Harga Emas Anjlok Tajam Dipicu Suntikan Stimulus Cina

Harga Emas Anjlok Tajam Dipicu Suntikan Stimulus Cina

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 06 Februari 2020 )

Harga Emas Anjlok Tajam Dipicu Suntikan Stimulus Cina

Ada pepatah mengatakan “ketika Cina bersin, dunia terkena flu”. Di kala krisis virus korona di republik itu telah menginfeksi pasar global, suntikan stimulus oleh bank sentralnya ke pasar uang domestik memberikan semacam rasa dingin yang berbeda bagi pasar emas Rabu (05/02) pagi.

Emas berjangka untuk penyerahan April COMEX di New York anjlok $26,90, atau sebesar 1,7%, di $1.555,50 per ons, penurunan satu hari terbesar sejak 7 November 2019. Kontrak emas April ini juga mencapai level tertinggi dua minggu di $1.552,85 pada awal sesi.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, turun $21,91, atau 1,4%, di $1,554.14 per ons pada pukul 3:40 PM ET (20:40 GMT), setelah menyentuh titik terendah dua minggu di $1,549.11.

Hingga penurunan Selasa, emas telah bertahan di kisaran $1.560 – $1.590, mencoba kembali ke tingkat tertinggi tujuh tahun di bulan Januari di atas $1.600.

“Suntikan modal besar di Cina telah meningkatkan sentimen dan minat risiko di seluruh pasar, meskipun penurunan emas ini sendiri dapat membuktikan peluang pembelian yang baik bagi investor lain pada logam kuning,” urai George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management in New York.

Kejatuhan emas ini terjadi setelah People’s Bank of China (PBOC) mengatakan akan menyuntikkan dana senilai 500 miliar yuan ($71,4 miliar) ke pasar uang untuk “menjaga likuiditas yang wajar dan memadai dalam sistem perbankan selama periode pencegahan dan pengendalian epidemi.”

Stimulus ini membantu pasar saham Cina ditutup menghijau setelah mengalami kerugian besar pada hari Senin dan diterjemahkan menjadi keuntungan di sesi Eropa dan Wall Street.

Terbaru! Wabah Virus Corona: 564 Orang Tewas, 27.649 Terinfeksi, dan 1.153 Sembuh

Wabah virus Corona baru di China tak kunjung mereda. Hingga Kamis (6/2/2020), jumlah korban meninggal akibat wabah itu sudah mencapai 564 orang setelah 70 kematian terbaru dilaporkan terjadi di Provinsi Hubei.

Jumlah kasus atau orang yang terinfeksi secara global mencapai 27.649. Sedangkan jumlah pasien yang disembuhkan secara global sebanyak 1.153 orang.

Jumlah kematian meningkat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu pesimistis dengan laporan perawatan terobosan untuk virus Corona baru, 2019-nCoV, yang mewabah di Wuhan, Provinsi Hubei, sejak akhir Desember 2019. Penyakit ini sudah menyebar ke lebih dari 25 negara.

Mengutip South China Morning Post, dengan total lebih dari 27.600 kasus yang dikonfirmasi—sebagian besar di Hubei—China terus memperluas upaya karantina, di mana Shanghai mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan semua acara olahraga publik dengan harapan mencegah penularan penyakit lebih lanjut.

Hingga saat ini, pemerintah China telah mengunci puluhan kota sebagai bagian dari tindakan karantina, dan menempatkan pembatasan perjalanan pada puluhan juta warga di beberapa provinsi.

Sidang Pemakzulan Usai, Trump Dinyatakan Tak Bersalah

Setelah hampir tiga minggu, sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump oleh Senat berakhir hari Rabu waktu Washington. Senat menyelamatkan Trump dengan memutuskan sang presiden tak bersalah atas dua pasal yang dituduhkannya.

Senat yang dikuasai Partai Republik membebaskan Trump dari dua pasal yang dituduhkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yakni pasal tentang penyalahgunaan kekuasaan dan pasal tentang menghalangi penyelidikan Kongres. Proses penyelamatan Trump oleh Senat dilakukan melalui voting, di mana 53 suara memilih membebaskan Trump dan 47 suara menentangnya.

Ketua Mahkamah Agung John Roberts membacakan pemungutan suara terakhir Senat atas kedua pasal pemakzulan dan menyatakan bahwa Presiden dibebaskan. Artinya, Donald Trump tetap berkuasa di Gedung Putih.

“Senat telah mengadili Donald John Trump, Presiden Amerika Serikat, atas dua Pasal Impeachment yang diperlihatkan kepadanya oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan dua pertiga Senator yang hadir tidak menemukan dia bersalah atas tuduhan yang terkandung di dalamnya,” kata Roberts.

