Kesepakatan AS-China Hapuskan Ketidakpastian, Bursa Eropa Menguat

Kesepakatan AS-China Hapuskan Ketidakpastian, Bursa Eropa Menguat

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 17 Januari 2020 )

AS-China Mulai Akur, Harga Minyak Mentah Menguat ke Level Tertinggi

Harga minyak mentah menguat ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir pada Kamis (16/1/2020) setelah kesepakatan perdagangan awal antara AS dan China serta perjanjian Amerika Utara mendorong optimisme pertumbuhan ekonomi.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari menguat 1,2 persen atau 0,71 poin ke level US$58,52 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sebelumnya naik dengan laju terbesar sejak 8 Januari.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Maret menguat 0,62 poin ke level US$64,62 per barel di bursa ICE Futures Europe. Minyak mentah patokan global diperdagangkan premium US$6,09 premium dibandingkan bulan yang sama.

Di bawah penyelesaian perjanjian awal antara ekonomi terbesar di dunia, China berjanji untuk meningkatkan pembelian komoditas AS. Sementar aitu, Senat menyetujui kesepakatan perdagangan Presiden Trump antara AS-Meksiko-Kanada (USMCA) yang mengubah perjanjian NAFTA 1994.

“Perjanjian China-AS dan pengesahan USMCA oleh Senat akan membantu meningkatkan perekonomian,” kata Michael Lynch, presiden direktur Strategic Energy & Economic Research Inc, seperti dikutip Bloomberg.

Harga bangkit kembali setelah tenggelam ke level terendah enam pekan pada Rabu ketika Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak bumi domestik telah meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan.

“Pasar akan terlihat telah naik lebih tinggi pada hari Rabu jika harga tidak turun tajam sebelum penandatanganan perdagangan AS-China,” kata Lynch. “Pasar telah bekerja lebih keras untuk membuat harga bangkit dari level terendah.”

Badan Energi Internasional yang bermarkas di Paris dalam sebuah laporan memperkirakan permintaan minyak China mencapai rata-rata 14,1 juta barel per hari tahun ini, lebih tinggi dibandingkan dengan 13,6 juta tahun lalu.

“China adalah sumber kekhawatiran, dan kekhawatirannya adalah bahwa permintaan akan melambat. Tapi sepertinya tidak demikian,” kata Lynch.

Kesepakatan AS-China Hapuskan Ketidakpastian, Bursa Eropa Menguat

Bursa saham Eropa berakhir menguat pada perdagangan Kamis (16/1/2020) setelah penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-China fase pertama menghilangkan sejumlah ketidakpastian jangka pendek.

Kesepakatan yang ditandatangani di Washington pada hari Rabu tersebut masih menimbulkan pertanyaan tentang komitmen pembelian barang-barang AS oleh China, sambil membiarkan tarif yang ada tetap berlaku.

Namun, prospek tidak adanya eskalasi lebih lanjut dalam perang perdagangan yang merusak secara ekonomi mendorong sentimen risk-on sedikit lebih tinggi.

“Investor mungkin tidak sedang mengantisipasi fakta tetapi hanya berhenti sejenak untuk berpikir bahwa kesepakatan telah ditandatangani yang juga merupakan sumber bantuan bagi kebanyakan orang,” kata Russ Mold, direktur investasi di broker AJ Bell, seperti dikutip Reuters.

Indeks Stoxx Europe 600 ditutup menguat 0,2 persen, dengan indeks utama London tertinggal dibanding indeks regional lain. Perusahaan pendidikan Pearson menekan indeks dengan pelemahan hampir 9 persen jatuh karena menurunkan proyeksi laba untuk tahun ini.

Pelaku pasar akan mengalihkan fokus ke musim laporan keuangan pada pekan depan.

Saham-saham utilitas Eropa menyentuh level tertinggi sejak akhir 2008, didorong oleh penguatan saham pembangkit listrik RWE AG di tengah laporan bahwa pemerintah Jerman berencana untuk memberikan kompensasi senilai sekitar 2,6 miliar euro (US$ 2,9 miliar) untuk biaya terkait dengan rencana pengurangan penggunaan batu bara.

Saham Jerman datar setelah ditutup lebih rendah sehari sebelumnya karena data PDB yang mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi di negara tersebut melambat tajam pada 2019, menyoroti dampak luas perang dagang terhadap permintaan ekspor.

Jadi Sandera Perang Dagang AS-China, Huawei Tetap Catat Pendapatan Hingga Ribuan Triliun

© Warta Ekonomi. Jadi Sandera Perang Dagang AS-China, Huawei Tetap Catat Pendapatan Hingga Ribuan Triliun

Huawei mengalami tahun yang sangat penting di tahun 2019 di mana Huawei menjadi sandera dalam perang dagang antara pemerintah China dan Amerika Serikat yang masih berlangsung.

Namun, terlepas dari semua masalah, perusahaan berhasil meningkatkan pengirimannya di seluruh dunia, dan pada 2019 melakukan pengiriman 240 juta smartphone, dengan jajaran P dan Mate mengalami kenaikan hingga 50% setiap tahun dilansir dari GSMArena, Kamis (16/1/2020).

Xu Zhijun, Chairman Huawei Technologies saat ini, mengungkapkan bahwa perusahaan mengharapkan pendapatan penjualan sekitar 850 miliar yuan atau sekitar Rp1.685 triliun yang merupakan kenaikan 18% YoY. Namun, angka akan berada pada level yang sama sekali berbeda jika pemerintah AS tidak menekan perusahaan-perusahaan Amerika untuk berhenti berdagang dengan pabrikan China.

Zhijun mengungkapkan tujuan perusahaan pada tahun 2020 adalah untuk mengembangkan lebih jauh ekosistem layanan seluler Huawei sebagai alternatif dari solusi Google sehingga tidak harus bergantung pada mitra dari negara lain.

Alasan Huawei berkinerja buruk dalam dua belas bulan terakhir adalah kurangnya Layanan Google di smartphone Huawei baru yang sangat tidak menarik bagi pelanggan di pasar seperti Eropa Barat.

Perusahaan juga mengungkapkan bahwa mereka berhasil menjual lebih dari 2 juta unit Huawei Watch GT2 hanya dalam tiga bulan sejak pengenalan yang dapat dipakai, lebih dari satu juta headphone Huawei FreeBuds 3 dalam satu bulan dan aplikasi kesehatannya saat ini memiliki 400 pengguna bulanan dari 170 negara dan daerah.

Bursa Asia Mayoritas Menguat, Pasar Keuangan Dapat Angin Segar

Bursa Asia mayoritas mengalami tren penguatan pada Kamis (16/01) setelah Amerika Serikat dan Cina menandatangani kesepakatan untuk meredakan perang dagang yang telah berlangsung selama 18 bulan, dan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan menghambat investasi.

Indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang (MIAPJ0000PUS) naik 0,10% Nikkei 225 Jepang naik 0,14% Hang Seng Hongkong naik 0.61%, S&P Australia (AXJO) juga naik 0,6%, sementara Shanghai Composite Composite turun 0.04%.

Sementara untuk Jakarta Stock Exchange Composite (IHSG), pagi ini berada di zona merah pada level 6.265,66 atau turun 0.30%, dengan penurunan oleh sektor aneka industri, aneka industri, consumer industry dan manufaktur.

Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He pada hari Rabu menandatangani kesepakatan yang akan menurunkan beberapa tarif impor dan disisi lain Cina berjanji akan meningkatkan pembelian barang dan jasa dari AS senilai $ 200 miliar dalam periode dua tahun ke depan.

Namun kesepakatan itu tidak membahas masalah ekonomi struktural yang mengarah ke konflik perdagangan, dan tidak sepenuhnya menghapuskan tarif yang saat ini masih diberlakukan, sementara target pembelian $ 200 miliar terlihat agak mustahil untuk direalisasikan.

Tapi setidaknya kesepakatan itu mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan.

Emas Melemah Setelah Kesepakatan Dagang AS-Cina Resmi Diteken

Harga emas beranjak melemah pada hari Kamis (16/01) di Asia setelah Amerika Serikat dan Cina menandatangani kesepakatan perdagangan yang bersejarah.

Emas Berjangka melemah sebesar 0,1% di $1,552.15 pada pukul 1:30 AM ET (05:30 GMT).

Ketegangan tetap hadir lantaran Washington memutuskan untuk mempertahankan bea masuk atas produk asal Cina senilai $360 miliar. Beberapa analis juga menunjukkan bahwa kesepakatan sementara tidak membahas beberapa masalah ekonomi struktural yang menyebabkan konflik antara kedua belah pihak.

“Masih ada berita utama yang mengkhawatirkan secara politis dan salah satunya adalah tarif AS terhadap Cina yang tetap ada meskipun terwujudnya kesepakatan antar kedua negara,” urai George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York. “Ini pada dasarnya memberikan arti bahwa perang dagang belum berakhir, dan dapat mendorong buyer safe haven untuk mencari lindung nilai pada emas.”

Tawaran atas logam mulia juga menurun sejak kepanikan atas potensi perang antara AS dan Iran mulai mereda.

Ditopang Kesepakatan Dagang AS-China, Bursa Asia Ditutup Naik

Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (16/1/2020), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei terapresiasi 0,07%, indeks Hang Seng naik 0,38%, indeks Straits Times terkerek 0,65%, dan indeks Kospi menguat 0,77%.

Formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China menjadi sentimen positif yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Kemarin waktu setempat, Rabu (15/1/2020),

 

Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

“Hari ini kami mengambil langkah penting yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan China, yang akan memastikan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan,” kata Trump saat seremoni penandatanganan di Gedung Putih, Washington, AS, seperti dikutip dari AFP.

“Bersama-sama, kita (akan) memperbaiki kesalahan masa lalu,” kata Trump lagi.

“Negosiasi ini sulit bagi kami. Tapi ini terobosan yang sangat luar biasa.”

Sementara itu, pihak China juga melontarkan nada positif terkait kesepakatan dagang tahap satu dengan AS.

“Kesepakatan ini baik untuk China, untuk AS, dan untuk seluruh dunia,” ucap Liu kala membacakan surat dari Presiden China Xi Jinping kepada Trump.

Sesuai dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Sebelumnya, AS telah membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China memasukkan komitmen dari China untuk membeli produk asal AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Kemudian, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga akan membereskan komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Melalui kesepakatan dagang tahap satu, China diwajibkan untuk membuat proposal terkait lankah-langkah yang akan diadopsi untuk memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual. Proposal tersebut harus disampaikan ke AS dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan dagang tahap satu resmi berlaku.

Terkait dengan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam, di dalam kesepakatan dagang tahap satu disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan harus bisa beroperasi di China “tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain untuk mentransfer teknologinya ke pihak lain.”

Sebelum penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu, AS memutuskan untuk mencopot label “manipulator mata uang” yang sempat disematkannya kepada China.

Seperti yang diketahui, pada tahun lalu AS melalui kementerian keuangannya menyematkan label “manipulator mata uang” kepada Beijing. Penyebabnya, People’s Bank of China (PBOC) selaku bank sentral China seringkali dengan sengaja melemahkan nilai tukar yuan. Hal ini dilakukan untuk menggenjot ekspor Negeri Panda.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu