OPEC+ Sinyalkan Pemangkasan Lebih Lanjut, Minyak Mentah Menguat

OPEC+ Sinyalkan Pemangkasan Lebih Lanjut, Minyak Mentah Menguat

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 03 Desember 2019 )

OPEC+ Sinyalkan Pemangkasan Lebih Lanjut, Minyak Mentah Menguat

Minyak mentah mencatatkan penguatan tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir karena pelaku pasar mencari sinyal baru apakah OPEC dan sekutunya akan memperketat pasokan ketika mereka bertemu akhir pekan ini.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari 2020 ditutup menguat 1,4 persen atau 0,79 poin ke level US$55,96 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Senin (2/12/2019).

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Februari menguat 0,43 poin ke level US$60,92 di ICE Futures Europe Exchange London, dan diperdagangkan dengan premi US$5,01 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, Irak telah mengisyaratkan bahwa OPEC+ akan kembali memutuskan penurunan output, bertentangan dengan anggota kartel lainnya yang bersikeras pemotongan lebih dalam tidak direncanakan.

“Komentar OPEC merupakan hal baik untuk minyak dan menjaga pasar tetap hijau,” kata Robert Yawger, direktur berjangka di Mizuho Securities USA LLC, seperti dikutip Bloomberg.

Hedge fund meningkatkan posisi net-bullish mereka pada minyak mentah patokan AS, atau perbedaan antara ekspektasi bullish dan bearish, sebesar 15 persen menjadi 103.790 kontrak, ungkap Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS mengatakan pada hari Senin.

Sebelumnya di sesi Senin, minyak mentah sempat berbalik melemah menyusul tanggapan terhadap penurunan mengejutkan dalam pengeluaran sektor konstruksi AS dan kontraksi akktivitas manufaktur AS untuk bulan keempat berturut-turut.

Menambah entimen negatif, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia siap untuk menghukum China dengan tarif yang lebih ketat jika upaya menuju gencatan senjata perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu goyah.

Minyak mentah masih belum pulih dari penurunan 5,1 persen pada hari Jumat yang merupakan pelemahan terburuk dalam 2,5 bulan terakhir.

Dibayangi Kekhawatiran Ekonomi dan Perdagangan, Bursa AS Melemah

Bursa saham Amerika Serikat melemah dari rekor tertinggi pekan lalu pada hari Senin (12/2/2019), menyusul data manufaktur AS yang lemah dan kekhawatiran perdagangan baru.

Ketiga indeks  saham utama AS memulai bulan terakhir tahun ini di zona merah karena investor kembali dari liburan panjang akhir pekan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 267,35 poin, atau 0,95 persen ke level 27.784,06, sedangkan indeks S&P 500 kehilangan 27 poin atau 0,86 persen menjadi 3.113,98 dan Nasdaq Composite turun 97,48 poin atau 1,12 persen ke 8.567,99.

Dari 11 sektor utama indeks S&P 500, hanya sektor bahan dan konsumen yang mengakhiri sesi di wilayah positif.

Dilansir Reuters, laporan dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur AS terkontraksi pada bulan November, kontraksi bulan keempat berturut-turut, yang memicu kekhawatiran bahwa periode ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah AS akan kehilangan tenaga.

“Data manufaktur yang lebih lemah dari perkiraan tidak membantu indeks. Tren ini kemungkinan berlanjut dalam jangka pendek,” kata Oliver Pursche, kepala analis pasar di Bruderman Asset Management di New York.

“Pertanyaannya adalah apakah konsumen akan terus menjaga perekonomian tetap stabil?” tambah Pursche. “Dan sejauh ini, data awal tentang pengeluaran Black Friday sangat positif. Ini angka yang besar.”

Sementara itu, penjualan saat Cyber Monday diperkirakan mencapai rekor menyusul capaian penjualan pada saat Black Friday mencapai US$11,6 miliar.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan di akun Twitter-nya bahwa ia akan kembali mengenakan tarif pada baja yang diimpor dari Brasil dan Argentina. Berita tersebut meningkatkan saham produsen baja AS A. Steel Corp dan AK Steel Holding Corp masing-masing sebesar 4,2 persen dan 4,7 persen.

Namun, kabar tersebut adalah tanda terbaru bahwa isu perdagangan antara AS dan mitra dagang globalnya akan terus mendominasi pasar dan menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Berita ini setelah Wall Street mencapai level tertinggi baru-baru ini, yang didorong oleh ekspektasi perjanjian perdagangan “fase pertama” yang akan segera terjadi antara AS dan China.

Seorang penasihat senior Trump mengatakan pada hari Senin bahwa masih ada kemungkinan kesepakatan dengan China dapat dicapai pada akhir tahun ini.

“Ini bukan hanya tentang Trump mengumumkan tarif baja, tetapi kekhawatiran bahwa dia akan mengizinkan kenaikan tarif terhadap China pada 15 Desember,” tambah Pursche.

 

Perundingan Dagang AS-Cina Terhambat Akibat Undang-Undang Hong Kong

Perkembangan perundingan dagang Amerika Serikat dan Cina terhambat karena undang-undang Hong Kong“, sebagaimana dilansir situs web berita Axios, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Presiden AS Donald Trump.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Senin (02/12) pagi, perundingan itu juga terhenti karena Presiden Cina Xi Jinping memerlukan waktu untuk menenangkan situasi politik dalam negeri, tambah laporan yang mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan Kamis pekan lalu bahwa undang-undang yang ditandatangani Trump Rabu sebelumnya yang mendukung pengunjuk rasa di Hong Kong merupakan intervensi serius urusan dalam negeri Cina.

Prioritas utama Beijing dalam tiap perundingan dagang tahap satu dengan Amerika Serikat adalah penghapusan tarif barang-barang Cina yang ada, surat kabar Global Times Cina melaporkan Minggu setempat, di tengah ketidakpastian tentang apakah kedua pihak dapat mengakhiri perdagangan 17 bulan perang yang telah mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

“Amerika Serikat harus menghapus beban tarif yang ada, bukan tarif yang direncanakan, sebagai bagian dari kesepakatan’ laporan menyatakan dengan mengutip sumber. Sumber lain juga mengatakan pejabat AS menolak permintaan seperti itu karena tarif adalah satu-satunya senjata mereka dalam perang dagang dan melepaskan senjata itu berarti “menyerah.”

Amerika Serikat siap untuk memberlakukan tarif tambahan sebesar 15% atas produk asal Cina yang mencapai nilai sekitar $156 miliar pada 15 Desember mendatang. Tarif itu diharapkan akan dapat dihindari jika kesepakatan tercapai, tetapi Cina tetap mendorong penghapusan beban tarif yang diterapkan sebelumnya.

 

5 Hal yang Perlu Diketahui di Pasar Global

  1. Survei manufaktur membaik, tetapi Hati-hati dengan Cina

Indeks pembelian manajer dari seluruh dunia menunjukkan tanda yang jelas ekonomi dunia mulai stabil setelah perlambatan tajam tahun ini di bawah bayang-bayang perang dagang AS-Cina dan Brexit.

Namun, optimisme tertahan setelah gubernur bank sentral Cina Yi Gang menerbitkan artikel yang memperingatkan bahwa perlambatan itu kemungkinan akan berlarut-larut, dan Cina harus menghindari program stimulus moneter.

Selain itu, Hong Kong merilis penjualan ritel turun 24,3% berdasarkan nilai pada bulan Oktober, penurunan terburuk dalam catatan dan penurunan berturut-turut dalam dua bulan.

Secara terpisah, Beijing mengatakan akan menangguhkan hak kapal perang AS untuk berlabuh di Hong Kong, yang merupakan tindakan balasan simbolis terhadap pengesahan RUU Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong AS.

  1. Kegilaan belanja online catat rekor baru

Pembeli AS siap menjadikan hari ini hari terbesar untuk belanja online di AS, dengan perkiraan pembelian sebesar $ 9,4 miliar, naik 19% dari tahun lalu, menurut Analisis Adobe (NASDAQ: ADBE).

Perkiraan itu melampaui prediksi penjualan online $ 4,2 miliar pada hari Thanksgiving dan $ 7,4 miliar penjualan online pada Black Friday, yang keduanya juga mencatat rekor baru, menurut Adobe (NASDAQ: ADBE).

Adobe Systems Incorporated (NASDAQ:ADBE) Analytics mengukur transaksi 80 dari 100 pengecer online AS. Angka-angka menunjukkan bahwa pengeluaran keseluruhan tetap ringan, meskipun tidak ada kejelasan langsung tentang seberapa jauh penjualan online telah mengkanibal penjualan di toko fisik.

  1. Saham capai tertinggi baru

Pasar saham AS siap untuk dibuka pada rekor tertinggi baru pada hari Senin, didukung kinerja ritel yang kuat selama liburan akhir pekan dan peningkatan hasil survei manufaktur global.

Kontrak berjangka S&P 500 mencapai tertinggi baru sepanjang masa 3.157,62 semalam sebelum terkoreksi sedikit menjadi 3.151,62 pada 6:15 pagi ET (18.15 WIB), naik 0,3% dari Jumat malam. Berjangka Dow futures dan Nasdaq 100 naik 0,2%.

Pasar Asia dan Eropa juga diperdagangkan lebih tinggi semalam.

Walt Disney Company (NYSE:DIS) diprediksi memecahkan rekor baru untuk Frozen 2, yang meraup $ 123,7 juta selama akhir pekan di AS dan Kanada, serta tercatat menghasilkan $ 738,6 juta secara global dalam dua minggu sejak ditayangkan, dan tentu saja akan menghasilkan lebih dari $ 1 miliar. The Wall Street Journal mengutip data Comscore yang menunjukkan bahwa kinerja Frozen 2 akan mempersempit kesenjangan antara keseluruhan box office tahun ini dan 2018.

  1. Koalisi Merkel nyaris alami perpecahan fatal

Pemerintah Jerman nyaris bubar setelah Partai Sosial Demokrat kiri tengah memilih kepemimpinan baru pada akhir pekan, dengan tujuan meningkatkan pengeluaran guna mempertajam profilnya melawan Kanselir Angela Merkel dari Uni Kristen Demokrat.

Imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman naik ke level tertinggi tiga minggu -0,27%, sebelum akhirnya jatuh kembali, karena pasar mengantisipasi pergeseran ke posisi fiskal yang lebih ekspansif.

CDU, yang merupakan mitra senior dalam koalisi saat ini di Berlin, mengatakan tidak akan meninggalkan kebijakan anggaran berimbangnya, tetapi langkah SPD menambah sumber tekanan politik dalam negeri untuk memompa pengeluaran, menambah himbauan berulang dari Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional.

  1. Saudi bersandar pada sekutu untuk pengurangan output tambahan

Harga minyak mentah naik setelah laporan Reuters mengklaim bahwa Arab Saudi akan mendorong pengurangan produksi tambahan dari Rusia dan anggota OPEC ketika mereka meninjau kesepakatan saat ini tentang pembatasan produksi pada akhir minggu.

Reuters mengatakan Arab Saudi ingin para mitranya untuk menyetujui pengurangan 400.000 barel per hari lagi, di samping 1,2 juta barel / hari yang saat ini sudah berjalan. Reuters mengatakan kerajaan ingin mempertahankan harga guna mengamankan penawaran umum perdana Saudi Aramco.

Penetapan harga IPO akan dirilis pada 5 Desember, hari yang sama saat OPEC bertemu di Wina. Pengelompokan OPEC+ – yang mencakup Rusia – dijadwalkan bertemu pada 6 Desember. Rusia sejauh ini menentang pemotongan tambahan dan mengisyaratkan pihaknya menginginkan pembebasan untuk output kondensatnya, yang akan naik tahun depan karena ladang gas baru mulai beroperasi.

Pada 6:30 ET, Minyak Brent Berjangka berjangka naik 2,1% menjadi $ 61,77 per barel, sedangkan minyak mentah AS naik 2,2% menjadi $ 56,36.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu