Bukan Corona, Apple Guncang Bursa & Buat Harga Emas Melesat

Bukan Corona, Apple Guncang Bursa & Buat Harga Emas Melesat

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 19 Februari 2020 )

Bertambah! 2.007 Orang Tewas, 75.138 Terinfeksi Virus Corona

Jumlah korban meninggal secara global akibat wabah virus Corona jenis baru, Covid-19, sudah mencapai 2.007 orang pada hari Rabu (19/2/2020). Dari jumlah itu, sebanyak 2.002 kematian terjadi di daratan China dan lima lainnya di Jepang, Hong Kong, Taiwan, Filipina, dan Prancis.

Mengutip data situs web pelaporan online worldometers.info melaporkan jumlah kasus atau orang yang terinfeksi Covid-19 secara global bertambah menjadi 75.138 orang. Dari jumlah itu, 73.139 kasus terjadi di daratan China. Jumlah pasien sembuh secara global mencapai 14.442 orang, termasuk 14.265 pasien di China.

Lonjakan angka kematian ini muncul setelah 132 orang lagi meninggal di Provinsi Hubei, pusat penyebaran wabah Covid-19 yang paling parah. Dalam laporan hariannya, Komisi Kesehatan Provinsi Hubei juga melaporkan 1.693 kasus baru orang yang terinfeksi virus Corona baru tersebut.

Pada akhir Selasa kemarin, jumlah kematian di China akibat wabah penyakit ini mencapai 1.921. Meski angka kematian terus melonjak, jumlah kasus baru di Hubei relatif rendah selama seminggu terakhir. Sebuah studi yang dirilis oleh pejabat China mengklaim sebagian besar pasien memiliki kasus penyakit ringan.

Presiden China Xi Jinping dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan langkah-langkah China mencapai “kemajuan nyata”. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apakah penurunan kasus infeksi Covid-19 itu akan berlanjut.

Pada hari Selasa direktur sebuah rumah sakit di Kota Wuhan, Hubei, menjadi pekerja medis ketujuh yang meninggal akibat wabah penyakit Covid-19.

Diduga Bersikap Rasis, Boris Johnson Pertimbangkan Copot Penasihatnya

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di bawah tekanan untuk memecat seorang penasihat yang menghubungkan intelijen dengan ras seseorang dan juga menyarankan kontrasepsi harus diwajibkan untuk menghindari “eksisnya kelas sosial rendah untuk selamanya.”

Andrew Sabisky bekerja di kantor perdana menteri di Downing Street 10 setelah Dominic Cummings, pembantu utama Johnson mengundang “orang-orang biasa dengan keterampilan tertentu” melamar pekerjaan di pemerintahan.

Sabisky –yang punya gelar master dalam psikologi pendidikan, menurut sebuah biografi online– tahun 2014 menulis “cara mengatasi masalah kehamilan tidak terencana yang menghasilkan kelas sosial rendah secara permanen adalah lewat kewajiban kontrasepsi di awal masa pubertas.

“Kewajiban vaksinasi memberi preseden bagi pemberlakuan hukum seperti itu,” demikian pendapat Andrew.

Sabisky juga mengatakan bahwa orang kulit hitam, atau keturunan Afrika, memiliki IQ rata-rata lebih rendah dibanding mereka yang berkulit putih.

Seorang juru bicara Johnson menolak untuk membahas peran Sabisky di Downing Street, dan mengatakan “Saya tidak akan memberi komentar tentang penunjukan siapapun.”

Juru bicara Jamie Davies juga menolak untuk mengatakan apakah perdana menteri Inggris itu setuju dengan pandangan Sabisky, yang oleh beberapa pengkritik dikatakan mendukung eugenika, gerakan yang sudah didiskreditkan karena berusaha meningkatkan kualitas ras manusia lewat reproduksi yang selektif.

“Pandangan perdana menteri tentang berbagai hal tersebut telah dipublikasikan dan didokumentasikan dengan baik,” kata Davies.

Johnson sendiri memiliki catatan terkait komentarnya yang menghina, termasuk menyebut orang Papua Nugini sebagai kanibal, merujuk pada orang di negara Persemakmuran dengan istilah ‘picaninnies’yang menghina, dan menyatakan mereka yang lahir tetapi tidak jelas siapa bapaknya adalah anak-anak yang bodoh, agresif, dan tidak sah.

Berita terakhir mengatakan, Sabisky dilaporkan telah mengajukan pengunduran dirinya.

Saham Otomotif Melempem, Bursa Prancis Anjlok

Penurunan saham sektor otomotif menyebabkan pelemahan indeks acuan di Bursa Efek Paris pada perdagangan Selasa (18/2/2020).

Dilansir Antara, saham-saham Prancis berakhir melemah, terutama terseret penurunan saham otomotif, dengan indeks acuan CAC 40 di Bursa Efek Paris turun 0,48 persen atau 29,1 poin, menjadi 6.056,82.

Baca juga: Saham Apple dan Indeks S&P 500 Jeblok, Virus Corona Jadi Pemicu

Dari 40 saham perusahaan-perusahaan besar pilihan yang tergabung dalam komponen indeks CAC 40, tercatat 26 saham perusahaan mengalami penurunan dan 14 saham sisanya naik.

Perusahaan pabrikan mobil multinasional Prancis Renault menderita kerugian terbesar (top loser) di antara saham-saham unggulan atau blue chips, dengan harga sahamnya anjlok 6,31 persen.

Diikuti oleh saham perusahaan minyak dan gas global TechnipFMC yang kehilangan 3,18 persen, serya perusahaan produsen baja Internasional ArcelorMittal SA turun 2,79 persen.

Sementara itu, perusahaan pengecer multinasional Prancis Carrefour terangkat 3,52 persen, menjadi peraih keuntungan terbesar (top gainer) dari saham-saham unggulan.

Baca juga: Penjualan Terkoreksi Virus Corona, Saham Apple Inc. Terpukul

Disusul oleh saham perusahaan farmasi multinasional Prancis Sanofi yang menguat 1,52 persen, serta perusahaan listrik multinasional Prancis Engie naik 1,38 persen.

Bukan Corona, Apple Guncang Bursa & Buat Harga Emas Melesat

Pasar finansial bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (18/2/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat bahkan saat bursa saham utama Asia lainnya melemah. Pasar obligasi juga menguat tetapi nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG menguat 0,33% ke 5.886,962. Sektor industri dasar memimpin penguatan IHSG pada hari ini dengan kenaikan 1,86%, disusul dengan sektor properti sebesar 1,47%. Sementara sektor finansial yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar justru melemah 0,35%.

Melihat bursa utama Asia, indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Kospi Korea Selatan masing-masing berakhir anjlok sekitar 1,5%, hanya Shanghai Composite China yang berhasil berbalik menguat tipis 0,05%.

Dari pasar obligasi, yield harga surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun turun 2,6 basis poin (bps) ke 6,548%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.

Sementara rupiah melemah 0,07% di level Rp 13.660/US$, seirama dengan mata uang utama Asia lainnya, kecuali yen Jepang yang menyandang status aset aman (safe haven). Fakta yen masih menguat dan mayoritas bursa utama Asia yang melemah menunjukkan sentimen pelaku pasar masih belum bagus.

Di awal pekan, sentimen pelaku pasar sedikit membaik setelah bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) sekali lagi bertindak guna meredam dampak wabah virus corona ke perekonomian.

PBoC mengumumkan penurunan suku bunga Medium-term Lending Facility (MLF) tenor setahun dari 3,25% menjadi 3,15%. Selain itu PBoC juga akan menggelontorkan dana senilai US$ 29 miliar dalam bentuk pinjaman jangka menengah.

Penurunan tersebut dimaksudkan untuk menambah likuiditas di pasar, sehingga roda perekonomian bisa berputar. Penurunan MLF hari ini diyakini pelaku pasar sebagai pembuka jalan pemangkasan Loan Prime Rate (LPF) yang akan diumumkan Kamis pekan ini.

Bukan kali ini saja PBoC menggelontorkan stimulus, di awal bulan lalu suku bunga reverse repo tenor 7 hari diturunkan menjadi menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial akibat virus corona. Selain itu PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Namun, sentimen pelaku pasar kembali memburuk setelah wabah virus corona atau yang disebut COVID-19 sudah menunjukkan dampak ke sektor riil.

Wabah corona kini memiliki “produk turunan” dari sisi makro yakni risiko terjadinya resesi, sementara dari sisi mikro penurunan pendapatan perusahaan.
Setidaknya ada tiga negara yang berisiko mengalami resesi, yakni Singapura, Jerman, dan Jepang. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan China.

Pemerintah Singapura Senin kemarin memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, pertumbuhan di kisaran 0,5%-2,5%.

Setelah Singapura, Jerman juga sudah waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.

Selanjutnya Jepang, negara dengan nilai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara itu raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Dengan kapitalisasi pasar yang lebih besar dari nilai ekonomi Indonesia, pernyataan dari Apple tersebut yang membuat sentimen pelaku pasar kembali memburuk dan membuat bursa saham global tertekan pada perdagangan Selasa kemarin.

Harga Emas Naik Didorong Meningkatnya Dampak Virus pada Bisnis

Harga emas naik ke tingkat tertinggi dua minggu pada Selasa (18/02). Pergerakan ini didorong oleh permintaan atas safe haven setelah peringatan pendapatan dari produsen raksasa iPhone yakni Apple Inc menggarisbawahi penurunan keuangan yang terkena dampak epidemi virus covid-19 di Cina.

XAU/USD meningkat sebesar 0,3% di $1,586.15 per ons pada pukul 0513 GMT menurut laporan yang dilansir Reuters Selasa (18/02) petang. Sebelumnya di sesi ini, harga emas ini menyentuh tingkat tertinggi 3 Februari di $1.587,30.

Emas Berjangka AS naik tipis 0,2% menjadi $1.589,20.

Apple merupakan salah satu perusahaan Barat terbesar yang bakal merasakan kerugian oleh epidemi virus ini.

Perusahaan mengatakan fasilitas manufaktur di Cina yang menghasilkan iPhone dan elektronik lainnya sudah mulai dibuka kembali, tetapi sedikit naik lebih lambat dari yang diharapkan. Hal tersebut memberi tekanan pelemahan pada bursa saham berjangka AS dan juga saham-saham di Asia.

Korban tewas akibat virus di Cina naik 98, bahkan ketika penyebarannya melambat setelah otoritas setempat mengungkapkan jumlah kasus baru turun di bawah 2.000 pada Senin kemarin. Namun, para pakar kesehatan global memperingatkan masih terlalu dini untuk mengatakan wabah itu sedang dikendalikan.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu