• Blog
  • Wall Street menguat tajam, Indeks Dow Jones melonjak di atas 450 poin

Wall Street menguat tajam, Indeks Dow Jones melonjak di atas 450 poin

News Forex, Index &  Komoditi

( Kamis,  03  September  2020 )

Wall Street menguat tajam, Indeks Dow Jones melonjak di atas 450 poin

Wall Street menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dengan Indeks Dow Jones melonjak lebih dari 450 poin, merupakan hari terbaiknya sejak pertengahan Juli, setelah data menunjukkan penggajian swasta AS meningkat bulan lalu, tetapi pada kecepatan yang jauh lebih lambat dari yang diperkirakan.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 454,84 poin atau 1,59 persen menjadi ditutup di 29.100,50 poin, menandai kenaikan satu hari terbaik sejak 14 Juli dan merupakan penutupan pertama di atas 29.000 sejak Februari untuk indeks saham unggulan.

Sementara itu Indeks S&P 500 terangkat 54,19 poin atau 1,54 persen menjadi berakhir pada 3.580,84 poin dan Indeks Komposit Nasdaq meningkat 116,78 poin atau 0,98 persen menjadi ditutup pada 12.056,44 poin.

Indeks S&P 500 dan Indeks Nasdaq menutup sesi pada rekor tertinggi, dengan Nasdaq yang padat teknologi melampaui ambang batas 12.000 untuk pertama kalinya. Sedangkan Indeks S&P 500 naik untuk kesembilan kalinya dalam 10 sesi terakhir.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih tinggi, dengan utilitas dan material masing-masing terangkat 3,12 persen dan 2,28 persen, melampaui sektor lainnya. Energi merosot 0,42 persen, satu-satunya kelompok yang menurun.

Pergerakan itu terjadi meskipun data menunjukkan perusahaan-perusahaan AS menambahkan lebih sedikit pekerjaan dari yang diperkirakan untuk Agustus.

Perusahaan sektor swasta AS menambahkan 428.000 pekerjaan pada Agustus, perusahaan data penggajian (payrolls) Automatic Data Processing (ADP) melaporkan pada Rabu (2/9/2020). Ekonom Wall Street telah memperkirakan peningkatan satu juta pekerjaan sektor swasta, menurut Econoday.

"Angka pekerjaan Agustus menunjukkan pemulihan yang lambat," kata Wakil Presiden dan Wakil Kepala ADP Research Institute, Ahu Yildirmaz. Ia menambahkan "bisnis di semua ukuran dan sektor belum mendekati tingkat pekerjaan sebelum COVID-19."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saham Tokyo dibuka lebih tinggi didukung Wall Street, harapan vaksin

Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Kamis pagi, menyusul reli Wall Street semalam di tengah harapan perusahaan yang mengembangkan vaksin virus corona dapat diberikan persetujuan awal jika mereka menunjukkan hasil yang luar biasa dalam uji klinis.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 melonjak 309,66 poin atau 1,33 persen, dari tingkat penutupan Rabu (2/9/2020), menjadi diperdagangkan di 23.556,81 poin. Sehari sebelumnya, indeks Nikkei 225 bertambah 109,08 poin atau 0,47 persen menjadi 23.247,15 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo menguat 14,73 poin atau 0,91 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.638,13 poin. Indeks Topix meningkat 7,59 poin atau 0,47 persen menjadi 1.623,40 poin pada penutupan transaksi Rabu (3/9/2020).

Saham-saham perusahaan yang berhubungan dengan produk logam, logam non-besi dan real estat termasuk yang memperoleh keuntungan terbesar pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

Bursa Asia dibuka bervariasi, mayoritas indeks menguat mengekor Wall Street

Bursa Asia dibuka bervariasi pada awal perdagangan Kamis (3/9), dengan mayoritas indeks menguat. Pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 naik 208,95 poin atau 0,89% ke 23.453,72, Taiex naik 83,94 poin atau 0,66% ke 12.782,37, Kospi naik 21,97 poin atau 0,92% ke 2.386,14, ASX 200 naik 32,79 poin atau 0,54% ke 6traits Times turun 11,93 poin atau 0,45% ke 2.528,58 dan FTSE Malaysia naik 4,56 poin atau 0,30% ke 1.542,10.

Kenaikan bursa Asia terseret kenaikan Wall Street yang melesat setelah data ekonomi AS lebih kuat dan prospek stimulus tambahan AS.

"Pasar saham naik dan menyukai fakta bahwa pasar (AS) naik cukup kuat pada Rabu," kata Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group seperti dikutip Reuters.

“Orang-orang hanya menggunakan itu untuk memperbaiki area nilai pasar,” katanya.

“Nilai secara efektif mengambil alih.”

Data baru AS yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan pengusaha swasta AS mempekerjakan lebih sedikit pekerja dari yang diharapkan untuk bulan Agustus, menunjukkan bahwa pemulihan pasar tenaga kerja melambat karena pandemi virus corona terus berlanjut dan karena dana pemerintah untuk mendukung pekerja dan pengusaha mulai mengering.

 

 

Boris Johnson Bikin Akun LinkedIn Setelah Isu Mundur dari Perdana Menteri

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson membuat akun 'profesional' LinkedIn yang membuat banyak orang bertanya-tanya tentang maksud dan tujuannya.

Menyadur Metro pada Rabu (02/09/2020), Boris mengatakan akun LinkedIn itu dibuat untuk kebutuhan profesional karena ia harus terhubung langsung dengan para pengusaha.

Downing Street juga membenarkan hal itu. Mereka mengatakan, penting bagi Boris Johnson untuk terlibat langsung dengan kalangan bisnis dan pekerja demi pemulihan ekonomi dari pandemi virus corona.

"Anda bisa melihat campuran konten tertulis dan video dari PM yang akan mempromosikan bisnis Inggris, pekerjaan dan pengumuman ekonomi," jelas pernyataan dari juru bicara resmi PM Inggris.

"Dan juga (akun LinkedIn) merinci beberapa kunjungan dan keterlibatan PM dengan bisnis," lanjut juru bicara yang sama sembari menyebut pemimpin lainnya yang memiliki akun LinkedIn.

"Saya pikir sejumlah pemimpin lain juga ada di LinkedIn saat ini - saya pikir Presiden [Prancis] (Emmanuel) Macron dan Perdana Menteri [Kanada] (Justin) Trudeau, misalnya. Mantan PM Inggris David Cameron juga ada di LinkedIn.

Akun LinkedIn Boris Johnson ini cukup menyita perhatian karena muncul bertepatan dengan isu dirinya yang akan mundur sebagai Perdana Menteri Inggris.

Pekan lalu, Sir Humphry Wakefield mengatakan bahwa Boris Johnson sedang dalam proses keluar dari posisi perdana menteri karena memiliki masalah kesehatan setelah sembuh dari Covid-19, menurut The Times.

Namun, Boris Johnson membantah dan berkata "Jika ada, jauh lebih baik karena saya telah menurunkan berat badan. "Tidak cukup, tapi aku telah kehilangan setidaknya satu setengah pon."

"Saya hanya ingin memberi tahu Anda bahwa saya sekarang ada di LinkedIn. Bisnis dari semua ukuran sangat penting bagi negara ini dan saya ingin terhubung lebih langsung dengan Anda saat kami membangun kembali dengan lebih baik," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Isu Miring Kembali Muncul, Donald Trump Dicurigai Terserang Stroke

Presiden AS Donald Trump diisukan terserang stroke pada bulan November tahun lalu, namun dengan cepat, Trump dan dokternya menyangkal tudingan itu.

Menyadur Channel News Asia, Rabu (02/09/2020), pembelaan ini muncul setelah penulis Don Winslow mencuit pada bulan lalu bahwa ia telah menerima informasi dari tiga pelapor bahwa Trump mendapat 'sedikit serangan kecil'.

"Saya mengonfirmasi bahwa Presiden Trump tidak mengalami atau dievaluasi untuk kecelakaan serebrovaskular (stroke), serangan iskemik transien (stroke mini), atau keadaan darurat kardiovaskular akut, seperti yang telah dilaporkan secara salah di media," kata dokter Trump, Sean Conley dalam sebuah pernyataan.

"Presiden tetap sehat dan saya tidak khawatir tentang kemampuannya untuk mempertahankan jadwal ketat di depannya. Seperti yang dinyatakan dalam laporan terakhir, saya berharap dia tetap fit untuk melaksanakan tugas-tugas Kepresidenan," tambah Conley.

Reporter New York Times Michael Schmidt juga menulis di buku berjudul Donald Trump v. The United States bahwa pada bulan November Wakil Presiden AS, Mike Pence harus bersiaga untuk ambil alih kekuasaan jika Trump sewaktu-waktu dibius dalam prosedur medis.

Namun lagi-lagi hal ini dibantah Mike Pence. Saat melakukan sesi wawancara dengan Fox news, ia mengatakan "tak ingat jika harus bersiaga."

"Saya tidak ingat diberitahu untuk bersiaga. Saya hanya diberitahu bahwa presiden ada janji dengan dokter," katanya.

November merupakan bulan yang cukup sakral bagi Domald rump karena pada saat itu, ia diserbu dengan isu miring terkait kesehatannya. Berbagai spekulasi muncul karena trump mengunjungi Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed secara mendadak.

Hal ini sangat aneh, karena kunjungan ini dilakukan lebih awal dari jadwal pemeriksaan fisik tahunan yang sudah terencana sebelumnya.

Isu tentang kesehatan Trump juga muncul saat ia memberi pidato di acara kelulusan Akademi Militer AS West Point pada Minggu (14/06/2020). menyadur Forbes, ia menunjukkan gelagat aneh seperti minum dengan dua tangan dan kesulitan berjalan.

Mulanya, ia mengambil gelas memakai tangan kanan. Tapi ia lantas menggunakan kedua tangannya untuk mengarahkan gelas menuju mulut. Trump juga menunjukkan langkah yang mirip bayi ketika menuruni panggung.

Aksi Trump minum dengan dua tangan bukan kali pertama dilakukan. Forbes mencatat pada November 2017, Trump juga hal yang sama. Tahun 2016, Trump juga tertangkap kamera minum dengan dua tangan.

Sekretaris pers Gedung Putih, Stephanie Grisham mengatakan Trump perlu 'memastikan' kesehatannya di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed pada bulan November untuk mengantisipasi tahun 2020 yang padat jadwal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pentagon Ungkap Rencana China Bangun Fasilitas Militer di Indonesia

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengklaim, China tengah berupaya membangun jaringan militer di sebagian besar wilayah Samudra Hindia, termasuk Indonesia.

Menyadur Nikkei Asian Review, Pentagon lewat laporan setebal 200 halaman mengatakan China mungkin menganggap negara-negara Afrika, Asia Tenggara, dan Asia Tengah sebagai lokasi pontesial membangun fasilitas militer.

"Ini menandai pertama kalinya pengamatan semacam itu muncul dalam laporan," kata Zack Cooper, peneliti di lembaga think tank American Enterprise Institute yang berbasis di Washington, dalam webinar AEI.

Selain Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, dan kawasan lain yang disebutkan itu, China diklaim telah membuat tawaran ke Namibia, Vanuatu dan Kepulauan Solomon, demikian dalam laporan tersebut.

"Laporan baru itu menekankan pada keinginan China untuk bertindak secara global," kata mantan staf Pentagon Cooper.

Kepercayaan Washington pada ambisi proyeksi kekuatan Beijing di seberang Samudra Hindia, berasal dari bagaimana China membuka pangkalan permanen permanen pertamanya di luar negeri pada tahun 2017 di Djibouti, di ujung Afrika.

Situs Djibouti sejauh ini adalah satu-satunya pangkalan militer luar negeri China. Beijing mencirikannya sebagai basis dukungan untuk tujuan seperti bantuan kemanusiaan dan misi pengawalan.

Pentagon mengklaim kehadiran militer China di Djibouti memberi Beijing kemampuan untuk mendukung tanggapan militer terhadap kemungkinan yang mempengaruhi investasi China dan infrastruktur di kawasan tersebut.

"Serta sekitar 1 juta warga China di Afrika dan 500.000 di Timur Tengah," kata laporan Pentagon.

Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat juga dikatakan percaya bahwa Kamboja telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Beijing untuk mengizinkan angkatan bersenjata China menggunakan salah satu pangkalan angkatan lautnya.

Pentagon lewat laporan setebal 200 halaman mengatakan China tengah berupaya membangun jaringan militer disebagian besar wilayah Samudra Hindia.

percaya bahwa Kamboja telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Beijing untuk mengizinkan angkatan bersenjata China menggunakan salah satu pangkalan angkatan lautnya.

Pemerintah China tidak mengakui keberadaan strategi tersebut. Namun, para analis melihatnya sebagai upaya untuk mengepung negara saingan yang potensial, India.

Laporan Pentagon mengatakan Beijing setidaknya akan menggandakan stok hulu ledak nuklirnya selama dekade berikutnya dari perkiraan levelnya saat ini di 200-an.

Ini secara ekstensif membahas strategi fusi militer-sipil China, yang mencakup "memanfaatkan layanan sipil dan kemampuan logistik untuk tujuan militer" kata laporan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

Jepang Mungkin Saja Bagikan Vaksin Covid-19 Gratis

Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan untuk memberikan vaksin Covid-19 secara gratis kepada seluruh warga di negara itu. Hal ini dilaporkan pada Rabu (2/9/2020).

Dalam laporan Kyodo News, pemerintah di Negeri Matahari Terbit itu bertujuan mengamankan vaksin Covid-19 dalam jumlah yang cukup untuk setiap warga pada pertengahan tahun depan. Sebelumnya pada 31 Agustus, Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan akan berpartisipasi dalam Covax.

Covax adalah program vaksin Covid-19 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meski demikian, diilansir The Strait Times, seorang pejabat Jepang mengatakan keputusan itu bersifat tidak mengikat. Kontribusi keuangan negara itu akan diputuskan sebelum tenggat waktu 18 September.

Program Covax yang diluncurkan pada akhir April dirancang sebagai polis asuransi untuk mengamankan akses ke vaksin Covid-19. Partisipasi tidak pasti karena beberapa negara maju, termasuk Jepang dan Amerika Serikat (AS), telah membuat kesepakatan sendiri untuk vaksin.

Melalui kesepakatan internasional dan produksi dalam negeri, Jepang berada di jalur yang tepat untuk memiliki lebih dari 500 juta dosis dari enam vaksin Covid-19 yang berbeda pada tahun depan untuk populasi 126 juta.

 

Australia Gagal Redam Resesi Imbas Covid-19

Pandemi Covid-19 bukan hanya mengancam kesehatan manusia, tapi juga menghantam perekonomian dunia. Akibat pandemi tersebut, hampir semua negara dunia mengalami resesi, termasuk negara maju. Kendati krisis yang terjadi tidak seberat krisis 1998.

Berbagai upaya yang dilakukan seperti mengeluarkan paket bantuan miliaran dollar AS demi menjaga stabilitas dan keberlangsungan ekonomi nasional tidak mampu membendung pertumbuhan negatif ekonomi riil. Australia menjadi negara teranyar yang melaporkan adanya pertumbuhan negatif.

Peristiwa itu tidak pernah menimpa Australia sejak hampir 30 tahun lalu. Seperti dilansir BBC, produk domestik bruto (PDB) Australia menyusut 7% pada kuartal kedua (Q2) dibandingkan Q1, terburuk sejak 1959.

Padahal, Australia pernah selamat dari krisis moneter pada 2008 mengingat perdagangan dengan China stabil. Tahun ini Australia tidak dapat mengelak. Selain terjadi bencana alam seperti kebakaran hutan yang sangat ekstrem, Australia juga terkena wabah virus corona Covid-19 yang menyebar luas ke negara lain.

Pertumbuhan ekonomi Australia menurun, menyusul rendahnya daya beli masyarakat. Sekalipun pemerintah dan bank sentral memberikan bantuan keuangan, sebagian bisnis dan perusahaan tidak mampu bertahan dan ambruk. Kendati begitu, Australia masih beruntung dibandingkan negara maju lain.

Sebelumnya negara-negara maju lain sudah mengumumkan resesi. Ekonomi Amerika Serikat (AS) menyusut hingga 9,5%, sedangkan Prancis dan Jepang masing-masing susut 13,8% dan 7,6%. Inggris bahkan mengalami penurunan hingga 20,4%. Dampaknya di lapangan besar. Selain daya belanja masyarakat menurun, banyak toko dan pabrik di berbagai sektor bangkrut.

Seperti dilansir BBC, penurunan ini tidak terlepas dari kebijakan lockdown yang melumpuhkan aktivitas bisnis, investasi, dan ekonomi. Tak sedikit toko, hotel, restoran, bengkel, dan perusahaan yang tak dapat beroperasi. Sektor layanan jasa yang menyumbangkan 4/5 dari ekonomi Inggris juga menelan kerugian besar.

Pembatasan operasi pabrik juga menyebabkan produksi menjadi lambat. Penurunan itu terkonsentrasi pada April atau selama puncak lockdown. Dengan kondisi yang memburuk, Pemerintah Inggris berupaya memulihkan ekonomi dan membuka lockdown pada Juni. Namun, pertumbuhannya masih merangkak-rangkak.

Pemerintah Inggris mengatakan resesi ini akan menyebabkan lebih banyak pengangguran bulan depan. Antara April hingga Juni saja 220.000 orang telah dipecat. Kanselir Rishi Sunak mengatakan pemerintah akan menjelaskan situasi ini apa adanya dan tidak akan memberikan janji nonrealistis.

Inggris merupakan salah satu negara maju yang menderita resesi terbesar akibat wabah virus corona Covid-19 pada tahun ini. Ekonominya lima kali lebih kecil dibandingkan akhir tahun lalu. Namun, resesi di Inggris tidak seburuk di Spanyol yang menderita hingga 22,7% dan lebih buruk dua kali dibandingkan Jerman.

Bank of England menyatakan daya beli masyarakat seperti makan di restoran, menonton konser, atau menonton pertandingan sepak bola merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi Inggris dibandingkan negara Eropa lain. Dengan demikian, tak heran jika Inggris menderita resesi akibat lockdown.

Pasar Saham Cemas

Pasar saham di dunia selalu ditutup dengan penuh kecemasan belakangan ini. Alasannya, Covid-19 terus menyebar, terutama di China, Jepang, Korea Selatan (Korsel), Iran, dan Singapura. Tanda gejala resesi mulai menguat karena kondisi ekonomi dunia yang kurang “sehat” setelah terpukul akibat perang dagang.

Jepang yang bersikap hati-hati sejak awal kemunculan Covid-19 pada awal tahun ini juga tak dapat menghindari dampak ekonomi yang ditimbulkan. Pergerakan saham di Jepang mengalami kemerosotan tajam akibat reaksi negatif pasar Asia terhadap dunia. Indeks Nikkei 225 turun sekitar 4,5% pada awal 2020.

 

 

China semakin berani pamerkan kekuatan militernya

China semakin berani menunjukkan kekuatan militernya dengan sejumlah negara belakangan ini, terutama di sekitar kawasan Laut China Selatan. Ternyata, hal itu terjadi lantaran kekuatan militer China yang semakin kuat.

Militer China sedang mendorong penggandaan 200 lebih hulu ledak nuklirnya dalam 1 dekade, dengan kemampuan untuk meluncurkannya bersama rudal balistik melalui darat, laut dan udara,

Pentagon melaporkan pada Selasa (1/9/2020), selain bertujuan untuk kesetaraan teknologi dengan Amerika Serikat (AS), Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) juga fokus untuk melakukan operasi bersama, bahkan berniat untuk dapat mencegah atau mengalahkan upaya AS turun tangan atas nama Taiwan.

Melansir AFP pada Selasa (1/9/2020), dikatakan bahwa PLA telah menyamai atau melampaui militer AS di beberapa bidang, termasuk pembuatan kapal, rudal balistik dan jelajah darat, serta sistem pertahanan udara.

Laporan tahunan dalam perkiraan publik pertama dari kapasitas nuklir China, disebutkan bahwa negara itu memiliki hulu ledak yang berjumlah "di bawah 200", dalam persediaan nuklirnya, kurang dari 300 atau lebih yang diperkirakan oleh analis independen.

Laporan Pentagon mengatakan jumlah hulu ledak dan nuklirnya diperkirakan akan berlipat ganda selama 10 tahun. China sudah dapat meluncurkan senjata nuklir dengan rudal balistik dari darat dan laut, dan sedang mengembangkan kapasitas untuk mengembangkan rudal balistik yang diluncurkan dari udara juga.

"Tampaknya Beijing akan berusaha mengembangkan militer pada pertengahan abad yang setara dengan, atau dalam beberapa kasus lebih unggul dari militer AS, atau kekuatan besar lainnya yang dipandang China sebagai ancaman," kata laporan itu.

Jika China mencapai tujuan itu dan AS gagal menanganinya, laporan itu mengatakan, "akan memiliki implikasi serius bagi kepentingan nasional AS dan keamanan tatanan berbasis aturan internasional."

Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa meski pun China tetap jauh di belakang AS, dalam hal hulu ledak nuklir, percepatan tersebut menunjukkan Beijing bergerak dari "postur pencegahan minimum" tradisionalnya ke persaingan penuh.

"Dikombinasikan dengan kurangnya transparansi mengenai maksud strategis mereka dan kebutuhan akan kekuatan nuklir yang jauh lebih besar dan lebih beragam, perkembangan ini menimbulkan perhatian yang signifikan bagi AS," kata Wakil Asisten Menteri Pertahanan Chad Sbragia.

Sbragia mengatakan ekspansi militer adalah bagian dari strategi keseluruhan China untuk modernisasi besar-besaran dan untuk memantapkan dirinya sebagai kekuatan global terkemuka pada 2049. China telah memperjelas bahwa mereka melihat AS berusaha mempertahankan supremasi militer secara global, dan mengatakan Washington, dengan pangkalan militer di tepi Pasifik barat dan kehadiran angkatan laut yang kuat di seluruh kawasan, adalah sumber ketegangan di Asia.

Laporan itu mencatat bahwa China sudah memiliki angkatan laut terbesar di dunia, dengan 350 kapal dan kapal selam, dibandingkan dengan 293 Angkatan Laut AS. Pentagon telah menyoroti defisit itu karena China berusaha memperluas armadanya menjadi 355 kapal.

Laporan itu juga menyoroti keunggulan China, yang tidak dibatasi oleh perjanjian senjata yang dimiliki AS dan Rusia, dalam rudal balistik yang diluncurkan dari darat. Baca juga:

Namun, AS memimpin dalam peluncuran rudal balistik kapal selam dan yang diluncurkan dari udara. Sedangkan informasi terakhir, China masih bekerja untuk melakukan pengembangan. Laporan tersebut menggambarkan China bertekad untuk memproyeksikan kekuatannya ke Pasifik timur di luar Taiwan, dan untuk menekan AS keluar dari wilayah tersebut.

Laporan itu mengatakan bahwa ketika China berusaha untuk membawa Taiwan, sekutu Washington di bawah kendalinya, Beijing mencari kemampuan untuk memenangkan kemungkinan perang dengan AS atas pulau itu.

 

Merespons China, AS siap sebar pasukannya yang saat ini terkonsentrasi di Asia Timur

Pasukan Amerika Serikat (AS) saat ini terkonsentrasi di Asia Timur Laut. Karena itu, negeri uak Sam ingin menyebar posisinya, merespons tantangan keamanan yang berkembang, termasuk dari China.

"Kami sangat terkonsentrasi di Asia Timur Laut," kata David Helvey, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk urusan Indo-Pasifik, seperti dilansir Yonhap, mengutip situs Departemen Pertahanan AS pada Senin (1/9).

"Kami ingin membuat kehadiran kami lebih tersebar secara geografis, lebih tangguh secara operasional," ujar Helvey.

"Mungkin, masa depan akan lebih sedikit tentang pangkalan dan lebih banyak tentang tempat, mampu beroperasi di berbagai lokasi, yang memberi kami fleksibilitas dan kelincahan untuk menanggapi berbagai ancaman dan tantangan yang berbeda," ungkap dia.

Komentarnya muncul ketika AS mendorong "fleksibilitas strategis" yang lebih besar untuk pasukannya yang ditempatkan di seluruh dunia. Ini di tengah spekulasi Washington bisa mempertimbangkan untuk menarik beberapa pasukannya keluar dari Korea Selatan.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper sebelumnya mengatakan, dia ingin lebih banyak menempatkan pasukan di berbagai tempat. Sebab, itu memberi AS fleksibilitas strategis yang lebih besar dalam menanggapi tantangan di seluruh dunia.

Hanya, Esper menekankan, ia belum mengeluarkan perintah untuk menarik pasukan dari Semenanjung Korea.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga menyatakan, pengurangan Pasukan AS Korea (USFK) belum dibahas antara kedua belah pihak. Saat ini, sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Korea Selatan.

Menurut Helvey, keberadaan pasukan yang fleksibel tersebut untuk memastikan AS tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk dari China.

"Salah satu kunci dalam strategi kami adalah berbicara tentang menempatkan hubungan dengan China pada lintasan transparansi dan non-agresi," kata Helvey. "Itu akan membutuhkan saluran komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan dengan China".

"Ada area lain di mana kami mungkin memiliki peluang untuk bekerjasama berdasarkan minat bersama, tetapi itu adalah sesuatu yang harus kami kerjakan dengan China untuk mengidentifikasi," imbuhnya.