“Oleh karena itu, diperintahkan dan diputuskan bahwa Donald John Trump dibebaskan dari tuduhan dalam pasal-pasal tersebut,” lanjut Roberts.

Pengacara Trump, Jay Sekulow, berpendapat bahwa keputusan apakah Trump harus dikeluarkan dari Gedung Putih harus dibuat oleh rakyat Amerika daripada oleh Kongres. “Jawabannya adalah pemilu, bukan pemakzulan,” katanya.

“Intinya adalah bahwa lawan presiden tidak menyukai presiden, dan mereka tidak menyukai kebijakannya,” kata pengacara di hadapan Senat, seperti dilansir Sputniknews, Kamis (6/2/2020).

Pada 18 Desember 2019, DPR yang dikuasai Partai Demokrat memilih untuk memakzulkan Trump dengan dua pasal; penyalahgunaan kekuasaan dan obstruksi Kongres. Voting Senat hari Rabu mengakhiri proses impeachment selama berbulan-bulan yang dimulai pada September 2019 ketika investigasi impeachment resmi diluncurkan berdasarkan skandal Trump-Ukraina.

Skandal itu berupa dugaan bahwa Trump menahan bantuan militer AS kepada Ukraina sebagai alat untuk menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy agar membuka investigasi terhadap mantan wakil Presiden AS Joe Biden dan putranya, Hunter Biden, atas dugaan korupsi dalam bisnis gas di Ukraina. Joe Biden adalah bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat, yang artinya calon pesaing Trump untuk pemilu presiden AS tahun 2020.

Profesor Kampus Top Inggris Klaim Temukan Vaksin Anti Corona

Seorang ilmuwan Inggris terkemuka  menciptakan terobosan signifikan dalam bersaing menemukan vaksin virus corona, dengan mengurangi waktu pengembangan normal dari “dua hingga tiga tahun menjadi hanya dalam 14 hari,” demikian laporan stasiun TV Sky.

Profesor Robin Shattock, kepala Infeksi Mukosa dan Kekebalan di Imperial College London, menyebutkan kini dirinya dalam tahap awal menguji vaksin pada binatang secepatnya pekan depan, dengan studi manusia pada musim panas apabila mengantongi dana yang mencukupi, kata Sky.

“Prosedur konvensional biasanya memakan waktu sedikitnya dua hingga tiga tahun sebelum anda bahkan sampai ke klinik,” kata guru besar kampus top Inggris tersebut kepada Sky. “Dan kami keluar dari urutan itu untuk menghasilkan satu kandidat di laboratorium dalam 14 hari.”

Vaksin tersebut akan terlalu terlambat untuk wabah yang cepat menyebar saat ini, namun akan menjadi penting jika ada vaksin untuk melawan virus tersebut, katanya.

Virus Corona Belum Kelar, Arab Saudi Laporkan Kasus Virus Flu Burung

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) memperingatkan bahwa Arab Saudi telah melaporkan wabah virus Flu Burung yang sangat menular. Kabar ini datang di tengah perjuangan dunia menahan penyebaran virus Corona China yang mematikan.

Wabah itu terjadi di wilayah Sudair tengah, terletak sekitar 150 kilometer di utara ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Mengutip Kementerian Pertanian Saudi, OIE mengatakan penyakit itu telah membunuh lebih dari 22.000 burung.

Lebih dari 385.000 burung juga disembelih untuk tindakan pencegahan. Ini adalah wabah pertama sejak Juli 2018 seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (5/2/2020).

Berbeda dengan jenis virus Flu Burung yang menyerang China, virus Flu Burung yang terdeteksi di Arab Saudi adalah H5N8. Sebelumnya virus ini dianggap tidak terlalu menular bagi manusia. Namun, baru-baru ini dinyatakan semakin patogen atau menjadi biang penyakit.

Sebelumnya pada hari Selasa, sebuah laporan serupa yang mengkhawatirkan tentang wabah flu burung datang dari Vietnam, di mana jenis virus lain yang sangat patogen – H5N6 – menyebabkan kematian 2.200 burung di sebuah desa di utara negara itu.

Pada tanggal 1 Februari, China, yang telah dicengkeram dengan virus Corona baru yang berasal dari kota Wuhan, melaporkan bahwa wabah virus flu burung H5N1 yang mematikan terdeteksi di provinsi Hunan tengahnya.

Meskipun belum menjadi sorotan berita belakangan ini, H5N1 dikatakan sebagai virus yang bahkan lebih mematikan bagi mereka yang terkena kontak. Hampir 60 persen pasien H5N1 meninggal setelah tertular penyakit, dibandingkan dengan dua persen pasien virus Corona Wuhan (nCov-2019) sejauh ini.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu