Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 20  Maret  2020 )

Italia Akan Perpanjang Masa Lockdown

Lockdown di Italia akan terus diberlakukan setelah tenggat berakhir, yang tadinya dijadwalkan akhir Maret atau awal April, kata Perdana Menteri Giuseppe Conte, Kamis.

Perpanjangan masa karantina wilayah Italia merupakan upaya pemerintah untuk memerangi virus corona di negara Eropa yang paling parah dilanda wabah tersebut.

Dalam pernyataannya kepada surat kabar Corriere della Sera, Conte mengatakan penutupan sekolah-sekolah dan universitas serta pembatasan keras pergerakan masyarakat akan perlu diteruskan.

Berdasarkan aturan saat ini, warga Italia yang berjumlah 60 juta jiwa hanya diperbolehkan keluar rumah karena kepentingan pekerjaan, alasan medis atau keadaan darurat. Peraturan tersebut berlaku hingga 3 April.

Sementara itu, sebagian besar toko, kecuali yang menjual makanan dan obat-obatan, diharuskan tutup sampai 25 Maret.

Filipina Larang Warga Asing Datang, Semua Negara Tanpa Terkecuali

Filipina menghentikan pemberian visa bagi orang asing dan melarang kedatangan warga dari negara mana pun dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona, kata menteri luar negeri, Kamis.

Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin mengatakan di Twitter bahwa ia telah menandatangani perintah penghentian pengeluaran visa di dalam negeri maupun kantor-kantor misi Filipina di luar negeri. Locsin tidak memberikan keterangan soal berapa lama langkah itu diberlakukan.

“Ini merupakan satu langkah maju yang penting: larangan total bagi pengunjung dari semua negara, tanpa kecuali,” kata Locsin.

Ia menambahkan bahwa pengunjung asing yang masih berada di Filipina akan diizinkan meninggalkan negara itu. Filipina telah melaporkan 217 kasus infeksi corona dan 17 kematian akibat virus itu, yang sebagian besar di antaranya tercatat muncul dalam dua minggu belakangan ini.

Lebih dari setengah populasi negara itu, yang total berjumlah 107 juta jiwa, sedang dikenai karantina selama satu bulan.

Begini Pesan Raja Salman ketika Wabah Virus Corona Masuk ke Fase Sulit

Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz al Saud, mengatakan bahwa Arab Saudi telah mengambil semua langkah pencegahan untuk memerangi wabah virus Corona. Namun, ia lantas berbicara lebih jauh tentang fase yang “lebih sulit” di tingkat global.

“Kerajaan terus mengambil semua tindakan pencegahan untuk menghadapi pandemi ini dan membatasi dampaknya,” kata Raja Salman dalam pidatonya.

“Kami hidup melalui fase yang sulit,” katanya, seraya menambahkan ia yakin bahwa fase ini akan berakhir seperti disitir dari Asharq Al-Awsat, Jumat (20/3/2020).

Namun dia menekankan bahwa fase yang akan datang akan lebih sulit di tingkat global untuk menghadapi penyebaran pandemi yang cepat ini.

Raja Salman mengatakan orang-orang telah menunjukkan kekuatan dalam menangani wabah virus Corona, dan meyakinkan mereka bahwa Kerajaan itu tertarik untuk menyediakan obat-obatan yang diperlukan, makanan, dan kebutuhan hidup bagi warga dan penduduk.

Ia menambahkan bahwa semua sektor pemerintah, yang dipimpin oleh Departemen Kesehatan, melakukan semua yang mereka bisa dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan kesehatan mereka.

Raja Salman memuji entitas pemerintah dan profesional sektor kesehatan atas dedikasinya dalam memerangi virus Corona dan menyelamatkan nyawa.

Ia menyerukan lebih banyak solidaritas dan kolaborasi, dan untuk secara ketat mematuhi instruksi dan pedoman pihak berwenang untuk memerangi pandemi.

Hingga saat ini, virus Corona telah menginfeksi 242.017 orang di seluruh dunia. Sebanyak 9.991 orang meninggal dan 86.714 lainnya dinyatakan sembuh.

Kasus Corona di Malaysia Turun Lumayan

Menteri Kesehatan Malaysia Dato’ Sri Dr Adham Baba mengatakan kasus positif Covid-19 di Malaysia mengalami penurunan dari 117 kasus menjadi 110 kasus pada pemberlakuan Perintah Kawalan Pergerakan (Movement Control Order) (18/3) hingga (31/3) hari kedua.

Dia mengatakan terdapat 15 kasus yang telah pulih dan dibenarkan keluar dari ruang isolasi sehingga menjadikan jumlah kumulatif kasus yang telah pulih sepenuhnya dari Covid-19 dan telah keluar dari wad (ruang isolasi) adalah sebanyak 75 kasus.

“Dari 110 kasus baru yang telah dilaporkan Kamis ini sebanyak 63 kasus adalah berkaitan dengan kluster perhimpunan tabligh di Masjid Jamek Seri Petaling. Hingga kini sebanyak 20 kasus positif Covid-19 sedang dirawat di Unit Rawatan Rapi (ICU) dan memerlukan bantuan pernafasan,” katanya.

Perintah Kawalan Pergerakan telah dilaksanakan mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020 yang antara lain melarang pergerakan menyeluruh untuk membendung penularan wabah Covid-19 di Malaysia.

“Selama tempo ini, warga diminta untuk berada di rumah. Justru KKM ingin menasehatkan warga mengenai perkara-perkara untuk memastikan tahap kesehatan yang optimum diperolehi,” katanya.

Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Para pedagang minyak ramai berspekulasi soal arah pergerakan harga minyak di tengah gejolak pasar yang berlangsung. Sebagian memperkirakan yang terburuk belum terjadi.

Meski telah merosot sekitar 60 persen sepanjang tahun ini ke level terendah sejak 2003, harga minyak kemungkinan akan turun lebih jauh menjadi US$20 per barel atau di bawahnya, menurut survei Bloomberg terhadap pedagang dari sejumlah perusahaan dan merchant ternama di dunia.

Sederet analis mulai dari Goldman Sachs Group Inc. hingga Citigroup Inc. juga memperkirakan harga akan memperpanjang koreksinya dalam beberapa bulan mendatang.

Beberapa bahkan berspekulasi harga regional tertentu bisa menjadi negatif ketika pasar mencoba mengirim sinyal untuk menghentikan pasokan.

Minyak telah terpukul oleh perang simultan melawan wabah penyakit virus corona (Covid-19), yang menghantam pertumbuhan permintaan global, dan membanjirnya pasokan ketika Arab Saudi dan Rusia melancarkan ‘perang’ untuk merebut pangsa pasar.

Turunnya harga minyak secara tiba-tiba dan curam membantu memicu aksi jual yang meluas di seluruh pasar, juga mengancam ekonomi di seluruh Amerika Latin dan Timur Tengah, serta Amerika Serikat, di mana industri energi berkontribusi besar.

Menentukan titik terbawah (bottom) di pasar minyak mentah dapat menjadi hal yang membingungkan ketika harga menyentuh level terendah baru setiap harinya.

Harga minyak Brent turun 13 persen pada perdagangan Rabu (18/3/2020) menjadi US$24,88 per barel, terendah sejak Mei 2003.

Sebanyak 18 dari 20 pedagang minyak dan produk yang disurvei Bloomberg memperkirakan Brent akan turun ke level US$20 per barel atau lebih rendah, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) terlihat turun sekitar US$3 atau US$5 di bawah level tersebut.

Menurut para pedagang, penurunan harga diperkirakan dapat berlangsung selama hitungan pekan hingga menuju akhir tahun.

“Level US$20 mudah ditembus pada pertengahan April,” ujar R. Ramachandran, seorang direktur di India Bharat Petroleum Corp., seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (20/3/2020).

Beberapa pedagang menunjukkan harga jatuh cukup dalam sehingga pelaku pasar fisik mulai membeli minyak untuk menyimpannya. Ini adalah praktik umum yang dikenal sebagai contango trade, yang mengarah pada tawaran alami di pasar. Namun, upaya ini hanya akan berfungsi sampai tangki penyimpanan terisi.

Yang lain melihat harga terus akan mengalami aksi jual hingga produsen tidak lagi dapat memompa keuntungan, serta memaksa mereka untuk menutup produksi dan mengambil pasokan off-line.

Beberapa pedagang mengatakan mereka mengincar biaya untuk memproduksi minyak shale AS sebagai level support di titik bawah (bottom).

“WTI akan jatuh di bawah biaya tunai produksi minyak shale AS, yaitu sekitar US$20,” tutur Zhang Chenfeng, seorang analis perdagangan minyak di Shanghai Youlin Investment Management Co.

Dalam sebuah catatan pekan ini, analis Goldman Sachs mengatakan Goldman telah menurunkan proyeksi Brent untuk kuartal kedua menjadi US$20 per barel dari US$30.

Bank tersebut menambahkan bahwa penurunan atas biaya tunai akan konsisten dengan pasar bearish berskala besar sebelumnya pada tahun 1999, 2009 dan 2016, ketika total kapasitas penyimpanan tidak pernah tercapai tetapi kejenuhan logistik lokal terbukti mengikat.

Di sisi lain, Citigroup mengatakan base case-nya Brent akan mencapai rata-rata US$17 per barel atau lebih rendah pada kuartal kedua, dengan rata-rata US$5 dalam skenario bear case dan potensi untuk harga fisik negatif di beberapa area karena kurangnya penyimpanan dan logistik.

Sementara itu, Energy Aspects mengatakan Brent berisiko menguji level US$10 per barel pada bulan April, meskipun harga kemungkinan akan tetap berada di kisaran US$20 untuk tahun 2020.

Analis Mizuho Securities USA LLC Paul Sankey juga menandai risiko penetapan harga negatif kecuali produksi minyak shale menurun lebih cepat dari persediaan meskipun ini diragukannya.

COVID-19 Masih Menyebar, Wall Street Dibuka Terkoreksi 1%

 Bursa saham Amerika Serikat (AS) langsung masuk ke jalur merah pada pembukaan perdagangan Kamis (19/3/2020), menyusul makin menyebarnya wabah COVID-19 ke berbagai penjuru dunia.

Rilis angka pengangguran AS juga ikut menekan hasrat investasi para pemodal karena data pemerintah AS menunjukkan bahwa 281.000 orang mengajukan klaim untuk mendapatkan jaminan pengangguran, atau lebih buruk dari estimasi Dow Jones sebanyak 220.000 orang.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 180,8 poin (-0,92%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB), dan kian memburuk menjadi 461,5 poin (-2,3%) selang 25 menit kemudian ke 19.445,71. Indeks Nasdaq turun 35,9 poin (-0,51%) ke 6.956,36 dan S&P 500 tertekan 46,6 poin (-1,9%) ke 2.355,36.

“Pasar jelas dalam kondisi panik dan terpaksa kena aksi jual – tetapi risiko penguatan masih ada dan ini seharusnya menjadi lebih jelas setelah problem solvensi teratasi,” tutur Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International.

Investor menyaksikan ayunan hingga 4% baik ke atas maupun ke bawah di Wall Street 8 pekan terakhir. Setelah menguat sebesar 6% pada Selasa, indeks Dow Jones anjlok 1.338,46 poin, atau 6,3% kemarin, menembus level psikologis 20.000 yang terakhir dicetak pada Februari 2017.

Volatilitas juga terjadi pada pasar obligasi pemerintah AS yang imbal hasilnya (yield) kemarin turun 22 basis poin (bps) setelah sehari sebelumnya menguat 30 bps. Yield yang turun menandakan harganya di pasar sekunder meningkat karena diburu investor.

Namun, dolar AS menguat dengan indeks dolar lompat ke level tertingginya sejak Januari 2017 pada Kamis. Terakhir berada di level 101,83 atau menguat 0,7%. Kenaikan terjadi karena investor khawatir dengan prospek ekonomi global sehingga memburu aset safe haven.

“Ada aksi buru dolar AS di sistem keuangan, secara global… Apakah di Asia, Brazil, emerging markets, Eropa atau di AS, dolar sedang dicari sekarang ini,” tutur Gregory Faranello, Kepala Divisi Trading AmeriVet Securities, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pada Rabu, European Central Bank (ECB) mengumumkan “Program Pembelian Darurat Pandemik” melibatkan dana sebesar 750 miliar euro (US$ 819 miliar) untuk membantu mendongkrak perekonomian Benua Biru. Program ini akan berlangsung hingga akhir 2020.

Langkah ECB ini mengikuti inisiatif Federal Reserve, bank sentral AS, yang awal bulan ini menyuntikkan dana US$ 1 triliun ke perekonomian AS melalui pembelian aset dan memangkas bunga acuan menjadi nol persen.

Penyebaran virus corona telah memaksa bursa saham New York pada Rabu kemarin menutup sementara lantai bursa fisiknya, dan beralih sepenuhnya menggunakan transaksi elektronik. Alasannya, dua orang terbukti positif COVID-19 pekan ini.

Trump Recoki Arab Saudi-Rusia, Harga Minyak Cengkeram Rekor Penguatan

Harga minyak mentah berjuang mempertahankan momentum rekor penguatan yang mampu dibukukannya setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merecoki perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April turun 5 sen ke level US$25,17 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Jumat (20/3/2020) pukul 09.21 pagi waktu Sydney.

Pada perdagangan Kamis (19/3/2020), WTI kontrak April berhasil melonjak US$4,85 atau 24 persen, rekor kenaikan terbesarnya dalam satu hari, dan ditutup di level US$25,22 per barel.

Sejalan dengan WTI, minyak Brent kontrak Mei melonjak US$3,59 atau 14 persen dan berakhir di level US$24,87 per barel di ICE Futures Europe Exchange London pada Kamis.

Trump mengatakan ia sedang mencari “jalan tengah” untuk memecahkan kebuntuan antara dua negara adidaya minyak yakni Arab Saudi dan Rusia.

Kedua negara tersebut berjanji akan memompa lebih banyak produksi minyak setelah pertemuan koalisi OPEC+ gagal mencapai titik temu pada awal Maret.

Pemerintah AS juga mengatakan akan memulai komitmennya untuk mengisi Cadangan Minyak Strategis-nya (Strategic Petroleum Reserve) dengan membeli 30 juta barel minyak Amerika.

Sementara itu, Arab Saudi telah memerintahkan raksasa minyaknya, Saudi Aramco, untuk menjaga produksi pada rekor tertinggi 12,3 juta barel per hari selama beberapa bulan mendatang.

Namun, suatu langkah mengejutkan datang pada Kamis (19/3), ketika Saudi dan Irak memangkas potongan harga pada biaya pengiriman yang mereka berikan kepada pelanggan, sehingga secara efektif mengangkat harga.

“Perang harga ini adalah ‘lose-lose strategy’ untuk Saudi dan Rusia,” tutur analis di MUFG Bank Ltd. dalam sebuah catatan. Prospek fiskal dan pendapatan kedua negara akan menantang jika harga minyak bertahan di bawah level US$40 per barel untuk periode berkepanjangan.

“Strategi tersebut tidak pernah berakhir dengan baik, dan penurunan tajam dalam harga minyak di bawah level US$30 menandakan bahwa perang harga minyak kemungkinan akan berumur pendek, dalam pandangan kami,” paparnya, seperti dilansir Bloomberg.

Kendati mampu melonjak pada Kamis, pasar minyak masih di jalur untuk penurunan mingguan keempat dan telah merosot hampir 60 persen sepanjang tahun ini di tengah guncangan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat wabah virus corona (Covid-19).

Saham Teknologi Dongkrak Wall Street, Nasdaq Melonjak 2 Persen Lebih

Bursa saham AS berhasil bangkit ke zona hijau pada akhir perdagangan Kamis (19/3/2020), di tengah serangkaian langkah ekonomi dan finansial dari para pembuat kebijakan global guna meredakan gejolak pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup naik 0,47 persen ke level 2.409,39, Dow Jones Industrial Average menanjak 0,95 persen menjadi 20.087,19, bahkan Nasdaq berakhir melonjak 2,30 persen ke level 7.150,58.

Nasdaq memimpin rebound di antara ketiga indeks saham utama AS tersebut menyusul aksi bargain hunting terhadap sejumlah saham teknologi. Saham Tesla Inc., Twitter Inc., dan Netflix Inc. pun naik sedikitnya 5 persen masing-masing.

Sementara itu, Dow Jones kembali merengkuh level psikologis 20.000 dan harga minyak mentah melonjak ketika produsen-produsen Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan dan Presiden Donald Trump mengatakan ia akan ambil bagian dalam kebuntuan harga minyak ini pada ‘saat yang tepat’.

Saham-saham di penjuru Eropa turut menanjak. Adapun obligasi-obligasi internasional (sovereign bond) di Italia, Spanyol, dan Portugal naik setelah bank sentral di kawasan ini meningkatkan upaya untuk menstabilkan ekonomi dan pasar modal.

European Central Bank (ECB) meluncurkan program pembelian obligasi darurat senilai 750 miliar euro atau US$820 miliar sebagai bagian dari upaya menenangkan pasar dan melindungi ekonomi kawasan euro yang berjuang mengatasi dampak virus corona.

Di Inggris, Bank of England (BOE) pada Kamis (19/3/2020) memangkas suku bunganya dengan besaran 15 basis poin menjadi 0,1 persen dan meningkatkan program pembelian obligasi.

“Investor sedang mencermati tsunami fiskal yang akan datang dan implikasi bank-bank sentral melakukan segala upaya,” ujar Ed Campbell, manajer portofolio dan direktur pelaksana di QMA.

“Kita melihat beberapa stabilisasi hari ini,” tambahnya, seperti dikutip Bloomberg.

Investor untuk sejenak rehat dari gelombang aksi jual akhir-akhir ini untuk mengevaluasi langkah-langkah kebijakan terkini yang diambil untuk melawan dampak ekonomi dari pandemi corona.

Trump berusaha meyakinkan kubu Republik yang skeptis bahwa ia bertujuan untuk membantu para pekerja melalui krisis, tidak hanya perusahaan, sebuah prioritas yang membuat segalanya lebih mendesak setelah data menunjukkan klaim pengangguran AS lebih tinggi dari perkiraan.

Namun, di atas segalanya adalah pertanyaan tentang berapa lama penurunan ekonomi akan berlangsung ketika kasus-kasus virus corona terus meningkat di AS dan Eropa. Sementara itu, jumlah korban jiwa di Italia telah melampaui jumlah di China, tempat wabah ini bermula.

“Ada banyak kepanikan, tetapi ada pula pembeli di Wall Street yang mencari peluang,” tutur Jim Paulsen, kepala strategi investasi untuk Leuthold Group. “Masalahnya adalah kita tidak tahu di mana ini akan berada dalam dua bulan.”

Berbanding terbalik dengan Wall Street, indeks MSCI Asia Pacific anjlok 3,1 persen dan indeks MSCI Emerging Market turun tajam 2,4 persen.

Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index melanjutkan relinya dan naik 1,3 persen dan nilai tukar yen Jepang, yang kerap diburu kala pasar dilanda kekhawatiran, melemah 2,4 persen ke level 110,78 per dolar AS.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu