Pasar A.S. Ditutup Libur Hari Kemerdekaan

Pasar A.S. Ditutup Libur Hari Kemerdekaan

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 05 Juli  2019 )

  1. Pasar A.S. Ditutup Libur Hari Kemerdekaan

Wall Street ditutup untuk menjalani libur Fourth of July, setelah ketiga indeks mencapai rekor penutupan tertinggi baru pada hari Rabu.

Dow menanjak 0,7% dengan ditutup pada 26.966, sedangkan S&P 500 berakhir pada level 2.995,82, menguat 0,8% dan NASDAQ Composite naik 0,8% ke 8.170,23.

Perdagangan di semua bursa diperkirakan akan kembali seperti biasanya yang dijadwalkan pada hari Jumat.

  1. Bantuan Positif dari Italia, Bursa Eropa Bernafas Lega

Pasar saham Eropa bergerak datar pada hari Kamis, tetapi masih mendekati tingkat tertinggi satu tahun setelah Italia menghindari tindakan tak disiplin atas anggarannya.

DAX mendatar pada pukul 17.37 WIB, sedangkan FTSE menghijau 0,1%, CAC 40 flat dan IBEX 35 tergelincir 0,3%.

Saham-saham perbankan Italia melonjak setelah pemerintah Italia meyakinkan Komisi Eropa bahwa langkah-langkah baru yang disampaikan minggu ini akan membantu membawa utangnya sejalan dengan aturan fiskal. Kedua pihak telah terhenti satu sama lain akibat Uni Eropa yang mengklaim anggaran Italia yang ada saat ini melanggar aturan fiskal dari blok tersebut.

Perdagangan cenderung tenang di Eropa di mana pasar A.S. ditutup libur.

Di Asia, Nikkei Jepang ditutup 0,3%, sedangkan komposit Shanghai tergelincir 0,3% dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,2%.

  1. Deal T-Mobile & Sprint Hampir Disetujui

Merger antara T-Mobile dan Sprint hampir disetujui setelah perusahaan menguraikan penjualan aset mereka ke dalam Dish Network, CNBC melaporkan.

Merger senilai $26,5 miliar telah menghadapi pengawasan dari Departemen Kehakiman A.S. Kesepakatan itu hanya akan disetujui jika aset T-Mobile dijual untuk menjaga pasar tetap kompetitif.

T-Mobile dan Sprint telah setuju untuk menjual Boost, Virgin Mobile dan Sprint Prepaid kepada Dish, serta beberapa saluran udara, menurut CNBC. Mungkin masih ada rintangan untuk dilewati karena Departemen Kehakiman A.S. khawatir merger tersebut tidak akan membiarkan Dish bersaing secara adil.

  1. Minyak Diseret Mundur oleh Kekhawatiran Pasokan A.S.

Harga minyak menurun pada hari Kamis dalam kekhawatiran dari pasokan di A.S. dan pertumbuhan ekonomi yang membebani sentimen investor.

Minyak Brent Berjangka turun 0,1% ke $63,77 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menyusut 0,4% menjadi $57,07.

Persediaan A.S. berkurang lebih rendah dari yang diharapkan setelah kilang di A.S. pekan lalu mengonsumsi minyak mentah lebih sedikit daripada minggu sebelumnya dan memproses minyak 2% lebih sedikit dari setahun yang lalu, data EIA menunjukkan, meskipun berada di tengah-tengah musim panas yang dipenuhi dengan permintaan untuk gasolin.

Pasokan global kemungkinan akan turun setelah OPEC pada hari Selasa sepakat untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak hingga Maret 2020.

Di komoditas lain, harga emas juga mundur 0,2% menjadi $1.417,85, sedangkan indeks dolar A.S., yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, mendatar di 96,317.

  1. Tren Rollercoaster Bitcoin Berlanjut

Harga Bitcoin (BitfinexUSD) naik lagi pada hari Kamis, menyentuh angka $11.500, bahkan ketika badan pengawas pasar Inggris Raya mengusulkan pelarangan penjualan derivatif berdasarkan kripto aset kepada konsumen ritel mulai awal tahun 2020.

Harga koin digital bergerak volatil, yang menurut FCA Inggris tidak sesuai bagi investor ritel yang tidak memahami semua risiko yang terkandung di dalamnya.

“Kami memperkirakan manfaat potensial bagi konsumen ritel dari pelarangan produk-produk (turunan) ini berkisar antara 75 juta pound ($94 juta) hingga 234,3 juta pound per tahun,” tegas badan pengawas tersebut.

Sementara itu, Komite Perwakilan DPR A.S. untuk Layanan Keuangan meminta agar Facebook (NASDAQ:FB) berhenti mengembangkan mata uang kripto, Libra.

Dalam surat dari hari Selasa, komite itu mencatat bahwa proyek tersebut dapat mengarah “kepada sistem keuangan global yang sepenuhnya baru yang berbasis di Swiss dan dimaksudkan untuk menyaingi kebijakan moneter A.S. dan dolar.” Persaingan seperti itu dapat menyebabkan Kekhawatiran privasi, keamanan nasional dan kebijakan moneter, tandas anggota parlemen.

Lebih dari 30 kelompok advokasi telah meminta Kongres untuk menerapkan moratorium resmi pengembangan Libra.

 

 

Ketua IMF Akan Gantikan Mario Draghi Jadi Presiden ECB

Secara mengejutkan, Ketua IMF Christine Lagarde terpilih menggantikan Mario Draghi untuk menjabat sebagai Presiden ECB mulai tanggal 1 November. Bagaimana proyeksi kebijakannya kelak?

Masa jabatan Mario Draghi sebagai Presiden ECB (European Central Bank) akan berakhir di penghujung bulan Oktober 2019. Ini bukan rahasia lagi dan sama sekali bukan kejutan. Namun, yang mengejutkan adalah terpilihnya Ketua IMF (International Monetary Fund) Christine Lagarde untuk menggantikan Draghi, di tengah sengitnya rebutan posisi top Zona Euro pasca Pemilu Parlemen Mei 2019. Selusin tantangan telah menantikannya, dan pelaku pasar mulai memperhitungkan bagaimana arah kebijakannya kelak untuk menjawab tantangan-tantangan itu.

Jika dilantik sesuai rencana, maka pengganti Draghi akan menduduki jabatan Presiden ECB mulai tanggal 1 November, tepat sehari setelah deadline brexit. Artinya, ia berisiko menghadapi krisis yang mungkin timbul jika Perdana Menteri Inggris saat itu bersikeras menarik negaranya keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun (No-Deal Brexit). Padahal, kondisi ekonomi Zona Euro saat ini jauh dari memuaskan, dengan proyeksi pertumbuhan GDP tahun 2019 kemungkinan hanya mencapai 1.2 persen. Beban defisit anggaran Italia juga terancam memicu krisis utang baru.

Boleh jadi, beragam risiko inilah yang melatarbelakangi nominasi Christine Lagarde untuk menjadi pengganti Mario Draghi. Lagarde sudah berpengalaman menangani beberapa kali krisis berskala global. Ia adalah menteri keuangan Prancis (2007-2011) saat era krisis finansial global. Ia juga mengepalai IMF saat organisasi itu mengorganisir bailout bagi Argentina dan Yunani.

Selain itu, pelaku pasar keuangan umumnya menilai Lagarde berhaluan dovish, sehingga ia kemungkinan tidak akan membuat perubahan radikal terhadap arah kebijakan yang telah digariskan Draghi. Sebagian besar analis menilai ia bakal mempertahankan suku bunga rendah dan program pembelian obligasi, kalau bukan malah kian melonggarkan kebijakan moneter ECB jika kondisi ekonomi Zona Euro kian mengenaskan.

Stabilitas kebijakan semacam ini meredam kemungkinan terjadinya gejolak, tetapi belum tentu bullish bagi nilai tukar mata uang. Di satu sisi, investor di pasar modal akan senang karena lebih banyak suntikan dana segar. Di sisi lain, secara teoritis, ekspansi kebijakan moneter super-longgar merupakan berita yang bersifat bearish bagi outlook jangka panjang Euro karena meningkatnya jumlah uang beredar.

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu