• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Jum’at, 18 Maret 2022)

News Forex, Index & Komoditi (Jum’at, 18 Maret 2022)

Wall St naik setelah keputusan Fed, kekhawatiran "default" Rusia reda

Tiga indeks utama Wall Street naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena investor mempertimbangkan kenaikan suku bunga Federal Reserve dan kekhawatiran tentang kemungkinan gagal bayar obligasi Rusia mereda setelah kreditur menerima pembayaran.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 417,66 poin atau 1,23 persen, menjadi menetap di 34.480,76 poin. Indeks S&P 500 menguat 53,81 poin atau 1,23 persen, menjadi berakhir di 4.411,67 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 178,23 poin atau 1,33 persen, menjadi ditutup di 13.614,78 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi dan material masing-masing meningkat 3,48 persen dan 1,95 persen, memimpin kenaikan.

Investor diyakinkan bahwa Rusia mungkin, telah menghindari apa yang akan menjadi default obligasi eksternal pertama dalam satu abad. Ini karena kreditur menerima pembayaran, dalam dolar, kupon obligasi Rusia yang jatuh tempo minggu ini, dua sumber pasar mengatakan kepada Reuters, Kamis (17/3/2022).

Indeks S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq mencatatkan persentase kenaikan tiga sesi terbesar sejak awal November 2020 setelah laporan tersebut meningkatkan selera risiko di pasar yang sudah diuntungkan dari perburuan saham murah. S&P 500 juga menyaksikan kenaikan hari ketiga berturut-turut lebih dari satu persen.

The Fed telah menaikkan suku bunga seperempat poin persentase pada Rabu (16/3/2022) untuk pertama kalinya sejak 2018 karena berusaha untuk mengendalikan inflasi AS tertinggi dalam empat dekade dan memperkirakan rencana agresif untuk kenaikan lebih lanjut sementara pembuat kebijakan juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022.

Bank sentral AS memutuskan menaikkan suku bunga dana Fed sebesar seperempat poin persentase dan "mengantisipasi kenaikan berkelanjutan dalam kisaran target akan sesuai," kata Fed dalam sebuah pernyataan.

Berita pembayaran obligasi Rusia mendorong saham lebih tinggi, menurut Michael James, direktur pelaksana perdagangan ekuitas di Wedbush Securities.

"Masyarakat sudah lebih nyaman dengan fakta yang semakin tinggi. Ini sudah dibicarakan oleh Ketua (Jerome) Powell sejak awal Desember," katanya.

"Fakta bahwa tidak ada kejutan negatif yang signifikan dalam rencana Fed yang keluar dari pertemuan itu, dan komentar Powell, memberi orang perasaan bahwa mungkin kita telah melihat seburuk yang akan terjadi dalam waktu dekat."

Menggambarkan rencana Fed sebagai dovish, Phil Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management di New York juga mengatakan kelanjutan pembicaraan damai Rusia, Ukraina membantu sentimen.

"Apa yang anda lihat hari ini hanyalah sebagai efek limpahan hari kemarin," kata Blancato. "Ada potensi resolusi untuk konflik di luar negeri, efek positif dari Federal Reserve dan saham pada titik masuk yang sangat adil, memberikan peluang untuk menambah risiko."

Pejabat Rusia dan Ukraina bertemu lagi pada Kamis (17/3/2022) untuk pembicaraan damai, tetapi mengatakan posisi mereka berjauhan.

Sebelumnya pada Kamis (17/3/2022) , data menunjukkan klaim pengangguran mingguan turun pekan lalu karena permintaan tenaga kerja tetap kuat, memposisikan ekonomi untuk satu bulan lagi dari kenaikan pekerjaan yang solid.

Di bursa AS, 12,88 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 20 hari sebesar 14,18 miliar.

S&P pangkas peringkat Rusia menjadi 'CC' karena risiko "default" utang

Lembaga pemeringkat S&P pada Kamis (17/3/2022) menurunkan peringkat Rusia menjadi 'CC' dari 'CCC-', karena negara tersebut melaporkan kesulitan memenuhi pembayaran utang Eurobonds denominasi dolar 2023 dan 2043.

Kesulitan pembayaran Rusia berasal dari sanksi internasional atas invasi Moskow ke Ukraina, kata lembaga pemeringkat. Sanksi tersebut telah mengurangi cadangan devisa negara yang tersedia dan membatasi aksesnya ke sistem keuangan global.

"Meskipun pernyataan publik oleh Kementerian Keuangan Rusia menunjukkan kepada kami bahwa pemerintah saat ini masih berusaha untuk mentransfer pembayaran kepada pemegang obligasi, kami berpikir bahwa pembayaran utang Eurobond Rusia yang jatuh tempo dalam beberapa minggu ke depan mungkin menghadapi kesulitan teknis yang sama," kata agensi.

Lembaga serupa Fitch dan Moody's juga menyebutkan kekhawatiran tentang kemampuan Rusia untuk memenuhi kewajiban utangnya ketika memotong peringkat negara itu beberapa tingkat pada awal Maret.

Fitch mengatakan pada Selasa (15/3/2022) peringkat Rusia akan diturunkan lebih lanjut menjadi "default terbatas" jika pembayaran kupon tidak dilakukan dalam dolar AS, sesuai dengan persyaratan asli, pada akhir masa tenggang 30 hari.

Obligasi Rusia melayang pada tingkat yang sangat tertekan dalam perdagangan yang sangat tidak likuid, dengan sebagian besar penerbitan diperdagangkan kurang dari beberapa kali sehari, menurut data Refinitiv.

Menambah masalah utang Moskow, pengecualian yang saat ini memungkinkan warga atau penduduk AS untuk menerima pembayaran utang dan ekuitas Rusia akan habis pada 25 Mei.

Setelah tenggat waktu pembebasan sanksi dan hingga akhir tahun, Rusia akan membayar hampir 2 miliar dolar AS lebih banyak untuk obligasi negara eksternalnya.

Beberapa kreditur telah menerima pembayaran, dalam dolar, kupon obligasi Rusia yang jatuh tempo minggu ini, dua sumber pasar mengatakan kepada Reuters, Kamis (17/3/2022). Beberapa kreditur lain mengatakan mereka belum menerima dana mereka tetapi optimis mereka sedang dalam perjalanan, menurut laporan itu.

69% Perusahaan Jepang Merasakan Langsung Dampak Perang Ukraina

Jajak pendapat terbaru dari Reuters menunjukkan hampir 70% perusahaan Jepang merasakan dampak langsung dari perang Ukraina. Mayoritas menyebut lonjakan harga minyak sebagai halangan utama.

Kondisi ini diprediksi akan terjadi cukup lama, bahkan memakan lebih banyak perusahaan. Survei memperkirakan bahwa perusahaan Jepang yang miskin sumber daya akan merasakan dampak paling serius.

Pelemahan nilai Yen diprediksi akan semakin menambah biaya komoditas dan menumpuk lebih banyak tekanan pada rumah tangga.

Menurut Survei Reuters Corporate, sebanyak 69% perusahaan yang disurvei mengatakan mereka memperkirakan krisis akan memukul pendapatan mereka. Sementara itu, 9% di antaranya bahkan memperkirakan adanya dampak yang lebih besar di kemudian hari.

Sekitar 240 perusahaan menanggapi dengan syarat anonim.

Dari perusahaan yang khawatir tentang dampak dari krisis Ukraina, 63% memilih lonjakan harga minyak sebagai kekhawatiran utama. Sementara 15% lainnya menyebutkan gangguan rantai pasokan sebagai masalah utama.

Mengenai pertanyaan seputar bidang mana yang sebaiknya menjadi fokus pemerintah, 63% perusahaan memilih upaya untuk melawan energi dan kenaikan harga yang lebih luas, 50% memilih strategi pertumbuhan ekonomi, dan 43% memilih langkah-langkah menangani Covid-19.

Para pemilik usaha menyadari betul dampak krisis akibat perang Ukraina. Mereka melihat adanya potensi kenaikan harga di masa depan yang membuat konsumen memilih produk yang lebih murah.

Bukan hanya itu, pekerja pembuat mesin juga mengeluhkan tingginya biaya bahan baku serta fluktuasi mata uang yang terus terjadi.

Ancaman berkurangnya pasokan minyak dari Rusia membuat harga minyak naik di atas US$ 100 per barel, level yang belum pernah dicapai hampir dalam satu dekade. Kenaikan harga minyak ini juga diikuti naiknya harga komoditas lain dari logam hingga biji-bijian.

Di saat yang sama, nilai Yen juga jatuh ke level terendahnya terhadap Dolar dalam lima tahun.

Dikutip dari Kyodo, pemerintahan Perdana Menteri Fumio Kishisa pada hari Rabu (16/3) sedang mempertimbangkan untuk menyusun paket stimulus ekonomi baru untuk membantu meringankan beban biaya energi yang tinggi.

Melalui program terpisah, pemerintah Jepang juga sedang mempertimbangkan pemberian subsidi bensin untuk distributor minyak ke batas atas demi meringankan biaya produksi.

Putin: Rakyat Rusia yang Mendukung Barat Adalah Sampah dan Pengkhianat

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Rabu (16/3) dengan tegas mengecam warganya yang memberikan dukungan kepada negara-negara Barat. Putin menyebut mereka sampah dan pengkhianat.

Putin mengklaim bahwa Barat sedang mencoba untuk menolak segala hal tentang Rusia. Menurutnya, semua warga Rusia yang mendukung Barat perlu disingkirkan dari masyarakat.

"Rakyat Rusia akan selalu dapat membedakan patriot sejati dari sampah dan pengkhianat, dan dapat memuntahkannya seperti lalat yang secara tidak sengaja terbang ke mulut mereka," kata Putin dalam pidatonya, seperti dikutip New York Times.

Lebih lanjut, Putin yakin bahwa memurnikan masyarakat dari orang-orang seperti itu akan memperkuat negara, solidaritas, kohesi, dan kesiapan untuk menanggapi setiap tantangan.

Putin juga mengecam propaganda media Barat yang membuat seolah-olah Rusia adalah pihak yang paling buruk. Ia melihat saat ini tidak ada lagi objektivitas dalam penyampaikan berita secara global.

"Kampanye informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya telah diluncurkan, melibatkan jaringan sosial global dan semua media Barat, yang objektivitas dan independensinya ternyata hanya mitos," lanjut Putin.

Dalam kesempatan tersebut Putin menegaskan bahwa perjuangan Rusia saat ini dilakukan untuk kedaulatan negara dan masa depan anak-anak Rusia.

Sikap keras Putin jauh berbeda dengan menteri luar negerinya, Sergey Lavrov. Satu hari sebelumnya, Lavrov dengan terbuka menyatakan bahwa Rusia melihat harapan bahwa kompromi dengan Ukraina dapat dicapai untuk mengakhiri perang.

Putin menggambarkan perang Ukraina sebagai bagian dari bentrokan eksistensial dengan Amerika Serikat. Putin juga meyakini bahwa perang ini akan membuka pintu menuju tindakan yang lebih keras di dalam negeri dan bahkan lebih banyak agresi di luar negeri.

Ikuti Langkah The Fed, Otoritas Moneter Hong Kong Naikkan Suku Bunga Acuan

Otoritas Moneter Hong Kong, HKMA menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Hal tersebut mengikuti langkah Federal Reserve AS yang melakukan hal sama karena ingin menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya volatilitas pasar.

Mengutip Bloomberg Kamis, (17/3), suku bunga dasar meningkat menjadi 0,75% dari 0,5%. Tingkat tersebut bergerak sejalan dengan tingkat Fed karena dolar Hong Kong dipatok ke mata uang AS.

Menanggapi peningkatan tersebut, HSBC Holdings Plc mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengubah suku bunga pinjaman terbaiknya, memberikan ruang bagi perekonomian untuk bernafas karena terhambat oleh wabah virus terburuk yang pernah ada, yang telah mendorong pemerintah untuk memperketat pembatasan.

HKMA juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa suku bunga antar bank dolar Hong Kong belum tentu naik seiring dengan pergerakan AS.

Sementara itu, para ekonom terus menurunkan perkiraan pertumbuhan mereka untuk Hong Kong untuk tahun ini karena pandemi mengambil korban. Indikator ekonomi seperti penjualan ritel dan indeks manajer pembelian telah merosot, rantai pasokan terganggu, dan pembukaan kembali yang sangat dinanti-nantikan dengan China daratan telah tertunda.

"HKMA akan terus memantau situasi pasar dengan cermat, dengan tujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan moneter Hong Kong," kata Kepala Eksekutif Eddie Yue dalam pernyataannya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Sekretaris Keuangan Paul Chan telah berulang kali meyakinkan investor bahwa kota berada dalam posisi yang baik untuk mengelola kenaikan suku bunga.

Bank-bank Hong Kong tetap memiliki permodalan yang baik dengan posisi likuiditas yang kuat, menambahkan perubahan arus modal tidak akan menyebabkan kenaikan suku bunga antar bank.

WHO Memperingatkan Kasus Covid-19 Saat Ini Hanyalah Puncak Gunung Es, Kenapa?

Angka-angka yang menunjukkan peningkatan kasus Covid-19 global bisa menjadi masalah yang jauh lebih besar karena beberapa negara  melaporkan penurunan tingkat pengujian, WHO memperingatkan negara-negara untuk tetap waspada terhadap virus corona baru.

Setelah lebih dari sebulan menurun, kasus Covid-19 mulai meningkat di seluruh dunia pekan lalu. WHO mengatakan, kombinasi beberapa faktor menyebabkan peningkatan, termasuk varian Omicron yang sangat menular dan subvariannya BA.2 serta pencabutan pembatasan kegiatan masyarakat.

"Peningkatan (kasus) ini terjadi meskipun ada pengurangan pengujian di beberapa negara. Yang berarti, kasus yang kami lihat hanyalah puncak gunung es," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan, Rabu (16/3), seperti dikutip Reuters.

Tingkat vaksinasi Covid-19 yang rendah di beberapa negara, sebagian didorong oleh "sejumlah besar informasi yang salah", juga menjadi kenaikan kasus Covid-19 global.

Kasus Covid-19 global sepanjang pekan lalu melonjak 8% dibandingkan dengan minggu sebelumnya, dengan mencatat 11 juta kasus baru. Ini merupakan kenaikan kasus pertama sejak akhir Januari lalu.

Lompatan terbesar terjadi di wilayah Pasifik Barat, yang mencakup Korea Selatan dan China, dengan kasus Covid-19 meningkat 25% dan kematian melonjak 27%.

Sejumlah ahli telah menyuarakan kekhawatiran terhadap Eropa akan menghadapi gelombang baru virus corona lain, dengan kasus meningkat sejak awal Maret lalu di Austria, Jerman, Swiss, Belanda, dan Inggris.

BA.2 menjadi varian yang paling menular

Maria Van Kerkhove, Kepala Teknis Covid-19 WHO, menyebutkan, BA.2 tampaknya menjadi varian yang paling menular sejauh ini.

Namun, tidak ada tanda-tanda BA.2 menyebabkan penyakit yang lebih parah, dan tidak ada bukti varian baru virus corona lainnya mendorong peningkatan kasus.

Gambaran di Eropa juga tidak universal. Denmark, misalnya, mengalami puncak singkat dalam kasus pada paruh pertama Februari, didorong oleh BA.2, yang dengan cepat mereda.

Tetapi, para ahli mulai memperingatkan Amerika Serikat bisa segera mengalami gelombang serupa dengan yang terlihat di Eropa, yang berpotensi didorong oleh BA.2, seiring pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat.

"Saya setuju dengan pelonggaran pembatasan, karena Anda tidak bisa menganggapnya sebagai keadaan darurat setelah dua tahun," kata Antonella Viola, profesor imunologi di Universitas Padua, Italia.

“Kita hanya harus menghindari pemikiran bahwa Covid-19 sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, kita harus menjaga langkah-langkah yang sangat diperlukan," ujarnya.

"Yang pada dasarnya adalah pemantauan dan pelacakan kasus secara terus menerus, dan menjaga kewajiban memakai masker di tempat tertutup atau sangat ramai," imbuh dia kepada Reuters.

Alibaba dan Tencent Bersiap Lakukan PHK Besar-Besaran

Alibaba Group Holding Ltd dan Tencent Holdings Ltd sedang bersiap untuk memangkas puluhan ribu pekerja dalam putaran PHK terbesar tahun ini.

Dilansir dari Reuters, salah satu sumber yang mengetahui perkiraan rencana perusahaan menyebut, Alibaba belum menentukan target PHK di seluruh grup, perusahaan e-commerce terbesar di China pada akhirnya dapat memangkas lebih dari 15% dari total tenaga kerjanya, atau sekitar 39.000 karyawan.

Tencent, pemilik aplikasi pesan WeChat yang dominan di China, juga berencana untuk memangkas pekerjanya di beberapa unit bisnisnya tahun ini, kata tiga orang yang mengetahui masalah tersebut.

Salah satu dari tiga orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan divisinya, yang menangani bisnis seperti streaming video dan pencarian, akan memangkas 10% hingga 15% dari tenaga kerjanya tahun ini. Sementara Alibaba dan Tencent tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Pemutusan hubungan kerja di kedua perusahaan tersebut akan menjadi PHK skala besar pertama sejak regulator China meluncurkan kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya satu setengah tahun yang lalu untuk untuk mengendalikan raksasa internetnya, setelah bertahun-tahun melakukan pendekatan untuk mendorong percepatan pertumbuhan yang tinggi.

Tindakan keras regulasi, dikombinasikan dengan ekonomi yang melambat, telah menyebabkan penurunan penjualan untuk sebagian besar perusahaan internet di negara tersebut.

Jatuhnya harga saham, mempersulit pembiayaan baru, dan ekspansi bisnis jauh lebih sulit di ekonomi terbesar kedua di dunia, memaksa perusahaan seperti Alibaba dan Tencent untuk mencari cara dalam memangkas biaya operasional.

Kata sumber pertama, Alibaba mulai memecat karyawannya bulan lalu. Sumber itu menambahkan bahwa mereka membahas PHK dengan beberapa unit bisnis bulan lalu dan membiarkan mereka menyusun rencana spesifik. Sejak itu, beberapa unit bisnis berkembang pesat.

Sementara, sumber kedua mengatakan divisi layanan konsumen lokalnya, Ele.me yang mencakup bisnis pengiriman makanan dan layanan pengiriman, pemetaan bahan makanan lainnya, bermaksud untuk memangkas sebanyak 25% dari tenaga kerjanya.

Unit streaming video perusahaan Youku, juga merencanakan pemutusan hubungan kerja. Itu termasuk rencana untuk memecat tim yang bertanggung jawab memproduksi pertunjukan untuk anak-anak.

Alibaba pada bulan Februari melaporkan pertumbuhan pendapatan kuartalan paling lambat sejak go public pada tahun 2014, terpukul oleh penurunan penjualan di segmen bisnis inti dan persaingan yang semakin ketat. Sahamnya telah anjlok lebih dari 60% sejak awal tahun lalu.

Perusahaan telah berada di bawah tekanan sejak akhir 2020 ketika pendiri miliarder Jack Ma secara terbuka mengkritik sistem peraturan China pada akhir 2020, memicu serangkaian insiden yang membuat Beijing menampar perusahaan dengan denda US$ 2,8 miliar dan memperkenalkan serangkaian aturan baru untuk industri internetnya.

Alibaba, yang jumlah total pegawainya lebih dari dua kali lipat menjadi 251.462 pada tahun lalu dari 2019. Salah satu sumber mengatakan, karyawan di Alibaba Cloud belum diberitahu tentang PHK.

Sementara itu, menurut sumber yang mengetahui rencana Tencent, PHK perusahaan juga akan dimulai di bisnis yang kurang menguntungkan atau merugi seperti Tencent Video dan Tencent Cloud.

Pada pertemuan di Tencent pada akhir 2021, CEO Ma Huateng mengatakan kepada karyawan bahwa perusahaan harus bersiap untuk "musim dingin," menurut dua sumber lainnya. Ini memicu rasa tidak aman di antara beberapa staf tentang pekerjaan mereka.

Menurut laporan sementara tahun 2021, Tencent memiliki 94.182 karyawan pada Juni tahun lalu, dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 70.756 karyawan.

Perusahaan ride-hailing terbesar di China Didi Global (DIDI.N), juga berencana untuk mengurangi jumlah karyawannya sebanyak 15% karena operasi domestik terpengaruh oleh tindakan keras tersebut.

Didi, yang telah berada di bawah penyelidikan keamanan siber setelah IPO senilai US$ 4,4 miliar di New York tahun lalu, bertujuan untuk menyelesaikan PHK pada akhir Maret, kata sumber tersebut. Didi tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Aset Joe Biden dan Hillary Clinton Dibekukan Gegara Sanksi Rusia

Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan telah menjatuhkan sanksi kepada 13 petinggi Amerika Serikat (AS).

Daftar tersebut mencakup Presiden Joe Biden, Menteri Luar Negeri Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Sekretaris Pers Jen Psaki. Yang cukup mengejutkan, terdapat juga nama mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan putra Joe Biden, Hunter Biden.

Dilansir dari BBC, sanksi ini memblokir masuknya mereka ke Rusia dan membekukan aset apa pun yang disimpan di Negeri Beruang Merah. Namun, sanksi tersebut tak akan menghalangi kontak tingkat tinggi yang diperlukan untuk individu yang terkena dampak.

Nama lainnya yang masuk dalam daftar meliputi Ketua Kepala Staf Gabungan Mark Milley, Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan, Wakil Penasihat Keamanan Nasional Daleep Singh, Pengelola Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) Samantha Power, Wakil Menteri Keuangan Wally Adeyemo, dan Presiden Bank Ekspor-Impor AS Reta Jo Lewis.

Menurut Kemlu, sanksi itu diterapkan atas dasar 'timbal balik'.

Rusia kini menjadi negara yang paling banyak terkena sanksi di dunia.

Negara-negara Barat telah menjatuhkan sanksi kepada petinggi Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, dan Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov.

Pada Selasa (15/3), AS mengumumkan sanksi terhadap 11 pemimpin pertahanan Rusia. Negara itu juga mengisyaratkan mereka dapat mengenakan sanksi terhadap Alexander Lukashenko, presiden Belarusia yang bersekutu dengan pemerintah Rusia.

Sebelumnya, Inggris menjatuhkan sanksi pada 370 orang Rusia lainnya, termasuk mantan Pemimpin Rusia Dmitry Medvedev.

Jika Rusia Pakai Senjata Kimia, Prancis Tak Segan-segan Kirim Balasan Setimpal

Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan Prancis akan mempertimbangkan meminta pertanggungjawaban Rusia pada setiap penggunaan senjata kimia atau bakteriologis dalam invasi ke Ukraina. Ia mengatakan senjata tidak konvensional ini akan mengakibatkan sanksi tambahan ke Rusia.

"Bila serangan kimia atau bakteriologis terjadi di Ukraina, kami tahu siapa satu-satunya yang bertanggung jawab, itu adalah Rusia," kata Le Drian dalam wawancara dengan surat kabar Le Parisien, Rabu (16/3/2022).

"Penggunaan tidak konvensional merupakan eskalasi yang tidak dapat ditoleransi dan jelas akan mengarah pada respon sanksi ekonomi yang masih dan radikal, tanpa tabu," tambahnya.

Le Drian menolak untuk menjelaskan lebih lanjut sifat dari potensi sanksi bila serangan senjata kimia terjadi.

Pada Minggu (13/3/2022) lalu surat kabar Jerman, Welt Sontag melaporkan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg mengatakan Rusia mungkin menggunakan senjata kimia dalam invasi ke Ukraina.

Stoltenberg menambahkan langkah itu merupakan kejahatan perang. Dalam wawancaranya di Parisien, Le Drian mengatakan dalam perundingan beberapa hari terakhir ia yakin Rusia hanya berpura-pura bernegosiasi dengan Ukraina.

"Hanya ada satu kedaruratan: gencatan senjata, gencatan senjata, gencatan senjata, hanya pada dasar anda bisa bernegosiasi, karena anda tidak bisa bernegosiasi dengan senjata di kepala anda," katanya.

Enam Negara Desak DK PBB Adakan Pertemuan Bahas Situasi Ukraina

Sebanyak enam negara meminta pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk membahas situasi di Ukraina, Rabu (16/3/2022). Permintaan itu muncul saat perang Rusia di Ukraina memasuki pekan ketiga.

Dikutip dari Anadolu Agency, negara-negara yang mengajukan permintaan pertemuan termasuk Inggris, Albania, Prancis, Irlandia, Norwegia, dan Amerika Serikat (AS). "Rusia melakukan kejahatan perang dan menargetkan warga sipil. Perang ilegal Rusia di Ukraina adalah ancaman bagi kita semua," kata perwakilan misi Inggris untuk PBB melalui akun Twitter.

Mahkamah Internasional (ICJ) telah memerintahkan Rusia untuk menghentikan permusuhan di Ukraina. Desakan ini usai dua pekan lalu Ukraina meminta pengadilan tertinggi PBB ini untuk campur tangan dengan alasan Rusia melanggar Konvensi Genosida 1948 dengan menuduh Ukraina melakukan genosida dan menggunakannya sebagai dalih untuk invasi yang sedang berlangsung.

"Federasi Rusia akan segera menangguhkan operasi militer khusus yang dimulai pada 24 Februari 2022,” kata presiden pengadilan hakim AS Joan E. Donoghue.

Negara-negara yang menolak untuk mematuhi perintah pengadilan dapat dirujuk ke DK PBB, dengan Rusia memegang hak veto. Dalam keputusan ini menghasilkan suara 13-2 dengan Hakim Rusia dan Cina berbeda pendapat.

Pengadilan mengatakan kepada Moskow untuk memastikan unit militer tidak mengambil langkah untuk melanjutkan konflik, yang disebut sebagai operasi militer khusus. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memuji desakan Mahkamah Internasional sebagai kemenangan besar.

"Ukraina memperoleh kemenangan penuh dalam kasusnya melawan Rusia di Mahkamah Internasional. ICJ memerintahkan untuk segera menghentikan invasi. Perintah itu mengikat di bawah hukum internasional. Rusia harus segera mematuhinya. Mengabaikan perintah itu akan mengisolasi Rusia lebih jauh," ujar Zelenskyy.

Perang yang dimulai pada 24 Februari, telah menarik kecaman internasional, menyebabkan pembatasan keuangan untuk Moskow dan mendorong eksodus perusahaan global dari negara tersebut.  Setidaknya 726 warga sipil telah meninggal dunia dan 1.174 terluka di Ukraina sejak awal perang.

PBB mencatat bahwa kondisi di lapangan membuat sulit untuk memverifikasi jumlah korban yang sebenarnya. Namun, lebih dari tiga juta orang juga telah melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Negosiasi dengan Rusia, Ukraina Minta Tiga Hal Ini

Delegasi Ukraina dan Rusia kembali mengadakan pembicaraan melalui video pada Rabu (16/3/2022). Penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy Mikhailo Podolyak mengatakan Ukraina menuntut gencatan senjata, penarikan pasukan Rusia, dan jaminan keamanan hukum untuk Ukraina dari sejumlah negara.

"Ini hanya mungkin terjadi melalui dialog langsung antara Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin," kata Podolyak di Twitter.

Seorang pejabat di kantor Zelenskyy mengatakan topik utama yang sedang dibahas adalah apakah pasukan Rusia akan tetap berada di wilayah separatis di Ukraina timur setelah perang dan di mana perbatasan akan berada. Tepat sebelum perang, Rusia mengakui kemerdekaan dua wilayah yang dikendalikan oleh separatis yang didukung Rusia sejak 2014. Rusia juga memperluas perbatasan wilayah tersebut ke wilayah yang dikuasai Ukraina, termasuk Mariupol, kota pelabuhan yang sekarang dikepung.

Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas pembicaraan sensitif ini mengatakan, Ukraina bersikeras untuk memasukkan satu atau lebih dari kekuatan nuklir Barat dalam negosiasi. Kiev membutuhkan dukungan itu dalam penandatanganan dokumen yang mengikat secara hukum dengan jaminan keamanan untuk negara itu.

Ukraina juga sudah siap untuk membahas status netral. Rusia telah menuntut agar NATO berjanji untuk tidak pernah mengakui Ukraina ke dalam aliansi atau menempatkan pasukan di sana.

Setelah negosiasi sebelumnya pada Selasa (15/3/2022), Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan status netral untuk Ukraina sedang diskusi secara serius oleh kedua belah pihak. Sementara Zelenskyy mengatakan tuntutan Rusia untuk mengakhiri perang menjadi lebih realistis.