ECB Umumkan Dana Darurat, Bursa Eropa Menguat

ECB Umumkan Dana Darurat, Bursa Eropa Menguat

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 27  Maret  2020 )

ECB Umumkan Dana Darurat, Bursa Eropa Menguat

Bursa saham Eropa ditutup berbalik menguat pada perdagangan Kamis (26/3/2020) setelah Bank Sentral Eropa mengumumkan program dana darurat yang akan menghilangkan batas pembelian obligasi.

Dengan hilangnya batas pembelian obligasi, bank sentral memiliki amunisi yang hampir tak terbatas untuk melawan dampak virus corona (COVID-19) terhadap perekonomian zona euro.

Indeks Stoxx Europe 600 ditutup menguat 2,55 persen atau 8 poin ke level 321,38. Sementara itu, indeks FTSE MIB Italia dan IBEX 35 Spanyol menguat masing-masing 0,7 persen dan 1,3 persen.

Dilansir dari Bloomberg, investor mengantisipasi rencana anggota parlemen Uni Eropa untuk menyepakati anggaran dana darurat yang akan digunakan untuk meredam dampak virus corona terhadap perekonomian.

Terlepas dari upaya bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya, para pelaku pasar masih waspada terhadap meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di seluruh dunia.

Berdasarkan data worldometers.info, jumlah kasus yang dikonfirmasi telah melampaui 520,000 kasus dengan total korban meninnggal mencapai 23.000.

“Investor perlu tetap waspada terhadap bagaimana laju pertumbuhan kasus baru dan bagaimana respons pemerintah nantinya,” kata Oliver Blackbourn, manajer portofolio multi-aset di Janus Henderson Investors, seperti dikutip Bloomberg.

“Paket dukungan akan membantu meredakan kekhawatiran terhadap kemungkinan hasil ekonomi terburuk bagi individu dan perusahaan,” lanjutnya.

Stimulus Fiskal Jadi Harapan, Wall Street Melonjak 5 Persen Lebih

Bursa saham Amerika Serikat melanjutkan reli tiga hari berturut-turut pada pada perdagangan Kamis (26/3/2020) karena investor berspekulasi bahwa paket stimulus fiskal senilai US$2 triliun yang siap untuk diloloskan Kongres akan mengurangi dampak virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 6,38 persen atau 1.351,62 poin ke level 22.552,17. Indeks mencatat reli tiga hari teresar sejak 1931

Sementara itu, indeks ditutup S&P 500 menguat 6,24 persen atau 154,51 poin ke level 2.630,07, sedangkan indeks Nasdaq Composite menguat 5,6 persen atau 413,24 ke level 7.797,54.

Saham Boeing menjadi pendorong utama indeks setelah ditutup melonjak 13,51 persen, disusul saham Chevron Corp yang melonjak 10,26 persen.

Dilansir dari Bloomberg, angka klaim pengangguran melonjak ke 3,28 juta orang pekan lalu ketika banyak bisnis ditutup untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Meskipun data tersebut melampaui perkiraan, investor percaya bahwa paket stimulus dari pemerintah AS dapat membantu mengimbangi dampak pada pekerja dan bisnis.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell juga berusaha meyakinkan para pebisnis bahwa bank sentral tidak akan kehabisan amunisi untuk memerangi krisis.

Kepala analis investasi Nuveen, Brian Nick, mengatakan kemajuan dalam RUU stimulus menjadi kekuatan pengimbang terhadap meningkatnya klaim pengangguran.

“Mudah-mudahan, jika semua berjalan sesuai rencana, bisnis akan bisa mendapatkan pinjaman relatif cepat, menghentikan PHK dan mulai berpotensi, jika mereka ingin mendapatkan manfaat penuh dari pinjaman, serta merekrut kembali orang kembali yang sudah mereka PHK,” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Data klaim pengangguran tersebut adalah salah satu laporan utama pertama yang menunjukkan dampak negatif dari pandemik Covid-19 terhadap ekonomi AS sejak banyak negara bagian memulai penghentian bisnis secara luas yang bertujuan mencegah penyebaran virus.

“Bukan rahasia lagi bahwa akan ada masa sulit seputar lapangan kerja di masa mendatang,” kata Mike Loewengart, direktur pelaksana strategi investasi di E*Trade Financial, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (26/3/2020)

“Pertanyaan sebenarnya yang ada sekarang adalah apakah paket stimulus saat ini cukup untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan warga AS,” lanjutnya.

Trump dan Senat AS Selamatkan Ekonomi Paman Sam, Tapi Rupiah dan Global Bikin Dolar AS Babak Belur!

Senat AS mengabulkan pengajuan paket stimulus ekonomi yang diajukan oleh Presiden Donald Trump. Para pimpinan Senat AS menyetujui untuk menggelontorkan dana senilai US$2,2 triliun untuk menyelamatkan perekonomian AS yang terpukul akibat wabah virus corona. Dana tersebut menjadi bantuan fiskal terbesar yang disetujui Senat AS sepanjang sejarah.

“DPR sekarang harus meloloskan RUU ini (RUU Senat), semoga tanpa penundaan. Saya pikir itu mendapat dukungan yang luar biasa,” tegas Trump dilansir dari Reuters, Jakarta, Jumat (27/03/2020).

Upaya Trump dan Senat AS untuk menyelamatkan perekonomian Paman Sam melalui stimulus fiskal tersbeut jutru menjadi sentimen positif bagi aset-aset keuangan global. Seperti mendapat harapan baru, mayoritas mata uang di dunia nampak perkasa dan kompak menekan dolar AS. Alhasil, dolar AS mengalami nasib yang kurang beruntung karena memerah di hadapan dolar Australia, euro, poundsterling, dolar New Zealand, dan franc.

Tak hanya itu, segerombolan mata uang Asia juga ikut membuat dolar AS babak belur, misalnya dolar Taiwan, baht, dolar Singapura, yen, yuan, dan rupiah. Nilai tukar rupiah menguat signifikan hingga 1,08% ke level Rp16.100 pada pembukaan pasar spot pagi tadi, Jumat (27/03/2020).

Hingga pukul 09.52 WIB pun, rupiah masih unggul sebesar 0,25% ke level Rp16.265 per dolar AS. Meskipun begitu, performa rupiah nampak mulai menurun, terutama di hadapan dolar Australia (-0,33%) dan poundsterling (-0,05%).

Rupiah yang pagi tadi masih menjabat sebagai juara Asia, kini mulai bergerak turun dan melemah di hadapan sebagian mata uang Benua Kuning, seperti yen (-0,74%), ringgit (-0,72%), dan baht (-0,06%). Sementara itu, rupiah terpantau menguat di hadapan won (0,37%), dolar Hong Kong (0,24%), dolar Singapura (0,12%), dolar Taiwan (0,06%), dan yuan (0,04%).

Berandai Jadi Presiden Amerika, Bill Gates Bakal Lakukan Ini untuk Berantas Corona

Penanganan pemerintah Amerika Serikat (AS) membuat pendiri Microsoft, Bill Gates kesal. Menurutnya, apabila Bill Gates adalah Presiden Amerika Serikat, ia akan memprioritaskan isolasi untuk melandaikan kurva pandemi virus corona (COVID-19). Hal ini berarti ia akan menurunkan tingkan penyebaran virus corona.

“Sudah jelas kalau kita tidak ada pilihan meneruskan isolasi ini dan itu akan berlangsung terus untuk sementara waktu,” ujar Bill Gates kepada kurator TED Chris Anderson.

Menurutnya, sebagaimana dilansir dari CNBC di Jakarta, Jum’at (27/3/2020) jika melakukan isolasi dengan baik maka dalam 20 hari saja kita bisa langsung melihat angka-angka yang ada pada kurva akan menjadi lebih baik.

“Ini tidak akan mudah. Kita butuh pesan yang jelas soal ini,” kata Gates menekankan seandainya ia menjadi presiden.

Untuk saat ini, setidaknya sudah ada 531,708 kasus positif corona di seluruh dunia menurut data Johns Hopkins dengan total 24,053 korban meninggal dunia dan 122,203 yang berhasil sembuh per 27 Maret pukul 09.20 WIB.

Berdasarkan data Johns Hopkins University’s Coronavirus Resource Center tersebut, angka kasus terbaru di Amerika Serikat termasuk kategori tertinggi.

Dalam perannya sebagai co-founder dari Bill and Melinda Gates Foundation, Gates memiliki pengalaman yang signifikan dalam memerangi penyakit menular termasuk malaria, HIV dan polio.

Komentar Bill Gates datang ketika Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia ingin bisnis di Amerika dibuka kembali pada Hari Paskah, yaitu 12 April 2020.

“Amerika akan kembali, dan segera, akan terbuka untuk bisnis – segera – jauh lebih cepat dari tiga atau empat bulan yang disarankan seseorang,” kata Trump dalam jumpa pers pada hari Senin.

Sementara para ahli mengatakan terlalu dini untuk membuka kembali bisnis dan sekolah karena dapat memiliki konsekuensi yang merugikan bagi penyebaran pandemi.

Bunker Perang Dibuka dan Disiagakan Israel di Tengah Memburuknya Wabah Corona

Pemerintah Israel telah membuka bunker perang di perbukitan Yerusalem. Hal itu dilakukan untuk mengoordinasikan kampanye melawan penyebaran virus korona baru atau Covid-19.

“Ini (bunker) adalah alat lain untuk mengelola, mengendalikan, mengawasi, dan melacak virus korona. Kami memahami krisis ini akan mendampingi kami untuk waktu yang lama,” kata seorang pejabat Israel, Kamis (26/3/2020).

Menurut dia, dalam bunker itu terdapat tempat tinggal dan fasilitas komando yang dapat diakses dari kompleks pemerintah di Yerusalem serta kaki bukit barat mengarah ke Tel Aviv. Namun, Menteri Pertahanan Israel Naftali Bennett tampaknya tak terlalu menyetujui pembukaan bunker tersebut.

Sebab menurutnya tak begitu relevan dengan krisis Covid-19. “Kita tidak berada di bawah serangan rudal yang mengharuskan kita berada di bawah tanah,” ujarnya.

Bunker yang disebut “Pusat Manajemen Nasional” didirikan lebih dari satu dekade lalu. Tempat itu dibangun merespons kekhawatiran tentang program nuklir Iran dan pertukaran rudal antara kelompok Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Jalur Gaza.

Sejauh ini, Israel telah melaporkan 2.666 kasus Covid-19 dengan delapan korban jiwa. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengisyaratkan akan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown nasional.

Profesor Stanford: Kita Overreacting terhadap Corona

Profesor di Stanford University School of Medicine, John PA Ionnidis mengatakan, respons terhadap pandemi virus corona bisa jadi merupakan fiasco in the making. Karena kita membuat keputusan seismik berdasarkan pada data yang ‘sangat bisa dipercaya’. Data yang kita miliki, kata Ionnidis, mengindikasikan bahwa kita mungkin sangat overreacting.

“Penyakit akibat virus corona, Covid-19, telah disebut pandemik yang terjadi satu kali dalam satu abad. Namun, bisa juga bukti fiasco yang terjadi satu kali dalam satu abad,” tulis Ionnidis dalam tulisan analisisnya yang dipublikasikan oleh STAS dan dikutip Daily Wire, Kamis (19/3/2020).

Co-Director Pusat Meta-Riset Inovasi dan profesor ilmu kedokteran, data biomedical, epidemiologi, dan kesehatan populasi ini mengatakan, langkah-langkah melebihi yang dibutuhkan diadopsi banyak negara. Jika pandemi menghilang, apakah dengan sendirinya atau karena langkah-langkah social distancing dan lockdown, mungkin dapat ditoleransi.

“Berapa lama upaya seperti ini dilanjutkan jika pandemi ini tidak berkurang? Apa yang bisa dikatakan para pembuat kebijakan jika mereka melakukan lebih banyak hal yang menolong daripada yang merusak?”

Spesialis meta-riset ini berpendapat, data yang kita punya selama ini mengindikasikan bahwa langkah-langkah ekstrem yang diambil banyak negara mungkin sudah di luar batas dan bisa menghasilkan konsekuensi yang tidak penting, bahkan distruktif. Dikarenakan pengujian yang sangat terbatas, kita bisa-bisa kehilangan mayoritas infeksi dari Covid-19. Kemudian, membuat angka-angka fatalitas (kematian) yang dilaporkan WHO menjadi ‘tak berarti’.

“Pasien yang telah dites untuk SARS-Cov-2 adalah mereka yang memiliki gejala dan hasil yang buruk,” kata Ionnidis. Dengan pengujian yang sangat terbatas pada banyak sistem kesehatan, dia mengatakan, bias seleksi hanya akan memperburuk keadaan ke depannya.

Ionnidis kemudian memperkecil pandangan ke satu situasi di mana seluruh populasi tertutup dites. Contohnya, penumpang kapal Diamond Proncess yang dikarantina. Sementara angka kematiannya 1,0 persen, dia menggarisbawahi, populasinya lebih banyak lansia, yakni kelompok paling berisiko.

Ionnidis menghitung berdasarkan usia populasi Amerika Serikat, angka kematiannya 0,125 persen, dengan range antara 0,025 persen hingga 0,625 persen pada ukuran sampel:

Angka mortalitas Diamond Princess berdasarkan usia populasi AS yang diproyeksikan, angka kematian di antara orang yang terinfeksi Covid-19 sekitar 0,125 persen. Namun, karena estimasi didasarkan pada data yang sangat tipis—hanya ada 7 kasus kematian dari 700 penumpang dan kru yang terinfeksi—angka kematian yang sebenarnya dapat merenggang dari lima kali lebih rendah menjadi lima kali lebih tinggi (0,625 persen).

Mungkin juga beberapa penumpang yang terinfeksi akan meninggal kemudian, dan turis-turis memiliki frekuensi terhadap penyakit kronis yang berbeda-beda dari populasi secara umum. Estimasi yang masuk akal untuk rasio kasus kematian dalam populasi AS secara umum tersebut bervariasi dari 0,05 persen sampai 1 persen.

Ionnidis menekankan range yang sangat lebar itu memengaruhi betapa sangat seriusnya pandemik ini dan apa yang seharusnya dilakukan.

“Angka kematian 0,05 persen untuk kasus populasi lebih rendah dari penyakit musiman influenza. Jika itu adalah angka sebenarnya, mengunci dunia dengan konsekuensi-konsekuensi finansial dan sosial sangatlah tidak rasional. Seperti gajah yang diserang seekor kucing rumah. Merasa frustrasi dan mencoba menghindari kucing, gajah tiba-tiba melompat dari tebing dan mati,” papar Ionnidis.

Bagi yang berpandangan bahwa angka kematian yang tinggi pada kelompok lanjut usia mengindikasikan angka kematian tidak bisa serendah 0,05 persen, sang profesor mencatat, “Meski beberapa tipe virus corona disebut flu ringan atau flu biasa bisa mengakibatkan angka kasus kematian menjadi setinggi 8 persen ketika menginfeksi para lansia di rumah jompo.”

Panik Pasar Reda, Dolar AS Menuju Penurunan Terbesar Satu Dekade

Dolar AS menuju penurunan mingguan terbesar selama lebih dari satu dekade pada Jumat (27/03) seiring dengan serangkaian langkah stimulus di seluruh dunia termasuk paket $2,2 triliun menenangkan kepanikan atas resesi global akibat merebaknya wabah virus covid-19.

Menurut data Investing.com pukul 09.24 WIB, dolar AS melemah 0,11% di 99,345 terhadap sejumlah mata uang.

Data menunjukkan peningkatan klaim pengangguran AS yang belum pernah terjadi sebelumnya menggarisbawahi dampak buruk virus pada perekonomian mengutip Reuters Jumat (27/03) pagi. Tetapi penguatan lanjutan saham-saham di Wall Street meningkatkan harapan pembalikan aksi penjualan aset berisiko.

Dolar AS terhadap Yen Jepang USD/JPY turun ke 108,36 atau jatuh 1,12% Kamis pagi sementara euro terhadap Dolar AS EUR/USD menguat 0,14% di 1,1043.

Sedangkan sterling melonjak 2,8% semalam sebelum melepaskan sebagian dari keuntungan pada perdagangan Asia awal. Pound Inggris terakhir turun 0,02% di 1,2199 terhadap dolar AS.

Sementara terhadap Rupiah, US Dollar USD/IDR juga mengalami penurunan 0.06% ke level 16.265.

Pelonggaran kondisi pendanaan dolar membantu mengurangi permintaan terhadap dolar.

Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim untuk tunjangan pengangguran melonjak ke tingkat rekor lebih dari 3,28 juta pekan lalu karena langkah-langkah ketat untuk menahan pandemi virus menimbulkan gelombang PHK.

Sementara itu melampaui rekor sebelumnya sebanyak 695.000 terjadi pada tahun 1982 dan naik 3 juta dari minggu lalu. Angka ini di bawah ketakutan terburuk investor.

Pasar tetap fokus pada stimulus $2,2 triliun yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diharapkan akan disetujui oleh DPR AS pada hari Jumat.

Klaim Pengangguran & Paket Stimulus Sempat Mendorong Penguatan Emas

© Reuters.

Rekor nilai paket stimulus AS sebesar $2 triliun sempat membuat emas menguat ditambah lagi data pengangguran tertinggi sepanjang masa yang dirilis Kamis pagi waktu AS membuat logam kuning ini melanjutkan tren penguatan namun itu ternyata hanya sementara karena pada Jumat pagi sudah kembali melemah.

Emas spot dan emas berjangka sempat naik di zona $1.600 pada hari Kamis merespon aksi penyelamatan fiskal yang telah mendapat persetujuan Senat AS untuk memberikan suntikan dana segar pada ekonomi yang terguncang akibat covid-19.

Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa rekor 3,28 juta orang Amerika mengajukan tunjangan pengangguran pertama kali – angka yang lebih tinggi daripada populasi Chicago yang hanya 2,7 juta, yang mengisyaratkan upaya perbaikan pasar tenaga kerja bisa memakan waktu lebih lama daripada yang diberikan stimulus dan sempat dinilai bakal meningkatkan prospek safe havens seperti emas.

Menurut data investing.com Jumat (27/03) pukul 09.15, Emas Berjangka untuk pengiriman April di New York COMEX dilevel $1,639.05 per ons, sementaraXAU/USD dilevel $1,627.79 per ons.

Sementara anggaran stimulus yang disetujui Senat sebesar $2 triliun, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow telah menyarankan rancangan anggaran penyelamatan terakhir untuk Amerika Serikat bisa setinggi $6 triliun.

Secara terpisah, Federal Reserve telah mengganggarkan lebih banyak untuk mendukung pasar keuangan melalui pembelian obligasi dan pinjaman langsung ke perusahaan, yangmenambah prospek emas.

Pabrik Cina Dibuka Hanya untuk Pecat Karyawan, Covid-19 Rusak Perdagangan Global

Seorang pengusaha ritel kecil di Cina, Shi Xiaomin, biasanya mengekspor ribuan jas dan blazer ke Korea Selatan, Belanda, dan Amerika Serikat, tampaknya sedikit lebih beruntung ketimbang pabrikan Cina lainnya. Mengapa?

Menurut laporan Reuters Kamis (26/03) petang, di saat pabriknya di kota Wenzhou dibuka kembali bulan lalu setelah ditutup cukup lama karena wabah virus covid-19, pemerintah setempat mengirim bus ke provinsi terdekat untuk mengangkut kembali 20 lebih pekerjanya. Dan ada juga para staf yang membawa mobil menawarkan tumpangan untuk menjemput rekan kerja mereka.

Namun optimisme Shi hanya berlangsung sesaat.

Dalam sepekan terakhir, permintaan untuk membatalkan pesanan atau menunda pengiriman dari kliennya di Eropa dan AS mulai berdatangan.

Di awal merebaknya wabah, Cina memberlakukan pembatasan perjalanan tegas dan penangguhan kegiatan pabrik untuk mengekang penyebaran virus, mengurangi pasokan tenaga kerja dan membuat para eksportir berebut untuk memenuhi pesanan.

Sekarang, kebalikannya itu terjadi – pesanan dari luar negeri dipangkas karena pandemi virus merusak ekonomi negara mitra dagang Cina mulai dari Eropa hingga ke Amerika Serikat.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu