Gara-gara Brexit, Pertumbuhan Ekonomi Inggris 0% di Q4-2019

Gara-gara Brexit, Pertumbuhan Ekonomi Inggris 0% di Q4-2019

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 12 Februari 2020 )

WHO: Wabah Corona adalah Ancaman Serius untuk Dunia

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan wabah virus Corona China menimbulkan ancaman yang sangat serius bagi dunia. Hal itu diungkapkannya saat berpidato pada pembukaan pertemuan dua hari di Jenewa yang bertujuan untuk meningkatkan penelitian dalam diagnostik, obat-obatan, dan vaksin.

Tedros mengatakan hingga saat ini China telah melaporkan 42.708 kasus yang dikonfirmasi, termasuk 1.017 kematian.

“Dengan 99% kasus di China, ini tetap sangat darurat untuk negara itu, tetapi yang memiliki ancaman sangat besar bagi seluruh dunia,” katanya kepada lebih dari 400 peneliti dan otoritas nasional, termasuk beberapa yang ikut serta konferensi video dari China dan Taiwan seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/2/2020).

Tedros, berbicara kepada wartawan pada hari Senin, merujuk pada beberapa kasus yang berkaitan dengan transmisi lanjutan dari orang-orang yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke China, mengutip kasus-kasus yang terjadi minggu ini di Prancis dan Inggris. Lima warga negara Inggris didiagnosis menderita virus Corona di Prancis, setelah tinggal di chalet ski yang sama dengan seseorang yang pernah berada di Singapura.

“Deteksi sejumlah kecil kasus ini bisa menjadi percikan api yang menjadi lebih besar. Tapi untuk saat ini hanya percikan api. Tujuan kami tetap menahannya,” ujarnya.

Masih banyak pertanyaan tentang asal-usul virus Corona baru, yang muncul di pasar satwa liar di pusat kota Wuhan di China pada bulan Desember, dan disebarkan oleh orang-orang akibat tetesan karena batuk atau bersin.

“Kami berharap bahwa salah satu hasil dari pertemuan ini akan menjadi road map yang disepakati untuk penelitian di mana peneliti dan donor akan menyelaraskan,” kata Tedros dalam pertemuan tertutup itu.

“Intinya adalah solidaritas, solidaritas, solidaritas,” tegasnya.

“Itu terutama benar dalam kaitannya dengan berbagi sampel dan urutan,” jelas Tedros.

“Untuk mengalahkan wabah ini, kita perlu berbagi secara terbuka dan adil, sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Darurat WHO, Dr. Mike Ryan, mengatakan kepada wartawan pada hari Senin: “Ini adalah inisiatif luar biasa untuk memusatkan pengetahuan kita.”

“Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan dan menghasilkan informasi ilmiah untuk intervensi medis yang sangat dibutuhkan,” katanya.

“Ini bukan hanya wacana ilmiah, ada masalah besar yang harus dilakukan dengan bagaimana seluruh proses itu diatur,” tutur Ryan, mengutip kebutuhan untuk memastikan akses yang adil ke produk apa pun yang berasal dari penelitian dan disetujui oleh regulator.

“Menyatukan semua orang, saya pikir akan memberi kita momen lompatan-katak dalam hal koherensi, penetapan prioritas,” tukasnya

Rusia Ragu Soal Pemangkasan Output, Minyak Mentah Menguat Tipis

Harga minyak mentah menguat karena investor mempertimbangkan harapan keputusan Rusia untuk menerima proposal pengurangan produksi OPEC+.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret diperdagangkan pada US$50,00 per barel pada pukul 16.44 waktu setempat. setelah mengakhiri sesi di level US$49,94 di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak April ditutup menguat 0,74 poin ke level US$54,01 per barel di ICE Futures Europe exchange di London, menempatkan harga premium di atas WTI sebesar US$3,84, spread terkecil antara kedua kontrak sejak awal 2018.

Minyak mentah sedikit berubah setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 6 juta barel pekan lalu. Laporan API juga menunjukkan pasokan minyak distilasi turun 2,33 juta barel minggu lalu, sementara stok bensin meningkat 1,08 juta barel.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Alexander Novak mengatakan bahwa Moskow sedang “mempelajari” rencana pengurangan produksi OPEC+ setelah berhari-hari ragu. Novak akan bertemu dengan perusahaan minyak Rusia pada hari Rabu (12/2).

“OPEC + perlu menyeimbangkan produksi dengan lintasan permintaan, yang terlihat rendah,” ungkap Frances Hudson, analis tematis global di Aberdeen Standard Investments, seperti dikutip Bloomberg.

OPEC dan sekutu-sekutunya telah mengisyaratkan keinginan untuk menstabilkan pasar minyak yang telah anjlok lebih dari 18 persen sejak awal tahun ketika wabah COVID-19 (nama untuk virus corona baru) menimbulkan gangguan ekonomi yang parah di China.

Dampak dari virus ini telah meningkatkan kekhawatiran lemahnya permintaan minyak mentah yang menghantam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, mendorong para ahli teknis dari koalisi untuk mengusulkan pendalaman pemotongan pasokan saat ini sebesar 600.000 barel per hari untuk mengurangi kelebihan persediaan.

Sementara itu, Energy Information Administration memangkas prospek pertumbuhan permintaan minyak bumi global sebesar 23 persen menjadi 1,03 juta barel per hari, mengutip efek parsial dari coronavirus dalam Outlook Energi Jangka Pendek bulanannya.

Dampak pasti dari virus ini sulit dihitung, sehingga para analis mempersempit indikator permintaan lain untuk mendapatkan petunjuk. Morgan Stanley memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak untuk 2020 sebesar 15 persen di tengah turunnya volume transportasi penumpang.

 

Investor Sambut Pidato Powell, Indeks Stoxx Ditutup Menguat

Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Selasa (11/2/2020), dengan investor menyambut baik komentar Gubernur The Fed Jerome Powell.

Indeks Stoxx 600 ditutup menguat 0,9 persen atau 3,84 poin ke level 428,48 di akhir perdagangan, dengan TUI AG mencatat penguatan harga saham terbesar dengan kenaikan 12,36 persen.

Sebelumnya, indeks dibuka di posisi 425,82 dengan penguatan 0,28 persen atau 1,18 poin, setelah pada akhir perdagangan Senin (10/2) ditutup menguat tipis 0,07 persen.

Bursa saham di Jerman memimpin penguatan di regional, dengan indeks DAX ditutup menguat 0,99 persen. Sementar itu, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,71 persen dan CAC 40 Prancis naik 0,65 persen.

Investor menjadi lebih bullish akhir-akhir ini meskipun wabah coronavirus mulai berdampak terhadap sejumlah aktivitas ekonomi, menandakan adanya kepercayaan bahwa bank sentral dapat melonggarkan kebijakan jika pertumbuhan melambat.

Dalam sambutannya kepada Kongres pada Selasa, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral terus mengawasi kejatuhan ekonomi menyusul dampak wabak virus corona yang terus mengganggu perjalanan dan perdagangan.

Di sisi lain, Powell masih bersikap positif tentang prospek ekonomi AS.

“Dengan fundamental yang kuat, situasi ketenagakerjaan yang kuat dan inflasi di jalurnya, sikap Powell yang optimis dan berhati-hati tidak terlalu mengejutkan, terutama karena ketakutan coronavirus dan ketegangan perdagangan sudah dekat,” kata Mike Loewengart, wakil presiden strategi investasi di E-Trade Financial, seperti dikutip Bloomberg.

“Apa yang masih harus dilihat adalah efek dari coronavirus pada pertumbuhan global, yang sudah mulai mereda.”

Gara-gara Brexit, Pertumbuhan Ekonomi Inggris 0% di Q4-2019

Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics) melaporkan pertumbuhan ekonomi Inggris pada kuartal IV-2019 sebesar 0%. Demikian dilaporkan oleh Kepala ONS Rob Kent-Smith seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (11/2/2020).
“Tidak ada pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun 2019 karena peningkatan dalam sektor jasa dan konstruksi diimbangi dengan kinerja buruk dari manufaktur, terutama industri motor,” katanya.
ONS mencatat manufaktur Inggris sendiri mengalami kontraksi 0,8 persen pada periode Oktober hingga Desember 2019 lalu. Semua tak lepas dari ketidakpastian ekonomi seiring dinamika yang mengiringi Brexit.

Kendati demikian, secara kumulatif ekonomi Inggris tumbuh 1,4% pada tahun lalu, atau naik dibanding 1,3% dibanding 2018.
Sekadar kilas balik, Inggris akhirnya resmi meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020. Ini setelah PM Boris Johnson memimpin Partai Konservatif meraih kemenangan dalam sebuah pemilihan pada Desember 2019 lalu.

“Kami telah memecahkan kebuntuan dan meninggalkan Uni Eropa. Sekarang kita perlu memanfaatkan momen ini untuk naik level dan mempersiapkan negarakita untuk kesuksesan jangka panjang,” kata Menteri Keuangan Sajid Javid dalam sebuah pernyataan sesaat setelah data ONS dirilis.
“Dalam anggaran saya, tepat satu bulan dari hari ini, saya akan menentukan bagaimana kita akan bergerak maju, dengan lebih banyak ambisi dan pemikiran baru, dan memberdayakan orang-orang dan bisnis kita sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang,” lanjut Javid.

Namun, menjelang Brexit, Bank of England memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris untuk tahun 2020 dan 2021. Sebab, Negeri Big Ben itu menghadapi negosiasi yang sulit dengan UE untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru.

Bulan lalu, BoE memaparkan jika ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,8 persen tahun ini, turun tajam pada perkiraan 1,2 persen sebelumnya. Pada tahun 2021 mendatang, produk domestik bruto diperkirakan akan tumbuh 1,4 persen, turun dari estimasi bank sentral sebesar 1,7 persen yang dirilis pada bulan November tahun lalu.

Pakar dari China Perkirakan Wabah Virus Corona Akan Berakhir April, Kenapa?

Penularan virus corona tipe baru, COVID-19, di China kemungkinan akan berakhir pada April, menurut seorang penasihat medis terkemuka di negara itu, Selasa. Namun, sementara itu, total jumlah korban jiwa telah melebihi 1.000 orang dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan akan ancaman global “yang sangat serius”.

Penasihat medis terkemuka China soal wabah tersebut, Zhong Nanshan, mengatakan, jumlah kasus baru di beberapa tempat sedang menurun. Ia berharap epidemi itu akan mencapai puncaknya bulan ini.

“Saya berharap wabah ini atau peristiwa ini akan berakhir mungkin pada April,” kata Zhong dalam wawancara dengan Reuters.

Zhong adalah pakar penyakit menular yang terkenal karena peranannya dalam memerangi wabah Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) pada 2003. WHO mengatakan pada Selasa bahwa 1.017 orang meninggal di China dan negara itu menghadapi 42.708 kasus.

Saham dunia kembali meningkat ke catatan tinggi setelah Zhong mengeluarkan komentar itu pada Selasa. Selain itu, dolar mencapai nilai tertinggi dalam empat bulan belakangan.

Namun, kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kurang menunjukkan rasa optimistis ketika ia meminta berbagai pihak untuk berbagi sampel virus serta mempercepat penelitian soal obat dan vaksin. Ia menyebut, dengan 99 persen kasus di China, keadaan ini masih sangat darurat bagi negara itu.

“Tapi keadaan itu membawa ancaman sangat serius bagi seluruh dunia,” kata Tedros kepada para peneliti yang bersidang di Jenewa.

Hanya 319 kasus ditemukan di 24 negara dan wilayah di luar China, menurut WHO dan para pejabat kesehatan China. Dua orang meninggal, yaitu satu di Hong Kong dan satu lainnya di Filipina.

Antisipasi Kemungkinan Trump Kalah dalam Pilpres AS, Yen Kembali Diburu

Pasar meningkatkan kewaspadaan dari kemungkinan Presiden AS Donald Trump akan kalah dalam pemilihan tahun ini dan investor harus mempertimbangkan membeli yen sebagai lindung nilai, menurut Standard Chartered PLC (LON:STAN).

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (11/02), indeks Dolar telah naik lebih dari 2% sejak awal tahun setelah menilai peluang terpilih kembalinya Trump dalam korelasi yang lebih kuat dari yang diperkirakan, menurut kepala penelitian global G-10 FX StanChart, Steve Englander.

Tetapi survei dan pasar online terakhir menunjukkan Trump tidak lagi menarik, investor mungkin ingin melindungi risiko dengan pasangan dolar-yen, katanya.

“Kami menyukai downside USD/JPY sebagai lindung nilai ketika bergerak ke kisaran 109,50-110,50,” tulis Englander dalam sebuah laporan Senin.

“Pembalikan terbatas pada JPY, volatilitas tersirat yang rendah, dan responsif terhadap guncangan politik dan ekonomi negatif membuatnya menjadi lindung nilai yang menarik untuk posisi risiko yang lama,” tambahnya.

Yen adalah alat lindung nilai yang baik karena responsif terhadap guncangan ekonomi downside sementara sebagian besar tetap lebih kuat dari 110 per dolar sejak Mei, menurut Englander.

Otoritas Jepang menghindari kepemilikikan yen yang terlalu lemah yang bisa menjadi masalah politik selama tahun pemilihan A.S., katanya.

Pasar sudah mulai mempertimbangkan ketidakpastian dalam pemilihan presiden Amerika tahun ini, khususnya mengingat kekhawatiran Wall Street tentang kemungkinan calon progresif seperti Elizabeth Warren atau Bernie Sanders dapat memenangkan nominasi, atau bahkan kepresidenan.

Pasangan dolar-yen telah naik lebih dari 5% menjadi 109,87 sejak pencapaian terendah dalam hampir tiga tahun pada Agustus

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu