokan untuk sebagian besar dalam tiga tahun terakhir.

Negara-negara konsumen dari AS hingga China mengendalikan jutaan barel yang disimpan dalam cadangan minyak bumi strategis yang dapat digunakan untuk mengimbangi kekurangan apa pun.

Dalam tanda terbesar dari transformasi pasar minyak setelah boom shale, AS melaporkan bulan-bulan pertamanya sebagai pengekspor minyak mentah, termasuk produk minyak mentah, dan minyak sulingan, akhir tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sekitar 75 tahun.

Pada Oktober, Amerika mengekspor 389.000 barel per hari, dibandingkan dengan impor bersih hampir 9 juta barel per hari dalam satu dekade sebelumnya.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu