• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Senin, 9 Mei 2022)

News Forex, Index & Komoditi (Senin, 9 Mei 2022)

Wall Street perpanjang kerugian, pasar khawatir Fed akan lebih agresif

Indeks-indeks utama Wall Street memperpanjang kerugian mereka pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena investor khawatir bahwa Federal Reserve (Fed) perlu lebih agresif dari yang diperkirakan dalam menaikkan suku bunganya untuk memerangi inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 98,60 poin atau 0,30 persen menjadi menetap di 32.899,37 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 23,53 poin atau 0,57 persen menjadi berakhir di 4.123,34 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 173,03 poin atau 1,40 persen menjadi ditutup di 12.144,66 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor material dan konsumen non-primer masing-masing turun 1,36 persen dan 1,31 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi dan utilitas masing-masing naik 2,91 persen dan 0,8 persen, hanya dua kelompok yang menguat.

Nasdaq yang padat teknologi mencatat penutupan terendah sejak 2020, mencatat kerugian mingguan kelima berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang sejak kuartal keempat 2012. Indeks S&P 500 juga membukukan kerugian mingguan kelima berturut-turut, rangkaian kerugian mingguan terpanjang sejak kuartal kedua 2011.

"Sembilan puluh lima persen pendorong pasar saat ini adalah suku bunga jangka panjang," kata Pendiri dan Kepala Eksekutif Infrastructure Capital Management, Jay Hatfield, di New York.

Departemen Tenaga Kerja menyajikan data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dengan angka penggajian nonpertanian (nonfarm payrolls) meningkat 428.000 pekerjaan pada April, dibandingkan ekspektasi 391.000 penambahan pekerjaan, menggarisbawahi fundamental ekonomi yang kuat meskipun ada kontraksi dalam produk domestik bruto pada kuartal pertama.

Tingkat pengangguran tetap tidak berubah di 3,6 persen dalam sebulan, sementara pendapatan rata-rata per jam meningkat 0,3 persen terhadap perkiraan kenaikan 0,4 persen.

"Minyak naik lagi, melanjutkan kekhawatiran inflasi yang kita lihat dan energi melawan tren pasar yang sangat lemah. Tapi harga gas alam dan minyak mentah yang lebih tinggi telah menjadi penarik bagi sektor energi tahun ini," kata Kepala Strategi Pasar LPL Financial, Ryan Detrick.

Saham-saham pertumbuhan megacap tergelincir, dengan beberapa pengecualian termasuk Apple Inc yang naik 0,5 persen. Wells Fargo & Co turun 0,5 persen memimpin kerugian di antara bank-bank besar.

Sebagian besar pedagang memperkirakan kenaikan 75 basis poin pada pertemuan bank sentral AS Juni, meskipun kepala Fed Jerome Powell mengesampingkan hal itu.

Semua mata tertuju pada laporan inflasi indeks harga konsumen bulanan pada Rabu (11/5/2022), karena investor mencari petunjuk apakah ekonomi mendekati puncak inflasi.

Under Armour Inc merosot 23,8 persen setelah pembuat pakaian olahraga itu memperkirakan laba fiskal tahun 2023 yang suram. Saham saingannya Nike Inc juga tergelincir.

Coinbase Global Inc turun 9,0 persen ke level terendah sejak debut pasar saham bursa uang kripto pada 2021.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 13,49 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,10 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Bursa Asia Tergelincir di Pagi Ini (9/5), Pasar Menanti Data Ekonomi China

Bursa Asia kompak melemah pada awal perdagangan hari ini. Senin (9/5), pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 anjlok 2,27 % ke 26.391,05. Serupa, indeks Taiex turun 1,01% ke 16.242,53.

Sedangkan indeks Kospi melemah 1,06% ke 2.616,36. Dan indeks ASX 200 koreksi 1,1% ke 7.126,5.

Sementara itu, FTSE Straits Times melemah tipis 0,02% ke 3.291,12 dan FTSE Malay KLCI turun 0,37% menjadi 1.558,63.

Pasar saham di Asia cenderung melemah pada perdagangan pagi ini. Pelaku pasar cenderung berhati-hati sambil menantikan rilis data perdagangan China untuk bulan April.

Data tersebut muncul ketika China terus memerangi wabah Covid-19 terburuknya sejak awal 2020, dengan Presiden China Xi Jinping pada hari Kamis menekankan agar negara itu tetap pada kebijakan "nol-Covid yang dinamis".

 “Tidak jelas seberapa cepat China akan berputar menuju hidup dengan Covid-,” kata Tapas Strickland, Ekonom National Australia Bank, menulis dalam catatan yang dikutip dari CNBC.

“Adapun data, diperkirakan akan mengambil kursi belakang mengingat penguncian/pembatasan yang ditingkatkan di banyak bagian negara,” lanjut Strickland.

Pada perdagangan awal pekan ini, pasar di Hong Kong ditutup karena libur.

Konflik Rusia-Ukraina Masih Jadi Pemicu Utama Lonjakan Komoditas Energi

Harga komoditas energi rupanya masih terus berada di level yang tinggi sepanjang tahun ini. Sentimen dari konflik Rusia - Ukraina yang belum kunjung mereda jadi katalis utama yang menjaga harga berbagai komoditas energi tetap tinggi.

Merujuk Bloomberg, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Jumat (6/5) berada di level US$ 109,77 per barel. Sepanjang April hingga Mei, tercatat harga minyak terpantau stabil bergerak menguat di atas US$ 95 per barel. Jika dihitung sejak akhir tahun 2021, harga minyak sudah berhasil menguat 45,95%.

Sementara itu, harga gas alam bahkan jauh lebih liar penguatannya. Pada Jumat (6/5), harga gas alam turun 8,43% ke US$ 8,04 per mmbtu dari US$ 8,78 per mmbtu yang menjadi level harga tertinggi. Namun, dalam sepekan harga alam masih melambung 11,03% dari US$ 7,24 per mmbtu. Sedangkan secara year to date, kenaikannya bahkan sudah menyentuh 124,58%.

Tak berbeda, harga batubara juga berada dalam tren serupa. Tercatat, harga batubara di ICE Newcastle pada Jumat (6/5) berada di level US$ 341,65 atau menguat 21,99% dalam sepekan terakhir. Sementara jika dihitung sejak akhir tahun, harga batubara berhasil naik hingga 177,43%.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menilai, tren penguatan harga komoditas energi dalam beberapa waktu terakhir merupakan imbas dari keputusan Rusia yang melakukan serangan balik dengan menghentikan ekspor gas alam, minyak, dan batubara. Hal ini menyebabkan berkurangnya pasokan secara signifikan, khususnya di negara-negara Eropa.

“Khusus untuk gas alam, terputusnya aliran pasokan gas ke Bulgaria dan Polandia telah mengakibatkan krisis energi di kawasan Eropa. Kenaikan harga gas alam pun tak bisa dihindari seiring semakin ketatnya pasokan,” kata Ibrahim ketika dihubungi Kontan.co.id.

Di saat bersamaan, produksi gas alam di Amerika Serikat juga menurun seiring dengan penyimpanan gas yang tercatat 21% lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Sementara untuk harga batubara pada akhirnya ikut mengalami kenaikan karena banyak negara yang menjadikannya sebagai substitusi dari gas alam. Sayangnya, pasokan batubara global sendiri masih terbatas, terlebih lagi dengan China yang kembali sempat menerapkan lockdown akibat kenaikan kasus Covid-19.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga komoditas energi ini juga bisa berdampak panjang karena akan memicu kenaikan inflasi yang tinggi. Dengan inflasi yang menguat, maka dolar AS akan ikut mengalami penguatan dan hal tersebut membuat harga komoditas ikut mengalami kenaikan. Hal tersebut pada akhirnya akan menghambat proses pemulihan ekonomi Eropa.

“Jadi sentimen untuk harga komoditas energi ke depan adalah kelanjutan perang Rusia - Ukraina. Selama perang berkecamuk, kecil kemungkinan harga komoditas energi bisa mengalami penurunan,” imbuh Ibrahim.

Berdasarkan perkiraan Ibrahim, selama konflik masih memanas, harga gas alam ke depan bisa menembus level US$ 9 per mmbtu. Lalu, harga minyak dunia akan bergerak melewati US$ 115 per barel, dan harga batubara bisa kembali naik ke atas US$ 350-an per ton.

Rusia Yakinkan Eropa Untuk Beli Gas dengan Rubel

Perusahaan energi milik Rusia, Gazprom PJSC mengirimkan surat kepada kliennya di Eropa bahwa mereka dapat membeli gas tanpa melanggar sanksi. Hal ini sebagai strategi Rusia agar ekspor gas tetap berjalan.

Dilansir dari Bloomberg, Minggu (8/5), perusahaan-perusahaan Eropa berusaha keras untuk mencari tahu bagaimana mereka dapat terus membeli gas setelah Moskow menuntut pembayaran dilakukan dengan rubel namun Komisi Eropa menyebut kebijakan itu melanggar ketentuan.

Dalam surat yang diperoleh Bloomberg, Gazprom mengatakan kepada kliennya bahwa pesanan baru yang diterbitkan pada 4 Mei 2022 mendatang akan memperjelas prosedur yang ditetapkan pada keputusan awal tentang pembayaran dengan rubel.

Tidak jelas apakah kebijakan baru akan cukup untuk meredakan kekhawatiran Uni Eropa. Sebab pembuatan rekening dengan rubel dan berurusan dengan bank sentral akan melanggar sanksi. Uni Eropa tidak berkomentar pada Sabtu kemarin.

Kebijakan baru menyebutkan mata uang asing yang diterima dari pembelian gas akan ditukarkan ke rubel melalui rekening di Pusat Kliring Nasional Rusia.

Gazprom memastikan transparansi arus kas dari pembeli asing dan mengecualikan kemungkinan pihak ketiga yang terlibat.

Prosedur seperti yang ditetapkan tampaknya mengecualikan peran bank sentral. Gazprom tidak segera menanggapi terkait kebijakan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pasar gas menjadi kacau ketika dia menyerukan pembayaran gas menggunakan rubel.

Polandia dan Bulgaria adalah pihak pertama yang menolak ketentuan tersebut, tetapi beberapa perusahaan Eropa terus mencari solusi yang diizinkan Komisi Uni Eropa.

Pada 22 April lalu, Uni Eropa mengeluarkan beberapa pedoman untuk menanggapi permintaan perusahaan terkait kejelasan pembayaran lebih lanjut. Rusia telah meminta perusahaan untuk membuka dua rekening dalam bentuk euro dan rubel.

Uni Eropa mengatakan, hal ini memberi terlalu banyak kekuatan ke Moskow dan melanggar sanksi terhadap bank sentral. Uni Eropa menyarankan perusahaan membayar dalam euro, dan mencari konfirmasi dari pihak Rusia bahwa transaksi berakhir di sana.

UE Menyarankan perusahaan harus tetap membayar gas Rusia dalam euro. Pada akhir April lalu, bank sentral Rusia mengeluarkan klarifikasi sendiri atas perintah asli Putin.

Bank Rusia mengatakan, jika pembeli gas memiliki itikad baik untuk membayar ke rekening mata uang asing, maka Rusia tidak akan menyetop penjualan gas bahkan jika Gazprom gagal mengubah dana tersebut menjadi rubel.

Secara terpisah, Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengumumkan mekanisme tersebut juga membatasi periode untuk mengubah euro dan dolar menjadi rubel dalam dua hari kerja.

Kebijakan ini untuk meredakan kekhawatiran UE bahwa dana mata uang asing dapat dianggap sebagai pinjaman kepada bank sentral.

Jepang Akan Melarang Impor Minyak Rusia

Jepang menegaskan akan melarang impor minyak mentah Rusia. Pada prinsipnya, ini merupakan bagian dari kampanye dari Group of Seven (G7) atawa Kelompok Tujuh untuk melawan invasi Rusia ke Ukraina.

Hal tersebut diungkapkan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, setelah pertemuan online dengan para pemimpin G7 lainnya pada Minggu (8/5).

Negara-negara G7 berkomitmen untuk melarang atau menghalangi impor minyak Rusia, menandai upaya terbaru oleh Barat guna menekan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait invasi ke Ukraina dan akibat mematikan yang terjadi.

"Untuk negara yang sangat bergantung pada impor energi, ini adalah keputusan yang sangat sulit. Tetapi koordinasi G7 paling penting pada saat seperti sekarang ini," kata Kishida, dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti dikutip dari Reuters.

Bagi Jepang, krisis Ukraina telah membuat ketergantungan energinya pada Rusia sangat membebankan, bahkan ketika Kishida telah secara blak-blakan mengkritik Rusia. Jepang telah bertindak cepat dan beriringan dengan G7 dalam menerapkan sanksi terhadap Rusia, termasuk membekukan aset oligarki.

Namun, Tokyo sejauh ini menunjukkan keinginan yang kurang untuk melakukan larangan penuh terhadap minyak dan gas Rusia. Ini terjadi karena Jepang yang miskin sumber daya bergantung pada impor untuk tetap menyalakan listrik, terutama karena menutup sebagian besar reaktor nuklirnya setelah terjadi krisis nuklir di Fukushima 2011.

Rusia adalah pemasok minyak mentah dan gas alam cair (LNG) terbesar kelima di Jepang.

“Kami berkomitmen untuk menghapus ketergantungan kami pada energi Rusia, termasuk dengan menghapus atau melarang impor minyak Rusia. Kami akan memastikan bahwa kami melakukannya secara tepat waktu dan teratur,” kata para pemimpin G7 dalam pernyataan bersama mereka.

Gagasan untuk menghapus minyak Rusia secara bertahap dapat memberi Jepang beberapa kelonggaran untuk mengurangi impor secara bertahap sambil mencari sumber energi alternatif.

Pemerintah dan perusahaan Jepang memiliki saham dalam proyek minyak dan gas alam cair (LNG) di Rusia, termasuk dua di Pulau Sakhalin di mana mitra Exxon Mobil Corp dan Shell PLC telah mengumumkan bahwa mereka akan keluar.

China Mengonfirmasi Pelaksanaan Latihan Militer di Sekitar Taiwan Akhir Pekan Lalu

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China pada hari Senin (9/5) mengumumkan telah menggelar latihan militer terbarunya pada akhir pekan lalu di sekitar wilayah Taiwan. Latihan ini mencakup wilayah laut dan udara.

Dalam laporannya disebutkan bahwa Komando Teater Timur PLA telah mengerahkan pasukan angkatan laut dan udaranya di timur dan barat daya Taiwan dari hari Jumat hingga Minggu.

Dilansir dari Reuters, PLA menjelaskan latihan tersebut ditujukan untuk menguji lebih lanjut dan meningkatkan kemampuan tempur gabungan dari berbagai layanan dan senjata.

Sebelum pengumuman ini resmi disampaikan oleh China, Angkatan Udara Taiwan pada hari Jumat memang telah mendeteksi 18 pesawat tempur China yang memasuki zona pertahanan udaranya. Inkursi militer China juga terus dilaporkan hingga dua hari berikutnya.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pihaknya telah melihat kehadiran pesawat pembom, pesawat tempur, serta pesawat anti-kapal selam dalam serangkaian latihan akhir pekan lalu.

Beberapa pesawat yang terlibat di antaranya adalah pesawat tempur J-11 dan J-16, serta pembom H-6 yang semuanya adalah produksi dalam negeri China.

Otoritas Taiwan tidak melaporkan adanya tembakan yang dilepaskan selama latihan. Pesawat tempur China pun tidak terbang di wilayah udara Taiwan.

China masih belum meninggalkan penggunaan militer sebagai cara untuk menekan Taiwan agar mau kembali ke pelukannya. Latihan militer China di sekitar Taiwan pun semakin sering terjadi setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Pada Januari lalu, 39 pesawat militer China bermanuver di sekitar wilayah Taiwan. Itu menjadi inkursi militer terbesar China di sekitar pulau tersebut. Sejak saat itu jumlah armada militer yang dikerahkan telah berkurang.

Sejalan dengan itu, Taiwan juga telah menunjukkan kesiapan militernya melalui serangkaian latihan di lepas pantai selatan dan tenggara. Taiwan juga semakin aktif memesan persenjataan dari mitra utamanya, Amerika Serikat.

Akibat China Lockdown, Laba Adidas Anjlok Hingga 38%

Laba bersih Adidas anjlok hingga 38% yoy menjadi US$ 327 juta pada kuartal I 2022. Penurunan penjualan di China menjadi penyebab anjloknya laba raksasa pakaian olahraga asal Jerman ini.

"Lingkungan pasar yang menantang di China, di mana penjualan turun 35% serta adanya gangguan rantai pasok," kata Adidas, dikutip dari CNN, Minggu (8/5).

Penurunan itu memang beralasan. Sebab, China menyumbang sekitar 20% dari total penjualan perusahaan tahun lalu. Penurunan ini sekaligus menekan prospek bisnis Adidas di China menjadi lebih suram.

Apalagi, penguncian akibat Covid-19 telah memaksa sejumlah besar toko tutup. Adidas juga mencatat penurunan lalu lintas yang kuat di beberapa bagian negara yang tidak terpengaruh secara langsung oleh pembatasan tersebut. “Pendapatan di China sekarang diperkirakan akan menurun secara signifikan pada 2022,” kata Adidas.

China memberlakukan penguncian secara ketat di Shanghai pada akhir Maret lalu menyusul lonjakan kasus virus corona. Meskipun pihak berwenang mulai mencabut beberapa pembatasan bulan lalu, lebih dari 8 juta penduduk masih dilarang meninggalkan tempat tinggal mereka.

Pembatasan di ibu kota Beijing juga telah diperketat dalam beberapa hari terakhir, dan kemungkinan akan berdampak pada merek-merek Barat pada saat ekonomi China sudah berkontraksi. Bulan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan PDB China tumbuh 4,4% tahun ini, jauh di bawah target pemerintah sekitar 5,5% .

Adidas membukukan penjualan yang kuat di pasar Barat pada kuartal pertama dan menargertkan pertumbuhan di bawah 11% -13%, atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya. Tak hanya Adidas, rival terdekatnya, Nike juga melaporkan penurunan pendapatan sebesar 5% yoy di China selama periode Desember 2021 hingga Februari 2022.

Shanghai Lanjutkan Lockdown Hingga Akhir Mei, Masyarakat Frustasi

Pihak berwenang Shanghai memperketat penguncian atau lockdown Covid-19 di seluruh kota yang mereka terapkan lebih dari sebulan lalu.

Melansir Reuters, kota yang menjadi pusat komersial berpenduduk 25 juta itu menerapkan kebijakan baru dengan tujuan menekan jumlah kasus di luar daerah menjadi nol pada paruh kedua Mei.

Sumber Reuters mengatakan, pembatasan pergerakan umumnya akan tetap diberlakukan sepanjang bulan karena kekhawatiran melonjaknya kembali kasus Covid-19 meskipun jumlah kasus telah turun.

Pihak berwenang di beberapa distrik mengeluarkan pemberitahuan yang memerintahkan masyarakat untuk kembali ke kompleks perumahan mereka setelah membiarkan mereka keluar untuk berjalan-jalan singkat atau berbelanja cepat.

Dalam sebuah video yang dibagikan secara luas di media sosial Tiongkok, polisi berjas hazmat berdebat dengan penduduk yang diberitahu bahwa mereka perlu dikarantina setelah seorang tetangga dinyatakan positif.

"Ini agar kami dapat menghapus kasus positif secara menyeluruh," kata salah satu petugas. “Berhentilah bertanya mengapa, tidak ada alasan. Kita harus mematuhi pedoman nasional.”

Reuters tidak dapat memverifikasi video tersebut secara independen. Pemerintah Shanghai tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Isolasi yang berkepanjangan dan ketakutan dikirim ke pusat karantina, telah menyebabkan rasa frustrasi yang meluas di kalangan masyarakat, bahkan pertengkaran.

Video yang diposting online minggu lalu menunjukkan lusinan pekerja di pemasok Apple dan Tesla Quanta membanjiri penjaga keamanan berbaju hazmat dan melompati gerbang pabrik untuk melarikan diri agar tidak terjebak di dalam di tengah rumor Covid-19.

Beijing 'ajaib'

Pembatasan ketat terhadap Covid-19 di Beijing, Shanghai, dan puluhan kota besar lainnya di seluruh China menyebabkan korban psikologis pada masyarakat China. Hal tersebut turut membebani ekonomi terbesar kedua di dunia dan mengganggu rantai pasokan global dan perdagangan internasional.

Langkah-langkah tersebut sangat kontras dengan sebagian besar dunia, yang saat ini tengah melonggarkan atau menghapus pembatasan Covid-19 untuk hidup dengan virus bahkan ketika infeksi menyebar.

Beijing telah menutup pusat kebugaran dan tempat hiburan, melarang layanan makan di restoran dan menutup sejumlah rute bus dan hampir 15% dari sistem kereta bawah tanahnya yang luas. Di sisi lain, banyak penduduk secara sukarela menghindari keluar.

“Ini cukup aneh,” kata seorang warga Beijing berusia 50 tahun bermarga Ding, saat dia mengambil foto jalan kosong menuju stasiun kereta bawah tanah yang ditutup. 
“Ini adalah pertama kalinya selama bertahun-tahun saya di Beijing bahwa saya melihat jalan-jalan kosong di tengah musim panas. Ini ajaib.”

Bisnis yang tetap buka tidak melihat banyak klien karena orang tidak ingin melakukan apa pun yang dapat mendekatkan mereka dengan orang yang terinfeksi dan memaksa mereka dikarantina.

“Di bagian utara dari kami adalah mal dan kantor yang telah disegel, dan aplikasi mereka mungkin menandai mereka sebagai kontak dekat jika mereka datang,” kata seorang tukang cukur bermarga Song, mengacu pada perangkat lunak pemantauan seluler yang harus digunakan semua penduduk. “Wabah ini benar-benar meresahkan semua orang.”

Dukungan untuk pengusaha

Perdana Menteri Li Keqiang dalam telekonferensi dengan pejabat tinggi lainnya berjanji pada hari Sabtu (7 Mei) untuk mendukung "sebanyak mungkin pengusaha", terutama di antara perusahaan kecil dan menengah, untuk mempertahankan orang dalam pekerjaan mereka, media pemerintah melaporkan.

Tingkat pengangguran China mencapai 5,8% pada Maret, tertinggi sejak Mei 2020. Sementara di 31 kota besar lainnya mencapai rekor 6%.

Penguncian penuh di Shanghai pada bulan April dan pembatasan yang lebih ketat di tempat lain sejak itu semakin memukul pasar tenaga kerja.

Terlepas dari biayanya, otoritas China teguh dalam komitmen mereka untuk membasmi virus corona. Pekan lalu pihak berwenang mengancam akan mengambil tindakan terhadap para kritikus kebijakan nol-Covid-19.

Pengujian rutin akan menjadi fitur kehidupan sehari-hari di banyak kota, karena para pejabat berharap dapat membantu mendeteksi dan mengisolasi infeksi cukup dini untuk menghindari penutupan massal dan pembatasan pergerakan.

Pada hari Minggu (8 Mei), penduduk mengantre untuk putaran tes lain di distrik Chaoyang, Fangshan dan Fengtai Beijing dan sebagian kecil lainnya.

Di kompleks Chaoyang yang besar, dua orang bergerak dengan pengeras suara yang membunyikan pesan berulang-ulang yang mengingatkan warga untuk diuji.

Banyak warga, meski tidak menjalani tes massal, masih harus menunjukkan hasil negatif baru-baru ini untuk bekerja atau memasuki berbagai tempat.

Shanghai, yang telah melakukan 63 juta tes PCR dan 126 juta tes antigen cepat pekan lalu, juga akan terus melakukan pemeriksaan harian, kata pejabat kota.

Shanghai dan kota-kota lain juga membangun ribuan stasiun pengujian PCR permanen.

Kasus Covid-19 harian Beijing berjumlah puluhan, jauh lebih rendah daripada Shanghai pada saat ini dalam wabahnya, ketika infeksi berada di tiga digit dan meningkat.