Harga Minyak Ambrol Pekan Ini, Terendah Sejak Awal 2000-an

Harga Minyak Ambrol Pekan Ini, Terendah Sejak Awal 2000-an

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 23  Maret  2020 )

Trump Bersikap Aneh, Petinggi Iran Curiga AS yang Ciptakan Corona

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei baru saja mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan tentang wabah virus corona atau Covid-19, Minggu (22/3/2020).

Khamenei mencurigai ada keterkaitan Amerika Serikat dengan serangan virus corona yang kini telah menyebar ke 160 negara dunia dan telah menjangkiti 300 ribu lebih penduduk bumi.

Kecurigaan Khamenei itu didasari keanehan yang muncul pada diri Amerika. Yang pertama terkait janji-janji pemerintah Donald Trump itu untuk membantu Iran mengatasi serangan corona.

Menurut Khamenei, janji itu baginya sangat aneh, sebab Amerika sendiri saat ini sedang dalam kondisi buruk, terbukti Amerika menjadi negara ke-6 dalam jumlah penderita corona terbanyak di dunia.

Khamenei menuturkan, jika memang Amerika memiliki stok obat-obatan, kenapa tidak digunakan untuk menyembuhkan warga mereka sendiri dan sampai harus menjanjikan mengirimkan obat-obatan itu ke Iran.

“Pemerintah AS telah menyatakan beberapa kali bahwa mereka siap membantu Iran dengan obat-obatan untuk melawan Corona Outbreak. Itu aneh. Pertama, berdasarkan kata-kata pejabat Anda sendiri, Anda menghadapi kekurangan di AS. Jadi, gunakan apa yang Anda miliki untuk pasien Anda sendiri,” tulis Khamenei melalui pernyataan resminya.

Selanjutnya, kecurigaan Khamenei terhadap Amerika semakin menguat menyusul banyak pihak menuduh corona diciptakan Negeri Paman Sam itu.

“Anda (AS) dituduh telah membuat virus corona. Saya tidak tahu seberapa benar itu. Tetapi ketika ada tuduhan seperti itu, bisakah orang bijak memercayai Anda? Anda bisa memberikan obat yang menyebarkan virus atau menyebabkannya tetap ada. Pengalaman menunjukkan Anda tidak bisa dipercaya dan Anda melakukan hal-hal seperti itu,” tulisnya.

Sebelumnya Khamenei juga telah mngeluarkan pernyataan soal corona. Dia meyakini virus yang telah membunuh lebih dari 19 ribu orang di dunia itu merupakan senjata biologis. Bahkan dia memerintahkan militer Iran untuk bersiaga guna melawan serangan virus itu demi mempertahankan kedaulatan Iran.

Sebenarnya kecurigaan corona dibuat Amerika sudah lama tersiar, apalagi setelah mantan perwira intelijen militer dari Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA, Philip Giraldi telah mengemukan hasil penelusurannya bahwa corona diciptakan hasil konspirasi Amerika Serikat dan Israel.

WHO Sebut Lockdown Gak Menjamin Sikat Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut negara- negara tidak bisa dengan mudah mengunci warganya atau lockdown untuk mengalahkan virus corona, ujar ahli kedaruratan WHO dan menambahkan bahwa langkah-langkah kesehatan masyarakat diperlukan guna menghindari kebangkitan virus di kemudian hari.

“Yang benar-benar perlu kita fokuskan adalah menemukan mereka yang sakit, mereka yang terinfeksi virus, dan mengisolasi mereka, menemukan kontak mereka dan mengisolasi mereka,” kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan KesehatanWHO Mike Ryan dalam sebuah wawancara di BBC Andrew Marr Show.

“Bahaya saat ini dengan karantina wilayah … jika kita tidak menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kuat sekarang, ketika batasan pergerakan dan karantina itu dicabut, bahayanya penyakit ini akan muncul kembali,” ia menambahkan.

Sebagian besar negara di Eropa dan Amerika Serikat mengikuti pola China yang memberlakukan pembatasan drastis untuk memerangi virus corona baru, dengan sebagian besar pekerja diperintahkan bekerja dari rumah dan sekolah, bar, pub, dan restoran ditutup.

Ryan mengatakan bahwa contoh-contoh dari China, Singapura, dan Korea Selatan, yang ditambah pembatasan dengan langkah-langkah keras untuk menguji setiap orang yang mungkin terinfeksi, memberikan model untuk Eropa, yang WHO katakan telah menggantikan Asia sebagai pusat pandemi.

Italia sekarang menjadi negara yang paling parah terdampak virus di dunia, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memperingatkan bahwa sistem kesehatan Inggris bisa kewalahan kecuali orang menghindari interaksi sosial.

Jakarta Kalahkan California, terkait Jumlah Pasien Meninggal karena Covid-19

Ibu kota Jakarta menjadi wilayah terparah serangan virus corona atau Covid-19, dari data terbaru tim penanganan bencana nasional tercatat DKI sebagai provinsi dengan jumlah korban terbanyak di Indonesia.

Menurut data terbaru yang disiarkan secara resmi Minggu (22/3/2020), tercatat dari total 514 orang yang positif terinfeksi corona, 307 orang merupakan warga Jakarta.

Tak hanya itu saja, korban meninggal dunia di wilayah yang dipimpin Anies Baswedan ini juga terbanyak se-Indonesia. Dari total 48 penduduk RI yang meninggal akibat corona, 29 jiwa adalah warga Jakarta.

Dan yang mengejutkannya, jumlah pasien meninggal di Jakarta mengalahkan jumlah korban meninggal akibat corona di kota besar dunia sekelas California.

Di kota yang berada di Amerika Serikat itu, berdasarkan data Coronavirus COVID-19 Global Cases by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University pukul 19.00 WIB jumlah korban meninggal 27 jiwa.

Wilayah kedua terparah ialah Jawa Barat, tercatat ada 59 warga provinsi ini yang positif corona lalu diikuti Banten dengan total penderita positif corona mencapai 47 orang.

Sejauh ini sudah berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk bisa meredam semakin memburuknya kondisi di Jakarta.

Seperti mengimbau seluruh kantor untuk memberlakukan sistem kerja di rumah, lalu pembatasan aktivitas di luar rumah, serta penyemprotan disinfektan di beberapa titik di Jakarta.

Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan menghindari tempat-tempat keramaian yang berpotensi besar menjadi area empuk penularan virus ini.

 

New York & California Lockdown, Trump Kesal ke China

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dirinya kesal dengan China. Hal ini terkait kurangnya informasi dan kerja sama negara itu, sejak awal corona (COVID-19) mewabah.

“Mereka seharusnya memberi tahu kami tentang ini,” kata Trump dalam konferensi pers reguler di Gedung Putih, Minggu (22/3/2020) waktu setempat, sebagaimana dikutip AFP.

“Saya sedikit kesal dengan China. Saya akan jujur dengan Anda … sebanyak saya suka dengan Presiden Xi dan sebanyak saya menghormati dan mengagumi negara.”

Sebelumnya, pusat bisnis AS akhirnya melakukan lockdown guna mencegah penularan virus corona. Yakni Kota New York dan California.

Gubernur New York Andrew Cuomo telah memerintahkan menutup seluruh wilayah New York atau lockdown mulai efektif Minggu Malam (22/3/2020) pukul 20.00. 
Gubernur California Gavin Newsom telah mengumumkan lockdown dan meminta kepada 40 juta penduduk California untuk tinggal di rumah sejak Kamis (19/3/2020).

Trump mendukung langkah lockdown yang diambil dua wilayah tersebut. Trump menegaskan tidak perlu melakukan lockdown secara nasional karena penyebaran COVID-19 di beberapa negara bagian AS tidak sebanyak di wilayah yang padat penduduknya.

Namun dalam pernyataannya yang dikutip media yang sama, Trump belum bisa memastikan kapan ekonomi AS akan dibuka kembali akan dilakukan.

Di AS, kasus corona kini bertambah menjadi 32.356. Total pasien meninggal sebanyak 414 sedangkan yang sembuh 178 orang.

AS kini menjadi negara ketiga dengan kasus terbanyak setelah China dan Italia. China mencatat 81.054 kasus dengan jumlah pasien meninggal 3.261 dan pasien sembuh 72.440.

Italia mencatat jumlah kasus 59.138. Dengan jumlah pasien meninggal 5.476 dan pasien sembuh 7.024.

Sementara itu ekonom Morgan Stanley mengatakan corona akan membawa AS ke ancaman resesi dalam. Termasuk penurunan 30,1% PDB di kuartal II-2020.

Sebelumnya di pekan lalu, lembaga ini memperkirakan konstaksi 4% dari April hingga Juni. Namun, ditulis Bloomberg, kini mereka mengantisipasi penurunan lebih dalam akibat kenaikan data pengangguran dan penurunan konsumsi.

“Aktivitas ekonomi hampir berhenti pada bulan Maret,” kata para ekonom. “Ketika langkah social distancing meningkat di sejumlah area, kondisi keuangan semakin ketat, efek negatif pada pertumbuhan PDB jadi lebih besar.”

Tangani Corona, Bank Dunia Siap Beri Rp 25 T ke 40 Negara

Bank Dunia (World Bank) siap untuk mengucurkan bantuan pendanaan senilai US$ 1,7 miliar atau sekitar RP 25 triliun (estimasi kurs RP 15.000/rupiah) kepada sekitar 40 negara, utamanya Afghanistan dan Ethiopia.

Dewan eksekutif Bank Dunia diperkirakan akan memberikan keputusan mengenai hal itu pada rapat yang akan diadakan akhir pekan ini.

Bantuan itu merupakan bagian dari paket pendanaan Fasilitas Jalur Cepat (FTF) senilai US$ 14 miliar (sekitar Rp 212,3 T), yang diumumkan bank pekan lalu. Paket tersebut dibentuk dengan tujuan untuk membantu berbagai negara meringankan dampak yang dibawa wabah virus corona (COVID-19).

“Pada hari Selasa, 17 Maret, Dewan Bank Dunia dan Korporasi Keuangan Internasional menyetujui Peningkatan Fasilitas Jalur Cepat (FTF) senilai US$ 14 miliar untuk membantu negara dan perusahaan dalam upaya mereka untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani penyebaran cepat COVID-19,” tulis David Malpass, Presiden World Bank Group di LinkedIn, Minggu (22/3/2020).

“Pada akhir minggu, tim Bank Dunia mempersiapkan proyek di 40 negara hingga US$ 1,7 miliar sebagai bagian dari FTF. Operasi di Afghanistan dan Ethiopia adalah yang paling terdepan, dan akan didiskusikan kepada Dewan kami minggu depan. Rapat keputusan untuk 14 negara lain akan berlangsung minggu depan juga, dan (dalam kesempatan yang sama) akan dibuat kerangka kerja untuk tanggapan cepat di negara lain.”

Lebih lanjut, Malpass mengatakan bahwa ia berharap pendekatan tersebut dapat ditiru dengan cepat di negara yang sama, melalui pendanaan dari bank pembangunan multilateral lainnya, atau di negara lainnya.

Ia juga mengatakan bahwa selain FTF, Bank Dunia dan Korporasi Keuangan Internasional (IFC), anak perusahaannya, juga memberikan bantuan untuk meredam dampak yang dibawa COVID-19 di puluhan negara melalui restrukturisasi proyek yang ada.

“Sejauh ini, proyek di 24 negara hingga US$ 1,5 miliar sedang dikerjakan dan menjangkau setiap wilayah tempat kami beroperasi. IFC juga aktif bekerja untuk mulai memperluas pembiayaan perdagangan dan jalur modal kerja ke klien. Keputusan Dewan reguler pada upaya ini diharapkan diambil dalam 2-4 minggu ke depan,” tulisnya dikutip Reuters.

Harga Minyak Ambrol Pekan Ini, Terendah Sejak Awal 2000-an

Harga minyak dunia ambles sepanjang pekan ini. Harga si emas hitam sudah berada di bawah US$ 30/barel.

Sepanjang minggu ini, harga minyak jenis Brent dan Light Sweet (WTI) masing-masing ambrol 21,14% dan 38,3%. Keduanya menyentuh titik terendah sejak awal dekade 2000-an.

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan kejatuhan harga minyak. Pertama adalah penyebaran virus corona yang semakin masif.

Mengutip data satelit pemetaan ArcGis pada Minggu (22/3/2020) pukul 08:13 WIB, jumlah kasus corona di seluruh dunia sudah lebih dari 300.000, tepatnya 304.544. Sementara korban jiwa sudah hampir 13.000, tepatnya 12.974.

Serangan virus corona yang begitu cepat membuat berbagai negara melakukan upaya yang tidak biasa yaitu karantina wilayah (lockdown). Warga benar-benar tidak boleh keluar rumah kecuali situasi yang amat sangat genting sekali. Akses dari dan ke kota juga ditutup total baik di darat, laut, maupun udara.

Pekan ini 26 negara anggota Uni Eropa sepakat untuk menutup perbatasan. Langkah ini diambil karena sekarang Benua Biru sudah menjadi sentra baru penyebaran virus corona.

Di Italia, misalnya, jumlah korban meninggal akibat virus corona tercatat 42.825 orang. Lebih tinggi ketimbang China yang merupakan asal dan episentrum penyebaran corona (3.260).

Selama lockdown, kantor-kantor tidak beroperasi dan pabrik-pabrik tidak berproduksi. Ini sama dengan membuat roda perekonomian bergerak lambat, atau bahkan berhenti sama sekali.

DIW Economic Institute memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal I-2020 hanya 0,1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Sedangkan pemerintah Hongaria memperkirakan ekonomi 2020 kemungkinan bisa terkontraksi (tumbuh negatif).

“Kami membuat skenario (pertumbuhan ekonomi 2020) dalam kisaran -0,3% sampai 3,7%. Selalu ada skenario terburuk agar nantinya kita tidak terlalu terkejut,” ungkap Mihaly Verga, Menteri Keuangan Hongaria, seperti diwartakan Reuters.

Stagnasi atau bahkan kontraksi pertumbuhan ekonomi berarti aktivitas produksi lesu. Aktivitas produksi lesu berarti permintaan energi lemah. Permintaan energi lemah berarti harga minyak sudah pasti turun.

Perang Harga Minyak Memperkeruh Situasi

Faktor kedua adalah masih berlangsungnya perang harga minyak antara Arab Saudi vs Rusia. Hancur sudah kesepakatan pemangkasan produksi yang semestinya baru selesai akhir Maret, yang ada malah Arab Saudi terus menggenjot produksi.

Ini bermula saat Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) dan Rusia gagal menyepakati tambahan pemangkasan produksi. Saat ini sudah ada kesepakatan untuk mengurangi produksi minyak sebanyak 2,1 juta barel/hari. OPEC, dengan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto, ingin ada tambahan pemotongan 1,5 juta barel/hari sehingga totalnya menjadi 3,6 juta barel/hari.

Rusia menolak rencana tambahan tersebut. Langkah ini sepertinya membuat OPEC (baca: Arab Saudi) ngambek, sehingga emoh memperpanjang pemangkasan produksi 2,1 juta barel/hari yang akan berakhir bulan ini.

Tidak hanya itu, Arab Saudi juga menaikkan produksi minyak plus memberi harga diskon. Sepertinya Riyadh sedang menantang para rivalnya, siapa yang paling kuat bertahan dengan harga minyak rendah. Terjadilah apa yang disebut perang harga minyak.

Seperti dikutip dari Arab News, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dikabarkan telah memberi titah kepada Saudi Aramco (perusahaan minyak terbesar di Negeri Gurun Pasir) untuk menaikkan produksi hingga ke rekor tertinggi yaitu 13 juta barel/hari. Jika ini terjadi, maka Arab Saudi akan menjadi produsen minyak terbesar di dunia mengungguli Amerika Serikat (AS).
AS, yang biasanya cenderung senang ketika harga minyak murah, sekarang mulai gerah. Reuters mengabarkan otoritas minyak dan gas di Texas (Texas Railroad Commision) meminta perusahaan-perusahaan untuk membatasi produksi. Sementara Kementerian Energi AS dan Kementerian Luar Negeri AS akan mulai melobi Arab Saudi untuk menghentikan aksinya agar harga kembali stabil.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu