• Blog
  • News  Forex, Index & Komoditi (Selasa, 22 Maret 2022)

News  Forex, Index & Komoditi (Selasa, 22 Maret 2022)

Wall Street merosot setelah pernyataan Ketua Fed terkait inflasi

Saham-saham di bursa Wall Stret mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Senin (21/3/2022), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan akan mengambil langkah ketat untuk mengendalikan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 201,94 poin atau 0,58 persen menjadi 34.552,99 poin. Indeks S&P 500 turun 1,94 poin atau 0,04 persen menjadi 4.461,18. Indeks Komposit Nasdaq turun 55,38 poin, atau 0,40 persen, menjadi 13.838,46 poin.

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir dengan zona merah, di mana saham sektor konsumer turun 0,76 persen yang memimpin penurunan, sedangkan sektor energi melonjak 3,79 persen dan menjadi kelompok dengan kinerja saham terbaik.

Perusahaan China yang terdaftar di AS diperdagangkan lebih rendah di mana 10 saham teratas menurut bobot pada indeks S&P AS.

Pada pertemuan dengan Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional AS, Powell mengatakan bahwa inflasi sudah terlalu tinggi dan The Fed akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kembalinya stabilitas harga.

“Jika menyimpulkan untuk bergerak lebih agresif dengan menaikkan suku bunga dana Federal lebih dari 25 basis poin, maka kami akan melakukannya. Dan, jika kami memutuskan perlu melakukan pengetatan di luar tindakan netral yang umum dan menjadi sikap yang lebih membatasi, kami akan melakukannya juga”, katanya seperti dikutip Xinhua.

Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2018 karena berupaya menjinakkan inflasi AS tertinggi dalam empat dekade.​​​​​​​

Sementara pada perdagangan Jumat (18/3), indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 5,5 persen dan 6,2 persen, sedangkan indeks Nasdaq melonjak 8,2 persen

Bursa Asia: Nikkei Naik Lebih 1%, Powell Bersumpah Ambil Langkah Tegas Atas Inflasi

Bursa saham Asia-Pasifik naik pada perdagangan Selasa (22/3) pagi. Investor mengamati reaksi pasar terhadap komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang bersumpah akan mengambil tindakan tegas terhadap inflasi.

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,23% pada awal perdagangan dan indeks Topix naik 1,14%.

Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,32%. Di Australia, S&P/ASX 200 naik sekitar 1% pada perdagangan pagi.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan 0,15% lebih tinggi.

Investor akan mengamati saham China Eastern Airlines di Hong Kong, setelah jet penumpang Boeing 737 milik maskapai itu jatuh di China selatan pada Senin.

Sebelumnya, Ketua Fed Powell mengatakan bahwa inflasi "terlalu tinggi," dengan bank sentral akan "mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kembalinya stabilitas harga."

"Secara khusus, jika kami menyimpulkan bahwa pantas untuk bergerak lebih agresif dengan menaikkan suku bunga dana federal lebih dari 25 basis poin pada pertemuan atau rapat, kami akan melakukannya," kata Powell.

Komentar itu muncul kurang dari seminggu setelah bank sentral menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya lebih dari tiga tahun.

Pesan Powell “tidak bisa lebih jelas,” menurut Ray Attrill dari National Australia Bank.

"Fed Funds berjangka AS sekarang memiliki 42bps pengetatan harga untuk Mei naik dari 3,5bps pada penutupan Jumat, dan 80bps selama pertemuan Mei-Juni gabungan, jadi sekarang menggoda dengan gagasan back-to-back kenaikan 50 poin,"kata Attrill.

Semalam, Wall Street berakhir merosot dengan S&P 500 sedikit lebih rendah di 4.461,18 dan Dow Jones Industrial Average tergelincir 201,94 poin menjadi 34.552,99. Nasdaq Composite turun 0,4% menjadi 13.838,46.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 98,486 — masih di bawah level di bawah 98 yang terlihat minggu lalu.

Yen Jepang diperdagangkan pada 119,66 per dolar, lebih lemah dari level di bawah 118,3 yang terlihat terhadap greenback minggu lalu. Dolar Australia berada di $0,7393, sebagian besar mempertahankan kenaikan menyusul kenaikannya dari bawah $0,72 minggu lalu.

Biden Yakin Rusia Masih Mempertimbangkan Penggunaan Senjata Kimia di Ukraina

Presiden AS Joe Biden meyakini bahwa Rusia masih mempertimbangkan penggunaan senjata kimia di Ukraina. Tuduhan Rusia bahwa Ukraina memiliki senjata biologis dan kimia disebut hanyalah pembenaran.

Presiden Rusia Vladimir Putin memang beberapa kali menuduh AS memiliki senjata biologis dan kimia di Ukraina. Rusia bahkan mengklaim memiliki bukti bahwa AS dan Ukraina telah berusaha memusnahkan materialnya begitu Rusia memulai invasi.

Menurut Biden, tuduhan tersebut tidak berdasar dan hanya akan menjadi pembenaran atas keputusan Rusia jika nantinya mereka menggunakan senjata seperti itu.

"Mereka (Rusia) menyebut bahwa Ukraina memiliki senjata biologi dan kimia di Ukraina. Itu tanda yang jelas dia mempertimbangkan untuk menggunakan keduanya," kata Biden, seperti dikutip Reuters.

Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina, tanpa memberikan bukti, sedang merencanakan serangan kimia terhadap rakyatnya sendiri. Setelahnya, Ukraina disebut akan menuduh Rusia sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Kecurigaan terus dilemparkan kedua belah pihak tanpa menunjukkan bukti yang jelas sejak invasi Rusia dimulai pada 24 Februari lalu.

Invasi Rusia, atau disebut Putin sebagai operasi militer khusus untuk melucuti senjata Ukraina, saat ini sudah mulai mereda dan berhenti di beberapa titik. Pasukan Rusia masih gagal merebut kota besar meskipun berhasil menyebabkan kehancuran besar-besaran di daerah pemukiman.

Kota Mariupol adalah salah satu target utama Rusia untuk dikuasai. Hingga hari Senin (21/3), Ukraina masih menolak untuk menyerahkan kota Mariupol kepada Rusia meski kota itu terancam menghadapi bencana kemanusiaan parah.

Mariupol telah merasakan beberapa pemboman terberat sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari lalu. Mengutip Reuters, lebih dari 300.000 penduduknya kini terjebak di kota tersebut dalam kondisi kekurangan makanan, air, dan listrik.

Diperkirakan 90% bangunan kota telah rusak atau hancur. Pihak berwenang mengatakan setidaknya 2.500 orang telah tewas. Jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi.

Situasi Terkini Ekonomi Rusia usai Serang Ukraina, Resesi?

 Harga-harga barang di Rusia mulai dilaporkan mengalami kenaikan cukup tajam. Hal ini terjadi pasca sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat setelah Moskow meluncurkan serangan ke Ukraina hampir sebulan yang lalu.

Kenaikan mulai dilaporkan di beberapa barang seperti pangan. Al Jazeera memberitakan hal ini dikarenakan gangguan rantai pasok barang-barang impor ke negara itu, di mana Rusia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Selain itu, turunnya nilai mata uang ruble juga menjadi alasan kenaikan ini. Sebelumnya satu dollar Amerika Serikat (AS) bernilai 75 ruble namun saat ini menjadi 100 ruble.

"Manisan sebelumnya dijual dengan harga 70 ruble, sekarang 100. Ini juga terjadi di beberapa pasokan seperti ayam," ujar salah satu warga Rusia yang berbelanja di pasar Moskow, dikutip Senin, (21/3/2022).

Tak hanya pangan, alat-alat berat seperti onderdil kendaraan dan juga peralatan industri lainnya mengalami kelangkaan akibat sanksi yang melarang ekspor ke negara itu. Sebelum sanksi, Rusia diketahui mengimpor 81% alat-alat industrinya.

Bahkan di sektor seperti komunikasi, Negeri Beruang Putih itu mengimpor hampir 86% peralatannya dari luar negeri, utamanya negara Barat. Di sektor perbankan, industri keuangan negara itu menggantungkan 90% operasinya pada teknologi Barat.

"Ambisi Rusia mulai menunjukkan hal yang tidak realistis karena ekonominya yang kecil tidak mampu mendorongnya untuk memproduksi alat-alat teknologi tinggi yang kompleks," terang spesialis ekonomi Rusia di German Institute for International dan Security Affairs kepada Wall Street Journal.

Sebelumnya, pelemahan ekonomi Rusia, sudah diprediksi sejumlah pihak. Ini karena sanksi yang diberikan karena serangan ke Ukraina 24 Februari.

Goldman Sachs telah menaikkan perkiraan akhir tahun untuk inflasi Rusia menjadi 17% (yoy) dari proyeksi sebelumnya 5%. CBR, bank sentral. mungkin dipaksa untuk menaikkan suku bunga lebih banyak guna menjaga stabilitas.

Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan akan terpukul parah. Raksasa Wall Street memangkas perkiraan PDB 2022 dari ekspansi 2% menjadi kontraksi alias minus 7% (yoy).

Hal sama juga diramal JP Morgan. Di kuartal kedua (Q2) 2022 ini, negeri Presiden Vladimir Putin diyakini akan mengalami negatif 35% di Q2 ini.

"Sanksi dan keputusan bisnis asing untuk menghentikan sementara atau menghentikan operasi Rusia telah menyebabkan kemacetan dalam perdagangan internasional, pengurangan output, dan gangguan rantai pasokan," tulis ahli strategi JPMorgan Anatoliy Shal dalam sebuah catatan untuk klien berjudul "Rusia: Berhenti tiba-tiba", dikutip CNBC International.

"Kejutan menyiratkan potensi output yang lebih rendah, yang akan disertai dengan lonjakan harga. Krisis kredit akan menambah rasa sakit, meskipun ada tanda-tanda bahwa penurunan di bank berkurang."

Meski Terkepung, Ukraina Tolak Seruan Rusia untuk Serahkan Kota Mariupol

Ukraina pada Senin (21/3) menolak seruan Rusia untuk menyerahkan kota pelabuhan Mariupol, di mana penduduk dikepung dengan sedikit makanan, air, dan listrik.

"Tidak ada pertanyaan tentang penyerahan, peletakan senjata," tulis portal berita Ukrainska Pravda mengutip pernyataan Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk pada Senin pagi.

"Kami telah memberi tahu pihak Rusia tentang ini," ungkap Vereshchuk, seperti dilansir Reuters.

Rusia sebelumnya meminta pasukan Ukraina di Mariupol untuk meletakkan senjata mereka, dengan mengatakan, "bencana kemanusiaan yang mengerikan" sedang berlangsung.

Hanya, Rusia menjamin perjalanan penduduk yang aman ke luar kota dan koridor kemanusiaan akan mereka buka mulai pukul 10 pagi waktu Moskow pada Senin.

Mariupol telah mengalami beberapa pemboman terberat sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari. Banyak dari 400.000 penduduknya tetap terjebak dengan sedikit makanan, air, dan listrik.

Pertempuran berlanjut di dalam kota pada Minggu, Gubernur Mariupol Pavlo Kyrylenko mengungkapkan, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Vereshchuk mengatakan, lebih dari 7.000 orang dievakuasi dari kota-kota Ukraina melalui koridor kemanusiaan pada Minggu, lebih dari setengahnya dari Mariupol.

Pemerintah Ukraina akan mengirim hampir 50 bus ke Mariupol pada Senin untuk evakuasi lebih lanjut.

Rusia dan Ukraina telah membuat kesepakatan koridor kemanusiaan untuk mengevakuasi warga sipil, tetapi saling menuduh sering melakukan pelanggaran terhadapnya.

Slovakia Mulai Terima Sistem Pertahanan Udara Patriot dari NATO, Siap Bantu Ukraina

Bantuan sistem pertahanan udara Patriot yang dijanjikan NATO akhirnya tiba di Slovakia pada hari Minggu (20/3). Menteri Pertahanan Slovakia memastikan akan pengerahan Patriot akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Mengutip Reuters, sistem pertahanan udara ini akan dioperasikan oleh pasukan Jerman dan Belanda. Unit pertama ini akan dikerahkan di bandara Sliac, Slovakia, untuk membantu pertahanan sayap timur NATO.

"Saya dengan senang hati mengonfirmasi bahwa unit pertama yang bertugas menyebarkan sistem pertahanan udara Patriot secara bertahap tiba di Slovakia," kata Menteri Pertahanan Jaroslav Nad melalui Facebook.

Lebih lanjut, Nad memastikan bahwa sistem Patriot akan menjadi pelengkap sistem S-300 yang sudah digunakan Slovakia sejak era Uni Soviet.

Melalui pernyataan resminya, Nad juga mengatakan titik penempatan Patriot lainnya sedang dikonsultasikan. Pemerintah akan memastikan jangkauannya mampu melindungi sebagian besar wilayah Slovakia dari ancaman rudal Rusia.

Datangnya sistem pertahanan udara Patriot ini merupakan langkah lanjutan dari janji Slovakia untuk menyediakan S-300 ke Ukraina jika telah mendapatkan penggantinya.

"Kami telah berdiskusi dengan AS, Ukraina, dan juga sekutu lainnya tentang kemungkinan untuk menyebarkan, mengirim, atau memberikan S-300 ke Ukraina dan kami bersedia untuk melakukannya. Kami bersedia melakukannya segera ketika kami memiliki pengganti yang tepat," kata Nad pada hari Kamis (17/3).

Sistem Patriot yang diterima Slovakia ini akan menjadi bagian dari kelompok pertempuran baru NATO di Slovakia. Ini juga menjadi langkah pencegahan NATO karena Slovakia berbatasan langsung dengan Ukraina di bagian Timur.

Slovakia sedang berupaya menggantikan sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia yang mulai menua. Selain itu, Slovakia juga berusaha mengurangi ketergantungannya pada Rusia.

China Relaksasi Aturan Pajak untuk Percepat Pemulihan Ekonomi

Pemerintah China akan melakukan relaksasi pajak sebagai upaya untuk mempercepat pemulihan ekonominya. Pajak penghasilan untuk perusahaan kecil rencananya akan dipangkas dari semula 25% menjadi 20%.

Sementara rencana ujicoba penerapan pajak properti yang lebih luas juga akan ditunda karena kebijakan itu dikhawatirkan akan membuat pasar properti sebagai mesin pertumbuhan ekonomi semakin merosot.

"Perusahaan kecil akan dikenakan pajak penghasilan yang lebih rendah sejak awal 2022 hingga akhir 2024," kata Kementerian Keuangan China, dikutip dari Reuters, Sabtu (19/3).

Untuk memperoleh keringanan tersebut, ada beberapa syarat yang harus mereka penuhi. Diantaranya, penghasilan yang kena pajak tahunan tidak boleh melebihi 3 juta yuan dengan aset di bawah 50 juta yuan. Lalu perusahaan hanya memiliki kurang dari 300 karyawan.

Perdana Menteri China Li Keqiang telah berjanji untuk memberikan pemotongan pajak dan potongan harga sebesar 2,5 triliun yuan tahun ini untuk membantu meredam perlambatan ekonomi.

Seperti diketahui, perusahaan di China menyumbang kontribusi besar bagi negara ini. Tercatat 80% pekerjaan perkotaan berasal dari perusahaan - perusahaan kecil.

Sementara terkait uji coba pajak properti sudah mendapat lampu hijau dari Badan legislatif tertinggi China pada Oktober lalu. Shanghai dan Chongqing memperkenalkan retribusi pada pemilik rumah tertentu pada tahun 2011.

Beberapa kota sudah mulai melakukan studi awal menjelang rencana ekspansi. Kota tenggara Xiamen menyebutkan pekerjaan persiapan untuk pajak baru dalam bahan dari biro statistik yang dirilis pada akhir Januari.

Tetapi Kementerian Keuangan mengatakan, rencana uji coba itu belum memiliki timing yang tepat tahun ini.

Stabilitas ekonomi merupakan prioritas utama pemerintah menjelang kongres Partai Komunis dua kali satu dekade yang akan digelar pada musim gugur ini. Itu merupakan momentum bagi Presiden Xi Jinping untuk mengamankan masa jabatan memimpin partai Komunis untuk periode ketiga lima tahunan.

Namun, keputusan itu juga akan menunda langkah reformasi yang dimaksudkan untuk memajukan program kemakmuran bersama untuk mengurangi ketidaksetaraan.

Pasar kondominium China sebetulnya telah terhenti saat pemerintah memberlakukan pembatasan ketat pada pinjaman properti. Harga rata-rata kondominium baru di 70 kota besar turun dari bulan ke bulan selama enam bulan berturut-turut hingga Februari.

Pajak properti selanjutnya dapat menekan permintaan, memperlambat pembangunan perumahan dan membebani perekonomian.

Iran Targetkan Ekspor Minyak Mentah 1,4 Juta Barel Per Hari

Menteri Perminyakan Iran Javad Owji mengatakan Iran akan meningkatkan ekspor minyak menjadi 1,4 juta barel per hari sebagaimana ditetapkan dalam anggaran negara tahunan.

"Di parlemen, anggota parlemen memutuskan untuk menaikkan pagu ekspor minyak dan kondensat dari 1,2 juta barel (per hari) menjadi 1,4 juta barel," kata Owji, dikutip dari Reuters, Minggu (20/3).

Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan segala upaya untuk meningkatkan ekspor tersebut sesuai yang ditetapkan dalam anggaran. Seperti diketahui, Iran tengah menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS) atas ekspor minyak mentahnya.

Owji mengatakan kementerian berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak mentah dan kondensat menjadi 5,7 juta barel per hari dari sekitar 3,7-4 juta barel per hari, tanpa mengungkapkan bagaimana skemanya.

Pada akhir 2020, Iran meluncurkan rencana ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi lebih dari 6,5 juta barel per hari pada tahun 2040. Tetapi para analis percaya itu tidak realistis.

Konsultan minyak dan gas, FGE mengatakan produksi Iran melebihi 4 juta barel per hari pada tahun 2025, mencapai sekitar 5 juta barel per hari sebelum mulai turun pada tahun 2037.

Rusia Punya Cadangan Emas Senilai US$ 140 Miliar, Tetapi Tidak Ada Yang Mau Membeli

Seperti harga minyak mentah, harga emas telah naik secara liar sejak Rusia memulai invasi ke Ukraina.

Melansir Business Insider, Rusia memiliki cadangan emas terbesar di dunia. Jumlahnya sekitar 2.300 ton, senilai hampir US$ 140 miliar.

Cadangan besar logam mulia dibangun selama satu setengah dekade terakhir, dan dimaksudkan untuk menjadi semacam polis asuransi ekonomi bagi negara itu.

Akan tetapi, seperti halnya minyak, sanksi membuat Rusia sangat sulit untuk benar-benar menyadari nilai kepemilikannya.

"Inilah mengapa mereka membeli emas mereka, untuk situasi seperti ini," dosen Fakultas Bisnis Universitas Cork Fergal O'Connor mengatakan kepada Bloomberg. "Tapi jika tidak ada yang mau menukarnya denganmu, itu tidak masalah."

Pekan lalu, pasar emas London - pusat terpenting di dunia untuk emas batangan - melarang semua transaksi batangan dari Rusia. Hal itu secara efektif menutupnya dari perdagangan global.

Senat AS mengikuti langkah itu dengan merilis undang-undang baru yang akan melarang warga AS melakukan transaksi apa pun yang melibatkan emas Rusia.

"Pasokan emas besar-besaran Rusia adalah salah satu dari sedikit aset yang tersisa yang dapat digunakan Putin untuk menjaga ekonomi negaranya agar tidak jatuh lebih jauh," kata Senator Maine Angus King dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan, "Dengan menyetujui cadangan ini, kami selanjutnya akan mengisolasi Rusia dari ekonomi dunia dan meningkatkan kesulitan kampanye militer Putin yang semakin mahal."

Jika mata uang terus turun relatif terhadap dolar AS, ahli strategi Credit Suisse Zoltan Pozsar mengatakan kepada Bloomberg bahwa negara tersebut dapat menggunakan persediaan untuk secara efektif kembali ke standar emas, menggunakannya sebagai "jangkar" dengan menjualnya pada harga tetap dengan mata uang rubel.

Warga Rusia borong emas

Mengutip Bloomberg, warga Rusia membeli lebih banyak emas untuk melindungi tabungan mereka setelah invasi Vladimir Putin ke Ukraina memicu jatuhnya rubel. Selain itu, pembatasan baru membuat warga Rusia lebih sulit untuk membeli mata uang asing atau mengambil uang saat berada di luar negeri.

Meningkatnya permintaan rumah tangga untuk emas fisik mendorong Bank of Russia untuk menghentikan permintaan pembelian dari bank demi memastikan ada cukup pasokan untuk pembeli lokal.

Menurut bank sentral, di sisi lain, penghapusan pajak pertambahan nilai 20% untuk pembelian logam mulia ini juga mendorong transaksi.

Kim Jong Un Disebut Tolak Permintaan Putin untuk Bantuan Militer di Ukraina

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan telah menolak permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait bantuan militer di Ukraina.

Mengutip Mirror, dugaan ini muncul seiring invasi Rusia ke Ukraina mengalami stagnasi. Bahkan Putin yang marah besar tengah mempertimbangkan untuk melakukan 'rencana B'.

Rusia mengklaim telah mengamankan seluruh Oblast Kherson (wilayah) setelah pertama kali merebut kota itu dua minggu lalu.

Namun para pemain bertahan Ukraina tetap menantang dan terus mencetak kemenangan taktis di lapangan.

Laporan yang muncul menunjukkan, Rusia telah kehilangan hingga 13.500 tentara dalam konflik, bersama dengan sejumlah aset perangkat keras.

The Express melaporkan, situasi dan posisi tersebut telah memaksa Moskow untuk menjangkau teman-temannya di luar negeri.

Dikabarkan, Rusia diduga meminta bantuan keuangan dan militer China dalam perang yang sedang berlangsung di Ukraina.

Tetapi China telah membantah hal ini.

Rusia yang meminta bantuan Korea Utara seharusnya bukan hal yang  mengejutkan, di mana Pyongyang secara historis menjadi sekutu utama Moskow melalui hubungan historisnya dengan era Komunis uni soviet.

Namun, menurut penulis XSoviet-News Sarah Hurst, Kim dengan cepat menolak bantuan Putin.

Dalam postingannya di Twitter dia mengklaim: “Rusia dilaporkan meminta bantuan Korea Utara dengan invasi yang gagal. Korea Utara menjawab, 'Kamu terlalu gila untuk kami'."

Laporan ini belum diverifikasi oleh sumber lain.

Meskipun kurangnya bantuan secara aktif, diktator Korea Utara Kim Jong-un sebelumnya secara terbuka mendukung Presiden Vladimir Putin atas tindakannya di Ukraina.

Dalam pernyataan resmi pertamanya tentang serangan Rusia, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Barat bersalah atas "penyalahgunaan kekuasaan".

Duta Besar Korea Utara untuk PBB mengatakan, AS dan sekutunya adalah akar penyebab krisis di Ukraina, setelah mengabaikan tuntutan keamanan Rusia yang "masuk akal dan adil".

Kim Song, diplomat Korea Utara, mengkritik "kebijakan hegemonik" AS dan Barat yang menurutnya mengancam keamanan dan integritas teritorial negara-negara berdaulat.

Berbicara pada pertemuan Majelis Umum PBB, Kim mengatakan: "Bahaya terbesar yang dihadapi dunia sekarang adalah kesewenang-wenangan. Dan kesewenang-wenangan Amerika Serikat dan para pengikutnya telah mengguncang perdamaian dan stabilitas internasional."

Minta bantuan China

Sebelumnya, mengutip The Straits Times, Rusia juga dikabarkan tengah merayu China untuk bisa mendapatkan bantuan militer dan ekonomi. Gempuran sanksi yang diterima tampaknya membuat Rusia mulai kesulitan.

Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat tinggi AS yang berbicara secara anonim ini. Sayangnya, kepada New York Times, dia belum bisa menjelaskan lebih lanjut jenis peralatan militer yang dibutuhkan Rusia. Ia juga belum bisa memastikan bagaimana respons China atas permintaan tersebut.

Juru bicara kedutaan besar China di Washington, Liu Pengyu, mengaku belum pernah mendengar kabar apa pun tentang permintaan bantuan militer dan ekonomi dari Rusia.

Liu menegaskan bahwa sikap China saat ini adalah mendukung segala upaya yang mengarah pada penyelesaian krisis secara damai.

"China melihat di Ukraina saat ini membingungkan. Kami mendukung dan mendorong semua upaya yang kondusif untuk penyelesaian krisis secara damai," ungkap Liu, seperti dikutip The Straits Times.

Houthi Serang Fasilitas Saudi Aramco, Produksi Kilang Alami Penurunan

Kelompok Houthi Yaman menembakkan rudal dan pesawat tak berawak ke fasilitas energi Arab Saudi, menyebabkan penurunan sementara produksi di kilang tetapi tidak ada korban.

Serangan drone menghantam terminal distribusi produk minyak bumi di wilayah Jizan, fasilitas gas alam dan kilang Yasref di Yanbu, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan Minggu (20/3).

"Serangan terhadap fasilitas Yasref telah menyebabkan pengurangan sementara dalam produksi kilang, yang akan dikompensasikan dari cadangan," kata Kementerian Energi Arab Saudi, seperti dikutip Reuters.

Fasilitas Yasref merujuk pada Yanbu Aramco Sinopec Refining Company, perusahaan patungan antara Saudi Aramco dan China Petrochemical Corporation (Sinopec ).

CEO Saudi Aramco Amin Nasser kepada Reuters melalui sambungan telepon memastikan, pendapatan perusahaan dan pasokan ke pelanggan tidak ada terdampak dari serangan tersebut.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang telah memerangi Houthi di Yaman selama tujuh tahun mengatakan, serangan pada Sabtu (19/3) malam dan Minggu (20/3) pagi juga menargetkan pabrik desalinasi air di Al-Shaqeeq, pembangkit listrik di Dhahran al Janub, dan fasilitas gas di Khamis Mushait.

Kemudian pada Minggu, fasilitas distribusi Saudi Aramco lainnya di Kota Jeddah diserang, yang menyebabkan kebakaran di salah satu tangki, menurut koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Api bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan korban.

Juru bicara militer Houthi Yahya Sarea mengungkapkan, kelompoknya telah menembakkan rudal balistik dan bersayap serta pesawat tak berawak ke fasilitas Saudi Aramco di Kota Riyadh, Yanbu, dan "daerah lain", diikuti dengan serangan terhadap "target vital" di wilayah Arab Saudi lainnya.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyebutkan, penyelidikan awal menunjukkan, Houthi menggunakan rudal jelajah buatan Iran untuk menyerang pabrik desalinasi dan pusat distribusi milik Saudi Aramco.

Hanya, sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat sembilan rudal balistik dan drone.