News Komoditi & Global ( Jumat, 20 Februari 2026 )

News  Komoditi & Global

                                (  Jum’at,   20  Februari  2026  )

Harga Emas Global Naik di Tengah Meningkatnya Ketegangan AS-Iran

 

Harga Emas (XAU/USD) mempertahankan posisi positif di dekat $5.000 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini naik tipis seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan permintaan safe-haven. Para pedagang bersiap untuk menghadapi data pendahuluan Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal keempat (Q4), Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) dan data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) S&P Global, yang akan dirilis pada hari Jumat.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada hari Kamis bahwa Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari paling lama untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, menurut Bloomberg. Trump menambahkan bahwa "peristiwa yang sangat buruk akan terjadi" jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dengan Iran dan AS akan mendapatkan kesepakatan dengan cara apapun. Data dari situs pelacakan FlightRadar24 menunjukkan lonjakan aktivitas penerbangan oleh transportasi militer, tanker udara, pesawat pengintai, dan drone AS ke pangkalan-pangkalan di Qatar, Yordania, Kreta, dan Spanyol.

Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar potensi konflik AS-Iran. Meningkatnya ketegangan antara kedua negara dapat mendorong aset-aset safe-haven tradisional seperti Emas dalam waktu dekat.

Data ekonomi AS terbaru menunjukkan bahwa ekonomi AS berada dalam posisi yang stabil, memberikan Federal Reserve (The Fed) keleluasaan untuk mempertahankan suku bunga tetap dalam waktu dekat. Sikap suku bunga AS yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama umumnya berdampak negatif pada Emas yang tidak berimbal hasil karena tidak membayar bunga.

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa pasar tenaga kerja tetap "cukup tangguh" dan bahwa bank sentral mendekati kedua mandat lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga. Sementara itu, Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly, menyatakan bahwa kebijakan moneter berada pada posisi yang baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Menguat, didukung oleh Kekhawatiran Pasokan yang Meningkat terkait Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran

 

Harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) mereda setelah dua sesi berturut-turut mengalami kenaikan, diperdagangkan di dekat $66,40 per barel selama perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Patokan WTI mundur setelah menyentuh tertinggi enam bulan di $66,82 sebelumnya pada hari ini, didukung oleh kekhawatiran pasokan yang meningkat terkait ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut BBC, Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa Iran harus mencapai kesepakatan atau menghadapi "hal buruk," mempertahankan ancaman tindakan militer di atas negosiasi nuklir yang rapuh. Iran, pada gilirannya, memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, bahwa mereka tidak mencari konflik tetapi akan merespons setiap agresi militer.

Harga Minyak Mentah dapat mendapatkan traksi kembali saat laporan mengindikasikan bahwa para pejabat AS sedang mempertimbangkan operasi militer potensial di Timur Tengah, sementara Israel terus mendorong perubahan rezim di Teheran. Kepala pengawas nuklir PBB memperingatkan bahwa peluang Iran untuk resolusi diplomatik semakin menyusut di tengah penguatan militer AS. Setiap eskalasi berisiko mengganggu aliran melalui Selat Hormuz, titik kritis yang menangani sekitar 20% pengiriman Minyak global.

Laporan Reuters mengindikasikan bahwa premi geopolitik yang tersemat dalam harga Minyak Mentah akibat ketegangan AS-Iran tetap cair, meskipun pasar secara umum mengasumsikan situasi akan akhirnya stabil. Estimasi menempatkan premi risiko saat ini di sekitar $7–$10 per barel, mencerminkan kekhawatiran bahwa negosiasi dapat runtuh, sementara tetap menyiratkan ekspektasi terbatas akan gangguan pasokan besar melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa Stok Minyak Mentah AS turun 9,014 juta barel dalam minggu lalu, sangat kontras dengan prakiraan pasar yaitu kenaikan 2,1 juta barel yang seharusnya mengimbangi kenaikan 8,53 juta barel pada minggu sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Turun, Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

 

 Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (19/2/2026), terseret penurunan saham perusahaan private equity serta pelemahan saham raksasa seperti Apple dan Walmart.

Kenaikan saham sektor industri yang ditopang kinerja emiten membatasi tekanan lebih dalam.

Melansir Reuters, indeks S&P 500 turun 0,28% ke level 6.861,89. Nasdaq Composite melemah 0,31% ke 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,54% ke 49.395,16.

Saham perusahaan private equity anjlok setelah Blue Owl Capital memutuskan menjual aset senilai US$1,4 miliar dan membekukan penarikan dana (redemption) di salah satu reksadananya guna mengelola utang dan mengembalikan modal kepada investor.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terkait kualitas kredit dan eksposur pemberi pinjaman terhadap saham-saham perangkat lunak.

Saham Apollo Global Management, Ares Management, KKR & Co, serta Carlyle Group merosot antara 1,9% hingga 5,2%, sementara Blue Owl sendiri jatuh 6%.

Saham Apple turun 1,4% dan menjadi penekan terbesar bagi indeks S&P 500. Sementara itu, Walmart juga melemah 1,4% setelah CEO barunya, John Furner, memulai masa jabatan dengan proyeksi fiskal 2027 yang konservatif serta mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai US$30 miliar.

Saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) mengalami volatilitas dalam beberapa bulan terakhir di tengah kekhawatiran valuasi yang sudah tinggi dan belum adanya bukti kuat bahwa investasi besar-besaran di AI telah mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba secara signifikan.

“Pasar sedang mencoba memahami lini bisnis mana yang benar-benar terancam secara material oleh AI. Teknologi ini berkembang sangat cepat dan hari seperti ini terasa wajar. Kita berada di fase siklus di mana tidak semua pihak akan menjadi pemenang dan tidak semua ekspektasi akan terpenuhi,” ujar Keith Buchanan, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, Atlanta.

Di sisi lain, Deere & Co melonjak 11,6% setelah produsen alat berat pertanian itu menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui estimasi kinerja kuartal pertama.

Indeks energi S&P 500 naik 0,6% seiring kenaikan harga minyak mentah akibat meningkatnya kekhawatiran konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Sebaliknya, indeks keuangan S&P 500 turun 0,9%.

Saham Omnicom melonjak 15% setelah perusahaan periklanan tersebut melampaui estimasi pendapatan kuartal keempat. Sementara itu, Carvana merosot hampir 8% karena gagal memenuhi estimasi laba kuartal IV.

Penyedia perangkat lunak EPAM Systems anjlok 17% setelah memberikan proyeksi kuartal pertama yang berhati-hati dan mengecewakan investor.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah mengenai arah kebijakan suku bunga tahun ini.

Investor juga mencermati data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil.

Fokus berikutnya tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed yang akan dirilis Jumat untuk mencari petunjuk arah suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang 50% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni mendatang.

 

Dokumen Epstein Guncang Dunia: Siapa Saja Nama yang Terseret?

 

Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen internal terkait kasus Jeffrey Epstein, yang mengungkap luasnya jaringan sosial dan bisnis mendiang taipan tersebut dengan tokoh-tokoh berpengaruh di bidang politik, keuangan, akademik, hingga bisnis.

Epstein, yang sebelumnya mengaku bersalah pada 2008 atas tuduhan prostitusi termasuk melibatkan anak di bawah umur, kembali ditangkap pada 2019 atas dakwaan perdagangan seks anak. Ia meninggal dunia di sel tahanan Manhattan pada tahun yang sama, dengan kematian yang dinyatakan sebagai bunuh diri.

Reuters melaporkan, Departemen Kehakiman AS menyatakan sebagian materi yang dirilis bisa saja memuat tuduhan tidak benar, gambar palsu, atau konten pornografi. Ribuan dokumen juga telah ditarik karena secara tidak sengaja mengungkap identitas korban.

Pejabat nomor dua Departemen Kehakiman, Todd Blanche, menegaskan bahwa dokumen tersebut tidak otomatis menjadi bukti aktivitas kriminal bagi semua nama yang tercantum di dalamnya.

Berikut sejumlah tokoh yang disebut dalam dokumen tersebut:

Donald Trump

Trump diketahui pernah bersosialisasi dengan Epstein pada 1990-an hingga awal 2000-an. Dokumen yang dirilis memuat foto serta komunikasi yang mengindikasikan kedekatan sosial di masa lalu. Trump membantah mengetahui kejahatan Epstein dan menyatakan telah memutus hubungan sebelum kasus pidana Epstein mencuat.

Bill Clinton

Mantan presiden dari Partai Demokrat ini tercatat beberapa kali terbang menggunakan pesawat Epstein pada awal 2000-an setelah lengser dari jabatan. Clinton mengakui pernah berhubungan sosial dengan Epstein, namun membantah melakukan pelanggaran hukum.

Prince Andrew

Adik Raja Inggris tersebut kehilangan gelar kerajaan dan menyelesaikan gugatan perdata dari salah satu korban Epstein pada 2022 tanpa mengakui kesalahan. Dokumen juga menampilkan sejumlah foto kebersamaan mereka. Pangeran Andrew membantah mengetahui aktivitas kriminal Epstein.

Elon Musk

CEO Tesla itu disebut pernah berkomunikasi dengan Epstein terkait undangan ke pulau pribadinya. Musk menyatakan interaksinya sangat terbatas dan menolak undangan untuk berkunjung.

Bill Gates

Pendiri Microsoft beberapa kali bertemu Epstein setelah masa hukuman penjara pertama Epstein, dengan fokus pada diskusi filantropi. Gates menyebut pertemuan tersebut sebagai kesalahan dan menegaskan tidak terlibat aktivitas ilegal.

Jes Staley

Mantan eksekutif JPMorgan dan Barclays tercatat bertukar ribuan email dengan Epstein antara 2008–2012. Ia membantah mengetahui kejahatan Epstein, namun telah dilarang beraktivitas di industri keuangan Inggris dan menghadapi gugatan hukum.

Kevin Warsh

Nama Warsh muncul dalam salah satu daftar tamu acara yang dikirim ke Epstein. Tidak ada indikasi pelanggaran hukum, dan belum ada tanggapan resmi darinya.

Melania Trump

Terdapat email tahun 2002 dari Melania kepada Ghislaine Maxwell terkait artikel majalah tentang Epstein. Tidak ada tuduhan pelanggaran hukum terhadapnya.

Selain itu, sejumlah nama lain dari kalangan perbankan, politik Eropa, tokoh akademik, hingga penyelenggara Olimpiade Los Angeles 2028 juga tercantum dalam dokumen.

Banyak dari mereka telah membantah mengetahui atau terlibat dalam aktivitas ilegal Epstein. Sejumlah investigasi dan pemeriksaan internal masih berlangsung di beberapa negara.

Kasus ini kembali memicu perdebatan luas mengenai bagaimana Epstein mampu mempertahankan jaringan dengan tokoh-tokoh elite global bahkan setelah pernah tersandung kasus hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari Pertama Ramadhan, Zionis Tembaki Warga Gaza dan Tepi Barat

 

 

Serangan Israel menewaskan sedikitnya dua warga Palestina dalam insiden terpisah di Jalur Gaza pada hari pertama Ramadhan, Rabu. Israel juga terus menghalangi ribuan warga Palestina untuk mencari pertolongan medis darurat melalui penyeberangan Rafah yang dibuka kembali sejak pekan lalu.

Aljazirah melaporkan di seorang anak dibunuh di utara Gaza dengan tembakan pesawat tak berawak Israel. Serangan itu menargetkan anak-anak dalam perjalanan mereka untuk memeriksa rumah mereka yang hancur di daerah tersebut.

Pasukan penjajah juga melepaskan tembakan dan membunuh Muhand Jamal al-Najjar (20 tahun) di dekat bundaran Bani Suheila di timur kota Khan Younis, kantor berita Palestina WAFA melaporkan. Sumber rumah sakit Gaza mengatakan bahwa tembakan Israel juga melukai tiga warga Palestina di al-Mughraqa di Jalur tengah dan daerah al-Mawasi di Rafah di selatan.

Sejak “gencatan senjata”, yang hampir setiap hari dilanggar oleh Israel, mulai berlaku pada pertengahan Oktober, lebih dari 600 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 1.600 orang terluka, menurut angka terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina awal pekan ini.

Kematian terbaru ini terjadi ketika militer Israel mempertahankan blokade terhadap warga Palestina yang ingin keluar dari Gaza melalui penyeberangan Rafah ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah menghitung total 260 pasien yang meninggalkan Gaza sejak hari pertama pembukaan kembali dua setengah minggu lalu. Jumlah ini sebagian kecil dari sekitar 18.500 orang yang sangat membutuhkan evakuasi.

Jumlah tersebut bahkan jauh dari janji sebelumnya dari pejabat perbatasan Mesir bahwa setidaknya 50 warga Palestina akan menyeberang ke kedua arah mulai hari pertama. Sebaliknya, hanya lima pasien yang diizinkan keluar.

Seorang anak ditembak dan terluka oleh pasukan pendudukan Israel pada Rabu malam di kamp pengungsi Fawwar, di selatan kota Hebron. Koresponden WAFA melaporkan pasukan pendudukan menyerbu kamp tersebut melalui pintu masuk utamanya dan menyebar di jalan-jalan dan di sekitar rumah, di tengah penembakan peluru tajam, granat kejut dan tabung gas air mata, menembak dan melukai seorang anak di kaki.

Anak tersebut kemudian dipindahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Pasukan penjajah juga menahan seorang pemuda, yang identitasnya masih belum diketahui, dan menyerangnya.

Empat warga Palestina juga terluka dalam serangan yang dilakukan oleh pemukim Yahudi dan pasukan penjajah Israel di desa Mukhmas, timur laut Yerusalem yang diduduki. Para pemukim juga mencuri puluhan domba di lokasi tersebut.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) melaporkan bahwa timnya merawat tiga orang yang terluka akibat peluru tajam, termasuk satu orang yang mengalami luka serius, dan memindahkan mereka yang terluka ke rumah sakit.

Menurut Kegubernuran Yerusalem, mengutip sumber-sumber lokal, empat warga terluka di Mukhmas, termasuk tiga warga akibat tembakan pemukim dan pasukan Israel, dan yang keempat setelah dipukuli oleh pasukan Israel. Gubernur mencatat bahwa penjajah menyerbu pinggiran desa disertai pasukan pendudukan dan mencuri puluhan domba dari peternakan warga.

AS-Israel Dilaporkan Siapkan Skenario Serangan Jangka Panjang ke Iran

 

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan kian dekat dengan perang besar di Timur Tengah yang dimulai dengan menyerang Iran. Operasi militer yang akan dilancarkan AS bersama Israel ke Iran juga disebut akan menjadi operasi besar-besaran selama berminggu-minggu .

Media AS Axios mengutip sejumlah sumber bahwa serangan ke Iran kemungkinan merupakan kampanye gabungan AS-Israel yang cakupannya jauh lebih luas dibandingkan perang 12 hari yang dipimpin Israel pada Juni lalu. Kala itu AS hanya ikut secara terbatas menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.

Perang seperti ini akan mempunyai pengaruh yang dramatis terhadap seluruh kawasan dan implikasi besar terhadap sisa tiga tahun masa kepemimpinan Trump. Dengan perhatian Kongres dan masyarakat yang teralihkan, hanya ada sedikit perdebatan publik di AS mengenai intervensi militer di Timur Tengah.

Trump nyaris menyerang Iran pada awal Januari atas unjuk rasa berdarah yang mengguncang negara  tersebut. Namun ketika peluang tersebut berlalu, pemerintah AS beralih ke pendekatan dua jalur: perundingan nuklir yang dibarengi dengan peningkatan kekuatan militer secara besar-besaran.

Dengan menunda dan menerapkan begitu banyak kekuatan, Trump telah meningkatkan ekspektasi mengenai seperti apa operasi yang akan dilakukan jika kesepakatan tidak dapat dicapai.

Penasihat Trump Jared Kushner dan Steve Witkoff bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama tiga jam di Jenewa pada Selasa. Meskipun kedua belah pihak mengatakan perundingan tersebut “menghasilkan kemajuan,” kesenjangan yang ada masih besar dan para pejabat AS tidak optimis untuk menyelesaikannya.

Wakil Presiden Vance mengatakan kepada Fox News bahwa perundingan itu "berjalan dengan baik" dalam beberapa hal. Namun "di sisi lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa batasan yang belum mau diakui dan diselesaikan oleh Iran."

Vance menjelaskan bahwa meskipun Trump menginginkan kesepakatan, dia dapat menentukan bahwa diplomasi telah “mencapai tujuan alaminya.”

Sejauh ini, armada Trump di Timur Tengah telah berkembang hingga mencakup dua kapal induk, puluhan kapal perang, ratusan jet tempur, dan beberapa sistem pertahanan udara. Beberapa dari senjata itu masih dalam perjalanan.

Lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS telah memindahkan sistem persenjataan dan amunisi ke Timur Tengah. Hanya dalam 24 jam terakhir, 50 jet tempur lainnya yakni F-35, F-22 dan F-16 telah menuju ke wilayah tersebut.

Axios mengalisis, peningkatan kekuatan militer dan retorika Trump membuatnya sulit untuk mundur tanpa konsesi besar dari Iran mengenai program nuklirnya. Ini bukan sifat Trump, dan para penasihatnya tidak memandang pengerahan semua perangkat keras tersebut sebagai sebuah gertakan.

Dengan Trump, apapun bisa terjadi. Namun semua tanda menunjukkan bahwa Trump akan mengambil tindakan jika perundingan gagal.

Pemerintah Israel – yang mendorong skenario maksimalis yang menargetkan perubahan rezim serta program nuklir dan rudal Iran – sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari, menurut dua pejabat Israel.

Beberapa sumber di AS memberi tahu Axios bahwa AS mungkin memerlukan lebih banyak waktu. Senator Lindsey Graham mengatakan serangan masih mungkin terjadi dalam beberapa minggu lagi. Namun ada pula yang mengatakan jangka waktunya mungkin lebih pendek.

"Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan dia agar tidak berperang dengan Iran, tapi saya pikir ada 90 persen kemungkinan kita melihat tindakan kinetik dalam beberapa minggu ke depan," kata salah satu penasihat Trump.

Para pejabat AS mengatakan setelah perundingan hari Selasa bahwa Iran perlu memberikan proposal terperinci dalam dua minggu.

Pada 19 Juni 2025 lalu, Gedung Putih menetapkan waktu dua minggu bagi Trump untuk memutuskan antara perundingan lebih lanjut atau serangan. Tiga hari kemudian, dia meluncurkan Operasi Midnight Hammer.

Sementara, Iran dan Rusia akan melakukan latihan angkatan laut di Laut Oman dan bagian utara Samudra Hindia pada Kamis (19/2/2026). Lokasi latihan itu dilaporkan sangat dekat dengan berlabuhnya kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang disiagakan untuk mengancam Iran.

Kabar latihan itu disampaikan kantor berita Iran Fars, beberapa hari setelah Garda Revolusi melakukan latihan militer di Selat Hormuz.

“Menciptakan konvergensi dan koordinasi dalam langkah-langkah bersama untuk melawan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim… serta memerangi terorisme maritim, adalah salah satu tujuan utama dari latihan bersama ini,” kata seorang komandan angkatan laut Iran, Hassan Maghsoodloo, menurut Fars.

Data pelacakan publik yang diterbitkan oleh Institut Angkatan Laut Amerika Serikat menunjukkan bahwa USS Lincoln mungkin berada di sekitar lokasi latihan tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei pada hari Selasa memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS. “Kapal perang tentu merupakan senjata yang berbahaya, namun yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujarnya.

 

 

 

AS-Iran di Ambang Perang, Rusia dan China Gabung Latihan Perang Teheran

 

Rusia dan China akan bergabung dalam latihan perang Iran di lepas pantai negara Islam tersebut mulai Kamis (19/2/2026). Manuver gabungan ini digelar ketika Teheran dan Washington di ambang perang setelah perundingan nuklir Iran tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti. Nikolay Patrushev, ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi keikutsertaan pasukan Moskow dalam manuver gabungan militer Teheran dan Beijing. Baca Juga: Usai Berunding, AS dan Iran Malah Semakin Dekat Menuju Perang Besar-besaran Menurutnya, kapal perang dari ketiga negara telah dikirim untuk manuver di perairan lepas pantai Iran. Dia mengatakan latihan ini bagian dari upaya bersama untuk membangun tatanan dunia multipolar di lautan sebagai tanggapan terhadap apa yang disebutnya sebagai hegemoni Barat yang telah berlangsung lama. Dikenal sebagai Maritime Security Belt (Sabuk Keamanan Maritim), latihan perang dijadwalkan akan berlangsung di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, dan akan melibatkan kapal dan pesawat dari ketiga negara. Awalnya merupakan inisiatif Iran, latihan ini telah dilakukan secara trilateral sejak 2019, kecuali pada tahun 2021, ketika China tidak berpartisipasi. Patrushev mengatakan bahwa laut sekali lagi menjadi platform untuk “agresi militer” dan kebangkitan “diplomasi kapal perang", dengan mengutip ketegangan baru-baru ini di sekitar Venezuela dan Iran. “Barat mendominasi laut untuk waktu yang lama, hingga awal abad ini, tetapi sekarang hegemoni mereka dalam banyak hal telah menjadi masa lalu,” katanya. Iran juga mengonfirmasi latihan perang gabungan tersebut, tanpa menyebut keikutsertaan China. “Latihan Angkatan Laut gabungan Republik Islam Iran dan Rusia akan berlangsung besok (Kamis) di Laut Oman dan di Samudra Hindia bagian utara,” tulis kantor berita ISNA pada Rabu, mengutip juru bicara latihan, Laksamana Muda Hassan Maghsoudloo. “Tujuannya adalah untuk memperkuat keamanan maritim dan memperdalam hubungan antara Angkatan Laut kedua negara,” katanya. Sementara itu, sumber-sumber pemerintah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perang dengan Iran semakin dekat. Mereka mengatakan kepada Axios bahwa sebuah operasi militer dapat berlangsung selama beberapa minggu dan mempunyai dampak yang kuat di wilayah tersebut. Sebelum perundingan, Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat Air Force One: “Saya rasa mereka tidak menginginkan konsekuensi jika tidak membuat kesepakatan.” Seorang penasihat Trump mengatakan kepada Axios: "Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan dia agar tidak berperang dengan Iran, tapi saya pikir ada 90 persen kemungkinan kita melihat tindakan kinetik dalam beberapa minggu ke depan." Pada Januari lalu, pemerintahan Trump mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Iran atas program nuklirnya dan menuntut Teheran membuat kesepakatan dengan Washington. Tuntutan itu muncul setelah perang 12 hari Israel dengan Iran pada Juni 2025, di mana AS ikut campur dengan mengebom tiga situs nuklir negara Islam tersebut. Baru-baru ini, Trump mengatakan “armada besar” sedang dalam perjalanan ke Iran dan mendesak rezim Ayatollah Ali Khamenei untuk menghentikan pembunuhan ribuan pengunjuk rasa. Sumber pemerintah Trump mengatakan kepada Axios bahwa operasi militer kemungkinan akan jauh lebih besar daripada serangan AS dan Israel Juni lalu, dan akan berdampak besar bagi sisa kepemimpinan Presiden Trump. AS telah membangun kehadiran militer dalam jumlah besar di wilayah tersebut, yang mencakup dua kapal induk, selusin kapal perang, ratusan jet tempur, dan berbagai sistem pertahanan udara. Peningkatan kekuatan militer dalam jumlah besar kemungkinan besar berarti AS tidak akan menarik diri dari wilayah tersebut sampai Iran memberikan konsesi besar terhadap program nuklirnya. Sedangkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika yang dikirim ke Timur Tengah. Dua pejabat Israel mengatakan pemerintah Israel sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari, menurut laporan Axios, Kamis (19/2/2026). Namun, sumber-sumber AS mengatakan pemerintahan Trump mungkin memerlukan waktu lebih lama. Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa militer Washington sedang bersiap untuk operasi selama berminggu-minggu jika Presiden Trump memerintahkan serangan. Pasukan AS mulai menarik diri dari pangkalannya di Suriah sejak pekan lalu, kemungkinan mengindikasikan militernya bersiap untuk mempersiapkan respons terhadap Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 Alasan Tekanan Global Tak Berpengaruh pada Israel, dari Perang Narasi hingga Mentalitas Pengepungan

 

Meskipun mendapat kecaman global dan hukum internasional, Israel tetap melanjutkan aneksasi de facto Tepi Barat awal bulan ini, rumah bagi lebih dari tiga juta warga Palestina dan wilayah yang telah diduduki secara ilegal sejak 1967. Kritik internasional yang menyertai pengumuman tersebut bukanlah hal baru. Selama dua tahun genosida di Gaza, Israel telah menempatkan dirinya pada jalur untuk menjadi, dalam kata-kata beberapa anggota parlemennya sendiri, sebuah "negara paria". Perdana menteri dan mantan menteri pertahanannya dicari karena kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional, sementara kebencian global atas tindakannya di Gaza telah mendorong boikot barang-barang Israel ke garis depan pikiran konsumen. 4 Alasan Tekanan Global Tak Berpengaruh pada Israel, dari Perang Narasi hingga Mentalitas Pengepungan 1. Isolasi Israel Tak Berdampak Empat negara – Spanyol, Slovenia, Belanda, dan Republik Irlandia – menolak untuk berpartisipasi dalam kompetisi lagu populer Eurovision sebagai protes atas kehadiran Israel. Kampanye global juga sedang berlangsung untuk menangguhkan Israel dari kompetisi sepak bola UEFA Eropa dan FIFA internasional, sementara kasus Afrika Selatan yang menuduh Israel melakukan genosida di Mahkamah Internasional masih berlangsung. Namun di Israel, isolasi internasional ini – dan pembunuhan lebih dari 72.000 warga Palestina – tidak secara signifikan mengubah opini tentang bagaimana negara itu seharusnya berperilaku. Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilihan yang akan diadakan tahun ini, dan sebagian besar penentangan terhadapnya berasal dari kebijakan domestiknya, bukan dari ketidaksepakatan tentang bagaimana ia memperlakukan warga Palestina, yang masih ditanggapi oleh banyak orang dengan acuh tak acuh. “Sebagian besar orang bahkan tidak tahu bahwa kita sebagian besar telah mencaplok Tepi Barat,” kata Orly Noy, editor situs berita berbahasa Ibrani Local Call. “Hanya saja tidak dilaporkan seperti itu.” “Mereka mungkin menyadari bahwa beberapa aturan pemerintahan telah berubah, tetapi mereka mungkin tidak akan tahu bahwa wilayah itu telah dianeksasi secara de facto sampai ada respons internasional yang memengaruhi mereka, seperti Eurovision,” katanya, seraya mencatat bahwa penarikan empat negara sebagai bentuk protes terhadap genosida Israel telah dibingkai di Israel sebagai dimotivasi terutama oleh anti-Semitisme. 2. Dalih Anti-Semit Bagi banyak warga Israel, Palestina hampir tidak ada, kata para pengamat, dengan kekerasan ekstrem yang dilakukan pemukim terhadap mereka sebagian besar tidak dilaporkan atau dianggap sebagai sesuatu yang pantas diterima. “Media tidak pernah benar-benar melaporkan penentangan terhadap apa pun yang dilakukan Israel,” lanjut Noy. “Media hanya menganggapnya sebagai anti-Semit, dan menampilkan dunia sebagai terdiri dari mereka yang mendukung kita, atau menentang kita.” “Mengapa mereka [orang Israel] harus merenungkan tindakan pemerintah mereka?” tanyanya secara retoris. “Mereka sudah memiliki jawabannya: anti-Semitisme, status korban, dan pembangkangan.” Sedikit sekali pembantaian yang dilakukan Israel di Gaza yang sampai ke televisi Israel – yang merupakan cara paling populer untuk menerima berita – selama perang berlangsung. Sebaliknya, saluran berita Israel yang meliput konflik tersebut berfokus pada jumlah “teroris” yang tewas, atau membingkai kekhawatiran tentang sifat perang sepenuhnya melalui prisma sekitar 250 tawanan yang diambil oleh Hamas dan kelompok lain pada tahun 2023. Dalam bentuk cetak, kritik terhadap pemerintah atau perangnya sebagian besar diserahkan kepada media kecil di sayap kiri. 3. Perang Narasi Dalam lanskap politik di mana tindakan Israel sebagian besar tidak dilaporkan, kritik terhadap perilaku pemerintahnya dengan mudah dianggap oleh para pembuat undang-undang sebagai anti-Semit, dengan tuduhan itu sendiri berfungsi sebagai "Iron Dome" kedua – merujuk pada sistem pertahanan anti-rudal Israel – dalam menangkis kritik terhadap negara tersebut, kata Neve Gordon, seorang profesor hukum internasional dan hak asasi manusia Israel di Queen Mary University of London. “Israel selalu harus menjadi korban, dan status korban itu membenarkan segala tingkat kekerasan dalam pembelaannya,” kata Gordon. “Saya mengunjungi Israel sekitar 10 kali selama satu setengah tahun pertama perang,” katanya, menggambarkan periode perang ketika Israel telah membunuh puluhan ribu pria, wanita, dan anak-anak di Gaza dan membuat ribuan lainnya kelaparan. “Yang Anda dengar hanyalah tentang sandera. Anda tidak pernah mendengar tentang apa yang terjadi di Gaza,” katanya, “Ini adalah pengulangan trauma yang menghapus segalanya, termasuk rasa empati.” 4. Mentalitas Pengepungan Menurut Netanyahu – berbicara di sebuah konferensi pada bulan Januari – anti-Semitisme yang dihadapi Israel lebih dalam daripada sekadar rasisme. Sebaliknya, pertempuran melawan anti-Semitisme adalah pertempuran atas masa depan peradaban, kata Netanyahu. “Rasisme telah ada sepanjang sejarah. Itu bukan anti-Semitisme,” katanya kepada para hadirin. “Anti-Semitisme dimulai sebagai sebuah kepercayaan 2.500 tahun yang lalu, 500 tahun sebelum kelahiran Kekristenan, dengan serangan ideologis terhadap orang Yahudi yang terus bermetamorfosis selama berabad-abad.” Puluhan tahun pernyataan serupa dari berbagai politisi telah meninggalkan jejaknya, kata Daniel Bar-Tal, profesor psikologi sosial-politik di Universitas Tel Aviv, seraya mencatat bahwa seluruh bangsa kini telah "diindoktrinasi" ke dalam pandangan dunia yang menempatkan sejarahnya sendiri sebagai penyeimbang utama terhadap tindakan apa pun yang dipilihnya atau kritik terhadapnya. “Banyak orang Yahudi Israel memiliki semacam mentalitas terkepung,” kata Bar-Tal, menggambarkan bagaimana kritik terhadap Israel disambut dengan bentuk "pembungkaman moral" yang dipersenjatai dan disebarluaskan oleh pemerintah. “Mereka membayangkan bahwa seluruh dunia hanya ingin Israel lenyap.” “Mereka berpikir, kalian orang Eropa tidak mengatakan apa pun tentang kami selama Perang Dunia II,” tambahnya. “Kalian tidak melakukan apa pun untuk menghentikan Holocaust, dan sekarang kalian ingin menyerang satu-satunya tempat di mana orang Yahudi merasa aman?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uni Eropa dalam Krisis Terburuk Sepanjang Sejarah, Ini 3 Alasannya

 

 Uni Eropa menghadapi krisis terdalam dalam sejarahnya, dengan masalah ekonomi yang diperparah oleh kurangnya kepemimpinan dan visi jangka panjang di Brussels. Itu diungkapkan Perdana Menteri Slovakia Robert Fico. Uni Eropa dalam Krisis Terburuk Sepanjang Sejarah, Ini 3 Alasannya 1. Krisis Ekonomi yang Makin Parah Fico menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Selasa saat berbicara di sebuah konferensi tentang perumahan sewa terjangkau di ibu kota negara, Bratislava, dengan mengatakan bahwa kesulitan yang dihadapi warga Eropa biasa adalah bagian dari masalah yang lebih luas yang memengaruhi seluruh blok. Baca Juga : Trump Ucapkan Selamat Ramadan, Sebut AS Lindungi Kebebasan Beragama “Uni Eropa belum pernah berada dalam krisis seperti sekarang ini,” kata Fico, menambahkan bahwa situasinya “bukan hanya tentang indikator ekonomi, tetapi juga tentang kepemimpinan dan visi.” Baca Juga: 80 Negara Anggota PBB Kutuk Aksi Pencaplokan Tepi Barat oleh Israel 2. Bisa Jadi Museum Terbuka Tanpa strategi yang koheren tentang daya saing, Uni Eropa dapat "menjadi museum budaya terbuka," dan berisiko mengalami penurunan lebih lanjut di panggung global, ia memperingatkan. Beberapa wilayah di dunia, seperti Tiongkok, kini 15-20 tahun lebih maju dari Uni Eropa di sektor-sektor kunci, tambahnya. Fico telah berulang kali mengkritik Brussel atas kebijakannya, khususnya tentang energi dan sanksi terhadap Rusia, dengan mengatakan bahwa pembatasan tersebut "hanya merugikan" blok tersebut. Mengomentari paket sanksi ke-20 Komisi Eropa awal bulan ini, ia mengatakan Uni Eropa harus memprioritaskan penanganan masalah internalnya daripada memberlakukan pembatasan baru terhadap Moskow. 3. Salah karena Memusuhi Rusia Ia juga mengkritik keras rencana Uni Eropa untuk sepenuhnya menghapus impor gas Rusia pada November 2027, menggambarkan skema tersebut sebagai "bunuh diri" bagi ekonomi yang bergantung, dan mengumumkan bahwa Bratislava akan menggugat lembaga-lembaga Uni Eropa. Penurunan tajam impor gas pipa Rusia yang lebih murah menyusul eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022 dan sanksi Barat yang menyertainya, telah mendorong harga grosir dan biaya hidup lebih tinggi di seluruh Uni Eropa, sekaligus melemahkan daya saing industri blok tersebut. Fico, yang selamat dari upaya pembunuhan oleh seorang aktivis pro-Ukraina pada tahun 2024, menggambarkan Kiev sebagai "lubang hitam" korupsi yang telah menelan miliaran euro dana Uni Eropa. Bulan lalu, ia menyerukan pemecatan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, yang dikenal karena sikap anti-Rusia garis kerasnya.

 

 

 

 

 

 

 

Akankah Rusia Membela Iran jika AS Melakukan Invasi?

 

Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama besar baru-baru ini. Namun, kesepakatan ini biasanya tidak mencapai perjanjian pertahanan bersama yang mengikat seperti Pasal 5 NATO. Moskow tidak diwajibkan secara hukum untuk mengirim pasukan jika Teheran diserang. Baca Juga : Trump Ucapkan Selamat Ramadan, Sebut AS Lindungi Kebebasan Beragama Kremlin saat ini sangat berkomitmen pada perang yang sedang berlangsung di Ukraina. Membuka front militer kedua melawan AS di Timur Tengah secara logistik sulit. Putin kemungkinan akan menawarkan dukungan diplomatik yang kuat daripada mengerahkan tentara. Akankah Rusia Membela Iran jika AS Melakukan Invasi? 1. Pasokan Senjata Canggih Melansir WioNews, Iran mengintegrasikan S-300. Mengenai jet Su-35, laporan terbaru (akhir 2025) menunjukkan bahwa meskipun produksi sedang berlangsung, pengiriman berjalan lambat. Beberapa unit diperkirakan akan tiba pada tahun 2026. Moskow ragu-ragu untuk mengirimkan S-400 ke Iran untuk menghindari semakin menjauhkan negara-negara Teluk dan Israel, meskipun diskusi sedang berlangsung. 2. Berbagi Intelijen Moskow dapat memberikan data satelit dan intelijen penting tentang pergerakan pasukan AS. Dukungan militer 'lunak' ini sangat efektif dalam peperangan modern. Hal ini memungkinkan Iran untuk menargetkan aset musuh secara tepat tanpa Rusia melepaskan satu tembakan pun. 3. Jalur Ekonomi Vital Beijing China tetap menjadi pelanggan minyak terbesar Iran meskipun ada sanksi Barat. Dalam konflik, Beijing kemungkinan akan memastikan Iran tidak mengalami keruntuhan ekonomi total. Namun, secara historis China menghindari intervensi militer langsung dalam perang asing. 4. Rute Laut Kaspia Rusia memiliki perbatasan maritim langsung dengan Iran melalui Laut Kaspia. Angkatan Laut AS tidak memiliki akses ke perairan pedalaman ini. Hal ini memastikan rute logistik yang aman bagi Rusia untuk memasok kembali Iran dengan amunisi dan makanan selama blokade. 5. Poros Perlawanan Garis pertahanan pertama Iran yang sebenarnya terletak pada proksi regionalnya, bukan kekuatan global. Kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan milisi di Irak kemungkinan akan menyerang pangkalan AS. Respons asimetris ini lebih cepat daripada menunggu tentara asing. 6. Perlindungan Diplomatik di PBB Rusia dan China memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB. Mereka hampir pasti akan memblokir resolusi apa pun yang melegitimasi serangan AS. Pertahanan politik ini mencegah AS membangun koalisi internasional yang luas melawan Teheran. 7. Risiko Eskalasi Nuklir Keterlibatan militer langsung Rusia terhadap AS berisiko memicu konflik nuklir global. Baik Washington maupun Moskow ingin menghindari perang konvensional langsung. Pencegahan timbal balik ini kemungkinan mencegah Rusia untuk melibatkan pasukannya sendiri. 8. Siap Berperang Sendirian Pada akhirnya, Iran telah mempersiapkan diri selama beberapa dekade untuk melawan perang asimetris sendirian. Mereka mengandalkan persenjataan rudal dan drone mereka yang sangat besar daripada bantuan asing. Sekutu akan menyediakan alat dan perlindungan, tetapi Iran kemungkinan akan menyediakan tenaga kerja.

 

 

Dibayangi Kasus Korupsi, Popularitas Presiden Ukraina Kian Pudar

 

Nasib Volodymyr Zelenskyy telah berubah sejak ia terpilih sebagai tokoh anti-korupsi dari luar pada tahun 2019. Pada bulan-bulan pertama invasi skala penuh Rusia , sikap menantangnya dan citranya sebagai orang biasa membuatnya mendapatkan pujian global dan dukungan luar biasa di dalam negeri. Namun persatuan itu, yang terkikis oleh empat tahun perang skala penuh, telah memberi jalan pada suasana yang lebih kompleks. Sekarang, sementara banyak warga Ukraina masih mendukungnya sebagai tokoh internasional, kekhawatiran tentang tata kelola dan korupsi membentuk kembali posisinya di dalam negeri. Dibayangi Kasus Korupsi, Popularitas Presiden Ukraina Kian Pudar 1. Dari Mesias Menjadi Paria Melansir Al Jazeera, pada tahun 2019, ketika Zelenskyy mencalonkan diri sebagai presiden, ia adalah aktor komedi terkenal, paling dikenal karena memerankan seorang guru sekolah yang terbangun dan mendapati dirinya telah terpilih sebagai kepala negara setelah video dirinya yang mengamuk menentang korupsi, yang direkam secara diam-diam oleh murid-muridnya, menjadi viral. Kampanyenya menggunakan retorika antikorupsi yang hampir sama dengan karakter yang diperankannya di layar kaca, memposisikan dirinya sebagai orang luar dari jaringan oligarki yang mapan yang mendominasi politik Ukraina. Hal ini menarik bagi para pemilih yang kecewa dengan status quo, dan ia meraih kemenangan telak, memenangkan 73 persen suara. Setelah Zelenskyy berkuasa, realitas pemerintahan mulai mengikis citra dirinya sebagai orang biasa ketika ia pertama kali menghadapi krisis energi dan kemudian, dampak pandemi COVID global. Pada Desember 2021, dua bulan sebelum perang dimulai, popularitasnya hanya mencapai 31 persen, menurut Institut Sosiologi Internasional Kyiv. Ini adalah siklus yang menurut Peter Dickinson, penerbit majalah Business Ukraine asal Inggris dan editor layanan UkraineAlert dari Atlantic Council, umum terjadi dalam politik Ukraina. Dapatkan peringatan dan pembaruan instan berdasarkan minat Anda. Jadilah yang pertama mengetahui ketika berita besar terjadi. Demokrasi Ukraina "sangat hidup" dan "sangat dinamis," tetapi juga "sangat belum matang dalam banyak hal," seringkali menyerupai "kontes popularitas sekolah menengah." Politik berputar di sekitar individu daripada institusi, tambahnya. Para pemimpin awalnya dirangkul sebagai penyelamat nasional, hanya untuk dengan cepat ditolak ketika harapan akan perubahan cepat tidak terpenuhi, sesuatu yang disebutnya sebagai efek "Mesias menjadi paria". Baca Juga: Kapal Induk USS Gerald R. Ford Vs USS Abraham Lincoln, Siapa Lebih Unggul? 2. Presiden Masa Perang yang Mewakili Rakyat Biasa Pada 24 Februari 2022, Rusia menginvasi Ukraina, dan dalam semalam, Zelenskyy menjadi presiden masa perang. Mengenakan kaos militer hijau kasual, ia berpidato kepada bangsa dalam serangkaian video yang direkam sendiri dan dipublikasikan di media sosial. Pidatonya yang penuh semangat mendesak warga Ukraina untuk mengangkat senjata, dan penolakannya untuk meninggalkan Ukraina, meskipun ada peringatan dari Amerika Serikat, membuatnya dipuji di dalam dan luar negeri. Peringkat persetujuannya meroket, mencapai 91 persen dalam beberapa minggu pertama invasi. Beberapa minggu sebelum invasi skala penuh, mereka yang sebelumnya mengkritik presiden, berubah pikiran dalam beberapa minggu pertama. Mykhail Hontarenko, dari Odesa, mengatakan kepada Al Jazeera saat itu bahwa ia mulai menyukai Zelenskyy, yang dilihatnya sebagai seorang penghibur berpengalaman yang tiba-tiba terjerumus ke dalam pengalaman yang membuatnya menunjukkan emosi yang tulus. “Saya rasa dia tidak sedang berakting sekarang; dia takut,” katanya. 3. Bagian dari Kalangan Elite Namun, sejak saat itu, presiden Ukraina menghabiskan lebih sedikit waktu di jalanan dan lebih banyak waktu di Istana Kepresidenan dan dalam perjalanan diplomatik saat ia berupaya menggalang dukungan internasional. Dalam survei bulan Desember, Institut Sosiologi Internasional Kyiv menemukan bahwa sementara 61 persen warga Ukraina mempercayai Zelenskyy, 32 persen tidak. Beberapa orang percaya bahwa ia akan kesulitan untuk terpilih kembali dalam pemilihan pasca-perang. Dickinson mengatakan ini sebagian disebabkan oleh skandal korupsi yang melibatkan rekan-rekannya dan persepsi bahwa ia memusatkan kekuasaan dan menggunakan kondisi perang untuk memperluas otoritas presiden. Zelenskyy menghadapi tekanan yang semakin besar dari Washington untuk menyelenggarakan pemilihan nasional pada tahun 2026, tetapi hal itu akan membutuhkan perubahan hukum dan konstitusional di bawah aturan darurat militer masa perang negara tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, Zelenskyy menyatakan bahwa ia "siap" untuk mengadakan pemilihan – selama Washington dan, mungkin, Brussel dapat menjamin keamanannya. Pada akhir tahun 2025, Ukraina diguncang oleh skandal korupsi besar, yang memicu penggeledahan dan penangkapan yang melibatkan tokoh-tokoh senior dan memicu pengawasan terhadap lingkaran dalam Zelenskyy, termasuk kepala staf lama Andriy Yermak, yang mengundurkan diri. “Warga Ukraina memang sangat sinis dalam hal korupsi politik, jadi itu adalah citra yang buruk baginya karena teman-teman pribadinya yang telah ia tunjuk untuk menduduki posisi senior terlibat dalam skandal,” kata Dickinson. Ia menambahkan bahwa skandal terbaru berpusat di sektor energi, yang sangat mengejutkan bagi warga Ukraina, mengingat serangan Rusia terhadap infrastruktur telah menyebabkan jutaan orang tanpa listrik, air, atau pemanas dalam kondisi yang sangat dingin. “Dulu, orang-orang merasa dia adalah orang biasa di jalanan, tetapi sekarang dia bagian dari kelompok penguasa,” kata Dickinson. Amina Ismailova, seorang manajer di perusahaan tekstil di Kharkiv, di timur laut Ukraina, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia percaya kepercayaan terhadap Zelenskyy lebih rendah daripada yang ditunjukkan oleh jajak pendapat. Sementara banyak tentara dan veteran tidak dibayar atau menerima perawatan kesehatan yang memadai, para politisi mengambil keuntungan dari skema korupsi – sesuatu yang sulit diterima oleh masyarakat, katanya. Masalahnya, kata Ismailova, menggemakan pendapat banyak orang yang diwawancarai Al Jazeera, adalah kurangnya alternatif yang layak. Valerii Zaluzhnyi, duta besar Ukraina untuk Inggris, adalah nama yang disebutkan oleh beberapa orang, meskipun mantan kepala militer Ukraina itu tidak pernah mengumumkan ambisi politiknya. Zaluzhnyi, yang dikenal sebagai "Jenderal Besi", menikmati citra sebagai pahlawan perang dan ahli strategi militer, dan keputusan Zelesnkyy pada awal tahun 2024 untuk "memperbarui kepemimpinan" dan mengirimnya ke Inggris menimbulkan kecurigaan bahwa ia melihatnya sebagai ancaman potensial bagi kepresidenannya. 4. Efek Persatuan di Bawah Bendera Namun terlepas dari suasana domestik saat ini, banyak warga Ukraina masih mendukung Zelenskyy sebagai pemimpin di masa perang. Dickinson mengatakan bahwa tanggapan Zelenskyy terhadap Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan yang penuh ketegangan di Ruang Oval pada Februari 2025 – di mana presiden Ukraina dipandang sebagai pihak yang ditekan atau diremehkan oleh Trump – memicu gelombang patriotisme di Ukraina. Jajak pendapat pada saat itu menunjukkan peningkatan langsung dalam peringkat persetujuannya. Banyak orang merasa bahwa ketika Zelenskyy diserang, Ukraina sendiri juga sedang diserang, kata Dickinson.

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post