Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 24  Maret  2020 )

Jadi Negara Paling Terpukul Corona, Italia Dorong Emisi Joint Bond Uni Eropa

Italia, bersama dengan Prancis dan Spanyol tengah mendorong rencana penerbitan obligasi bersama (joint bond) kepada Uni Eropa sebagai stimulus ekonomi ditengah penyebaran virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, rencana ini merupakan upaya pemerintah Italia untuk menekan kontraksi ekonomi yang terjadi akibat virus corona. Sejauh ini, Italia merupakan negara yang paling terdampak secara ekonomi dan dari sisi korban jiwa dengan kegiatan industri yang telah berhenti sejak 7 Maret 2020 lalu serta angka kematian yang telah menembus 5.000 nyawa.

Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte telah mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai 25 miliar Euro untuk menyelamatkan perekonomian Italia. Nilai tersebut diperkirakan belum mencukupi kebutuhan Italia sendiri.

Meski demikian, salah satu negara anggota Uni Eropa, Jerman masih enggan untuk melakukan penerbitan ini. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, pihaknya bersedia membahas rencana ini. Kendati demikian, pihaknya belum tentu akan mendukung program tersebut.

Merkel menuturkan, ia akan meminta Menteri Keuangan jerman Olaf Scholz untuk ikut membahas rencana ini dengan seluruh negara anggota Uni Eropa. Hingga saat ini, para pejabat terkait di Uni Eropa tengah merancang mekanisme yang dapat bekerja dengan efektif meskipun dibayangi keengganan Jerman meloloskan rencana ini.

Sejumlah pejabat di lingkungan pemerintahan Jerman menyarankan Italia dibantu melalui lembaga European Stability Mechanism (ESM) dengan pemberian kredit dengan persyaratan yang ringan. Menurut mereka, bantuan melalui ESM telah termasuk dalam bentuk joint bond karena dapat menyerap utang mengatasnamakan Uni Eropa.

Pemerintah Jerman beranggapan Italia memiliki masalah ekonomi struktural eksisting yang sudah ada sebelum terjadinya wabah ini. Penerbitan surat utang ini dikhawatirkan akan menimbulkan masalah ekonomi tambahan setelah penyebaran virus ini usai.

Berdasarkan data dari Bloomberg, tingkat imbal hasil (yield) obligasi Italia dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan sebanyak 7 basis poin ke posisi terendah pada hari ini di angka 1,56 persen sebelum mengalami sedikit kenaikan.

Beberapa waktu sebelumnya, para pejabat di lingkungan Bank Sentral Eropa juga menerima usulan kebijakan fiskal seperti penggunaan ESM ataupun penerbitan obligasi. Mereka juga menekankan, pihak Bank Sentral tidak dapat mengatasi masalah ini sendirian.

Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Para pedagang minyak ramai berspekulasi soal arah pergerakan harga minyak di tengah gejolak pasar yang berlangsung. Sebagian memperkirakan yang terburuk belum terjadi.

Meski telah merosot sekitar 60 persen sepanjang tahun ini ke level terendah sejak 2003, harga minyak kemungkinan akan turun lebih jauh menjadi US$20 per barel atau di bawahnya, menurut survei Bloomberg terhadap pedagang dari sejumlah perusahaan dan merchant ternama di dunia.

Sederet analis mulai dari Goldman Sachs Group Inc. hingga Citigroup Inc. juga memperkirakan harga akan memperpanjang koreksinya dalam beberapa bulan mendatang.

Beberapa bahkan berspekulasi harga regional tertentu bisa menjadi negatif ketika pasar mencoba mengirim sinyal untuk menghentikan pasokan.

Minyak telah terpukul oleh perang simultan melawan wabah penyakit virus corona (Covid-19), yang menghantam pertumbuhan permintaan global, dan membanjirnya pasokan ketika Arab Saudi dan Rusia melancarkan ‘perang’ untuk merebut pangsa pasar.

Turunnya harga minyak secara tiba-tiba dan curam membantu memicu aksi jual yang meluas di seluruh pasar, juga mengancam ekonomi di seluruh Amerika Latin dan Timur Tengah, serta Amerika Serikat, di mana industri energi berkontribusi besar.

Menentukan titik terbawah (bottom) di pasar minyak mentah dapat menjadi hal yang membingungkan ketika harga menyentuh level terendah baru setiap harinya.

Harga minyak Brent turun 13 persen pada perdagangan Rabu (18/3/2020) menjadi US$24,88 per barel, terendah sejak Mei 2003.

Sebanyak 18 dari 20 pedagang minyak dan produk yang disurvei Bloomberg memperkirakan Brent akan turun ke level US$20 per barel atau lebih rendah, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) terlihat turun sekitar US$3 atau US$5 di bawah level tersebut.

Menurut para pedagang, penurunan harga diperkirakan dapat berlangsung selama hitungan pekan hingga menuju akhir tahun.

“Level US$20 mudah ditembus pada pertengahan April,” ujar R. Ramachandran, seorang direktur di India Bharat Petroleum Corp., seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (20/3/2020).

Beberapa pedagang menunjukkan harga jatuh cukup dalam sehingga pelaku pasar fisik mulai membeli minyak untuk menyimpannya. Ini adalah praktik umum yang dikenal sebagai contango trade, yang mengarah pada tawaran alami di pasar. Namun, upaya ini hanya akan berfungsi sampai tangki penyimpanan terisi.

Yang lain melihat harga terus akan mengalami aksi jual hingga produsen tidak lagi dapat memompa keuntungan, serta memaksa mereka untuk menutup produksi dan mengambil pasokan off-line.

Beberapa pedagang mengatakan mereka mengincar biaya untuk memproduksi minyak shale AS sebagai level support di titik bawah (bottom).

“WTI akan jatuh di bawah biaya tunai produksi minyak shale AS, yaitu sekitar US$20,” tutur Zhang Chenfeng, seorang analis perdagangan minyak di Shanghai Youlin Investment Management Co.

Dalam sebuah catatan pekan ini, analis Goldman Sachs mengatakan Goldman telah menurunkan proyeksi Brent untuk kuartal kedua menjadi US$20 per barel dari US$30.

Bank tersebut menambahkan bahwa penurunan atas biaya tunai akan konsisten dengan pasar bearish berskala besar sebelumnya pada tahun 1999, 2009 dan 2016, ketika total kapasitas penyimpanan tidak pernah tercapai tetapi kejenuhan logistik lokal terbukti mengikat.

Di sisi lain, Citigroup mengatakan base case-nya Brent akan mencapai rata-rata US$17 per barel atau lebih rendah pada kuartal kedua, dengan rata-rata US$5 dalam skenario bear case dan potensi untuk harga fisik negatif di beberapa area karena kurangnya penyimpanan dan logistik.

Sementara itu, Energy Aspects mengatakan Brent berisiko menguji level US$10 per barel pada bulan April, meskipun harga kemungkinan akan tetap berada di kisaran US$20 untuk tahun 2020.

Analis Mizuho Securities USA LLC Paul Sankey juga menandai risiko penetapan harga negatif kecuali produksi minyak shale menurun lebih cepat dari persediaan meskipun ini diragukannya.

The Fed Buat Kejutan, Harga Emas Tambah Naik

Harga emas terus naik setelah bank sentral Federal Reserve Amerika Serikat mengambil langkah-langkah kejutan di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot menanjak 0,9 persen ke level US$1.567,42 per troy ounce pada perdagangan pagi ini, Selasa (24/3/2020) pukul 7.58 pagi waktu Singapura.

Emas melanjutkan penguatannya setelah melonjak 3,6 persen pada perdagangan Senin (23/3/2020). Sebaliknya, Bloomberg Dollar Spot Index tergelincir dari rekor yang dibukukannya pada Senin.

Pada Senin (23/3), bank sentral Federal Reserve Amerika Serikat mengumumkan gelombang inisiatif kedua bernilai besar-besaran untuk mendukung perekonomian AS.

Inisiatif yang dimaksud mencakup pembelian obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program-program guna memastikan aliran kredit ke perusahaan-perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal.

The Fed menyebutkan akan membeli obligasi Treasury dan surat berharga berbasis mortgage yang dikeluarkan badan pemerintah (agency mortgage-backed securities/MBS).

Baik obligasi Treasury dan agency MBS akan dibeli dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas.

“Secara umum, stimulus itu membantu sentimen, bahkan meskipun tidak membantu permintaan,” ujar Ryan Mckay, ahli strategi komoditas di TD Securities, dikutip dari Bloomberg.

Harga emas kembali bangkit setelah menurun selama dua pekan terakhir ketika investor lebih condong memburu dolar AS dan menjual logam mulia ini demi mengumpulkan uang tunai (cash) di tengah aksi jual tajam pada pasar saham.

Sementara itu, semakin banyak negara yang memberlakukan lockdown sebagai upaya untuk menahan pandemi ini. Pandemi corona sudah memberi dampak buruk pada ekonomi, sehingga mendorong pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia untuk menerapkan lebih banyak langkah-langkah stimulus.

Investor kini tengah menantikan para anggota Kongres AS untuk memberikan paket stimulus fiskal, yang sejauh ini belum juga disepakati.

Harga logam mulia lainnya seperti perak, paladium, dan platinum pun naik lebih dari 3 persen masing-masing di tengah sentimen positif untuk logam mulia.

 

Sentimen Kebijakan The Fed, Pasar Saham Asia Menguat

Pasar saham di Asia dan komoditas di Amerika Serikat mengalami penguatan pada hari Selasa (24/3/2020) setelah pasar saham global mencapai titik terendahnya sejak 2016 lalu.

Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (24/3/2020), kenaikan sekitar 2 persen terjadi pada pasar di Tokyo, Seoul, dan Sydney dengan rincian indeks Jepang Topix index naik 2,4 persen, indeks Australia S&P/ASX 200 Index terkerek 2,2 persen, serta indeks Kospi Korea sebesar 2 persen.

Sementara itu, nilai mata uang yen juga naik 0.3 persen ke 110.92 per dollar AS. Hal ini juga diikuti dengan penguatan nilai mata uang Euro sebesar 0,4 persen ke $1.0764.

Adapun, pada pasar komoditas AS, harga minyak West Texas Intermediate crude naik 3 persen ke level $24.05 per barrel. Nilai Gold juga menguat 0.6 persen ke $1,562.80 per ons.

Kenaikan ini terjadi seiring dengan kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) yang menawarkan pembiayaan langsung kepada perusahaan yang terdampak wabah virus corona.

Pada kebijakan tersebut, The Fed akan membeli obligasi dalam jumlah yang tidak terbatas untuk menekan biaya pinjaman dan meningkatkan aliran kredit ke perusahaan dan pemerintahan daerah di AS.

Langkah ini membuat biaya untuk mengasuransikan gagal bayar perusahaan mengalami penurunan dan nilai obligasi Exchanged Traded Fund (ETF) yang dapat dibeli oleh The Fed melonjak.

Global Head of Macro di Fidelity International Anna Stupnytska mengatakan, untuk dapat berjalan dengan efektif, upaya yang dilakukan oleh The Fed tidak dapat berjalan sendiri.

“Upaya ini harus didukung dari kebijakan fiskal yang dapat menolong perekonomian AS ditengah tren penurunan ini dan juga nantinya memulihkannya,” katanya dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2020).

Sementara itu, di Eropa, investor masih terus mencermati kebijakan fiskal dan dukungan dari bank sentral seiring dengan pemangkasan target pertumbuhan ekonomi dan penyebaran virus corona yang kian sulit dibendung. Pemerintah Jerman disebutkan siap mendukung Italia melewati krisis akibat pandemi ini melalui pemberian dana pinjaman darurat.

 

 

Wall Street Turun Tajam Meski The Fed Gulirkan Kebijakan Agresif

Saham-saham di Wall Street turun tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), sekalipun Federal Reserve telah meluncurkan langkah-langkah baru yang luas dan lebih agresif untuk mendukung ekonomi yang terpukul akibat meluasnya wabah Covid-19.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 582,05 poin atau 3,04 persen, menjadi ditutup pada 18.591,93. Indeks S&P 500 jatuh 67,52 poin atau 2,93 persen, menjadi berakhir di 2.237,40. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 18,84 poin atau 0,27 persen, menjadi 6.860,67.

Saham United Technologies anjlok 9,18 persen, memimpin penurunan di Dow. Indeks sempat diperdagangkan sekitar 960 poin lebih rendah pada satu titik selama sesi. Saham Boeing melonjak lebih dari 11 persen, menjadi saham dengan kinerja terbaik dalam indeks 30-saham.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor energi terpuruk 6,65 persen, merupakan sektor berkinerja terburuk. Consumer discretionary menguat 0,35 persen, satu-satunya yang berhasil membukukan kenaikan di antara sektor-sektor lainnya.

Federal Reserve AS pada hari sebelumnya mengumumkan bahwa mereka akan membeli surat utang pemerintah AS dan sekuritas yang didukung hipotek tanpa batas untuk membantu pasar berfungsi lebih efisien di tengah ketidakpastian akibat virus corona.

“Pandemi virus corona menyebabkan kesulitan besar di seluruh Amerika Serikat dan di seluruh dunia,” kata The Fed dalam sebuah pernyataan Senin pagi (23/3/2020).

“Sementara ketidakpastian besar tetap ada, menjadi jelas bahwa ekonomi kita akan menghadapi gangguan parah. Upaya agresif harus dilakukan lintas sektor publik dan swasta untuk membatasi kerugian pada pekerjaan dan pendapatan dan untuk mempromosikan pemulihan cepat setelah gangguan mereda,” kata bank sentral AS.

Awal bulan ini, The Fed melakukan pemotongan suku bunga darurat kedua yang belum pernah terjadi sebelumnya hanya selama periode dua minggu, membawa suku bunga acuan mendekati nol.

Bank sentral juga meluncurkan program pelonggaran kuantitatif besar-besaran, berjanji untuk meningkatkan kepemilikan obligasi setidaknya US$700 miliar sebagai cara untuk mempertahankan suku bunga jangka panjang lebih rendah dan menyediakan likuiditas ke pasar modal.

Wall Street menyelesaikan pekan lalu dengan kerugian besar karena investor bergulat dengan kekhawatiran atas potensi kerusakan ekonomi akibat pandemi virua corona.

Untuk pekan yang berakhir 20 Maret, indeks Dow jatuh 7,3 persen, indeks S&P 500 terpuruk 14,98 persen dan indeks Nasdaq kehilangan 12,64 persen. Indeks-indeks utama memiliki kinerja mingguan terburuk sejak krisis keuangan global pada 2008.

 

Negosiasi Stimulus Kongres AS Mandek, Wall Street Memerah

Bursa saham Amerika Serikat berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (23/3/2020), terbebani minimnya progres soal paket pengeluaran yang dirundingkan oleh Kongres AS untuk mengurangi dampak ekonomi pandemi virus corona (Covid-19).

Di sisi lain, ukuran risiko kredit perusahaan berkurang setelah bank sentral Federal Reserve AS mengumumkan gelombang besar inisiatif kedua untuk mendukung perekonomian Amerika.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup anjlok 2,93 persen ke level 2.237,40, Dow Jones Industrial Average tersungkur 3,04 persen menjadi 18.591,93, dan Nasdaq Composite berakhir terkoreksi 0,27 persen ke level 6.860,67.

Pergerakan ketiga indeks saham utama di bursa Wall Street AS tersebut ditutup di posisi lebih rendah, walaupun mampu mengikis sebagian pelemahan sebelumnya, setelah para pembuat kebijakan kembali tak mencapai kesepakatan terkait tujuan rencana paket stimulus.

Meski demikian, saham-saham teknologi mampu unggul sehingga membantu Nasdaq terkoreksi tipis ketika negosiasi mengenai RUU stimulus itu berlanjut di Capitol Hill.

Sementara itu, pada Senin (23/3), bank sentral Federal Reserve Amerika Serikat mengumumkan gelombang inisiatif kedua bernilai besar-besaran untuk mendukung perekonomian AS.

Inisiatif yang dimaksud mencakup pembelian obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program-program guna memastikan aliran kredit ke perusahaan-perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal.

The Fed menyebutkan akan membeli obligasi Treasury dan surat berharga berbasis mortgage yang dikeluarkan badan pemerintah (agency mortgage-backed securities/MBS).

Baik obligasi Treasury dan agency MBS akan dibeli dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas.

“The Fed telah benar-benar bersatu untuk melakukan sebanyak mungkin guna memperluas jangkauannya, tetapi saya pikir pada akhirnya, pasar menyadari bahwa hal ini memerlukan respons fiskal,” ujar Nela Richardson, ahli strategi investasi di Edward Jones.

“Setiap kali The Fed mengambil langkah maju yang kuat, ada semacam reaksi, ‘Oh tidak, ini lebih buruk daripada yang diperkirakan siapa pun’ di pasar,” tambahnya, seperti dilansir Bloomberg.

Pasar telah terbebani perbedaan antara kubu Demokrat dan Republik di Kongres terkait tujuan rencana paket pengeluaran yang di antaranya mencakup anggaran sebesar US$500 miliar untuk membantu perusahaan termasuk maskapai penerbangan dan pemerintah daerah.

Di sisi lain, Ekonom Morgan Stanley memperingatkan epidemi corona dapat menyebabkan PDB AS menyusut hingga 30 persen pada kuartal II/2020. Pandemi virus corona dikatakan akan menimbulkan resesi yang lebih dalam bagi ekonomi AS daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank St. Louis James Bullard mengatakan tingkat pengangguran AS kemungkinan akan mencapai 30 persen pada kuartal II/2020 akibat penutupan bisnis di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona.

“Fiskal jauh lebih penting ketimbang langkah The Fed dalam menstabilkan aset-aset berisiko,” tutur Dennis DeBusschere dari Evercore ISI.

Sejalan dengan Wall Street, indeks MSCI Asia Pacific anjlok 3,4 persen dan indeks Stoxx Europe 600 terjungkal 4,3 persen.

 

 

Kekhawatiran Menjalar, Bursa Eropa Anjlok 4 Persen Lebih

Bursa Eropa terbenam di zona merah dan anjlok lebih dari 4 persen pada akhir perdagangan Senin (23/3/2020), seiring dengan meningkatnya kekhawatiran soal dampak ekonomi pandemi virus corona (Covid-19).

Pergerakan indeks Stoxx Europe 600, yang mewakili saham perusahaan-perusahaan di 17 negara kawasan Eropa, ditutup anjlok 4,30 persen ke level 280,43.

Investor kembali memulai pekan yang dramatis dengan mencermati terpangkasnya proyeksi-proyeksi ekonomi dan kabar mengenai berbagai upaya untuk membendung penyebaran corona di kawasan Eropa.

Banyaknya jiwa yang bertumbangan akibat virus corona memaksa Italia menutup hampir seluruh produksi industri selama 15 hari. Selain Italia, jumlah korban jiwa akibat virus mematikan ini juga melonjak di Spanyol.

Sementara itu, berbagai macam peringatan tumbuh bahwa resesi global akan datang ketika banyak kota besar mulai dari New York hingga Los Angeles ditutup dan jumlah kasus meningkat dengan cepat di luar Asia.

“Pasar tetap fokus pada aliran berita seputar virus itu, terutama di Italia dan negara-negara lain yang telah terdampak wabah serta pada tekanan yang tumbuh di pasar keuangan,” tutur Christian Mueller-Glissmann, direktur pelaksana strategi portofolio di Goldman Sachs, London.

Di sisi lain, maskapai-maskapai penerbangan internasional terus mengumumkan langkah-langkah drastis untuk mengatasi wabah ini. Emirates dan Singapore Airlines Ltd. berada di antara maskapai yang mengurangi penerbangan.

Bahkan langkah bank sentral Federal Reserve Amerika Serikat mengumumkan gelombang inisiatif kedua bernilai besar-besaran untuk mendukung perekonomian AS tak mampu mendongkrak Stoxx.

Inisiatif yang dimaksud mencakup pembelian obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program-program guna memastikan aliran kredit ke perusahaan-perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal.

Melalui sebuah pernyataan pada Senin (23/3/2020), The Fed menyebutkan akan membeli obligasi Treasury dan surat berharga berbasis mortgage yang dikeluarkan badan pemerintah (agency mortgage-backed securities/MBS).

Baik obligasi Treasury dan agency MBS akan dibeli dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas.

Namun pasar telah terbebani perbedaan antara kubu Demokrat dan Republik di Kongres terkait tujuan rencana paket pengeluaran yang di antaranya mencakup anggaran sebesar US$500 miliar untuk membantu perusahaan termasuk maskapai penerbangan dan pemerintah daerah.

Di sisi lain, Ekonom Morgan Stanley memperingatkan epidemi corona dapat menyebabkan PDB AS menyusut hingga 30 persen pada kuartal II/2020. Pandemi virus corona dikatakan akan menimbulkan resesi yang lebih dalam bagi ekonomi AS daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank St. Louis James Bullard mengatakan tingkat pengangguran AS kemungkinan akan mencapai 30 persen pada kuartal II/2020 akibat penutupan bisnis di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona.

“Saya saat ini sedang di New York, dan rasa takutnya jelas – ini meningkat dan tampaknya tidak ada orang yang berpikir bahwa efek virus tersebut mendekati puncaknya, terutama di Amerika Serikat,” ungkap Brian Quartarolo, manajer portofolio di Pilgrim Partners Asia, seperti dilansir Bloomberg.

Di antara indeks saham penekan Stoxx adalah indeks CAC 40 Prancis (-3,32 persen), indeks FTSE 100 Inggris (-3,79 persen), dan indeks DAX Jerman (-2,10 persen).

Sementara itu, saham Virgin Money UK PLC. mencatat koreksi terbesar pada indeks Stoxx (-22,25 persen), disusul saham Micro Focus International PLC. (-22 persen) dan Cineworld Group PLC. (-21,71 persen).

Namun di tengah anjloknya indeks, sejumlah saham mampu menguat, di antaranya saham bioMerieux SA dan Kingfisher PLC. yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar lebih dari 13 persen masing-masing.

 

 

Pasar Respons Kebuntuan Kongres AS, Bursa AS Melemah pada Awal Perdagangan

Bursa saham Amerika Serikat melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (23/3/2020), ketika investor menantikan perkembangan seputar paket pengeluaran dari Kongres AS yang bertujuan untuk mengatasi dampak ekonomi dari virus Corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 anjlok 2,9 persen pada pukul 9.47 pagi waktu New York. Pada saat yang sama, indeks Stoxx Europe 600 melorot 1,8 persen dan indeks MSCI Asia Pacific turun tajam 2,9 persen.

Sementara itu, dolar AS terkoreksi setelah bank sentral Federal Reserve AS mengumumkan gelombang inisiatif kedua bernilai besar-besaran untuk mendukung perekonomian Negeri Paman Sam.

Indeks S&P 500 melemah meskipun pengumuman oleh The Fed tersebut membantu indeks futures menghapus sebagian koreksinya yang mencapai 5 persen ketika Kongres AS gagal mencapai kesepakatan tentang RUU stimulus.

Hingga saat ini, pasar masih menantikan Partai Republik untuk terus menegosiasikan kesepakatan itu setelah kubu Demokrat di dalam kongres memblokir upaya pertama yang dilancarkan pihak Republik.

“Pasar saham bereaksi terhadap kabar kebuntuan antara Demokrat dan Republik soal bagaimana menargetkan pendanaan. Kebuntuan tidak baik untuk siapa pun,” ujar Nela Richardson, ahli strategi investasi di Edward Jones.

Di sisi lain, The Fed mengatakan akan membeli obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program-program untuk memastikan aliran kredit ke perusahaan-perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal.

“Pengumuman hari ini akan sangat membantu meyakinkan investor bahwa The Fed mendukung mereka dan akan menghentikan krisis kredit yang terus meningkat,” tutur Chris Rupkey, kepala ekonom keuangan untuk MUFG Union Bank.

“Spread imbal hasil akan menyempit dan pasar saham akan lebih tenang karena kini The Fed memberikan semua yang dimilikinya,” tambah Rupkey.

Sebelum pengumuman oleh The Fed, pasar telah terbebani perbedaan antara kubu Demokrat dan Republik yang belum menemui kata sepakat pada sejumlah opsi, yang mencakup anggaran sebesar US$500 miliar untuk membantu perusahaan termasuk maskapai penerbangan dan pemerintah daerah.

Di sisi lain, Ekonom Morgan Stanley memperingatkan epidemi corona dapat menyebabkan PDB AS menyusut hingga 30 persen pada kuartal II/2020. Pandemi virus corona dikatakan akan menimbulkan resesi yang lebih dalam bagi ekonomi AS daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank St. Louis James Bullard mengatakan tingkat pengangguran AS kemungkinan akan mencapai 30 persen pada kuartal II/2020 akibat penutupan bisnis di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu